• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK KOMODITAS IKAN BANDENG BEKU DENGAN PENDEKATAN SCOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK KOMODITAS IKAN BANDENG BEKU DENGAN PENDEKATAN SCOR"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK KOMODITAS IKAN BANDENG BEKU DENGAN PENDEKATAN SCOR

PERFORMANCE MEASUREMENT OF SUPPLY CHAIN COMMODITIES BANDENG FROZEN USING SCOR APPROACH

A Ginantaka1a

1 Program Studi Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Ilmu Pangan Halal, Universitas Djuanda Bogor

Jl. Tol Ciawi No. 1, Kotak Pos 35 Ciawi, Bogor 16720.

a Korespondensi: Aditia Ginantaka, E-mail: [email protected]

(Diterima: 28-07-2017; Ditelaah: 29-07-2017; Disetujui: 20-10-2017) ABSTRACT

Cheap, quality and fast products are every customer's expectation. A good supply chain mechanism can ensure the smooth flow of agricultural and fishery commodities from farming units to consumer tables. Fishing aquaculture sectors such as milkfish ponds are the contributors of Indonesian fishery exports. Supply chain management system is done in order to satisfy the final consumer, so as to maintain endurance and improve the competitiveness of frozen milkfish products. This study aims to measure the performance of frozen milkfish supply chain through SCOR approach by using performance metrics that have been established in the supply chain council. Besides, this research also aims to perform benchmarking based on company improvement targets. Based on the measurement results, it is known that the performance of supply chain of frozen milkfish products is still 70, 36%, and most of them are still below the benchmark value. Performance improvements are made by defining in detail every process on level 1 to a series of processes at level 3.

Keywords: milkfish, performance, fishery, supply chain. ABSTRAK

Produk murah, berkualitas dan cepat merupakan harapan setiap konsumen. Mekanisme rantai pasok yang baik dapat menjamin kelancaran arus komoditas pertanian dan perikanan sejak dari unit budidaya (farm) hingga meja makan (table) konsumen. Sektor perikanan budidaya tambak seperti tambak ikan bandeng merupakan penyumbang ekspor perikanan indonesia. Pengelolaan sistem rantai pasok dilakukan dalam rangka memuaskan konsumen akhir, sehingga mampu menjaga daya tahan serta meningkatkan daya saing produk ikan bandeng beku. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran kinerja rantai pasok ikan bandeng beku melalui pendekatan SCOR dengan menggunakan metrik kinerja yang telah ditetapkan dalam supply

chain council. Disamping itu penelitian ini juga bertujuan untuk melakukan benchmarking

berdasarkan target perbaikan perusahaan. Berdasarkan hasil pengukuran, diketahui bahwa kinerja rantai pasok produk bandeng beku saat ini masih sebesar 70, 36 %, dan sebagian besar masih berada dibawah nilai benchmark. Perbaikan kinerja dilakukan dengan mendefinisikan secara mendetail setiap proses pada level 1 hingga rangkaian proses pada level 3.

Kata kunci: bandeng, kinerja, perikanan, rantai pasok.

Ginantaka A. 2017. Pengukuran Kinerja Rantai Pasok Komoditas Ikan Bandeng Beku dengan Pendekatan SCOR. Jurnal Pertanian 8(2): 91-97.

(2)

PENDAHULUAN

Kondisi geografis Indonesia dengan luas wilayah yang didominasi oleh lautan memberikan peluang besar bagi pengembangan potensi perikanan. Data FAO tahun 2010 menunjukkan volume produksi perikanan tangkap Indonesia menempati posisi nomor 3 dunia setelah China dan Peru, sedangkan hasil budidaya menempati posisi 4 besar [1]. Produksi ikan nasional terus meningkat hingga tahun 2012 dengan total produksi mencapai 15.548.038 ton dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 12,19 % [2]. Berdasarkan konvensi hukum laut PBB ke tiga, United Nation Convention on the Law of

the Sea 1982 (UNCLOS 1982), total luas

wilayah laut Indonesia mencapai 5,9 juta Km2

sementara luas daratan hanya sekitar 1,9 juta Km2 [1].

Luasnya wilayah perairan Indonesia menunjukan bahwa potensi sumberdaya alam perairan Indonesia begitu melimpah dan dapat menjadi salah satu pendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Perkembangan ekspor produk perikanan indonesai hingga tahun 2012 pun terus mengalami peningkatan. Produk perikanan yang menjadi unggulan ekspor diantaranya udang dan ikan tongkol-tuna dengan volume berturut-turut mencapai 122.900 ton dan 105.800 ton [2]. Peningkatan volume ekspor dalam tiga tahun terakhir menunjukan adanya sinyal positif bagi pengembangan ekspor produk perikanan nasional.

