WIHDATUL WUJUD
A. Pemahaman Dari Segi Rasionalitas
Agama Islam sangat menghargai orang-orang yang berilmu pengetahuan, sehingga hanya mereka sajalah yang pantas mencapai taraf ketinggian dan 'ceutuhan hidup.
“... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa deraj a t...” (Q.S. Al-Mujadilah 11) (Daradjad, 1996: 40) Dari hal di atas dapat kita lihat bahwa Allah akan mengangkat derajat seseorang jika ia mempunyai ilmu. Ilmu dapat membuat kita lebili bisa mengkondisikan bagaimana selayaknya dan sepantasnya kita
untuk mencermati suatu gagasan atau suatu masalah. Rasional yang tanpa didasari suatu pengertian dan pengetahuan yang memadai hanyalah suatu kekonyolan yang menyelimuti dirinya, kama ia tidak tahu akan ujung dan pangkalnya.
Dalam hal pendidikan pun sangat diperlukan seorang pendidik yang dapat mempertanggung jawabkan ilmunya di masyarakat. Namun masyarakat pun akan ikut berpengaruh besar dalam member! arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya. Pemimpin muslim tentu saja menghendaki anaknya menjadi anak yang baik agamanya, pemikirannya maupun tindakannya, baik dalam lingkungan keluarganya, anggota sepermainan maupun kelompok kelas dan sekolahnya. Bila ia besar menjadi harapan masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik pula.
Wihdatul wujud adalah sebuah ajaran yang dianut oleh kaum sufi, dalam pendidikan sufi anak didik tidaklah dididik dengan matematika, fisika dan sebagainya, karena mereka mengabaikan akal, mereka melakukannya dengan cara memasukkan sufi pemula dalam tarekat berjenjang yang dimulai dari penghambaan, setelah jenjang itu selesai maka ia akan diceburkan dalam tarekat tertentu (Khaliq, 2001: 35)
Ali bin Abi Thalib pemah mengatakan bahwa “Dia tidak dapat dilihat dengan pandangan mata, tetapi dijangkau oleh akal dengan hakikat keimanan”. Yang beliau maksud dengan akal adalah gabungan antara daya kalbu dan daya nalar yang menghasilkan ikatan yang menghalangi manusia melakukan hal-hal negatif (Nata, 2003: 284).
Ungkapan beliau menunjukkan bahwa jangkauan yang ingin diterangkan bukanlah nalar secara pemahaman biasa, tetapi jangkauan nalar yang disatukan dengan kalbu dengan berdasarkan keimanan tentang sesuatu yang tidak bisa dijangkau itu.
Ungkapan tersebut sejalan pula dengan pendapat al-Ghazali dalam bukunya Al Maqshadl Asma yang mengatakan bahwa “Sentuhan adalah sesuatu yang hanya dimiliki Allah, tidak dapat tergambar dalam benak, bahwa ada yang mengenal-Nya kecuali Allah atau yang sama dengan-Nya, dan karena tidak ada yang sama dengan-Nya, maka tidak ada yang mengenal-Nya kecuali Allah sendiri” ( Nata, 2003: 284)
Dapat dilihat bahwa untuk mengenal Allah dapat dilakukan dengan menggunakan fitrah insting beragama yang ada dalam setiap diri manusia. Di sana tertampung emosi seperti rasa takut, cinta, cemas, kesetiaan dan berbagai macam yang menghiasi jiwa manusia. Pendidikan untuk mengenalkan kepada Tuhan hendaklah benar-benar yang dapat
menghantarkannya kepada kesadaran kalbu dan kepekaan dalam ia berfikir, sehingga keduanya akan terlatih sejak dini.
Umar bin Khatab berkata: “Mahkota seseorang adalah akalnya, derajat seseorang adalah agamanya, dan harga diri seseorang adalah ahklaqnya” (Abdullah, 2005: 46). Sesungguhnya ketika manusia kehilangan akal atau tidak berfungsi akalnya, maka hilanglah kewajiban dirinya dalam menjalankan perintah agama. Hal ini adalah salah satu keadilan Allah buat para hamba-Nya, karena ketika seseorang kehilangan akal ia tidak bisa berfikir kebaikan dan keburukan.
Untuk itu kita harus mempersiapkan dari sedini mungkin akal kita agar menjadi lebih sempuma, dengan harapan semakin sempuma akal kita maka akan semakin baik pula keimanan kita. Selain itu dengan keseimbangan akal kita, kita bisa menjalankan tugas sebagai kholifah fil ardhi dengan baik.
