• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALIRAN KEPERCAYAAN TRADISIONAL KARO

3.1. Sistem Kepercayaan Pemena

Berbicara mengenai kepercayaan penganut Pemena, banyak hal yang diluar nalar manusia yang akan dibahas. Penganut Pemena memiliki kepercayaan ketika manusia lahir ke dunia, manusia tersebut memiliki teman tubu yang menemani dan menjaga manusia tersebut. Teman tubu ini juga dianggap saudara yang disebut dengan kakang30 dan agi31. Sebelum menyebutkan permohonan kepada begu atau leluhur. Teman Tubu wajib selalu diajak untuk memohon menurut kepercayaan Pemena.

Penganut Pemena sangat menghormati tendi yang diambil dalam bahasa Karo yang berarti Jiwa atau roh. Menurut Pak Terang dari hasil wawancara (2019) kepercayaan Pemena menyakini bahwa tendi yang dapat menghidupkan tubuh.

Jadi ketika tendi meninggalkan tubuh manusia akan mati, tetapi tendi masih tetap hidup. Sehingga tendi yang meninggalkan tubuh dalam bahasa Karo disebut begu.

Banyak jenis begu yang sudah dibagi oleh Pemena yaitu:

1. Begu jabu merupakan tendi yang sudah meninggal dan masih memiliki hubungan keluarga atau yang masih memiliki hubungan darah. Biasanya begu jabu dipercaya melindungi keluarga dari roh-roh jahat seperti yang

30 Kakang dalam bahasa Karo yang berarti kakak.

31 Agi dalam bahasa Karo yang berarti adik.

41 dikatakan Bang Ucok hasil wawancara (2019) beliau mengaku dijaga oleh opung boru dan doli-nya.

2. Begu mentas (lewat) merupakan begu jabu yang dimiliki orang lain atau begu yang telah tinggal di tempat yang kita lewati. Biasanya jika terkena begu mentas dipercaya kadang akan sakit jika tendi yang ada dalam tubuh manusia tersebut lemah.

3. Begu juma (ladang) merupakan begu yang tinggal di ladang, pada umumnya begu juma sengaja dibuat oleh yang mempunyai ladang untuk menjaga ladang agar tidak dicuri hasil panennya oleh orang lain.

4. Begu ganjang (panjang) merupakan begu jahat yang ditakutin oleh orang Karo, disebut ganjang karena begu tersebut dapat tinggi menjulang keatas atau panjang. Menurut kepercayaan begu tersebut dapat membunuh nyawa manusia dengan mencekik lehernya sampai matanya melotot, lidahnya menjulur keluar dan leher manusia yang dicekik oleh begu ganjang akan biru.

Menurut Guru yang memiliki pengetahuan spiritual, begu banyak kegunaannya seperti begu binatang yang sengaja dipelihara atau begu binatang yang liar. Begu tersebut berguna untuk menjaga diri dan ada juga untuk mencelakakan orang lain. Penganut pemena jaman dulu pada umumnya sangat menghormati begu sehingga ketika mereka melewati sungai atau pohon yang menurutnya keramat, mereka memiliki kebiasaan untuk ercibalken belo32 bermaksud untuk meminta rezeki dan kesehatan.

32 Ercibal merupakan kebiasan memberikan sesajen untuk begu, biasanya sesajennya belo (sirih) atau isap (rokok) di tempat keramat.

42 Penganut Pemena di Desa Namorube Julu, tepatnya di Cilinggam Arih Ersada memiliki tempat keramat yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Tempat keramat tersebut dipercayai oleh penganut Pemena sebagai tempat leluhur penjaga desa yang disebut Tembun Kuta atau biasanya juga dinamai tempat Nini33. Dalam hasil wawancara Bik Katri Keliat (40 tahun) yang merupakan penduduk dusun Serba Jadi, beliau tinggal di dekat Tembun Kuta sudah sejak lahir menceritakan bahwa dulunya di Tembun Kuta tumbuh pohon rambutan yang besar:

”Pohon rambutan yang besar dan tidak dapat dipeluk oleh satu orang manusia karena besarnya. Lalu tumbang dikarenakan angin, jadi tumbuh lah pohon manggis. Lalu dibentukknya batu-batu itu”

(Wawancara 2 Agustus 2019)

Sebelum Tembun Kuta dibangun seperti sekarang, awalnya di tempat tersebut tumbuh pohon rambutan yang sangat besar. Pohon rambutan tersebut yang menjadi tempat sesembahan orang kampung. Menurut penganut pemena Tembun Kuta merupakan tempat yang harus dihormati karena tempat leluhur yang dijuluki Nini erpisoken Jenap Jenawi yang memiliki 9 (sembilan) murid. Tempat keramat Tembun Kuta dipercaya memiliki 9 (sembilan) Tendi yang disimbolkan dengan 9 (sembilan) batu dan ditata di atas tanah dan setiap tendi yang di dalam batu tersebut memiliki sebutannya masing-masing. Hasil wawancara Menurut Bang Ari dari hasil wawancara (2019) selaku Guru yang menjadi media komunikasi di Tembun Kuta enggan menyebutkan masing-masing sebutan dari 9 (sembilan) tendi karena tidak ingin mengurangi kesakralan dari Tembun Kuta.

