• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN MANAJEMEN RANTAI PASOK KARET ALAM PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE (STUDI KASUS DI PT.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN MANAJEMEN RANTAI PASOK KARET ALAM PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE (STUDI KASUS DI PT."

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

MANAJEMEN RANTAI PASOK KARET ALAM DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS

REFERENCE

(STUDI KASUS DI PT. CONDONG GARUT)

SKRIPSI

DANIEL SAPUTRA F34080019

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2012

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

MANAJEMEN RANTAI PASOK KARET ALAM DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS

REFERENCE

(STUDI KASUS DI PT. CONDONG GARUT)

SKRIPSI

DANIEL SAPUTRA F34080019

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2012

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

MANAJEMEN RANTAI PASOK KARET ALAM DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS

REFERENCE

(STUDI KASUS DI PT. CONDONG GARUT)

SKRIPSI

DANIEL SAPUTRA F34080019

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(2)

DECISION SUPPORT SYSTEM FOR NATURAL RUBBER SUPPLY CHAIN MANAGEMENT WITH GREEN SUPPLY CHAIN

OPERATIONS REFERENCE APPROACH (CASE STUDY IN PT. CONDONG GARUT)

Marimin, M. Arif Darmawan and Daniel Saputra

Department of Agroindustrial Technology, Faculty of Agriculture Technology,

Bogor Agricultural University, IPB Darmaga Campus, PO BOX 220, Bogor, West Java, Indonesia.

Phone 62 251 8624622, email: nielsaputra@gmail.com

ABSTRACT

The ability to make decisions quickly and accurately will be a key to success in global competition in the future. Integration of hardware, software, and processes are necessary to produce a decision support system (DSS) is focused on helping executives to make decisions. Demand of natural rubber in Indonesia, from year to year continues to increase with increasing human needs for equipmentthat is elastic and not easily broken. One of the largest natural rubber agroindustry is PT.

XYZ located in the southern coastal area Garut, West Java. The sources of Indonesia’s economy is derived from export and import activities,one of them is the export of natural rubber. Economic growth in the natural rubber agroindustry is expected to care for the environment. Economic growth refers to the environmental conditions expected to create sustainable development that can be implemented in the long term. These conditions make the company should be able to improve its supply chain management for the entire business process can run well. The main objective of this research is to design and develop web-based decision-making systems that can provide the output as a solution to existing problems and efforts to improve the supply chain so that the natural rubber agroindusty can grow and increase profits. The need for a system that can assist in decision-making process to improve the performance of the agro-natural rubber, charged with designing an application program called Agrogreenrubber. This system provides a variety of models and decision alternatives, which are the prospective product model selection, the potential costumer model selection, strategy model selection to choose the best plasma, and the company's performance measurement model. The approach used to process and analyze data that is MPE method, AHP, and AHP GSCOR.

Keywords : decision support system, natural rubber, AHP-GSCOR

(3)

DANIEL SAPUTRA. F34080019. Sistem Penunjang Keputusan Manajemen Rantai Pasok Karet Alam dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference (Studi Kasus Di PT.

Condong Garut). Dibawah bimbingan Marimin dan M. Arif Darmawan. 2012.

RINGKASAN

Karet alam merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting untuk Indonesia dan lingkup internasional. Di Indonesia khususnya di Pulau Jawa, salah satu sentra tanaman karet yang cukup besar berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sekitar kurang lebih 95 km dari Ibu Kota Garut, dengan ketinggian 600-800 meter dari permukaan laut, terdapat suatu perusahaan swasta yang memiliki total luas areal perkebunan karet seluas 2,741.81 Ha. Selain mempunyai perkebunan karet, perusahaan ini mempunyai beberapa pabrik pengolahan karet yang berdekatan dengan perkebunan karet. Setiap hari di perkebunan karet terjadi proses pemanenan lateks dimana hasil dari pemanenan ini akan dikirim ke pabrik pengolahan karet. Lateks yang telah diterima pabrik akan ditransformasikan menjadi beberapa produk-produk turunan karet alam yang berkualitas, seperti Ribbed Smoked Sheet dan Brown Crepe. Namun pada kenyataannya, produktivitas lahan karet pada perkebunan ini mulai mengalami penurunan sehingga mutu lateks yang dihasilkan juga kurang memuaskan. Salah satu penyebab utama permasalahan ini adalah pengelolaan perkebunan karet yang seadanya, misalnya perawatan tanaman yang utama seperti pemupukan dan pemberantasan gulma jarang dilakukan. Selain itu, klon-klon baru yang memiliki produktivitas lateks tinggi banyak yang tidak dikenali.

Produktivitas perkebunan karet yang rendah juga dapat disebabkan oleh kualitas bibit yang rendah, pemanfaatan lahan perkebunan yang tidak optimal, dan pemeliharaan tanaman yang buruk.

Jika dibiarkan semakin lama permasalahan ini, dikhawatirkan kualitas dan kuantitas dari produk yang dihasilkan juga menurun. Penurunan kualitas dan kuantitas dari produk yang dihasilkan dapat menurunkan keuntungan perusahaan karena jumlah produk yang berkualitas yang akan ditawarkan kepada konsumen pun terbatas. Padahal, produktivitas lateks yang menurun bukan menjadi suatu alasan keterbatasan pemasukan perusahaan, karena perusahaan dapat memaksimalkan proses produksi untuk menghasilkan produk prospektif sehingga pemilihan konsumen yang potensial untuk membeli produk berkualitas dengan kuantitas yang banyak dapat ditentukan.

Dalam mengatasi keterbatasan pemasukan perusahaan atas masalah-masalah yang ada dalam agroindustri karet, para pengambil keputusan dihadapkan pada penentuan bagaimana keputusan- keputusan yang rasional harus diambil dan menentukan pilihan yang tepat dan akurat secara cepat.

Sistem penunjang keputusan merupakan bentuk evolusi dari pengolahan data elektronik dan sistem informasi manajemen yang berfokus untuk membantu manajemen puncak dan eksekutif mengambil keputusan dan bertumpu pada fleksibilitas, adaptabilitas, dan jawaban yang cepat, yang dapat dikendalikan oleh pengguna (Suryadi dan Ramdhani 1998). Sistem penunjang keputusan pada penelitian ini juga dapat membantu para pengambil keputusan untuk memilih berbagai alternatif keputusan berupa hasil pengolahan informasi-informasi yang diperoleh. Selain sistem sudah dilengkapi dengan model-model pemilihan yang merupakan representasi dari permasalahan yang ada di perusahaan, pengembangan sistem ini juga dipadukan dengan manajemen rantai pasok guna memperlancar setiap informasi dan produk, mulai dari suplier sampai dengan konsumen, agar tercipta suatu hubungan teratur dari hulu ke hilir sehingga pengukuran terhadap rantai pasok pun dapat diukur.

Metodologi penelitian ini terdiri dari analisis kebutuhan sistem, formulasi permasalahan, dan identifikasi sistem. Sementara, tahapan penelitian yang dilakukan yaitu pengumpulan data dan informasi dengan melakukan observasi dan wawancara dengan pakar, mengolah dan menganalisis data, mengembangkan sistem, menguji, dan mengevaluasi model. Data yang digunakan untuk

(4)

memilih produk prospektif, konsumen potensial, penentuan strategi pemilihan plasma unggul (petani kebun karet) merupakan data-data yang telah ditentukan oleh pakar dari hasil wawancara. Sementara data yang digunakan untuk menentukan nilai metrik kinerja dalam pengukuran merupakan data-data yang diperoleh dari pustaka yang menjadi faktor peningkatan performa dan pengembangan perusahaan.

Agrogreenrubber merupakan sebuah sistem penunjang keputusan berbasis web yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang ada di perusahaan dengan menyajikan berbagai model dan alternatif keputusan, yaitu model pemilihan produk prospektif, model pemilihan konsumen potensial, model strategi pemilihan pemilihan plasma terbaik, dan model pengukuran kinerja perusahaan. Model-model dalam Agrogreenrubber merupakan representasi terhadap permasalahan nyata di PT. Condong Garut. Model pemilihan produk prospektif dan model pemilihan konsumen potensial dianalisis dengan pendekatan metode perbandingan eksponensial (MPE). Model penentuan strategi pemilihan plasma unggul dianalisis dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP).

Sementara untuk menentukan nilai metrik kinerja dalam model pengukuran kinerja perusahaan, dilakukan pembobotan dengan menggunakan pendekatan GSCOR yang dikombinasikan dengan AHP.

Hasil keluaran pada model pemilihan produk prospektif menghasilkan bahwa produk terbaik untuk diproduksi adalah Ribbed Smoked Sheet kualitas 1. Namun mengingat sarana dan prasarana serta sumberdaya manusia yang menanganinya masih terbatas, maka diharapkan perusahaan mampu menyesuaikannya sehingga dapat tercapai produktivitas optimal dan keuntungan yang maksimal.

