• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Keadaan Umum Kecamatan Ngargoyoso

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4) Pedagang Besar

Pedagang besar yaitu pedagang yang membeli jahe dalam volume yang relatif banyak dan memiliki modal yang cukup besar yaitu Rp 125.000.000,00. Biasanya pedagang besar membeli jahe dari pedagang pengumpul secara aktif. Maksudnya pedagang besar yang memberi informasi bahwa jahe dari Pedagang Pengumpul telah terjual semua dan memesan kembali untuk melakukan pengiriman ke pedagang besar. Pedagang besar ini berdomisili di dalam dan luar Kabupaten Karanganyar yaitu Jakarta dan Semarang. Volume pembelian pedagang besar dalam satu kali tansaksi berkisar antara 2 sampai 3 ton, sedangkan untuk satu kali pengiriman ke pabrik jamu pedagang besar mampu menyediakan 4 ton jahe. Alat pengangkutan yang digunakan adalah truk.

Pedagang besar juga melakukan kegiatan pemasaran yaitu pembelian, pengangkutan, bongkar muat, transportasi, penyusutan

dan tenaga kerja. Setelah itu pedagang besar melakukan penjualan ke pabrik jamu seperti Jahe Wangi, Akar Sari dan Sido Muncul. 5) Pabrik Jamu

Pabrik jamu merupakan suatu perusahaan yang mengolah jahe menjadi berbagai macam produk seperti minuman serbuk, permen, manisan dan lain sebagainya. pabrik jamu sudah bekerja sama dengan pedagang besar maupun pedagang pengumpul untuk memperoleh jahe yang akan diproduksi. Kegiatan yang dilakukan oleh pabrik adalah fungsi pertukaran yaitu pembelian dan penjualan.

b. Saluran Pemasaran

Saluran pemasaran merupakan jalur dari lembaga pemasaran yang dilalui dalam menyalurkan barang dari produsen ke konsumen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat diuraikan mengenai pola saluran pemasaran jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Pengumpulan data untuk mengetahui berbagai hasil pemasaran jahe yang digunakan, diperoleh dengan cara penelusuran jalur pemasaran jahe mulai dari petani sampai pada pabrik jamu.

Jika digambarkan dalam satu kesatuan, saluran pemasaran yang digunakan produsen jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar tersaji seperti di bawah ini :

Gambar 2. Pola Saluran Pemasaran Jahe Di Kabupaten Karanganyar Berdasarkan bagan/pola saluran pemasaran jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar, melalui beberapa saluran yaitu : 1) Saluran Pemasaran I

Pada saluran pemasaran I ini, petani langsung menjual jahe pada pedagang besar karena jarak yang cukup dekat serta nilai jual yang didapat lebih tinggi. Kegiatan penjualan berlangsung dengan cara petani mengantar jahe ke pedagang besar dengan menggunakan sepeda motor. Biaya resiko, pengangkutan, serta transportasi ditanggung oleh petani. Kemudian pedagang besar menjual jahe tersebut ke pabrik jamu, dengan menggunakan alat angkut berupa truk. Biaya pengangkutan, bongkar muat, transportasi, penyusutan dan tenaga kerja ditanggung oleh pedagang besar.

2) Saluran Pemasaran II

Pada saluran pemasaran II, petani menjual ke pedagang pengumpul dimana petani mendatangi pedagang. Petani harus menanggung biaya pemanenan dan pengangkutan. Pedagang pengumpul melakukan proses pencucian, penjemuran, pengemasan dan penimbangan. Pemasaran yang dilakukan adalah mengirim

Petani Jahe

Pedagang Penebas

Pedagang Pengumpul

Pedagang besar Luar Kota

Pedagang Besar

Pabrik Jamu I III

jahe ke pedagang besar yang berada di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Jahe yang sudah ada di pedagang besar langsung dikirim ke pabrik jamu yang terletak di daerah Solo dan Semarang.

