• Tidak ada hasil yang ditemukan

Identifikasi Kuman Secara Molekuler

DIAGNOSA KEPERAWATAN

DISENTRI A DEFINIS

H. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN

4. Identifikasi Kuman Secara Molekuler

Metode lain untuk identifikasi bakteri S. typhi yang akurat adalah mendeteksi DNA (asam nukleat) gen flagellin bakteri S. typhi dalam darah dengan teknik hibridisasi asam nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara polymerase chain reaction (PCR) melalui identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk S. typhi.

Penelitian oleh Haque dkk (1999) mendapatkan spesifisitas PCR sebesar 100% dengan sensitivitas yang 10 kali lebih baik daripada penelitian sebelumnya dimana mampu mendeteksi 1-5 bakteri/mL darah. Penelitian lain oleh Massi dkk (2003) mendapatkan sensitivitas sebesar 63% bila dibandingkan dengan kultur darah (13.7%) dan uji Widal (35.6%).

Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi risiko kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila prosedur teknis tidak dilakukan secara cermat, adanya bahan-bahan dalam spesimen yang bisa menghambat proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam spesimen darah serta bilirubin dan garam empedu dalam spesimen feses), biaya yang cukup tinggi dan teknis yang relatif rumit. Usaha untuk melacak DNA dari spesimen klinis masih belum memberikan hasil yang memuaskan sehingga saat ini penggunaannya masih terbatas dalam laboratorium penelitian.

2.8 Pencegahan Demam Tifoid

Pencegahan adalah segala upaya yang dilakukan agar setiap anggota masyarakat tidak tertular oleh bakteri Salmonella. Pencegahan dilakukan secara umum dan khusus/imunisasi. Demam tifoid dapat dicegah dengan kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan. Beberapa petunjuk untuk mencegah penyebaran demam tifoid secara umum diantaranya:

1. Cuci tangan.

Cuci tangan dengan teratur meruapakan cara terbaik untuk mengendalikan demam tifoid atau penyakit infeksi lainnya. Cuci tangan anda dengan air (diutamakan air mengalir) dan sabun terutama sebelum makan atau mempersiapkan makanan atau

setelah menggunakan toilet. Bawalah pembersih tangan berbasis alkohol jika tidak tersedia air.

2. Hindari minum air yang tidak dimasak.

Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah pada daerah endemik tifoid. Untuk itu, minumlah air dalam botol atau kaleng. Seka seluruh bagian luar botol atau kaleng sebelum anda membukanya. Minum tanpa menambahkan es di dalamnya. Gunakan air minum kemasan untuk menyikat gigi dan usahakan tidak menelan air di pancuran kamar mandi.

3. Tidak perlu menghindari buah dan sayuran mentah.

Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih banyak daripada yang telah dimasak, namun untuk menyantapnya, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut. Untuk menghindari makanan mentah yang tercemar, cucilah buah dan sayuran tersebut dengan air yang mengalir. Perhatikan apakah buah dan sayuran tersebut masih segar atau tidak. Buah dan sayuran mentah yang tidak segar sebaiknya tidak disajikan. Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk mencuci, pilihlah buah yang dapat dikupas.

4. Pilih makanan yang masih panas.

Hindari makanan yang telah disimpan lama dan disajikan pada suhu ruang. Yang terbaik adalah makanan yang masih panas. Walaupun tidak ada jaminan makanan yang disajikan di restoran itu aman, hindari membeli makanan dari penjual di jalanan yang lebih mungkin terkontaminasi.

Pusat control penyakit dan pencegahan telah menidentifikasi imunisasi menjadi a genda penting bagi Negara berkembang yang menjadi tempat berkembang salmonella thypi. Vaksin ini berlandaskan identifikasi gen bakteri dan mekanisme imunologi dari daya tahan ke penyakit. Penggunaan vaksin ini merupakan pencegahan khusus yang dilakukan oleh negara Indonesia, untuk menanggulangi terjadinya demam tifoid pada anak, sehingga anak menjadi memiliki kekebalakn tubuh yang baik, meskipun kadang dirasakan efek sampingnya. Namun hal ini sangat lah baik untuk dilakukan guna meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia terutama pada anak-anak. Vaksin ini sering dilakukan pada anak-anak dengan rentang waktu tertentu serta komposisi tertentu sesuai dengan usia pada anak tersebut.

