• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM ARENA PENELITIAN

6.5 Ikhtisar

Program siaran Radio Pertanian Ciawi cukup memberikan pengaruh bagi pendengarnya, diantaranya terhadap tingkat kognitif dan afektif. Berdasarkan nilai pre-test dan post-test didapatkan hasil bahwa telah terjadi peningkatan kognitif sebesar 26,7 persen, sementara afektif pendengar juga terjadi peningkatan meskipun hanya sekitar 6,7 persen. Selain itu nilai uji beda untuk tingkat kognitif sebesar 7, 96 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 menunjukkan bahwa Ho ditolak, atau dapat disimpulkan nilai pre-test dan post-test keduanya berbeda nyata.

Sementara nilai uji beda untuk tingkat afektif sebesar 4,50 dengan signifikansi

0,000 < 0,05 juga menunjukkan bahwa Ho ditolak, atau nilai pre-test dan post-test keduanya berbeda nyata.

Hal ini mengindikasikan bahwa program siaran radio yang diperdengarkan kepada responden memberikan pengaruh bagi peningkatan kognitif dan afektif pendengar. Namun antara keterdedahan responden pada siaran radio dengan tingkat kognitif dan afektifnya mengenai materi siaran tidak terdapat hubungan.

Begitupun dengan penilaian responden terhadap program siaran dengan tingkat kognitif dan afektif responden juga tidak terdapat hubungan.

 

7.1 Kesimpulan

1. Sebagian besar responden memiliki frekuensi mendengarkan yang tergolong sedang dengan lama mendengarkan yang rendah. Selain itu penilaian responden terhadap program siaran yang mencakup penilaian terhadap materi siaran, cara penyajian, penyiar, durasi siaran, dan waktu siaran tergolong baik penilaiannya.

2. Keterdedahan responden pada siaran radio dan penilaiannya terhadap program siaran radio dipengaruhi oleh karakteristik pendengar. Di antara karakteristik responden yang terdiri dari variabel umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan kepemilikan media massa hanya satu variabel yang berhubungan dengan keterdedahan pada siaran radio. Karakteristik responden yang berhubungan dengan keterdedahannya pada siaran radio yakni hanya kepemilikan media massa dengan lama mendengarkan. Hal ini disebabkan oleh terbaginya waktu untuk memanfaatkan seluruh jenis media massa yang responden miliki membuat lama untuk mendengarkan siaran radio menjadi rendah. Sementara karakteristik responden yang berhubungan dengan penilaiannya terhadap program siaran yakni kepemilikan media massa dengan penilaian terhadap cara penyajian, penyiar, dan durasi siaran. Selain itu pekerjaan responden juga berhubungan dengan penilaiannya terhadap materi siaran dan cara penyajian. Di samping itu umur responden juga berhubungan dengan penilaiannya terhadap waktu siaran. Keterdedahan responden pada siaran radio yang berhubungan dengan penilaiannya terhadap program siaran radio yakni lamanya responden mendengarkan siaran radio dengan penilaiannya terhadap durasi siaran. Kategori responden yang lama mendengarkannya rendah menilai durasi siaran sudah sesuai. Sementara kategori responden yang lama mendengarkannya tinggi menilai durasi siaran tidak sesuai.

3. Program siaran Radio Pertanian Ciawi memberikan pengaruh bagi pendengarnya, diantaranya terhadap tingkat kognitif dan afektif responden.

Program siaran radio yang diperdengarkan kepada responden (kelompok pendengar) memberikan pengaruh berupa peningkatan kognitif dan afektif bagi responden mengenai materi siaran di bidang pertanian. Berdasarkan nilai pre-test dan post-test yang didapatkan oleh responden terdapat perbedaan yang signifikan dan menunjukkan adanya perubahan nilai dari sebelum responden mendengarkan program siaran radio dengan setelah mendengarkan. Dilihat dari nilai rataan program siaran RPC mampu meningkatkan kognitif responden sebesar 30,0 persen dan meningkatkan afektif sebesar 6,7 persen.

Namun antara keterdedahan responden pada siaran radio dan penilaiannya terhadap program siaran radio tidak terdapat hubungan dengan tingka kognitif dan afektif responden.

