BAB III PEMBAHASAN PUISI ESAI “MANUSIA GEROBAK” KARYA
B. Sinopsis Puisi Esai “Manusia Gerobak”
6. Imajeri
Imajeri atau daya bayang ialah suatu kata atau kelompok kata yang digunakan utnuk mengungkapkan kembali kesan-kesan pancaindra dalam jiwa kita. Berdasarkan indra yang dikenai rangsang, maka imajeri dapat dikelompokkan menjadi imajeri pandang, imajeri dengar, dan imajeri kecap.32 29 Widjojoko, op.cit., h. 61. 30 Widjojoko, op.cit., h. 61. 31
Elza Peldi Taher, Manusia Gerobak, (Depok: Jurnal Sajak, 2013), h. 125. 32
Contoh imajeri yang berasal dari kesan pancaindra tersebut dapat dilihat pada puisi esai “Zaka dan Tato Gajah” karya Elza Peldi Taher dengan penjabaran seperti berikut ini.
a. Imajeri pandang:
Tiba-tiba mata Zaka membelalak33
b. Imajeri dengar:
Hanya ada nyinyir dan cibir34
7) Pusat Pengisahan
Pusat pengisahan atau titik pandang (point of view) yaitu cara penyampaian cerita, ide, gagasan, atau kisahan cerita. Puisi yang mencakup siapa yang berbicara dan kepada siapa ditujukan (ia berbicara).35
Contoh penggunaan sudut pandang dapat ditunjukkan dalam puisi esai “Toga Hakim dan Kotak Amal” karya Elza Peldi Taher berikut ini.
Lega hatiku
Kembali ke rumah mungil Di kaki bukit Ciragil
Dalam kehangatan anak-istri Tiada bara kayu bakar Tiada darah hitam pekat.36
Bait tersebut menunjukkan penggunaan sudut pandang orang pertama (aku) sebagai pelaku utama dalam cerita dan kisahan berpusat pada tokoh ‗aku’ tersebut.
8) Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis atau pemakai bahasa. Gaya bahasa digunakan oleh penyair untuk mencapai efek tertentu misalnya mengintensifkan makna. Gaya bahasa umpamanya repetisi,
33
Taher, op. cit., h. 140. 34
Taher, op. cit., h. 139. 35
Widjojoko, op.cit., h. 62. 36
pararelisme, perumpamaan, metafora, personifikasi, dan sebagainya. Gaya-gaya bahasa itu sering digunakan oleh penyair.37
Penjelasan mengenai macam-macam gaya bahasa tersebut sebagai berikut. a. Repetisi merupakan cara yang ditempuh dengan menunggunakan gaya
perulangan. Dengan mengulang bagian-bagian tertentu, diharapkan bagian tersebut lebih mendapat perhatian, lebih ditekankan, dan lebih jelas maknanya. Bermacam-macam ragam pengulangan: ada pengulangan penuh, arti, kata, frasa, atau kalimat itu diulang sepenuhnya, tanpa ada bagian yang hilang atau ditambah; ada pula pengulangan sebagian, artinya frasa, ungkapan, atau kalimat yang diulang itu hanya sebagian saja. Ditinjau dari posisi atau letak bagian yang diulang itu pun bermacam-macam: ada pengulangan yang terletak dalam satu baris, ada yang terletak pada baris yang berlainan, ada yang terletak dalam satu bait, dan ada pula perulangan yang beruntun, dan sebagainya. Contoh repetisi sebagai berikut.
KUPANGGILI NAMAMU
(Rendra) ...
Apakah engkau juga menjadi masa silamku?
Kupanggili namamu Kupanggili namamu38
b. Paralelisme (penjajaran) merupakan penggunaan kata yang sama artinya, seperti: halus lembut
Dapat pula menggunakan penjajaran kata-kata yang bebeda artinya atau berlainan sifatnya, misalnya:
“Kujelajahi bumi dan alis kekasih” (Sitor Situmorang)
Penjajaran kata-kata semacam ini untuk mendapatkan efek puitis dan intensitas makna.39 37 Widjojoko, op.cit., h. 62. 38 Semi, op.cit., h. 129. 39 Semi, op.cit., h. 124.
c. Perumpamaan merupakan perbandingan biasa yang menggunakan kombinasi kata-kata yang menunjukkan benda-benda, perbuatan, keadaan, dan sebagainya yang senapas, selingkungan, atau sejenis, serta mempunyai sifat yang sama sebagai perbandingan.40 Perbedaan perumpamaan dengan metafora hanyalah ditentukan oleh ada tidaknya penggunaan kata-kata yang secara langsung berfungsi membandingkan antara satu objek dengan objek yang lain. Perkataan yang berfungsi demikian adalah bagai, seperti, laksana, macam, bak, seumpama. “Wajahnya seperti bulan purnama” adalah perumpamaan. Bila kata ‗seperti’ dihilangkan, maka ungkapan itu menjadi:
“Wajahnya bulan purnama” ungkapan ini merupakan metafora.41 d. Metafora yakni pengucapan yang berhubungan dengan perbandingan
langsung, atau memindahkan sifat benda yang satu menjadi sifat benda yang lain, misalnya:
TANAH AIR
(Ajip Rosidi)
Seorang putri cantik tidur
Rambutnya indah sepanjang katulistiwa membujur ...42
e. Personifikasi yaitu suatu cara pengimajian dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda mati, misal:
LAHIR SAJAK
(Subagio Sastrowardojo)
Malam yang hamil oleh benihku Mencampakkan anak sembilan bulan ke lantai bumi.
...43
9) Rima atau sajak
40 Semi, op.cit., h. 127. 41 Semi, op.cit., h. 128. 42 Semi, op.cit., h. 125. 43 Semi, op.cit., h. 126.
Rima atau sajak adalah persamaan bunyi. Persamaan bunyi bisa terjadi di awal, tengah, atau akhir. Pada puisi lama, rima akhir sangat teratur, misalnya dalam pantun (a-b-a-b), syair (a-a-a-a). Di dalam puisi modern, rima tidak seteratur puisi lama. Walaupun demikian, bukan berarti tidak berirama. Puisi modern pun menggunakan rima, hanya tidak berpola seperti dahulu. Rima digunakan secara bebas sesuai dengan ekspresi yang diinginkan penyair.44
Contoh rima dengan persamaan bunyi akhir a-a-a-a dapat ditunjukkan dalam puisi esai “Toga Hakim dan Kotak Amal” karya Elza Peldi Taher berikut ini.
Rasa keadilan terkoyak Ingin rasanya berontak Pada sistem yang retak Nurani yang nihil watak45
10)Ritme
Ritme atau irama adalah totalitas tinggi rendahnya suara, panjang pendek, dan cepat lambatnya suara saat membaca puisi. Ritme di dalam puisi dibentuk oleh pengaturan larik, jumlah suku kata, dan pengaturan bunyi. Di dalam puisi yang baik, ritme itu dapat memberi gambaran yang intensif tentang nada, rasa, dan tema.46
D. Pendekatan Mimetik
Penelitian dalam skripsi ini menggunakan pendekatan mimetik untuk melihat bagaimana kaitan karya dengan kenyataan yang ada. Pendekatan ini akan sangat relevan dengan penelitian terhadap kritik sosial yang dapat dilihat pada puisi esai “Manusia Gerobak”. Pendekatan mimetik itu sendiri dapat dijelaskan berdasarkan pendapat Abrams sebagaimana penjelasan berikut ini.
Pendekatan mimetik adalah pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya terhadap hubungan karya sastra dengan
44
Wijojoko, op.cit., h. 62. 45
Taher, op. cit., h. 129. 46
kenyataan di luar karya sastra. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai imitasi dari realitas.47
Kajian semacam ini dimulai dari pendapat Plato tentang seni. Plato berpendapat bahwa seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak. Ia berdiri di bawah kenyataan itu sendiri. Wujud yang ideal tidak bisa terjelma langsung dalam karya seni. Ini ada kaitannya dengan pandangan Plato mengenai tataran tentang Ada. Yang nyata secara mutlak hanya yang Baik. Derajat kenyataan semesta tergantung pada derajat kedekatannya terhadap Ada yang abadi. Dunia empirik tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekatinya lewat mimetik, peneladanan, pembayangan, atau peniruan. Bagi Plato tidak ada pertentangan antara realisme dan idealisme dalam seni. Seni yang terbaik lewat mimetik. Seni yang baik harus
truthful, benar. Seniman harus modest, rendah hati. Bagi Aristoteles, seniman tidak meniru kenyataan, manusia, dan peristiwa sebagaimana adanya. Seniman menciptakan dunianya sendiri. Apa yang terjadi dalam ciptaan seniman masuk akal dalam keseluruhan dunia ciptaan itu. Pada Abad Pertengahan, pendapat bahwa seni harus seperti alam menjadi pandangan umum. Hal ini ada kaitannya dengan anggapan tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ciptaan manusia hanya meneladani ciptaan Tuhan yang mutlak dan indah.48
Pandangan bahwa setiap karya sastra itu mencerminkan masyarakat dan zamannya pada umumnya dianut oleh kritikus akademik. Pandangan ini, semata-mata sering muncul dalam penelitian berupa skripsi, tesis, disertasi, dan sejumlah penelitian kecil. Penelitian tersebut berusaha mengungkap karya sastra tertentu, terutama novel karya penulis terkenal, untuk melihat refleksi masyarakat di dalamnya. Bahkan, kadang-kadang ada yang mencoba merelevansikan dengan zaman yang sedang berjalan.49
Karya sastra cenderung memantulkan keadaan masyarakat sehingga mau tidak mau akan menjadi saksi zaman. Dalam kaitan ini, sebenarnya pengarang ingin berupaya untuk mendokumentasikan zaman dan sekaligus sebagai alat
47
Siswanto, op. cit., h. 188. 48
Siswanto, op .cit., h. 189. 49
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: Pustaka Widyatama, 2003), h. 87.
komunikasi antara pengarang dengan pembacanya.50 Fungsi sastra dapat berbeda-beda dari zaman ke zaman di belbagai masyarakat. Di suatu zaman dan masyarakat tertentu, sastra mungkin berfungsi sebagai alat menyebarluaskan ideologi, di zaman lain dan masyarakat lain, sastra mungkin sekali dianggap sebagai tempat pelarian yang aman dari kenyataan sehari-hari yang tak tertahankan. Bahkan mungkin saja bagi mereka—sastra dianggap mampu memberikan pengalaman hidup dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur bagi pembacanya.51
E. Kritik Sosial
Pengertian kritik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kecaman atau tanggapan untuk menilai baik buruknya suatu pendapat, hasil karya, dan sebagainya.52 Berdasarkan Kamus Istilah Sastra, kritik adalah evaluasi dan analisis dari segi bentuk dan isi melalui proses menimbang, menilai, dan memutuskan. Kritik yang ilmiah mempertimbangkan keburukan dan kebaikan, kebenaran dan kesalahan, serta memberikan penilaian yang masak dan tidak mengobral pujian atau cacian.53 Kemudian menurut Adinegoro, kritik adalah salah satu ciri dan sifat penting dari peristiwa otak manusia sehingga kritik dapat dijadikan dasar untuk berpikir dan mengembangkan pikiran. Kritik tidak dimaksudkan untuk meruntuhkan sesuatu, tetapi untuk memperbaiki hal yang dianggap tidak sesuai dan akhirnya untuk mendapatkan kemajuan.54
Pengertian sosial dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti berkenaan dengan masyarakat, suka memperhatikan kepentingan umum.55 Dari beberapa penjabaran mengenai pengertian kritik dan sosial tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kritik sosial merupakan penilaian yang masak dengan mempertimbangkan baik buruknya peristiwa yang terjadi di masyarakat.
50 Endraswara, op.cit., h. 89. 51 Endraswara, op.cit., h. 91. 52
Tim Pusat Bahasa, op. cit., h. 742. 53
Zaidan, op.cit., h. 109. 54
Djamaludin Adinegoro, Tata Kritik. (Djakarta: Nusantara, 1958), h. 10. 55
Kritik sosial adalah salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan atau berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial atau proses bermasyarakat. Dalam konteks inilah, kritik sosial merupakan salah satu variabel penting dalam memelihara sistem sosial. Berbagai tindakan sosial ataupun individual yang menyimpang dari orde sosial maupun orde nilai moral dalam masyarakat dapat dicegah dengan memfungsikan kritik sosial. Dengan kata lain, kritik sosial dalam hal ini berfungsi sebagai wahana untuk konservasi dan reproduksi sebuah sistem sosial atau masyarakat.56 Kritik sosial juga dapat berarti sebuah inovasi sosial. Artinya, kritik sosial menjadi sarana komunikasi gagasan-gagasan baru—sembari menilai gagasan-gagasan lama—untuk suatu perubahan sosial. Kritik sosial dalam kerangka yang demikian berfungsi untuk membongkar berbagi sikap konservatif, status quo, dan vested interest dalam masyarakat untuk perubahan sosial.57 Perspektif kritik sosial yang demikian lebih banyak dianut oleh kaum kritis dan strukturalis. Mereka melihat bahwa kritik sosial adalah wahana komunikatif untuk suatu tujuan perubahan sosial.58
Kritik sosial dapat disampaikan melalui beberapa wahana, mulai dari cara yang paling tradisional, ungkapan-ungkapan sindiran melalui komunikasi antarpersonal dan komunikasi sosial, melalui berbagai pertunjukkan sosial dan kesenian dalam komunikasi publik, seni sastra, dan melalui media massa.59
Menurut Astrid Susanto, kritik sosial itu sebenarnya merupakan ssuatu yang positif karena ia mendorong sesuatu yang terjadi di dalam masyarakat untuk kembali ke kriteria. Kritik sosial adalah penilaian ilmiah atau pengujian terhadap keadaan masyarakat pada suatu saat. Dalam bidang politik, istilah kritik sosial seringkali memperoleh konotasi negatif karena diartikan mencari kelemahan-kelemahan pihak lain dalam pertarungan politik sehingga arti yang substansial dari kritik sosial itu menjadi kabur. Astrid menulis tentang arti kritik sosial ini lebih lanjut sebagai:....penjabaran megenai suatu masyarakat, anggota atau elitenya
56Akhmad Zaini Abar, “Kritik Sosial, Pers, dan Politik Indonesia” dalam Moh. Mahfud MD, dkk (editor), Kritik Sosial dalam Wacana Pembangunan, (Yogyakarta: UII Press, 1999), Cet. 2, h. 47. 57 Ibid., h. 49. 58 Ibid., h. 49. 59 Ibid., h. 49.
pada suatu saat, merupakan suatu analisa yang berbobot ilmiah dan disertai pertanggungjawaban ilmiah pula.60
Hampir semua karya sastra Indonesia sejak awal pertumbuhannya hingga dewasa ini, boleh dikatakan, mengandung unsur pesan kritik sosial walau dengan tingkat intensitas yang berbeda. Wujud kehidupan sosial yang dikritik dapat bermacam-macam seluas lingkup kehidupan sosial itu sendiri. Banyak karya sastra yang bernilai tinggi yang di dalamnya menampilkan pesan-pesan kritik sosial. Namun, perlu ditegaskan bahwa karya-karya tersebut menjadi bernilai bukan lantaran pesan itu, melainkan lebih ditentukan oleh koherensi semua unsur intrinsiknya. Pesan moral hanya merupakan salah satu unsur pembangun karya fiksi saja, yang sebenarnya justru tidak mungkin terlihat dipaksakan dalam karya yang baik, walau hal itu mungkin sekali sebagai salah satu pendorong ditulisnya sebuah karya. Selain itu, pesan moral pun, khususnya yang berupa kritik sosial, dapat memengaruhi aktualisasi karya yang bersangkutan.61
Wujud kritik sosial karya-karya sastra masa Balai Pustaka misalnya, lebih banyak berkaitan dengan adat-istiadat dan dominasi golongan tua yang tampak “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan”, khususnya dalam hal mengatur dan menentukan jodoh bagi anak-anak muda. Masalah tersebut memang aktual pada waktu itu, namun tentunya tidak untuk masa sekarang. Ada berbagai aspek kehidupan sosial yang lebih menarik, aktual, relevan untuk diceritakan dan diamanatkan sesuai dengan derap kehidupan modern. Namun demikian, sebenarnya terdapat berbagai aspek kehidupan sosial yang besifat hakiki, dan itu bersifat langgeng dan universal, tidak hanya berlaku dan tidak terikat oleh batas waktu dan tempat.62
Sastra yang mengandung pesan kritik—dapat juga disebut sebagai sastra kritik—biasanya akan lahir di tengah masyarakat jika terjadi hal-hal yang kurang beres dalam kehidupan sosial dan masyarakat. Paling tidak, hal itu ada dalam penglihatan dan dapat dirasakan oleh pengarang yang berperasaan peka.
60Moh. Mahfud MD, “Perspektif Politik dan Hukum tentang Kebebasan Akademik dan Kritik Sosial” dalam Moh. Mahfud MD, dkk (editor), Kritik Sosial dalam Wacana Pembangunan, (Yogyakarta: UII Press, 1999), Cet. 2, h. 73.
61
Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2005), Cet. 5, h. 331.
