B. Keadaan Umum Kecamatan Ngargoyoso
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Identitas Petani responden
Identitas responden merupakan gambaran secara umum dan latar belakang dalam menjalankan suatu kegiatan usahatani baik yang bersifat subsisten maupun usahatani yang sudah komersil. Dalam menjalankan usahatani dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya umur dari petani itu sendiri, tingkat pendidikan, luas lahan yang dimiliki dan pengalaman berusahatani.
a. Umur Petani Responden
Usia produktif dan usia tidak produktif dapat mempengaruhi kegiatan yang dilakukan petani. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh data jumlah petani responden berdasarkan umur. Tabel 17. Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan
Kelompok Umur di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar
No. Kelompok Umur Jumlah Petani
(Orang) Persentase (%) 1. 35 – 39 4 10 2. 40 – 44 1 2,5 3. 45 – 49 5 12,5 4. 50 – 54 4 10 5. 55 – 59 12 30 6. 60 – 64 10 25 7. > 65 4 10 Jumlah 40 100
Sumber : Analisis Data Primer, 2011
Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa jumlah petani responden yaitu 40 orang yang terdiri dari 26 orang umur produktif berkisar dari umur 35-59 tahun, dan 14 orang umur non produktif berumur lebih dari 60 tahun. Dengan demikian sebagian besar usia petani responden termasuk dalam kelompok usia yang produktif, dimana usia ini berpengaruh terhadap produktivitas kerja petani. Dengan banyaknya
petani dalam kelompok umur produktif di suatu daerah memungkinkan daerah tersebut dapat berkembang. Hal ini disebabkan petani pada umumnya lebih mudah menerima informasi dan inovasi baru serta lebih cepat mengambil keputusan dalam penerapan teknologi baru yang berhubungan dengan usahataninya. Dengan kondisi usia tersebut juga diharapkan petani mampu membaca pasar dan memanfaatkan peluang untuk meningkatkan penerimaan usahataninya.
b. Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi petani dalam menjual hasil panen yang berupa jahe. Semakin banyak jumlah anggota keluarga menuntut petani untuk mendapatkan uang yang lebih cepat guna memenuhi kebutuhannya. Anggota keluarga yang aktif dalam usahatani jahe tersebut hanya dua orang yaitu bapak dan ibu sedangkan anggota keluarga yang lain hanya membantu dalam proses penanaman dan pembubunan saja. Berikut ini merupakan jumlah anggota keluarga dari petani responden.
Tabel 18. Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar.
No. Anggota Keluarga Jumlah % 1. 2. 1 – 4 5 – 8 32 8 80 20 Jumlah 40 100
Sumber: Analisis data Primer, 2011
Berdasarkan Tabel 18 dapat diketahui bahwa jumlah anggota keluarga petani responden yang memiliki jumlah anggota 1-4 sebanyak 32 orang atau 80 % yang terdiri dari ayah, ibu, anak dan mertua. Hal ini berarti bahwa selain responden, terdapat anggota keluarga lain yang dapat diajak untuk bermusyawarah dalam pengambilan keputusan usahatani apa yang akan dijalankan. Selain itu anggota keluarga responden tersebut dapat diikutsertakan secara aktif dalam usahatani jahe dan pemasarannya.
c. Pendidikan Petani Responden
Pendidikan petani responden merupakan salah satu faktor penting menerima dan menerapkan teknologi baru disamping kemampuan dan ketrampilan petani itu sendiri. Di samping itu sangat mempengaruhi pola pikir dan pengambilan keputusan dalam pengolahan usahatani jahe dan pemasaran jahe yang dihasilkan.
Tabel 19. Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Pendidikan di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar.
No. Tingkat Pendidikan Jumlah Petani (Orang) Persentase (%) 1. Tamat SD 25 62,5 2. Tamat SMP 12 30 3. Tamat SLTA 2 5 4. Sarjana 1 2,5 Jumlah 40 100
Sumber : Analisis data Primer, 2011
Berdasarkan Tabel 19 diketahui bahwa sebagian besar responden adalah tamat SD sebanyak 25 orang atau 62,5%. Hal ini dapat dikatakan bahwa di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar dapat dikatakan pendidikan masih rendah, ditandai dengan kesadaran untuk menuntut ilmu sebagian besar hanya tamatan SD.
