• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALIRAN KEPERCAYAAN TRADISIONAL KARO

3.4. Identitas Hindu Pemena di Tengah Masyarakat

Setiap agama di Indonesia memiliki simbol masing-masing seperti menggunakan kerudung ataupun peci. Tetapi untuk agama Hindu Pemena sendiri juga memiliki simbol yang menunjukkan identitasnya sebagai penganut Hindu.

Biasanya penganut Hindu memakai gelang tridatu yang terbuat dari benang berwarna merah, putih dan hitam yang dipilin dijadikan satu. Gelang tersebut manifestasi dari Ida sang Hyang Widhi dan biasanya diberikan oleh Pura atau Cilinggam sebagai anugerah.

35 Bhagawadgita merupakan kitab yang menceritakan tentang tokoh-tokoh ajaran Hindu

51 Foto 3.3

Gelang Tridatu atau Benang Telu Rupa di Tangan Kak Vina

Sumber: Arvina Dewi Br Surbakti (2019)

Gelang tridatu memiliki simbol dari ketiga Dewa Brahma,Wisnu dan Siwa. Warna merah melambangkan Dewa Brahma, sedangkan hitam itu Wisnu dan putih adalah Siwa. Orang Karo memiliki sebutan sendiri untuk gelang ini ialah benang telu rupa yang memiliki arti tiga warna biasanya fungsinya menjadi tangkal36 untuk bayi yang baru lahir dijadikan gelang atau diikatkan tali telu rupa dipinggang bayi agar dijauhkan dari roh-roh jahat. Benang telu rupa mewakili keyakinan orang Karo yang menyimbolkan Dibata Datas, Tengah dan Teruh jika dalam bahasa sansekerta Bhur Bwah Swah menjelaskan alam memiliki 3 (tiga) tingkatan dunia atas, tengah dan bawah. Jadi setiap warna memiliki makna dan filosofi tersendiri, karena mereka percaya bahwa warna memiliki karakter masing-masing. Sedangkan gelang warna merah saja melambangkan Dewa Ganesa.

36 Tangkal dalam bahasa Karo yang berarti jimat

52 Diantara gelang yang lain, gelang Bang Juna lebih spesial dari yang lain karena bahan gelangnya memang masih menggunakan benang telu rupa, tetapi gelang tersebut ditambahkan akar beringin yang tumbuh di tepi sungai Mencirim yang berdekatan dengan Cilinggam dan dipilin dengan benang telu rupa.

Foto 3.4

Gelang telu rupa yang dipilin dengan akar beringin

Sumber: Arjuna Surbakti (2019)

Gelang tersebut bukan dibuat oleh Pendeta pada umumnya tetapi Nini bang Juna yang membuatkan langsung dengan menggunakan Bang Ari sebagai medianya. Nini beringin mendatangi Bang Juna lewat mimpi sehingga dibuatlah gelang tersebut sebagai penanda bahwa Nini beringin mempercayai Bang Juna menjadi penjaga pohon tersebut dan menjadi jalan untuk memohon ke Nini-nya seperti meminta membuat obat dan meminta pasu-pasu.

Setiap memasangkan gelang selalu ada matra dan ritualnya karena apapun yang berhubungan kepada keTuhanan memiliki mantra dan sarana-sarana. Pada kepercayaan Hindu Bali, benang boleh dikenakan pada waktu bayi berumur tiga

53 bulan karena kulitnya sudah bersih. Bisa juga dikenakan untuk melindungi pada saat sakit yang disebabkan oleh roh-roh jahat. Benang tidak boleh dijadikan gelang karena sifatnya yang sakral jadi tidak boleh sembarangan. Jika gelang rusak bisa digantikan dengan yang baru, tetapi harus melewati proses ritual juga.

Biasanya ritual untuk memantrai benang dilakukan pada saat sembahyang, memohon dahulu kepada siapa yang dimohonkan lalu diserahkan benangnya lalu benang tersebut dapat dikenakan sebagai gelang atau kalung.

Menjadi penganut minoritas tidaklah selalu mudah, ada beberapa penganutnya menyembunyikan identitasnya sebagai pemeluk Hindu Pemena seperti yang dialami oleh Kak Vina dahulu pada saat sekolah sampai memasuki perguruan tinggi, ia tidak ingin jika orang lain bertanya agama yang dianutnya.

