Foto 4.7 Kalender Karo
4.4. Persembahyangann Hindu Pemena
Hindu memberikan kebebasan untuk umatnya menjalankan persembahyangan dengan menggunakan kebudayaan penganutnya sendiri, tidak dibatasi asalkan tidak bertentangan dengan kitab Veda. Hindu Pemena memiliki persembahyangan yang penting yang dilaksanakan 2 (kali) dalam sebulan tepatnya pada wari nggara simbelin dan belah purnama yang ditetapkan menggunakan wari-wari Karo dan setiap sebelun persembahyangan dimulai, Cilinggam dan Tembun Kuta harus dibersihkan dahulu oleh pihak laki-laki yang dipimpin Pinandita yaitu pak Terang Ate surbakti. Sebelum membersihkan tempat sakral tersebut, Pinandita harus mandi ke sungai dahulu menggunakan kunyit kuning. Setelah membersihkan diri, Pinandita harus memohon izin kepada Nini terlebih dahulu dengan menggunakan bahasa tradisional Karo karena semua persembahyangan dilakukan dengan menggunakan tradisi Pemena termasuk bahasanya dengan memohon:
“Nini enda aku reh kempundu Terang Ate Surbakti ras sura-suraku ateku wari si sendah, ateku bersihken ingan Bapanta Dewa Siwa”.
Terjemahan:
“Nini ini aku datang cucumu Terang Ate Surbakti dengan keinginan hari ini untuk membersihkan tempat Bapak kita Dewa Siwa”
Melakukan kegiatan apapun di Cilinggam harus permisi terlebih dahulu kepada Nini, karena menurut Pinandita bahwa leluhurnya yang memohon agar Dewa Siwa berada di Cilinggam. Tidak hanya memohon, Pinandita juga
men-83 cibal-ken lau penguras62 dari rimo mungkur, kunyit, jera pangir (jinten kasar) agar di tabas-tabasi63 dengan memohon:
”Oh Nini, jadikenlah lau enda gelah jadi lau penguras, lau meciho, lau mejile, man peridin ingan Dewa Siwa”
Terjemahan:
“Oh Nini, Jadikanlah air ini agar menjadi air pembersih, air yang jernih, air yang bagus untuk membersihkan tempat Dewa Siwa”
Segala sesuatu yang ingin diberikan kepada Dewa Siwa, Pinandita harus meminta doa kepada Nini terlebih dahulu karena menurut orang Hindu, leluhurlah yang menjadi perantara kepada Dewa Siwa. Setelah itu Pinandita menghidupkan gendang salih Karo atau kadang disebut dengan gendang seluk dengan audio tape karena sudah banyak yang tidak dapat lagi memainkan alat musik tradisional
Sambil Pinandita landek, ia membuka semua penutup yang di atas patung dan dilepas secara perlahan, lalu dibersihkan memakai air putih yang harus di dalam mangkok mentar karena mangkok mentar merupakan simbol kesucian.
Setelah itu disiram menggunakan kunyit kuning dan terakhir menggunakan lau penguras yang telah di tabas-tabasi di tembun kuta tadi. Lau penguras bekas membersihkan linggam ditampung menggunakan mangkok mentar dan diletakkan
62 Lau Penguras merupakan air suci yang sudah ditabas-tabasi oleh nini batara,
63 Tabas-tabasi dalam bahasa Karo yang berarti didoakan
84 di tembun kuta. Lalu linggam disiram dengan menggunakan air putih dan dipakaikan penutup patung yang baru.
