Upaya pembiasaan sikap sopan santun agar menjadi bagian dari pola hidup seseorang yang dapat dicerminkan melalui sikap dan perilaku keseharian. Sopan santun sebagai perilaku dapat dicapai oleh anak melalui berbagai cara. Implementasi perilaku sopan santun pada anak usia dini menurut Yus (2011:55) meliputi.
a. Kebiasaan anak mengucapkan salam
Cara mengajarkan kebiasaan mengucapkan salam kepada anak yaitu dengan menyambut kedatangan anak di gerbang sekolah sambil mengucapkan salam.
b. Kebiasaan anak berdoa dengan tertib
Untuk mengajarkan kebiasaan berdoa dengan tertib kepada anak, guru dapat mengajak anak untuk berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran dan sebelum dan sesudah makan dan minum.
c. Kebiasaan anak bertutur kata yang baik
Agar anak memiliki tutur kata yang baik, guru mengajarkan anak mengucapkan terima kasih, memberikan bimbingan ketika anak mulai berkata kasar dan berteriak ketika proses pembelajaran maupun bermain.
d. Kebiasaan anak bertingkah laku yang baik
Menanamkan sikap dan perilaku yang baik kepada anak, guru dapat melakukannya dengan membiasakan anak mencium tangan orang yang lebih tua ketika berjabat tangan, menerima sesuatu dengan tangan kanan, mengucapkan terima kasih ketika diberi sesuatu dan permisi ketika lewat di depan orang yang lebih tua.
18 B. Kajian Penelitian Relevan
Kajian penelitian yang relevan dalam penelitian ini adalah yang pertama, penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Nugraheni (2015) yang berjudul
“Manajemen Pola Asuh dalam Pengembangan Karakter Kemandirian Anak Usia Dini di KB Islam Al Azhar 29 Semarang.” Dalam penelitiannya ia menjelaskan tentang manajemen pola asuh yang meliputi bagaimana perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pola asuh dalam pengembangan karakter kemandirian anak di KB Islam Al Azhar 29 Semarang. Ada kesamaan dan perbedaan antara penelitian yang ditulis oleh Wahyu Nugraheni dengan penelitian yang penulis buat. Persamaanya adalah menggunakan jenis penelitian kualitatif dan membahas tentang pola asuh, sedangkan perbedaannya terletak pada subjek dan fokus penelitian.
Subjeknya adalah anak usia dini di KB Islam Al Azhar 29 Semarang dan fokus penelitian pada penelitian Wahyu Nugraheni lebih memfokuskan pada pengembangan karakter kemandirian pada anak usia dini.
Kedua, Felia Maifani (2014) dengan judul “Peranan Orang Tua Dalam Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini di Desa Lampoh Tarom Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar.” Hasil penelitian yang dilakukan Felia Maifani menunjukkan bahwa peranan orang tua dalam membentuk karakter anak sangatlah penting yang mana pembentukan karakter anak harus dimulai sedini mungkin bahkan sejak anak masih berada dalam kandungan. Penelitian oleh Felia Maifani, memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini.
Persamaannya terletak pada topik kajian yaitu pola asuh orang tua dalam pembinaan karakter anak. Sedangkan perbedaannya terletak pada subjek dan fokus penelitian yang akan dikaji yaitu subjeknya anak di Desa Lampoh Tarom Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar dan penelitian ini lebih memfokuskan analisa pada peran orang tua dalam membina karakter anak sejak dini, sedangkan penelitian ini memfokuskan analisa pada pembentukan karakter sopan santun anak.
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Amanatul Firdausy (2014) dengan judul “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Tingkat Kecerdasaan
19
Sosial Emosional Anak Siswa Kelas X MA Negeri Babakan Lebaksiu Tegal.”
Penelitian yang dilakukan oleh Amanatul Firdausy menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survey. Hasil pada penelitian ini menyimpulkan pola asuh orang tua dapat dilihat dari angket rata-rata yaitu 35,05 berada pada interval 32-37, dengan kategori cukup, sedangkan hasil tingkat kecerdasaan emosional anak nilai rata-rata yaitu 71,4 berada pada interval 67-71 dengan kategori cukup. Persamaan dalam penelitian ini dengan yang skripsi yang ditulis oleh Amanatul adalah tentang pola asuh orang tua. Sedangkan perbedaannya selain berbeda jenis penelitian, juga terletak pada subjek yang diteliti adalah siswa MA Negeri Babakan Lebaksiu Tegal dan fokus penelitiannya terletak pada tingkat kecerdasan emosional anak.
