• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI A.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI A."

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Pengertian Metode Probing Prompting

1. Pengertian Metode Pembelajaran

Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu “Methodos‟‟ yang artinya cara atau jalan yang ditempuh.

Adapun definisi metode menurut para ahli antara lain:

a. Menurut Rothwell & Kazanas

Metode adalah cara, pendekatan, atau proses untuk menyampaikan informasi.

b. Menurut Titus

Metode adalah rangkaian cara dan langkah yang tertib dan terpola untuk menegaskan bidang keilmuan.

c. Menurut Macquarie Metode adalah suatu cara melakukan sesuatu, terutama yang berkenaan dengan rencana tertentu.

(http://dedikurniawanstmikpringsewu.wordpress.com/2013/07/24/

pengertian-dan-definisi-metode-penelitian-dan-metode- penelitian).

Berdasarkan pendapat para ahli penulis dapat menyimpulkan bahwa metode yang menunjang pada suatu pembelajaran yaitu menurut Rothwell & Kazanas karena dalam suatu proses pembelajaran harus adanya suatu metode dimana metode ini yang artinya cara untuk menyajikan bahan pembelajaran agar tercapainya suatu tujuan pengajaran tersebut.

Adapun pengertian lain tentang metode merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru dengan penggunaan yang bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Menguasai metode mengajar merupakan keniscayaan, sebab seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik apabila tidak menguasai metode secara tepat (Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry

8

(2)

Sutikno, 2011: 15). Oleh karena itu, metode mengajar dapat diartikan sebagai suatu cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Adapun peranan metode sebagai alat untuk menciptakan proses belajar dan mengajar (Nana Sudjana, 2002: 76).

Jadi dapat disimpulkan dari beberapa pegertian diatas bahwa metode adalah suatu cara atau alat, teknik untuk mencapai tujuan pembelajaran agar berlangsungnya proses belajar mengajar dengan tertib.

Metode secara harfiah berarti “cara”. Secara umum metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Kata “pembelajaran” berarti segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Jadi metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan (M. Sobry Sutikno, 2008: 84).

Metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru, dalam menjalankan fungsinya yang merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran lebih bersifat prosedural yaitu yang berisi tahapan tertentu, sedangkan teknik adalah cara yang digunakan, yang bersifat implementatif. Dengan pendekatan lain metode yang dipilih oleh masing-masing guru adalah sama, tetapi mereka menggunakan teknik yang berbeda (Hamzah B. Uno, 2012: 2).

Metode pembelajaran adalah seluruh perencanaan atau prosedur maupun langkah-langkah kegiatan pembelajaran termasuk pilihan cara penilaian yang akan dilaksanakan. Metode pembelajaran dapat dianggap sebagai suatu prosedur atau proses yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan pembelajaran. (Suyono dan Hariyanto, 2011: 19).

(3)

2. Pengertian Metode Probing Prompting

Menurut arti kata Probing adalah penyelidikan atau pemeriksaan. Sedangkan Prompting adalah mendorong atau menuntun. Adapun menurut beberapa para ahli pengertian Probing Prompting adalah sebagai berikut:

a. Menurut Miftahul Huda (2014: 281) pembelajaran Probing Prompting adalah pembelajaran dengan cara menyajikan serangkain pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali gagasan siswa sehingga dapat melejitkan proses berfikir yang mampu mengaitkan pengetahuan dan pengalaman siswa dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya, siswa mengkonstruksi konsep, prinsip dan aturan menjadi pengetahuan baru, dan dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.

Pembelajaran Probing Prompting sangat erat kaitannya dengan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada saat pembelajaran ini disebut dengan probing question. Probing question adalah pertanyaan yang bersifat menggali untuk mendapatkan jawaban lebih dalam dari siswa yang bermaksud untuk mengembangkan kualitas jawaban, sehingga jawaban berikutnya lebih jelas, akurat, dan beralasan sedangkan Prompting question dapat memotivasi siswa untuk memahami suatu masalah dengan lebih mendalam sehingga siswa mampu mencapai jawaban yang dituju. Selama proses pencarian dan penemuan jawaban atas masalah tersebut, mereka berusaha menghubungkan pengetahuan dan pegalaman yang telah dimiliki dengan pertanyaan yang akan dijawab. Proses tanya jawab dalam pembelajaran dengan cara menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. Siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, karena setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Berdasarkan penelitian

(4)

Priatna (Sudarti, 2008) proses Probing Prompting dapat mengaktifkan siswa dalam belajar yang penuh tantangan, sebab ia menuntut konsentrasi dan keaktifan. Selanjutnya, perhatian siswa terhadap pembelajaran yang sedang dipelajari cenderung lebih terjaga karena siswa selalu mempersiapkan jawaban sebab mereka harus selalu siap jika tiba-tiba ditunjuk oleh guru.

b. Menurut Nurhamiyah dan Muhamad Jauhar (2014: 243) Probing Prompting adalah suatu ketrampilan untuk memberikan penguatan, pemakaian yang tepat dari teknik penguatan ini akan menimbulkan sikap yang positif bagi siswa serta mengaktifkan partisipasi dalam kegiatan belajar. Probing question adalah pertanyaan yang sifatnya menggali untuk mendapatkan jawaban lebih lanjut dari siswa guna mengembangkan kualitas jawaban, yang pertama. Sehingga berikutnya lebih jelas, akurat serta lebih beralasan. Sedangkan Prompting question dapat digunkan sebagai teknik untuk menntun siswa agar isinya dapat menemukan jawaban benar secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. Siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, karena setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab.

c. Menurut Suyatno (2009: 63) dalam jurnal yang dikutip oleh Ayu Dyah Ayu Widyastuti (2014) menyatakan bahwa metode pembelajaran Probing Prompting adalah:

suatu metode pembelajaran dengan menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari, digunakan agar dapat membantu siswa mengingat apa yang telah mereka baca.

Penulis simpulkan bahwa pembelajaran Probing Prompting adalah suatu metode pembelajaran dengan cara memberikan

(5)

serangkan pertanyaan yang bersifat menuntun dan menggali pengetahuan siswa, sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan dengan pengetahuan yang ada pada diri siswa dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.

3. Fungsi dan Kegunaan Metode Probing Prompting

Dengan adanya metode Probing Prompting ini sangat membantu guru untuk menyelidiki dan memeriksa siswa serta mendorong siswa agar berperan aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan metode ini juga terjadi suatu kedekatan antar siswa dengan guru karena terjadinya suatu interaksi tanya jawab didalam kelas. Dan di metode ini juga seorang guru dituntut untuk senyum, sapa dan tidak mengeluarkan aura yang cemberut sehingga siswa tidak canggung atau takut dan tanggap kepada guru, sehingga dalam proses belajar mengajar tersebut terjaadi suasana yang nyaman, ceria dan menyenangkan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut.

Sehingga guru dalam mengajar berlangsung dengan lancar dan tidak hilang pula sikap sopan santun antara siswa kepada gurunya.

