• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 IDENTIFIKASI RANTAI PASOKAN KARET ALAM

Rantai pasokan merupakan interaksi dari beberapa pihak yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Keterkaitan tersebut meliputi aliran barang (produk) maupun aliran informasi dan aliran dana atau uang. Aliran barang merupakan bentuk fisik dari gambaran hubungan rantai pasokan. Dari aliran barang tersebut dapat diketahui pihak mana saja yang tidak terlibat langsung namun masih memiliki andil dalam kegiatan didalam rantai pasokan tersebut.

Sebelum diterima konsumen, suatu produk jadi terlebih dahulu mengalami proses panjang dimulai dari berupa bahan mentah yang kemudian diolah dengan penambahan nilai pada setiap prosesnya. Pada umumnya aliran barang, bermula dari tahapan awal rantai pasokan menuju ke pengguna akhir. Sementara aliran informasi dan aliran uang bergerak berlawanan dari aliran barang.

Menurut Hugos (2006), secara sederhana sebuah rantai pasokan terdiri atas sebuah perusahaan, pemasok, serta pelanggan perusahaan tersebut. Umumnya anggota rantai pasokan terdiri atas produsen, distributor, retailer, pelanggan, serta penyedia layanan.

Rantai pasokan karet alam terdiri dari rangkaian kegiatan produktif yang terhubung antara aktifitas nilai yang satu dengan nilai yang lain membentuk rantai nilai industri. Rantai pasokan karet alam di Indonesia berakhir sampai dengan eksportir. Selanjutnya eksportir tersebut memasarkannya dengan mengekspor karet alam ke Amerika, Jepang, Cina, Singapur, dan Jerman. Anggota utama rantai pasokan karet alam di Indonesia terdiri dari pemasok, pendistribusi, pengolah, dan konsumen (pasar). Pada PT. Condong Garut, petani kebun karet bertugas sebagai pemasok bahan baku, pemanen lateks, pengumpul dan penyaring lateks dan juga pendistribusi lateks ke pabrik. Pabrik sebagai pengolah bertugas untuk melakukan pemrosesan RSS dan Brown Crepe. Karet alam yang sudah diproses akan dipasarkan kepada para pengumpul dan eksportir. Setiap anggota rantai pasokan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan operasional untuk menghasilkan karet alam yang berkualitas. Pola aliran rantai pasokan karet alam disajikan pada Gambar 24.

Gambar 24. Pola aliran rantai pasokan karet alam Keterangan :

1. Penyedia sarana produksi untuk petani

Rantai pasokan merupakan interaksi dari beberapa pihak yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Keterkaitan tersebut meliputi aliran barang (produk) maupun aliran informasi dan aliran dana atau uang. Aliran barang merupakan bentuk fisik dari gambaran hubungan rantai pasokan. Dari aliran barang tersebut dapat diketahui pihak mana saja yang tidak terlibat langsung namun masih memiliki andil dalam kegiatan didalam rantai pasokan tersebut.

Sebelum diterima konsumen, suatu produk jadi terlebih dahulu mengalami proses panjang dimulai dari berupa bahan mentah yang kemudian diolah dengan penambahan nilai pada setiap prosesnya. Pada umumnya aliran barang, bermula dari tahapan awal rantai pasokan menuju ke pengguna akhir. Sementara aliran informasi dan aliran uang bergerak berlawanan dari aliran barang.

Menurut Hugos (2006), secara sederhana sebuah rantai pasokan terdiri atas sebuah perusahaan, pemasok, serta pelanggan perusahaan tersebut. Umumnya anggota rantai pasokan terdiri atas produsen, distributor, retailer, pelanggan, serta penyedia layanan.

Rantai pasokan karet alam terdiri dari rangkaian kegiatan produktif yang terhubung antara aktifitas nilai yang satu dengan nilai yang lain membentuk rantai nilai industri. Rantai pasokan karet alam di Indonesia berakhir sampai dengan eksportir. Selanjutnya eksportir tersebut memasarkannya dengan mengekspor karet alam ke Amerika, Jepang, Cina, Singapur, dan Jerman. Anggota utama rantai pasokan karet alam di Indonesia terdiri dari pemasok, pendistribusi, pengolah, dan konsumen (pasar). Pada PT. Condong Garut, petani kebun karet bertugas sebagai pemasok bahan baku, pemanen lateks, pengumpul dan penyaring lateks dan juga pendistribusi lateks ke pabrik. Pabrik sebagai pengolah bertugas untuk melakukan pemrosesan RSS dan Brown Crepe. Karet alam yang sudah diproses akan dipasarkan kepada para pengumpul dan eksportir. Setiap anggota rantai pasokan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan operasional untuk menghasilkan karet alam yang berkualitas. Pola aliran rantai pasokan karet alam disajikan pada Gambar 24.

