• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4) Iklim Mikro dan Kenyamanan

Iklim mikro adalah keadaan atmosfer ruang luar (outdoor space) pada luasan area tertentu yang terdiri dari unsur radiasi matahari, angin, suhu udara, kelembaban udara dan curah hujan (Ariani 2000). Unsur – unsur iklim tersebut berhubungan erat dengan tingkat kenyamanan dan aktivitas manusia. Oleh karena itu, keadaan iklim mikro suatu tapak perlu diperhitungkan ketika akan direncanakan untuk tujuan tertentu. Gambar 13 menunjukkan fluktuasi suhu udara, kelembaban udara, curah hujan serta kecepatan dan arah angin pada tapak dan daerah sekitarnya pada periode tahun 2010.

Berdasarkan data dari BMKG Kota Tegal tahun 2010, suhu maksimum pada tapak dan daerah sekitarnya berkisar antara 30,3 oC – 32,2 oC dan suhu minimum berkisar antara 24,6 oC – 25,9 oC (Gambar 13a). Sementara kelembaban udara berkisar antara 79% - 85%, dimana kelembaban tertinggi terjadi pada bulan Januari dan Desember (Gambar 13b). Adapun curah hujan teringgi terjadi pada bulan April dengan jumlah curah hujan sebanyak 308,2 mm dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Juli dengan jumlah curah hujan sebanyak 91,9 mm (Gambar 13c).

Tingkat kenyamanan di suatu area dapat dilihat secara kuantitatif melalui besarnya nilai THI (Temperature Humidity Index). Menurut Fandeli (2009) dalam Azmi (2010), di Indonesia suatu area dikatakan nyaman apabila memiliki nilai THI antara 21 - 27. Tabel 5 berikut ini menunjukkan hasil penilaian tingkat kenyamanan pada tapak berdasarkan rumus THI, yang diperoleh dengan memasukkan nilai suhu (T) minimum dan maksimum serta kelembaban udara (RH).

Tabel 5. Hasil Penilaian Tingkat Kenyamanan Pada Tapak

Suhu (oC) RH (%) THI Keterangan

24.6 85.0 23.86 > 21 25.2 81.5 24.27 > 21 25.7 79.0 24.62 > 21 30.3 85.0 29.39 > 27 31.5 81.5 30.33 > 27 32.2 79.0 30.85 > 27

Hasil perhitungan tersebut menunjukkan, bahwa iklim mikro pada tapak masih berada pada batasan standar kenyamanan bagi pengguna jika dalam keadaan suhu rendah. Tetapi ketika dalam keadaan suhu tinggi, iklim mikro tapak berada di atas batasan standar kenyamanan bagi pengguna. Oleh karena itu, perlu dilakukan penambahan elemen peneduh pada tapak, baik yang bersifat alami seperti pohon maupun yang bersifat buatan seperti gazebo dan shelter.

Ga mbar 12. P eta Ana li sis Ta na h

Berdasarkan pengamatan di lapangan, para pengunjung ramai beraktivitas di pinggir pantai ketika pagi dan sore hari. Pada saat menjelang siang hari sekitar pukul 10.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB, tingkat radiasi matahari dan suhu udara dirasakan cukup tinggi sehingga para pengunjung mencari tempat-tempat yang teduh seperti di bawah pohon dan saung-saung. Elemen peneduh berupa pohon berkanopi dirasakan efektif dalam memodifikasi iklim mikro pada lahan terbuka, seperti pantai. Selain memberi naungan dan mereduksi efek radiasi matahari, pohon juga mampu menurunkan suhu yang ada di sekitarnya sampai beberapa derajat serta mengurangi penetrasi air hujan dan mengontrol kecepatan angin. Gambar 14 menunjukkan penyebaran tingkat radiasi pada tapak.