Bahkan sampai suatu ketika hari pertama memasuki OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) pada saat kegiataan keagamaan ia menyembunyikan identitasnya sebagai Hindu karena merasa hal tersebut lebih aman, seperti yang diungkapkan Kak Vina:

“Bahkan sampai pernah ospek yang baru masuk kampus, itu ada kegiatan keagamaannya, yang Kristen ikut kakak ini, yang Islam ikut kakak ini, di bilang seperti itu, tidak ada yang mengatakan Hindu Buddha dan kakak tidak mau bilang kakak Hindu, dan kakak juga tidak mau bertanya, langsung saja kakak mengikuti mahasiswa Kristen, jadi merasa tidak enak juga, seperti merasa membohongin orang dan membohongi diri sendiri jadinya, tapi demi keamananku, kakak ngerasa kakak itu lebih aman daripada mengutarakan diri ku sebagai Hindu”. (wawancara 10 Oktober 2019)

Hal yang membuat Kak Vina enggan menunjukkan identitasnya karena ia takut perspektif orang lain kepadanya negatif, sehingga ia takut nantinya jadi dikucilkan bahkan ditanya mengenai ajaran Hindu, karena pada saat itu masih sedikit pengetahuannya tentang keagamaan. Pada saat SMA (Sekolah Menengah

54 Atas) Kak Vina bersekolah di Methodist, sekolah terkhusus untuk beragama Kristen. Kak Vina memakai kalung aksara Om pada saat itu sempat gurunya bertanya soal tersebut:

”Itu apa, jadi kakak dikira Kristen juga. Ini aksara Hindu, oh kamu Hindu. Waktu kelas tiga itu kakak digitukan, oh kamu Hindu, oh itu Om, jadi kalo Tuhan kalian gitu kalo nulis Tuhan ya”. (wawancara 10 Oktober 2019)

Banyak orang yang belum mengerti mengenai agama Hindu karena jumlah penganut yang terbilang sedikit seperti yang dialami Ardian Mareta Surbakti (19) yang biasa dipanggil Dian pada saat masih berada di bangku SMA, Ia bersekolah di salah satu sekolah negeri pada saat jam pelajaran agama ia harus keluar kelas karena hanya Dian yang memeluk agama Hindu di kelasnya seperti yang diungkapkan Dian:

”Ya karena tidak ada guru agama Hindu, aku belajar sama guru agama Hindu yang di Medan. Jadi kalau pelajaran agama aku keluar kelas kak, entah kemana-mana, ke kantinlah. Begitu saja setiap jam agama”. (wawancara 17 Oktober 2019)

Hanya Dian yang beragama Hindu, sehingga sekolahnya tidak menyediakan guru agama Hindu, sehingga ia harus keluar kelas ketika pelajaran agama. Terkait nilai raport ia tidak ujian dan hanya meminta kepada guru agama Hindu dari sekolah lain yang memiliki guru agama Hindu yang bernama Pak Jumadi. Sekolah memberikan izin kepada Pak Jumadi untuk memberikan nilai, sehingga guru agama Hindu tersebut menyurati nilai kepada wali kelas Dian.

Tetapi pada saat USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) barulah ia diberikan soal ujian pelajaran Hindu dari sekolah, jadi karena adanya nilai secara nasional akhirnya ia harus belajar agama Hindu di sekolah pada saat hendak USBN. Kak Vina sewaktu SMP harus belajar pelajaran agama Kristen karena pada saat itu

55 guru agama Hindu di SMP-nya tidak disediakan. Pada saat kuliah pun Kak Vina hanya sendiri yang menganut agama Hindu sehingga ia merekomendasikan kepada kepala Prodi-nya untuk Bli Komang menjadi dosen agama Hindu inilah yang membuat Kak Vina sering bertemu dengan Bli Komang yang sekarang menjadi suaminya, ia semakin mengerti agama Hindu dan Bli Komang sangat diterima oleh teman-temannya seperti yang dikatakan Kak Vina:

”Makin sering bertemu sama Bli Komang, makin tau tentang agama Hindu, makin terbuka pikiran kakak, dan kakak lihat Bli Komang agama Hindu, terus malah orang-orang menganggap Bli Komang itu istimewa. Loh Hindu ya, jadi diajakin ke rumah makan vegetarian, terus diajakin ikutan teman-teman yoganya, murid-murid yoganya yang notabene murid dia itu Islam terus Kristen”. (wawancara 10 Oktober 2019)

Setelah Kak Vina menunjukkan identitasnya kepada orang lain, banyak yang ingin mengetahui ajaran Hindu, sehingga ia dapat mengambil kesimpulan bahwa jika orang mengetahui ia beragama Hindu, orang lain merasa Hindu memiliki toleransi beragama. Berbicara mengenai toleransi dalam beragama, Pak Terang menjadi wakil sekretaris dalam Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Langkat untuk periode 2018 s/d 2023.

