19 Pemecahan masalah yang digunakan :
3.2.3 Identifikasi Sistem
Identifikasi sistem merupakan suatu rantai hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan khusus dari masalah yang harus dipecahkan untuk mencukupi kebutuhan yang dijabarkan dalam bentuk diagram lingkar sebab-akibat dan diagram
input-output. Diagram lingkar sebab-akibat menunjukkan hubungan dua variabel yang masing- masing diukur dalam satu skala sumbu dari satu pasang sumbu. Diagram sebab-akibat tersebut disajikan pada Gambar 7.
Gambar 7. Diagram Lingkar Sebab-Akibat Sistem Penunjang Keputusan Mutu Biodesel Berbasis Web
Diagram Input-output menggambarkan skema identifikasi yang berdasarkan pada masukan dan keluaran dari model yang dikembangkan. Input terdiri dari input lingkungan dan
input yang berasal dari sistem, sedangkan output terdiri dari output yang dikehendaki dengan
output yang tidak dikehendaki, disajikan pada Gambar 8 diagram input-output untuk permasalahan yang dikaji.
Informasi akurat akan dibutuhkan dalam penyusunan sistem ini. Komponen- komponen input sangatlah penting karena akurasi informasi untuk tercapainya output yang dikehendaki harus dioptimalkan.
Karakteristik Bahan Baku Proses Pengolahan Kebutuhan Masyaraka t Mutu Biodiesel Distributo r Biodiesel Harga Biodiesel Industri Kecil Biodiesel
+
+
+
-
+
+
+
+
+
20
Gambar 8. Diagram input-output sistem penunjang keputusan mutu biodiesel berbasis web3.3
TATA LAKSANA
3.3.1
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder yang dapat berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Data primer merupakan data yang didapat dari hasil wawancara langsung dengan orang yang ahli di bidang mutu biodiesel. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, data dari Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC), dan pihak-pihak yang terkait.
Model Penunjang
Keputusan Mutu
Biodiesel Berbasis
Web
Manajemen Pengendalian
Mutu Biodiesel
1. Badan Standarisasi Nasional (BSN) 2. Kondisi Sosial 3. Kebutuhan Bahan BakarInput Lingkungan
1. Penentuan Proses Pengolahan 2. Penentuan Kebutuhan Bahan
Tambahan
3. Kesesuaian mutu Biodiesel yang dihasilkan dengan SNI
4. Saran Terhadap Faktor penyebab biodiesel tidak sesuai spesifikasi
Output Dikehendaki
1. Jenis Bahan Baku yang digunakan
2. Nilai dari Setiap Parameter 3. Perbedaan Prosedur Uji 4. Pemasukan Jumlah Bahan Baku
Input Tak Terkendali
1. Nilai Karakteristik Bahan Baku 2. Nilai Jumlah Bahan Baku untuk Skala
Industri Kecil
3. Nilai setiap Parameter Mutu
Input Terkendali
1. Kegagalan Penentuan Proses 2. Kesalahan Perhitungan Untuk
Bahan Tambahan
3. Kegagalan Penentuan Standar Biodiesel
4. Tidak Sesuainya Informasi yang diberikan
21
3.3.2
Metode Pengumpulan Data
a. Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan bagian dari studi untuk melakukan pengumpulan dan analisa terhadap data sekunder dari pihak-pihak yang terkait seperti staf SBRC, majalah, buku-buku acuan, laporan-laporan hasil penelitian, jurnal, dan literatur lainnya mengenai biodiesel.
b. Observasi Lapang
Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi serta mempelajari proses pengolahan dan cara pengujian biodiesel dari Surfactant and Bioenergy Research Center
(SBRC). c. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan orang yang ahli dibidang biodiesel yaitu
- Dr. Ir. Tatang H. Soerawidjaja (Staf Pengajar Program Studi Teknik Kimia ITB)
- Prof. Dr. Ir. Ani Suryani, DEA (Staf Pengajar Departemen TIN, FATETA- IPB)
- Sri Widarwati, S.TP, M.Si (staf SBRC (Surfactant Bioenergy Research Center))
Wawancara dilakukan dalam penentuan kriteria bahan baku untuk proses pengolahan dan alternatif proses untuk biodiesel yang tidak memenuhi standar.
