2.4 PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA ALAM DALAM MENCAPA
2.4.1. Strategi Pertumbuhan Rendah Karbon
Pada pelaksanaan Rio Summit yang pertama pada tahun 1992, telah disepakai untuk mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan dalam konsep pembangunan berkelanjutan namun demikian, dalam kenyataannya aspek lingkungan idak terlalu mendapat perhaian yang cukup dibanding dengan
aspek ekonomi dan sosial.Paradigma pertumbuhan (growth oriented) tetap menjadi primadona selama
Gambar 13 Skema Interaksi Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan
Gambar 14 Konsep Green Growth
dua dasawarsa terakhir. Seiap negara berusaha menjadikan
pertumbuhan ekonomi sebagai acuan pembangunan.
Human Development Index (HDI) digunakan sebagai
ukuran kemajuan pembangunan di bidang sosial. Tidak demikian halnya dengan indikator aspek
lingkungan seperi indeks kualitas lingkungan
hidup (Environmental Quality Index-EQI)
yang masih merupakan indikator parsial
yang bersifat voluntary bagi seiap negara.
Kebutuhan integrasi aspek pembangunan yang terukur ini yang kemudian mengerucut ke dalam paradigma ekonomi hijau.
Deinisi ekonomi hijau yang dikembangkan
oleh United Naions Enviroment Program
(UNEP) yaitu: “one that results in improved human well-being and social equity, while signiicantly reducing environmental risks and ecological scarciies. It is low carbon, resource eicient, and socially inclusive” (UNEP, 2011).
Deinisi ini menekankan peningnya eisiensi dalam penggunaan sumberdaya alam, pengurangan risiko ekologis, ekonomi yang rendah karbon dan mampu mengurangi kemiskinan.
Sementara itu Delegasi Indonesia pada pertemuan Global Ministerial Forum di Bali mengusulkan pengerian yang relaif sama untuk ekonomi hijau, hanya saja menekankan pada pengurangan kemiskinan dan internalisasi biaya lingkungan. Deinisi ekonomi hijau menurut Indonesia adalah:
“a development paradigm that based on resource eiciency approach with strong emphasizes on
internalizing cost of natural resource depleion on environmental degradaion, eforts on alleviate the poverty, creaing decent jobs, and ensuring sustainable economic growth” (Indonesian
Delegaion/DELRI, UNEP 11th GSS, February, 2010)”
Pengerian lain mengenai Ekonomi Hijau (Green Economy) adalah: suatu konsep kebijakan pertumbuhan
yang mampu mensinergikan pertumbuhan ekonomi dengan keterbatasan sumber daya alam serta upaya perlindungan lingkungan. Green Economy dimaksudkan sebagai pendorong pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan dengan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, eisien dalam penggunaan sumber daya alam yang bersih, meminimalkan polusi dan dampak lingkungan serta
tahan bencana. Selain itu, Green Economy juga menekankan pada kemajuan ekonomi yang ramah
lingkungan dalam rangka mendorong pengurangan emisi dan pembangunan sosial secara inklusif.
Green economy pada dasarnya merupakan penjabaran dari Pasal 28 huruf A UUD 1945 yang menyatakan
bahwa “Seiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”
dan Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 yang menyatakan bahwa : “Perekonomian nasional diselenggarakan
berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, eisien, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”
Dalam penerapan Green Economy terdapat lima dimensi yang harus diperhaikan yaitu :
1. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
2. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan
4. Penurunan emisi gas rumah kaca
5. Mempertahankan ekosistem yang dapat menyediakan jasa lingkungan yang produkif dan
sehat
Dalam jangka pendek penerapan kebijakan ekonomi hijau biasanya akan menimbulkan terjadinya
trade-of antara upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi. Oleh
karena itu, kebijakan pertumbuhan hijau (green growth) perlu dirancang dengan tujuan khusus untuk
memiigasi trade-of dimaksud dengan memaksimalkan sinergi dan manfaat ekonomi jangka pendek
seperi penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan serta peningkatan eisiensi.
Sesuai dengan Perda Kalimantan Timur No. 15 tahun 2008 saat ini Kalimantan Timur akan memasuki tahapan keiga dari RPJMD yang meniik beratkan pada perubahan struktur secara sosial terlebih lagi struktur ekonomi, sehingga pembangunan akan lebih diarahkan pada melepaskan ketergantungan
ekonomi pada sumber daya alam tak terbarukan serta bagaimana meningkatkan daya saing dan nilai tambah dengan didasarkan pada struktur ekonomi yang sehat.
Penjelasan dan fakta pada bab sebelumnya memperlihatkan kepada kita perlunya upaya tranformasi
ekonomi dari berbasis unrenewable resources ke renewable resources, dari eksporir bahan mentah
menjadi eksporir bahan jadi/olahan yang berdaya saing, memiliki nilai tambah dan mampu
memberikan muliplier efects yang lebih signiikan bagi kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan.