Beliau hanya menuturkan Tembun Kuta tersebut dijuluki tempat Nini.

33 Nini dalam bahasa karo merupakan panggilan untuk kakek atau nenek yang masih hidup, atau dapat juga dipanggil untuk leluhur yang sudah lama meninggal.

43 Dalam Tembun Kuta batu menjadi simbol karena menurut Pak Terang batu dapat menampung cahaya yang lebih kuat dan tidak dapat dihancurkan oleh api dibandingkan kayu. Beliau juga tidak ingin jika batu tersebut dibentuk menjadi patung agar kealamiannya tidak akan hilang. Ia juga tidak ingin membuat simbol dari besi karena menurutnya besi buatan dari tangan manusia. Itulah alasan batu menjadi alasan untuk menjadi simbol dan menjadi perantara wujud Nini untuk dihormati dan disembah.

Foto 3.1

Tembun Kuta Nini erpisoken Jenap Jenawi

Sumber: Kiki Fahlevi Depari (2019)

Ketika berada di Tembun Kuta, siapapun tidak boleh melangkahi batu-batu karena dapat membuat kesialan atau malapetaka bagi yang melangkahinya dan harus menjaga tutur tingkah laku di Tembun Kuta. Leluhur atau Nini yang sudah keramat biasanya dinamakan jinujung yang dapat tinggal di dalam tubuh Guru.

Jinujung sangat bermanfaat sekali untuk menjaga manusia salah satunya ialah

44 Kak Vina yang memiliki jinujung yang dijuluki Nini Tudung. Kak Vina pernah mengaku jika ia seluken, awalnya Kak Vina akan menangis lalu menari meskipun tidak ada alunan musik sekalipun. Sedangkan Bang Ucok percaya bahwa jinujung-nya tersebut Opung34 laki-laki dan perempuannya sendiri, semenjak Opungnya menjaga tubuhnya, Bang Ucok dapat membantu membersihkan rumah Kak Vina pasca kejadian rumah Kak Vina kemalingan dan diganggu oleh roh jahat. Setiap orang yang memiliki jinujung yang menetap di tubuh penganutnya akan memiliki kemampuan yang tidak biasa dari manusia pada umumnya seperti dapat mengobati orang sakit, mengusir roh jahat, dapat memindahkan hujan dan dapat mengetahui siapa maling yang pernah mencuri barang yang kita miliki.

Tidak semua orang bisa memiliki jinujung, menurut penganut pemena orang-orang yang memiliki jinujung merupakan orang-orang pilihan Dibata, dapat dikatakan anugerah dari Dibata sendiri. Manusia tersebut harus memenuhi syarat yaitu:

1. Sudah sejak lahir manusia sudah menjadi indigo atau manusia yang bisa melihat makhluk yang tidak kasat mata (begu).

2. Meskipun Nini masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan orang tersebut, tetapi Nini harus memiliki energi yang sama dengan yang ingin Nini jaga.

3. Alasan lain, begu bisa menyukai orang tersebut, sehingga begu mengikuti orang yang disukainya.

34 Opung dalam bahasa batak yang berarti kakek atau nenek.

45 3.2 Penganut Pemena Masih Mempertahankan Kebudayaannya.

Aliran kepercayaan tradisional pada saat ini sudah ditinggalkan kebanyakan orang Karo, melihat keberadaan keyakinan yang semakin lama semakin tersudutkan. Dengan berkurangnya pemeluk aliran kepercayaan tradisional, membuat orang Karo memeluk agama yang telah diakui oleh negara.

Banyak pandangan dari pihak luar mengenai kepercayaan tradisional yang dianggap sesat, padahal banyak nilai yang terkandung di setiap ritual yang dilaksanakan. Setiap ritual memiliki filosofi yang mengandung makna yang baik.

Bahkan setiap ritual memiliki kegunaan untuk menghindar dari kesialan, memiliki kegunaan untuk mengobati, dan diperingatkan untuk selalu berhati-hati jika memiliki rencana yang akan dikerjakan. Sehingga dengan adanya kegunaan ini, membuat beberapa orang masih melakukan tradisi tersebut meskipun sudah memeluk agama Kristen ataupun Islam.