(http://herdy07.wordpress.com/2009/04/22/model-pembelajaran- probing-prompting/)

4. Langkah-Langkah Metode Probing Prompting

Menurut Miftahul Huda (2014: 282-283) Langkah-langkah pembelajaran Probing Prompting dijabarkan melalui tujuh teknik sebagai berikut:

a. Guru menghadapkan siswa pada situasi baru, misalkan dengan memperhatikan gambar, rumus, atau situasi lainnya yang mengandung permasalahan.

b. Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil dalam merumuskannya.

(6)

c. Guru mengajukan persoalan kepada siswa yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus (TPK) atau indikator kepada seluruh siswa.

d. Menunggu beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk merumuskan jawaban atau melakukan diskusi kecil.

e. Menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan.

f. Jika jawabannya tepat, maka guru meminta tanggapan kepada siswa lain tentang jawaban tersebut untuk meyakinkan bahwa seluruh siswa terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung.

Namun, jika siswa tersebut mengalami kemacetan untuk jawaban atau jawaban yang diberikan kurang tepat, tidak tepat, atau diam, maka guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain yang jawabannya merupakan petunjuk jalan penyelesaian jawaban.

Kemudian, guru memberikan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, hingga siswa dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan kompetensi dasar atau indikator. Pertanyaan yang diajukan pada langkah keenam ini sebaiknya dierikan pada beberapa siswa yang berbeda agar seluruh siswa terlibat dalam seluruh kegiatan Probing Prompting.

g. Guru mengajukan pertanyaan akhir pada siswa yang berbeda untuk lebih menekankan bahwa TPK atau indikator tersebut benar-benar telah dipahami oleh seluruh siswa.

5. Keunggulan dan Kelemahan Metode Probing Prompting Keunggulan dari metode ini diantaranya:

a. Mendorong siswa berfikir aktif.

b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas sehingga guru dapat menjelaskan kembali.

c. Perbedaan pendapat antara siswa dapat dikompromikan atau diarahkan pada suatu diskusi.

(7)

d. Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun ketika itu siswa sedang ribut, yang mengantuk kembali segar dan hilang ngantuknya.

e. Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.

Kekurangan dari metode ini diantaranya:

a. Siswa merasa takut, apalagi guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani dengan menciptakan suasana yang tidak tegang melainkan akrab.

b. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berfikir dan mudah dipahami siswa.

c. Waktu sering banyak terbuang apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua, atau tiga orang.

d. Jumlah siswa yang banyak tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.

http://ayuface.wordpress.com/2010/12/25/pembelajaran probing- prompting.

B. Pengertian Motivasi Belajar Siswa 1. Pengertian Motivasi

Istilah motivasi berasal dari bahasa latin yaitu “movere” yang artinya menggerakan. Adapun menurut beberapa para ahli makna motif diartikan sebagai berikut:

a. Menurut Hamzah B Uno (2011: 3) mendefinisikan bahwa motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan aktifitas tertentu, demi mencapai tujuan terrtentu.

b. Menurut Ngalim Purwanto (2008: 60) mengemukakan motif adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu.

c. Menurut Surybarata (1984) dalam bukunya Eveline Siregar (2011: 49) motif adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu

(8)

tersebut untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan.

Jadi penulis simpulkan pengertian motif adalah daya upaya yang dimilki dalam diri seseorang yang dmendorong dirinya untuk melakukan suatu tindakan atau melakukan aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.

Berdasarkan pengertian diatas, makna motivasi menjadi berkembang. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif diluar diri individu atau hadiah. Sebagai suatu masalah didalam kelas. Motivasi adalah proses pembangkitan mempertahankan, dan mengontrol minat-minat. Motivasi ini sangat penting karena motivasi adalah syarat mutlak seseorang dalam melakukan proses belajar.

Adapun pengertian motivasi menurut beberapa para ahli sebagai berikut:

a. Menurut ames dan ames yang dikutip oleh Ahmad Fauzi (2013: 297) didefinisikan motivasi sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungan. Sebagai contoh, seorang siswa yang percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas, akan termotivasi untuk melakukan tugas tersebut. Konsep diri yang positif ini menjadi motor prnggerak bagi kemauannya.

b. Menurut Mc. Donald yang dikutip oleh M. Sobry Sutikno (2008: 75) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “felling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.

c. Menurut Devies (1991: 2019) motivasi adalah kekuatan tersembunyi di dalam diri kita, yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas.

Jadi penulis simpulkan dari berbagai pendapat di atas bahwa motivasi merupakan kekuatan (power motivation), daya pendorong

(9)

(driving force), untuk melakukan aktifitas tertentu agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Motivasi belajar tidak cukup dari diri sendiri melainkan dari sekelilinya baik itu guru, teman, keluarga maupun tujuan pembelajaran yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa untuk mendapat prestasi dan hasil belajar yang baik.

Motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha melakukan suatu perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenhi kebutuhannya. Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah serta ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. (Eveline, 2011: 75) Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat diartikan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat dicapai. Motivasi sangat diperlukan didalam kegiatan belajar, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu. Dalam konsep ini siswa akan berusaha mencapai suatu tujuan karena dirangsang oleh manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh.

Motivasi siswa tercermin melelui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang berbagai kesulitan. Motivasi juga ditunjukan melalui intensitas untuk kerja dalam melakukan suatu tugas (Ahmad Fauzi, 2013: 298).

Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu (1) kebutuhan, (2) dorongan, dan (3) tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa dan ketidak seimbangan antara apa yang ia miliki dengan apa yang ia harapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan atau mencapai tujuan.

Dorongan yang berorientasi pada tujuan tersebut merupakan inti motivasi (M. Sobry Sutikno, 2008: 75-76).

(10)

Adapun pengertian beajar menurut beberapa para ahli sebagai berikut:

1. Menurut Aunurrahman (2011: 35) bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

2. Menurut Skinner yang dikutip oleh M. Sobry Sutikno (2008: 3) belajar diartikan sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

3. Menurut Oemar Hamalik (2004: 27) belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing)

Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang diakukan oleh diri seseorang dengan melaui suatu proses.

2. Fungsi Motivasi

Dari uraian diatas sudah jelas bahwa motivasi itu sebagai suatu pendorong timbulnya suatu keinginan yang ingin dicapai. Menurut Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana (2012: 26) fungsi motivasi sebagai berikut:

a. Motivasi merupakan alat pendorong terjadinya perilaku belajar peserta didik.

b. Motivasi merupakan alat untuk memengaruhi prestasi belajar peserta didik.

c. Motivasi merupakan alat untuk memberikan direksi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.

d. Motivasi merupakan alat untuk membangun sistem pembelajaran lebih bermakna.

Sedangkan Menurut Oemar Hamalik (2009: 175) mengatakan bahwa fungsi motivasi adalah:

a. Mendorong timbulya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.