Setelah Cilinggam dan tembun Kuta dibersihkan, seluruh penganut Hindu pemena dapat bersembahyang. Setelah membersihkan diri seperti mandi dan harus menggunakan sarung baik laki-laki ataupun perempuan. Ketika memasuki Cilinggam atau Tembun Kuta bagi perempuan yang lagi menstruasi dilarang untuk masuk dan mempersiapkan cibal-cibalen64 juga tidak boleh karena apapun yang di-cibal-kan oleh Dewa ataupun Nini harus suci dan bersih. Penganut Hindu pemena menyiapkan 2 (dua) bagian cibal-cibalen, bagian pertama di-cibal-kan kepada Tembun Kuta yang kedua di-cibal-kan ke Cilinggam. Sebelum seluruh penganut memasuki Cilinggam, penganut terlebih dahulu memohon pada Nini dengan dipimpin oleh Guru yang duduk di atas amak mentar dan men-cibal-kan isap untuk persentabin65 dan memohon:
“Enda kami kempundu nggo reh, mari nini reh kam, ersembah ate kami kerna kam. Enda Nini lit mbah kami luah, Adi banci alokenndulah, meriah ukur kami erkiteken enggo mberekenndu kesehaten, maka ibas enda pengataken bujur kami nini, alokenndu luah enda kerina”.
Terjemahan:
“Ini kami cucumu udah datang, datang kam nini, kami ingin menyembah kam. Nini ada kami bawa oleh-oleh, kalau bisa terimalah, senang hati kami karena sudah diberikan kesehatan, karena ucapan syukur kami, terima semua ini”
Lalu membawa cibal-cibalen yang telah dibawa oleh seluruh umat dan paling terkhusus cimpa matah yang tidak boleh terlewatkan, semua cibal-cibalen diletakkan diatas amak mentar yang telah dibentangkan di Tembun Kuta dan meletakkan belo yang telah di-kuhi dengan gamber yang sudah dihancurkan,
64 Cibal-cibalen dalam bahasa Karo merupakan makanan untuk persembahan.
65 Persentabin dalam bahasa Karo yang berarti permisi.
85 mayang yang telah dipotong, kapur, dan mbako di 9 (Sembilan) batu yang ada di atas 9 (Sembilan) batu yang ada Tembun Kuta sebagai salah satu penghormatan.
Setelah itu memohon untuk di arak-arak66 kepada Dewa Siwa, lalu para umat di pir-piri67 dengan Lau penguras bekas membersihkan Cilinggam. Maknanya agar umat menjadi bersih dan suci sebelum masuk untuk menyembah ke Cilingam.
Sebelum umatnya masuk ke Cilinggam, Pinandita harus terlebih dahulu masuk untuk menyucikan diri lagi, menghidupkan lampu dan memasang dupa.
Setelah itu mengajak Teman Tubu untuk memulai persembahyangan:
“Mari kam kakaku agiku temanku ndube tubuh ku doni enda, kam nini si kawal-kawal dagingku, reh kam ku jenda, mari kita nembah ku Dibata, mari sibenaken persembahyangen enda”
Terjemahan:
“Datang kam kakakku adikku teman bersama aku lahir ke dunia ini, kamu nini yang menjaga badanku, datang kamu kemari, ayokita menyembah ke Tuhan, ayo kita mulai persembahyangan ini”
Setelah itu memohon agar Dewa Siwa dan Dewi Parwati untuk datang berada di tengah mereka:
“Mari Kam Bapangku Dewa Siwa ras Nandeku Parwati ijenda nggo ku persikap amak mentar inganNdu kundul, reh kena duana.
Ersembah ate kami kerina kempuNdu ras anakNdu, mari Bapa reh Kam”
Terjemahan:
“Datang Kam Bapakku Dewa Siwa dan ibuku Parwati disini udah ku siapkan amak mentar tempatMu duduk, datang kalian duanya. Mau menyembah kami semua cucumu dan anakmu, datang kam bapak”
66 Arak-arak dalam bahasa Karo yang berarti dibimbing atau dituntun.
67 Pir-piri dalam bahasa Karo yang berarti percikkan.
86 Lalu dituangkannya lau mumbang68ke dalam mangkok mentar dan diambil bunga untuk membuat lau penguras dan memohon agar lau penguras menjadi air suci yang dapat membersihkan jiwa dan raga.