3.3.3
Metode pengolahan data
Metode pengolahan data dilakukan setelah data terkumpul pada tahap pengumpulan data. Metode pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan metode decision tree dan
rule base.
a. Penentuan Proses Pengolahan
Analisis penentuan proses pengolahan sangat berkaitan erat dengan karakteristik bahan baku. Untuk menentukan proses pengolahan paling tepat maka setiap sifat- sifat bahan baku dibuat kemungkinan-kemungkinan dengan menggunakan
decision tree yaitu dengan mengurutkan karateristik bahan baku dari atribut yang memiliki pengaruh paling besar, setelah mendapatkan hasil dari decision tree
kemudian dibuat rule atau aturan agar dapat diimplementasikan ke dalam sistem. Saran proses yang akan muncul nantinya merupakan hasil dari nilai karakteristik yang dimasukkan oleh pengguna. Untuk decision tree dapat dilihat pada Gambar 9 dan rule untuk model ini secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3. Berikut adalah beberapa contoh rule untuk model penentuan proses pengolahan :
- if (bilangan iod <= 115) and (kadar fosfor <= 10) and (ffa <= 2.5) and (k.a dan sedimen <= 0.05) and (viskositas <= 60) and (densitas <= 0.95) then proses satu tahap.
- if (bilangan iod <= 115) and (kadar fosfor <= 10) and (ffa > 2.5) and (k.a dan sedimen <= 0.05) and (viskositas <= 60) and (densitas <= 0.95) then proses dua tahap.
- if (bilangan iod <= 115) and (kadar fosfor <= 10) and (ffa <= 2.5) and (k.a dan sedimen <= 0.05) and (viskositas > 60) and (densitas <= 0.95) then proses satu tahap.
22
- if (bilangan iod <= 115) and (kadar fosfor > 10) and (ffa <= 2.5) and (k.a dan sedimen <= 0.05) and (viskositas <= 60) and (densitas <= 0.95) thendegumming proses satu tahap.
Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Viskosi tas < 60 Viskosi tas > 60 K.A dan Sedime n < 0.05 FFA <2.5 Kadar Fosfor < 10 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Viskosi tas < 60 Viskosi tas > 60 K.A dan Sedime n > 0.05 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Viskosi tas < 60 Viskosi tas > 60 K.A dan Sedime n < 0.05 FFA >2.5 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Viskosi tas < 60 Viskosi tas > 60 K.A dan Sedime n > 0.05 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Viskosi tas < 60 Viskosi tas > 60 K.A dan Sedime n < 0.05 FFA <2.5 Kadar Fosfor > 10 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Viskosi tas < 60 Viskosi tas > 60 K.A dan Sedime n > 0.05 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Viskosi tas < 60 Viskosi tas > 60 K.A dan Sedime n < 0.05 FFA >2.5 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Densita s < 0.95 Densita s > 0.95 Viskosi tas < 60 Viskosi tas > 60 K.A dan Sedime n > 0.05 Bilang an Iod < 115
Proses Satu Tahap
Proses Satu Tahap
Proses Satu Tahap
Proses Satu Tahap
Proses Satu Tahap Proses Satu Tahap
Proses Satu Tahap
Proses Satu Tahap
Proses Dua Tahap
Proses Dua Tahap
Proses Dua Tahap
Proses Dua Tahap
Proses Dua Tahap
Proses Dua Tahap
Proses Dua Tahap
Proses Dua Tahap
Degumming dengan Proses Satu Tahap
Degumming dengan Proses Satu Tahap
Degumming dengan Proses Satu Tahap
Degumming dengan Proses Satu Tahap
Degumming dengan Proses Satu Tahap
Degumming dengan Proses Satu Tahap
Degumming dengan Proses Satu Tahap
Degumming dengan Proses Satu Tahap
Degumming dengan Proses Dua Tahap
Degumming dengan Proses Dua Tahap
Degumming dengan Proses Dua Tahap
Degumming dengan Proses Dua Tahap
Degumming dengan Proses Dua Tahap
Degumming dengan Proses Dua Tahap
Degumming dengan Proses Dua Tahap
Degumming dengan Proses Dua Tahap
23
b. Perhitungan Bahan TambahanPerhitungan kebutuhan bahan tambahan dalam proses pengolahan biodiesel berkaitan dengan jumlah minyak yang dimiliki oleh user dan jenis proses pengolahan yang terpilih. Untuk mendapatkan nilai yang dibutuhkan digunakan perhitungan aritmatika. Selain perhitungan aritmatika dibutuhkan juga rule dalam menentukannya karena perhitungan untuk setiap proses pengolahan berbeda. Rule
untuk perhitungan bahan tambahan adalah sebagai berikut :
- if (proses satu tahap) then (methanol 10-20 % v/v) and (katalis basa 0.5- 1%b/v).