Salah satu sektor perikanan yang berkontribusi dalam perkembangan perikanan adalah sektor perikanan budidaya tambak, misalnya tambak ikan bandeng. Untuk segmentasi pasar menengah keatas ikan bandeng diproduksi dalam bentuk beku dengan pelanggan berupa supermarket atau restoran. Produk murah, berkualitas dan cepat merupakan harapan setiap konsumen. Ditambah lagi dengan adanya perdagangan bebas tingkat ASEAN dalam bentuk asean economic community (AEC) di tahun 2015, menuntut manajemen rantai pasok perikanan terus ditingkatkan.

Pengelolaan sistem rantai pasok dilakukan dalam rangka memuaskan konsumen akhir,

sehingga mampu menjaga daya tahan serta meningkatkan daya saing produk ikan bandeng beku. Untuk mencapai hal tersebut perlu dukungan semua entitas rantai pasok, mulai dari pemasok yang mengolah bahan baku menjadi produk jadi, perusahaan transportasi yang mengirimkan bahan baku dari pemasok ke pabrik, serta jaringan distribusi yang akan menyampaikan produk ke tangan konsumen. Salah satu upaya untuk meningkatkan manajemen rantai pasok adalah dengan mengevaluasi kinerja rantai pasok sehingga dapat diketahui pada tahap mana dalam proses pemenuhan kebutuhan konsumen yang mengalami masalah. Pengukuran kinerja rantai pasok ikan bandeng beku dapat dilakukan melalui pendekatan SCOR dengan menggunakan metrik kinerja yang telah ditetapkan dalam

supply chain council. Dari pengukuran kinerja

rantai pasokan dengan menggunakan SCOR Model, diharapkan perusahaan mampu mengetahui seberapa besar kinerja perusahaan sampai saat ini dibandingkan dengan pesaingnya. Selain itu, perusahaan juga diharapkan mampu mengetahui letak kelemahan dalam bersaing di perindustrian [3].

Tujuan dari paper ini ada dua. Pertama, mengidentiifikasi metrik level 1 yang dapat menjadi alat ukur kinerja rantai pasok ikan bandeng beku. Kedua yaitu, mengukur kinerja dan melakukan benchmarking berdasarkan target perbaikan perusahaan.

MATERI DAN METODE

Materi Rantai Pasok Perikanan

Sistem rantai pasok perikanan meliputi internal perusahaan dengan unit penanganan produk yang merepresentasikan sistem rantai pasok produk, diantaranya meliputi unit budidaya, unit pengolahan, unit cold storage dan unit pengguna akhir (end user) yang berupa restoran dan unit retail. Selain diperoleh dari unit budidaya, bahan baku ikan bandeng pada sektor hulu, juga diperoleh dari

(3)

mitra tani. Ruang lingkup rantai pasok ikan bandeng ditunjukan pada Gambar 1.

Gambar 1 Ruang lingkup sistem rantai pasok ikan Bandeng beku [4]

Proses produksi ikan bandeng beku (Gambar 2) diawali dari proses pemanenan ikan dan berakhir pada saat produk ikan bandeng beku sampai di rumah konsumen. Tahapan proses setelah pemanenan merupakan titik kritis proses keamanan pangan produk ikan bandeng beku. Prosedur spesifik untuk mengetahui ada atau tidaknya bahan kontaminasi mengikuti syarat mutu ikan beku seperti yang tercantum dalam dokumen SNI 01-4110.1-2006.

Harvesting

Consumer

Processing Packaging Cold Storage Distribution

Gambar 2 Proses produksi ikan bandeng beku

SCOR (Supply Chain Operation Reference)

SCOR adalah suatu model referensi proses yang dikembangkan oleh dewan rantai pasokan (supply chain council ) sebagai alat diagnosa manajemen rantai pasok. ruang lingkup SCOR mencakup dari pemasoknya pemasok hingga ke konsumennya konsumen. Pendekatan SCOR menyajikan ukuran kuantitatif sebagai kriteria pengukuran yang disebut dengan metrik. Umumnya perusahaan yang menerapkan pendekatan SCOR menggunakan kartu SCOR yang disertai metrik-metrik penilaiannnya. Metrik SCOR mengukur setiap metrik yang merepresentasikan kinerja internal dan eksternal perusahaan.

