HASIL PENELITIAN
4.4. Ibu Yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Sosio Demografi
Salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR dan KJDK adalah faktor demografi seperti umur, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.
4.4.1. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Umur
Usia reproduksi optimal bagi seorang wanita adalah antara umur 20-35 tahun, di bawah dan di atas usia tersebut akan meningkatkan resiko kehamilan maupun persalinan, karena perkembangan organ-organ reproduksinya belum optimal, kematangan emosi dan kejiwaan kurang, serta fungsi fisiologis yang belum optimal. Tabel 4.1. Distribusi Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan
Umur di RS Sri Ratu Medan Tahun 2009 umur ibu
< 20 tahun 20-35 tahun > 35 tahun total No. ibu melahirkan dengan BBLR dan mengalami KJDK n % n % n % n % 1. bayi BBLR 16 21,9 35 49,6 20 28,5 71 100,0 2. KJDK 7 25,2 12 43,4 8 31,4 27 100,0
Dari tabel di atas diketahui bahwa sebagian ibu yang mengalami BBLR (49,6%) dan KJDK (43,4%) berada pada umur 20-35 tahun, sementara BBLR dan KJDK yang paling sedikit berada pada umur < 20 tahun yaitu masing-masing 21,9% dan 25,2%.
4.2.2. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Tingkat Pendidikan Latar belakang pendidikan ibu yang rendah menyulitkan berlangsungnya suatu penyampaian informasi kesehatan terhadap ibu karena mereka kurang menyadari pentingnya informasi-informasi tentang kesehatan ibu terutama saat hamil, akibatnya mereka tidak mengetahui cara pemeliharaan kesehatan terutama pada saat hamil. Tabel 4.2. Distribusi Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan
Tingkat Pendidikan di RS Sri Ratu Medan Tahun 2009 pendidikan ibu SD SMP SMA PT total No. Ibu melahirkan dengan BBLR dan mengalami KJDK n % n % n % n % n % 1. bayi BBLR 8 10,9 23 32,4 38 53,7 2 2,8 71 100,0 2. KJDK 1 4,7 9 33,4 16 58,7 1 3,6 27 100,0
Dari tabel 4.2. diperoleh bahwa BBLR (32,4%) dan KJDK (33,4%) paling banyak ditemukan pada ibu dengan tingkat pendidikan SMA, sedangkan yang paling sedikit berada pada tingkat pendidikan D-III /Perguruan Tinggi (2,8% dan 3,6%).
4.4.2. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Tingkat Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan akan mempengaruhi pendapatan, dan pendapatan akan mempengaruhi penyediaan makanan bagi keluarga yang secara langsung akan mempengaruhi konsumsi pangan keluarga terutama ibu hamil.
Tabel 4.3. Distribusi Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Jenis Pekerjaan di RS Sri Ratu Medan Tahun 2009
jenis pekerjaan ibu
IRT wiraswasta PNS total No. ibu melahirkan dengan BBLR dan mengalami KJDK n % n % n % n % 1. bayi BBLR 60 84,8 8 11,5 3 3,7 71 100,0 2. KJDK 24 89,4 3 10,6 0 0,0 27 100,0
Tabel 4.3. menunjukkan bahwa mayoritas ibu yang mengalami BBLR (84,8%) dan KJDK (89,4%) memiliki jenis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, sementara ibu yang mengalami BBLR yang paling sedikit adalah PNS (3,7%).
4.3. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Keadaan Biomedis 4.3.1. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Paritas
Komplikasi-komplikasi yang terjadi pada ibu golongan paritas tinggi akan mempengaruhi perkembangan janin yang dikandungnya. Hal ini disebabkan adanya gangguan plasenta dan sirkulasi darah ke janin, sehingga pertumbuhan janin terhambat.
Tabel 4.4. Distribusi Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Paritas (Jumlah Persalinan) di RS Sri Ratu Medan Tahun 2009
pendidikan ibu
paritas 0 paritas 1 paritas 2&3 paritas ≥4 total No. ibu melahirkan dengan BBLR dan mengalami KJDK n % n % n % n % n % 1. bayi BBLR 53 75,2 5 6,8 7 9,6 6 8,4 71 100,0 2. KJDK 9 33,3 2 7,4 12 44,4 4 14,8 27 100,0
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar (75,2%) ibu yang mengalami BBLR memiliki jumlah persalinan dan paritas 0, sementara yang paling sedikit (6,8%) pada paritas 1. Sedangkan ibu yang mengalami KJDK, paling banyak (44,4%) pada paritas 2 dan 3, dan yang paling sedikit (7,4%) pada paritas 1.