(11)

b. Sebagai pengaruh, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.

c. Sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Hal tersebut dipertegas oleh Sardiman (2011: 85) yang menyebutkan bahwa motivasi memiliki tiga fungsi yaitu:

a) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

c) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang ada dan harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan.

Disamping itu Sardiman mengungkapkan pula bahwa ada fungsi- fungsi yang lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukan hasil yang baik. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun terutama dan didasari dengan adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.

(Sardiman, 2011: 26 ) 3. Jenis-Jenis Motivasi Belajar

Berdasarkan pengertian motivasi yang telah dibahas diatas maka motivasi dapat dibedakan menjadi dua antara lain:

a. Motivasi instrinsik yaitu motivasi yang datangnya secara alamiah atau murni dari diri sendiri peserta didik itu sendiri sebagai wujud adanya kesadaran diri (self awareness) dari lubuk hati yang paling dalam dan tidak ada paksaan dorongan orang lain.

b. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datangnya disebabkan factor- faktor dari luar diri peserta didik, seperti adanya pemeberian nasehat

(12)

dari gurunya, hadiah (reward), kompetisi sehat antar peserta didik, adanya ajakan, hukuman (funishmand), atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu.

(Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, 2012: 26)

Menurut Siregar, Eveline dan Hartini Nar (2011: 50) motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Motivasi instrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri individu tanpa adanya rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi berasal dari luar. Misalnya, pemberian nilai pujian, pemberian nilai sampai pada pemberian hadiah dan faktor-faktor eksternal lainnya yang memiliki daya dorong motivasional.

Motivasi instrinsik dalam realitasnya lebih memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan motivasi ekstrinsik. Hal ini terjadi karena factor ekstrinsik dapat mengakibatkan daya motivasi individu berkurang ketika faktor ekstrinsik tersebut mengecewakan seseorng individu.

Menurut teori kebutuhan, setiap manusia bertindak senantiasa didorong untuk memenuhi kebutuhan–kebutuhan (need) tertentu. Teori ini dikemukakan oleh Abraham Maslow, jika kebutahan yang lebih rendah tingkatannya telah dipenuhi, maka kebutuhan yang berada ditingkatan atasnya akan muncul dan terpenuhi.

Menurut Maslow, ada lima kebutuhan dasar manusia. Kelima kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan keamanan dan rasa terjamin (safety or security needs), kebutuhan social (social needs), kebutuhan ego (esteem needs) dan kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs). Kebutuhan-kebutuhan tersebut menurut Maslow harus terpenuhi, sebab kebutuhan yang telah lama tidak menjadi active motivation.

Terhadap teori Maslow ini tetntu saja tidak sepenuhnya benar, bahwa pemenuhan kebutuhan harus hierarkis, sehingga seseorang tidak dapat melakukan aktalisasi diri sebelum estreem needs dan kebutuhan lainnya terpenuhi. Dalam praktiknya, tidak sedikit orang termotivasi untuk

(13)

melakukan sesuatu yang konstrktif (aktualisasi diri) meski kebutuhan- kebutuhannya belum terpenuhi semua.

Menurut penulis bahwa dalam motivasi harus adanya pendukung dari dalam maupun dari luar karena kedua hal tersebut sangat penting untuk menumbuhkan motivasi tersebut serta didukung adanya kebutuhan lainnya (Siregar, Eveline dan Hartini Nar, 2011: 50)

4. Cara Menggerakan Motivasi Belajar Siswa

Guru dapat menggerakan berbagai cara untuk menggerakan atau membangkitkan motivasi belajar siswanya, ialah antara lain:

1. Memberi angka

Umumnya setiap siswa ingin mengetahui hasil pekerjaannya, yakni berupa angka yang diberikan oleh guru. Murid yang mendapat angka baik akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar, sebaiknya murid yang mendapat angka kurang, mungkin menimbulkan frustasi atau dapat juga menjadi pendorong agar belajar lebih baik 2. Pujian

Memberi pujian kepada murid atas hal-hal yang telah dilakukan dengan berhasil besar manfaatnya sebagai pendorong belajar. Pujian ini menimbulkan rasa puas dan senang.

3. Hadiah

Cara ini dapat juga dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu, misalnya bemberian hadiah pada akhir tahun kepada siswa yang mendapat atau menunjukan hasil belajar yang baik, memberikan hadiah bagi para pemenang sayembara atau pertandingan sepak bola.

4. Kerja kelompok

Dalam kerja kelompok dimana melakukan kerja sama dalam belajar, setiap anggota kelompok turutnya, kadang-kadang perasaan untuk mempertahankan nama baik kelompok menjadi pendorong yang kuat dalam perbuatan belajar.

(14)

5. Persaingan

Baik kerja kelompok maupun persaingan memberikan motif-motif social kepada murid. Hanya saja persaingan individual akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik, seperti rusaknya hubungan persahabatan, perkelahian, pertentangan persaingan antarkelompok belajar.

6. Tujuan dan level of aspiration

Dari keluarga akan memdorong kegiatan siswa.

7. Sarkasme

Ialah dengan jalan mengajak para siswa yang mendapat hasil belajar yang kurang. Dalam batas-batas tertentu sarkasme dapat mendorong kegiatan belajar demi nama baiknya, karena siswa merasa dirinya dihina, sehingga memungkinkan timbulnya konflik antar murid dan guru.

8. Penilaian

Penilaian secara kontinu akan mendorong murid-murid belajar, oleh karena setip anak memiliki kecenderungan untuk memperoleh hasil yang baik. Disamping itu para siswa selalu mendapat tantangan dan masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan, sehingga mendorongnya belajar lebih teliti dan seksama.

9. Karyawisata dan ekskursi

Cara ini dapat membangkitkan motivasi belajar oleh karena dalam kegiatan ini akan mendapat pengalaman langsung dan bermakna baginya. Selain dari itu, karena objek yang akan dikunjungi adalah objek yang menarik minatnya, sehingga kegiatan belajar dapat dilakukan lebih menyenangkan

a. Film pendidikan

Setiap siswa merasa senang menonton film. Gambaran dan isi cerita film lebih menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar.

Para siswa mendapat pengalaman baru yang merupakan suatu unit cerita yang bermakna.

(15)

b. Belajar melalui radio

Mendengrkan radio lebih menghasilkan dari pada mendengarkan ceramah guru. Radio adalah alat yang penting untuk mendorong motivasi belajar murid. Kendatipun demikian, radio tidak mungkin dapat menggantikan kedudukan guru dalam mengajar. Masih banyak cara guru untuk membangkitkan motivasi belajar murid (Oemar Hamalik, 2004: 166-168).

5. Ciri-Ciri Siswa yang Termotivasi

Sardiman (2011: 83) mengemukakan adanya beberapa ciri motivasi.