Supply chain council telah menetapkan

definisi tertentu yang dapat memudahkan sebuah perusahaan untuk memodelkan dan mendeskripsikan proses rantai pasok yang terjadi. Proses rantai pasokan didefinisikan dalam lima proses yang terintegrasi meliputi perencanaan (plan), pengadaan (source), produksi (make), distribusi (deliver) dan pengembalian (return). Kelima proses tersebut merupakan level 1 dalam model SCOR. Penjabaran setiap proses dapat dikelompokan berdasarkan 3 kategori proses rantai pasok yang terjadi dan merupakan level

2 dari model SCOR. Diantaranya, (1)

stock, (2) order dan (3) make-to-assemble.

Tabel 1 Indikator kinerja rantai pasok Atribut performa Metrik level Reliabilitas Pemenuhan Pesanan

Sempurna

Kinerja pengirman Responsivitas Siklus Pemenuhan

Pesanan

Lead time

pemenuhan pesanan Fleksibilitas Fleksibilitas Rantai

Pasok Adaptabilitas rantai pasokan atas Adaptabilitas rantai pasokan bawah Biaya Rantai pasokan Biaya SCM

Biaya Pokok Produk Manajemen aset

rantai pasokan Siklus Cash-to-Cash Inventory days of supply

Return on working capital

Penjabaran lebih detail dari level 2 merupakan rangkaian urutan proses yang

(4)

terjadi disetiap level 2, seperti penjadwalan pengiriman, penerimaan material dan verifikasi material, yang merupakan level teknis dari proses manajemen rantai pasoknya.

Setiap level menggambarkan proses yang terjadi dalam rangka pelaksanaan manajemen rantai pasok. pengukuran performa dari proses rantai pasok dilakukan dengan menggunakan kriteria-kriteria yang juga telah ditetapkan dalam model SCOR. Kriteria tersebut disebut sebagai atribut performa, yang memiliki satu atau lebih metrik level 1. Metrik level ini yang menjadi indikator pengukuran performa rantai pasok, seperti yang tercantum pad Tabel 1.

Metode

Paper ini menggunakan analisis deskriptif untuk mendeskripsikan permasalahan yang terjadi. Berdasarkan metrik level 1 pada pengukuran kinerja diidentifikasi indikator yang mempengaruhi kinerja rantai pasok ikan bandeng beku. Nilai dari setiap indikator

menggunakan data hipotetikal, dengan

benchmark berdasarkan target perusahaan.

Setiap atribut pada metrik level 1 dihitung bobotnya dengan teknik AHP. Pembobotan ini digunakan untuk mengkonversi nilai keseluruhan atribut dalam bentuk persentase. Proses perbandingan berpasangan dari metode AHP (analytical hierarchy process) dilakukan dengan menggunakan judgement penulis dengan mempertimbangkan literatur yang ada.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Banyaknya metrik dan tingkatan metrik yang digunakan disesuaikan dengan jenis dan banyaknya proses serta tingkatan proses rantai pasokan yang diterapkan oleh perusahaan. Berdasarkan hasil identifikasi metrik level 1 pada rantai pasok produk ikan bandeng beku, diperoleh beberapa atribut performa dan metrik level 1 yang sesuai. Hasil identifikasi metrik level 1 ditunjukan pada Tabel 2.

Tabel 2 Metrik level 1 yang mempengaruhi kinerja rantai pasok ikan bandeng beku Metrik Level 1

Atribut Kinerja

Eksternal (Customer) Internal

Reliabilitas Responsivitas Fleksibilitas Biaya Aset Pemenuhan Pesanan

Sempurna (PP) x

Kinerja pengirman (KP) x Siklus Pemenuhan

Pesanan (SPP) x

Lead time pemenuhan

pesanan (LPP) x

Fleksibilitas Rantai

Pasok (FP) x

Biaya SCM (BSCM) x

Biaya Pokok Produk

(BPP) x

Siklus Cash-to-Cash

(CTC) x

Inventory days of supply

(PH) x

Model proses yang digunakan dalam rantai pasok ikan bandeng beku, juga disesuaikan dengan bisnis proses yang terjadi [6] sehingga

diperoleh atribut model SCOR untuk setiap level adalah sebagai berikut.

(5)

1. Level 1 (Proses Bisnis)

Perencanaan (PLAN), Pengadaan (SOURCE), Budidaya (MAKE), Pengolahan (PROCESS), Pengiriman (DELIVER)

2. Level 2 (Faktor Kinerja) Nilai tambah, Kualitas, Risiko 3. Level 3 (Atribut Kinerja)

Reliability, Responsiveness, Flexibility, Cost, Aset.