4.3.2. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Umur Kehamilan Berat badan bayi bertambah sesuai dengan usia kehamilannya. Faktor umur kehamilan mempengaruhi kejadian BBLR, karena semakin pendek umur kelahiran semakin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat tubuhnya, sehingga turut mempengaruhi berat badan waktu lahir.
Tabel 4.5. Distribusi Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Umur Kehamilan di RS Sri Ratu Medan Tahun 2009
jenis pekerjaan ibu
pre-term term post-term total No. ibu melahirkan dengan BBLR dan mengalami KJDK n % n % n % n % 1. bayi BBLR 52 73,5 14 19,2 5 7,3 71 100,0 2. KJDK 22 82,2 5 17,8 0 0,0 27 100,0
Dari tabel 4.5 di atas dapat dilihat bahwa dari ketiga kelompok kehamilan ibu, jumlah BBLR (73,5%) dan KJDK (82,2%) paling banyak pada usia kehamilan < 37 minggu, sedangkan BBLR (7,3%) paling sedikit pada usia kehamilan ≥42 minggu, dan pada usia kehamilan 42 minggu tersebut tidak ditemukan adanya ibu yang mengalami KJDK.
≥
4.3.3. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Jarak Kelahiran Jarak kelahiran dapat menyebabkan hasil kehamilan yang kurang baik. Jarak dua kehamilan yang terlalu pendek akan mempengaruhi daya tahan dan gizi ibu yang selanjutnya akan mempengaruhi hasil produksi.
Tabel 4.6. Distribusi Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Jarak Kelahiran di RS Sri Ratu Medan Tahun 2009
jenis pekerjaan ibu
< 2 tahun 2-4 tahun > 4 tahun total No. ibu melahirkan dengan BBLR dan mengalami KJDK n % n % n % n % 1. bayi BBLR 52 73,5 14 19,2 5 7,3 71 100,0 2. KJDK 22 82,2 5 17,8 0 0,0 27 100,0
Tabel 4.6. menunjukkan bahwa sebagian besar ibu yang melahirkan bayi BBLR (68,7%) dan ibu yang mengalami KJDK (65,4%) memiliki jarak kehamilan < 2 tahun, sementara BBLR yang paling sedikit (14,4%) pada jarak kelahiran 2-4 tahun, dan ibu yang mengalami KJDK yang paling sedikit (10,5%) pada jarak kelahiran > 4 tahun.
4.3.4. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Kadar Hb
Kadar Hb menjelang persalinan digunakan sebagai indikator untuk menentukan adanya anemia seorang ibu hamil. Anemia saat hamil dapat berakibat buruk pada ibu dan janin. Ibu hamil dengan Hb kurang dari 8 mmHg adalah ibu hamil dengan resiko tinggi.
Tabel 4.7. Distribusi Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Kadar Hb di RS Sri Ratu Medan Tahun 2009
kadar Hb tidak anemia anemia ringan anemia sedang anemia berat total No. ibu melahirkan dengan BBLR dan mengalami KJDK n % n % n % n % n % 1. bayi BBLR 0 0,0 10 13,5 48 67,7 13 18,8 71 100,0 2. KJDK 0 0,0 2 8,9 21 76,8 4 14,3 27 100,0
Dari tabel di atas diketahui bahwa sebagian besar ibu yang melahirkan bayi BBLR (67,7%) dan ibu yang mengalami KJDK (76,8%) memiliki kadar Hb 7-8 gr/dl (anemia sedang), sementara BBLR dan KJDK tidak ditemukan pada ibu yang memiliki kadar Hb ≥ 11 gr/dl (tidak anemia).
4.5.5. Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan Tekanan Darah
Tekanan darah tidak normal pada kehamilan atau pada saat menjelang melahirkan juga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya BBLR dan KJDK. Tabel 4.8. Distribusi Ibu yang Mengalami BBLR dan KJDK Berdasarkan
Tekanan Darah di RS Sri Ratu Medan Tahun 2009
tekanan darah
normal tinggi total
No. ibu melahirkan dengan BBLR
dan mengalami KJDK
n % n % n %
1. bayi BBLR 42 70,4 19 29,6 71 100,0
2. KJDK 21 77,8 6 22,2 27 100,0
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar (70,4%) ibu yang mengalami BBLR dan KJDK memiliki tekanan darah normal.