Motivasi yang ada pada diri setiap orang itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai)

2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya)

3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah “untuk orang dewasa (misalnya masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadilan, pemberantasann korupsi, penentangan terhadap setiap tindak criminal, amoral dan sebagainya)

4) Lebih senang bekerja mandiri

5) Cepat bosan pada tugas-tugas rutin ( hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif)

6) Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu)

7) Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu 8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

(16)

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Dalam buku belajar dan pembelajaran, Ali Imran (1996) mengemukakan enam unsure atau faktor yang mempengaruhi motivasi dalam proses pembelajaran. Keenam faktor tersebut adalah sebagai berikut:

a. Cita-cita atau aspirasi pembelajar

Cita-cita merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Hal ini dapat di amati dari banyaknya kenyataan, bahwa motivasi seseorang pembelajar menjadi begitu tinggi ketika ia sebelumnya sudah memiliki cita-cita.

b. Kemampuan pembelajar

Kemampuan pembelajar juga menjadi factor penting dalam mempengaruhi motivasi. Seperti dapat dipahami bersama bahwa setiap manusia mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Karena itu, seseorang yang memilki kemampuan bidang tertentu, belum tentu memiliki kemampuan di bidang lainnya.

c. Kondisi pembelajaran

Kondisi pembelajar juga menjadi factor yang mempengaruhi motivasi. Hal ini dapat terlihat dari kondisi fisik maupun kondisi psikis pembelajar. Pada kondisi fisik, hubungannya dengan motivasi dapat di lihat dari keadaan fisik seseorang. Jika kondisi fisik sedang kelelahan, maka akan cenderung memiliki motivasi yang rendah untuk belajar atau melakukan berbagai aktivitas. Sementara, jika kondisi fisik sehat dan segar maka akan cenderung memiliki motivasi yang tinggi.

d. Kondisi lingkungan pembelajar

Kondisi lingkungan pembelajar sebagai factor yang mempengaruhi motivasi, dapat di amati dari lingkungan fisik dan lingkungan social yang mengikuti si pembelajar. Misalnya, lingkungan fisik yang tidak nyaman untuk belajar akan berdampak pada menurunnya motivasi belajar. Selain itu, lingkungan social yang ada di sekitar pembelajar

(17)

seperti teman sepermaenannya, lingkungan keluarganya, atau teman sekelasnya.

e. Unsur-unsur dinamis belajar atau pembelajaran

Faktor dinamisasi belajar juga mempengaruhi motivasi. Hal ini dapat diamati pada sejauh mana upaya memotivasi tersebut dilakukan, bagaimana juga dengan bahan pelajaran, alat bantu belajar, suasana belajar dan sebagainya yang dapat mendinamisasi proses pembelajaran.

f. Upaya guru dalam membelajarkan pembelajar 7. Upaya –Upaya Memotivasi dalam Belajar

Dalam kenyataannya, motivasi dalam belajar kadangkala naik begitu pesat tetapi juga kadang turun secara drastis. Karena itu, perlu ada semacam upaya untuk memotivasi pembelajar. Ali Imron (1996) mengemukakan empat upaya yang dapat dilakukan oleh guru guna meningkatkan motivasi belajar pembelajar. Empat cara tersebut adalah sebagai berikut:

a) Mengoptimalkan prinsip-prinsip belajar

b) Mengoptimalkan unsure-unsur dinamis pembelajaran

c) Mengoptimalkan pemanfaatan upaya guru dalam membelajarkan pembelajar juga menjadi factor yang mempengaruhi motivasi. Jika guru tidak bergairah dalam proses pembelajaran maka akan cenderung menjadikan siswa atau pembelajar tidak memilki motivasi belajar, tetapi sebaliknya jika guru memiliki gairah dalam pembelajaran maka pembelajar akan lebih baik. Hal-hal yang disajikan secara menarik oleh guru juga menjadi sesuatu yang mempengaruhi tumbuhnya motivasi pembelajar atau pengalaman atau kemampuan yang telah dimiliki.

d) Mengembangkan aspirasi dalam belajar

Terkait dengan hal tersebut, sejumlah prinsp-prinsip belajar yang harus dioptimalkan sebagai upaya untuk memotivasi dalam belajar. Prinsip- prinsip tersebut adalah prinsip perhatian, keaktifan, keterlibatan lansung, pengulangan belajar, rangsangan dan tantangan, pemberian balikan dan penguatan, prinsip-prinsip tersebut, diperlukan strategi

(18)

pembelajaran tepat yang mengupayakan agar mengurangi kendala- kendala yang di temui dalam proses optimalisasi tersebut.

Optimalisasi unsur dinamis juga perlu dilakukan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara perlunya kreativitas dalam menyiapkan alat- alat belajar bersama pembelajar. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar diluar sekolah.

Optimalisasi pengalaman maupun kemampuan pembelajar juga perlu dilakukan untuk memotivasi pembelajar. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

1. Biarkan pembelajar menangkap sesuai kemampuan dan pengalamannya.

2. Kaitkan pengalaman belajar saat ini dengan pengalaman masa lalu dan kemampuan si pembelajar.

3. Lakukan penggalian pengalaman dan kemampuan yang dimilki pembelajar misalnya melalui tes lisan atau tertulis.

4. Berikan kesempatan pembelajar untuk membandingkan apa yang sekarang dipelajari dengan kemampuan dan pengalaman yang telah dimilkinya.

Cita – cita dan aspirasi juga penting di kembangkan sebagai upaya dalam memotivasi belajar si pembelajar. Setidaknya dapat tiga langkah yang perlu dilakukan, yaitu seperti berikut:

a. Kenalilah aspirasi dan cita-cita si pembelajar

b. Komunikasikan hasil pengenalan tersebut kepada pembelajar dan orang tua

c. Buatlah program-program yang dapat mengembangkan cita-cita aspirasi pembelajar (Siregar, Eveline dan Hartini Na, 2011: 53- 56).

(19)

C. Konsep Hasil belajar 1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu yaitu mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan (Oemar Hamalik, 2013: 27).

a. Menurut Oemar Hamalik (2011: 154) Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman.

b. Menurut Burton dalam buku “ the guidance of learning avtivities “ yang dikutif oleh Annurahman (2011: 35) merumuskan pengertian belajar adalah sebagai suatu perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan temannya.

c. Menurut Muhibbin Syah (2014: 87) Belajar adaalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.

Dari pengertian beberapa pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa belajar adalah suatu bentuk perubahan tingkah laku didalam diri anak dengan adanya suatu interaksi dalam proses pembelajaran, yang tadinya belum tahu menjadi tahu.

2. Pengertian Hasil Belajar

Adapun Menurut pendapat para ahli mengartikan bahwa hasil belajar sebagai berikut:

a. Menurut Muhibbin Syah (2000: 141) Hasil belajar adalah penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seseorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

b. Menurut Sudjana (2010: 13) Hasil belajar siswa pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku, tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, efektif dan psikomotorik”.