Keunggulan komparaif yang dimiliki Kalim harus dapat dimanfaatkan secara opimal untuk kesejahteraan rakyat sekaligus sebagai modal dasar untuk mendorong tumbuhnya ‘lokomoif baru’
sebagai tulang punggung perekonomian yang berkelanjutan. Hal ini memerlukan upaya yang cerdas dalam melakukan pengelolaan Sumber Daya Alam yang dimiliki Provinsi Kalimantan Timur.
Transformasi ekonomi berbasis unrenewable resources ke renewable resources hanya dapat diwujudkan
bila ada keseimbangan antara pilar ekonomi, lingkungan dan sosial dalam perencanaan pembangunan
dan ekonomi yang membentuk ekonomi hijau. Diharapkan perubahan dari ekonomi saat ini menuju
ekonomi hijau atau ekonomi yang rendah karbon akan mewujudkan kondisi masyarakat yang lebih baik, berkeadilan sosial serta mengurangi resiko lingkungan dan kerusakan ekologi.
Model pembangunan ekonomi hijau diharapkan menjadi jawaban atas adanya saling ketergantungan antara ekonomi dan ekosistem serta dampak negaif akibat akiitas ekonomi termasuk perubahan iklim. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Pemerintah Kalimantan Timur menyadari bahwa model
pembangunan ekonomi hijau akan ideal dilaksanakan di Kalimantan Timur.
Bagi Provinsi yang sedang mengembangkan perekonomian seperi Kalim, sudah barang tentu idak akan memilih opsi menurunkan emisi jika hal itu akan menahan pertumbuhan ekonomi, dan oleh karena itu strategi yang dipilih adalah pembangunan ekonomi dan miigasi emisi gas rumah kaca dapat
di kuatkan secara bersama-sama.
Strategi tersebut pada dasarnya adalah menyatukan pertumbuhan ekonomi dengan miigasi perubahan iklim, yang bertumpu pada :
1. Menurunkan jejak karbon dari sektor-sektor ekonomi terkait : Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, Batubara, Minyak dan Gas
2. Beralih kepada kegiatan-kegiatan ekonomi bernilai tambah lebih inggi tapi menghasilkan
emisi lebih rendah.
3. Membangun ekonomi dan infrastruktur yang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim Dalam kerangka merumuskan Program Pembangunan pada Visi Kalim Maju 2030 selain diperlukan penetapan target-target dalam indikator makro pembangunan (Ekonomi, Sosial dan Kesejahteraan Masyarakat) juga diperlukan Indikator Lingkungan Hidup. Intensitas Emisi menjadi salah satu
alternaif indikator makro yang akan menggambarkan ingkat eisensi dalam pemanfaatan SDA dalam pelaksanaan pembangunan. Hal ini juga sejalan dengan proses penerapan Green ekonomi
atau pembangunan yang rendah karbon. Pada akhirnya penetapan indikator ini akan mempengaruhi
pilihan kebijakan dan program pembangunan dalam visi Kalim Maju 2030.
Untuk mengintegrasikan konsep Green Economy ke dalam sistem perencanaan pembangunan daerah,
mulai RPJMD ke III (2014-2018) dan dalam penyusunan Visi Kalim Maju 2030 akan dimasukkan indikator makro lingkungan yaitu Indikator Intensitas Emisi (indikator yang menunjukan rasio pertumbuhan emisi terhadap pertumbuhan PDRB) sejajar dengan pertumbuhan ekonomi, inlasi dan pengangguran. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat mendorong pola pembangunan yang eisien dalam pemanfaatan sumber daya alam untuk mendorong pola pembangunan yang rendah karbon.
Bagian 3
PEMBAGIAN URUSAN
DAN RUANG LINGKUP
3.1 PEMBAGIAN URUSAN
A
gar dapat melaksanakan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Provinsi Kalimantan Timur (RAD GRK Kalim) idaklah hanya perlu memahami dan menjabarkan kebijakan Nasional penurunan emisi (RAN GRK). Hal yang idak kalah peningnya adalah mengembangkan/merancang kelembagaan beserta segala kewenangannya, melipui tugas pokok dan fungsi yang diemban pada seiap jenjang administrasi pemerintahan, dari ingkat Nasional (Pemerintah Pusat) hingga ke ingkat Sub Nasional (Provinsi dan Kabupaten/Kota) agar bisa berjalan dengan baik,tanpa bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Oleh karenanya ideniikasi mengenai kebijakan pengurangan emisi dan tentunya posisinya terhadap perencanaan pembangunan serta tugas/tanggung jawab insitusi terkait menjadi sangat pening untuk
dilakukan analisis dan dikemukakan dalam dokumen ini.