Keluarga pengembang komunitas Pemena yaitu Pinandita yang bernama Pak Terang Ate sempat meninggalkan ajaran Pemena karena adanya doktrin orang lain bahwa ajaran Pemena merupakan ajaran Perbegu yang mengandung arti sesat, mereka tidak paham mengenai pengertian Begu ialah tendi yang dapat menghidupkan tubuh manusia. Karena ketidakpahaman ini juga membuat orangtuanya dan keluarga meninggalkan ajaran Pemena dan memeluk agama Kristen dan Islam. Tetapi meskipun mereka memeluk agama tersebut, mereka masih menjalankan ritual Ngerjaken Nini, yang dilakukan dengan penduduk kampung.

46 Foto 3.2

Ritual Ngerjakan Nini yang diikuti penduduk kampung

Sumber: Terang Ate Surbakti (2016)

Ritual Ngerjakan Nini dilakukan setiap tahun sekali, pelaksanaannya salah satunya erpangir silamsam. Penduduk kampung sangat antusias, bahkan mereka membawa makanan seperti yang dikatakan Ibu dari Pak Terang yang biasa di panggil Nondong Nangin (73 tahun) bahwa:

“Kalau waktu diadakan acara erpangir ku lau rame yang mengikuti, kalau jaman dulu di sepanjang jalan berdiri berbaris semua orang, diumunkan ke semua orang kampung dan mereka berdatangan masing-masing membawa beras, ayam dan makanannya, Bukan kami minta, mereka sendiri yang sukarela membawanya”. (Wawancara tanggal 23 Juli 2019)

Sebelum acara Ngerjakan Nini, kata Nangin malamnya mereka memotong jeruk purut lalu disembahkan kepada Nini, yang menyembahkan jeruk tersebut harus memiliki kekuatan gaib. Dan keesokan harinya mereka memulai acara sekitar jam sembilan atau jam sepuluh, dipotonglah daun, lalu diletakkan di sepanjang jalan dari rumah ke sungai. Dulu mertua Nangin yang melakukan ritualnya semua, setelah selesai daunnya dibuang ke su ngai. Lalu rimo mungkur-nya diludahi empat kali dan ditarok ke daun-daun, terakhir dihanyutkan ke sungai.

47 Erpangir ku lau dilakukan agar kesialan atau penyakit dibersihkan, seperti jeruk purut yang diludahi tadi hanyut di bawa air. Dalam kesehatan erpangir ku lau dapat membuat tubuh menjadi wangi karena aroma dari rimo mungkur. Tetapi sekarang ritual Ngerjakan Nini tidak lagi banyak penduduk kampung yang mau bergabung dalam acara tersebut, karena sudah banyak yang mengonsumsi anggapan syirik jika mengikuti acara tersebut dan mulai meninggalkan tradisi kepercayaan tradisional Karo.

Ada beberapa penduduk yang masih melakukan kebiasaan ajaran Pemena yang lain, seperti ercibal yang dilakukan oleh Bibi Malemta perangin-nangin (52 tahun ). Bibi Malemta dulunya memeluk agama Kristen, tetapi dua tahun terakhir, Ia telah masuk Hindu Pemena. Sejak memeluk agama Kristen, Bibi masih menjalankan ajaran Pemena seperti ercibal, jika beliau memotong ayam untuk lauk pauk:

“Jika kami memotong ayam, kami membuat cibal-cibalen, tidak lupa kami menyebutkan bapak, mamak, begu jabu begitulah sebelum Kristen. Kami letakkan di kamar, dibentangkan tikar putih, lalu letakkan tehnya dan cuci tangannya”. (wawancara 18 Juli 2019)

Sampai sekarang tradisi ini masih dilakukan, menurutnya agar Begu Jabu tetap menjaga dan memberikan rezeki untuk keluarga. Setelah pagi hari, makanan yang di cibalkan kadang tidak lagi dimakan karena Ia menganggap rasa yang ada dalam makanan tersebut sudah dimakan oleh Begu Jabu, tetapi suaminya kadang masih mau memakannya. Mereka percaya jika memakan makanan yang sudah dicibalkan, akan selalu sehat.

48 3.3 Pemena Berasimilasi ke Hindu.