(20)

c. Menurut Udin S, Winataputra (2007: 10) Hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai siswa dimana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkan suatu perubahan yang khas. Dalam hal ini belajar meliputi keterampilan proses, keaktifan, motivasi juga prestasi belajar.

d. Menurut Briggs yang di kutip oleh Taruh Enos (2003: 17) yang mengatakan bahwa hasil belajar adalah seluruh kecakapan dan hasil yang di capai melalui proses belajar mengajar disekolah yang dengan angka-angka atau nilai-nilai berdasarkan tes hasil belajar.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada diri siswa dalam proses belajar mengajar yang akan menimbulkan suatu hasil belajar yang dicapai oleh siswa tersebut yang mencakup bidang pada kognitif, apektif dan psikomotorik.

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik setelah ia menerima pengalaman pembelajaran. Sejumlah pengalaman yang diperoleh peserta didik mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran karena akan memberikan sebuah informasi kepada guru tentang kemajuan peserta didi dalam upaya mencapai. Tujuan-tujuan belajarnya melalui proses kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya setelah mendapat informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan peserta didik lebih lanjut baik untuk individu maupun kelompok belajar (http://dedi26.blogspot.com/2013/01/faktor-faktor-yang- mempengaruhi-hasil.html).

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar (Rusman, 2012: 124) antara lain meliputi faktor internal dan faktor eksternal:

1. Faktor Internal

a. Faktor Fisiologis.

Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat

(21)

jasmani dan sebagainya. Hal tersebut dapat mempengaruhi peserta didik dalam menerima materi pelajaran.

b. Faktor Psikologis

Setiap indivudu dalam hal ini peserta didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi hasil belajarnya. Beberapa faktor psikologis meliputi intelegensi (IQ), perhatian, minat, bakat, motif, motivasi, kognitif dan daya nalar peserta didik.

2. Faktor Eksternal a. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan dapat mempengurhi hasil belajar. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial.

Lingkungan alam misalnya suhu, kelembaban dan lain-lain.

Belajar pada tengah hari di ruangan yang kurang akan sirkulasi udara akan sangat berpengaruh dan akan sangat berbeda pada pembelajaran pada pagi hari yang kondisinya masih segar dan dengan ruangan yang cukup untuk bernafas lega.

b. Faktor Instrumental

Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang direncanakan.

Faktor-faktor instrumental ini berupa kurikulum, sarana dan guru.

Adapun Menurut Sunarto (2009) dalam bukunya Jaja Suteja dan Rustati Wulandari (2013: 30-32) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain:

a. Faktor Intern

Faktor intern adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya.

Diantara faktor-faktor intern yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang antara lain:

(22)

a) Kecerdasan/intelegensi b) Bakat

c) Minat d) Motivasi b. Faktor Ekstern

Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang yang sifatnya berasal dari luar diri seseorang tersebut. Yang termasuk faktor-faktor ekstern antara lain:

a) Keadaan lingkungan keluarga b) Keadaan lingkungan sekolah c) Keadaan lingkungan masyarakat

D. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 1. Sejarah IPS

Istilah “Ilmu Pengetahuan Sosial”, disingkat IPS, merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan mnengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies”

dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di negara- negara Barat seperti Australia dan Amerika Serikat. Nama “IPS” yang lebih dikenal social studies di negara lain itu merupakan istilah hasil kesepakatan dari para ahli atau pakar di Indonesia dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu, Solo. IPS sebagai mata pelajaran di persekolahan, pertama kali digunakan dalam kurikulum 1975. Namun, Pengertian IPS ditingkat persekolahan itu sendiri mampunyai perbedaan makna, disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik khususnya antara IPS untuk sekolah dasar (SD) dengan IPS sekolah menengah pertama(SMP) dan IPS unutuk sekolah menengah atas (SMA). Pengertian IPS dipersekolahkan tersebut ada yang berarti nama mata pelajaran yang berdiri sendiri, ada yang berarti gabungan (integrated) dari sejumlah mata pelajaran atau disiplin ilmu, dan

(23)

ada yang berarti program pengajaran. Perbebdaan ini dapat pula diidentifikasi dari perbedaan pendekatan yang diterapkan pada masing- masing jenjang persekolahan tersebut (Sapriya, 2011: 19-20).

2. Pengertian IPS

Menurut beberapa para ahli mengartikan IPS adalah sebagai berikut : a. Menurut Enok Maryani (2011: 7) IPS adalah bahan kajian yang

terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi dari konsep-konsep dan ketrampilan disiplin ilmu sejarah, geografi, sosiologi, antropologi dan ekonomi yang diorganisasikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pembelajaran.

b. Menurut Trianto (2011: 171) IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu social, seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, polotik, hukum, dan budaya. Ilmu pengetahuan social dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena social yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu social (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya) c. Menurut Sapriya (2009: 19) IPS merupakan nama mata pelajaran di

tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies” dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di negara- negara Barat seperti Australia dan Amerika Serikat.

Menurut penulis dalam beberapa pendapat diatas bahwa ilmu social yaitu ilmu yang menganalisis atau mempelajari fakta, peristiwa yang berkaiatan dengan perilaku manusia yang sekarang maupun yang masa lampau. Dan mempelajari suatu disiplin ilmu social salah satunya ekonomi, geografi, dan sosialogi.

3. Tujuan Pembelajaran IPS

Tujuan IPS menurut NCSS (Sunal, 1993: 5) tujuan social studies adalah ” is to prepare young people to be humane, rational, participating, citizens in a world that is becoming increasingly interdependent” artinya menyiapkan generasi muda agar menjadi manusia yang manusiawi,

(24)

berfikir rasional, warga Negara yang partisipatif, di dunia yang semakin ketergantungan. Tujuan IPS ini akan tercapai dengan baik manakala bahan pendidikan (content) diorganisasikan secara variasi mulai dari pendekatan transdisiplin.

Dari uraian tersebut tampak bahwa IPS bersifat terpadu dan transdisipliner dari ilmu-ilmu social, bertujuan menganalisis dan menyintesis (mengambil kesimpulan atau makna) secara kritis dari setiap fakta, peristiwa, kejadian baik masa lalu, maupun sekarang agar dapat mengantisipasi kehidupan di masa yang akan datang.

Tujuan Pendidikan IPS yaitu menjadikan warga yang partisipatif dan bertanggung jawab, memberikan pengetahuan dan pengalaman hidup karena mereka adalah bagian dari petualangan hidup manusia dalam prespektif ruang dan waktu, mengembangkan berfikir kritis dari pemahaman sejarah, geografi, ekonomi, politik, dan lembaga social, tradisi dan nilai-nilai masyarakat dan Negara mengembangkan sikap kritis dan analitis dalam mengkaji kondisi manusia (Enok, Maryani, 2011: 11).

Menurut Rudy Gunawan (2011: 21) tujuan pembelajaran IPS menurut penjelasan pasal 37 UU No. 2003 bahwa “bahan kajian ilmu pengetahuan sosial, antara lain ilmu bumi, sejarah, ekonomi, kesehatan, dan sebagainya dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat”.