Acara pelantikan tersebut dihadiri oleh Bapak Ngogesa Sitepu pada saat itu menjabat sebagai Bupati Langkat. Hal ini menjelaskan bahwa identitas Hindu Pemena telah diakui ditengah masyarakat meskipun beberapa orang masih merasa asing dengan ajaran agama Hindu yang diasimilasikan dengan Pemena, karena kebanyakan orang mengkategorikan hanya orang India saja yang menjadi penganut Hindu.

56 Foto 3.5

Pak Terang berfoto bersama Mantan Bupati Langkat

Sumber: Terang Ate Surbakti (2018)

Bang Juna hanya mengaku ia hanya sebagai penganut Hindu karena beberapa orang tidak mengerti dengan aliran kepercayaan tradisional Karo yaitu Pemena:

”Mereka lebih bertanya, bagaimana tentang Hindu Pemena. Kenapa bisa suku Karo jadi Pemena, mereka tahunya Hindu, bukan Pemena.

Teman-teman abang dulu itu tidak paham yang namanya itu Pemena.

Jadi abang itu memberi tahu, abang itu Hindu”. (wawncara 10 Oktober 2019)

Biasanya orang yang hidup di kota ataupun sudah dari kecil tidak pernah lagi menjalankan tradisi Karo dan sudah dari generasi kakek neneknya memeluk agama Kristen atau Islam, tidak akan mengetahui adanya aliran kepercayaan Pemena. Kebanyakan mereka hanya mengatakan ajaran tersebut ialah ajaran Perbegu yang dianggap negatif oleh orang lain, sehingga ajaran Pemena ditinggalkan oleh penganutnya.

57 3.5. Pandangan Masyarakat Terhadap Penganut Pemena.

Komunitas Pemena masih memiliki hubungan kekerabatan dengan masyarakat setempat, karena Pak Terang Ate sudah sejak dari kecil tinggal di Desa Namorube Julu. Tidak ada yang tidak mengenali Pak terang, terkhusus dusun serba jadi II yang menjadi letak Cilinggam Arih Ersada dan rumah Pak Terang juga. Komunitas Pemena dapat hidup berdampingan dengan masyarakat setempat, bahkan dahulu ketika mengadakan acara Ngerjakan Nini yang diadakan setiap tahun. Masyarakat turut membantu terlaksananya acara dengan meminjamkan barang-barang seperti tikar. Hal ini seperti yang dikatakan oleh istri kepala dusun Serba Jadi II bernama Katri Keliat (40) yang notabene masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Pak Terang. Ia mengaku bahwa beliau adalah anak beru keluarga Pak Terang, jadi ketika Pak Terang mengadakan acara pernikahan Kak Vina dengan Bli Komang. Beliau datang untuk menghadirinya, padahal Bik Katri beragama Islam.

Penganut Hindu Pemena di Desa Namorube Julu, mendapatkan haknya untuk mendirikan Cilinggam di Desa ini. Meskipun beberapa tidak percaya dengan kepercayaan yang dianut oleh Pak Terang, tidak membuat penduduk Desa tidak memberikan izin untuk beribadah di Serba Jadi karena mereka memaklumi keyakinan orang lain seperti yang diungkapkan Kepala dusun Serba Jadi II (45):

“Kalau kurasa tidak, yang dikatakan ibadah jika tidak mengganggu masyarakat tidak masalah, orang kampung ini juga yang mengelolah Pura itu marga Surbakti” (wawancara 2 Agustus 2019)

Tidak ada masalah dengan adanya Cilinggam, karena hal ini merupakan hak setiap orang untuk beribadah. Tetapi ada beberapa orang yang merasa terganggu dengan adanya diadakan persembahyangan karena disebabkan dupa

58 yang dipasang, seperti nenek-nenek yang tinggal di dekat Cilinggam mengeluh sesak dan pening ketika mencium dupa yang dibakar dan ada juga yang mengeluh karena suara genta yang dibunyikan pada malam hari, itu membuat warga takut karena merasa hal tersebut berkaitan dengan mistik. Karena persembahyangan dilakukan hanya 2 (dua) kali dalam sebulan, penduduk sekitar masih merasa wajar-wajar saja.

