• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi faktor internal dan faktor eksternal

HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Perkembangan Suku Kerinc

1. Identifikasi faktor internal dan faktor eksternal

a. Identifikasi faktor internal 1. Kekuatan (strength)

a) Keragaman karakteristik elemen peninggalan sejarah Suku Kerinci yang memperkuat nilai sejarah

Lanskap sejarah peninggalan Suku Kerinci terdiri atas beberapa karakter lanskap seperti Batu Silindrik, Makam, Masjid Kuno, Dolmen, Menhir, serta beberapa kawasan adat yang bernilai tinggi. Seluruh peninggalan tersebut tersebar di dua tempat yaitu Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Masing-masing peninggalan tersebut mempunyai keunikan serta kekhasan tersendiri dan juga saling terkait satu sama lain yang memperkuat karakter dan nilai sejarah lanskap. b) Beberapa elemen memperoleh nilai signifikansi lanskap sejarah tinggi

Berdasarkan hasil analisis nilai signifikansi lanskap sejarah, diperoleh enam situs/elemen yang memiliki nilai tinggi, yaitu Kompleks Masjid Agung Pondok Tinggi, Rumah Larik Limo Luhah, dan Menhir Dusun Kcek Malako Tinggai yang terdapat di Kota Sungai Penuh, serta Masjid Kuno Lempur Mudik, Masjid Kuno Lempur Tengah, dan Batu Gong Situs Pondok yang terdapat di Kabupaten Kerinci.

c) Masih terdapat aktivitas budaya yang dilakukan masyarakat di beberapa elemen lanskap sejarah

Aktivitas budaya masih aktif dilakukan masyarakat di beberapa kawasan seperti di Tanah Mendapo dan Tanah Sabingkeh yang merupakan pusat upacara adat di lakukan. Selain itu, di semua desa di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh juga melakukan upacara adat Kenduri Sko dan upacara pembersihan benda-benda pusaka nenek moyang. Upacara yang dihadiri oleh petinggi adat dan ninik mamak ini juga merupakan salah satu upacara untuk penganugerahan gelar atau pelantikan pemimpin baru.

63 d) Adanya keterkaitan yang kuat antar elemen lanskap yang

menggambarkan suasana di masa lalu

Setiap elemen/situs peninggalan sejarah ini mewakili periode nya masing-masing. Mulai dari batu silindrik di masa mesolitikum, paleolitikum hingga ke zaman logam yang mewakili zaman prasejarah. Kemudian dilanjutkan dengan adanya zaman Islam yang terlihat dari peninggalan berupa masjid-masjid kuno yang mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lain.

e) Tingkat kepedulian masyarakat Kerinci terhadap elemen peninggalan sejarah untuk dilestarikan cukup tinggi

Masyarakat yang dimaksud disini adalah masyarakat sekitar kawasan lokasi situs/elemen berada. Kepedulian masyarakat sekitar cukup tinggi dalam hal pelestarian melihat tingginya animo serta tingkat antusiasme yang terlihat dalam kuisioner hampir semua masyarakat siap ikut membantu dalam pelestarian. Hal ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat karena didaerah tempat tinggal mereka masih terdapat banyak elemen benda peninggalan sejarah.

2. Kelemahan (weakness)

a) Pengelolaan yang kurang intensif terhadap elemen peninggalan sejarah Suku Kerinci

Pengelolaan yang kurang intensif adalah masalah utama dalam pelestarian benda-benda peninggalan sejarah ini. Kurangnya perhatian pengelola ini bisa terlihat dari banyaknya situs yang sudah diberi pagar namun dalam keadaan rusak dan tidak terawat dengan baik. Semak- semak tinggi bahkan bisa ditemui disekitar situs yang terdapat di Kabupaten Kerinci. Walaupun elemen peninggalan sejarah ini belum menjadi objek wisata namun sudah seharusnya pengelolaan secara kontinyu tetap diberikan demi kelestarian situs.

b) Banyaknya masyarakat pendatang yang menetap sehingga terjadi percampuran budaya

Di Kota Sungai Penuh, Suku Kerinci sudah berbaur dengan pendatang yang didominasi oleh Suku Minangkabau yang datang untuk berdagang dan akhirnya menetap, sehingga terjadinya percampuran budaya antar suku, kecuali di Kecamatan Hamparan Rawang, Kumun Debai dan Kecamatan Tanah Kampung yang secara umum masih merupakan masyarakat asli Suku Kerinci. Sedangkan di Kabupaten Kerinci, secara umum masih merupakan masyarakat asli Suku Kerinci, kecuali di Kecamatan Kayu Aro yang didominasi oleh imigran dari Pulau Jawa. Percampuran budaya ini bisa terlihat dari bahasa yang digunakan serta bentuk arsitektur rumah dan bangunan yang berbeda. c) Kurangnya peran pemerintah dalam mempromosikan elemen-elemen

lanskap bersejarah peninggalan Suku Kerinci

Dari hasil kuisioner terhadap pengunjung di peroleh hasil bahwa rata-rata pengunjung memperoleh informasi mengenai objek lanskap sejarah yang ada di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh kebanyakan berasal dari teman dan keluarga. Sangat sedikit yang mendapatkannya dari pemerintah berupa spanduk di jalan, media cetak dan media elektronik. Selain itu, informasi yang diperoleh dari website