- if (proses dua tahap) then (alkohol/methanol 225% dari ffa bahan baku) and (katalis asam 5% dari ffa bahan baku).
- if (degumming dengan proses bahan baku) then (asam fosfat 20% sebanyak 0.4% (v/v)) and (penambahan air 3% v/v) and (methanol 10-20 % v/v) and (katalis basa 0.5-1%b/v).
- if (degumming dengan proses dua tahap) then (asam fosfat 20% sebanyak 0.4% (v/v)) and (penambahan air 3% v/v) and (alkohol/methanol 225% dari ffa bahan baku) and (katalis asam 5% dari ffa bahan baku).
c. Penentuan Mutu Produk Biodiesel
Untuk menentukan mutu produk biodiesel apakah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), maka digunakan teknik rule base. Jika tidak sesuai dengan standar maka nilai yang dimasukkan oleh pengguna tersebut akan diberi alternatif
re-process. Rule untuk model ini selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3. berikut adalah contoh rule tersebut :
- if (massa jenis >890) and (massa jenis <= 850) then (tidak sesuai dengan standar)
- if (massa jenis <= 890) and (massa jenis > 850) then (sesuai dengan standar) - if (angka setana <= 51) then (tidak sesuai dengan standar)
- if (angka setana > 51) then (sesuai dengan standar)
- if (kadar ester alkil <= 96.5) then (tidak sesuai dengan standar) - if (kadar ester alkil > 96.5) then (sesuai dengan standar)
d. Analisis Penyebab Ketidaksesuaian Mutu dengan SNI pada Biodiesel
Analisis ini menggunakan rule base yaitu membuat aturan-aturan dari setiap parameter yang ada di dalam SNI kemudian memberikan penyebab terjadinya, alternatif yang dapat dilakukan, dan pengaruhnya terhadap mesin. Rule untuk model ini secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3. Berikut adalah beberapa contoh rule untuk model ini :
- if (massa jenis >890) then (nilai densitas akan mempengaruhi nilai pembakaran (heating value) dan konsumsi bahan bakar) and (masih berbentuk minyak (tidak terkonversi dengan baik dalam biodiesel)) and (dilakukan re-transesterifikasi (re-process) dengan jumlah methanol dan katalis basa setengah dari jumlah awal).
- if (jika viskositas <= 2.3) then (viskositas kinematik berpengaruh terhadap atomisasi bahan bakar, kesempurnaan pembakaran, injeksi bahan bakar, dan umum digunakan sebagai indikator kualitas biodiesel selama penyimpanan.) and (terjadi kontaminasi metanol) and (dilakukan proses recovery methanol).