3) Saluran Pemasaran III

Pada saluran pemasaran III, petani menjual ke pedagang penebas dengan sistem tebasan, maksudnya pedagang penebas membeli jahe yang masih dilahan dan belum siap untuk dipanen dengan harga tebasan Rp 9.500.000,00 per ha. Biaya pemanenan dan pengangkutan merupakan tanggungan pedagang penebas. Dari pedagang penebas jahe kemudian dijual ke Pedagang Pengumpul kemudian dikirim pada pedagang besar luar kota. Setelah berada di pedagang pengumpul, dilakukan pencucian dan penjemuran, setelah jahe kering baru jahe dikemas menggunakan karung dan ditimbang. Setelah pengemasan dan penimbangan jahe siap dijual ke Pedagang Besar luar kota yang berdomisili di Jakarta, Semarang dan Solo.

Adapun jumlah petani berdasarkan saluran pemasaran jahe yang digunakan dalam mendistribusikan jahe dapat dilihat pada Tabel 24 dibawah ini :

Tabel 24. Jenis Saluran Pemasaran dan Jumlah Petani Responden di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar

No. Saluran Pemasaran Jumlah Petani %

1. Saluran I 21 52,5

2. Saluran II 12 30

3. Saluran III 7 17,5

Jumlah 40 100

Sumber : Analisis Data Primer, 2011

Berdasarkan Tabel 24 diketahui bahwa saluran pemasaran I merupakan saluran yang paling banyak digunakan oleh petani yaitu sebesar 21 petani responden atau 52,5 % dari 40 petani. Hal ini

disebabkan petani lebih memilih menjual jahe langsung ke pedagang besar karena sudah berlangganan.

Saluran pemasaran II digunakan oleh 30% atau 12 orang petani dari 40 responden. Petani cenderung menjual hasil panennya pada pedagang pengumpul karena jarak yang tidak terlalu jauh dan sebagian sudah berlangganan dengan pedagang pengumpul tersebut. Hal ini dikarenakan petani merasa enggan untuk menjual jahenya ke pedagang besar karena harus mengeluarkan biaya pengangkutan.

Sedangkan saluran III mempunyai presentase yang paling kecil yaitu 17,5% atau 7 orang petani menjual hasil panennya pada pedagang penebas. Hal ini dilakukan karena petani tidak mau mengeluarkan biaya lagi. Sehingga yang menanggung biaya pemanenan, pengangkutan, bongkar muat, resiko, transportasi dan penyusutan adalah pedagang penebas.

4. Biaya, Marjin dan Keuntungan Pemasaran

Proses mengalirnya barang dari produsen ke konsumen memerlukan suatu biaya, dengan adanya biaya pemasaran maka suatu produk akan meningkat harganya. Semakin panjang rantai pemasaran maka biaya yang dikeluarkan dalam pemasaran akan semakin meningkat. Adapun besarnya biaya, keuntungan dan marjin pemasaran jahe pada saluran I, II dan III yang digunakan oleh produsen jahe tersaji pada Tabel 25, 26 dan 27 berikut ini :

Tabel 25. Rata-Rata Biaya, Keuntungan dan Margin Pemasaran Jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar pada Saluran Pemasaran I

No. Uraian Rp/Kg %

1. Petani

a. Harga di Tingkat Petani 9785,71 95,14

b. Biaya Pemasaran

1) Biaya Resiko 133,22 1,29

2) Biaya Pengangkutan 160,43 1,55 3) Biaya bongkar muat 158,64 1,54 4) Biaya Transportasi 163,01 1,58 5) Biaya Penyusutan 131,47 1,27

Total Biaya 746,78 7,26

c. Harga jual yang di terima petani 9785,71 95,14 2. Pedagang Besar

a. Harga Beli 9785,71 95,14

b. Biaya Pemasaran

1) Biaya Pengangkutan 88,80 0,86 2) Biaya Bongkar muat 49,52 0,48 3) Biaya Transportasi 71,67 0.69

4) Biaya Penyusutan 22,42 0,21

5) Biaya Tenaga Kerja 69,76 0,67

Total Biaya 302,17 2,93 c. Keuntungan 197,80 1,92 d. Marjin Pemasaran 500 4,86 e. Harga Jual 10285,71 100 3. Pabrik Jamu Harga Beli 10285,71 100