Ada tiga macam vaksin untuk melawan tifoid ini, yaitu:

No. Tipe Vaksin Komposisi Dosis Keberhasilan (%)

Efek Samping

1. parenteral vaksin sel tak aktif

Tersusun atas zat asan karbol panas sel vaksin yang tidak aktif

60-67% Reaksi local yang berat 2. Parenteral Capsular poly accharide vaccine Vi [ViCPs] Natibodi virulensi berupa butir polysaccharide Sekali suntikan 25 mcg (0,5 ml) 63-72% -sakit pada daerah tusukan - demam (3%) -tidak enak badan -muntah 3. Vaksin hidup yang diperlemah (Ty21a vaksin) S.thypi hidup yang diperlemah

3-4 kapsul 60-90% -sakit pada abdomen - mual - muntah - diare - ruam Pencegahan yang dilakukan pada pasien demam tifoid atau baru saja sembuh dari demam tifoid, berikut beberapa tips agar anda tidak menginfeksi orang lain:

1. Sering cuci tangan anda.

Ini adalah cara penting yang dapat anda lakukan untuk menghindari penyebaran infeksi ke orang lain. Gunakan air (diutamakan air mengalir) dan sabun, kemudian gosoklah tangan selama minimal 30 detik, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.

2. Bersihkan alat rumah tangga secara teratur.

Bersihkan toilet, pegangan pintu, telepon, dan keran air setidaknya sekali sehari.

3. Hindari memegang makanan.

Hindari menyiapkan makanan untuk orang lain sampai dokter berkata bahwa anda tidak menularkan lagi. Jika anda bekerja di industri makanan atau fasilitas kesehatan, anda tidak boleh kembali bekerja sampai hasil tes memperlihatkan anda tidak lagi menyebarkan bakteri Salmonella.

4. Gunakan barang pribadi yang terpisah.

Sediakan handuk, seprai, dan peralatan lainnya untuk anda sendiri dan cuci dengan menggunakan air dan sabun.

2.9 Pengobatan Demam Tifoid

Tujuan dari perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit tifoid atau types adalah untuk menghentikan invasi kuman, mencegah terjadinya komplikasi, memperpendek perjalanan penyakit, serta mencegah agar tak kambuh lagi. Pengobatan yang dilakukan untuk penyakit tyfus ini dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Selama tiga hari pasien harus berbaring di tempat tidur hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.

Untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa pusing, Anda dapat memberikan obat paracetamol. Sedangkan pada anak yang mengalami demam tifoid maka pilihan antibiotika yang baik adalah kloramfenikol selama 10 hari. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk menentukan obat yang baik untuk mengatasi demam tifoid. Selain dengan obat-obatan juga ada cara tradisional untuk menyembuhkan penyakit typus yaitu dengan menggunakan tanaman obat yang bisa kita jumpai di lingkungan kita.

1. penyembuhan penyakit typus dengan sambiloto (andrographis paniculata)

Fungsi dari tanaman ini adalah untuk menurunkan panas atau demam, fungsi lain untuk antiracun dan antibengkak. Cukup efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh, serta mengatasi infeksi dan merangsang phagocytosis. Bagian dari tanaman ini dapat diolah menjadi obat berbentuk kapsul. Untuk penggunaannya : 1 jam sebelum makan 3 x 1 kapsul (pagi, siang, sore).

2. Penyembuhan penyakit typus dengan bidara upas (merremia mammosa)

Tanaman ini digunakan untuk mengurangi rasa sakit (analgesic), menetralkan racun dan sebagai anti radang. Olah bagian dari tanaman ini dalam bentuk kapsul. Pemakainnya sendiri : 3 x 1 kapsul/hari.

3. Menyembuhkan penyakit Typus dengan Rumput Mutiara

Tanaman ini sangat berguna untuk menghilangkan rasa panas dan anti radang, selain itu juga sangat bermanfaat untuk mengaktifkan peredaran darah. Olah juga bagian tanaman ini menjadi kapsul. Cara pemakaiannya: 3 x 1 kapsul/hari.

Sifat dari tanaman ini adalah bakteriostatik dan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta antiflasma atau pembengkakan. Olah bagian tanaman ini dalam bentuk kapsul. Cara pemakaiannya: 3 x 1 kapsul/hari.

Obat-obatan yang dipakai untuk penyakit demam tifoid adalah : 1. Antibiotik

Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, sehingga memerlukan antibiotik. Antibiotik lini pertama adalah chloramphenicol, amoxicillin, atau cotrimoxazole. Antibiotik lini kedua adalah golongan fluoroquinolone (ofloxacin, ciprofloxacin) atau golongan cephalosporine (ceftriaxone, cefixime, atau cefotaxime). Lama pemberian antibiotik adalah 7-14 hari. Tirah baring selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali. Dengan antibiotik yang tepat, lebih dari 99% penderita dapat disembuhkan. Antibiotik yang banyak digunakan adalah kloramfenikol 100mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari. Dosis maksimal kloramfenikol 2g/hari. Kloramfenikol tidak bias diberikan bila jumlah leukosit < 2000 ul. Bila pasien alergi, dapat diberikan golongan penisilin atau kotrimoksazol.