❖ Mengoptimalkan Kinerja Akal
Sungguh langkah yang salah akan berakhir dengan penyesalan. Sementara langkah yang benar akan membuahkan hasil akhir yang baik, walaupun dengan melalui jalan yang malang melintang. Belajar dengan cara yang benar adalah menambah kecerdasan akal. Di bawah ini beberapa cara untuk mengoptimalkan akal kita:
1. Memiliki Kehendak yang Kuat
Engkau ingin membangun istana emas, tetapi lemah di dalam mengumpulkan emas. Sesungguhnya pembangun sejati adalah yang memiliki kemauan yang kuat untuk mewujudkan apa yang ingin dibangunnya.
Kemauan yang kuatlah yang akan mampu menggerakkan seseorang untuk melangkah. Karena lemahnya kemauan seseorang menjadikan ia tidak mau melangkah walaupun sebenarnya ia orang yang disiplin dan pemberani. Sama halnya ketika kita meminta kepada Allah, jika permintaan tidak terkabulkan akal harusnya tidak mendorong untuk berputus asa, kama Allah mengabulkan permintaan tidaklah spekulasi. 2
2. Bertahap (Mulai dari hal yang Mudah)
Hal ini tentunya cukup rasional, kalau dipikir-pikir memang ada benamya juga, karena dari situ kita akan mempunyai pengalaman dan bekal untuk menghadapi permasalahan yang lebih sulit. Hal ini sesuai dengan pengalaman dan perjalanan dalam pendidikan yang mungkin tel ah kita lalui, dimulai dari yang paling rendah hingga menemui jenjang yang tinggi. Kita mulai dari karir TK yang
berbobot bagi anak-anak, dan terns akan berjenjang dan semakin sulit (Abdullah, 2005: 68).
Kaitannya dengan rasional seseorang di mana ia akan memahami suatu agamanya, tentunya ia harus bertahap dan ada sebuah kesinambungan karena tanpa hal itu ia tidak akan mampu untuk menerima sesuatu yang di luar jangkauan rasional itasnya.
Kerja otak ibarat mesin komputer yang terdiri dari hardware
maupun softwere yang keduanya bisa di-up-grade atau ditingkatkan kemampuannya. Tapi dalam peng-up-grade-annya juga berpengaruh pada dasarnya. Jika ia Cuma pentium I maka kalau di-up-grade menjadi pentium II mungkin tidak terlalu sulit, namun jika ia akan di-up-grade menjadi pentium IV tentunya akan sulit, dan bisa jadi prosesor akan meledak.
Dalam hal ini sama halnya dengan kadar tingkatan seseorang, misalnya dalam sufi seseorang akan naik tingkatannya untuk menuju yang Haq, tentunya dengan berbagai tingkatan dan tidak sembarang orang yang dapat benar-benar mencapai hulu dan wihdah al-wujud.
❖ Menguatkan Sandaran Vertikal Dalam Meningkatkan Kecerdasan Spiritual.
Manusia yang memiliki spiritual yang baik akan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah, sehingga akan berdampak pula pada kepandaian dia dalam berinteraksi dengan manusia, karena dibantu oleh Allah yaitu hati manusia dijadikan cenderung kepada-Nya.
Hasan Al-Basri berkata:”Semoga Allah merahmati seseorang hamba yang berfikir di saat pertama kali ia akan melakukan sesuatu. Jika itu karena Allah ia lanjutkan dan jika bukan karena-Nya ia menangguhkannya” (Abdullah, 2005:
183).
Meluruskan niat adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan, karena niat seseorang itu berpengaruh terhadap langkah yang akan ditempuhnya. Niat yang benar akan mendatangkan kesudahan yang baik ketika semuanya dilakukan di atas syariat yang benar.
Salah satu indikator bahwa seseorang memiliki kecerdasan spiritual yang baik adalah apabila dirinya memiliki keimanan yang kokoh, serta hati yang bersih dari segala macam penyakit hati, maka untuk menuju kepuncak spiritual, seseorang dituntut untuk meneguhkan keimanan yang ada di dalam dada serta senantiasa membersihkan dan menjaga kebersihan hatinya.
Dari hal ini membuat kita berfikir bahwa seorang anak yang baru lahir, atau kurang lebih umur 3 hingga 4 bulan, ia sangat menyenangkan apalagi ketika ia tersenyum, karena ia belum mempunyai dosa sehingga kedekatannya kepada Allah masih sangat dekat, peijalanan kehidupannya akan membuatnya jauh dari Allah, dan yang pertama kali dikenalnya adalah orang
tuanya, lingkungan dan seterusnya.
Dari situlah kaum sufi mengajak untuk kembali kejalan semula yaitu fitrah, kembali kepada mendekatkan diri kepada Sang Pencipta agar tidak terlarut dan terseret jauh dalam menjalani kehidupan yang hanya fatamorgana.