Pendidikan yang dimiliki diharapkan dapat menjadi modal bagi petani untuk memperhatikan keadaan pasar, harga yang terjadi dan pemilihan pedagang yang mau membeli jahe dengan harga tinggi untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Dengan tingkat pendidikan yang rendah sebenarnya petani masih bisa menjalankan usahatani jahe dengan baik, karena mereka sangat memahami dan menguasai budidaya usahatani jahe dari pengalaman yang sudah bertahun-tahun. Selain berpengaruh pada teknik budidaya maka secara tidak langsung akan berpengaruh juga terhadap produktivitas jahe, pemahaman petani responden mengenai bibit jahe yang ditanam, perawatan yang dilakukan yang meliputi; pemupukan,
panyiangan, pembubunan, pengendalian hama yang belum sepenuhnya dilakukan oleh petani responden.
Pendidikan merupakan salah satu faktor untuk keberhasilan penerapan teknologi baru pada suatu daerah yang berhubungan dengan usahatani setempat. Tingkat pendidikan formal maupun non formal sangat mempengaruhi petani dalam pengambilan keputusan mengenai pelaksanaan usahatani.
d. Luas Lahan Usahatani Jahe
Kepemilikan lahan petani akan berpengaruh pada produksi yang dihasilkan. Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang penting. Jika jumlah produksi yang dihasilkan banyak maka akan berpengaruh juga pada penerimaan dan pendapatan petani. Berikut ini merupakan luas lahan usahatani jahe dari petani responden.
Tabel 20. Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. No. Luas Tanam (Ha) Jumlah Petani (Orang) %
1. 2. 3. ≤ 0,5 0,51 ≤ 1 >1 35 5 0 87,5 12,5 0 Jumlah 40 100
Sumber: Analisis Data Primer, 2011
Luas tanam akan berpengaruh pada hasil produksi. Pada lokasi penelitian diketahui bahwa sebagian besar petani responden atau 87,5% memiliki luas lahan ≤ 0,5 Ha. Mayoritas petani jahe didaerah penelitian adalah petani kecil karena mempunyai luas lahan ≤ 0,5 ha. Sebagian besar petani menanam jahe di areal tegalan, dan pekarangan rumah.
e. Pengalaman Usahatani Jahe
Keberhasilan usahatani jahe tidak hanya ditentukan oleh tingkat pendidikan, tetapi juga ditentukan oleh bakat dalam berusahatani jahe dan pengalaman berusahatani jahe. Dari hasil wawancara maka jumlah
petani berdasarkan pengalamannya, dapat dikelompokkan seperti tercantum pada Tabel 21 berikut :
Tabel 21. Jumlah dan Persentase Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani Jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar.
No. Pengalaman Usahatani (Tahun) Jumlah Petani (Orang) Persentase (%) 1. 5 – 11 15 37,5 2. 12 – 18 19 47,5 3. 19-25 6 15 Jumlah 40 100
Sumber : Analisis Data Primer, 2011
Berdasarkan Tabel 21 dapat diketahui bahwa pengalaman petani dalam mengusahakan jahe dalam kurun waktu 5-11 tahun adalah 15 orang atau 37,5 %, sedangkan yang berpengalaman dalam kurun waktu 12-18 tahun sebanyak 19 orang atau 47,5% dan sisanya 6 orang atau 15% berpengalaman mengusahakan jahe selama 19-25 tahun. Pengalaman tersebut menunjukkan lamanya waktu petani/produsen dalam mengusahakan jahe serta keuletan dalam budidaya dan pemasaran jahe. Semakin lama pengalaman tersebut maka keberhasilan dalam usahatani jahe akan lebih mudah dalam pengelolaan maupun dalam pemasarannya. Berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki oleh petani jahe diharapkan untuk kedepannya petani mampu lebih baik lagi dalam menjalankan usahatani jahenya, sehingga mampu mempertahankan serta meningkatkan produktivitas dan pendapatannya.