Sementara pada model pemilihan konsumen potensial menyimpulkan bahwa konsumen terbaik untuk memasarkan produk olahan karet alam adalah WTP.

Model penentuan strategi pemilihan plasma unggul menghasilkan alternatif-alternatif yang dapat mewakili penilaian perusahaan inti terhadap plasma sebagai mitra perusahaan dalam memelihara kebun karet dan menghasilkan lateks. Alternatif-altenatif tersebut diperoleh melalui pembobotan AHP berdasarkan faktor-faktor kunci yang membuat suatu plasma unggul. Alternatif dengan bobot terbesar yaitu merawat, memanen dan menyaring lateks sesuai prosedur dengan bobot 0.420, menjadi hal terpenting dalam menilai keunggulan suatu plasma.

Pengukuran kinerja perusahaan dalam model keempat didasarkan kepada semua aspek metrik kinerja yang yang diperoleh melalui pembobotan AHP. Hasil akhir yang diperoleh berdasarkan tabel pengukuran kinerja yaitu kinerja rantai pasok perusahaan terbaik. Keluaran rekomendasi dari sistem menunjukkan perbaikan pada aspek yang bernilai kurang dan cukup. Saran dalam penelitian ini adalah perlu penelitian lebih lanjut mengenai pengukuran kinerja rantai pasok karet dengan pendekatan GSCOR sehingga penilaian kinerja dapat dilakukan secara menyeluruh dan terperinci.

Selain itu, sebaiknya diadakan pengukuran kinerja dari para mitra plasma sehingga hasil yang keluar terlihat lebih nyata.

(5)

Daniel Saputra. F34080019. Decision Support System For Natural Rubber Supply Chain Management with Green Supply Chain Operations Reference Approach (Case Study In PT.

Condong Garut). Supervised by Marimin and M. Arif Darmawan. 2012.

SUMMARY

Natural rubber is one of the important agricultural commodity for Indonesia and international scope. In Indonesia, especially in Java, one of the biggest industry of rubber was located in Kabupaten Garut, West Java. Approximately less than 95 km from the capital city of Garut, with a height of 600- 800 meters above sea level, there is a private company that has a total area of 2.741,81 hectares of rubber plantation area. Besides having a rubber plantation, the company has several rubber processing plant adjacent to the rubber plantations. Every day in the process of harvesting rubber latex in which the results of the harvest will be sent to a processing plant rubber. Latex has received factory will be transformed into a number of derivative products quality natural rubber, such as Ribbed Smoked Sheet and Brown Crepe. But in reality, the rubber plantation land productivity is on the decline so that the quality of the resulting latex was also less than satisfactory. One of the main problems is the management of the crude rubber plantation, such as the main treatment plant fertilization and weed eradication is rarely done. In addition, new clones, which have much higher productivity latex unrecognized.

Low productivity of rubber plantations can also be caused by low quality seeds, farm land use that is not optimal, and poor maintenance of plants. If left longer the issue, it is feared the quality and quantity of the product also decreased. Decline in the quality and quantity of the product can reduce corporate profits as the number of high quality products that will be offered to consumers is limited.

In fact, productivity declined latex not be a reason for the limitations of the company's revenue, since the company can maximize the production process so as to produce elections prospective potential consumers to buy quality products with a lot quantity can be determined.

In addressing the limitations of the company's revenue for the problems that exist in the agro- rubber, decision makers are faced with determining how rational decisions to be taken and make the right choice quickly and accurately. Decision support system is a form of evolution of electronic data processing and information management systems that are focused on helping top management and executives make decisions and rely on the flexibility, adaptability and rapid response, which can be controlled by the user (Suryadi and Ramdhani 1998). Decision support systems in this study can also help decision-makers to choose alternatives such decisions result of processing the information obtained. In addition the system is equipped with a selection of models that are representative of the problems that exist in the company, the development of this system is also integrated with supply chain management to facilitate any information and products, ranging from suppliers to consumers, in order to create a relationship orderly from upstream to downstream so that the measurement of the supply chain can be measured.

The methodology of this research consists of the analysis of system requirements, formulation issues, and identification systems. Meanwhile, conducted the research stages of data collection and information by observation and interviews with experts, process and analyze data, develop systems, test, and evaluate the model. The data used to select prospective products, potential customers, determining the selection strategy superior plasma is the data that has been determined by experts from the interview. While the data used to determine the value of performance metrics in the measurement data are obtained from the literature that factor into increased performance and development company.

(6)

Agrogreenrubber is a web-based decision support system that is expected to address the problems that exist in the company by presenting various models and decision alternatives, ie prospective model of product selection, model selection of potential consumers, the model selection strategy selection of the best plasma, and performance measurement model. The models in Agrogreenrubber a representation of the real problems in the PT. Condong Garut. Model selection and model selection of products prospective potential customers analyzed by comparative method exponential approach. Model the strategy of winning elections plasma were analyzed by the method of Analytical Hierarchy Process. While the selection of performance metrics to determine the performance measurement model, weighted by GSCOR approach combined with AHP.

The output on the model selection of prospective yield products that are manufactured products for Ribbed Smoked Sheet 1. However, given the infrastructure and human resources to handle is still limited, it is expected that the company is able to adjust so as to achieve optimum productivity and profitability are maximized. While the model concluded that the selection of potential consumers for marketing consumer products processed natural rubber is WTP.

Model the plasma selection strategy produces superior alternatives that can represent the core of the assessment of plasma as a corporate partner in maintaining and producing rubber latex.

Alternative-alternative obtained through AHP weighting based on the key factors that make a superior plasma. Alternative with the greatest weight is caring for, harvesting and filtering procedures latex suit with weights 0.420, became the most important in assessing the advantages of a plasma.

Measuring the performance of the company in the fourth model is based on all aspects of the performance metrics obtained through AHP weighting. The final results were obtained by chart performance measurement is the best company supply chain performance. The output of the system shows improvement recommendations on aspects that are less valuable and fairly. Suggestions in this study is the need to further research on the measurement of the performance of the supply chain so that rubber GSCOR approach to performance assessment be thorough and detailed. In addition, performance measurement should be held from the plasma so that the partners who came out to look more real.

(7)

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

MANAJEMEN RANTAI PASOK KARET ALAM DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS

REFERENCE

(STUDI KASUS DI PT. CONDONG GARUT)

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian,

Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Oleh

DANIEL SAPUTRA F34080019

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2012

(8)

JUDUL : SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN MANAJEMEN RANTAI PASOK KARET ALAM DENGAN PENDEKATAN GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE (STUDI KASUS DI PT.

CONDONG GARUT) Nama : Daniel Saputra

NRP : F34080019

Menyetujui,

Pembimbing I, Pembimbing II,

(Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc.) (M. Arif Darmawan, S.TP, M.T.)

NIP: 196109051986091001 NIP: 197510262009121001

Mengetahui : Ketua Departemen,

(Prof. Dr. Ir. Nastiti Siswi Indrasti) NIP 19621009 198903.2.001

Tanggal Lulus :

(9)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi dengan judul adalah Sistem Penunjang Keputusan Manajemen Rantai Pasok Karet Alam Dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference (Studi Kasus Di PT.

Condong Garut) hasil karya saya sendiri dengan arahan dari Dosen Pembimbing Akademik, dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Desember 2012 Yang membuat pernyataan

Daniel Saputra

F34080019

(10)

© Hak cipta milik Daniel Saputra, tahun 2012 Hak cipta dilindungi

Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi,

microfilm, dan sebagainya

(11)

BIODATA PENULIS

Penulis lahir di Bogor pada tanggal 15 Agustus 1990. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Bapak Endang Sapta dan Ibu Anastasia Sri Purwanti. Pendidikan formal yang ditempuh penulis di SD Budi Mulia Bogor pada tahun 1996-2002, SLTP Budi Mulia Bogor 2002- 2005, dan SMA Negeri 2 Bogor pada tahun 2005-2008. Setelah lulus SMA, penulis melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor pada Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) angkatan 45. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam berbagai kegiatan non-akademik ekstrakampus di Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri IPB (HIMALOGIN). Di luar kampus penulis aktif dalam sebuah komunitas SAP di Bogor yang bernama SAP INTERFACE. Penulis sampai saat ini masih aktif di komunitas tersebut dan sering terlibat dalam acara pelatihan-pelatihan pada komunitas tersebut sebagai Asisten Training SAP. Pada Tahun 2011 penulis juga pernah mengikuti kegiatan program praktik lapang di PT.