Gambar 24. Pola aliran rantai pasokan karet alam Keterangan :

1. Penyedia sarana produksi untuk petani

Rantai pasokan merupakan interaksi dari beberapa pihak yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Keterkaitan tersebut meliputi aliran barang (produk) maupun aliran informasi dan aliran dana atau uang. Aliran barang merupakan bentuk fisik dari gambaran hubungan rantai pasokan. Dari aliran barang tersebut dapat diketahui pihak mana saja yang tidak terlibat langsung namun masih memiliki andil dalam kegiatan didalam rantai pasokan tersebut.

Sebelum diterima konsumen, suatu produk jadi terlebih dahulu mengalami proses panjang dimulai dari berupa bahan mentah yang kemudian diolah dengan penambahan nilai pada setiap prosesnya. Pada umumnya aliran barang, bermula dari tahapan awal rantai pasokan menuju ke pengguna akhir. Sementara aliran informasi dan aliran uang bergerak berlawanan dari aliran barang.

Menurut Hugos (2006), secara sederhana sebuah rantai pasokan terdiri atas sebuah perusahaan, pemasok, serta pelanggan perusahaan tersebut. Umumnya anggota rantai pasokan terdiri atas produsen, distributor, retailer, pelanggan, serta penyedia layanan.

Rantai pasokan karet alam terdiri dari rangkaian kegiatan produktif yang terhubung antara aktifitas nilai yang satu dengan nilai yang lain membentuk rantai nilai industri. Rantai pasokan karet alam di Indonesia berakhir sampai dengan eksportir. Selanjutnya eksportir tersebut memasarkannya dengan mengekspor karet alam ke Amerika, Jepang, Cina, Singapur, dan Jerman. Anggota utama rantai pasokan karet alam di Indonesia terdiri dari pemasok, pendistribusi, pengolah, dan konsumen (pasar). Pada PT. Condong Garut, petani kebun karet bertugas sebagai pemasok bahan baku, pemanen lateks, pengumpul dan penyaring lateks dan juga pendistribusi lateks ke pabrik. Pabrik sebagai pengolah bertugas untuk melakukan pemrosesan RSS dan Brown Crepe. Karet alam yang sudah diproses akan dipasarkan kepada para pengumpul dan eksportir. Setiap anggota rantai pasokan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan operasional untuk menghasilkan karet alam yang berkualitas. Pola aliran rantai pasokan karet alam disajikan pada Gambar 24.

Gambar 24. Pola aliran rantai pasokan karet alam Keterangan :

1. Penyedia sarana produksi untuk petani

Aliran rantai pasokan karet alam dimulai dari petani sebagai pemasok bahan baku karet alam.

Hasil panen dari petani akan dikumpulkan dan disaring terlebih dahulu sebelum dikirim. Mekanisme pengiriman lateks dilakukan ketika lateks sudah terkumpul dan tersaring kemudian langsung dikirim ke pabrik pengolahan. Alat transportasi yang digunakan oleh petani untuk mengantarkan lateks kepada pabrik adalah dengan menggunakan truk.

Karet alam yang dihasilkan oleh pabrik dijual langsung ke pengumpul karet alam atau eksportir yang berada diluar wilayah kabupaten Garut. Eksportir karet alam yang membeli di PT. Condong Garut paling banyak berada di wilayah Jakarta. Karet alam akan diekspor ke Amerika, Jepang, Cina, Singapur, dan Jerman. Harga beli karet alam oleh pengumpul atau eksportir bergantung pada kualitas karet alam yang dipesan. Semakin baik kualitas karet alam, maka semakin mahal harga karet alam tersebut.