24
3.3.4
Pengembangan Sistem
Setelah permasalahan dan informasi teridentifikasi dirancang kemudian dilanjutkan dengan tahap persiapan meliputi pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi, dan diskusi serta tahap pengolahan dan analisis data. Sementara, tahap pengembangan dilakukan dengan mengembangkan sistem manajemen basis data dan sistem manajemen basis model yang dihubungkan dengan sistem pengolahan terpusat dan sistem manajemen basis dialog yang mempermudah komunikasi antara pengguna dan komputer.
a. Analisis Sistem
Tahapan analisis sistem, bertujuan untuk menetapkan berbagai dasar sistem dan keperluan serta menjadi landasan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem. Pada tahap analisis sistem juga dilakukan penentuan ruang lingkup yang bertujuan untuk menentukan batasan-batasan, asumsi-asumsi dan ruang lingkup permasalahan yang akan diimplementasikan ke dalam sistem penunjang keputusan.
b. Desain Sistem
Tahap desain sistem bertujuan untuk merancang dan mendesain sistem sesuai dengan hasil analisis sistem. Tahap desain sistem didasarkan atas sistem yang dikaji meliputi tahap perancangan sistem basis model, sistem pengolahan data, sistem basis pengetahuan, sistem pengolah terpusat dan sistem dialognya.
c. Pengembangan dan Implementasi Sistem
Tahap selanjutnya adalah tahap pengembangan implementasi yang meliputi kegiatan tranformasi desain ke dalam sistem dan pembuatan perangkat lunak yang meliputi analisis program, perancangan program dan pengkodean program. Tahap implementasi sistem mencakup kegiatan pembuatan perangkat lunak dan apabila program telah selesai, maka selanjutnya dilakukan proses pelacakan kesalahan (debugging) dan pengujian program. Akhirnya, pada tahap ini akan diperoleh pemodelan Sistem Penunjang Keputusan Mutu Biodiesel Berbasis Web. Pengembangan sistem ini menggunakan XAMPP 2.5 (Apache 2007) dan pengembangan basis datanya menggunakan My SQL (Oracle 2010).
d. Verifikasi dan Validasi
Proses verifikasi dilakukan selama pembuatan dan setelah selesai. Tahapan verifikasi merupakan tahapan yang berfungsi untuk mengetahui apakah program/model yang telah dibuat berhasil menghasilkan output yang diinginkan. Tahapan yang dilakukan adalah pengujian dan pelacakan kesalahan sistem (testing and debuging).Pada tahap ini dilakukan perbandingan hasil perhitungan program dengan aplikasi QBioDSS yang dilakukan dengan perangkat lunak Ms. Excel 2007. Tahap validasi dilakukan dengan tujuan menetukan tingkat keakuratan model yang dibuat dibandingkan dengan dunia nyata. Teknik validasi yang digunakan adalah teknik face validity.
25
VI.
PEMODELAN SISTEM
4.1
KONFIGURASI SISTEM
Sistem Penunjang Keputusan Mutu Biodiesel Berbasis Web dirancang sebagai alat bantu yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan standar mutu biodiesel yang diproduksi oleh industri kecil yang dapat diakses melalui web. Sistem Penunjang Keputusan Mutu Biodiesel ini dirancang menjadi suatu halaman situs yang diberi nama QBioDSS. Sistem Penunjang Keputusan ini terdiri dari empat model, yaitu :
1. Model Penentuan Proses Pengolahan Biodiesel
2. Model Perhitungan Kebutuhan Bahan Tambahan untuk Proses Pengolahan Biodiesel 3. Model Penentuan Mutu Produk Biodiesel
4. Model Analisis Penyebab Ketidaksesuaian Mutu dengan SNI pada Biodiesel
Konfigurasi model QBioDSS terdiri dari Sistem Manajemen Basis Data, Sistem Manajemen Basis Pengetahuan, Sistem Manajemen Basis Model yang dihubungkan dengan Sistem Pengolahan Terpusat. Kemudian dengan adanya Sistem Manajemen Dialog akan memudahkan komunikasi antara pengguna (user) dengan komputer yang bersifat interaktif melalui antar muka pengguna (user interface) yang bersifat user friendly.