Indokarlo Perkasa. Penulis menyelesaikan skripsi dengan judul “Sistem Penunjang Keputusan Manajemen Rantai Pasok Karet Alam Dengan Pendekatan Green Suplly Chain Operations Reference (Studi Kasus Di PT. Condong Garut)” untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknologi Pertanian di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc dan M. Arif Darmawan, S.TP, M.T.

(12)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul Sistem Penunjang Keputusan Manajemen Rantai Pasok Dengan Pendekatan Green Supply Chain Operations Reference (Studi Kasus Di PT. Condong Garut). Penelitian pada skripsi ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2012.

Dengan telah selesainya penelitian hingga tersusunnya skripsi ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc. sebagai dosen pembimbing utama.

2. M. Arif Darmawan, S.TP, M.T. atas saran dan bantuan moril yang diberikan selaku dosen pembimbing pendamping.

3. Dr. Ir. Mohamad Yani, M.Eng selaku dosen penguji ujian skripsi yang telah memberikan banyak masukan untuk skripsi ini.

4. PT. Condong Garut dan Balai Riset Perkebunan Nusantara (RPN) yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian dan pengambilan data untuk kepentingan penyusunan skripsi ini.

5. Seluruh kepala bagian, staf dan koordinator lapangan PT. Condong Garut atas pengetahuan, informasi, dan masukan yang diberikan seputar agroindustri karet alam.

6. Ir. Dadang Suparto, MS, Dr. Ir. Uhendi Haris, MSi, dan Bapak Yanto selaku narasumber terkait kegiatan wawancara dalam penelitian ini, yang turut memberikan banyak pengetahuan pada penulis.

Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat dan memberikan kontribusi yang nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang industri karet Indonesia.

Bogor, Desember 2012

Daniel Saputra

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR TABEL... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN... ix

DAFTAR ISTILAH ...x

I. PENDAHULUAN ...1

1.1

LATAR BELAKANG...1

1.2

TUJUAN PENELITIAN ...3

1.3

RUANG LINGKUP ...3

1.4

MANFAAT PENELITIAN ...3

II. TINJAUAN PUSTAKA ...4

2.1 KARET ...4

2.2 BUDIDAYA KARET ALAM...6

2.3 TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI KARET ALAM ...8

2.4 MANAJEMEN RANTAI PASOK...11

2.5 PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK...13

2.6 SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE...14

2.7 GREEN SUPPLY CHAIN OPERATIONS REFERENCE...16

2.8 VALUE STREAM MAPPING ...17

2.9 SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN...19

2.10 ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS...20

2.11 METODE PERBANDINGAN EKSPONENSIAL ...21

2.12 WWW (WORLD WIDE WEB)...22

2.13 PENELITIAN TERDAHULU ...23

III. METODE PENELITIAN...24

3.1 KERANGKA PEMIKIRAN ...24

3.2 PENDEKATAN SISTEM ...26

3.2.1 ANALISIS KEBUTUHAN ...27

3.2.2 FORMULASI PERMASALAHAN ...27

3.2.3 IDENTIFIKASI SISTEM...28

3.3 TATA LAKSANA...29

3.3.1 PENGUMPULAN DATA ...29

3.3.2 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA ...30

3.3.3 PENGEMBANGAN SISTEM...30

(14)

Halaman

IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN ...32

4.1 SEJARAH PERUSAHAAN ...32

4.2 VISI DAN MISI PERUSAHAAN...32

4.3 LOKASI PABRIK ...33

4.4 HAK GUNA USAHA...33

4.5 KOMODITAS PRODUK ...33

4.6 KETENAGAKERJAAN...33

4.7 FASILITAS PERUSAHAAN...34

4.8 MANAJEMEN LINGKUNGAN...35

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ...36

5.1 PEMODELAN SISTEM...36

5.1.1 KONFIGURASI SITEM ...36

5.1.2 DIAGRAM ALIRAN DATA ...40

5.1.3 DIAGRAM HUBUNGAN ENTITAS ...42

5.2 IDENTIFIKASI RANTAI PASOKAN KARET ALAM ...43

5.2.1 ANGGOTA RANTAI PASOK ...44

5.2.2 AKTIVITAS ANGGOTA RANTAI PASOK...45

5.2.3 SISTEM TRANSAKSI ...45

5.2.4 KEMITRAAN DALAM RANTAI PASOK ...46

5.2.5 RESIKO RANTAI PASOK ...47

5.3 GREEN MAP RANTAI PASOK RIBBED SMOKED SHEET ...47

5.3.1 ANALISIS SEVEN GREEN WASTES...47

5.3.2 GREEN STREAM MAP ...50

5.4 IMPLEMENTASI SISTEM PERANGKAT LUNAK ...53

5.4.1 MODEL PEMILIHAN PRODUK PROSPEKTIF...56

5.4.2 MODEL PEMILIHAN KONSUMEN POTENSIAL ...58

5.4.3 MODEL PENENTUAN STRATEGI PEMILIHAN PLASMA UNGGUL ...59

5.4.4 MODEL PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK ...62

5.5 VERIFIKASI DAN VALIDASI MODEL...69

5.5.1 VERIFIKASI...71

5.5.2 VALIDASI ...73

5.6 IMPLIKASI MANAJERIAL...73

VI. KESIMPULAN DAN SARAN...75

6.1 KESIMPULAN...75

6.2 SARAN ...76

DAFTAR PUSTAKA ...77

LAMPIRAN...79

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Kandungan zat-zat dalam lateks segar dan yang dikeringkan ... 5

Tabel 2. Komposisi kayu bakar ... 5

Tabel 3. Perkiraan kebutuhan pupuk PT. Condong Garut tahun 2012 ... 7

Tabel 4. Kebutuhan material penunjang budidaya karet ... 7

Tabel 5. Jarak lokasi afdeling ke pabrik pengolahan... 8

Tabel 6. Atribut performa manajemen rantai pasokan beserta metrik performa ... 16

Tabel 7. Skala perbandingan berpasangan ... 21

Tabel 8. Daftar Gas Rumah Kaca (GRK) dan GWP ... 48

Tabel 9. Hasil analisis seven green wastes pada proses budidaya... 49

Tabel 10. Hasil analisis seven green wastes produksi ribbed smoked sheet... 49

Tabel 11. Skala penilaian pada MPE... 56

Tabel 12. Metrik level 1 dan atribut performa SCOR ... 65

Tabel 13. Metrik level 1 dan atribut performa GSCOR ... 66

Tabel 14. Kisaran nilai yang diberikan sistem pada tabel pengukuran kinerja ... 74

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Diagram alir proses produksi Ribbed Smoked Sheet ... 9

Gambar 2. Diagram alir proses produksi Brown Crepe ... 10

Gambar 3. Brown Crepe yang telah dibentuk dalam bandela ... 11

Gambar 4. Struktur manajemen rantai pasok ... 12

Gambar 5. Struktur model SCOR... 15

Gambar 6. Struktur model GSCOR... 17

Gambar 7. Lambang pada peta value stream ... 18

Gambar 8. Contoh peta value stream current state ... 19

Gambar 9. Contoh peta value stream future state ... 19

Gambar 10. Struktur dasar SPK ... 20

Gambar 11. Diagram alir kerangka berpikir... 25

Gambar 12. Tahapan pendekatan sistem ... 26

Gambar 13. Diagram lingkar sebab akibat ... 28

Gambar 14. Diagram input output... 29

Gambar 15. Konfigurasi SPK rantai pasok karet alam... 36

Gambar 16. Diagram alir deskripsi model produk prospektif ... 38

Gambar 17. Diagram alir deskripsi model pemilihan konsumen potensial ... 38

Gambar 18. Diagram alir deskripsi model strategi pemilihan plasma unggul... 39

Gambar 19. Diagram alir deskripsi model pengukuran kinerja rantai pasok perusahaan... 40

Gambar 20. DFD level 0 ... 41

Gambar 21. DFD level 1 ... 41

Gambar 22. DFD level 2 ... 42

Gambar 23. Diagram ER ... 42

Gambar 24. Pola aliran rantai pasokan karet alam ... 43

Gambar 25. Area perkebunan karet PT. Condong Garut ... 46

Gambar 26. Current-state green stream map rantai pasok ribbed smoked sheet ... 51

Gambar 27.Tampilan halaman beranda pada sistem ... 54

Gambar 28. Tampilan halaman perusahaan pada sistem... 54

Gambar 29. Tampilan menu login untuk menuju halaman pemilihan model pada sistem... 55