Aliran finansial pada rantai pasokan karet alam terjadi dari pengekspor karet alam ke pengumpul karet alam atau langsung ke pabrik pengolah lateks. Selanjutnya, aliran finansial dari pabrik diteruskan ke pengumpul lateks atau langsung ke petani. Pembayaran dari eksportir kepada pabrik atau pengumpul karet alam dilakukan secara tunai ataupun transfer antar bank sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Pabrik juga memberikan modal untuk melakukan budidaya tanaman karet. Setelah dari proses pemanenan, pengumpulan dan penyaringan, petani tersebut harus mengirim lateks ke pabrik tersebut, dan pabrik memberikan bonus kepada petani atas lateks yang dihasilkan sesuai dengan kesepakatan oleh kedua belah pihak.

Sistem komunikasi yang terjalin antara anggota primer dalam rantai pasokan karet alam sudah terintegrasi dengan baik. Aliran informasi terjadi pada pengekpor karet alam dan pengumpul karet alam atau langsung ke pabrik pengolah lateks. Selanjutnya dari pabrik ke pengumpul lateks atau langsung ke petani. Komunikasi antara pengekspor dengan pabrik menggunakan telepon untuk mengetahui harga yang berlaku dan tanggal pengiriman karet alam. Komunikasi antara pabrik dengan petani kebun karet berupa informasi tentang pembibitan, perawatan, pemanenan, dan kapasitas pengiriman lateks kepada pabrik.

Komunikasi yang dilakukan antara petani dan pabrik biasanya dilakukan menggunakan telepon dan rapat atau musyawarah. Petani dan pabrik tersebut merupakan sebuah kemitraan yang sudah terintegrasi yang berada di daerah kawasan PT. Condong Garut. Hal yang dibahas dalam rapat atau musyawarah tersebut membahas penggunaan pupuk, bantuan sarana penunjang produksi, dan pelatihan budidaya. Komunikasi antar pabrik dan petani dilakukan secara informal seperti pihak pabrik mengunjungi langsung ke lahan perkebunan karet atau afdeling.

5.2.1 Anggota Rantai Pasok

Pemasok lateks dan bahan penunjang produksi merupakan pemasok utama bahan baku dalam rantai pasokan karet alam ini. Prosesor dalam rantai pasokan ini adalah pabrik pengolah lateks yang menjadi anggota utama dari rantai pasokan. Selain bertanggung jawab dalam pembelian biji, pupuk, dan bahan pendukung lainnya, pabrik juga bertanggung jawab dalam pengolahan lateks menjadi produk olahan yaitu Ribbed Smoked Sheet (RSS) dan pengolahan limbah padatnya seperti lump menjadi produk olahan yang punya nilai tambah yaitu Brown Crepe.

Anggota terakhir dalam rantai pasokan ini adalah konsumen luar negeri, namun konsumen akhir dalam rantai pasok PT. Condong Garut adalah pengumpul dan eksportir karet alam. Kedua konsumen ini biasanya membeli produk yang sudah dipesan ataupun yang tersedia dalam stok pengaman di pabrik. Perusahaan pun mempunyai bentuk kerjasama yang telah disepakati dengan para konsumennya, berupa kontrak perjanjian tertulis.

5.2.2 Aktifitas Anggota Rantai Pasok

Rantai pasokan dimulai ketika PT. Condong Garut menerima lateks dari semua afdeling dan memesan bahan pendukung produksi. Perusahaan melakukan pembelian dengan pemasok tanpa ikatan kontrak. Biasanya perusahaan memesan bahan pendukung seperti pupuk, amonia, asam semut, asam sulfat selama dua bulan sekali. Sedangkan pembelian biji karet dilakukan setahun sekali.

Adanya prakiraan permintaan produksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk merencanakan proses produksi, perusahaan menginformasikan kebutuhan lateks kepada setiap afdeling. Setiap afdeling mempunyai plasma unggul berdasarkan Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) yang ada. TPH merupakan tempat pengumpulan dan penyaringan lateks oleh para plasma. Para plasma ini pun akan memberikan informasi kepada pabrik pengolahan atas jumlah lateks yang akan dikirim. Sebuah kelompok plasma beranggotakan antara 20 sampai 30 orang dimana orang-orang tersebut sudah dibagikan tugasnya seperti merawat tanaman karet, menyadap dan menyaring lateks. Jika lateks telah dikumpulkan, masing-masing plasma langsung mengirim lateks tersebut ke pabrik pengolahan.

Proses selanjutnya adalah penerimaan bahan baku dan pengukuran kadar karet kering.

