• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Konsep Persatuan KH. Hasyim Asy’ari di Indonesia

BAB III Biografi KH. Hasyim Asy’ari

B. Implementasi Konsep Persatuan KH. Hasyim Asy’ari di Indonesia

Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang persatuan kebangsaan diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Peranan dan kontribusi KH. Hasyim dalam menjaga persatuan baik dalam persatuan kebangsaan maupun persatuan keagamaan terutama dalam rangka melawan hegemoni kolonial Belanda dan juga penjajahan

12 Hasyim Asy’ari, Risalah fi Ta’akud al Akhdzib bi Madzhahib al Aimmah Al Arba’ah, dalam M. Ishomuddin Hadziq (Ed.), Irsyad As sari fi Jam’I Mushannafati As Syaikh Hasyim Asy’ari, Jombang:

Pusataka Warisan Islam Tebuireng, h. 28-29.

jepang merupakan wujud nyata dari implementasi pemikiran bahwa persatuan dalam semangat nasionalisme juga harus diupayakan secara maksimal.13

Peran dan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang persatuan tidak bisa dikesampingkan begitu saja, sebab dalam sejarah perjalanan Indonesia beliau ikut andil untuk menyatukan seluruh komponen masyarakat Indonesia. Mulai dari mendirikan organisasi Nahdlatul ‘Ulama, menyatukan seluruh golongan dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia), partai Islam dalam Masyumi dan melahirkan fatwa jihad, atau yang dikenal dengan resolusi jihad dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.14

KH. Hasyim Asy’ari berhasil mengkontruksikan pemikiran maupun prilaku masyarakat Indonesia dengan konsep keberagamaan khas Indonesia yang di satu sisi tidak lepas dari akar-akar tradisi yang berkembang di Indonesia, dan di sisi lain KH.

Hasyim Asy’ari tetap berpegang teguh kepada khazanah salafusshalih sunni. Inilah yang membuat keunikan dan perbedaan dengan tokoh-tokoh agama lainya.15

Lahirnya pemikiran persatuan menurut analisis penulis, secara umum, adalah kondisi sosial bangsa Indonesia yang pada saat itu berada dalam tekanan penjajahan, termasuk umat Islam. kondisi tersebut berlangsung cukup lama dan melatarbelakangi pemikiran dan pergerakan para tokoh pada masa itu. Termasuk pada pemikiran KH.

Hasyim Asy’ari.

13 Muhammad Rifa’i, KH. Hasyim Asy’ari; Biografi Singkat 1871-1947, Yogyakarta: Garasi House of Book, 2010, h. 107.

14Abdul Hadi, KH. Hasyim Asy’ari: Sehimpun Cerita, Cinta Dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara, Cetakan 1, (Baturetno, Banguntapan, Yogyakarta: Diva Press, 2018), h. 35.

15 Syamsun Ni’am, Wasiat Tarekat: Hadratus Syaikh Hasyim ASy’ari, Cet. 1 (Sleman, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 102.

Setelah terjadi perubahan peta politik perlawanan bangsa Indonesia, dengan karakteristik kooperatif diplomatik, muncullah beberapa organisasi yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan, salah satunya yang didirikan KH. Hasyim Asy’ari, yang bernama Nahdlatul Ulama’ (NU).

Tahun 1926 merupakan tahun dilahirkanya NU. Dalam tahun yang sama KH.

Hasyim Asy’ari menulis sebuah kitab yang yang dijadikan pendahuluan Undang-undang dasar bagi organisasi NU. Kitab tersebut bernama Al Muqaddimah Al-Qanun Al-Asasi Li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, kitab tersebut mengandung beberapa pemikiran KH. Hasyim Asy’ari yang tentunya dilatar belakangi oleh kondisi sosial yang terjadi saat itu. Artinya, dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial yang melatar belakangi lahirnya NU merupakan kondisi sosial yang melatarbelakangi pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Al Muqaddimah Al-Qanun Al-Asasi Li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’.

Kondisi sosial politik bangsa Indonesia saat itu tengah mengalami perubahan orientasi dan karakteristik perjuangan kemerdekaan, akibat adanya kebijakan politik etis kolonial Belanda. Perubahan itu ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi sosial yang lebih ditujukan untuk mengetengahkan tuntutan-tuntutan sosial dari golongan tertentu di dalam masyarakat.