Gambar 30. Tampilan menu pemilihan model pada sitem ... 55

Gambar 31. Tampilan halaman model I (before process) ... 56

Gambar 32. Tampilan halaman model I (after process)... 57

Gambar 33. Tampilan halaman model II (before process)... 58

Gambar 34. Tampilan halaman model II (after process) ... 59

Gambar 35. Hierarki model pemilihan plasma unggul... 60

Gambar 36. Tampilan model III pada menu pemilihan model... 60

Gambar 37. Penyusunan hierarki pada Expert Choice ... 61

Gambar 38. Pengisian bobot pada Expert Choice ... 61

Gambar 39. Hasil pembobotan hierarki pada Expert Choice ... 61

Gambar 40. Hierarki model pemilihan plasma unggul dengan bobot di setiap levelnya ... 62

Gambar 41. Bobot akhir hasil analisis dengan pendekatan AHP metrik kinerja rantai pasok ... 67

(17)

Halaman

Gambar 42. Tampilan model IV pada sistem... 68

Gambar 43. Tampilan halaman pengukuran kinerja rantai pasok pada sistem... 69

Gambar 44. Nilai input dan hasil keluaran model pemilihan produk prospektif... 70

Gambar 45. Nilai input dan hasil keluaran model pemilihan konsumen potensial ... 71

Gambar 46. Tampilan I output model pengukuran kinerja perusahaan... 71

Gambar 47. Tampilan II output model pengukuran kinerja perusahaan. ... 72

Gambar 48. Notifikasi yang muncul jika nilai input berada diluar range... 72

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Petunjuk instalasi dan penggunaan paket program Agrogreenrubber

melalui localhost... 80

Lampiran 2. Hasil rekapan kuesioner dengan pakar ... 81

Lampiran 3. Data produksi dan pembelian karet di PT. Condong Garut ... 83

Lampiran 4. Standar mutu lateks pekat ... 84

Lampiran 5. Kuesioner AHP strategi pemilihan plasma unggul ... 85

Lampiran 6. Kuesioner AHP strategi pemilihan atribut penilaian kinerja rantai pasokan karet alam dengan pendekatan GSCOR... 89

(19)

DAFTAR ISTILAH

Afdeling : Area wilayah perkebunan. Sebuah perkebunan biasanya memiliki beberapa afdeling.

Analytical Hierarchy Process (AHP) : Merupakan model pendukung keputusan yang digunakan untuk menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria kompleks menjadi hirarki.

Antikoagulan : Bahan anti pengental yang digunakan untuk mencegah lateks cepat menggumpal.

Biodiversitas : Keanekaragaman hayati yang mencakup semua bentuk kehidupan hewan, tumbuhan, mikroorganisme, ekosistem, dan proses-proses ekologi.

Brown crepe : Merupakan jenis produk karet yang terbuat dari koagulum alam seperti lump mangkok, lump tanah, dan sisa-sisa gumpalan yang di melekat pada dinding bak pengumpul lateks.

Current state map : Peta yang menggambarkan kondisi yang terjadi saat ini.

Dampak lingkungan (Environmental Impact) : Dampak yang ditimbulkan akibat proses kegiatan yang dilakukan. Penilaian dampak lingkungan dilakukan berdasarkan empat jenis sumber limbah, yaitu penggunaan air, emisi yang dihasilkan, limbah padat dan limbah pada lingkungan yang dihasilkan.

Emisi : Zat, energi dan/atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkann ke dalam udara ambien yang mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur pencemar.

Future state map : Peta yang menggambarkan kondisi yang terjadi dimasa mendatang setelah terjadi perbaikan.

Green productivity : Suatu bentuk strategi pendekatan produktivitas dan pencapaian lingkungan secara keseluruhan yang berlandaskan pada pengembangan sosial ekonomi, yang dapat meminimasi kegiatan pemborosan.

Green Supply Chain Management (GSCM) : sebagai fungsi pembelian termasuk pengurangan, daur ulang, penggunaan kembali, dan substitusi bahan baku.

Green Supply Chain Operations Reference (GSCOR) : merupakan modifikasi dari model Supply Chain Operations Reference (SCOR) dan manajemen rantai pasok yang dibangun dengan memasukkan unsur-unsur sistem manajemen lingkungan.

Green value stream map : Peta aliran material yang menggambarkan aliran penggunaan tujuh bahan sumber pembangkit limbah dalam suatu proses kegiatan.

(20)

Kadar Karet Kering (KKK) : Kandungan padatan karet per satuan berat. KKK lateks atau bekuan sangat penting untuk diketahui karena selain dapat digunakan sebagai pedoman penentuan harga juga merupakan standar dalam pemberian bahan kimia untuk pengolahan RSS, TPC dan lateks pekat.

Lateks kebun mutu I biasanya memiliki nilai kadar karet kering 28% dan lateks kebun mutu 2 memiliki kadar karet kering 20%.

Klon tanaman : Jenis-jenis tanaman yang memiliki sifat-sifat menguntungkan.

Lateks : Getah kental, seringkali mirip susu, yang dihasilkan banyak tumbuhan dan membeku ketika terkena udara bebas.

Lumb : Bahan olah karet yang berasal dari gumpalan lateks kebun yang terjadi secara alamiah dalam mangkuk penampung.

Manajemen rantai pasok : merupakan integrasi aktivitas pengadaan bahan dan pelayanaan, pengubahan barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman kepada pelanggan.

Measurement : merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengukur atau memberi angka terhadap sesuatu yang disebut obyek pengukuran.

Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) : salah satu metode pengambilan keputusan yang mengkuantitaskan pendapat seseorang atau lebih dalam skala tertentu.

Pembibitan : Proses kegiatan budidaya karet alam, yang terdiri atas keseluruhan kegiatan, mulai dari proses seleksi biji, pengecambahan, penyemaian, dan okulasi.

Pengukuran kinerja :membandingkan antara hasil yang sebenarnya diperoleh dengan yang direncanakan.

Penyadapan : Kegiatan pokok dari usaha perkebunan karet, yang bertujuan membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir.

Penyemaian : Proses kegiatan yang dilakukan untuk membesarkan bibit karet setelah melalui proses pengecambahan.

Perawatan TBM/TM : Salah satu bagian dari proses kegiatan budidaya karet alam, yang meliputi kegiatan penyulaman, penyiangan, pemupukan, seleksi dan penjarangan.

Proses budidaya karet alam : Proses kegiatan yang meliputi kegiatan pembibitan, perawatan TBM, perawatan TM, pemanenan, penyaringan, dan pengiriman hasil panen (shipping).

Rantai pasok : jaringan perusahaan-perusahaan yang bekerja sama untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir secara bersama-sama.

Ribbed Smoked Sheet (RSS) : Jenis produk karet berupa lembaran sheet yang mendapat proses pengasapan dengan baik.

(21)

Seven green wastes : Tujuh jenis sumber pembangkit limbah, yang terdiri atas pemakaian energi, air, material, sampah, transportasi, emisi, dan biodiversitas.

Shipping : Pengiriman hasil pemanenan lateks, yang dilakukan dengan menggunakan truk pengangkut yang berisi tangki penampungan lateks.

Sistem Penunjang Keputusan : bentuk evolusi dari pengolahan data elektronik (PDE) dan sistem informasi manajemen (SIM) yang berfokus untuk membantu manajemen puncak dan eksekutif mengambil keputusan dan bertumpu pada fleksibilitas, adaptabilitas, dan jawaban yang cepat, yang dapat dikendalikan oleh pengguna.

Standard Indonesian Rubber (SIR) : Standar dasar yang dijadikan acuan pada penentuan jenis produk karet di Indonesia.

Supply Chain Operations Reference (SCOR) : suatu model referensi proses yang dikembangkan oleh Dewan Rantai Pasokan sebagai alat diagnosa Supply Chain Management yang digunakan untuk mengukur performa rantai pasokan perusahaan, meningkatkan kinerjanya, dan mengkomunikasikan pihak-pihak ayng terlibat di dalamnya.

Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) : Lokasi tempat pengumpulan lateks sementara.

Web : jaringan informasi yang menggunakan protocol HTTP (Hyper Text Transfer Protocol) dan FTP (File Transfer Protocol), dimana sumberdaya-sumberdaya yang berguna diidentifikasi oleh pengenal global berupa alamat URL (Uniform Resource Locator).

(22)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karet alam merupakan salah satu komoditas pertanian yang penting untuk Indonesia dan lingkup internasional. Di Indonesia, karet merupakan salah satu hasil pertanian yang banyak menunjang perekonomian negara. Hal ini terbukti dengan besarnya jumlah devisa yang dihasilkan dari perkebunan karet. Banyak penduduk yang hidup dengan mengandalkan komoditas penghasil getah ini.