Tujuan Pembelajaran IPS adalah untuk mendidik dan memberikan bekal kemampuan dasar kepada siswa untuk mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta membekali siswa untuk melanjutkanpendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (Trianto, 2011: 174)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS yaitu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik agar lebih peka terhadap masalah sosial yang ada disekitar masyarakatnya.

Pembelajran IPS ini menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan pada siswa. Penekanan pembelajarannya bukan sebatas pada upaya

(25)

mentransfer ilmu kepada siswa melainkan terletak pada upaya agar mereka mampu menjadikan apa yang dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami kehidupan lingkungan sekitarnya.

4. Model Pembelajaran IPS

Pada uraian dibawah ini akan dibahas model pembelajaran ketrampilan berfikir (thinking skill). Ada dua focus model desain pembelajaran untuk ketrmpilan berpikir ialah ketrampilan berpikir kritis (critical thinking skill) dan ketrampilan berpikir kreatif (creative thinking skill). Pada hakikatnya, model desain pembelajaran merupakan alternative model yang dapat dipilih oleh guru untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar IPS. Prinsip model desain pembelajaran berpikir kritis dan kreatif memiliki beberapa kesamaan dengan inquiri, ialah sama-sama untuk membantu anak berlatih berpikir dan memecahkan berbagai masalah kehidupan pribadi siswa maupun kemasyarakatan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap model desain pembelajaran inkuiri akan sangat membantu dalam memahami desain pembelajaran berpikir.

Menurut Ennis (1987) yang di kutip dalam buku Sapriya, menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan istilah yang digunkan untuk suatu aktivitas reflektif untuk mencapai tujuan yang memuat keyakinan dan perilaku yang rasional.

Tujuan berpikir kritis adalah untuk menilai suatu pemikiran, menaksir nilai bahkan mengevaluasi pelaksanaan diri suatu pemikiran dan nilai tersebut. berpikir kritis mendorong munculnya pemikiran-pemikiran baru (Sapriya, 2009: 143-144).

E. Penelitian tindakan kelas (PTK) 1. Sejarah PTK

Penelitian tindakan merupakan perkembangan baru yang muncul pada tahun 1940-an sebagai salah satu pendekatan penelitian yang lahir ditempat kerja, tempat dimana penelitian melakukan pekerjaan atau aktifitas sehari-hari. Action research Misalnya, kelas merupakn tempat

(26)

penelitian bagi guru, sekolah menjadi tempat penelitian bagi kepala sekolah aktivitas masyarakat desa tempat penelitian bagi petugas penyuruh masyarakat.

Akhir-akhir ini action research menjadi popular dilakukan oleh para profesional dalam upaya menyelesaikan masalah dan meningkatkan mutu.

Dengan demikian, action research bermula dari suatu masalah yang terjadi dalam suatu aktivitas tertentu. Demikian juga halnya di bidang pendidikan dan pengajaran. Awal mulanya action research yang dikembangkan oleh seseorang psikolog yang bernama Kurt Lewin yang dimaksudkan untuk mencari penyelesaian terhadap social antara lain, pengangguran, kenakalan remaja yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Action research dilakukan dengan di awali oleh suatu kajian terhadap suatu problema tersebut secara sistematis. Di tempat kerjanya, dia mengembangkan model penelitian selama beberapa tahun yang kemudian terkenal sebagai yaitu serangkaian eksperimen terhadap komunitas masyarakat pada waktu itu di Negara Amerika Serikat pada masa pasca perang. Penelitian tindakan oleh Kurt Lewin utamanya berkaiatan dengan pekerjaannya dalam bermacam- macam konteks perumahan terpadu. Penelitian tindakan yang emansipatoris berhubungan dengan gerakan social dibidang pendidikan.

Hal ini sebagai ekspresi dari aspirasi nyata dan praktis untuk mendorong perubahan di dunia social (pendidikan) menjadi lebih baik, dengan melakukan tindakan-tindakan perbaikan social bersama kemudian memahami bersama makna tindakan-tindakan ini, dan berbagai situasi tempat tindakan-tindakan perbaikan ini dilaksanakan. (Kunandar, 2010:

51).

2. Pengertian PTK

Penelitian tindakan kelas atau PTK (Classroom Action Research) memilki peranan yang sangat penting dan strategis untuk meningkatkan mutu pembelajaran apa bila di implementasikan dengan baik dan benar.

Upaya PTK di harapkan dapat menciptakan sebuah budaya belajar (learning culture) dikalangan para guru. PTK menawarkan peluang

(27)

sebagai strategi pengembangan kinerja sebab pendekatan penelitian ini menempatka guru sebgai peneliti.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan dari penelitian tindakan (action reserch), dan penelitian ini tindakan bagian dari penelitian pada umumnya. Penelitian adalah suatu kegiatan yang dilakukan menurut metode ilmiah yang sistematis untuk menemukan informasi ilmiah dan teknologi baru membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran hipotesis sehingga dapat dirumuskan teori dan atau gejala social.

Penelitian tindakan (action research) memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena objek penelitian tindakan tidak hanya terbatas di dalam kelas, tetapi bisa di luar kelas, seperti sekolah, organisasi, komunitas, dan masyarakat. Ada beberapa pengertian dari penelitian tindakan kelas yaitu:

1. Kurt Lewin : penelitian tindakan adalah suatu rangkaian langkah yang terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi.

2. Kemmis dan Mc. Taggart : penelitian tindakan adalah suatu bentuk self inquiry kolektif yang dilakukan oleh para partisipan di dalam situasi social untuk meningkatkan rasionalisme dan keadilan dari praktik social atau pendidikan yang mereka lakukan, serta mempertinggi pemahaman mereka terhadap pratik dan situasi di mana praktik itu dilaksanakan

3. Elliott (1991) penelitian tindakan kelas sebagai kajan dari sebuah situasi social dengan kemungkinan tindakan untuk memperbaiki situasi social tersebut

4. Carr dan Kemmis 1986 dalam Burns (1999) penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksif diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik social mereka serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik mereka dan terhadap situasi tempat praktik-praktik tersebut dilakukan

(28)

Dari pengertian penelitian tindaan dia atas, dapat disimpulkan tiga prinsip, yakni: (1) adanya partisipasi dari penelitian dalam suatu program atau peneitian, (2) adanya tujuan untuk meningkatkan kualitas sutau program atau kegiatan melalui penelitian tindakan tersebut, (3) adanya tindakan (treatment) untuk meningkakan kualitas suatu program atau kegiatan (Kunandar, 2010: 41).

3. Karakterisik dan Tujuan Penelitian Tindakan (PTK) a. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berbeda dengan penelitian formal (konvensional) pada umumnya. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki beberapa karakteristik, sebagai berikut:

1. On the job problem oriental (masalah yang di teliti adalah masalah rill atau nyata yang muncul dari dunia kerja peneliti atau yang ada dalam kewenagan atau tanggung jawab peneliti). Dengan demikian, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) didasarkan pada masalah yang benar-benar dihadapi guru dalam proses belajar mengjar di kelas.