Menurut analisis penulis, kondisi sosial politik inilah yang melatarbelakangi pemikiran KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Al Muqaddimah Al-Qanun Al-Asasi Li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’. Terutama yang berkaitan dengan tema besar persatuan.

Ketika pemerintah kolonial belanda bersikap melunak dalam mengeluarkan kebijakan dan sedikit memberi ruang kebebasan bagi rakyat Indonesia, maka sudah semestinya, rakyat bersatu dalam mengupayakan kemerdekaan melalui jalur pergerakan kooperatif

diplomatik. Tidak terkecuali umat Islam Indonesia. Mereka juga harus bersatu mengusahakan kemerdekaan Indonesia.16

Implementasi dari pemikiran persatuan Hasyim Asy’ari juga di aplikasikan dalam bentuk gerakan melawan para penjajah yang sudah penulis sebutkan di atas, dengan salah satunya mengeluarkan fatwa jihad atau yang kita kenal dengan Resolusi Jihad. Para pemimpin-pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh militer seperti, Soekarno, Bung Tomo, dan Jendral Soedirman meminta saran-saran kepada para Kyai. Mereka datang untuk meminta pendapat, nasihat, bahkan fatwa tentang perjuangan melawan penjajahan.

Mengingat keadaan negeri dalam keadaan genting, pada tanggal 21-22 Oktober 1945, Kiai Hasyim Asy’ari mengundang para ulama dan konsul-konsul Nahdlatul Ulama’ se-Jawa dan Madura untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan.

Datanglah banyak kiai dari berbagai lapisan masyarakat, tak terkecuali dari Jawa Barat, seperti Kiai Abbas Buntet, Kiai Satori Arjawinangun, Kiai Amin Babakan Ciwaringin-Cirebon, dan Kiai Sudja’I Indramayu, hal terpenting dibahas adalah status hukum Negara Kesatuan Republik Idonesia. Setelah dibahas darurat selama dua hari dengan pimpinan sidang Kiai Wahab, maka diambilah titik temu dengan berpedoman pada sumber-sumber hukum Islam, peserta musyawarah sepakat bahwa kemerdekaan Negara Indonesia adalah sah. Dalam hal ini, KH. Hasyim Asy’ari mengatakan,

“Statusnya sah secara fikih. Karena itu, umat Islam wajib berjihad untuk mempertahankanya.”

Kemudian untuk merespon sikap sekutu yang arogan dan kembali ingin menjajah bangsa Indonesia, Kiai Hasyim, atas nama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’,

16 Muchamad Coirun Nizar, “Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tentang Persatuan”. Endogami:

Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi. Vol. 1, No. 1, 2017, h. 70-71. Artikel ini diakses pada 4 April 2021 dari https://ejournal.undip.ac.id/index.php/endogami/article/view/16839.

memfatwakan seruan jihad fi sabilillah kepada setiap muslim untuk mempertahankan kemerdekaan sampai titik darah penghabisan.17

Pada 17 September 1945 Kyai Hasyim mengeluarkan fatwa jihad yang berisikan ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah.18 Fatwa ini merupakan bentuk jawaban dari pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam untuk melakukan pembelaan terhadap tanah airnya dari ancaman asing.19

Menurut KH. Hasyim Asy’ari “Perang Kemerdekaan Dianggap Sebagai Perang Suci Allah (Jihad Fi Sabilillah)”.20 KH. Hasyim Asy’ari, menyampaikan amanat berupa pokok-pokok kaidah tentang tentang kewajiban umat Islam, pria maupun wanita dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya. bahwa wajib hukumnya berjuang mempertahankan NKRI. Yang gugur dalam medan perang dianggap sebagai syahid fi sabillah. “Berperang menolak dan melawan pendjadjahan itoe fardloe ‘ain (jang haroes di kerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewajiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjokoep, kaloe dikerdjakan sebagian sadja).

17 Irawan, Aguk. Penakluk Badai. Jakarta: Republika 2018. h. 392.

18 Gugun El-Guyanie, Resolusi Jihad Paling Syar’I, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010), h.

67.

19 Zainul Milal Bizawie, Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945-1949) (Jakarta, Pustaka Compass, 2015), h. 206.