Penerimaan lateks di pabrik dilakukan selama 1 jam dan dilihat nilai kadar karet kering yang diterima sehingga jumlah produksi karet alam pun dapat diestimasi. Selanjutnya dilakukan pengenceran dan koagulasi, penggilingan, pengasapan, sortasi, dan pengepakan. Sortasi yang dilakukan perusahaan masih manual, yaitu dengan menggunakan tangan dan gunting. Jumlah lateks yang diolah menjadi RSS didasarkan pada persediaan produk, bukan permintaan. Namun jika dirata-ratakan, kapasitas produksi per harinya adalah 4 ton per hari.

Seluruh kegiatan pengolahan lateks menjadi RSS dilakukan oleh perusahaan, begitu juga pengolahan limbah yang mempunyai nilai tambah yaitu pengolahan lump menjadi Brown Crepe.

Kedua produk olahan ini pun disortasi berdasarkan standar mutu yang ada, sehingga mempunyai beberapa produk prospektif yang dibutuhkan oleh konsumen. Semakin tinggi kualitas karet alam, maka semakin tinggi harga jual dan nilai tambahnya. Karena ada berbagai jenis produk yang dihasilkan, konsumen dapat memesan karet alam sesuai kebutuhan dan pabrik pun dapat meningkatkan pendapatan perusahaan.

Konsumen, eksportir, dan pengumpul dapat membeli produknya melalui kontrak tertulis, ataupun ketika mereka membutuhkan produk dan biasanya dilakukan setiap awal semester.

Pengiriman produk kepada konsumen dilakukan menggunakan truk. Sementara uang dari konsumen dilakukan pembayaran secara tunai atau transfer antar bank.

5.2.3 Sistem Transaksi

Sistem transaksi yang diterapkan di dalam rantai pasokan karet alam cukup sederhana. Pada gudang penyimpanan, transaksi jual-beli antara produsen dan konsumen dapat berlangsung secara cash and carry, yaitu konsumen membayar langsung kepada perusahaan dan mendapatkan langsung produk yang diinginkan.

Sementara pada lingkungan eksportir dan pengumpul, transaksi penjualan umumnya menggunakan invoice atau faktur penjualan. Pelunasan pembayaran dari faktur tersebut umumnya dibayar setelah rentang waktu maksimal tiga bulan. Pembayaran seperti ini digunakan untuk setiap pembelian tetap yaitu eksportir atau pengumpul yang memesan karet alam, dan pasti akan membelinya setelah produk sudah siap dikirim. Sistem transaksi seperti ini dilakukan dengan kesepakatan antara pihak eksportir atau pengumpul dan perusahaan terlebih dahulu pada setiap awal semester. Pemesanan biasanya dilakukan melalui telepon. Kesepakatan kedua belah pihak disampaikan melalui media suara dan adanya perjanjian tertulis, dan dalam pelaksanaannya tidak

pernah mengalami permasalahan. Setelah diproduksi, karet alam tersebut kemudian dikirim kepada pemesan kontrak.

Di samping itu, ada juga konsumen yang membeli karet alam secara tidak menentu (tidak tetap). Jika produksi karet alam melebihi pemesanan dari pemesan kontrak, maka perusahaan akan menjualnya kepada konsumen lain dengan melakukan penawaran terlebih dahulu. Hampir sama seperti pemesan kontrak, perusahaan melakukan penawaran kepada konsumen tidak tetap melalui telepon.

5.2.4 Kemitraan Dalam Rantai Pasok

Pola kemitraan yang dianut oleh perusahaan ini adalah inti plasma. Inti plasma merupakan salah satu hubungan kemitraan antara kelompok mitra sebagai plasma, dalam hal ini yaitu petani kebun karet dengan industri pengolahan selaku perusahaan inti. Menurut Hafsah (2000), salah satu keunggulan dari pola inti plasma adalah dapat memberikan manfaat timbal balik dari perusahaan besar atau menengah sebagai inti dengan usaha kecil sebagai plasma. Manfaat tersebut diperoleh melalui cara pengusaha besar atau menengah memberikan pembinaan serta penyediaan sarana produksi, bimbingan, pengolahan hasil dan pemasaran, dengan begitu perusahaan besar telah membagi resiko hasil serta peluang bisnis dengan pengusaha kecil sebagai plasma.