Karet tak hanya diusahakan oleh perkebunan-perkebunan besar milik negara yang memiliki areal puluhan atau ratusan ribu hektar, tetapi juga diusahakan oleh rakyat dan swasta. Tanaman karet tergolong mudah diusahakan pada kondisi wilayah yang beriklim tropis. Di wilayah negara Indonesia, karet dapat tumbuh baik dan menghasilkan lateks hampir di semua daerah, termasuk daerah yang kurang subur. Hal ini yang menyebabkan banyak rakyat yang berlomba-lomba membuka lahan untuk dijadikan perkebunan karet. Disisi lain, banyak petani karet di Indonesia yang tidak tahu atau kurang mengerti tentang budidaya tanaman karet dengan baik. Perawatan tanaman yang utama seperti pemupukan dan pemberantasan gulma jarang dilakukan. Selain itu, klon-klon baru yang memiliki produktivitas lateks tinggi banyak yang tidak dikenali (Paimin dan Nazaruddin 1998).

Salah satu sentra tanaman karet yang cukup besar di Indonesia berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tanaman karet merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan yang sangat potensial untuk dikembangkan di daerah Garut. Hal ini dikarenakan oleh kondisi alam Kabupaten Garut yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang baik pada daerah tersebut. Kondisi lingkungan sumber daya alam Kabupaten Garut dengan daya dukung agroklimat yang cukup baik, sangat mendukung untuk dilakukan penerapan metode peningkatan produksi produk olahan karet baik dari kualitas maupun kuantitas.

Indonesia merupakan negara kedua terbesar penghasil karet alam dunia (sekitar 28% dari produksi karet dunia ditahun 2010), sedikit di belakang Thailand (sekitar 30%). Dimasa mendatang permintaan produk karet alam dan karet sintetik masih cukup signifikan, karena didorong oleh pertumbuhan industri otomotif yang tentunya memerlukan produk ban yang berbahan baku karet sintetik dan karet alam. Harga karet sintetik yang terbuat dari minyak bumi akan sangat berfluktuasi terhadap perubahan harga minyak dunia. Demikian pula dengan harga karet alam yang akan tergantung pada harga minyak dunia oleh karena karet alam dan karet sintetik adalah barang yang saling melengkapi (complementary goods). Sebagian besar produksi karet di Indonesia dihasilkan oleh pengusaha kecil (sekitar 80% dari total produksi nasional). Perusahaan swasta dan pemerintah masing-masing menghasilkan produksi sekitar 10% dari total produksi nasional. Sebagian besar produsen yang merupakan pengusaha kecil rata-rata memiliki lahan yang tergolong kecil dan masih menggunakan cara berkebun secara tradisional. Hal ini menyebabkan rendahnya produktivitas kebun yang diolah oleh pengusaha kecil dan berdampak pada profitabilitas dari rantai nilai perkebunan secara keseluruhan.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Indonesia (2011), total luas perkebunan karet di Indonesia hingga tahun 2011 mencapai 3,450,144 hektar, yang merupakan luas areal terluas di dunia. Malaysia dan Thailand yang merupakan pesaing utama Indonesia memiliki luas lahan yang jauh di bawah jumlah tersebut. Sayangnya luas areal perkebunan karet yang luas ini tidak diimbangi dengan produktivitas dan pengelolaan yang baik. Produktivitas lahan karet di Indonesia rata-rata rendah dan mutu karet yang dihasilkan juga kurang memuaskan. Salah satu penyebab utama

(23)

permasalahan ini adalah pengelolaan perkebunan karet yang seadanya. Hanya beberapa perkebunan besar milik negara dan beberapa perkebunan swasta yang memiliki tingkat pengelolaan cukup baik (Tim Penulis 2007). Ini memperlihatkan kurang efisiennya pengolahan karet di Indonesia selama ini dimana pengolahan karet tersebut hampir seluruhnya (sekitar 95 %) ditujukan untuk pasar ekspor.

Negara tujuan ekspor karet alam Indonesia dari tahun ke tahun cenderung bertambah luas, dan kini sudah mencapai 166 negara. Dari sebanyak 166 negara tujuan ekspor karet alam Indonesia tersebut terdapat beberapa negara pengimpor terbesar antara lain AS, Jepang, China, Singapura, Korea Selatan, Jerman, Kanada, Belgia dan Perancis.

Indonesia memiliki produktivitas karet yang lebih rendah yaitu sekitar 50% dari produktivitas karet India. Bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia memiliki produktivitas lebih rendah sekitar 30-40% dibandingkan Thailand, Vietnam, atau Malaysia.

Disamping itu, peran pengusaha kecil di negara-negara lain lebih besar daripada Indonesia.

Produktivitas perkebunan karet yang rendah di Indonesia disebabkan oleh kualitas bibit yang rendah, pemanfaatan lahan perkebunan yang tidak optimal, dan pemeliharaan tanaman yang buruk. Jika permasalahan ini dibiarkan semakin lama, dikhawatirkan kualitas dan kuantitas dari produk yang dihasilkan akan terus menurun. Penurunan kualitas dan kuantitas dari produk yang dihasilkan dapat menurunkan keuntungan perusahaan karena jumlah produk yang berkualitas yang akan ditawarkan kepada konsumen pun terbatas. Padahal, produktivitas lateks yang menurun bukan menjadi suatu alasan keterbatasan pemasukan perusahaan, karena perusahaan dapat memaksimalkan proses produksi untuk menghasilkan produk unggulan sehingga dapat ditentukan konsumen yang potensial untuk membeli produk berkualitas dengan kuantitas yang banyak.

Seiring dengan meningkatnya isu akan besarnya dampak lingkungan yang dihasilkan pada proses kegiatan industri, diperlukan suatu bentuk pendekatan yang mengedepankan pentingnya aspek lingkungan dalam pelaksanaan proses kegiatan industri yang dilakukan. Pendekatan yang dilakukan harus turut memperhitungkan hubungan antara kegiatan ekonomi dan aspek dampak lingkungan yang terjadi melalui proses kegiatan eksploitasi, produksi, dan konsumsi berbagai jenis sumber daya alam yang berdampak pada dihasilkannya limbah. Pertumbuhan ekonomi yang berlebihan tidak hanya menghasilkan kelangkaan sumberdaya, tetapi juga menghasilkan polutan yang melebihi batas kapasitas toleransi lingkungan alam, yang turut dapat menurunkan kualitas dari sistem pendukung kehidupan.

Kebijakan ekonomi saat ini yang hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi dan produktivitas tanpa memperhatikan aspek lingkungan. Hal ini telah mengakibatkan kerugian berupa dampak lingkungan yang tidak dapat diubah. Tujuan eksploitasi perusahaan yang mengedepankan keuntungan jangka pendek menjadikan perusahaan melihat aspek perlindungan lingkungan sebagai hambatan dalam kegiatan eksploitasi yang dilakukan perusahaan. Kebutuhan penggunaan sumber daya yang efisien dan kebijakan serta perilaku lingkungan perusahaan yang ramah lingkungan kini telah diakui di seluruh dunia.Menurut Saxena et al. (2003) menyatakan bahwa kinerja suatu perusahaan tidak lagi dapat dievaluasi berdasarkan parameter ekonomi saja, karena saat ini kinerja perusahaan juga harus terintegrasi dengan kinerja lingkungan. Salah satu yang berkaitan dengan aspek lingkungan adalah pembangunan berkelanjutan dimana konsep ini muncul seiring dengan kesadaran manusia terhadap lingkungan. Menurut Setiawan et al. (2011) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan dikembangkan karena kecemasan akan semakin merosotnya kemampuan bumi menyangga kehidupan sehingga daya dukung lingkungan semakin hari semakin berkurang sedangkan pencemaran cenderung meningkat. Oleh karena itu, aspek lingkungan sangat diperlukan dalam industri karet alam. Cemaran yang dihasilkan dari industri karet alam adalah cemaran dari limbah cair, limbah padat, dan limbah udara. Selain kondisi lingkungan, sumber daya alam, dan peran pemerintah

(24)

yang mendukung kelangsungan industri karet alam, manajemen rantai pasokan pun perlu ditingkatkan agar seluruh proses bisnis berjalan dengan baik. Dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas karet alam dibutuhkan strategi dan kinerja yang efektif dari aliran rantai pasokan industri tersebut.

Perlu adanya solusi untuk memecahkan masalah-masalah yang ada dalam agroindustri karet alam. Salah satu solusi yang diharapkan dapat membantu perusahaan untuk menyelesaikan masalah- masalah tersebut yaitu dengan membuat suatu sistem penunjang keputusan yang dapat membantu pengambil keputusan memilih berbagai alternatif keputusan berupa hasil pengolahan informasi- informasi yang diperoleh. Sistem ini dilengkapi dengan model-model pemilihan yang merupakan representasi dari permasalahan yang ada di perusahaan. Pengembangan sistem ini dipadukan dengan manajemen rantai pasok guna memperlancar setiap informasi dan produk, mulai dari suplier sampai dengan konsumen, agar tercipta suatu hubungan teratur dari hulu ke hilir.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merancang dan mengembangkan suatu sistem penunjang keputusan berbasis web yang dapat memberikan keluaran sebagai solusi atas permasalahan-permasalahan yang ada serta sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja rantai pasokan sehingga agroindustri karet alam dapat berkembang lebih baik, sedangkan tujuan antara dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi mekanisme rantai pasok karet alam di PT. Condong Garut dan menganalisis seven green wastes pada rantai pasok Ribbed Smoked Sheet.