Kecepatan angin maksimal rata-rata yang melintasi kawasan objek wisata PAI dan daerah sekitarnya yaitu sebesar 20 knot (37,04 km/jam). Kecepatan angin tertinggi terjadi pada bulan Februari dengan kecepatan maksimal 43 knot (79.64 km/jam) menuju arah tenggara. Sementara kecepatan angin terendah terjadi pada bulan Juli dengan kecepatan maksimal 12 knot (22,22 km/jam) menuju arah timur laut. Meskipun kecepatan angin tertinggi terjadi pada bulan Februari, hal ini tidak sampai menimbulkan masalah pada tapak dan daerah sekitarnya, karena arah angin menuju tenggara. Justru yang harus diwaspadai yaitu pada bulan April, dimana kecepatan angin berada pada kecepatan maksimal rata-rata (20 knot) dengan arah menuju barat daya. Inilah salah satu penyebab sebagian wilayah Kelurahan Mintaragen, khususnya yang dekat dengan laut (termasuk tapak) sering terkena bencana rob setiap tahunnya. Oleh karena itu, diperlukan penambahan sabuk hijau pantai untuk mengurangi resiko terjadinya bencana tersebut.

5) Hidrologi

Sungai Gung merupakan salah satu drainase kota yang melintasi Kelurahan Mintaragen dan juga menjadi batas alam bagi kawasan objek wisata PAI. Panjang Sungai Gung sekitar 7,5 km dengan debit air sekitar 0,875-116 m3/detik. Sungai Gung banyak mendapatkan limbah dari buangan kota, limbah domestik (rumah tangga) dan buangan dari industri kecil (logam, tahu dan krupuk). Menurut pihak KLH Kota Tegal, kualitas air Sungai Gung digolongkan ke dalam Mutu Air Kelas II, dimana air hanya dapat digunakan untuk sarana rekreasi air, budidaya ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi tanaman dan peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Hal ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah RI No.82 Tahun 2001. Dari hasil pengamatan pihak KLH tahun 2011, beberapa parameter sudah berada di atas baku mutu air kelas II, seperti BOD, COD, DO, total fosfat, belerang sebagai H2S, MBAS, Fecal Coliform dan total coliform. Oleh karena itu, keberadaan mangrove di muara sungai dan sabuk hijau sungai perlu dijaga supaya polutan-polutan tersebut dapat diendapkan sebelum sampai ke Laut Jawa. Dengan begitu dampak pencemaran laut dapat dikurangi.

Air yang digunakan sebagian besar warga Kelurahan Mintaragen dan para pedagang di kawasan PAI bersumber dari air tanah dangkal dengan kedalaman berkisar antara 5-14 meter. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan pemanfaatan air tanah juga meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat menyebabkan penurunan muka air tanah, penurunan mutu air tanah dan penyusupan air laut di daerah pantai. Bahkan dapat menyebabkan terjadinya

Ga mbar 14. P eta Ana li sis I kli m

amblesan tanah. Semua itu dapat dicegah dengan cara memaksimalkan penyerapan air hujan ke dalam tanah, sehingga ketersediaan air tanah akan selalu tercukupi. Cara ini dapat ditempuh melalui pembuatan lubang – lubang resapan biopori, sumur – sumur resapan serta memperbanyak tegakan pohon dan mempertahankan pohon – pohon yang telah dewasa.

Relief tapak yang relatif datar menyebabkan aliran air di permukaan tanah (run off) berjalan kurang baik. Setiap musim hujan datang sering kali terjadi genangan air di beberapa titik pada tapak, seperti Gambar 15. Kondisi ini tentunya sangat mengganggu para pengunjung yang datang. Adapun Gambar 16 yaitu hasil analisis spasial aspek hidrologi lokasi studi berdasarkan parameter run off.

Gambar 15. Genangan – genangan air di tapak pada musim hujan

Kondisi sistem aliran drainase yang kurang baik semakin memperburuk keadaan tersebut. Limbah yang dihasilkan para pedagang dan sampah – sampah penduduk yang terbawa aliran air hujan menyebabkan penyumbatan pada saluran drainase. Kondisi ini menyebabkan pendangkalan dan juga menimbulkan bau tidak sedap akibat sampah organik yang terurai. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembangunan kembali jalan utama dalam tapak dengan menggunakan material yang masih memungkinkan air hujan dapat meresap ke dalam tanah. Selain itu, perlu didukung juga dengan pengendalian sampah dan limbah yang dihasilkan para pedagang serta pembuatan sistem saluran drainase yang dikombinasikan dengan lubang resapan biopori.

Dokumen terkait