20 Lathiful Khuluk, Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari. Yogjakarta, Lkis 2000, h. 110-115.

Dalam hal ini ternyata pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang persatuan dan kesatuan bukan hanya di implementasikan dalam menghadapi para penjajah saja, tetapi pemikiran persatuan dan kesatuan KH. Hasyim Asy’ari turut meyertai bangsa Indonesia dalam membuat rumusan mengenai arah bangsa atau (dasar Negara).

Agar bangsa indonesia bisa terlepas dari jeratan penjajah segera dibentuklah Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dari badan ini lah mulai muncul usulan ususlan dasar Negara yaitu pancasila dan Islam.

Bung Karno sempat meminta seluruh anggota BPUPKI untuk menerima pancasila.

Karena ada jalan buntu antara kaum Nasionalis dan Islam.

Pertentangan dasar Negara ini sangat tajam, akhirnya dibentuk panitia Sembilan. Diantranya para tokoh yang terlibat : Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Achmad Soebardjo, Abikoeseno Tjokrosoejoso, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, AA Maramis dan Abdul Kahar Muzakir.21 Panitia ini menghasilkan piagam Jakarta yang kemudian diubah menjadi pancasila atas dasar kesepakatan bersama. Dari situ, kita melihat umat Islam mengalah dengan keadaan.

Mereka melihat jika perdebatan terus menerus dilakukan akan terjadi konflik yang besar.

Oleh karena itu KH. Hasyim Asy’ari melalui putranya KH. Wahid Hasyim menyuruhnya untuk bisa menjaga stabilitas yang terjadi di dalam forum demi persatuan dan kesatuan bangsa, hingga Sampai pada penghapusan tujuh kata sila pertama “

21 Aprilia, Anisatul Khoir, Sugiyanto dan Sri Handayani, “The Role of Nahdlatul Ulama on Indonesia National Movement on 1926-1945 ”, Vol. 1, No. 2, 2017, h. 258. Artikel ini diakses pada 15 Maret 2021 https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JHIS/article/view/6438.

dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya”, pun umat Islam menunjukan kebesaran hati menerima sebagai mayoritas.22

Tangan-tangan strategi dakwah yang dilakukan KH. Wahid Hasyim tidak bisa lepas dari bisikan dan peran dari KH. Hasyim Asy’ari. Sebuah sikap yang tepat di masa genting yang diharuskan cepat dalam merumuskan dasar Negara, agar Bangsa Indonesia segara merdeka.23

22Farih, Amin, “Nahdlatul Ulama Dan Kontribusinya Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Dan Mempertahankan Kesatuan Republik Indonesia”, Vol. 24, No. 2, 2016, h. 272. Artikel ini diakses pada 15 Maret 2021 https://journal.walisongo.ac.id/index.php/walisongo/article/view/969/pdf.

23 https://tebuireng.online/4-peran-kh-hasyim-asyari-untuk-kemerdekaan-ri/. (diakses pada tanggal 30 Maret 2021 pukul 21:30).

55

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan oleh penulis di bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah sebagai berikut:

1. Konsep KH. Hasyim Asy’ari tentang persatuan dapat dikelompokan dalam dua jenis persatuan, pertama, persatuan kebangsaan yang artinya persatuan yang dilandasi dengan kesamaan kebangsaan. Kedua, persatuan keagamaan yaitu persatuan yang dilandasi dengan kesamaan agama. Sebenarnya, pemikiran tentang persatuan dalam kitab tersebut lebih cenderung diarahkan dalam ruang lingkup keagamaan. Hal ini tentunya dikarenakan kitab tersebut memang hanya diperuntukkan bagi kalangan NU yang notabene merupakan organisasi keagamaan. Meski secara tersirat, pemikiran tentang persatuan kebangsaan tidak terdapat dalam kitab ini, namun jika melakukan penelaahan lebih dalam, bahwa yang di maksud di dalam kitab Al Muqaddimah Al Qanun Al Asasi Li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ialah termasuk persatuan kebangsaan dalam ruang lingkup Negara. Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang persatuan juga dikuatkan dengan keteranganya yang menjelaskan tentang bahaya perpecahan.

Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan dan kegagalan di sepanjang zaman. Bahkan pangkal kehancuran dan kemacetan, sumber keruntuhan dan kebinasaan, dan penyebab kehinaan dan kenistaan

2. Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tentang persatuan diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Peranan dan kontribusi KH. Hasyim dalam menjaga persatuan baik dalam persatuan kebangsaan maupun persatuan keagamaan terutama dalam rangka melawan hegemoni kolonial Belanda dan juga penjajahan jepang merupakan wujud nyata dari implementasi pemikiran bahwa persatuan dalam semangat nasionalisme juga harus diupayakan secara maksimal. Mulai dari mendirikan organisasi Nahdlatul ‘Ulama, menyatukan seluruh golongan dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia), partai Islam

dalam Masyumi dan melahirkan fatwa jihad, atau yang dikenal dengan resolusi jihad, bahkan beliau ikut andil dalam merumuskan dasar Negara dalam hal ini KH. Wahid hasyim yang menjadi penyambung buah pemikiran beliau.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas yang menjadi saran penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pemikiran persatuan KH. Hasyim Asy’ari sebagai seorang ulama telah mengajarkan kepada kita semua, selaku umat muslim akan pentingnya makna persatuan baik dalam lingkup kebangsaan maupun dalam lingkup keagamaan yang masih tetap relevan untuk senantiasa diperhatikan sampai saat ini, maka keteladanan dan perjuangan beliau semestinya selalu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua sebagai penerus bangsa.

2. Sosok KH. Hasyim Asy’ari menjadi Inspirator bagi masyarakat Indonesia dan generasi kontemporer. Khususnya bagi kaum muslimin dan kaum santri dalam mewujudkan Indonesia menjadi negara merdeka dalam satu tujuan (Bhineka Tunggal Ika), untuk itu kita sebagai umat islam dan bangsa Indonesia perlu menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari ancaman negara lain, sehingga KH. Hasyim Asy’ari dalam risalahnya mengajak umat Islam untuk menjalin silaturrahmi dalam lingkup sosial, meningkatkan nilai kualitas keimanan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT dalam ruang lingkup ketauhidan.

3. Perlu adanya penelitian lanjutan terkait implementasi dan relevansi konsep persatuan KH. Hasyim Asy’ari di zaman sekarang

57

Anam, Choirul. Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama. Surabaya: Duta Aksara Mulia, 2010.

Asy’ari, Hasyim, Risalah fi Ta’akud al Akhdzib bi Madzhahib al Aimmah Al Arba’ah, dalam M. Ishomuddin Hadziq (Ed.), Irsyad As sari fi Jam’I Mushannafati As Syaikh Hasyim Asy’ari, Jombang: Pusataka Warisan Islam Tebuireng. 2007.

---, dalam Risalat Ahl sunnah wa jama’ah, Jombang: Maktabat Turath al-Islami Tebuireng. 1997.

---, Al Muqaddimah Al Qanun Al Asasi Li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, Jombang:

Pustaka Warisan Islam Tebuireng, 1969.

Bizawie, Zainul Milal, Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad, Garda Depan Menegakkan Indonesia. (1945-1959), Tanggerang; Pustaka Compass, 2014.

Dhofier, Zamakhsyari. Tradisi Pesantren, studi tentang pandangan hidup kyai.

Jakarta:LP3ES, 1982.

El-Guyanie, Gugun, Resolusi Jihad Paling Syar’I, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2010.

Federspiel, M. Howard, “Kata Pengantar” dalam Lathiful Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama, Yogyakarta: LKiS, 2000.

Hadi, Abdul, KH. Hasyim Asy’ari: Sehimpun Cerita, Cinta Dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara, Cetakan Pertama. Baturetno, Banguntapan, Yogyakarta: Diva Press, 2018.

Hadziq, Ishomudin, KH. Hasyim Asy’ari: Figur Ulama & Pejuang Sejati. Jombang:

Pustaka Warisan Islam Tebuireng 2007.

Hisyam, Ibn, Sirah Al-Nabiyy , t. tp: Dar al-fikr, 1981.

Irawan, Aguk. Penakluk Badai. Jakarta: Republika 2018.

Jamal, Muhammad al-Din surur, Qiyam al-Dawlah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah fi Hayati Muhammad saw. Al-Qahirah: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, 1977.

Kaelan, Filsafat Pancasila “Pandangan Hidup Bangsa Indonesia”. Yogyakarta: Paradigma, 2009.

Khuluk, Lathiful, Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari. Yogjakarta, Lkis 2000.

Madjid, Nurcholis, Islam, Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1992.

Mastuki HS, Intelektual Pesantren; Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Perkembangan Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka. 2006.

Mintz, Jeanne S., Muhammad, Marx, Marhaen; Akar Sosialisme di Indonesia, terj.