2. Mengembangkan model pengambilan keputusan yang diharapkan dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan keuntungan.

3. Memberikan informasi mengenai budidaya dan teknologi pengolahan karet alam, yang dapat diakses dengan mudah oleh para pengguna kapan pun dan dimana pun.

1.3 Ruang Lingkup

Penelitian ini dilakukan di PT. Condong Garut, Garut, Jawa Barat sebagai chain member utama dengan mengkaji manajemen rantai pasokan karet alam mengenai anggota dan aktivitas masing- masing rantai pasok serta green stream map rantai pasok Ribbed Smoked Sheet. Ruang lingkup penelitian ini adalah perancangan dan pengembangan sistem sebagai fasilitas yang diperuntukkan bagi perusahaan dalam mengambil keputusan mengenai aspek-aspek yang menjadi kendala dalam mengembangkan perusahaan, mencakup pemilihan produk psopektif, pemilihan konsumen potensial, strategi pemilihan plasma unggul, dan model pengukuran kinerja perusahaan yang mampu memberikan rekomendasi perbaikan. Rangakaian kegiatan agroindustri karet alam yang dikaji lebih dalam yaitu mulai dari pembibitan biji karet, pemeliharaan dan perawatan tanaman karet, pemanenan lateks, dan produksi karet alam tipe Ribbed Smoked Sheet (RSS) dan Brown Crepe. Sementara SPK berbasis web yang disajikan dapat digunakan pengguna untuk memberikan nilai inputan saja dan tidak dapat menambah, mengurangi, dan mengedit kriteria dan alternatif yang tersedia dalam sistem.

1.4 Manfaat Penelitian

Output yang dihasilkan oleh sistem diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam memberikan solusi bagi permasalahan yang ada di perusahaan dengan disediakannya sistem berbasis web yang menyediakan model-model mengenai produk prospektif, konsumen potensial, strategi pemilihan plasma unggul, dan pengukuran kinerja perusahaan sendiri. Selain itu, rekomendasi yang diberikan juga dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam meningkatkan kinerja perusahaan dengan memperbaiki tahapan proses yang diwakilkan dengan metrik kinerja pada sistem.

(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karet

Karet alam adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi kesusuan (lateks) di getah beberapa jenis tumbuhan, tetapi dapat juga diproduksi secara sintetis. Sumber utama barang dagang dari lateks yang digunakan untuk menciptakan karet berasal dari pohon karet Hevea brasiliensis (Euphorbiaceae). Tanaman karet termasuk ke dalam divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dycotyledone, ordo Euphorbiales, famili Euphorbiaceae dan genus Hevea.

Tanaman tersebut tumbuh baik di daerah yang berada pada iklim tropis dengan rentang astronomis 15°LU- 10°LS, suhu harian 25-30°C, ketinggian 1-600m dpl, curah hujan 2,000-2,500 mm/tahun, intensitas matahari 5-7 jam/hari, dan pH tanah 5-6 (Paimin dan Nazaruddin 1998).

Menurut Heru dan Andoko (2008) menyatakan bahwa karet alam pertama kali ditemukan oleh Columbus pada tahun 1493, ketika melihat seorang anak penduduk asli Pulau Haiti sedang bermain bola hitam yang terbuat dari getah. Setelah itu, pada tahun 1763 Mack dari Perancis menemukan bahwa karet dapat dilarutkan dalam eter dan lemak terpena. Pada tahun 1770, Frestry yang berasal dari Inggris menemukan bahwa karet dapat digunakan sebagai penghapus yang diberi nama rubber (berasal dari “rub”). Selanjutnya pada tahun 1905, karet yang tumbuh di sekitar aliran Amazon tidak dibudidayakan dan dikontrol seperti perkebunan karet saat ini. Akibat pengambilan getah karet yang dibatasi, maka para pedagang menjual dengan harga tinggi. Untuk menyelesaikan masalah itu, produksi karet dialihkan ke perkebunan di Asia Tenggara. Pada abad ke-20, sejak ditemukannya mobil, permintaan akan karet mengalami lonjakan, sehingga karet alam menjadi benda yang langka. Sebagai pengaruh dari langkanya karet alam, maka dibuat karet sintesis.

Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk penanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet pada tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Adapun diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, 7% perkebunan besar Negara, dan 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong yang tidak produktif untuk perkebunan karet (Sumber: ditjenbun.deptan.go.id).

Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Pada beberapa tahun terakhir, ekspor karet Indonesia terus menunjukkan peningkatan, sehingga pendapatan devisa dari komoditi ini menunjukan hasil yang baik. Bahan baku dalam pengolahan karet adalah lateks yang belum mengalami pra koagulasi.

Lateks merupakan cairan yang berbentuk koloid berwarna putih kekuning-kuningan yang dihasilkan oleh pohon karet. Adapun ciri-ciri lateks yang digunakan untuk menghasilkan lembaran slab yang baik, yaitu berbau segar, mempunyai KKK (Kader Karet Kering) yang tinggi yaitu 20%

- 25%, tidak mengandung kotoran yang berasal dari benda lain yang tercampur dalam lateks, misalnya tatal kayu, daun, tanah, dan lain-lain, tidak terdapat bintik-bintik gumpalan karet atau terjadi proses pra koagulasi, serta mempunyai pH antara 6.5 – 7.0.

Pada lateks segar dan lateks yang dikeringkan mengandung zat-zat tertentu. Perbandingan zat-zat tersebut disajikan pada Tabel 1.

(26)

Tabel 1. Kandungan zat-zat dalam lateks segar dan yang dikeringkan No. Jenis Lateks Segar (%) Lateks yang dikeringkan (%)

1. Kandungan Karet 35.62 88.28

2. Resin (Damar) 1.65 4.10

3. Protein 2.03 5.04

4. Abu 0.70 0.84

5. Zat Gula 0.34 0.84

6. Air 59.62 1.0

Sumber : Heru dan Andoko (2008)

Lateks diperoleh dari pohon karet dengan proses penyadapan. Penyadapan adalah usaha untuk mendapatkan lateks sebanyak-banyaknya dengan tidak mengganggu kesehatan tanaman serta tidak merusak bagian-bagian lain dari tanaman kecuali kulit pohon. Penyadapan merupakan mata rantai pertama dalam proses pengolahan karet, sehingga penyadapan harus dilakukan sesuai prosedur. Pada tanaman muda, penyadapan dimulai ketika tanaman mencapai umur 5-6 tahun.

Dalam pelaksanaannya, sebelum dilaksanakan sadapan rutin terlebih dahulu dilakukan bukaan sadapan dengan memperhatikan kriteria matang sadap, tinggi bukaan sadapan dan arah serta sudut lereng irisan sadapan.

Setelah didapat lateks dari proses penyadapan, maka lateks tersebut akan dikirim ke pabrik karet remah. Adapun beberapa bahan tambahan yang digunakan untuk menghasilkan karet remah adalah amoniak (NH3), asam formiat (HCOOH), air, dan kayu bakar. Amoniak dalam bentuk ciclo hexyl amin yang diencerkan menjadi ammonium hidroksida (NH4OH), memiliki sifat anti koagulan dan desinfektan, sehingga senyawa ini digunakan untuk pengawetan lateks. Lalu asam formiat (HCOOH) adalah asam yang berfungsi untuk membuat koagulan lateks. Asam ini tersedia dalam konsentrasi 90% sehingga perlu diencerkan menjadi 2% agar pH yang diharapkan tercapai.

