• Tidak ada hasil yang ditemukan

IDENTIFIKASI SUMBER PENDANAAN

Dalam dokumen PERGUB.39.2014.LAMPIRAN (Halaman 145-148)

Pada dasarnya, RAD GRK bukanlah penambahan akivitas baru (supplement) dari program kegiatan

yang telah direncanakan, baik dalam perencanaan regional ataupun sektoral jangka panjang (Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Daerah/RPJPD atau Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi/Kabupaten

atau RKTP/K), jangka menengah (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah/RPJMD atau Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah/Renstra SKPD) ataupun tahunan (Rencana Kerja Pembangunan Daerah/RKPD dan Rencana Kerja/Renja SKPD).

Sesungguhnya RAD GRK hanya mengideniikasi elemen-elemen pening terkait dengan emisi yang harus diperhaikan untuk dikurangi agar dalam jangka panjang tercapai keseimbangan ekonomi, ekologi

dan sosial dalam rangka mempertahankan dan bilamana mungkin perbaikan kualitas hidup (quality of

life) serta daya dukung lingkungan (carrying capacity) yang lebih baik. Arinya idak merubah atau

bahkan harus menambahkan satuan perangkat daerah baru (khususnya bila tupoksi sudah melekat pada SKPD yang ada), melainkan mengembalikan pada substansi pembangunan berkelanjutan (sustainable integrated development) yang sesungguhnya yang harus diemban oleh seluruh sektor terkait langsung maupun idak langsung dengan persoalan emisi, yang selama ini secara salah kaprah justru diabaikan. Maka pemahaman yang benar bukannya menambah beban biaya/anggaran, melainkan hanya menuntut rasionalisasi target pembangunan dan kesediaan untuk memahami bahwa dalam jangka pendek (sementara waktu) sangat dimungkinkan pengurangan pendapatan daerah atau pihak-pihak lain berkepeningan (swasta) dalam rangka meletakkan landasan dan perubahan dalam

mengimplementasikan pembangunan yang lebih baik.

Apa yang dikemukakan di atas pada dasarnya idaklah berbeda, jika beberapa daerah sudah bertekad mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Konservasi (misal Kabupaten Paser di Provinsi Kalimantan Timur), atau Provinsi (beserta Kabupaten/Kota) dan atau masyarakat Kalimantan Timur bertekad

menciptakan Kalim Green, maka keinginan itupun sudah memberi konsekuensi serta implikasi

pendanaan yang sama bilamana memang mengharapkan hal tersebut terealisasi, idak sekedar berheni sebatas retorika atau slogan semata. Bahkan jika memperimbangkan secara posiif, Kalimantan Timur adalah provinsi yang kaya akan sumber daya alam, kemakmuran yang dirasakan atau dicapai selama ini berasal dari pemanfaatan kekayaan tersebut dan ini hanya akan bisa berlanjut jika ada “re-investasi” (pengembalian sebagian keuntungan) ke sumbernya, antara lain dalam bentuk implementasi RAD GRK. Bilamana hal tersebut idak dilakukan, maka sebaliknya kemakmuran dimaksud harus dibayar dengan kerusakan sumber daya alam dan lingkungan sebagaimana yang dirasakan saat ini, hingga

kemungkinan pada taraf yang sulit dikembalikan (irreversible), baik secara cepat maupun lambat di

masa depan.

Namun dikarenakan perumusan RAD GRK menghasilkan datar panjang dari berbagai rencana aksi/

upaya ekstra, yang sebagiannya idak sebagaimana biasa dirumuskan (bussiness as usual/BAU) atau

banyak pihak sebagai beban pembiayaan baru dalam kerangka sistem penganggaran. Oleh karena

itu perlu dilakukan ideniikasi sumber-sumber pendanaan yang memungkinkan guna realisasi dari implementasi RAD GRK Kalim, sebagaimana disajikan berikut:

Tabel 63 Klasiikasi RAD GRK Kalim (2010-2020) dan Hasil Ideniikasi Sumber/Skema Pendanaan yang Memungkinkan Diperoleh bagi Implementasi

No Klasiikasi Rencana Aksi Sumber Pendanaan

yang Diharapkan Keterangan

1. Rencana Aksi yang bisa

diadopsi (utuh atau modiikasi) dalam program

kegiatan di RPJMD/Renstra

SKPD/RKPD/ Renja, di ingkat Provinsi atau Kabupaten, bahkan diangkat ke dalam rencana ingkat Nasional

(a) APBN (Anggaran

Pendapatan dan Belanja

Negara)

Melipui RA yang sesuai dengan STRANAS dan atau berkaitan dengan

program Kementerian/Lembaga Pusat di daerah

(b) APBD (Anggaran

Pendapatan dan Belanja

Daerah) Provinsi

Melipui RA yang sesuai dengan program prioritas dan kewenangan

provinsi

(c) APBD Kabupaten/Kota Melipui RA yang sesuai dengan

prioritas pembangunan dan bisa diadopsi oleh Kabupaten/ Kota 2. Rencana Aksi yang

berhubungan dengan

kewajiban dan/atau

sesuai dengan tanggung

jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) dan/

atau kelola lingkungan

(environmental

management) perusahaan

(a) Anggaran operasional Perusahaan Swasta/BUMN/ BUMD (atau perusahaan daerah/ Perusda)