Sistem Pengolahan Terpusat merupakan bagian sistem yang bertujuan mengorganisasikan dan mengendalikan seluruh komponen sistem, serta memungkinkan sistem berinteraksi secara dua arah dengan sistem lainnya. Sistem pengolahan terpusat QBioDSS divisualisasikan dalam bentuk menu utama yang terdiri dari Basis Data Statis, Basis Data Dinamis, Basis Pengetahuan dan Basis Model. Sistem Manajemen Dialog merupakan bagian dari sistem yang memungkinkan pengguna dengan mudah berinteraksi dengan sistem. Sistem Manajemen Dialog dalam Sistem Penunjang Keputusan Mutu Biodiesel Berbasis Web menyediakan fasilitas interaktif antara model dengan pengguna dalam proses pengambilan keputusan. Sistem Manajemen Basis Data merupakan bagian yang memberikan fasilitas pengolahan data, yaitu mengendalikan dan memanipulasi data yang tersimpan. Proses tersebut diantaranya input data, ubah data, dan hapus data. Sistem Manajemen Basis Model merupakan bagian yang memberikan fasilitas pengelolaan model untuk perhitungan dalam proses pengambilan keputusan. Sistem Manajemen Basis Pengetahuan merupakan bagian yang memberikan fasilitas pengetahuan baik dari pakar maupun pustaka. Konfigurasi SPK dalam sistem QBioDSS dapat dilihat pada Gambar 10.
Halaman situs ini dirancang dengan menggunakan PHP. Manajemen Basis Data Statis dirancang dengan menggunakan HTML (Hyper Text Markup Language) dan dibuka oleh Mozilla Firefox atau Web Browser lainnya yang diintegrasikan pada program utama. Manajemen Basis Data Dinamis dirancang dengan menggunakan My SQL dan bahasa pemrograman PHP. Sistem Manajemen Dialog Dirancang dengan menggunakan paint dan notepad++.
26
Gambar 10. Konfigurasi Sistem Penunjang Keputusan Mutu Biodiesel4.2
KEBUTUHAN FUNGSIONAL (FUNCTIONAL REQUIREMENTS)
Sistem penunjang keputusan ini memiliki lima aspek dasar informasi yang selanjutnya akan menjadi output yang dihasilkan. Lima aspek penting dalam Sistem Penunjang Keputusan Mutu Biodiesel adalah penentuan proses pengolahan biodiesel, penentuan jumlah kebutuhan bahan tambahan, penentuan kesesuaian standar mutu biodiesel, saran terhadap ketidaksesuaian mutu dengan SNI, dan update (admin).
SISTEM MANAJEMEN DIALOG SISTEM PENGOLAHAN TERPUSAT PENGGUNA FASILITAS PENJELASAN MEKANISME INFERENSI SISTEM MANAJEMEN BASIS PENGETAHUAN (SISTEM AHLI) ANALISA KARAKTERISTIK MUTU BAHAN BAKU
BIODIESEL
ANALISA FAKTOR PENYEBAB TIDAK SESUAI SPESIFIKASI
SISTEM MANAJEMEN BASIS DATA
DATA PROFIL BIODIESEL
DATA PROFIL BAHAN BAKU
DATA PROSES PRODUKSI BIODIESEL DATA MUTU BIODIESEL DAN
MINYAK BAKAR LAIN DATA PERALATAN PRODUKSI
BIODIESEL DATA PROSEDUR ANALISIS
MUTU DATA FAKTOR PENYEBAB TIDAK LOLOS SPESIFIKASI
SISTEM MANAJEMEN BASIS MODEL
SUB MODEL PENENTUAN PROSES PENGOLAHAN BIODIESEL SUB MODEL PERHITUNGAN BAHAN
TAMBAHAN DALAM PROSES PENGOLAHAN SUB MODEL ANALISIS PENYEBAB KETIDAK SESUAIAN MUTU DENGAN
SNI PADA BIODIESEL SUB MODEL PENENTUAN MUTU
27
Penentuan proses pengolahan biodiesel merupakan hasil pohon keputusan berdasarkan data karakteristik bahan baku yang dimiliki. Alternatif proses yang disediakan terdiri dari empat proses yaitu proses satu tahap, proses dua tahap, proses degumming dengan satu tahap, prosesdegumming dengan dua tahap. Penentuan jumlah kebutuhan bahan tambahan merupakan hasil perhitungan kebutuhan bahan tambahan pada proses pengolahan terpilih sesuai dengan jumlah bahan baku yang dimiliki. Penentuan kesesuaian standar merupakan hasil dari nilai-nilai parameter standar mutu biodiesel yang dimasukkan oleh pengguna yang berupa informasi apakah biodiesel yang diolah sesuai dengan SNI atau tidak. Jika tidak sesuai dengan mutu maka akan ada saran terhadap produk biodiesel tersebut untuk di re-process atau diberi tambahan aditif. Update
merupakan suatu fungsi yang hanya bisa diakses oleh admin. Pada fungsi ini, admin mengakses dengan cara memasukkan password yang telah dibuat sebelumnya. Pada fungsi update perubahan pada basis data dapat dilakukan. Pada fungsi ini dapat dilakukan penambahan, delete, dan edit baik pada field basis data maupun pada basis data tersebut.