Foto 4.8
Memohon Agar Lau Penguras Disucikan
Sumber: Kiki Fahlevi Depari (2019)
“Mari kam kaka agingku temanku tubu ku doni, bage ka begu jabuku, rikutken nini ku sierpisoken Jenap Jenawi mari dage ras-ras kita mindo ku Dibata emkap Bapanta Dewa Siwa. Jadikendu lau enda lau simalem-malem”
Terjemahan:
“Datang kamu kakak adikku teman tubu di dunia, dan juga Begu Jabuku dan juga Nini ku Sierpisoken Jenap Jenawi mari sama-sama kita meminta ke Tuhan yaitu Bapak kita Dewa Siwa, jadikan air ini jadi air yang baik”
Setelah itu umat Hindu Pemena melantunkan kidung-kidung Bagawad Gita69 menggunakan nada tradisional Karo seperti sedang erdoah-doah70. Ketika
68 Lau mumbang dalam bahasa Karo merupakan lau yang berarti air dan mumbang yang berarti kelapa.
69 Bagawad Gita merupakan kitab suci agama Hindu yang biasanya dibaca dengan dilantunkan.
70 Erdoah-doah merupakan tradisi orang Karo jika berbicara harus menggunakan lantunan.
87 Genta71 dibunyikan Pinandita, lalu para umat berhenti melantunkan Bagawad Gita dan dilanjutkan melantunkan mantra Tri Sandya secara bersamaan72. Tri Sandya merupakan mantra suci yang menjadi ibu segala mantra dalam ajaran Hindu. Lalu pemujaan dilanjutkan dengan menghanturkan doa kepada setiap Dewa dan makhluk yang dihormati oleh umat Hindu pemena:
1. Parama Siwa man Bandu, enggo berekenNdu kegeluhen man kami kerina manusia, bagepe kerina jelma siterem bah taneh pertibi enda, bagepe rubia-rubiandu”.
Terjemahan:
“O Kamu yang memiliki tempat (dunia), yang besar kuasanya, yang membuat langit dan dunia dan juga isinya, kam yang disebut Parama Siwa kuucapkan terimakasih kepadaMu, sudah Kamu berikan kehidupan kepada kami semua manusia, dan juga semua orang banyak di dunia ini, dan juga tumbuhan-tumbuhan, binatang”
Dalam Hindu dharma seperti Hindu Pemena menyebutkan Tuhan yang Maha Esa dengan Ida sang Widhi Wasa, mereka mempercayai bahwa Ida sang Widhi Wasa yang menciptakan dunia dan Dia yang tidak dipahami oleh siapapun.
71 Genta merupakan lonceng yang digunakan untuk persembahyangan penganut Hindu.
72 Surbakti. Arvina Dewi Br. Makna Symbol Kampil dalam Persembahyangan Umat Hindu (Karo) di Pura Arih Ersada Desa Namorube Julu Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang.
Medan: Universitas Negeri Medan, 2017. Hal 38
88 2. Siwa Raditya
Penyembahan kedua tertuju kepada Siwa Raditya merupakan kekuatan Siwa untuk menyinari dan menjaga alam semesta.
Foto 4.9
Pemujaan Kepada Siwa Raditya Dengan Menggunakan Bunga
Sumber: Kiki Fahlevi Depari (2019)
Siwa Raditya dapat disebut juga dengan sang matahari dan disembah harus menghanturkan bunga yang sarana persembahan pokok bagi umat Hindu selain api dan air karena selain menambahkan keindahan bunga sebagai lambang ketulus ikhlasan dan kesucian hati. Bunga diletakkan diantara kedua telapak tangan dengan memohon dan mengucapkan syukur:
“O kam Siwa Raditya terang sinasalNdu nerangi isi doni, ijenda enggo ku pesikap perkundulku, terangi pusuh peratenku, enggo terangindu kerina isi doni, bujur kami ka man bandu”
Terjemahan:
“O Kamu Siwa Raditya terangmu selalu menerangi isi dunia, disini sudah kusiapkan tempat dudukMu, terangi yang diinginkan hatiku, sudah kamu terangi semua isi dunia, terimakasih lagi untukmu”
89 Setelah dihanturkan, biasanya bunga diletakkan di atas kepala atau diselipkan di telinga. Bunga sebagai penghormatan untuk menunjukkan ketulusan untuk mengucapkan syukur kepada sang matahari. Dalam ajaran Hindu sangat menghormati semua yang ada dialam semesta, karena matahari yang telah memberikan kehidupan kepada manusia. Ia patut untuk disembah karena jasanya.