64

juga sangat minin dan tidak terlalu di jelaskan secara detil tentang akomodasi untuk mencapai tujuan, harus ada perizinan atau tidak serta filosofi yang terdapat pada objek lanskap sejarah tersebut.

d) Beberapa situs terbengkalai karena tidak ada juru pelihara

Rata-rata situs yang dikelola oleh BP3 sudah memiliki juru pelihara, bahkan ada beberapa yang sudah di angkat menjadi PNS. Akan tetapi masih terdapat situs yang walaupun sudah dibawah kelola BP3 langsung namun kondisinya sangat terbengkalai dan belum diberi pagar serta papan informasi layaknya situs-situs lain. Kondisi ini bisa ditemukan pada situs Tanjung Batu yang terbiarkan ditengah ladang warga tanpa ada tanda pengenal maupun perawatan yang baik. Selain karena tidak adanya juru pelihara, situs ini juga sangat jauh berada di area perbukitan dan belum dipindahkan ke tempat yang lebih terjangkau seperti halnya situs batu patah di Desa Muak Kabupaten Kerinci.

b. Identifikasi faktor eksternal 1. Peluang (opportunities)

a) Berpotensi dijadikan sebagai objek wisata sejarah terpadu di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci

Banyaknya elemen/situs lanskap bersejarah di Kerinci berpeluang besar dijadikan sebagai objek wisata sejarah terpadu yang saling terintegrasi satu sama lain. Keberadaan situs-situs dan elemen yang terletak saling berdekatan bisa dijadikan sebagai sebuah paket wisata sejarah untuk menarik wisatawan yang datang. Dari hasil kuisioner terhadap masyarakat sekitar dan pengunjung, hampir sebagian sependapat bahwa salah satu satu bentuk pelestarian benda-benda bersejarah ini adalah dengan menjadikannya sebagai objek wisata sejarah. Apalagi saat ini Kota Sungai Penuh menjadi salah satu anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

b) Beberapa elemen berada di pusat kota dalam kawasan permukiman sehingga menjadi potensi pemberdayaan masyarakat lokal

Dari hasil identifikasi, terdapat 13 situs yang terletak di kawasan Kota Sungai Penuh yang semuanya itu saling berdekatan. Ke-13 situs ini mudah dicapai karena terletak di dalam kawasan permukiman masyarakat dan sangat besar kesempatan untuk menjadikan nya sebagai salah satu sarana pemberdayaan masyarakat lokal. Pemberdayaan ini bisa seperti menjadi juru pelihara ataupun menjadi guide/ pemandu lokal jika ada wisatawan yang datang.

c) Adanya kerjasama antara pemerintah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci dalam mengumpulkan data-data situs bersejarah untuk di daftarkan sebagai Benda Cagar Budaya

Banyaknya benda-benda/elemen peninggalan sejarah mendorong pemerintah Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci untuk giat dalam melakukan pendataan terhadap situs-situs yang nantinya akan didaftarkan sebagai Benda Cagar Budaya. Hal ini dilakukan apalagi setelah Kota Sungai Penuh terpisah dari daerah induk Kabupaten Kerinci.

65 2. Ancaman (threats)

a) Aksesibilitas dan sirkulasi yang sulit untuk mencapai beberapa elemen Akses menuju beberapa lokasi elemen lebih banyak yang rusak dari pada yang memiliki kondisi baik. Terutama elemen lanskap yang terdapat di Kabupaten Kerinci. Hal ini bisa ditemukan pada beberapa elemen seperti Situs Jujun, Situs Tanjung Batu, Situs Pulau Sangkar, yang terletak jauh di tengah ladang dan perbukitan. Beberapa elemen lain akses juga masih sulit karena melewati jalan tanah kecil yang cukup licin jika hujan. Beberapa jalan dengan kondisi tanah merah berbatu tajam dan cukup curam akan dijumpai jika mengunjungi Situs Lolo Gedang yang jauh di dalam area ladang.

b) Terjadinya pemekaran wilayah karena meningkatnya jumlah populasi penduduk

Kota Sungai Penuh merupakan kota terpadat kedua di Provinsi Jambi. Dengan laju pertumbuhan yang cukup tinggi, menjadikan pembangunan lebih mengarah ke sektor ekonomi. Hal ini juga berlaku di Kabupaten Kerinci yang terlihat dari banyaknya area yang dahulunya merupakan kawasan adat berubah menjadi permukiman. Adanya pemekaran wilayah ini membuat pengelolaan elemen lanskap menjadi bertambah sulit karena kebijakan antara kedua daerah yang berbeda. c) Beberapa elemen yang terdapat di area ladang dan jauh dari pengawasan

rawan hilang dan rusak

Diantara ke-30 elemen lanskap sejarah hasil identifikasi, situs Tanjung Batu mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Lokasinya yang berada jauh dari permukiman dan akses yang sulit menjadikannya terlantar. Beberapa bagian situs batu silindrik tersebut bahkan sudah rusak dan hilang. Letaknya yang berada di tengah ladang menjadikan nya sulit untuk dipantau dan diadakan pengawasan. Selain itu juga belum terdapat pagar dan penanda seperti halnya situs-situs lain.

66

Dokumen terkait