Jika RA yang dirumuskan merupakan inovasi teknologi atau penyempurnaan

teknik/konsep yang diwajibkan saat ini (b) Anggaran yang menjadi

bagian dari promosi

(pembangunan posiive social image) antara lain

dalam konteks tanggung

jawab sosial perusahaan (CSR) atau sejenisnya

Jika RA dipandang sesuai dan mampu menaikkan citra perusahaan di mata publik atau mampu mengurangi tekanan sosial

3. Rencana Aksi yang memungkinkan dilakukan secara gerakan massal

termasuk melalui parisipasi warga masyarakat, karena mudah, murah dan manfaatnya berkaitan

dengan kehidupan masyarakat sendiri

(a) Dana Swadaya dan/atau parisipasi publik (gotong royong)

Jika RA memang diperimbangkan menjadi bagian dari kepeningan publik

dan memungkinkan dilaksanakan oleh

masyarakat sendiri (a.l. Program OMFIT

= One Man FIve Trees)

(b) Bantuan inansial dari

perorangan yang peduli lingkungan

Jika yang ada pihak/individu yang

merasa RA bermanfaat dan memiliki

dana untuk mendukung program

lingkungan (a.l. Pohon Asuh) 4. Rencana Aksi yang sejalan

dengan kepeningan (interests) dari negara/

lembaga donor internasional

(a) Dana Hibah (Grant) Jika memang RA yang dikembangkan

sesuai dengan misi yang dijalankan oleh

lembaga internasional (atau menjadi ketertarikan negaranya untuk didanai) (misal: GIZ Forclime, TNC, WWF Indonesia, dan sebagainya) (b) Dana Subsitusi Hutang

Negara (misal DNS= Debt for Nature Swap)

Jika Rencana Aksi yang dirumuskan memiliki hubungan/ pengaruh kuat bagi upaya yang lebih besar dan

memungkinkan efek posiif yang lebih

No Klasiikasi Rencana Aksi Sumber Pendanaan yang Diharapkan Keterangan 5. Rencana Aksi yang

dikembangkan menjadi inspirasi beberapa lembaga

(misalnya Organisasi Non Pemerintah) untuk diadopsi

dan dikembangkan menjadi proposal kegiatan lembaga

(a) Dana Hibah (Grant) kom- peiif dari berbagai negara

maju dan/atau lembaga keuangan internasional dan/atau yayasan

Jika RA sesuai dengan isu emisi yang

dihadapi publik, biasanya dana yang

tersedia terbatas

Dari Tabel 63 di atas, secara jelas dapat terlihat bahwa sebenarnya banyak sekali skema/sumber pendanaan yang dapat didayagunakan dalam rangka implementasi RAD GRK Kalim yang bukan bersumber dari anggaran nasional ataupun daerah, terlebih emisi merupakan isu yang sangat erat

hubungannya dengan kehidupan manusia secara global di masa kini dan generasi di masa depan.

Persoalannya adalah siapakah yang seharusnya melakukan upaya untuk mengopimalkan berbagai sumber pendanaan di atas, terlebih untuk berbagai kegiatan yang sulit diintegrasikan dalam

perencanaan regional maupun sektoral.

Meskipun demikian, mengingat bahwa RAD GRK adalah rencana aksi yang disusun dan dimiliki bagi kepeningan Kalimantan Timur, maka skema/lajur pertama dalam Tabel 63 di atas, yaitu pengharmonisasian dalam sistem perencanaan pembangunan nasional (SPPN) dengan sumber pendanaan dari APBN/APBD Provinsi atau Kabupaten/Kota merupakan pilihan yang paling tepat, meskipun disadari ada beberapa hal yang perlu diperimbangkan dengan seksama, yaitu:

(1) Tidak semua rencana aksi yang dirumuskan sesuai atau memungkinkan diharmonisasikan dengan perencanaan berkala yang ada, terlebih untuk Kalimantan Timur telah ada/berjalan yaitu Rencana Jangka Panjang (2005-2025), yang akan diikui oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Tahunan (RKPD);

(2) Secara umum anggaran diajukan seiap tahun, meskipun ada juga yang tahun ganda (muli-years).

Persoalannya bahwa isu lingkungan seperi pengurangan emisi secara umum memerlukan jangka waktu yang panjang dan pendekatan idak hanya isik melainkan non-isik (yang seringkali sulit mencari indikator capaian terukurnya). Sehingga untuk menjamin keberlangsungan rencana aksi tentu membutuhkan perjuangan tersendiri;

(3) Proses penganggaran dalam perencanaan pembangunan merupakan hal yang kompleks dan melibatkan idak hanya eksekuif, tetapi juga legislaif. Diskusi dan perdebatan cukup panjang seringkali lebih didasarkan pada perimbangan efekiitas dan eisiensi pencapaian output daripada proses. Padahal dalam konteks RAD GRK Kalim sebagai skema baru, proses diseminasi dan pemahaman publik atas konsep, pengembangan teknologi MRV dan sebagainya, justru memegang peranan pening serta seringkali sulit dicapai dalam jangka waktu pendek atau

durasi yang terpotong-potong.

Memperimbangkan skema pendanaan dan tantangan yang dihadapi, maka implementasi RAD GRK Kalim akan dilakukan dengan pendekatan ganda, dimana sumber utamanya tetap pada anggaran negara (APBN) dan daerah (APBD Provinsi/Kabupaten/Kota), sementara parisipasi berbagai pihak seperi pihak swasta dan masyarakat tetap mendapatkan ruang yang memadai.

Dalam dokumen PERGUB.39.2014.LAMPIRAN (Halaman 145-148)