3. Dewa Siwa dan Dewi Parwati
Pemujaan yang ketiga untuk menyembah Dewa Siwa dan Dewi Parwati karena mereka ialah raja dunia sudah menerangi semua alam ini. Sehingga sebagai penghormatan harus menghanturkan bunga dengam memohon dan mengucapkan syukur:
“Oh kam bapangku Dewa Siwa ras nandeku Parwati, enda reh ka kempunndu, anakndu Terang Ate Surbakti sembah ku jari sepuluh sepuluh sada tungku aku Bapa, jenda bujur ku kataken man bandu sebab enggo berekenndu man kami ketenangan geluh, kesiapan geluh”
Terjemahan:
“Oh kamu Bapakku Dewa Siwa dan Ibuku Parwati, ini datang cucumu, anakmu Terang Ate Surbakti menyembah sepuluh jari satu tungku aku Bapak, disini aku berterimakasih kepada Kamu karena sudah kamu berikan kepada kamu ketenangan hidup, berkecukupan”
4. Teman Tubu, Nini Jenap Jenawi dan leluhur dekat yang sudah meninggal Tidak hanya kepada Dewa, Hindu Pemena juga mengucapkan syukur kepada Teman Tubu merupakan kakak dan adik yang dipercaya penganut Pemena sebagai saudara bersama waktu lahir.
90 Foto 4.10
Menghanturkan Belo Untuk Teman Tubu Nini Jenap Jenawi dan Leluhur Dekat
Sumber: Kiki Fahlevi Depari (2019)
Sebagai ucapan rasa syukur dan agar selalu dilindungi maka dihanturkanlah selembar belo sebagai penghormatan dan memohon:
“Oh kam kakang ku ras agingku si tubu ras kami ndube,bage pe begu jabu kami ,ras nini Erpisoken Jenap Jenawi bujur kami kataken manbandu ibas pengarak-arak ndu bagepe penampat ndu maka nggo erhuli na ukur kami e.bage pe man kam nini kami,kam nge si nggo seh man dibata maka pesehndu lah toto kami e ku dibata”.
Terjemahan:
“Oh kamu kakak dan adik kami yang lahir bersama kami terdahulu,begitu pun leluhur kami dan nini Erpisoken Jenap Jenawi terima kasih kami ucapkan atas perlindungan mu dan bantuan mu sehingga persembahyangan ini berjalan dengan sangat baik.dan kepada nini kami,kamu telah sampai kepada Tuhan,maka kami mohon sampaikanlah doa kami ini kepada Tuhan”.
5. Beras Patih Taneh dan rubia-rubia
Penganut Hindu Pemena juga mengucapkan syukur untuk beras patih taneh dan rubia-rubia merupakan makhluk yang lebih rendah dari manusia seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan karena mereka manusia bisa memenuhi kebutuhan
91 sandang dan pangan dengan menyembah dengan kedua telapak tangan yang kosong memohon:
“man kam beras patih taneh , rubia-rubia si nuan-nuan kerina, bujur kami kataken bandu enggo berekenndu kegeluhen man kami kerina manusia, ibas enda Nini kami ras beras patih taneh, bujur kami man bandu, kekelengen aku, keriahen ukur aku, kemalemen ate aku la pang jelma si la payo natap rupaku, si la payo perukurenna”
Terjemahan
“Untukmu beras patih taneh, rubia-rubia yang tumbuh semua, terimakasih kami ucapkan kepadamu,sudah kamu berikan kehidupan untuk kami semua manusia, disini Nini kami dan beras patih taneh, terimakasih kami ucapkan untukmu, kasih sayangku, kesenangan hatiku,kebaikan hatiku tidak disalahgunakan oleh orang lain yang tidak baik hatinya dan tidak mau menatap mukaku”
Penghormatan beras patih taneh dan rubia-rubia ditambahkan dalam persembahyangan karena pada ajaran Pemena dahulu, makhluk yang diciptakan Ida sang Hyang Widhi Wasa telah memberikan kehidupan untuk manusia.