4. a. Total Marjin Pemasaran 500 4,86 b. Total Biaya Pemasaran 1048,95 10,19

c. Total Keuntungan 197,80 1,92

d. Farmer's Share 95,14

Sumber : Analisis Data Primer, 2011

Berdasarkan tabel 25 diketahui bahwa pada saluran pemasaran I petani mengeluarkan biaya transportasi dari lahan ke rumah petani jahe dengan menggunakan pick up sebab jarak antara lahan dan rumah petani

cukup jauh. Biaya lainnya yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya resiko, pengangkutan, bongkar muat dan penyusutan. Rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk pengangkutan adalah Rp. 88,80 per kg, biaya bongkar muat sebesar Rp. 49,52 per kg, biaya transportasi sebesar Rp. 71,67 per kg, biaya penyusutan sebesar Rp. 22,42 per kg dan biaya tenaga kerja sebesar Rp. 69,76 per kg.

Saluran pemasaran I digunakan oleh 21 orang petani. Hal ini dikarenakan petani sudah lama memiliki pelanggan pedagang besar sehingga tidak terlalu sulit untuk memasarkan jahenya. Proses pemasaran jahe pada saluran I ini biasa dilakukan dengan cara petani langsung mendatangi pedagang besar. Pedagang besar mengeluarkan biaya seperti biaya pengangkutan, bongkar muat, transportasi,penyusutan dan tenaga kerja. Tenaga kerja yang di maksud disini adalah tenaga kerja yang melakukan perajangan, pencucian, penjemuran dan pengemasan jahe. Pedagang besar juga mengeluarkan biaya transportasi untuk pengiriman kepada pabrik jamu dengan menggunakan truk karena jarak antara pedagang besar dan pedagang pabrik jamu adalah ± 25 km. Dalam pemasaran ini marjin pemasaran sebesar Rp 500 per kg. Hal ini dikarenakan ada biaya yang dikeluarkan pada saat memasarkan jahe dari petani sampai pabrik jamu.

Komponen marjin pemasaran terdiri biaya-biaya pemasaran yang diperlukan oleh produsen untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran dan keuntungan lembaga pemasaran. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada saluran I marjin pemasaran per kgnya sebesar Rp 500 atau 4,86%, keuntungan yang diperoleh pedagang besar adalah Rp 197,80 per kg atau 1,92%, sedangkan farmer’s sharenya adalah sebesar 95,14%. Untuk mengukur efisiensi pemasaran yaitu apabila bagian yang diterima produsen < 50% berarti pemasaran belum efisien dan bila bagian yang diterima produsen > 50% maka pemasaran dikatakan efisien. Melihat nilai Farmer's Share yang >50% maka saluran pemasaran I sudah efisien secara ekonomi.

Tabel 26. Rata-Rata Biaya, Keuntungan dan Margin Pemasaran Jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar pada Saluran Pemasaran II

No Uraian Rp/Kg %

1. Petani

a. Harga di Tingkat Petani 9666,67 90,62 b. Biaya Pemasaran

1) Biaya resiko 74,24 0,69

2) Biaya Pengangkutan 89,82 0,84 3) Biaya Bongkar muat 82,15 0,77 4) Biaya Transportasi 89,81 0,84

5) Biaya Penyusutan 82,97 0,77

Total Biaya 419,01 3,92

c. Harga yang di terima petani 9666,67 90,62 2. Pedagang Pengumpul a. Harga Beli 9666,67 90,62 b. Biaya Pemasaran 1) Pengangkutan 82,5 0,77 2) Bongkar muat 50,27 0,47 3) Transportasi 118,88 1,11 4) Penyusutan 36,37 0,34 5) Tenaga Kerja 100 0,93 6) Resiko 50 0,46 Total Biaya 338,32 3,17 c. Keuntungan 161,67 1,51 d. Margin Pemasaran 500 4,68 e. Harga Jual 10166,67 100 3. Pedagang Besar a. Harga beli 10166,67 100 b. Biaya Pemasaran 1) Pengangkutan 88,80 0,83

2) Biaya Bongkar muat 49,52 0,46 3) Biaya Transportasi 71,67 0,67 4) Biaya Penyusutan 22,42 0,21 5) Biaya Tenaga Kerja 69,76 0,65