Nilai pH 4.7 adalah titik penggumpal terbaik saat tercapainya titik beku pada lateks. Jumlah asam bisa diperbesar jika lateks telah mengalami penambahan anti koagulan yang bersifat basa, seperti amoniak, soda atau natrium sulfit. Sedangkan air dalam pengolahan memiliki fungsi untuk mengencerkan lateks, mencegah koagulan yang lengket dengan alat, dan membersihkan alat yang digunakan. Tetapi air yang digunakan dalam pengolahan sheet harus bersih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak sadah, pH antara 5.8-8, kadar karbonatnya tidak melebihi 300 mg dan tidak mengandung besi, tembaga dan mangan. Setelah itu, kayu bakar digunakan untuk mengasapi dan membentuk warna coklat (kuning keemasan). Kayu tersebut adalah kayu karet yang dihasilkan dari peremajaan karet yang sudah tidak produktif. Komposisi asap dalam kayu bakar disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi emisi kayu bakar Komponen Kadar (mg/m3asap)

Formaldehyde 30-50

Macam-macam aldehyde 180-230

Keton 190-200

Asam Formiat 115-160

Asam Asetat 600

Tar 1295

Phenol 25-40

Sumber : Heru dan Andoko (2008)

(27)

Sheet adalah salah satu produk karet alam yang telah sejak lama dikenal di pasaran. Pada masa sebelum perang dunia kedua, dalam perdagangan sheet dikenal “Java Standard Sheet”, yaitu berupa lembaran-lembaran sheet yang telah diasap, bersih dan liat, bebas dari jamur, tidak saling melekat, warna jernih, tidak bergelembung udara dan bebas dari akibat pengolahan yang kurang sempurna. Standar tesebut sampai sekarang masih dipertahankan sehingga perdagangan sheet masih mampu bertahan sampai saat ini. Adapun cara pengolahan sheet secara garis besar dimulai dari penerimaan lateks, pengenceran, pembekuan, penggilingan, pengasapan dan pengeringan lalu sortasi dan pengepakan.

Crepe merupakan salah satu produk karet alam konvensional yang cukup prospektif. Crepe berasal dari lateks, lump karet, atau RSS yang berkualitas rendah. Cara pembuatannya mirip dengan RSS, namun yang berbeda adalah menghilangkan warna cokelat tua dari karet kering, sehingga menghasilkan karet yang berwarna putih yang digiling mengunakan mesin pengiling menjadi lembaran tipis crepe.

2.2 Budidaya Karet Alam

Secara umum proses kegiatan budidaya karet alam di PT. Condong Garut dapat digolongkan menjadi enam proses kegiatan, yang terdiri atas kegiatan pembibitan, kegiatan perawatan tanaman belum menghasilkan (TBM), perawatan tanaman menghasilkan (TM), pemanenan, penyaringan, dan pengiriman hasil panen (shipping).

Kegiatan pembibitan mencakup keseluruhan kegiatan mulai dari proses seleksi biji, pengecambahan, penyemaian, dan okulasi. Di PT. Condong Garut kurang lebih terdapat satu juta biji setiap tahunnya yang ditanam dan ditumbuhkan. Proses seleksi biji dilakukan dengan teknik sampling dan juga seleksi secara visual. Proses pengecambahan biji karet dilakukan di lahan bedengan yang memiliki atap naungan untuk menghindari lahan dari terpaan matahari dan guyuran hujan. Proses penyiraman dilakukan teratur dua sampai tiga hari sekali, bergantung pada keadaan cuaca. Biji berkualitas baik akan berkecambah setelah sepuluh hari sejak dilakukan penanaman.

Sedangkan biji yang berkecambah lebih dari sepuluh hari seringkali dibuang, karena diperkirakan dapat terganggu pada masa pertumbuhan tanamannya.

Proses penyemaian dilakukan di lahan dan di dalam polybag. Kegiatan perawatan saat bibit berada pada masa penyemaian meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan, dan pemberantasan hama. Proses okulasi yang dilakukan di PT. Condong Garut umumnya adalah jenis okulasi hijau, dimana batang bawah berusia lima sampai delapan bulan di pembibitan, sedangkan batang atasnya berumur satu sampai tiga bulan setelah pemangkasan.

Untuk proses perawatan TBM pada tanaman karet yang berumur satu sampai lima tahun meliputi kegiatan penyulaman, penyiangan, pemupukan, seleksi dan penjarangan. Kegiatan penyulaman dilakukan untuk mengganti bibit karet yang mati di lahan. Penyiangan memiliki tujuan untuk membebaskan tanaman dari gangguan gulma yang berada di lahan tanam.Pemupukan bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, sedangkan seleksi dilakukan untuk menghentikan penyebaran penyakit pada tanaman bermasalah. Tabel 3 memperlihatkan perkiraan kebutuhan pupuk perkebunan karet PT. Condong Garut. Sedangkan untuk perawat TM pada tanaman karet yang berumur lima sampai tiga puluh tahun tidak terlalu berbeda dengan perwawatan TBM, yaitu terdiri atas kegiatan penyiangan, pemupukan, dan peremajaan.

Peremajaan pada tanaman meghasilkan dilakukan pada tanaman karet tua yang dinilai sudah tidak menguntungkan secara ekonomis karena telah mengalami penurunan produksi lateks. Selain pupuk, pada kegiatan pembibitan dan perawatan tanaman karet juga diperlukan pestisida dan obat

(28)

tanaman untuk menunjang pertumbuhan tanaman karet. Tabel 4 menunjukan sebagian kebutuhan material penunjang proses budidaya tanaman karet.

Tabel 3. Perkiraan kebutuhan pupuk PT. Condong Garut tahun 2012

No. Jenis

Tanaman

Luas Areal (Ha)

Jumlah Pohon

Kebutuhan (Kg)

Urea Sp.36 KCL Pukalet

1 TM 1,758.62 465,224 235,880 116,292 132,909 359,416

2 TBM 759.18 311,796 161,324 152,225 165,735 121,564

3 Opening 173.19 0 0 0 0 0

4 Entres 3.65 8,380 3,603 3,268 3,268 3,352

5 Bibitan 20.17 250,000 0 0 0 0

Total 2,714.81 400,807 271,785 301,912 484,332

Sumber : PT. Condong Garut (2012)

Kegiatan pemanenan di PT. Condong Garut dilakukan setiap hari, dimulai pada saat terang tanah (sekitar pukul lima pagi) hingga pukul delapan pagi. Sedangkan proses pengumpulan lateks dimulai pada pukul sepuluh pagi. Keseluruhan lateks hasil sadap diharapkan sudah terkumpul di tempat pengumpulan hasil (TPH) pada pukul sebelas. Pada proses pemanenan, seorang petani sadap membawa beberapa peralatan untuk proses penyadapannya, seperti pisau sadap, asahan pisau, pisau sadap atas (khusus tanaman sadap atas), golok, dan ember berukuran dua belas liter dan empat puluh liter. Pada proses pengumpulan hasil lateks, biasanya petani sadap menambahkan satu tetes amoniak pada setiap mangkuk sadap, untuk menghindari terjadinya penggumpalan pada lateks yang telah dikumpulkan. Setiap afdeling memiliki jumlah TPH yang berbeda-beda, bergantung pada luas areal perkebunan dan jumlah petani sadap dilokasi afdeling tersebut berada.

Afdeling Bokor memiliki lima buah TPH, Cisonggom empat belas TPH, Cirejeng delapan TPH, Cikadongdong tiga TPH, dan Gunung Kembar memiliki sebelas TPH.

Tabel 4. Kebutuhan material penunjang budidaya karet

Jenis Tanaman Jenis Material Kebutuhan Kebutuhan/Tahun (Kg) (Kg/Ha/Tahun)

Pembibitan

Furadan 12 85.9

Matador 10 71.6

Baypolan 29 207.6

TB 32 229.1

Parafin 10 71.6

Dhithane 267 1,911.7

TBM

TB. 29 3 2,288.5

Amoniak 6 4,577.0

Round Up 6 4,577.0

Belerang 24 18,307.9

TM

TB. 29 3 5,275.9

Amoniak 6 10,551.7

Round Up 4 7,034.5

Belerang 24 42,206.9

Sumber : PT. Condong Garut (2009)

(29)

Proses penyaringan lateks dilakukan ditempat pengumpulan hasil (TPH) lateks, bersamaan dengan proses penuangan lateks dari ember ke dalam bak penampungan. Kegiatan penyaringan ini bertujuan untuk menyaring berbagai bahan pengotor lateks berukuran besar, seperti ranting, dedaunan, ataupun lateks yang telah menggumpal (lumb). Pada setiap waktu penyaringan, biasanya jumlah kotoran yang tersaring mencapai dua sampai tiga kilogram untuk setiap TPH.

Pengiriman hasil panen lateks dilakukan dengan menggunakan truk pengangkut yang berisi tangki penampungan lateks. Setiap truk akan mengangkut hasil lateks dari tempat pengumpulan hasil (TPH) menuju ke pabrik olah karet. PT. Condong Garut memiliki sembilan unit truk yang setiap harinya dioperasikan untuk melakukan pengiriman hasil lateks ini. Jarak tempuh truk dari setiap lokasi afdeling menuju pabrik pengolahan karet disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Jarak lokasi afdeling ke pabrik pengolahan Afdeling Pabrik Tujuan Alat Angkut Jarak

Bokor Cimari Truk 14 km

Cirenjeng Cimari Truk 10 km

Cisonggom Cimari Truk 5 km

Cikadondong Cikadondong Truk 5 km

Gunung Kembar Gunung Kembar Truk 11 km

Sumber : PT. Condong Garut (2012)

2.3 Teknologi Proses Produksi Karet Alam

Produk karet alam terdiri dari berbagai macam jenis. Di PT. Condong Garut sendiri pada kegiatan produksinya menghasilkan dua produk, yakni ribbed smoked sheet dan brown crepe.