Zulhilmiyasari,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.

Muzadi, A. Muhith (1995), NU dan Fiqih Kontektual, Yogyakarta: LKPSM NU DIY.

Nasution, Harun, Islam Ditinjau dar Berbagai Aspeknya, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1985.

Ni’am, Syamsun, Wasiat Tarekat: Hadratus Syaikh Hasyim ASy’ari, Sleman, Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media, 2011.

Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia II, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1975.

Pulungan, J.Sayuthi, Prinsip-Prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah di Tinjau dari Pndangan Al-Qur’an, Jakarta, Raja Grafindo Persada 1996.

Rifai, Muhammad, KH.Hasyim Asy’ari: Biografi Singkat 1871-1947. Jakarta: Garasi,2009.

Rozikin, Badiatul, 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia. Yogjakarta: e- Nusantara, 2009.

Ruhimat, Mamat, dkk, IPS Terpada Kelas VII Jilid I, Jakarta: Grafindo Media Pratama 2006.

Sjadzali, Munawir, H., Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, Jakarta:

UI Press, 1990.

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1986.

Sukarja, Ahmad, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945, Jakarta: Universitas Indonesia press, 1995.

Syarif, Mujar Ibnu dan Khamami Zada, Fiqh Siyasah: Doktrin dan Pemikiran Politik Islam, Jakarta: Erlangga, 2008.

Syaukani HR, Kerajaan Kutai Kertanegara, Kutai: Pulau Kumala, 2002.

T.W. Arnold, The Preaching of Islam, Lahore Pakistan: Ashraf Peinting Press, 1979.

Wahid, Solahuddin, Biografi 7 Rais Am PBNU . Kediri:Nous Pustaka Utama, 2012.

Watt, W. Montgomery, Muhammad at Medina, London: Oxford University press, 1972.

Zuhairi, Misrawi. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari;Moderasi, Keumatan dan Kebangsaan, Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2010.

Zuhri, Achmad Muhibbin, Pemikiran KH.M.Hasyim Asy’ari Tentang Ahl Al-Sunnah wa Al- Jama’ah . Surabaya: Khalista, 2010

B. Jurnal.

Aprilia, Anisatul Khoir, Sugiyanto dan Sri Handayani, “The Role of Nahdlatul Ulama on Indonesia National Movement on 1926-1945 ”, Vol. 1, No. 2, 2017.

Coirun Nizar, Muchamad, “Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tentang Persatuan”.

Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi. Vol. 1, No. 1, 2017.

Cunino, Maria Antonia, “Nasionalisme, Toleransi, dan Kepemimpinan Pada Buku Teks Pembalajaran Sejarah SMA” Historia: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah, Vol. 2, No. 1, 2008.

Fadli, Muhammad Rijal dan Ajat Sudrajat, “Keislaman dan Kebangsaan: Telaah Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari”, Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora. Vol. 18, No.

1, 2020.

Farih, Amin, “Nahdlatul Ulama Dan Kontribusinya Dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Dan Mempertahankan Kesatuan Republik Indonesia”, Vol. 24, No. 2, 2016.

Hanafi, “Hakekat Nilai Persatuan Dalam Konteks Indonesia”. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Vol. 3, No. 1, 2018.

Fata, Ahmad Khoirul dan Ainun Najib , “Kontektualisasi Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tentang Persatuan Umat Islam”. Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman. Vol. 37, No.

2, 2014

Pradhani, Sartika Intaning, “Sejarah Hukum Maritim Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dalam Hukum Indonesia Kini”. Jurnal Lembaran Sejarah. Vol. 13, No. 2, 2017.

Pursika, I nyoman, Pendidikan dan Pengajaran, : Jurnal Jilid 42, Nomor 1, April 2009.

Sutrisno, Imam hadi, “Kajian Ekspedisi Pamalayu Dalam Konsep Nasionalisme Majapahit”

Seuneubook Lada: Jurnal Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya, dan Kependidikan.

Vol 5, No. 1, 2018.

Yusrianto, “Pemikiran Politik dan Perjuangan KH. Hasyim Asy’ari Melawan Kolonialisme”. Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia. Vol. 3, No. 2,

C. Website

https://tebuireng.online/4-peran-kh-hasyim-asyari-untuk-kemerdekaan-ri/. Artikel diakses pada 13 Maret 2021.

Dokumen terkait