Total Biaya 302,17 2,83

c. Keuntungan 197,80

d.Harga jual 10666,67 100

4. Pabrik jamu

Harga Beli 10666,67 100

5. a. Total Marjin Pemasaran 1000 9,37 b. Total Biaya Pemasaran 1059,5 9,93

c. Total Keuntungan 359,47 3,37

d. Farmer's Share 90,62

Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa saluran pemasaran II pada jahe lembaga yang terkait yaitu petani, pedagang pengumpul, pedagang besar dan pabrik jamu. Petani pada saluran ini mengeluarkan

biaya resiko sebesar Rp 74,24 per kg, biaya pengangkutan sebesar Rp 89,82 per kg, biaya bongkar muat sebesar Rp 82,15 per kg, biaya

transportasi sebesar 89,81 per kg dan biaya penyusutan sebesar Rp 82,97 per kg sehingga harga yang diterima petani sebesar Rp 9666,67 per kg.

Pada saluran pemasaran II pedagang pengumpul mengeluarkan biaya yaitu biaya pengangkutan, biaya bongkar muat, biaya transportasi, biaya tenaga kerja, biaya resiko dan biaya penyusutan. Biaya paling tinggi adalah biaya transportasi, yaitu sebesar Rp 118,88 per kg. Hal ini disebabkan pedagang pengumpul harus melakukan pengiriman jahe baik didalam maupun luar kota. Sedangkan biaya bongkar muat sebesar Rp 50,27 per kg, biaya pengankutan sebesar Rp 82,5 per kg, biaya tenaga kerja sebesar Rp 100 per kg, biaya resiko sebesar Rp 50 per kg dan biaya penyusutan sebesar Rp. 36,37 per kg. Jumlah biaya yang dikeluarkan pedagang pengumpul sebesar Rp 338,32 per kg. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 161,67 per kg, margin pemasarannya adalah Rp 500, dan harga jual jahe ditingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 10.166,67 per kg.

Biaya yang paling banyak dikeluarkan oleh pedagang besar adalah biaya pengangkutan yaitu sebesar Rp 88,80 per kg, hal ini terjadi karena terkadang pedagang besar melakukan pengangkutan dari tempat pedagang pengumpul guna mengambil jahe yang dipesan. Biaya transportasi menempati posisi kedua yaitu Rp 71,67 per kg, hal ini dikarenakan pedagang besar membutukan alat transportasi yang berupa truk untuk mengangkut dan mengirim jahe ke pabrik-pabrik jamu yang sudah menjadi langganan. Biaya bongkar muat yang ditanggung oleh pedagang besar adalah Rp 49,52 per kg, biaya penyusutan yang ditanggung oleh pedagang besar adalah Rp 22,42 per kg dan untuk upah tenaga kerja yang melakukan

pencucian, perajangan, penjemuran sampai pengemasan dibutuhkan biaya sebesar Rp. 69,76 per kg.

Total biaya pemasaran pada saluran pemasaran II sebesar Rp 1059,5 per kg dengan keuntungan pemasaran sebesar Rp 359,47 per kg. Besarnya biaya dan keuntungan tergantung banyaknya pedagang perantara yang terlibat dalam saluran pemasaran. Berdasarkan Tabel 26 total marjin pemasarannya sebesar Rp 1000 per kg. Besarnya nilai marjin ini disebabkan oleh besarnya biaya pemasaran. Dari saluran pemasaran II memiliki marjin pemasaran yang tinggi hal ini ditunjukkan dengan nilai farmer’s share sebesar 90,62%, sehingga pendapatan yang diterima petani (farmer’s share) tinggi. Untuk mengukur efisiensi pemasaran yaitu apabila bagian yang diterima produsen <50% berarti pemasaran belum efisien dan bila bagian yang diterima produsen >50% maka pemasaran dikatakan efisien. Sehingga saluran pemasaran II sudah efisien secara ekonomis.

Berikut ini rata-rata biaya, keuntungan dan marjin pemasaran Jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar pada saluran pemasaran III.