Untuk memperoleh bobot dari metrik level 1 pada pengukuran kinerja, maka perlu ditentukan juga bobot untuk setiap level pada atribut model SCOR dengan menggunakan AHP [6]. Analisis AHP untuk model SCOR level 1 menghasilkan bobot yang dinyatakan dalam nilai eigen ditunjukan pada Tabel 3. Kemudian, salah satu contoh matriks perbandingan berpasangan untuk pengukuran bobot metrik level 1 untuk atribut kinerja reliabilitas ditunjukan pada Tabel 4. Hasil pehitungan bobot untuk setiap hierarki ditunjukan pada Gambar 3.

Tabel 3 Hasil pengukuran bobot proses bisnis dengan AHP

Proses Bisnis eigen

Perencanaan 0,4235 CI 0,0773 Pengadaan 0,0733 RI 1,1200 budidaya 0,2291 CR 0,0690

produksi 0,1496

distribusi 0,1245

Keterangan: CI= indeks konsistensi, RI= indeks random, CR= rasio konsistensi.

Gambar 3 Hasil AHP

Tabel 4 Perbandingan berpasangan metrik level 1 untuk atribut kinerja reliabilitas

Reliabilitas M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7 M8 M9 pemenuhan pesanan sempurna M1 1,000 3,000 2,000 0,250 5,000 0,143 9,000 0,333 0,200 kinerja pengiriman M2 0,333 1,000 0,333 4,000 3,000 0,333 0,200 6,000 0,500 siklus pemenuhan pesanan M3 0,500 3,000 1,000 0,250 2,000 0,200 3,000 2,000 5,000 lead time pemenuhan pesanan M4 4,000 0,250 4,000 1,000 0,333 4,000 7,000 0,200 0,333 fleksibilitas rantai pasok M5 0,200 0,333 0,500 3,000 1,000 5,000 0,333 2,000 4,000 biaya SCM M6 7,000 3,000 5,000 0,250 0,200 1,000 0,167 3,000 0,200 Biaya pokok produk M7 0,111 5,000 0,333 0,143 3,000 6,000 1,000 0,333 0,250 sikuls cash to cash M8 3,000 0,167 0,500 5,000 0,500 0,333 3,000 1,000 4,000 inventory days of supply M9 5,000 2,000 0,200 3,000 0,250 5,000 4,000 0,250 1,000 Nilai setiap metrik level diperoleh dari

pengukuran beberapa parameter kuantitatif dari rangkaian proses yang terjadi di

perusahaan. Metode pengukuran ditunjukkan pada Tabel 5.

(6)

Tabel 5 Teknik pengukuran metrik kinerja

Metrik kinerja Cara perhitungan

Pemenuhan pesanan (PP) (0,099)

Permintaan konsumen yang dipenuhi dalam waktu dan jumlah yang sesuai & full/total pesanan (%)

Kinerja Pengiriman (KP)(0,084)

Persentase pengiriman pesanan tepat waktu yang sesuai dengan tanggal pesanan konsumen dan atau tanggal yang diinginkan konsumen (%) Siklus waktu

pemenuhan pesanan (0,155)

Siklus waktu yang diperlukan untuk memenuhi pesanan (source+make+delivery) (hari)

Lead time

pemenuhan pesanan (0,098)

Jumlah hari sejak produk diproduksi/diproses hingga dikirim sampai ke tangan konsumen (hari)

Fleksibilitas Pemenuhan Pesanan (FP) (0,086)

Waktu yang dibutuhkan untuk merespon rantai pasokan apabila ada pesanan yang tak terduga baik peningkatan atau penurunan pesanan (hari)

Biaya SCM

(BSCM) (0,105) Jumlah (perencanaan+pengadaan+pembuatan+pengiriman) dari total biaya (%) biaya pemenuhan pesanan dari Biaya Pokok

Produk (BPP) (0,077)

Biaya yang diperlukan untuk memproduksi produk (%) dari total biaya

Cash-to-cash cycle

time (CTC) (107) Rata- rata persediaan (per hari) + rata- rata konsumen membayar barang yang sudah diterima (hari) - rata-rata perusahaan membayar ke pemasok untuk barang diterima (hari)

Persediaan

harian (0,122) Waktu yang dibutuhkan sampai barang dikirim ke pelanggan Hasil pengukuran kinerja rantai pasok

produk ikan bandeng beku, dengan membandingkan dengan target internal

perusahaan sebagai benchmark seperti yang ditunjukan pada Tabel 6.