Tidak semua masyarakat seperti masyarakat Namorube Julu bisa memaklumi dan dapat menerima penganut Hindu Pemena, seperti yang dialami Bang Rudolfo Damanik (29 tahun) yang biasa dipanggil Bang Ucok karena Bang Ucok bersuku Batak. Beliau ditentang oleh keluarga karena menganut agama Hindu, Bang Ucok sudah mengenal Hindu di tanah Jawa tepatnya di Yogyakarta.

Lalu beliau berkenalan dengan temannya yang berasal dari Bali di bangku perkuliahan, teman kuliahnya lah yang mengenalkan Hindu kepadanya. Setelah Bang Ucok merasa yakin dengan agama Hindu, akhirnya ia melakukan proses sudi wadani37 di Bali pada saat Hari Raya Galungan38 di tahun 2014. Setelah ia lulus kuliah lalu pulang ke Medan, ia pun mulai mencari-cari tempat sembahyang (Pura) di Medan. Ia mulai beribadah di Pura Raksa Buana yang di Polonia, sehingga dapat bertemu dengan umat Hindu Bali yang berdomisili di Medan dan berjumpa dengan Komang Agus Aryawan 1 tahun pertama ikut sembahyang hindu bali di tahun 2015. Lalu tahun berikutnya yaitu 2016 Bang Komang, mengajak Bang Ucok untuk ke kampung Serba Jadi mencoba sembahyang dengan aliran kepercayaan tradisional Karo. Saat itulah Bang Ucok mengetahui bahwa ada aliran kepercayan tradisional karo yang berafiliasi dengan Hindu di Sumatera

37 Sudi Wadani merupakan ritual upacara pengesahan seseorang untuk memeluk agama Hindu

38 Hari Raya Galungan merupakan hari perayaan Hindu Bali

59 Utara. Tetapi sampai sekarang beliau masih juga menganut agama Katolik, karena keluarganya sudah menganut agama tersebut sejak dari dulu. Itu yang menyebabkan bang Ucok sangat ditentang oleh keluarga.

“Keluarga saya tidak menerima saya memeluk agama hindu, saya membuat tempat sembahyang diatas lemari ada dupa dan patung Ganesha. Tempat dupanya dibuang dengan gelas-gelas isi susu dan air juga dibuang, cuma patung Ganeshanya yang tidak berani disentuh mereka. Ya disitu sedih dan nangis rasanya. setelah itu baru mereka mulai kirim santet ke aku. (wawancara tanggal 18 Juli 2019)

Hal tersebut disampaikan oleh Bang Ucok karena keluarganya tidak menerima jika ia memeluk agama Hindu, sehingga ia menyembunyikan tempat sembahyang di atas lemari yang di dalamnya ada dupa dan patung Ganesha.

Tempat dan gelas yang berisi susu dan air dibuang oleh orangtuanya, tetapi beliau mengatakan bahwa orangtuanya tidak berani menyentuh patung Ganesha. Karena adanya pertentangan Bang Ucok masuk Hindu, akhirnya ia memutuskan untuk membangun rumah dan tinggal sendiri agar mendapatkan ketenangan dalam bersembahyang. Hal ini seperti dikatakan Bang Ucok, bahwa:

“Ya karena begitu saya bangun rumah dan tinggal sendiri supaya mereka tidak mengekang kebebasanku sembahyang dan tidak lupa juga ku menyindir keluarga ku lewat ritual-ritual katolik yang mirip Hindu di grup wa (Whatshapp) keluarga. Menekankan bahwa Tuhan itu Maha Esa dan tidak lah perlu dipermasalahkan cara pemujaannya. Saya dulu nya Katolik,yang saya rasakan antara Katolik dan Hindu tidak jauh berbeda dari ritual dan sarananya, cuma beda di mantra dan ajarannya.” (Wawancara tanggal 18 Juli 2019)

Bang Ucok meyakini bahwa ritual Katolik yang masih dianutnya mirip dengan agama Hindu dan menurutnya bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, sehingga cara pemujaan apapun tidak perlu dipermasalahkan.