Kedua jenis produk karet alam tersebut tergolong kepada karet konvensional.Secara umum proses pengolahan lateks menjadi ribbed smoked sheet dan brown crepe adalah sama. Diagram alir proses pengolahan ribbed smoked sheet di PT. Condong Garut disajikan pada Gambar 1.

Lateks segar yang diperoleh dari kebun setiap harinya dikumpulkan dan diangkut dengan segera menuju pabrik untuk mencegah terjadinya penggumpalan ketika sebelum tiba di pabrik.

Sebelum proses pengangkutan lateks segar menuju pabrik, terlebih dahulu latels segar tersebut ditambahkan amonia yang berfungsi untuk memperlambat proses penggumpalan lateks. Lateks yang sudah menggumpal ketika sebelum mencapai pabrik tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan ribbed smoked sheet,biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan brown crepe. Lateks yang menggumpal tersebut biasa disebut sebagai lump.

Proses menggumpalnya lateks segar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya adalah akibat dari adanya guncangan selama pengangkutan lateks menuju pabrik. Menurut Heru dan Andoko (2008) apabila lateks sering tergoncang akan dapat mengganggu gerakan brown dan sistem koloid lateks, sehingga partikel mungkin akan bertubrukan satu sama lain. Tubrukan- tubrukan tersebut dapat menyebabkan terpecahnya lapisan pelindung dan akan mengakibatkan penggumpalan.

Faktor lain yang menyebabkan terjadinya penggumpalan lateks segar yakni pengaruh pH dan pengaruh jasad renik. Perubahan pH dapat terjadi dengan penambahan asam atu basa dan karena penambahan elektolit. Bila pH diturunkan terlalu rendah dan dengan cepat lateks akan tetap cair (stabil) karena lapisan pelindung seluruhnya bermuatan positif. Hal tersebut terjadi juga saat pH 5.5 karena protein bermuatan negatif. Setelah lateks keluar dari pohon, lateks itu akan segera tercemar oleh jasad renik yang berasal dari udara atau dari peralatan-peralatan yang digunakan.

(30)

Jasad renik tersebut mula-mula akan menyerang karbohidrat terutama gula yang terdapat dalam serum dan menghasilkan asam-asam lemah yang mudah menguap.

Gambar 1. Diagram alir proses produksi ribbed smoked sheet

Pada dasarnya tidak semua lateks segar yang diperoleh dari kebun dapat diproses menjadi ribbed smoked sheet. Beberapa bagian lateks yang menggumpal dan membusa dipisahkan dari lateks segar yang masih baik. Proses pemisahan lateks dilakukan pada stasiun penerimaan bahan baku. Kategori lateks yang tidak dapat diolah menjadi ribbed smoked sheet adalah lateks yang telah menggumpal atau biasa disebut lump mangkok dan lateks yang sudah membusa atau biasa disebut lump busa. Biasanya ± 90% lateks segar yang dapat diproses menjadi ribbed smoked sheet di PT. Condong Garut. Sedangkan yang ±10% tersebut digunakan sebagai bahan baku pembuatan brown crepe.

Produk karet alam selanjutnya yang dihasilkan di PT. Condong Garut adalah brown crepe.

Produk ini dapat juga dikatakan sebagai produk samping dari pembuatan ribbed smoked sheet. Hal ini karena bahan baku yang digunakan adalah sisa-sisa lateks yang menggumpal dari kebun sebelum mencapai pabrik atau biasa disebut lump mangkok dan juga lateks yang membusa akibat dari guncangan saat transportasi dari kebun menuju pabrik atau yang biasa juga disebut sebagai lump busa.Secara umum proses pengolahan brown crepe adalah sama di berbagai pabrik karet.

Adapun diagram alir proses produksi brown crepe disajikan pada Gambar 2.

Lump mangkok, lump busa dan sisa tes kadar karet kering dikumpulkan dalam satu bak yang sebelumnya telah dipenuhi oleh air pencuci. Semua bahan baku pembuatan brown crepe tersebut kemudian dicuci dan menggunakan air bersih yang terdapat di dalam bak pencucian.

Sortasi dilakukan setelah proses pencucian selesai. Lump yang masih terlihat baik dan bersih dipisahkan dari lump yang sudah terlihat hitam dan kotor. Proses pemisahan ini berguna agar pada proses penggilingan bahan yang masih bersifat bagus tidak tercampuri dengan bahan yang kotor

(31)

dan hitam. Hal ini ditujukan untuk menjaga kualitas bahan berupa lump yang masih baik agar menghasilkan kualitas brown crepe yang juga lebih baik.

Gambar 2. Diagram alir proses produksi brown crepe

Terlebih dahulu bahan atau lump yang kualitasnya lebih baik didahulukan dalam proses penggilingan. Hal ini ditujukan agar tetap menjaga kualitas crepe yang dihasikan. Apabila bahan atau lump yang kotor didahulukan, maka sisa-sisa noda yang menempel pada mesin penggiling akan terbawa pada bahan atau lum yang masih baik oleh karena penggilingannya dilakukan setelah lump yang kotor.

Penggilingan pertama pada proses produksi brown crepe dinamakan juga dengan proses pencacahan. Di mana lump dimasukan satu persatu ke dalam mesin giling dan kemudian dicacah di mesin giling sehingga terbentuk lembaran brown crepe yang masih kasar. Pada proses pencacahan ini ditambahkan larutan H2SO45% untuk menghilangkan kotoran-kotoran dan serum yang masih melekat pada lump dan juga untuk mempermudah proses penggilingan. Proses penggilingan pertama ini dilakukan sebanyak 3 – 4 kali ulangan. Setelah itu masuk ke proses penggilingan kedua.

Penggilingan kedua dinamakan dengan proses pembentukan. Sama dengan proses pencacahan, pada proses pembentukan ini juga ditambahkan larutan H2SO4 5% untuk menghilangkan kotoran-kotoran dan serum yang masih melekat pada lump serta juga untuk mempermudah proses penggilingan. Pada proses pembentukan ini crepe mulai dibentuk lembaran- lembaran yang lebih halus. Proses penggilingan kedua ini juga dilakukan sebanyak 3 – 4 kali ulangan. Tahap selanjutnya, masuk ke penggilingan yang terakhir yakni penggilingan yang ketiga.

Penggilingan ketiga dinamakan dengan proses finishing. Pada proses ini crepe digiling sebanyak 2 kali untuk mendapatkan lembaran crepe yang lebih baik dan lebih rata ketebalannya

Gambar

Tabel 1. Kandungan zat-zat dalam lateks segar dan yang dikeringkan No. Jenis Lateks Segar (%) Lateks yang dikeringkan (%)
Tabel 3. Perkiraan kebutuhan pupuk PT. Condong Garut tahun 2012
Gambar 1. Diagram alir proses produksi ribbed smoked sheet
Gambar 2. Diagram alir proses produksi brown crepe
+7

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan yang ada di Pondok Pesantren Darunnajah yaitu santri belum memahami tentang kewirausahaan dan belum memanafaatkan secara maksimal potensi yanga da di

Program talk show “Mata Najwa”, Najwa Shihab selaku pembawa acara dituntut harus mampu memperoleh informasi yang jelas dan akurat dari narasumber yang

Menurut Turner, pendekatan Emerson telah bergerak melampaui teori pertukaran konvensional sebagaimana dirumuskan Homans dan Blau, menuju model pertukaran baru

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa dari hasil uji t (parsial) profitabilitas yang diprosikan dengan Return On Asset (ROA) berpengaruh positif dan signifikan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kandang pada awal penanaman terhadap performa rumput Stenotaphrum secundatum yang ditanam di bawah

Untuk memelihara konsistensi memperhatikan batas-batas secara visual legislatif, Pemerintah, dalam hal ini untuk pemanfaatan setiap zona yang Menteri Kelautan dan

Upaya  memperbaiki  kerangka  normatif  UU  No.  26  Tahun  2000  yang  kurang  lengkap,  berbeda  dan  tidak  memenuhi  standar  hukum  internasional,  menjadi 

Uji MANOVA digunakan untuk menguji apakah terdapat pengaruhmodel pembelajaran guided discovery berbantuan PhET simulations terhadap penguasaan konsep dan kemampuan