Setelah penyembahan selesai Pinandita mengambil lau penguras dari lau mumbang yang telah disucikan tadi dengan mengatakan
“Bujur Bapa kualoken lau pengurasNdu, lau simalem-malem”
yang artinya jika diterjemahkan:
“Terimakasih Bapak kuterima lau pengurasMu, air yang suci”.
Pinandita lalu mendatangi umat lain untuk pir-piri setiap umat yang mengikuti persembahyangan. Awalnya di pir-piri diatas tangan lalu diminum sebanyak 3 kali pir-piri, setelah itu lau penguras dibasuh ke wajah dan kepala.
92 Foto 4.11
Pinandita Pir-piri Lau Penguras Kepada Umat-nya
Sumber: Kiki Fahlevi Depari (2019)
Lau penguras yang di pir-piri diharapkan dapat membersihkan tendi dan badan sehingga dapat menjauhkan hal-hal yang bersifat negatif yang ingin mengganggu. Setelah itu Pinandita mengucapkan terimakasih:
“Bujur Bapa enggo reh Kam tengah-tengah kami, bujur Ganesha, Nandi kali, Nini sierpisoken jenap jenawi”
Terjemahan:
“Bujur Bapak sudah datang Kamu di tengah-tengah kami, terimakasih Ganesa, Nandi kali, Nini sierpisoken Jenap Jenawi”
Pinandita berterimakasih kepada semua Dewa dan Nini karena menurut kepercayaan mereka telah menampingi persembahyangan yang telah dilaksanakan. Untuk mengakhiri persembahyangan Pinandita mengucapkan
“Pramasanti” kepada umatnya lalu disambut dengan mengucapkan salam “Om Shanti Shanti Om” yang memiliki makna semoga damai atas karuniaMu.
Persembahyangan pun ditutup dengan mengucapkan salam.
93 Foto 4.12
Penganut Hindu Pemena Menikmati Cibal-cibalen
Sumber: Kiki Fahlevi Depari (2019)
Setelah persembahyangan selesai penganut dapat memakan cibal-cibalen yang berada di Tembun Kuta dan yang telah di-cibal-kan di Cilinggam karena penganut percaya makanan yang di cibal-kan telah di pasu-pasu73 agar yang memakan cibalen selalu diberikan kesehatan. Sembari menyantap cibal-cibalen seluruh umat dapat berdiskusi mengenai masalah hidup seperti masalah rumah tangga.
Ketika melihat Persembahyangan yang dilakukan Hindu Pemena ini ditambah lagi dengan Pinandita Pak Terang membuktikan bahwa kebudayaan Pemena yang sempat redup, dibangkitkan lagi bahkan dipadukan dengan ajaran Hindu dengan konsep Desa, Kala, Patra menggambarkan bahwa Hindu dapat masuk ke dalam budaya Pemena yang masih menghormati Nini-nya dan merawat tembun kuta tempat sesembahan kampung. Selain itu sarana yang digunakan tidak
73 Pasu-pasu dalam bahasa Karo yang berarti berkat
94 jauh dari tradisi Karo seperti amak mentar, isap, kampil dan belo yang sudah di-kuhi dan cimpa matah. Bahasa yang digunakan dalam persembahyangan pun menggunakan bahasa tradisional Karo. Meskipun dijalankannya tradisi Pemena tidak akan mengurangi kesakralan dalam menyembah Ida sang Hyang Widhi Wasa karena masih menggunakan dupa dan mantra Trisandya misalnya yang menjadi dasar dari ajaran Hindu. Dengan adanya ajaran Hindu mempengaruhi budaya Pemena karena Veda menjadi penentu benar atau tidak tradisi yang akan dijalankan seperti praktik mengambil darah ayam untuk persembahyangan tidak akan diperbolehkan karena menurut mereka tradisi tersebut tidak baik.
95 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN