• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

B. Body Image

Ada beberepa definisi body image yang dikemukakan oleh beberapa tokoh, diantaranya adalah menurut Dacey dan Kenny (2001) menyatakan bahwa body image yaitu keyakinan seseorang akan penampilan mereka dihadapan orang lain. Wright (dalam Santrock, 2006) body image individu membangun citranya sendiri mengenai bagaimana kelihatannya bentuk tubuh mereka. Definisi lain dari body image yang dikemukakan oleh oleh Papalia, Olds, dan Feldman (2008) yaitu sebagai suatu gambaran dan evaluasi mengenai penampilan seseorang. Menurut Grogan (1999) body image adalah persepsi, pikiran dan perasaan seseorang tentang tubuhnya. Selain itu Shilder (dalam Grogan, 1999) mengartikan body image sebagai gambaran mengenai tubuh seseorang yang terbentuk dalam pikiran individu itu sendiri, atau dengan kata lain gambaran tubuh individu menurut individu itu sendiri.

Menurut Cash & Pruzinsky (2002) body image merupakan sikap yang dimiliki seseorang terhadap tubuhnya yang dapat berupa penilaian positif dan negatif. Lebih lanjut Thompson, dkk (2001) menyatakan bahwa body image adalah evaluasi seseorang terhadap ukuran tubuhnya, berat ataupun aspek tubuh lainnya yang mengarah kepada penampilan fisik. Dimana evaluasi ini dibagi menjadi tiga area yaitu komponen persepsi, yang secara umum mengarah kepada keakuratan dalam mempersepsi ukuran (perkiraan terhadap ukuran tubuh), komponen subyektif yang mengarah kepada kepuasan, perhatian, evaluasi kognitif dan kecemasan, serta komponen perilaku yang memfokuskan kepada

penghindaran individu terhadap situasi yang mengakibatkan ketidaknyamanan terhadap penampilan fisiknya sendiri.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa body image adalah gambaran mental, persepsi, pikiran dan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap ukuran tubuh, bentuk tubuh dan berat tubuh yang mengarah kepada penampilan fisik. Evaluasi berbicara tentang apa yang dirasakan individu, seperti kepuasannya terhadap tubuhnya, perhatian dan kecemasan terhadap tubuh, dan sikap berupa penilaian positif atau negatif terhadap tubuh.

Cash (2002) mendeskripsikan body image sebagai kumpulan kumulatif dari gambaran, fantasi dan pemahaman tentang tubuh dan bagian-bagian serta fungsi-fungsinya yang merupakan komponen utuh pada gambaran diri dan dasar dari representasi diri. Menurut Fisher (dalam Grogan, 1999) body image adalah persepsi, pikiran dan perasaan seseorang mengenai tubuhnya. Definisi body image lainnya juga dikemukakan oleh Schilder’s (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) mendefinisikan body image sebagai gambaran dari tubuh individu yang terbentuk dari pemikirannya sendiri yang terdiri dari tiga elemen, yaitu elemen persepsi yang diidentifikasikan dengan estimasi ukuran tubuh, elemen pikiran yang diidentifikasikan dengan evaluasi daya tarik tubuh, dan elemen perasaan yang diidentifikasikan dengan emosi yang terkait dengan bentuk dan ukuran tubuh.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa body image merupakan representasi seseorang mengenai bagaimana penampilan yang terlihat oleh orang lain. Bagaimana seseorang mempersepsikan tubuhnya sendiri, dan bagaimana individu menggambarkan tubuhnya berdasarkan pikirannya sendiri.

2. Komponen Body image

Ada beberapa ahli yang mengemukakan mengenai komponen body image. Salah satunya adalah Cash (2000) yang mengemukakan adanya lima komponen body image, yaitu:

a. Appearance Evaluation (Evaluasi Penampilan), yaitu penilaian individu mengenai keseluruhan tubuh dan penampilan dirinya, apakah menarik atau tidak menarik, memuaskan atau tidak memuaskan terhadap penampilan secara keseluruhan.

b. Appearance Orientation (Orientasi Penampilan), perhatian individu terhadap penampilan dirinya dan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan dirinya.

c. Body Areas Satisfaction (Kepuasan terhadap Bagian Tubuh), yaitu kepuasan individu terhadap bagian tubuh secara spesifik, seperti wajah, rambut, payudara, tubuh bagian bawah (pinggul, bokong, kaki), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), dan keseluruhan tubuh.

d. Overweight Preocupation (Kecemasan Menjadi Gemuk), yaitu menggambarkan kecemasan individu terhadap kegemukan dan kewaspadaan terhadap berat badan yang ditampilkan melalui perilaku nyata dalam aktivitas sehari-hari seperti kecenderungan melakukan diet untuk menurunkan berat badan dan membatasi pola makan.

e. Self-Clasified Weight (Pengkategorisasian Terhadap Ukuran Tubuh), yaitu persepsi dan penilaian individu terhadap berat badannya, seperti kekurangan berat badan atau kelebihan berat badan

Dapat disimpulkan bahwa terdapat lima komponen body image yang dikemukakan oleh Cash, diantaranya adalah Appearance Evaluation (evaluasi penampilan), Appearance Orientation (orientasi penampilan), Body Areas Satisfaction (kepuasan terhadap bagian tubuh), Overweight Preocupation (kecemasan menjadi gemuk), Self-Clasified Weight (persepsi terhadap ukuran tubuh). Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan komponen body image yang dikemukakan oleh Cash untuk mengukur tingkat kepuasan body image pada remaja wanita.

3. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Body Image

Menurut Thompson (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi body image antara lain:

a. Persepsi: berhubungan dengan ketepatan individu dalam mempersepi atau memperkirakan ukuran tubuhnya. Perasaan puas atau tidaknya seorang individu dalam menilai bagian tubuh tertentu berhubungan dengan komponen ini.

b. Perkembangan: komponen ini menjelaskan tentang pentingnya pengalaman dimasa kecil dan remaja terhadap hal-hal yang berkaitan dengan body image nya. Saat pertama kali menstruasi serta perkembangan

seksual sekunder diasosiasikan sebagai kejadian penting terhadap body image.

c. Sosiokultural: masyarakat akan menilai apa yang baik dan apa yang tidak, tidak terkecuali dalam kecantikan. Teori feminis menjelaskan bahwa kebanyakan wanita terlalu mengidentifikasikan dirinya dengan tubuhnya, dan hal tersebut menyebabkan mereka mengikuti sosok ideal yang ada dimasyarakat bahwa mereka akan dianggap menarik jika memiliki tubuh yang ideal (Bergner, dkk dalam Thompson, 2001). Menurut Lakoff dan Scherr (dalam Thompson, 2001), media massa juga memberikan pengaruh yang besar dalam menentukan standar tubuh yang menarik.

Faktor-faktor lainnya yang juga mempengaruhi body image seseorang, diantaranya adalah:

a. Media massa

Tiggeman (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) menyatakan bahwa media massa yang ada dimana-mana memberikan gambaran ideal mengenai fitur perempuan dan laki-laki yang dapat mempengaruhi body image seseorang. b. Keluarga

Menurut teori sosial learning, orangtua merupakan model yang penting dalam proses sosialisasi sehingga mempengaruhi body image anak-anaknya melalui modeling feedback, dan instruksi. Ikeda dan Narwoski (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) menyatakan bahwa komentar yang dibuat orangtua dan anggota keluarga mempunyai pengaruh yang besar dalam

gambaran tubuh anak-anak. Orangtua yang secara konstan melakukan diet dan berbicara tentang berat mereka dari sisi negatif akan memberikan pesan kepada anak bahwa mengkhawatirkan berat badan adalah sesuatu yang normal.

c. Hubungan interpersonal

Hubungan interpersonal membuat seseorang cenderung membandingkan diri dengan oranglain dan feedback yang diterima ini mempengaruhi konsep diri termasuk mempengaruhi bagaimana perasaan terhadap penampilan fisik. Menurut Dunn & Gokke (dalam Cash & Pruzinsky, 2002) menerima feedback mengenai penampilan fisik berarti seseorang mengembangkan persepsi tentang bagaimana oranglain memandang dirinya. Keadaan tersebut dapat membuat mereka melakukan perbandingan sosial yang merupakan salah satu proses pembentukan dalam penilaian diri mengenai daya tarik fisik.

Dapat disimpulkan bahwa, terdapat tiga komponen body image yang dikemukakan oleh Thompson, yaitu komponen persepsi, perkembangan, dan sosiokultural. Selain itu juga terdapat faktor media massa, keluarga dan hubungan interpersonal yang juga mempengaruhi body image seseorang.

4. Body image pada Remaja Wanita

Masa remaja merupakan masa yang sangat dipengaruhi oleh gambaran tubuh ideal yang secara tidak langsung dibentuk oleh lingkungan sekitarnya. Kebanyakan dari remaja, laki-laki maupun perempuan, mengiginkan bentuk dan

ukuran tubuh yang normal pada umumnya. Remaja selalu terokupasi dengan tubuh mereka dan membangun citra mengenai seperti apa tubuh mereka (Santrock, 2007). Remaja peduli dengan bagaimana orang lain melihat tubuhnya, ini merupakan hal penting pada remaja karena kecenderungan mereka terhadap kesadaran diri dan sensivitas pada bayangan mengenai bagaimana penilaian orang lain (Dacey & Kenny, 2001).

Remaja sangat memperhatikan perubahan fisik yang dialaminya. Mereka mementingkan penampilan fisik dan pembentukan tubuh sehingga mereka mendapatkan tubuh yang ideal. Proses pembentukan body image yang baru pada masa remaja merupakan bagian penting dari tugas perkembangan body image seseorang. Body image merupakan aspek penting dari perkembangan psikososial dan interpersonal pada remaja (Cash & Pruzinsky, 2002). Remaja sangat memperhatikan penampilan dari tubuh mereka (Dacey & Kenny, 2001). Beberapa peneliti telah menemukan bahwa penilaian remaja pada penampilan fisik mereka merupakan faktor penting pada self-esteem mereka.

Fase remaja merupakan periode penting pada perkembangan body image, terutama pada remaja wanita. Masa pubertas merupakan masa paling kritis dimana para remaja merasakan ketidakpuasan akan bentuk tubuhnya. Perkembangan remaja wanita selama tahap pubertas pada fase remaja berhubungan dengan meningkatnya berat tubuh, dan memiliki body image yang lebih negatif, dan memiliki dorongan yang kuat untuk menjadi kurus dan melakukan diet (Cash & Pruzinsky, 2002). Pada masa pubertas ini remaja wanita terlihat lebih tidak puas dan memiliki body image yang negatif dibandingkan

dengan remaja laki-laki. Hal ini disebabkan karena adanya kemungkinan meningkatnya body fat pada remaja wanita, sedangkan remaja laki-laki lebih merasa puas akan bentuk tubuhnya karena dimasa inilah otot-oto mereka mulai terlihat.

C. REMAJA

Dokumen terkait