• Tidak ada hasil yang ditemukan

Imersi Mandiri yang Menyadarkan Diri

Dalam dokumen PENERBIT PT KANISIUS (Halaman 70-74)

Juanda Santoso XI MIPA 4/15

P

andemi ini benar-benar membuat semua kegiatan men-jadi tertunda, bahkan harus diganti. Salah satunya adalah kegiatan imersi. Kegiatan ini seharusnya men jadi sebuah kegiatan yang mengasyikkan jika dilakukan secara offline. Tapi apa daya, kini imersi harus dialihkan secara online, yaitu imersi mandiri. Selama dua hari, kami diharuskan untuk menjadi berkat bagi sesama, terutama yang ada di sekitar/dekat kita.

Pada hari pertama, saya diizinkan untuk mengikuti kegiatan Buah Kasih Natal, yaitu sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Sosial dan Kerohanian yang bertujuan mem-berikan parcel natal kepada pensiunan guru dan karyawan SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya. Pada kegiatan ini, kami (dalam tim) ditugaskan untuk mengirim parcel ke tujuh rumah di sebelah utara Surabaya. Pengiriman menuju rumah pertama dapat kami jalani dan serah kan dengan baik. Akan tetapi, hujan mulai tu run ketika kami menuju ke rumah kedua. Ketika kami tiba, ternyata yang bersangkutan dikabarkan sudah pindah rumah dan kami tidak mendapatkan alamat barunya. Perjalanan kami berlanjut.

Kami tiba di lokasi ketiga. Ketika sampai, kami berjalan menyu suri gang dan mele wati wilayah perkampungan. Untung saja, hujan

I M E R S I 2 0 2 1 61

Imersi Mandiri yang Menyadarkan Diri

sudah berhen ti. Ditambah lagi, wilayah perkampungan tersebut diteduhi oleh berbagai tumbuhan yang membuat kita merasa sejuk dan tidak panas. Kami pun disambut baik ketika sampai di lokasi tersebut. Setelah kembali ke mobil, kami baru sadar bahwa ternyata jarak perjalanan yang kami tempuh, dapat lebih dekat bila turun di pinggir jalan raya (awalnya dari dalam perumahan).

Setelah itu kami menuju ke lokasi ke empat. Setelah tiba, kami kembali menyusuri wilayah perkampungan dengan jalan yang sempit. Setelah sampai di rumahnya, ternya ta lokasi rumah yang kami tuju bukanlah lokasi yang tepat. Kami diberi tahu bahwa ternyata lokasi rumah tersebut berada di pinggir jalan raya.

Akhirnya kami pun berjalan menyusuri pinggir jalan raya dan sampailah di rumah yang bersangkutan. Kami pun juga disambut baik saat menyerahkan parcel tersebut.

Perjalanan kami terus berlanjut. Pada saat kami melakukan kegiatan Buah Kasih Natal adalah hari Jumat. Waktu menunjuk-kan pukul 12 siang, dimana kaum muslim sedang melaksanamenunjuk-kan ibadah jumatan. Salah satu akses kami menuju rumah kelima terhalang oleh parkiran motor di depan masjid. Akhirnya kami memutar melewati jalan lain. Sesampainya di rumah tujuan, ternyata rumah tersebut tidak dimiliki oleh orang yang kami tuju. Setelah menerima pesan dari pusat, akhirnya kami me-ngunjungi rumah di sampingnya. Ternyata rumah tersebut ada-lah milik adik dari orang yang kami tuju, dan kebetulan beliau juga merupakan mantan guru olahraga SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya. Kami pun diizinkan masuk dan berbincang bersama.

Kami juga mendapatkan alamat baru milik orang yang awalnya kami tuju dari beliau. Setelah itu kami pamit dan menuju lokasi keenam. Untung saja lokasi keenam mudah di jangkau dan tidak memerlukan banyak waktu untuk menemu kannya. Setelah itu kami menyerahkan parcelnya, lalu bergegas menuju ke lokasi terakhir. Di lokasi terakhir, kami juga menemui kesulitan. Ternyata rumahnya sudah dijual dan yang bersang kutan sudah pindah

62 L I F E T O B E C A R I N G Imersi Mandiri yang Menyadarkan Diri

sebanyak tiga kali. Untung saja, tetangga terdekatnya memberikan kami alamat baru. Akhirnya kami bergegas menuju ke lokasi yang baru dan pengiriman parcel berjalan dengan lancar. Akhirnya kami kembali pulang ke sinlui.

Pada hari kedua, saya melakukan imersi di rumah. Mengingat rumah saya masih ada beberapa ru ang yang dalam proses pemba-ngunan, maka saya memutuskan untuk membantu ayah. Saya membantu memahat dinding guna menjadi saklar listrik. Selama memahat, tangan saya sering terkena palu sehingga terasa sakit.

Walaupun begitu, sebenarnya saya sudah sering membantu ayah saya memahat dinding. Jadi, hal ini bukanlah pertama kalinya un-tuk saya. Selain memahat dinding, saya juga membantu mengamp-las dinding yang kasar hingga halus. Walaupun pada akhirnya saya kelelahan, saya senang dapat membantu ayah saya kembali setelah sekian lama.

Ketika pertama kali mendengar kata Imersi Mandiri, saya sungguh me-nyesalkan hal ini. Karena imersi seha-rusnya men jadi salah satu kegiatan yang dilakukan secara offline. Intuisi saya makin bu ruk ketika mendengar bahwa kegiatan ini juga melakukan ke- giatan-kegiatan rumah, seperti mencu-ci baju, menje mur pa kaian, dan lain-nya. Lantas apa be danya dengan tidak me lakukan imer si, bukankah saya juga

sering me la kukan kegiatan-kegiatan seperti ini. Kalimat inilah yang ter lintas di pikiran saya. Tetapi, pemi kiran saya berubah keti-ka saya me lakuketi-kan kegiatan ini. Ternyata makna imersi tidak han-ya sekadar me nginap di pedesaan dan men jalani kesederhanaan, akan tetapi juga dapat menyadari dan memper hatikan kondisi di lingkungan kita.

I M E R S I 2 0 2 1 63

Imersi Mandiri yang Menyadarkan Diri

Selain nilai, saya kembali diingatkan untuk memperhatikan lingkungan di sekitar saya, mulai dari keluarga. Melakukan de ngan niat yang tulus juga menunjukkan bahwa saya juga mengasihi dan memperhatikan keluarga saya dengan baik. Salah satu motivasi saya yang paling mendasari kegiatan ini adalah #selagibisa. Kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan kembali kepada Tuhan.

Oleh karena itu, #selagibisa dan selagi masih ada waktu, lakukan-lah dengan baik!

Imersi mandiri ini membuatku terjebak dalam rutinitas tugas sekolah karena tuntutannya untuk membuat video dan refleksi, akan tetapi sekaligus membuatku bergerak maju dan semakin baik.

64

Kesempatan untuk

Dalam dokumen PENERBIT PT KANISIUS (Halaman 70-74)