2. Problem solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah).

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh guru dilakukan sebagai upaya untuk mencegah masalah yang dihadapi oleh dguru dalam PBM dikelasnya melalui suatu tindakan (treatment) tertentu sebagai upaya menyempurnakan proses pembelajaran dikelasnya.

3. Improvement – oriented (berorientasi pada peningkatan mutu) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dalam rangka unuk memperbaiki atau meningkatkan mutu PBM yang dilakukan oleh guru dikelasnya.

4. Ciclic (siklus) konsep tindakan (ation) dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) diterapkan melalui urutan yang terdiri dari beberapa tahap berdaur ulang (cvylical). Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) terdiri dari empat tahap, yakni perencanaaan tindakan,

(29)

melakukan tindakan, pengamatan atau observasi dan analisis atau refleksi.

5. Action oriented. Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) selalu didasarkan pada adanya tindakan (reatment) tertentu untuk memperbaiki PBM dikelas.

6. Pengkajian terhadap dampak tindakan. Dampak tindakan yang dilakukan harus dikaji apakah sesuai dengan tujuan, apakah memberikan dampak positif atau dampak negatif.

7. Specifics contextual. Aktivitas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dipicu oleh permasalahan praktis yang dihadapi oleh guru dalam PBM dikelas.

8. Partisipatory (colaborative) Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan secara kolaboratif dan bermitra dengan pihak lain, seperti teman sejawat. Jadi dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) perlu ada partisipasi dari pihak lain yang berperan sebagai pengamat. Hal ini untuk mendukung objektivitas dari hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

9. Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi.

Kegiatan penting lainnya dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah adanya refleksi.

10. Dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus dimana dalam satu siklus terdiri dari tahapan perencanaan (pleaning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection) dan selanjutnya diulang kembali dalam beberapa siklus.

b. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai berikut:

1. Untuk memecahkan permasalahan yang nyata yang terjadi di dalam kelas yang di alami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa yang sedang belajar.

2. Meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di kelas secara terus menerus.

(30)

3. Meningkatkan relevansi pendidikan, hal ini dicapai melalui proses pendidikan.

4. Sebagai alat training in service yang memperlengkapi guru dengan skill dan metode baru, mempertajam kekuatan analitasnya dan mempertinggi kesadaran dirinya.

5. Peningkatkan mutu hasil pendidikan melalui perbaikan praktik pembelajaran dikelas dengan mengembangkan berbagai jenis ketrampilan dan meningkatnya motivasi belajar siswa (Kunandar, 2010: 58).

F. Tinjauan Penelitian yang Relevan

Terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan dan relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian tentang pengaruh metode probling prompthing terhadap hasil belajar ips siswa.

1. Penelitian yang dilakukan oleh Daniel, Nim: 709141029, 2014

“Penerapan Kolaborasi Model Pembelajaran Buzz Group dengan Probing Prompting Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas X SMA Negeri 13 Medan T.A.

2013/2014” untuk kepentingan skripsi.

Penelitiaan ini di laksankan di SMA Negeri 13 Medan T.A.

2013/2014 dengan subjek adalah kelas XI yang berjumlah 44 orang.

Dengan pengumpulan data menggunakan tes untuk mengetahui hasil belajar siswa, serta pengumpulan datanya dengan menggunakan observasi untuk mengamati aktivitas siswa secara pribadi ataupun kelompok.

Hipotesis tindakan pada penelitian ini dengan menggunakan Indikator keberhasilan tindakan kelas sebesar 85% siswa memperoleh nilai di atas atau sama dengan 70 dan untuk aktivitas sebesar 70%. Dari hasil tes belajar yang dilakukan pada siklus I sebesar 61,36% dan pada siklus II hasil tes yang diperoleh sebesar 90,91% sehingga peningkatan kedua hasil siklus tersebut meningkat sebesar 29,55%.

(31)

Berdasarkan hasil observasi selama kegiatan berlangsung terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 59,09% dan pada siklus II terdapat peningkatan sebesar 88,55%. Sehingga peningkatan dari kedua siklus tersebut sebesar 29,55%. Berdasarkan data tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa pada materi memahami permasalahan ekonomi dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia, kelangkaan dan sistem ekonomi dengan menerapkan kolaborasi model pembelajaran Buzz Group dengan Probing Prompting

2. Penelitian yang dilakukan oleh Jafri Gustap Silaban, NIM: , 3201405033 (2012) “Penerapan Metode Probing Prompting Dalam Proses Pembelajaran Geografi di SMA Al Uswah Kota Semarang Tahun 2011/2012. Under Graduates thesis, Universitas Negeri Semarang.

Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa siswa yang diajar menggunakan metode Probing Prompting mengalami peningkatan pencapaian ketuntasan belajar pada pelajaran geografi materi gejala- gejala yang terjadi diatmosfer sebesar 80%.

Dari pengamatan yang telah dilakukan selama proses pembelajaran dengan metode Probing Prompting terhadap aspek afektif, diperoleh data rata-rata perolehan nilai sebesar 81,60 metode Probing Prompting terhadap aspek psikomotor, diperoleh data bahwa selama pembelajaran dengan rata-rata perolehan nilai sebesar 81,00.

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa metode Probing Prompting sangat baik diterapkan dalam pembelajaran geografi kelas X SMA Al Uswah Kota Semarang.

3. Penelitian dilakukan oleh Siti Mutmainnah, yang bejudul Penerapan Teknik Pembelajaran Probing - Prompting Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Pada Siswa Kelas VIII.A SMP Negeri I Banawa Tengah.

Masalah yang diteliti adalah rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA Fisika. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus

(32)

dengan materi pokok getaran dan gelombang, masing-masing siklus meliputi 4 tahap: (a) perencanaan (b) pelaksanaan tindakan (c) observasi (d) refleksi. Penerapan teknik pembelajaran probing - prompting dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIIIA.

Hal ini dapat dilihat pada peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Untuk hasil belajar siklus I diperoleh nilai rata - rata ketuntasan belajar klasikal sebesar 62,50% dan nilai rata - rata daya serap klasikal 66,75% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 15 orang dan yang belum tuntas sebanyak 9 orang. Sedangkan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata ketuntasan belajar klasikal sebesar 87,50% dan nilai rata - rata daya serap klasikal 81,83% dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 21 orang dan yang belum tuntas sebanyak 3 orang, yang artinya sudah melebihi standar ketuntasan belajar siswa yang telah ditetapkan yaitu diatas 80%. Peningkatan daya serap klasikal dari siklus I ke siklus II sebesar 15,08% dan ketuntasan belajar klasikal dari siklus I ke siklus II sebesar 25%. Untuk hasil observasi aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran siklus I dan siklus II meningkat dari kategori baik dengan persentase 88,75% menjadi kategori sangat baik dengan persentase 96,25%.

Dari ketiga hasil penelitian diatas, terdapat kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis, yaitu Penerapan Metode Probing Prompting dan Motivasi belajar siswa. Namun ketiga hasil penelitian tersebut tidak ada yang persis sama dengan masalah yang akan diteliti.