Dalam pembuatan sistem penunjang keputusan mutu biodiesel, dibutuhkan analisis kebutuhan fungsional yang terdiri atas lima perangkat yaitu hardware, software, brainware, netware, dan organoware. Perangkat yang pertama yaitu hardware, dalam hardware untuk menentukan sistem penunjang keputusan digunakan komputer (dengan jenis apapun selama mendukung pengoperasian software) dengan spesifikasi minimum Pentium III dan RAM 128 MB (untuk user dan admin), Hard Disk 80 GB, printer multifungsi yang dapat digunakan untuk scan, print, dan fotocopy, keyboard dan mouse standar. User memiliki kepentingan untuk mendapatkan
output yang diinginkan dengan memasukkan data yang diminta sistem dan diketahui oleh user. Kebutuhan untuk brainware digunakan user dan admin, masing-masing memiliki keperluan dan fungsi yang berbeda terhadap sistem ini. Pada brainware ini data akan dimasukkan ke dalam program yaitu software PHP yang kemudian akan diolah oleh programmer. Untuk organoware
yang dibutuhkan di dalamnya yaitu pohon keputusan (decision tree). Perangkat selanjutnya yaitu
Netware. Dalam Netware yang dibutuhkan di dalamnya yaitu wireless dan Local Area Network
(LAN)
Perangkat selanjutnya adalah software. Software- software yang digunakan untuk sistem ini terdiri dari freeware dan open source (PHP (XAMPP), notepad ++, web browser seperti Mozilla firefox, internet explorer, dan google chrome). Selain itu, digunakan juga licence software seperti Sybase power designer, Microsoft visio, Windows 7dan Microsoft Office.
Microsoft visio digunakan untuk memasukkan data yang akan digunakan untuk membuat DFD, pohon keputusan, ER-Diagram (CDM) dan PDM. Windows 7 merupakan sistem operasi yang umum digunakan sebagai wadah untuk software yang digunakan. XAMPP merupakan software
yang digunakan untuk membuat program dengan memasukkan input data dalam sistem penunjang mutu biodiesel. Microsoft Office digunakan untuk menyimpan sumber data dan data yang sudah diproses. Analisis kebutuhan fungsional dapat dilihat pada Tabel 4.
Pada Sistem Penunjang Keputusan Mutu Biodiesel digunakan metode decision tree
untuk mengambil keputusan dalam menentukan proses pengolahan paling tepat sesuai dengan karakteristik bahan baku. Sumber informasi didapatkan dari Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC), diskusi dengan ahli, dan studi pustaka. Data yang didapatkan dari SBRC diletakkan pada tabel CRUD dan diletakkan pada bais data yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh sistem penunjang keputusan ini.