Tabel 27. Rata-Rata Biaya, Keuntungan dan Marjin Pemasaran Jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar Pada Saluran Pemasaran III

No Uraian Rp/kg %

1. Petani

Harga di Tingkat Petani 9500 93,40 2. Pedagang Penebas

a. Harga Beli Jahe 9500 93,40

b. Biaya Pemasaran

1) Biaya pengangkutan 77,17 0,72 2) Biaya bongkar muat 57,14 0,53 3) Biaya transportasi 54,77 0,51 4) Biaya penyusutan 34,28 0,31 5) Biaya resiko 50 0,46 Total Biaya 273,34 2,55 c. Keuntungan 440,94 4,11 d. Marjin Pemasaran 714,28 6,66 e. Harga Jual 10214,28 95,30 3. Pedagang pengumpul a. Harga Beli 10214,28 95,30 b. Biaya Pemasaran 1) Pengangkutan 82,5 0,76 2) Bongkar muat 50,27 0,46 3) Transportasi 118,88 1,10 4) Penyusutan 36,37 0,33 5) Tenaga Kerja 100 0,93 6) Resiko 50 0,46 Total Biaya 338,32 3,15 c. Keuntungan 161,67 1,50 d. Margin Pemasaran 500 4,66 e. Harga Jual 10717,28 100

4. Pedagang Besar luar kota

Harga Beli 10717,28

5. a. Total Marjin Pemasaran 1214,28 11,33 b. Total Biaya Pemasaran 611,66 5,70

c. Total Keuntungan 602,61 5,62

d. Farmer's Share 93,40

Berdasarkan Tabel 27 dapat diketahui bahwa pada saluran pemasaran III ini petani tidak mengeluarkan biaya pemasaran. Hal ini dikarenakan semua biaya pemasaran seperti biaya resiko, pengangkutan, bongkar muat, transportasi dan penyusutan sudah ditanggung oleh pedagang penebas sesuai dengan perjanjian yang telah disepati oleh kedua belah pihak. Pedagang penebas harus mempersiapkan kemasan sendiri dengan karung plastik yang digunakan saat membawa jahe setelah ditimbang jahe yang sudah dikemas dibawa pulang oleh pedagang penebas, selain itu pedagang penebas mengeluarkan biaya transportasi dengan menggunakan sepeda motor karena jarak yang dekat antara lahan petani jahe dan rumah penebas. Pedagang penebas berbeda dengan pedagang pengumpul/pedagang besar yang mengambil jahe di rumah petani atau menunggu petani mengantar langsung jahe pada mereka dan siap langsung jual, tetapi pada pedagang penebas yang sifatnya membeli jahe langsung dari lahan.

Saluran pemasaran III digunakan oleh 7 orang petani saja. Proses pemasaran jahe pada saluran III ini biasa dilakukan dengan cara petani didatangi oleh pedagang penebas jauh sebelum jahe panen. Dalam pemasaran ini marjin pemasaran sebesar Rp 714,28 per kg. Hal ini dikarenakan ada biaya yang dikeluarkan pada saat memasarkan jahe kepada pedagang pengumpul. Pada saluran III pedagang pengumpul juga mengeluarkan sejumlah biaya pemasaran. Biaya yang dikeluarkan antara pedagang penebas dan pedagang pengumpul berbeda beda. Hal ini terjadi karena penetapan harga yang berbeda antar pedagang.

Komponen marjin pemasaran terdiri biaya-biaya pemasaran yang diperlukan oleh produsen untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran dan keuntungan lembaga pemasaran. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada saluran III marjin pemasaran per kgnya sebesar Rp 1214,28 per kg atau 11,33% sedangkan farmer’s sharenya adalah sebesar 93,40%. Hal ini dikarenakan petani didatangi langsung oleh pedagang penebas

sehingga tidak ada biaya yang di keluarkan petani. Saluran pemasaran III termasuk saluran pemasaran yang sudah efisien karena nilai farmer’s sharenya > 50% yaitu farmer’s sharenya sebesar 93,40%.

5. Efisiensi Pemasaran

Sistem pemasaran dianggap efisien apabila dianggap mampu menyampaikan hasil-hasil dari produsen kepada konsumen dengan biaya wajar serta mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayarkan konsumen.