62
Pengarang umumnya tampil sebagai pembela kebenaran dan keadilan, ataupun sifat-sifat luhur kemanusian yang lain. Ia tidak akan diam dan lewat karangannya itu akan memperjuangkan hal-hal yang diyakini kebenarannya. Hal-hal yang memang salah dan bertentangan dengan sifat-sifat kemanusian tidak akan ditutup-tutupinya, sebab terhadap nilai seni ia hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, jika pengarang menerima paksaan dari luar (baca: mau menulis tidak sesuai dengan keyakinan dan kata hatinya sendiri), padahal itu diketahuinya tidak benar, misalnya sastra yang dipakai sebagai ajang main politik-politikan seperti pada masa Lekra, ia akan menghasilkan karya seni yang rendah. Menulis sebentuk karya yang tidak didukung oleh unsur isi yang sesuai dengan keyakinan sendiri, atau yang diketahuinya palsu, adalah kosong. Hal itu juga berarti pengarang telah membohongi dirinya sendiri.
Banyak karya sastra, jadi tidak hanya fiksi saja, yang memperjuangkan nasib rakyat kecil yang menderita, nasib rakyat kecil yang memang perlu dibela, rakyat kecil yang seperti dipermainkan oleh tangan-tangan kekuasaan, kekuasaan yang kini lebih berupa menjadi korban kesewenangan, penipuan, atau yang selalu dipandang, diperlakukan, dan diputuskan sebagai pihak yang selalu di bawah, kalah, dan dikalahkan. Namun, apakah dengan adanya berbagai bentuk pembelaan yang dilakukan oleh pengarang lewat karya-karya kreatifnya itu nasib rakyat menjadi lebih baik, atau pihak yang dikritik menjadi menyadari kekeliruannya, itu adalah masalah lain. Paling tidak mereka, para pengarang itu, telah merasa terlibat dengan nasib rakyat, dan itu pantas menjadi bahan perenungan kita.63
Keterlibatan penulis puisi dalam kegiatan masyarakat secara otomatis akan memberikan pengalaman sosial dan kepekaan terhadap isi-isu sosial yang terjadi. Seperti yang dipaparkan Ajip Rosidi bahwa pada setiap masa, sejak awal kebangkitannya, para penulis puisi (dan sastra umumnya) kita, selalu terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Yamin, Rustam Effendi, Sanusi Pane dan Asmara Hadi, terlibat dalam gerakan kebangsaan yang bersifat politik. Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin dan umumnya para penyair Angkatan 45 ikut serta mengangkat senjata dalam perjuangan mengusir penjajah setelah proklamasi
63
kemerdekaan. Para penyair yang lain seperti Rendra, Taufiq Ismail, Mansur Samin, Wahid Situmeang, Slamet Kirnanto dan lain-lain, terlibat dalam perjuangan menumbangkan Orde Lama atau gerakan-gerakan kemasyarakatan lainnya. Ada pula di antaranya yang pernah menduduki jabatan tinggi negara, baik dalam bidang eksekutif maupun legislatif.64
Puisi semakin menyuarakan kritikan sosial tatkala berakhirnya Orde Lama dan kemunculan Orde Baru. Seperti yang dijelaskan oleh Ajip Rosidi, sejak itu puisi seakan-akan tidak terpisahkan dari perjuangan para mahasiswa yang bersifat sosial-politik. Hampir dalam tiap demonstrasi mahasiswa, baik terhadap pimpinan Orde Lama, maupun terhadap sementara pejabat Orde Baru, lahir sajak-sajak yang ditulis dengan spontan, baik oleh para mahasiswa itu sendiri maupun oleh para penyair yang sudah mempunyai nama.65
F. Pembelajaran Bahasa dan Sastra di SMA
Pembelajaran sastra Indonesia di sekolah hingga saat ini masih menjadi kesatuan dalam satu mata pelajaran yaitu pelajaran bahasa Indonesia. Program pembelajaran apresiasi sastra Indonesia yang dipadukan dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia ini pada kenyataannya memang masih kurang menarik bagi siswa. Penyebab kurang menariknya apresiasi sastra Indonesia adalah kurang dapat dipahaminya karya sastra oleh mereka. Hal ini bisa disebabkan oleh cara mengajar yang tidak memotivasi siswa dan kurang akrabnya mereka dengan karya sastra. Ini membuktikan kurang terbinanya pengajaran apresiasi sastra dengan baik.66
Ketidakberhasilan pengajaran apresiasi sastra juga disebabkan belum ditetapkannnya alokasi waktu untuk pengajaran apresiasi sastra Indonesia sebagai mata ajar yang mandiri. Sampai kini, sastra diajarkan sebagai sambilan dalam mengajarkan bahasa Indonesia. Berdasarkan kenyataan di lapangan, tidak semua guru bahasa Indonesia mampu menyajikan pengajaran apresiasi sastra dengan
64
Ajip Rosidi, Puisi Indonesia Modern, (Jakarta: Pustaka Jaya, 2010), Cet. 5, h. 119. 65
Rosidi, op.cit., h. 107. 66
baik. Guru yang mahir mengajarkan bahasa Indonesia belum tentu mampu memikat saat mengajar sastra. Misalnya saat menyajikan puisi, selain dituntut menguasai materi ajar, guru harus memberikan contoh yang memikat dan sugestif. Hal ini sulit dilakukan oleh guru bahasa Indonesia yang kurang memiliki minat serius yang cukup tentang sastra67.