7.2 Saran

Bagi pihak RPC sebaiknya memperhatikan materi-materi siaran yang akan disajikan. Materi-materi siaran yang akan disajikan setiap harinya dianjurkan selalu informasi terbaru yang belum diketahui oleh pendengar, karena terkadang pendengar sudah mengetahui terlebih dahulu materi yang disajikan. Oleh karena itu hendaknya pihak RPC terus melakukan inovasi-inovasi ataupun kreasi – kreasi yang lebih menarik dalam menyajikan program siaran. Selain itu RPC perlu melakukan survei kepada pendengarnya mengenai program seperti apa yang dibutuhkan oleh mereka namun tidak menghilangkan ciri khas dari RPC yang mengedepankan bidang pertanian.

RajaGrafindo Persada.

Effendy, Onong Udjang. 2003. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung [ID]: PT. Citra Aditya Bakti.

Faisal, Sanapiah. 2005. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta [ID]: PT.

RajaGrafindo Persada

Kaban, Herika Karunia. 2009. Pola Penyiaran Radio Bahana Kusuma Fm ( 99,5 Mhz ) Dan Minat Dengar. Studi Deskriptif tentang Pola Penyiaran Radio Bahana Kusuma Fm Dalam Menarik Minat Dengar Anak Muda Kota Kabanjahe. [Skripsi]. [Internet]. [Dikutip 24 April 2011]. Medan [ID]:

Universitas Sumatera Utara. Dapat diunduh dari:

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/16924

Kermite, Martinus Philipus. 1997. Upaya Meningkatkan Frekuensi Mendengarkan Radio Gajah Mada Melalui Pemilihan Program Siaran yang Diminati Pendengar di Kotamadya Semarang. [Tesis]. [Internet]. [Dikutip 24 April 2011]. Semarang [ID]: Universitas Diponegoro. Dapat diunduh dari:

http://eprints.undip.ac.id/8682/1/1997MM165.pdf.

Mardianah. 2010. Pengaruh Siaran Radio dalam Penyebaran Informasi Teknologi Budidaya Padi Sawah terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Petani. Kasus Desa Kluting Jaya, Kecamatan Weda Selatan, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. [Tesis]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor.

McQuail, Denis. 2005. McQuail’s Mass Communication Theory. London [ENG]:

Saege Publication Ltd.

Morissan, M.A. 2005. Media Penyiaran, Strategi Mengelola Radio Dan Televisi.

Tangerang [ID]: Ramdina Prakarsa.

Mulyandari, Retno SH, Saleh, Amiruddin, Dadan. 2010. Revitalisasi Radio Pertanian Ciawi (RPC) sebagai Pusat Informasi Pembangunan Pertanian.

Jurnal Informatika Pertanian. Vol. 19, No. 10. [Internet]. [Dikutip tanggal 15 September 2011]. Dapat diunduh dari:

http://www.litbang.deptan.go.id/warta-ip/pdf-file/5.retno_vol19-1-10.pdf.

Nasution, Zulkarimen. 1998. Komunikasi Pembangunan. Jakarta [ID]: PT RajaGrafindo Persada.

Oktaviana, Yessy. 2010. Pengaruh Radio terhadap Sikap Mahasiswa. Studi Korelasional Pengaruh Program Acara Akustar di Radio Star Fm terhadap Sikap Bermusik Mahasiswa Fakultas Sastra USU. [Skripsi]. [Internet]

[Dikutip 24 April 2011]. Medan [ID]: Universitas Sumatera Utara. Dapat diunduh dari : http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/18233.

Puspitasari, Noviana. 2009. Persepsi Khalayak Pendengar Tentang Mutu Siaran Radio Pertanian Ciawi. Studi Kasus Desa Cileungsi Kecamatan Ciawi dan Desa Ciriung Kecamatan Cibinong. [Skripsi]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor.

Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung [ID]: PT Remaja Rosdakarya.

Riswandi. 2009. Dasar – Dasar Penyiaran. Jakarta [ID]: Graha Ilmu.