Untuk mengetahui perbandingan tingkat efisiensi saluran pemasaran jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar secara ekonomis dapat diketahui dengan cara membandingkan besarnya total biaya pemasaran, total marjin pemasaran dan besarnya farmer’s share seperti dapat dilihat padaTabel 28.

Tabel 28. Perbandingan Total Biaya, Total Keuntungan dan Total Marjin Pemasaran serta Farmer’s Share dari Ketiga Saluran Pemasaran Jahe di Kabupaten Karanganyar

No Uraian Saluran I Saluran II

Saluran III 1 Total Biaya (Rp/kg) 1.048,95 1.059,5 611,66 2 Total Keuntungan (Rp/kg) 197,80 359,47 602,61 3 Marjin Pemasaran (Rp/kg, %) 500 4,86 1000 9,38 1.214,28 6,6 4 Farmer's Share (%) 95,14 90,62 93,40 Sumber : Analisis Data Primer, 2011

Efisiensi pemasaran secara ekonomis merupakan salah satu cara untuk mengetahui efisiensi saluran pemasaran yaitu dengan menggunakan indikator bagian yang diterima petani produsen atau biasa disebut dengan farmer’s share. Besar kecilnya farmer’s share dipengaruhi oleh besar kecilnya marjin pemasaran. Semakin rendah marjin pemasaran maka semakin besar bagian yang diterima petani, dengan demikian saluran pemasaran tersebut dikatakan efisien.

Berdasarkan Tabel 28, saluran pemasaran II memiliki marjin sebesar Rp 1.000 per kg yang lebih rendah dari marjin saluran pemasaran III sebesar Rp 1.214,28 per kg. Sedangkan marjin pada saluran I paling rendah yaitu sebesar Rp 500 per kg. Nilai farmer’s share pada saluran pemasaran I sebesar 95,14%, saluran pemasaran II sebesar 90,62% dan saluran pemasaran III yaitu sebesar 93,40%. Berdasarkan tinggi dan rendahnya marjin pemasaran dan farmer’s share, maka saluran pemasaran I merupakan saluran pemasaran yang paling efisien secara ekonomis di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar. Hal ini dikarenakan nilai farmer’s sharenya paling tinggi.

Saluran pemasaran I di Kabupaten Karanganyar adalah saluran pemasaran yang paling efisien secara ekonomis dibandingkan saluran pemasaran II dan saluran pemasaran III. Hal ini dikarenakan saluran pemasan I mempunyai nilai farmer’s share yang paling tinggi yaitu 95,14%. Pada saluran ini petani langsung mendatangi pedagang besar sehingga harga yang diterima lebih tinggi.

Saluran pemasaran II di Kabupaten Karanganyar merupakan saluran yang efisien secara ekonomis, dilihat dari nilai farmer’s share nya >50% yaitu sebesar 90,62 %. Marjin pemasaran pada saluran II sebesar Rp 1000 per kg. Sedangkan saluran pemasaran III juga merupakan saluran pemasaran yang efisien secara ekonomis, karena memiliki farmer’s share (bagian yang diterima petani) yaitu sebesar 93,40%.

Berdasarkan hasil penelitian ketiga saluran pemasaran semuanya menguntungkan. Tetapi pada saluran pemasaran I secara ekonomis paling efisien dibandingkan dengan saluran pemasaran II, dan saluran pemasaran III. Hal ini disebabkan, margin terendah dan farmer’s share tertinggi karena semakin rendah marjin pemasaran, semakin tinggi bagian yang diterima petani (farmer’s share) dan semakin pendek saluran pemasaran maka saluran pemasaran semakin efisien.

B. Pembahasan

1. Efisiensi Ekonomi Pemasaran Jahe a. Saluran dan Lembaga Pemasaran Jahe

Pemasaran pada prinsinya merupakan proses penyampaian barang dari produsen ke konsumen. Pola saluran pemasaran seperti fungsi pertukaran, fungsi pengadaan barang secara fisik dapat berjalan dengan baik. Pemasaran merupakan kegiatan yang penting dalam siklus produksi. Produksi yang baik akan sia-sia karena harga pasar yang rendah. Oleh karena itu, tingginya produksi tidak mutlak memberikan keuntungan yang tinggi tanpa disertai pemasaran yang baik.