28
Tabel 6. Analisis Kebutuhan FungsionalHardware Software Brainware Organoware Netware
komputer (dengan jenis apapun selama mendukung pengoperasian software)
Sybase Manager Spaces
Decision tree Wireless
Minimum 128 MB Windows 7 Entry Data DFD Local Area
Network (LAN) HD 80 GB XAMPP (PHP) Programmer ER-Diagram (CDM) Printer multifungsi untuk
scan, print, dan fotokopi
Microsoft Office
Rule Base Keyboard dan mouse
standar
PDM
4.3
KEBUTUHAN PROSES (PROCESS REQUIREMENT)
Pemodelan QBioDSS dilakukan dengan pendekatan berarah fungsi yang terdiri atas pembuatan diagram aliran data atau data flow diagram (DFD). DFD memperlihatkan hubungan fungsional dari nilai yang dihitung oleh sistem termasuk nilai input, nilai output, serta tempat penyimpanan internal. Diagram aliran data adalah gambaran grafis yang memperlihatkan aliran data dari sumbernya dalam objek kemudian melewati suatu proses yang mentransformasinya ke tujuan lain. Diagram aliran data terdiri atas empat unsur, yaitu proses, aliran data, entitas, dan
data store (Nugroho 2002). Proses adalah sesuatu yang melakukan transformasi terhadap data. Setiap proses harus memiliki sedikitnya satu masukkan (input) dan satu keluaran (output) aliran data. Sebuah aliran data juga digunakan untuk menunjukan pembuatan, pembacaan, penghapusan, serta pemutakhiran data pada sebuah berkas atau basis data (Whitten 2004). Aliran data berguna untuk menghubungkan keluaran dari suatu objek atau proses yang terjadi pada suatu masukkan. Entitas adalah objek aktif yang mengendalikan aliran data dengan memproduksi atau mengkonsumsi data. Data store adalah objek pasif dalam diagram aliran data yang menyimpan data untuk penggunaan lebih lanjut. DFD dapat dibuat dalam program aplikasi (software) salah satunya dengan Microsoft Visio.
Sistem penunjang keputusan ini terdiri atas suatu global dan proses-proses lebih detail yang menyusun proses gobal tersebut. Penggambaran dari proses global sistem akan menghasilkan diagram konteks atau DFD level 0, sedangkan analisa dari proses lebih detail yang menyusun diagram konteks tersebut akan mengahasilkan DFD level 1 dan seterusnya. Diagram alir data level 0 pada sistem ini dibutuhkan 3 input yaitu nilai parameter mutu biodiesel, nilai karakteristik bahan baku, dan jumlah bahan baku. Nilai-nilai yang dimasukkan tersebut akan menghasilkan keluaran jenis proses pengolahan, kebutuhan bahan tambahan dalam proses, penentuan mutu produk biodiesel, dan saran terhadap ketidaksesuaian mutu dengan standar. Pada diagram alir data level 1 menjelaskan proses yang terjadi di dalam sistem dan basis data apa saja yang digunakan. Masukkan data sistem yang berasal dari SBRC dan studi pustaka. Entitas SBRC, diskusi dengan ahli, dan pustaka memberikan masukkan kepada sistem berupa data karakteristik bahan baku, proses pengolahan, analisis mutu, dan nilai kebutuhan bahan tambahan. Untuk DFD level 0 dapat dilihat pada Gambar 11 dan untuk DFD level 1 dapat dilihat pada Gambar 12.
29
User Admin
Data Update
Ubah Password Sistem Penunjang
Keputusan Mutu Biodiesel (QBioDSS) Nilai Karakteristik Bahan Baku
Proses Pengoalahan Sesuai Karakteristik Bahan Baku Nilai Parameter Mutu Biodiesel
Penentuan Mutu produk Biodiesel Jumlah Bahan Baku
Kebutuhan Proses
Saran terhadap Ketidaksesuaian Bahan dan Produk
Gambar 11. Diagram alir data level 0
Pengguna Penentuan Proses Pengolahan Input Nilai Lihat alternatif
db nilai karakteristik bahan baku dan proses pengolahan Ambil data Ubah informasi proses pengolahan Administrator Isi data Ubah informasi Pengguna Perhitungan Bahan Tambahan Input Nilai Hasil operasi aritmatika
db nilai bahan tambahan Operasi aritmatika Ubah informasi bahan tambahan pada proses Isi data Ubah informasi Pengguna Penentuan Mutu Produk Biodiesel Input Nilai
db alternatif proses dan standar mutu minyak bakar
lain Ambil data Ubah informasi Isi data Ubah informasi db SNI biodiesel Isi data Ambil data Ambil data Sesuai standar atau alternatif standar mutu mimyak lain / re-
process Ubah Password db admin Ubah password Isi password