Pada kemitraan ini, perusahaan memiliki beberapa tugas dan tanggung jawab, yaitu berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana penunjang produksi, memberikan upah yang layak, dan memberikan bonus atas produktivitas yang telah dilakukan, sedangkan petani bertanggung jawab dalam pembudidayaan, perawatan dan pemeliharaan, sampai pemanenan, kemudian petani mengirim hasil panennya ke perusahaan inti.

Sementara itu, kemitraan yang terjalin antara petani kebun karet (plasma) terjadi di dalam kelompok. Satu kelompok biasanya terdiri atas 20-25 orang petani kebun karet yang mempunyai hubungan kekerabatan atau kedekatan tempat tinggal. Tidak semua petani bertugas untuk budidaya tanaman karet, tetapi ada juga yang memanen lateks dan mengumpulkan sekaligus menyaringnya.

Luas total area perkebunan PT. Condong Garut adalah 2,714.81 Ha (Gambar 25). Untuk jenis tanaman yang sudah menghasilkan memiliki luas area 1,758.62 Ha dan jumlah pohon sebanyak 465,224. Sedangkan tanaman yang belum menghasilkan memiliki luas 759.18 Ha dan jumlah pohon sebanyak 311,796. Sedangkan sisanya adalah lahan opening seluas 173.19 Ha, lahan entres 3.65Ha, dan lahan pembibitan 20.17 Ha.

Gambar 25. Area perkebunan karet PT. Condong Garut

pernah mengalami permasalahan. Setelah diproduksi, karet alam tersebut kemudian dikirim kepada pemesan kontrak.

Di samping itu, ada juga konsumen yang membeli karet alam secara tidak menentu (tidak tetap). Jika produksi karet alam melebihi pemesanan dari pemesan kontrak, maka perusahaan akan menjualnya kepada konsumen lain dengan melakukan penawaran terlebih dahulu. Hampir sama seperti pemesan kontrak, perusahaan melakukan penawaran kepada konsumen tidak tetap melalui telepon.

5.2.4 Kemitraan Dalam Rantai Pasok

Pola kemitraan yang dianut oleh perusahaan ini adalah inti plasma. Inti plasma merupakan salah satu hubungan kemitraan antara kelompok mitra sebagai plasma, dalam hal ini yaitu petani kebun karet dengan industri pengolahan selaku perusahaan inti. Menurut Hafsah (2000), salah satu keunggulan dari pola inti plasma adalah dapat memberikan manfaat timbal balik dari perusahaan besar atau menengah sebagai inti dengan usaha kecil sebagai plasma. Manfaat tersebut diperoleh melalui cara pengusaha besar atau menengah memberikan pembinaan serta penyediaan sarana produksi, bimbingan, pengolahan hasil dan pemasaran, dengan begitu perusahaan besar telah membagi resiko hasil serta peluang bisnis dengan pengusaha kecil sebagai plasma.

Pada kemitraan ini, perusahaan memiliki beberapa tugas dan tanggung jawab, yaitu berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana penunjang produksi, memberikan upah yang layak, dan memberikan bonus atas produktivitas yang telah dilakukan, sedangkan petani bertanggung jawab dalam pembudidayaan, perawatan dan pemeliharaan, sampai pemanenan, kemudian petani mengirim hasil panennya ke perusahaan inti.

Sementara itu, kemitraan yang terjalin antara petani kebun karet (plasma) terjadi di dalam kelompok. Satu kelompok biasanya terdiri atas 20-25 orang petani kebun karet yang mempunyai hubungan kekerabatan atau kedekatan tempat tinggal. Tidak semua petani bertugas untuk budidaya tanaman karet, tetapi ada juga yang memanen lateks dan mengumpulkan sekaligus menyaringnya.

Luas total area perkebunan PT. Condong Garut adalah 2,714.81 Ha (Gambar 25). Untuk jenis tanaman yang sudah menghasilkan memiliki luas area 1,758.62 Ha dan jumlah pohon sebanyak 465,224. Sedangkan tanaman yang belum menghasilkan memiliki luas 759.18 Ha dan jumlah pohon sebanyak 311,796. Sedangkan sisanya adalah lahan opening seluas 173.19 Ha, lahan entres 3.65Ha, dan lahan pembibitan 20.17 Ha.

Gambar 25. Area perkebunan karet PT. Condong Garut

Tanaman Menghasilkan

pernah mengalami permasalahan. Setelah diproduksi, karet alam tersebut kemudian dikirim kepada pemesan kontrak.