Dalam pembelajaran sastra pada khususnya, siswa bukan hanya dituntut memahami teori-teori sastra saja, tetapi juga lebih dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengapresiasi karya sastra. Keterampilan proses komunikasi diharapkan hadir dari hasil pemahaman membaca karya sastra yang baik yaitu kemampuan merekonstruksi struktur bangun sastra secara faktual yang berwujud pengalaman-pengalaman hidup yang berharga.68 Berlandaskan pada pengalaman hidup inilah siswa akan menyadari pentingnya mempelajari dan mengapresiasi karya sastra.
Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran apresiasi sastra ini, kehadiran buku-buku sastra mutlak harus dipenuhi. Pengalaman membaca sastra merupakan penentu dalam mengapresiasi karya sastra. Sehingga, lewat pembelajaran apresiasi sastra Indonesia, siswa diperkenalkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra serta mengajak siswa menghayati pengalaman-pengalaman yang disajikan. Pembelajaran apresiasi sastra Indonesia bertujuan mengembangkan nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai afektif, nilai keagamaan, dan nilai sosial, secara sendiri-sendiri, atau gabungan keseluruhan, seperti yang tercermin dalam karya sastra.69
Penyampaian bahan ajar yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari merupakan strategi pengajaran yang paling tepat. Strategi ini memerlukan cara mengajar yang bervariasi. Strategi mengajar tersebut bukanlah strategi bagaimana mengajar dengan mudah, praktis, dan dapat menyelesaikan bahan pembelajaran secara tepat waktu, tetapi perlu dipikirkan pula bahwa strategi mengajar harus
67 Widjojoko, op.cit., h, 98. 68 Widjojoko, op.cit., h, 98. 69 Widjojoko, op.cit., h, 98.
berorientasi kepada tingkat keterpahaman dan pengalaman siswa terhadap bahan pembelajaran yang dipersiapkan secara terencana.70
G.Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan skripsi ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Prima Yulia Nugraha (NIM 106013000311) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011 yang berjudul Kritik Sosial dengan Pendekatan Mimetik pada Kumpulan Puisi Potret Pembangunan dalam Puisi karya W.S. Rendra. Penelitian tersebut menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui kritik sosial yang terdapat dalam Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon dan Sajak Sebotol Bir. Metode yang digunakan adalah metode dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data atau dokumen untuk memperkuat informasi, seperti terdapat dalam bacaan maupun internet, lalu dilanjutkan dengan menganalisis data sejarah yakni pada dua puisi tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Pengkajian yang dilakukan yakni pengkajian terhadap struktur batin dan fisik dalam puisi serta pengaitan peristiwa sosial yang berlangsung di sekitar tahun penciptaan puisi dengan peristiwa yang digambarkan oleh Rendra di dalam puisinya. Adapun kesamaan penelitian ini dengan penelitian tersebut yakni pendekatan mimetik yang digunakan dalam menganalisis, pengkajian terhadap unsur pembangun puisi, dan pengaitan fakta sosial yang terkandung dalam puisi. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian tersebut yakni puisi yang digunakan dalam penelitian. Penelitian tersebut menggunakan puisi berjudul Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon dan Sajak Sebotol Bir karya WS Rendra, sedangkan penelitian ini menggunakan puisi esai berjudul “Manusia Gerobak” karya Elza Peldi Taher.