G. Kerangka Pemikiran

Untuk meningkatkan pembelajaran IPS dalam penelitian ini. Sebelum melangkah lebih luas dapat ditemukan metode pembelajaran yang akan diterapkan, sehingga akan membentuk suatu pandangan yang jelas. Untuk mendapatkan hal tersebut maka penulis terlebih dahulu harus menemukan hal-hal yang pokok tentang pemikiran skripsi ini. Oleh karena itu, secara terperinci membentuk kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran inilah yang

(33)

akan menjadikan pedoman dan alur serta prosedur dalam penyelesaian yang penulis teliti.

Pendidikan IPS di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari dokumen kurikulum 1975 yang memuat IPS sebagai mata pelajaran untuk pendidikan disekolah dasar dan menengah. Gagasan IPS di Indonesia pun banyak mengadopsi dan mengadaptasi dari sejumlah pemikiran perkembangan Social Studies yang terjadi diluar negeri terutama perkembangan pada NCSS sebagai organisasi professional yang cukup besar pengaruhnya dalam memajukan social studies bahkan sudah mampu memengaruhi pemerintah dalam menentukan kebijakan kurikulum persekolahan.

Dalam dunia pendidikan saat ini, IPS merupakan salah satu mata pelajaran integrasi dari mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi serta mata pelajaran ilmu lainnya.

Pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu social dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan (Sapriya, 2009: 11).

Seperti halnya, tujuan pendidikan yaitu untuk menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita-cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan (Ramayulis, 2004: 1).

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribdi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.

(Oemar, Hamalik, 2013: 158) dengan adanya motivasi yang tinggi dari diri sendiri akan mempengaruhi hasil belajar yang baik. Oleh karena itu, dalam suatu pembelajaran dikelas minat serta dibarengi dengan motivasi yang tinggi akan mencapai suatu tujuan yang dicapai .

Adapun faktor yang mempengaruhi kematangan belajar siswa salah satunya dengan adanya motivasi. Pada dasarnya motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorong untuk

(34)

berbuat sesuatu. Dalam perkembangan selanjutnya motivasi dibedakan menjadi dua macam:

a. Motivasi intrinsik: hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.

b. Motivasi ekstrinsik: hal dan keadaan yang berasal dari luar individu siswa yang juga dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar (Jaja, Suteja dan Ruswati Wulandari, 2013: 33).

Agar siswa bersikap positif terhadap pelajaran IPS, perlu adanya pendekatan, strategi atau metode yang menarik bagi siswa, memotivasi mereka untuk belajar, memberikan rasa aman untuk belajar dan menyenangkan bagi mereka. Sehingga pembelajaran IPS tidak lagi membosankan atau jenuh bagi siswa akan tetapi mindset kita dirubah bahwa pembelajaran IPS itu menyenangkan dengan begitu siswa akan mudah menerima materi pelajaran serta hasil belajar siswa pun meningkat.

Dengan diterapkannya metode Probing Prompting akan melatih siswa untuk memperoleh sujumlah informasi atau jawaban lebih lanjut dari siswa yang bermaksud untuk mengembangkan kualitas jawaban, sehingga jawaban berikutnya lebih jelas, akurat serta beralasan. Probing Prompting ini dapat memotivasi siswa untuk memahami lebih mendalam suatu masalah hingga mencapai suatu jawaban yang dituju. Proses pencarian dan penemuan jawaban atas masalah tersebut peserta didik berusaha menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimilikinya dengan pertanyaan yang akan dijawabnya, sehingga diharapkan siswa akan lebih memahami konsep materi yang dipelajari (Miftahul, Huda.2014281). Kegiatan ini membuat siswa aktif dan saling bertukar pikiran. Dimana setiap individu diwajibkan untuk aktif semua dalam proses pembelajaran berlansung. Seperti dalam bagan dibawah ini

(35)

Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran

Keterangan :

Bagan diatas sudah jelas bahwa dalam suatu proses belajar mengajar dikelas seorang guru akan menerapkan suatu metode, dimana metode itu sekiranya cocok untuk siswa. Setelah metode sudah diterpakan maka seorang siswa akan termotivasi untuk belajar terutama dalam pembelajaran IPS. oleh karena itu, dengan di terapkannya suatu metode akan memberikan suatu timbal balik yang baik antara proses belajar, penerapan metode Probing Prompting, dan motivasi belajar kemudian akan menghasilkan suatu hasil yang baik pula. Menurut penulis dengan metode Probing Prompting ini siswa akan lebih aktif dan inovatif dalam pembelajaran IPS.

Pembelajaran Probing Prompting memberikan nuansa baru. Hal ini membuat siswa termotivasi dalam belajar sehingga dapat mengantarkan siswa memperoleh hasil belajar yang lebih baik. Untuk diagram penelitiannya dapat digambarkan:

X Y

X = Metode Probing Prompting Y = Motivasi belajar

Motivasi Belajar Siswa Proses

Belajar Mengajar

Hasil Belajar Metode Probing

Prompting

(36)

H. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pada kerangka pemikiran bahwa anggapan dasar yang telah dikemukakan maka hipotesis penelitian tindakan kelas (PTK) yang diajukan yaitu penerapan model pembelajaran cooperative leaerning dalam penerapan metode Probing Prompting untuk meningkatkan motivasi belajar IPS siswa Kelas VII E di SMP Negeri 3 Palimanan Cirebon.

Sementara itu Hipoteis adalah dugaan logis sebagai kemungkinan pemecahan masalah yang hanya dapat diterima sebagai kebenaran bilamana setelah diuji ternyata fakta-fakta atau kenyataan sesuai dengan dugaan tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

guru dan kesejahteraan guru. Sertifikasi guru merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu guru yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru. Guru yang telah lulus uji

Beberapa faktor dalam diri seseorang yang mempengaruhi proses persepsi antara lain kebutuhan, motivasi, proses belajar dan kepribadiannya. Semua faktor itu akan

Dari beberapa definisi di atas yang dikemukakan para ahli dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah upaya yang dilakukan kepada seseorang yang dapat

Gagne dalam Ratna Wilis (1989: 141-143) mengungkapkan bahwa tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase, yaitu: a) Motivasi, siswa yang belajar harus diberi

Interaksi farmakokinetik terjadi ketika suatu obat mempengaruhi absorbsi, distribusi, metabolisme dan eksresi obat lainnya sehingga berakibat dapat meningkatkan atau

Tanpa evaluasi, kita tidak bias mengetahui seberapa jauh keberhasilan guru, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik maka dari itu

1) Penolakan“dari masyarakat dan menganggap bahwa anak jalanan adalah calon bibit dari”kriminal. 2) Pada“masyarakat kurang mampu, anak-anak menjadi aset orang tua untuk

stabil, dewasa, arif, dan berwibawa. Payong, Sertifikasi Profesi guru, hlm.. Guru merupakan seorang individu yang bermakna bagi siswa. Guru menjadi model yang