Di samping itu, ada juga konsumen yang membeli karet alam secara tidak menentu (tidak tetap). Jika produksi karet alam melebihi pemesanan dari pemesan kontrak, maka perusahaan akan menjualnya kepada konsumen lain dengan melakukan penawaran terlebih dahulu. Hampir sama seperti pemesan kontrak, perusahaan melakukan penawaran kepada konsumen tidak tetap melalui telepon.

5.2.4 Kemitraan Dalam Rantai Pasok

Pola kemitraan yang dianut oleh perusahaan ini adalah inti plasma. Inti plasma merupakan salah satu hubungan kemitraan antara kelompok mitra sebagai plasma, dalam hal ini yaitu petani kebun karet dengan industri pengolahan selaku perusahaan inti. Menurut Hafsah (2000), salah satu keunggulan dari pola inti plasma adalah dapat memberikan manfaat timbal balik dari perusahaan besar atau menengah sebagai inti dengan usaha kecil sebagai plasma. Manfaat tersebut diperoleh melalui cara pengusaha besar atau menengah memberikan pembinaan serta penyediaan sarana produksi, bimbingan, pengolahan hasil dan pemasaran, dengan begitu perusahaan besar telah membagi resiko hasil serta peluang bisnis dengan pengusaha kecil sebagai plasma.

Pada kemitraan ini, perusahaan memiliki beberapa tugas dan tanggung jawab, yaitu berkewajiban menyediakan sarana dan prasarana penunjang produksi, memberikan upah yang layak, dan memberikan bonus atas produktivitas yang telah dilakukan, sedangkan petani bertanggung jawab dalam pembudidayaan, perawatan dan pemeliharaan, sampai pemanenan, kemudian petani mengirim hasil panennya ke perusahaan inti.

Sementara itu, kemitraan yang terjalin antara petani kebun karet (plasma) terjadi di dalam kelompok. Satu kelompok biasanya terdiri atas 20-25 orang petani kebun karet yang mempunyai hubungan kekerabatan atau kedekatan tempat tinggal. Tidak semua petani bertugas untuk budidaya tanaman karet, tetapi ada juga yang memanen lateks dan mengumpulkan sekaligus menyaringnya.

Luas total area perkebunan PT. Condong Garut adalah 2,714.81 Ha (Gambar 25). Untuk jenis tanaman yang sudah menghasilkan memiliki luas area 1,758.62 Ha dan jumlah pohon sebanyak 465,224. Sedangkan tanaman yang belum menghasilkan memiliki luas 759.18 Ha dan jumlah pohon sebanyak 311,796. Sedangkan sisanya adalah lahan opening seluas 173.19 Ha, lahan entres 3.65Ha, dan lahan pembibitan 20.17 Ha.

Gambar 25. Area perkebunan karet PT. Condong Garut

Tanaman Menghasilkan

5.2.5 Resiko Rantai Pasok

Resiko rantai pasokan pada komoditas karet alam ini dibagi menjadi dua, yaitu resiko operasional serta resiko lingkungan dan kebijakan. Resiko operasional merupakan resiko yang terjadi berupa masalah teknis, dan pada umumnya disebabkan oleh cuaca, penyakit tanaman karet dan serangan binatang, serta kesalahan dari sumber daya manusia. Resiko operasional ini sangat mempengaruhi hasil produksi, seperti adanya jamur pada pohon karet sehingga mempengaruhi kualitas lateks, kadar karet kering menurun akibat cuaca sedang hujan, atau kuantitas lateks yang rendah akibat kesalahan pemanenan yang dilakukan pekerja. Di setiap tahapan kegiatan pemeliharaan dan pengolahan memang rentan dengan kesalahan dan kerugian, namun jika SDM yang menanganinya terampil dan teliti, hal itu dapat diminimalisir.

Resiko kebijakan dan lingkungan merupakan faktor eksternal yang sifatnya tidak pasti. Resiko ini umumnya berasal dari Pemerintah sebagai penentu kebijakan Negara. Contoh dari resiko ini adalah kenaikan harga BBM atau Tarif Dasar Listrik dan kebijakan pemerintah mengenai peraturan lalu lintas barang dan jasa.

5.3 Green Map Rantai Pasok Ribbed Smoked Sheet