Rousydiy, T.A. Lathief. 1985. Dasar – Dasar Rhetorica Komunikasi dan Informasi. Jakarta [ID]: Firma “Rimbow” Medan.

Rubin, Alan M. 2005. The Uses-and-Gratifications Perspective Of Media Efects.

Dalam: Bryant J, Zillman D, editor: Media effects: Advances in theory and research. Hal 525-548. London [ENG]: Lawrence Erlbaum Associates.

Setiaman, Agus. 2003. Radio Siaran: Konsep Pendahuluan. Dalam: Mulyana, Deddy, editor: Dunia komunikasi dan dunia kita. Jurnal Komunikasi dan Informasi. Hal 128-133. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Padjajaran.

Syarchie, Yasmin Muslihat. 2008. Efektivitas Program Penyuluhan Pertanian Melalui Siaran Radio. Kasus Petani Pendengar Siaran Radio Pertanian Ciawi (RPC). [Skripsi]. Bogor [ID]: Institut Pertanian Bogor.

Singarimbun M, Effendi S. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta [ID]: LP3ES Soekartawi. 2005. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Jakarta [ID]: UI Press.

Tubbs SL, Moss S. 2001. Konteks – Konteks Komunikasi. (Alih bahasa dari bahasa Inggris oleh Mulyana, Deddy ). Bandung [ID]: PT Remaja Rosdakarya. Judul Asli : Human Communication.

[UU] Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.

                     

LAMPIRAN

Lampiran 1. Peta Lokasi Penelitian Desa Cileungsi Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.

Wilayah Lokasi Penelitian Sumber:

http://maps.google.co.id/maps?hl=id&q=desa+cileungsi+kecamatan+ciawi+loc:near:Cia wi,+Jawa+Barat 

  

Lampiran 2. Daftar Nama Mitra RPC di Desa Cileungsi Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor.

No Nama Umur Pekerjaan Alamat

1 IWS 24 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

2 NAR 25 tahun Ternak Kp. Ciherang Gede

3 EST 29 tahun Budi daya ikan Kp. Ciherang Gede

4 ABD 23 tahun Ternak Kp. Ciherang Gede

5 DDI 37 tahun Pengemudi Kp. Ciherang Gede

6 HRY 29 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

7 USP 38 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

8 DST 32 tahun Ternak Kp. Ciherang Gede

9 ABQ 45 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

10 HAR 32 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

11 DIS 30 tahun wiraswasta Kp. Ciherang Gede 12 ABN 40 tahun Petani Kp. Ciherang Gede 13 UCM 48 tahun Ibu rumah tangga Kp. Ciherang Gede

14 RSV 19 tahun Pelajar Kp. Ciherang Gede

15 AID 19 tahun Pelajar Kp. Ciherang Gede

16 ENG 27 tahun Ibu rumah tangga Kp. Ciherang Gede

17 MIK 30 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

18 DOK 19 tahun Pelajar Kp. Ciherang Gede

19 DSH 22 tahun Buruh Kp. Ciherang Gede

20 EVN 20 tahun Ibu rumah tangga Kp. Ciherang Gede

21 SAN 45 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

22 ABK 32 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

23 KOM 37 tahun Ibu rumah tangga Kp. Ciherang Gede 24 SUG 45 tahun Pedagang Kp. Ciherang Gede 25 SIH 27 tahun Ibu rumah tangga Kp. Ciherang Gede

26 MMR 44 tahun Buruh Kp. Ciherang Gede

27 NIS 35 tahun Ibu rumah tangga Kp. Ciherang Gede

28 AHD 45 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

29 AKD 24 tahun Wiraswasta Kp. Ciherang Gede

30 JAW 38 tahun Petani Kp. Ciherang Gede

Lampiran 3. Materi Siaran Radio

Peluncuran Varietas Unggul Baru (VUB) Padi Oleh : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Jln Raya No. 9 Sukamandi, Subang 41256

RINGKASAN

Varietas Unggul Baru (VUB) Padi merupakan salah satu komponen dasar penting dalam peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani padi. VUB merupakan dukungan teknologi yang merupakan komponen dasar sekaligus menjadi faktor kunci dalam suatu usaha tani padi. Pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian telah melepas berbagai VUB padi, baik padi inbrida maupun hibrida. Tahun 2008-2010 telah dilepas sekitar 30 VUB padi; sebanyak 13 varietas inbrida untuk padi sawah irigasi dengan nama baru Inpari (Inbrida Padi Sawah Irigasi), enam varietas Inpara (Inbrida Padi Sawah Rawa Lebak dan Pasang Surut), enam varietas Inpago (Inbrida Padi Gogo), dan lima diantaranya varietas Hipa (Hibrida Padi). Pelepasan varietas baru tersebut diharapkan dapat memenuhi keperluan VUB di yang dapat beradaptasi di berbagai daerah sesuai dengan kondisi lingkungan spesifik.

PENDAHULUAN

Peningkatan produksi pangan, utamanya padi merupakan program strategis pemerintah. Perlu diingat bahwa padi merupakan tulang punggung pembangunan subsektor tanaman pangan, yang mempunyai peranan penting dalam mencapai keberhasilan pangan, serta yang tidak kalah pentingnya adalah member kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Ada beberapa hal yang harus dicermati sehubungan dengan usaha peningkatan produksi beras, antara lain: (a) jumlah penduduk meningkat hingga lebih dari 235 juta jiwa, (b) konsumsi beras per kapita adalah 137 kg, (c) laju pertumbuhan produksi stagnan, (d) degradasi dan konversi lahan, (e) perubahan iklim sulit diprediksi, (f) adopsi teknologi, infrastruktur, permodalan, kelembagaan, jaminan harga panen. Pemerintah telah mencanangkan suatu gerakan yang gaungnya bersifat nasional, yaitu Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN).

Target yang ingin dicapai pada tahun 2007 adalah peningkatan 2 juta ton bahkan selanjutnya produksi ditingkatkan 5% per tahun hingga tahun 2009. Salah satu upaya meningkatkan produksi padi dalam P2BN dilakukan melalui pendekatan pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan inovasi teknologi andalan dalam pencapaian peningkatan produksi padi nasional ke depan. PTT adalah suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui peraturan atau opsi komponen teknologi yang diterapkan secara partisipatif bersama petani. PTT merupakan teknologi di dalamnya terdapat beberapa komponen yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi fisik, sosial-ekonomi, budaya, dan keinginan petani. Salah satu komponen ang merupakan komponen dasar dan merupakan faktor kunci dalam pelaksanaan PTT adalah Varietas Unggul Baru (VUB). Hasil kajian yang telah dilakukan ternyata VUB memberikan kontribusi lebih dari 60% terhadap peningkatan hasil.

VUB (Varietas Unggul Baru)

Ciri: Produksi tinggi, memiliki sifat toleransi terhadap PTT, dan cekaman lingkungan serta sifat lain.

Benih dan Varietas Unggul Padi Sawah

• Tipe VUB: anakan banyak (> 20 /rmpn) ± 150 gbh/malai

• Tipe VUTB: anakan sedikit (< 15/rmpn) ± 250 gbh/malai

• Tipe VUH: asal generasi persilangan pertama (F1) memiliki potensi hasil lebih tinggi dari VUB yang dominan di suatu areal (Tidak untuk dibenihkan)

Tahun 2008 – 2009 Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Penelitian Tanaman Padi telah melepas sebanyak 13 varietas unggul baru Inpari (Inbrida Padi Sawah Irigasi) dan 5 varietas unggul baru Inpara (Inbrida Padi Rawa Pasang Surut dan Lebak). Varietas unggul baru tersebut diharapkan dapat menggantikan varietas unggul yang telah lama digunakan seperti IR64, Ciherang, dsb. Mulai 2008 penamaan varietas padi tidak lagi menggunakan nama sungai, namun menggunakan nama INPA (Inbrida Padi) seperti halnya nama HIPA (Hibrida Padi). Kesepuluh varietas unggul padi sawah irigasi tersebut, berturut-turut sebagai berikut: Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, Inpari 4, Inpari 5 Merawu, Inpari 6 Jete, Inpari 7 Lanrang, Inpari 8, Inpari 9 Elo, dan Inpari 10 Laeya. Pemberian

nama tersebut mencerminkan juga ekosistem lokasi pengembangannya. Nama Inpari 5, Inpari 6, Inpari 7, Inpari 9, dan Inpari 10, Inpari 11, Inpari 12, dan Inpari 13 berturut-turut diikuti nama tempat asal pengusul pelepasan varietas. Lima varietas padi rawa pasang surut dan rawa lebak yang telah dilepas, berturut-turut diberi nama Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, dan Inpara 5.

Secara umum Inpara 1-13 cocok ditanam untuk ekosistem sawah dataran rendah hingga ketinggian sekitar 600 m dari permukaan laut. Ketigabelas varietas tersebut memiliki tekstur nasi pulen dengan potensi hasil berkisar antara 7-12 t/ha.

Masing-masing keunggulan dari Inpari 1-10, antara lain sebagai berikut:

1. Inpari 1: umur sangat genjah (108 HSS), tahan terhadap wereng coklat biotipe 2, serta tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) strain 3, 4 , dan 8.

2. Inpari 2: agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2, 3, agak tahan terhadap HDB strain 3 serta agak tahan terhadap virus tungro inokulum 103 dan 031.

3. Inpari 3: agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2, agak tahan terhadap HDB strain 3 serta agak tahan terhadap virus tungro inokulum 013, 031, 073.

4. Inpari 4: agak tahan terhadap HDB strain 3 dan 4 serta agak tahan terhadap virus tungro inokulum 031 dan 073.

5. Inpari 5 Merawu: agak tahan terhadap wereng coklat biotipe 1, 2, dan 3, agak tahan terhadap HDB strain 3, serta agak tahan terhadap virus tungro inokulum 031 dan 013. Keunggulan mutu spesifik dari varietas ini adalah memiliki kandungan Fe tinggi (18-33 ppm) pada beras pecah kulitnya.

6. Inpari 6: memiliki ketahanan terhadap wereng coklat dan HDB sama dengan Inpari 1 namun umur lebih panjang (118 HSS) dan potensi hasil mencapai 12 t/ha.

7. Inpari 7: agak tahan terhadap HDB strain III, toleran terhadap virus tungro inokulum 013.

8. Inpari 8: tahan terhadap penyakit HDB Strain III, tahan terhadap virus tungro inokulum 013 dan 031 serta agak tahan inokulum 073.

9. Inpari 9 Elo: agak tahan terhadap HDB strain III, tahan terhadap virus tungro inokulum 013 dan 031 serta agak terhadap tahan inokulum 073.

10. Inpari 10 laeya: agak tahan terhadap wereng coklat biotipe I dan 2, agak tahan terhadap bakteri HDB III dan agak rentan strain IV dan rentan terhadap virus tungro varian 013, 031 dan 131

11. Inpari 11: agak tahan terhadap hama wereng Batang coklat biotipe 1 dan 2 serta rentan terhadap biotipe 3, tahan terhadap penyakit HDB strain III, agak tahan terhadap strain IV dan VII, tahan terhadap penyakit Blas ras 13

12. Inpari 12: agak tahan terhadap hama wereng Batang coklat biotipe 1 dan 2 serta rentan terhadap biotipe 3, tahan terhadap penyakit HDB strain III, agak tahan terhadap strain IV dan VII, tahan terhadap penyakit Blas ras 033, agak tahan terhadap ras 133 dan 073 serta rentan terhadap ras 173.

13. Inpari 13: umur sangat genjah, tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, 2, dan 3, tahan terhadap penyakit bias ras 033, potensi hasil 8,0 ton/ha.

Inbirda padi rawa (Inpara) merupakan varietas padi untuk ditanam di lahan rawa lebak dan pasang surut serta daerah rawan banjir. Secara umum potensi hasil kelima varietas yang telah dilepas berkisar antara 5,6 – 7,6 ton/ha. Karakteristik masing-masing Inpara adalah sebagai berikut:

1. Inpara 1: umur 131 HSS, nasi pera, tahan HDB dan Blas, agak tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2, serta toleran keracunan Al dan Fe.