60 3.6. Alasan Pemeluk Masih Mempertahankan Kepercayaan Pemena.

Banyak faktor penyebab kebudayaan Pemena masih dipertahankan di zaman sekarang, padahal banyak perpektif buruk terhadap ajaran ini, tidak hanya untuk menghormati leluhur tetapi penganutnya merasakan manfaatnya. Penganut mengaku merasa tenang ketika menganut kepercayaannya, sehingga ketenangan tendi menjadi alasan yang kuat untuk adanya kepercayaan ini. Menurut mereka ajarannya semakin membuatnya menjadi lebih mengenal dan mendekatkan dirinya kepada leluhur. Sehingga membuat penganutnya merasa selalu dijaga oleh nini-nya. Dengan adanya ketenangan tendi membuat mereka menjadi sehat, seperti yang dirasakan oleh Bibi Malemta perangin-nangin yang sudah 2 (dua) tahun menjadi penganut Hindu, beliau mengatakan bahwa ketika ia telah memeluk agama Hindu Pemena membuatnya menjadi gemuk dan tidak ada tuntutan apapun untuk menjadi penganutnya seperti yang diungkapkan Bibi malemta pernangin-nangin:

“Memang kitakan orang miskin, tidak ada mengeluarkan uang, jika ada rezeki saja baru memberikan persembahan, seperti buah-buahan dan mereka tidak memaksa untuk membawa persembahan”

(Wawancara 18 Juli 2019)

Tidak membutuhkan biaya yang banyak untuk bersembahyang, ia dapat membawa buah-buahan dari ladang untuk ercibal. Bahkan tidak masalah jika tidak membawa luah untuk ercibal. Tidak hanya kesederhanaan yang diterima, tetapi ketika penganutnya memiliki spiritual yang lebih tinggi, ia dapat mengobati orang lain seperti Bang Ucok yang awalnya di-tama-tamai oleh keluarganya sehingga kurus, tetapi ketika diobati oleh Guru di Cilinggam, beliau mulai sembuh. Seperti yang diungkapkan Bang Ucok:

61

“Setelah diobati di siwalinggam baru para leluhurku bisa menjagaku, tahapnya panjang ki. Mulai aku diobati. Setelah itu aku dimandikan sama nini lewat raga nya Bang Ari. di sungai, disuruh makan biji Genitri. Baru habis itu aku heran kenapa bisa lapar terus padahal sudah makan, ternyata para leluhurku lah yang pakai badan ku untuk numpang makan” (Wawancara tanggal 18 Juli 2019)

Ketika Bang Ucok mulai sembuh dan bersih dari roh jahat, ia sudah mulai gemuk bahkan dapat berkomunikasi dengan leluhurnya. Sekarang Bang Ucok sudah dapat membersihkan rumah Kak Vina dari roh jahat pasca kemalingan.

Selain mengobati penganut Hindu Pemena di Cilinggam, Bang Ari selaku Guru dapat mengobati orang lain yang bukan penganut Hindu. Biasanya pasien datang kerumah untuk minta diobati oleh Bang Ari. Selain mengobati, ajaran Hindu Pemena dapat mempererat hubungan karena setelah sembahyang selesai, mereka berdiskusi satu sama lain untuk menceritakan masalah hidupnya ataupun masalah rumah tangga. Tidak hanya itu mereka juga berusaha untuk membantu satu sama lain seperti pihak laki-laki dan Pinandita bersama-sama membersihkan Cilinggam, sedangkan di sisi lain pihak perempuan mempersiapkan cibal-cibalen.

Foto 3.6

Ngerjaken Nini Dihadiri Penduduk Kampung

Sumber: Terang Ate Surbakti (2016)

Acara Ngerjaken Nini juga menjadi salah satu momen untuk mempererat hubungan antar penduduk karena acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh

62 penduduk yang beragama Hindu Pemena saja, tetapi juga agama lain. Foto tersebut membuktikan masih ada toleransi beragama di bumi ibu pertiwi, tidak peduli dengan agama apapun yang dianutnya. Tetapi jika hal tersebut ialah tradisi, akan selalu menjadi tradisi yang harus dijalankan. Karena setiap tradisi memiliki makna dan filosofi yang baik.

63 BAB IV

RITUAL PENGANUT HINDU PEMENA DI CILINGGAM ARIH