Setelah Pak Terang tamat SMA, beliau bercita-cita menjadi guru pada saat itu. Kebetulan ada penerimaan guru agama Hindu beliau mengikutinya meskipun ia beragama Islam pada saat itu, ia mengikuti ujian Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Medan selama tiga bulan akhirnya beliau lulus. Jadi ia diangkat menjadi guru agama Hindu di kampung Bali, Langkat pada tahun 1988. Karena beliau lulus menjadi guru agama Hindu, ia pun memeluk agama Hindu, seperti yang disampaikan oleh Nangin (73 tahun) bahwa:

”Semenjak masuk pegawai negeri, lalu ia masuk Hindu, karena menjadi guru. Dulu pegawai negeri tidak bayar, kita tidak punya uang dan dia cuma tamat SMA. Dari situlah iya masuk Hindu, tetapi ia harus sekolah dahulu”. (wawancara 23 Juli 2019)

Setelah lulus PNS, Pak terang belajar mengenai ajaran Hindu selama kurang lebih tiga bulan. Semenjak beliau belajar mengenai ajaran tersebut, beliau akhirnya paham dengan adanya konsep Desa, Kala, Patra yang memiliki arti sangat dalam. Bahwa Desa yaitu tempat manusia itu berada, yang memiliki norma suci tersendiri di setiap tempatnya, sedangkan Kala ialah waktu saat kita berada dan Patra ialah keadaan ataupun kondisi dimana kita berada. Jadi Desa, Kala, Patra memiliki makna untuk penyesuaian diri sesuai dengan tempat dan waktu dimana kita berada. Dengan adanya konsep ini, menerangkan bahwa umat Hindu dapat bersembahyang dengan menyesuaikan tradisi daerah dimana mereka berada. Sehingga dengan adanya konsep ini, semakin membuat Pak Terang semakin bertanya tentang siapa leluhurnya dengan sering mendatangi kuil atau pura membuat dirinya dan leluhurnya menjadi lebih bersih. Lalu ia bermimpi

49 bahwa leluhurnya mendatangi Pak Terang, karena rasa penasaran ini membuat Pak Terang menjumpai orang Pintar untuk menanyakan hal tersebut.

“Nah lalu mimpi saya dan saya tanyak orang pintar di Makmur Jaya marga perangin-nangin, dia juga Pemena. Siapa yang ikut sama saya, saya bilang, lalu dibilangnya waktu saya lihat ini, siapa yang datang sama kam ini ialah leluhur kam. Lalu saya teringat dengan ini (Nini), tempat kakek saya sembahyang terdahulu”. (wawancara 18 Juli 2019)

Hal tersebut diceritakan langsung oleh Pak Terang, jika ia teringat dengan leluhurnya yang berada di kampung Serba Jadi. Awalnya Pak Terang membersihkan sendiri tempat Nini lalu memagarinya seluruhnya menggunakan bambu. Mulai dari kejadian tersebut, ia meniatkan jika memiliki rejeki akan membuat tempat sesembahan Nini lalu mendirikan tempat ibadah atau Cilinggam.

Setelah dibersihkan, Nini Jenap Jenawi masuk ke dalam tubuh Bang Ari untuk menjadi media komunikasi antara Nini dengan Pak Terang, Nini mengatakan bahwa Nini merupakan murid Rsi Agastya dari India selatan. Rsi Agastya merupakan Batara Guru dan murid Dewa Siwa yang taat. Kepercayaan kepada Nini Jenap Jenawi semakin kuat karena Pak Terang merasa adanya hubungan antara Nini Jenap Jenawi yang sudah sejak empat generasi keluarga Pak terang menyembah Nini Jenap Jenawi. Lalu ditambah lagi dengan mimpi yang dialami Pak Terang, membuat Pak Terang merasa yakin dengan keputusannya untuk menyatukan ajaran Hindu dengan ajaran Pemena. Keputusan ini diperkuat karena ajaran Hindu tidak membatasi penganutnya untuk

50 menggunakan tradisinya. Seperti yang pernah diungkapkan Pak Terang, beliau pernah membaca kitab Bhagawadgita35 tertulis:

“Jalan mana pun kau tempuh kearahKu oh Arjuna, Aku terima dari mana-mana. Semua itu mengarah kepadaKu, karena semua itu adalah diriKu”

Tulisan Ini menjelaskan ajaran Hindu tidak membatasi umatnya untuk bersembahyang dengan budaya apapun. Bahkan Hindu menjunjung budaya dan tradisi, misalnya penganut suku India, ia akan melakukan pemujaan atau persembahan sesuai tradisi budaya India. Inilah yang membuat adanya aliran Hindu India dan Hindu Bali. Terlebih lagi ajaran Hindu menuntut untuk menghormati leluhur karena penganutnya percaya leluhur mereka sebagai perantara untuk menuju ke Tuhan, sehingga apapun permohonan kita, agar disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa.