• Tidak ada hasil yang ditemukan

Iklan Terlarang pada Website yang Melanggar Kode Etik

Dalam dokumen PELARI. Pelanggaran Etika Periklanan (Halaman 147-152)

Maulana Rayhan Ali Setiawan

Tanpa dipungkiri, di era teknologi komunikasi dan informasi saat ini, hampir semua sisi kehidupan manusia dikelilingi oleh hadirnya iklan. Terlebih lagi akses internet sekarang mudah di akses dimana saja sehingga, penyebaran suatu iklan sangatlah cepat. Iklan hadir sejak manusia bangun tidur di pagi hari sampai tertidur di malam hari. Kegiatan periklanan hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran yang dikemas sangat menarik para konsumen dan dikemas dengan kata kata yang bersifat persuasif, yang berguna mempengaruhi pola konsumsi konsumen dan atau calon konsumen yang melihatnya. Untuk itu, sebagai konsumen dan atau calon konsumen, dalam kehidupan sehari-hari kita harus dapat berhati-hati bila ingin membeli suatu produk yang iklannya beredar luas di masyarakat, karena bisa saja berdampak baik dan tidak menutup kemungkinan juga berdampak buruk bagi para konsumen nya. (Gunadi dan Oisina, 2015 ).

Secara umum dapat dikatakan bahwa pesan dalam iklan harus bersifat persuasif, dan berarti penting bagi para target audience. Dalam tampilannya, banyak kegiatan periklanan yang ditampilkan sudah sesuai dengan etika periklanan, dan tidak sedikit juga iklan yang sengaja dibuat tidak dengan ketentuan-ketentuan dalam etika periklanan. Etika sendiri juga disebut sebagai ilmu normatif, yang dengan sendirinya berisi ketentuan-ketentuan (norma-norma) dan nilai – nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. (Gunadi dan Oisina, 2015).

Iklan online atau iklan digital adalah bentuk iklan yang mengirimkan pesan melalui internet. Untuk setiap situs web, iklan

adalah sumber pendapatan (Madiyant, 2021). Iklan online yang terpajang pada situs web pun ada berbagai macam seperti, iklan banner, iklan banner swapping, iklan skyscraper, iklan sponsorship, dan interstitial. Iklan tidak hanya dibuat dalam bentuk yang menarik dan kreatif namun etika periklanan perlu diperhatikan.

Etika periklanan adalah ukuran kewajaran nilai dan kejujuran di dalam sebuah iklan. Menurut Persatuan Perusahaan Periklanan (P31), etika periklanan diartikan sebagai norma dan panduan yang mesti diikuti oleh para politisi periklanan dalam mengemas dan menyebarluaskan pesan iklan kepada khalayak ramai baik melalui media massa maupun media luar ruang. Sementara itu, etika periklanan dalam EPI disebutkan bahwa etika periklanan adalah ketentuan-ketentuan normatif yang menyangkut profesi dan usaha periklanan yang telah disepakati untuk dihormati, ditaati, dan ditegakkan oleh semua asosiasi dan lembaga pengembannya (Kertamukti, 2015).

Dalam keseharian kita dalam beraktivitas, kita bisa mengetahui ada iklan dari suatu produk yang dengan bebas menjatuhkan kompetitornya, bahkan ada iklan yang saat pertama kali beredar langsung mendapatkan berbagai tanggapan negatif karena menimbulkan kontroversi dan kegelisahan di kehidupan masyarakat (Joel J Davis, 2013).

Menurut riset yang saya lakukan, ternyata masih banyak iklan–iklan yang bersebaran dimana–mana dengan tidak ketentuan yang ada dalam Etika Pariwara Indonesia (EPI). EPI dibuat sebagai acuan penayangan iklan agar iklan tersebut menjadi iklan yang baik dan berkualitas. Seringkali kita temui iklan-iklan di laman situs web yang kita kunjungi. Tanpa kita sadari iklan itu adalah iklan yang melanggar EPI bahkan melanggar UU yang berlaku. Seperti iklan judi online. Di bawah ini gambar iklan judi yang tayang di situs web.

Gambar 3.32 Iklan banner judi online di situs streaming film.

Iklan ini saya temukan pada situs streaming film di RebahinMovie. Bahkan tidak sedikit iklan-iklan judi online sudah bertebaran di situs-situs manapun. Iklan ini mengajak dan seolah menjanjikan orang-orang yang melihat iklan tersebut untuk ikut melakukan kegiatan judi online. Yang sebenarnya tanpa disadari orang-orang iklan ini adalah salah satu iklan yang tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam etika periklanan, karena isi di dalam iklan tersebut menawarkan atau mengajak konsumen untuk melakukan judi online, sedangkan yang kita ketahui kegiatan judi itu adalah kegiatan yang dilarang baik dilakukan secara online maupun offline tertulis dalam pasal 303 bis ayat 1 KUHP, pasal tersebut berisi ancaman pidana bagi pelaku judi.

Dan jika kita menganut dalam EPI. Iklan ini sudah melanggar EPI pasal 2.25 yang isinya tentang segala bentuk perjudian dan pertaruhan tidak boleh diiklankan, baik secara jelas maupun tersamar. Lagipula tidak ada orang-orang yang mendapat kekayaan dari kegiatan judi.

Gambar 3.33 Iklan banner judi online di situs web berita.

Iklan berikut ini juga sama sering kita jumpai di beberapa situs-situs online seperti berita, streaming film dan lain-lain. Dan seperti yang sudah kita bahas di iklan sebelumnya bahwasannya kegiatan judi itu adalah kegiatan yang dilarang baik dilakukan secara online maupun offline tertulis dalam pasal 303 ayat 1 KUHP, pasal tersebut berisi ancaman pidana bagi pelaku judi. Dan jika kita menganut dalam EPI. Iklan ini sudah melanggar EPI pasal 2.25. yang isinya tentang segala bentuk perjudian dan pertaruhan tidak boleh diiklankan, baik secara jelas maupun tersamar. Kalimat

“Garansi Modal Kembali 100%” dalam iklan juga melanggar etika periklanan. Kalimat ini dianggap berlebihan seperti yang sudah dijelaskan dalam EPI tentang ketentuan, huruf A pasal 2 ayat 3.8 yang menyatakan bahwa iklan tidak boleh menggunakan kata-kata yang berlebihan seperti “Garansi 100% modal kembali”, atau ungkapan lain yang bermakna sama. Hal ini juga diatur dalam UU RI No. 8 Tahun 1999 pasal 9 ayat (1) (j) yang menyatakan tentang penggunaan kata-kata yang berlebihan, yang tidak mengandung risiko atau efek sampingan tanpa keterangan yang lengkap.

Jadi, beberapa iklan diatas itu adalah contoh iklan yang tidak sesuai dengan EPI. Dalam Pasal 20 UU Perlindungan Konsumen juga dijelaskan bahwa pelaku usaha periklanan bertanggung jawab

atas iklan yang diproduksi dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut. Karena adanya larangan memproduksi iklan yang melanggar etika periklanan tersebut, maka menjadi relevan apabila kita merujuk kepada Etika Pariwara Indonesia yang diterbitkan oleh Dewan Periklanan Indonesia yang diakses dari laman Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. 

EPI dijelaskan mengenai ragam iklan, salah satunya adalah judi dan taruhan, segala bentuk perjudian dan pertaruhan tidak boleh diiklankan, baik secara jelas maupun tersamar.

Jadi menjawab pertanyaan Pengiklan, mengiklankan website prediksi bola dengan menampilkan spanduk di tempat usaha Pengiklan yang di dalam website tersebut terdapat tautan yang mengarah ke perjudian, merupakan hal yang dilarang/tidak boleh diiklankan. Karena pengiklan sebagai pelaku usaha tempat hiburan malam memasang spanduk/mengiklankan website yang menyediakan tautan yang mengarah kepada perjudian, maka Pengiklan dapat dijerat pidana penjara paling lama 2 tahun atau pidana denda paling banyak Rp500 juta.

Dalam dokumen PELARI. Pelanggaran Etika Periklanan (Halaman 147-152)