f. Usahatani Jahe
Usahatani jahe merupakan langkah awal sebelum terjadinya proses pemasaran jahe hingga ke konsumen. Petani jahe sebagai produsen berusaha untuk membudidayakan jahe agar jahe yang dihasilkan dapat diterima oleh konsumen. Pada Tabel 22 berikut ini akan disajikan data mengenai usahatani jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar :
Tabel 22. Usahatani Jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar No Umum Jumlah responden Presentase (%) 1. Jenis Jahe
a. Jahe Gajah (Zingiber Officinale Var. Officinale)
b. Jahe Emprit (Zingiber Officinale R)
c. Jahe Merah (Zinggiber Officinale Linn Var Amarum)
0 40 0 0 100 0 Jumlah 40 100 2. Asal Jahe
a. Beli pada pedagang 15 37,5
b. Membuat sendiri 25 62,5 Jumlah 40 100 3. Sistem Tanam a. Monokultur 4 10 b. Tumpangsari 36 90 Jumlah 40 100
4. Alasan mengelola usahatani jahe
a. Usaha turun menurun 2 5
b. Iklim dan lahan yang memadai 8 20 c. Nilai jual yang tinggi 23 57,5
d. Perawatannya mudah 2 5
e. Merupakan komoditas ekspor 2 5 f. Mempunyai prospek cerah 3 7,5
Jumlah 40 100
Sumber : Analisis Data Primer, 2011
Berdasarkan tabel 22 dapat diketahui bahwa sebanyak 100% atau seluruh responden mengusahakan jahe dengan jenis emprit. Petani responden mengusahakan jahe emprit dengan alasan jenis jahe emprit paling banyak diminati oleh pengusaha jamu tradisional maupun modern.
Saat memulai untuk menanam jahe, sebanyak 15 orang petani memperoleh jahe dengan cara membeli dari pedagang jahe karena mereka percaya bahwa jahe yang dibeli langsung dari pedagang jahe merupakan bibit jahe dengan kulaitas yang baik. Sedangkan 25 orang
petani lainnya membuat sendiri benih yang akan ditanam, bibit jahe ini diperoleh dari sisa panen sebelumnya.
Dari tabel diatas juga ditunjukkan bahwa sebagian besar petani atau 90% petani menggunakan sistem tumpangsari dalam mengusahakan jahenya. Hal ini dikarenakan karena petani responden memanfaatkan sebagian lahannya untuk ditanami cabai, dan sayur-sayuran sehingga jika jahe belum siap dipanen petani dapat memperoleh penghasilan dari penjualan sayur-sayuran tersebut. Untuk penanaman secara monokultur diusahakan oleh 10% atau 4 orang saja, hal ini disebabkan karena usahatani jahe hanya digunakan sebagai usaha sampingan saja bukan usaha pokok sperti PNS, karyawan swasta serta pegawai bank, selain itu lahan yang dimiliki juga lebih sempit jika dibandingkan dengan luas lahan petani lainnya.
Sebanyak 57,7% petani mengusahakan jahe dengan alasan menambah pendapatan karena nilai jual jahe yang cukup tinggi yaitu saat ini mencapai Rp 10.500,00 per kg, sedangkan alasan petani mengusahakan jahe karena iklim dan lahan yang memadai ada 20% petani. Untuk alasan mengusahakan jahe karena prospeknya yang cerah diutarakan oleh 7,5% petani. Hal ini dikarenakan untuk kedepannya jahe dan tanaman obat lainnya akan lebih banyak diminati oleh masyarakat luas sebagai bahan tanaman obat tradisonal dan beberapa petani yang mengusakan jahe karena meneruskan usaha turun menurun dari orang tua, mempunyai peluang untuk menjadi komoditas ekspor serta perawatan yang cukup mudah masing-masing ada 2 orang atau 5% dari petani jahe.
Berdasarkan hasil penelitian, masalah yang sering dihadapi oleh petani dalam menjalankan usahatani jahe yaitu adanya penyakit busuk akar yang menyerang akar dan tunas jahe sehingga menyebabkan jahe mati (gagal panen), selain busuk akar penyakit lain yang sering menyerang tanaman jahe adalah cabuk putih. Selama ini petani dalam menanggulangi penyakit busuk akar dengan cara membuang jahe yang
terserang penyakit tersebut dan menggantinya dengan bibit jahe yang baru, sedangkan untuk menanggulangi serangan cabuk putih petani menyemprotnya dengan menggunakan kolakron dan pestisida. Masalah lain yang dihadapi oleh petani antara lain adalah kurang intensifnya penyuluhan tentang budidaya tenaman jahe yang menyebabkan kurangnya informasi yang diterima petani tentang budidaya jahe. Harga jual yang berfluktuatif secara mendadak disebabkan karena musim yang tidak menentu. Harapan petani mengenai usahatani jahe adalah penyuluhan tentang budidaya jahe dilakukan secara intensif, harga jahe tidak berfluktuatif secara mendadak, usahatani jahe bisa terus bertahan dan berkembang sehingga bisa menambah pendapatan petani.