Tabel 6 Pengkuran metrik kinerja rantai pasok produk ikan bandeng beku

Metrik Level 1 aktual Nilai Bench-mark Normali-sasi Bobot Nilai Pemenuhan Pesanan Sempurna (%) 63 69 0,913043 0,0999 0,091213

Kinerja pengirman (%) 73 79 0,924051 0,0846 0,078175

Siklus Pemenuhan Pesanan (hari) 3 1 0,333 0,1151 0,038367 Lead time pemenuhan pesanan (hari) 1 1 1 0,0987 0,0987

Fleksibilitas Rantai Pasok (hari) 2 2 1 0,0980 0,098

Biaya SCM (%) 17 14 0,823529 0,1053 0,086718

Biaya Pokok Produk (%) 48 44 0,916667 0,0777 0,071225

Siklus Cash-to-Cash (hari) 15 10 0,666667 0,1072 0,071467 Inventory days of supply (hari) 7 4 0,571429 0,1221 0,069771

Nilai Kinerja (%) 70,36

Keterangan: data yang digunakan merupakan data hipotetik Berdasarkan hasil pengukuran, diketahui

bahwa kinerja rantai pasok produk bandeng beku saat ini masih sebesar 70,36 %, dan

sebagian besar masih berada dibawah nilai benchmark. Oleh karenanya diperlukan perbaikan untuk meningkatkan kinerja rantai

(7)

pasok produk ikan bandeng beku. Perbaikan kinerja dilakukan dengan mendefinisikan secara mendetail setiap proses pada level 1 hingga rangkaian proses pada level 3. Pemetaan setiap level pada rangkaian proses sistem rantai pasok produk ikan bandeng beku ditunjukan pada Gambar 4.

Gambar 4 Desain aliran material pada rangkaian proses di setiap entitas rantai pasok

Keterangan: P=plan, S=source, M=budidaya, P=processing, D=delivery

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh 10 metrik level 1 untuk setiap atribut kinerja pada proses pengukuran kinerja rantai pasok produk ikan bandeng beku. Hasil pengukuran kinerja menunjukan bahwa kinerja rantai pasok saat ini baru

mencapai 70,36 % dari target perusahaan, sehingga perlu dilakukan perbaikan mulai dari perencaan para pemasok, perusahaan dan customer.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kelautan dan Perikanan [KKP]. 2011. Kelautan dan Perikanan dalam Angka 2011. Jakarta (ID): KKP.

Badan Pusat Statistik [BPS]. 2013. Perkembangan beberapa indikator utama sosial-ekonomi Indonesia. Jakarta (ID): BPS.

Saputra ID dan Sarjono H. 2014. Pembuktian Penerapan SCOR model versi 10.0 pada perusahaan distributor (PT Surya Perdana Lestari) dengan perusahaan produksi. Jakarta (ID): Binus University.

Marchante AP, Melcon AA, Trebar M, Filippin P. 2014. Advance traceability system in aquaculture supply chain. Food Engineering. 2014;122:99–109.

Marimin dan Magfiroh N. 2010. Aplikasi teknik pengambilan keputusan dalam manajemen rantai pasok. Bogor (ID): IPB Press.

Setiawan A. 2009. Studi peningkatan kinerja manajemen rantai pasok sayuran dataran tinggi terpilih di Jawa Barat [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Gambar

Gambar 1 Ruang lingkup sistem rantai pasok  ikan Bandeng beku [4]
Tabel 2 Metrik level 1 yang mempengaruhi kinerja rantai pasok ikan bandeng beku  Metrik Level 1
Gambar 3 Hasil AHP
Tabel 5 Teknik pengukuran metrik kinerja
+2

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan kerja praktek dengan judul “Sistem Kendali

Untuk memelihara konsistensi memperhatikan batas-batas secara visual legislatif, Pemerintah, dalam hal ini untuk pemanfaatan setiap zona yang Menteri Kelautan dan

Tujuan penelitian ini untuk menilai pengaruh ekstrak etanol coklat hitam dan olahraga treadmill dalam meningkatkan aktivitas motorik pada mencit Swiss Webster

Hal ini berarti menunjukan bahwa walaupun kelimpahan plankton yang tertinggi bukan pada stasiun II, akan tetapi jumlah genus yang ditemukan paling banyak dan lebih

Changes in carbon stocks in the pools within the project boundary from the most likely land use at the time the project starts. Metode Destruktif (Penebangan

a. bagian atas atau penimbunan di kaki lcreng. b. Pembuatan ~)erm, dilakukan dengan cara memolong bagian puncak lereng menjadi berundak-undak, hal ini bertujuan untuk

Berdasarkan pemahaman dari masalah, maka yang menjadi tujuan pada penelitian ini adalah mencari mahasiswa yang mendapatkan prioritas utama berdasarkan kriteria yang

berperilaku dengan baik kepada lingkungan sosialnya sehingga anak akan diterima oleh lingkungan. Sehingga masing-masing disiplin ilmu memiliki hubungan yang saling