Istilah “Ilmu Pengetahuan Sosial”, disingkat IPS, merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan mnengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies”
dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di negara- negara Barat seperti Australia dan Amerika Serikat. Nama “IPS” yang lebih dikenal social studies di negara lain itu merupakan istilah hasil kesepakatan dari para ahli atau pakar di Indonesia dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu, Solo. IPS sebagai mata pelajaran di persekolahan, pertama kali digunakan dalam kurikulum 1975. Namun, Pengertian IPS ditingkat persekolahan itu sendiri mampunyai perbedaan makna, disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik khususnya antara IPS untuk sekolah dasar (SD) dengan IPS sekolah menengah pertama(SMP) dan IPS unutuk sekolah menengah atas (SMA). Pengertian IPS dipersekolahkan tersebut ada yang berarti nama mata pelajaran yang berdiri sendiri, ada yang berarti gabungan (integrated) dari sejumlah mata pelajaran atau disiplin ilmu, dan
ada yang berarti program pengajaran. Perbebdaan ini dapat pula diidentifikasi dari perbedaan pendekatan yang diterapkan pada masing-masing jenjang persekolahan tersebut (Sapriya, 2011: 19-20).
2. Pengertian IPS
Menurut beberapa para ahli mengartikan IPS adalah sebagai berikut : a. Menurut Enok Maryani (2011: 7) IPS adalah bahan kajian yang
terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi dari konsep-konsep dan ketrampilan disiplin ilmu sejarah, geografi, sosiologi, antropologi dan ekonomi yang diorganisasikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pembelajaran.
b. Menurut Trianto (2011: 171) IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu social, seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, polotik, hukum, dan budaya. Ilmu pengetahuan social dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena social yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu social (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya) c. Menurut Sapriya (2009: 19) IPS merupakan nama mata pelajaran di
tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies” dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di negara- negara Barat seperti Australia dan Amerika Serikat.
Menurut penulis dalam beberapa pendapat diatas bahwa ilmu social yaitu ilmu yang menganalisis atau mempelajari fakta, peristiwa yang berkaiatan dengan perilaku manusia yang sekarang maupun yang masa lampau. Dan mempelajari suatu disiplin ilmu social salah satunya ekonomi, geografi, dan sosialogi.
3. Tujuan Pembelajaran IPS
Tujuan IPS menurut NCSS (Sunal, 1993: 5) tujuan social studies adalah ” is to prepare young people to be humane, rational, participating, citizens in a world that is becoming increasingly interdependent” artinya menyiapkan generasi muda agar menjadi manusia yang manusiawi,
berfikir rasional, warga Negara yang partisipatif, di dunia yang semakin ketergantungan. Tujuan IPS ini akan tercapai dengan baik manakala bahan pendidikan (content) diorganisasikan secara variasi mulai dari pendekatan transdisiplin.
Dari uraian tersebut tampak bahwa IPS bersifat terpadu dan transdisipliner dari ilmu-ilmu social, bertujuan menganalisis dan menyintesis (mengambil kesimpulan atau makna) secara kritis dari setiap fakta, peristiwa, kejadian baik masa lalu, maupun sekarang agar dapat mengantisipasi kehidupan di masa yang akan datang.
Tujuan Pendidikan IPS yaitu menjadikan warga yang partisipatif dan bertanggung jawab, memberikan pengetahuan dan pengalaman hidup karena mereka adalah bagian dari petualangan hidup manusia dalam prespektif ruang dan waktu, mengembangkan berfikir kritis dari pemahaman sejarah, geografi, ekonomi, politik, dan lembaga social, tradisi dan nilai-nilai masyarakat dan Negara mengembangkan sikap kritis dan analitis dalam mengkaji kondisi manusia (Enok, Maryani, 2011: 11).
Menurut Rudy Gunawan (2011: 21) tujuan pembelajaran IPS menurut penjelasan pasal 37 UU No. 2003 bahwa “bahan kajian ilmu pengetahuan sosial, antara lain ilmu bumi, sejarah, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat”.
Tujuan Pembelajaran IPS adalah untuk mendidik dan memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta membekali siswa untuk melanjutkanpendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (Trianto, 2011: 174)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS yaitu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik agar lebih peka terhadap masalah sosial yang ada disekitar masyarakatnya.
Pembelajran IPS ini menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan pada siswa. Penekanan pembelajarannya bukan sebatas pada upaya
mentransfer ilmu kepada siswa melainkan terletak pada upaya agar mereka mampu menjadikan apa yang dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami kehidupan lingkungan sekitarnya.
4. Model Pembelajaran IPS
Pada uraian dibawah ini akan dibahas model pembelajaran ketrampilan berfikir (thinking skill). Ada dua focus model desain pembelajaran untuk ketrmpilan berpikir ialah ketrampilan berpikir kritis (critical thinking skill) dan ketrampilan berpikir kreatif (creative thinking skill). Pada hakikatnya, model desain pembelajaran merupakan alternative model yang dapat dipilih oleh guru untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar IPS. Prinsip model desain pembelajaran berpikir kritis dan kreatif memiliki beberapa kesamaan dengan inquiri, ialah sama-sama untuk membantu anak berlatih berpikir dan memecahkan berbagai masalah kehidupan pribadi siswa maupun kemasyarakatan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap model desain pembelajaran inkuiri akan sangat membantu dalam memahami desain pembelajaran berpikir.
Menurut Ennis (1987) yang di kutip dalam buku Sapriya, menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan istilah yang digunkan untuk suatu aktivitas reflektif untuk mencapai tujuan yang memuat keyakinan dan perilaku yang rasional.
Tujuan berpikir kritis adalah untuk menilai suatu pemikiran, menaksir nilai bahkan mengevaluasi pelaksanaan diri suatu pemikiran dan nilai tersebut. berpikir kritis mendorong munculnya pemikiran-pemikiran baru (Sapriya, 2009: 143-144).
E. Penelitian tindakan kelas (PTK)