Dalam memasarkan komoditi pertanian memerlukan keberadaan lembaga pemasaran yang membantu menyalurkan barang. Dengan adanya lembaga pemasaran, produsen dapat menjual hasil produksinya kepada konsumen, dan konsumen bisa mendapatkan barang-barang kebutuhannya. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan suatu lembaga pemasaran sangatlah penting.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa terdapat 3 (tiga) tipe saluran pemasaran yang digunakan oleh petani jahe. Dalam kegiatan pemasaran petani ada yang menjual pada pedagang besar kemudian dari pedagang besar langsung dijual ke pabrik jamu, ada juga yang langsung menjual ke pedagang pengumpul yang kemudian dijual ke pedagang besar kemudian baru dijual ke pabrik untuk saluran pemasaran I dan II. Selain itu pada saluran III petani yang menjual pada pedagang penebas, dan atau langsung ke pedagang pengumpul yang kemudian dijual ke pedagang luar kota, kegiatan ini berlanjut sampai ke konsumen melalui lembaga pemasaran agen yang berada pada di luar Kabupaten Karanganyar , yaitu Wonogiri, Surakarta, Semarang dan Jakarta.

Saluran pemasaran I merupakan saluran yang paling banyak digunakan oleh petani jahe yaitu sebanyak 21 (dua puluh satu) orang dari 40 responden. Petani menjual jahenya ke pedagang besar, dengan alasan harga jual yang ditawarkan lebih besar bila dibandingkan dengan menjual ke pedagang pengumpul. Jarak yang dekat antara rumah petani dengan rumah pedagang besar juga menjadi salah satu alasan mereka menjual langsung ke pedagang besar, karena petani tidak perlu mengeluarkan biaya pengangkutan yang terlalu besar.

Saluran pemasaran II digunakan oleh petani responden dalam memasarkan jahe sebanyak 12 (dua belas) orang. Dalam saluran ini, jahe petani menjual langsung ke pedagang pengumpul dengan cara pembelian per kilogram dimana petani langsung mendatangi Pedagang Pengumpul. Dari Pedagang Pengumpul tersebut kemudian menjualnya pada pedagang besar dan baru dijual ke pabrik-pabrik jamu tradisional maupun modern yang ada dilingkup Kabupaten Karanganyar dan sekitarnya.

Saluran III digunakan oleh petani responden dalam memasarkan jahe sebanyak 7 (tujuh) orang. Dalam saluran ini petani menjual jahe pada pedagang penebas dengan alasan agar mereka tidak menanggung resiko yang tinggi apabila hasil panen tidak baik, tidak mengeluarkan biaya karena biaya panen ditanggung pedagang penebas dan pedagang pengumpul. Sedangkan penjualan dilakukan secara per kilogram petani mempunyai alasan bahwa mereka mengetahui hasil secara transparan (untung atau rugi) dari hasil bertani jahe tersebut, mengetahui hasil yang sebenarnya dari usahatani jahe yang mereka usahakan.

b. Biaya, Keuntungan dan Margin Pemasaran Jahe

Proses pemasaran jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar, besarnya biaya yang dikeluarkan produsen dan setiap lembaga pemasaran yang terlibat dalam saluran pemasaran berbeda-beda. Besarnya biaya pemasaran sangat dipengaruhi oleh kegiatan

petani didalam menjual jahe dan setiap saluran pemasaran jahe dan lembaga pemasaran tersebut.

Hasil analisis menunjukan bahwa keempat saluran pemasaran menunjukan bahwa saluran II saluran pemasaran yang paling banyak mengeluarkan biaya pemasaran, Pada saluran pemasaran ini besarnya biaya pemasaran adalah Rp 1059,5 per kg.

Keuntungan merupakan balas jasa yang diterima oleh lembaga pemasaran atas kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyampaikan produk-produk sampai pada konsumen akhir. Dalam pemasaran jahe di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar keuntungan yang diterima oleh produsen dan lembaga pemasaran berbeda-beda,

Dokumen terkait