Berikut ini merupakan tabel persamaan, perbedaan dan orisinalitas kajian relevan.
Tabel 2.1 Persamaan, perbedaan dan orisinalitas kajian relevan No Nama
Peneliti
Judul
Penelitian Persamaan Perbedaan Orisinalitas 1 Wahyu fokus penelitian pada penelitian ini lebih memfokuskan pada
2 Felia Peranan Persamaann Perbedaannya terletak Penelitian
20 penelitian yang akan dikaji yaitu subjeknya anak di Desa Lampoh Tarom Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar dan penelitian ini lebih memfokuskan analisa penelitian yaitu siswa MA Negeri Babakan Lebaksiu Tegal dan dan fokus penelitian pada penelitian ini lebih memfokuskan pada pola asuh orang
tua dalam
mengembangkan sosial emosional anak usia dini.
21 C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan konsep pikiran peneliti untuk mempermudah penelitian sehingga arahnya jelas. Penelitian ini akan mengkaji terkait bagaimana pola asuh keluarga dalam pembentukan karakter sopan santun pada anak di Desa Sitirejo yang disajikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
Sesuai dengan bagan kerangka berpikir di atas, pola asuh keluarga merupakan segala bentuk ekspresi orang tua dalam memelihara, menjaga, membimbing, membina dan mendidik anaknya sehingga dapat
POLA ASUH KELUARGA
Bentuk Perilaku Sosial
Otoriter Demokratis Permisif
PEMBIASAAN
KARAKTER Karakter Sopan Santun
Benturan Nilai Karakter Sopan
Santun
KETELADANAN
Konstruksi Pola Asuh Bentuk Pola Asuh
Keluarga dalam Pembentukan Karakter
Sopan Santun
22
mempengaruhi jiwa emosional anak sejak kecil hingga dewasa. Macam-macam pola asuh ada 3 yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan permisif.
Pola asuh otoriter merupakan bentuk pola asuh dimana orang tua memegang kendali penuh tanpa adanya kebebasan anak mengemukakan pendapatnya.
Pola asuh demokratis merupakan bentuk pola asuh dimana orang tua bertanggung jawab dalam memberikan kesempatan anak untuk memilih mana yang terbaik bagi kehidupannya. Sedangkan pola asuh permisif merupakan bentuk pola asuh dimana anak mendapat kebebasan penuh untuk menentukan pilihan dalam kehidupannya.
Bentuk pola asuh yang diterapkan dalam setiap keluarga akan menghasilkan macam-macam bentuk perilaku sosial anak yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, orang tua harus memahami dan memilih pola asuh mana yang paling baik dan cocok untuk diterapkan dalam mendidik anaknya.
Orang tua perlu membiasakan kebiasaan yang positif meskipun dimulai dengan hal yang sederhana kepada anak-anaknya. Misalnya membiasakan anak sejak dini untuk selalu menempatkan Tuhan dalam hati mereka, mencintai kebersihan, peduli dengan orang lain, menjunjung tinggi kejujuran, mau bergotong royong dan yang paling penting menjaga kesopansantunan (tata krama).
Pada awalnya sebelum anak mengenal lingkungan luar, kepribadian anak bisa dikatakan masih murni artinya sikap mereka tidak jauh beda dengan orang tuanya. Namun setelah mengenal dunia luar sifat mereka cenderung dipengaruhi lingkungan pendidikan dan lingkungan bermain. Segala tingkah laku mereka harus terus dipantau oleh orang tua karena pada masa-masa ini sifat keingintahuan mereka sangat tinggi. Selain itu, orang tua perlu memberikan pedoman dan pegangan hidup kepada anaknya mana yang baik dan yang buruk. Hal ini membuktikan bahwa pola asuh keluarga merupakan hal sangat penting dalam pembentukan karakter, terutama sopan santun anak.
Teladan dari sikap orang tua sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak karena nantinya anak akan lebih mudah meniru apa yang dilihatnya secara langsung daripada hanya teori semata.
23
BAB III