2. Inpara 2: umur 128 HSS, nasi pulen, tahan HDB dan Blas, agak tahan wereng coklat biotipe 1 dan 2, serta toleran keracunan Ai dan Fe.

3. Inpara 3: umur 127 HSS, nasi pera, tahan Blas ras 101, 123, 141, dan 372, agak tahan wereng coklat biotope 3, serta toleran keracunan Al dan Fe.

4. Inpara 4: umur 135 HSS, nasi pera, toleran rendaman 14 hari fase vegetatif.

5. Inpara 5: umur 115 HSS, tekstur nasi sedang, toleran rendaman 14 hari fase vegetatif.

Lampiran 4. Hasil Olah Data antar Variabel yang Berhubungan

1. Hasil Analisis Hubungan Karakteristik Pendengar dengan Keterdedahannya pada Siaran Radio (Menggunakan SPSS 17.0)

a. Kepemilikan Media Massa * Lama Mendengarkan

Correlations

kepemilikan media massa lain

lama mendengarkan Spearman's rho kepemilikan media massa

lain

Correlation Coefficient 1.000 .533**

Sig. (2-tailed) . .002

N 30 30

lama mendengarkan Correlation Coefficient .533** 1.000

Sig. (2-tailed) .002 .

N 30 30

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

2. Hasil Analisis Hubungan Karakteristik Pendengar dengan Penilaiannya Terhadap Program Siaran (Menggunakan SPSS 17.0)

a. Umur * Penilaian Terhadap Waktu Siaran

Correlations

umur waktu siaran Spearman's rho umur Correlation Coefficient 1.000 -.389*

Sig. (2-tailed) . .034

N 30 30

waktu siaran Correlation Coefficient -.389* 1.000

Sig. (2-tailed) .034 .

N 30 30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

b. Pekerjaan * Penilaian Terhadap Materi Siaran

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 7.046a 2 .030

Likelihood Ratio 7.479 2 .024

Linear-by-Linear Association

.088 1 .767

N of Valid Cases 30

a. 4 cells (66,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 2,50.

c. Pekerjaan * Penilaian Terhadap Cara Penyajian

Chi-Square Tests

Value df

Asymp. Sig. (2-sided)

Pearson Chi-Square 6.835a 2 .033

Likelihood Ratio 7.209 2 .027

Linear-by-Linear Association

.075 1 .785

N of Valid Cases 30

a. 4 cells (66,7%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,00.

d. Kepemilikan Media Massa * Penilaian Terhadap Cara Penyajian

Correlations

kepemilikan

media massa lain cara penyajian Spearman's rho kepemilikan media massa

lain

Correlation Coefficient 1.000 -.391*

Sig. (2-tailed) . .033

N 30 30

cara penyajian Correlation Coefficient -.391* 1.000

Sig. (2-tailed) .033 .

N 30 30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

e. Kepemilikan Media Massa * Penilaian Terhadap Penyiar

Correlations

kepemilikan

media massa lain penyiar Spearman's rho kepemilikan media massa

lain

Correlation Coefficient 1.000 -.469**

Sig. (2-tailed) . .009

N 30 30

penyiar Correlation Coefficient -.469** 1.000

Sig. (2-tailed) .009 .

N 30 30

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

f. Kepemilikan Media Massa * Penilaian Terhadap Durasi Siaran

Correlations

kepemilikan

media massa lain durasi siaran Spearman's rho kepemilikan media massa

lain

Correlation Coefficient 1.000 -.419*

Sig. (2-tailed) . .021

N 30 30

durasi siaran Correlation Coefficient -.419* 1.000

Sig. (2-tailed) .021 .

N 30 30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

g. Lama Mendengarkan * Penilaian Terhadap Durasi Siaran

Correlations

lama

mendengarkan durasi siaran Spearman's rho lama mendengarkan Correlation Coefficient 1.000 -.446*

Sig. (2-tailed) . .013

N 30 30

durasi siaran Correlation Coefficient -.446* 1.000

Sig. (2-tailed) .013 .

N 30 30

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Lampiran 5. Dokumentasi

Saat responden mengisi pre-test dan post-test