• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Persatuan kebangsaan Zaman Rasulullah

BAB III Biografi KH. Hasyim Asy’ari

B. Konsep Persatuan kebangsaan Zaman Rasulullah

Dari An-Nu’man bin Basyir, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “ Kamu melihat orang-orang mukmin di dalam saling berkasih sayang, mencintai, dan bersimpatinya seperti tubuh. Jika (sebagian) anggotanya sakit, maka sebagian anggota tubuh lainya, akan tertatih-tatih (ikut merasakanya) sebab tidak bisa tidur dan demam. (HR.

Muslim).

Imam Nawawi menegaskan bahwa hadits tersebut sangat jelas menunujukan tentang besarnya hak sebagian mukmin kepada sebagian lainya, serta motivasi kepada mereka akan pentingnya saling berkasih sayang, berempati, dan bahu membahu tidak didalam dosa dan hal-hal yang tidak patut.

Dalam Islam sendiri, setiap pemeluknya dianjurkan untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Karena setiap manusia mempunyai karakter yang berbeda satu dengan yang lain. Karena itulah, dalam Al Quran dan As-sunnah dijelaskan agar manusia saling mengenal. Dengan saling mengenal itulah, diharapkan bisa melahirkan rasa saling menghormati, menghargai, dan tolong menolong antar sesama.

B. Konsep Persatuan kebangsaan Zaman Rasulullah

Ketika Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah beliau banyak mengajarkan nilai persatuan dan kesatuan dalam berbangsa. Hal itu tercermin ketika Rasulullah membangun kota Madinah. Hal pertama yang bisa ditauladani dari kisah hijrah Nabi

adalah menyatukan keragaman. Di Madinah terdapat banyak suku, ras, etnis, bahkan agama. Ada Yahudi, Nasrani, Islam Muhajirin, Ansor bahkan kaum pagan.2

Semua mereka dipersatukan oleh Rasulullah dalam naungan bangsa Madinah.

Rasulullah membentuk persatuan dan kesatuan di antara mereka, dengan keberhasilanya meniadakan konflik antar satu sama lain. Padahal, Yahudi dan Nasrani sebelum Nabi ke Madinah identik dengan dua kelompok yang sering berseteru.

Sejarah menujukan bahwa Nabi Muhammad dan umat Islam, selama kurang lebih 13 tahun di mekkah terhitung sejak pengangkatan Muhammad saw. Sebagai Rasul, belum mempunyai kekutatan dan kesatuan politik yang menguasai suatu wilayah. Umat Islam menjadi satu komunitas yang bebas dan merdeka setelah pada tahun 622 M hijrah ke Madinah, kota yang sebelumnya merupakan umat lemah yang tertindas, di Madinah mereka mempunyai kedudukan yang baik dan segera merupakan umat yang kuat dan dapat berdiri sendiri.3

Tidak lama sesudah hijrah ke Madinah, Muhammad saw. Membuat suatu piagam politik untuk mengatur kehidupan bersama di Madinah yang dihuni oleh beberapa macam golongan. Ia memandang perlu meletakan aturan pokok tata kehidupan bersama di Madinah agar terbentuknya kesatuan hidup diantara seluruh penghuninya.4 Kesatuan hidup yang baru dibentuk itu dipimpin oleh Muhammad saw sendiri, dan menjadi Negara yang berdaulat. Dengan demikian, di Madinah Nabi

2Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1995) h. 101.

3 Harun Nasution, Islam Ditinjau dar Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1985) Cet. Ke-5, Jilid I, h. 92.

4 Muhammad Jamal al-Din surur, Qiyam al-Dawlah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah fi Hayati Muhammad saw, (Al-Qahirah: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, 1977) h. 95.

Muhammad bukan lagi hanya mempunyai sifat Rasul Allah, tetapi juga mempunyai sifat Kepala Negara.5

Di tetapkanya piagam politik tersebut merupakan salah satu siasat Rasul sesudah hijrah ke Madinah,6 yang dimaksudkan untuk membina kesatuan hidup berbagai golongan warga Madinah. Dalam piagam itu dirumuskan kebebasan beragama dan hubungan antar kelompok.

Di dalam piagam Madinah secara eksplisit tertulis nama beberapa golongan dan berbagai macam suku. Nabi Muhammad saw., tampaknya, memiliki pengetahuan yang luas tentang keadaan dan politik kelompok-kelompok itu.7 Karena pada mulanya masing-masing kelompok hidup secara terpisah, maka tidak ada persatuan di antara mereka, dan mereka tidak mepunyai pemerintahan yang membawahi berbagai kelompok itu.8

Tiap suku merupakan satu badan yang berdiri sendiri, terpisah dari suku lain.

Nabi Muhammad saw, dapat menempatkan diri sebagai pemimpin di Madinah, di tengah-tengah berbagai macam suku yang mengakuinya sebagai pemimpin masyarakat. Islam ditanamkanya sebagai satu kesatuaan agama dan politik. Ia berhasil menciptakan sebuah bangsa di bawah satu naungan kepemimpinan, sebagai suatu

5 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1985) Cet. Ke-5, Jilid I, h. 93.

6 Muhammad Jamal al-Din surur, Qiyam al-Dawlah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah fi Hayati Muhammad saw. (Al-Qahirah: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, 1977) h. 98.

7 W. Montgomery Watt, Muhammad at Medina (London: Oxford University Press, 1972) hlm.

79.

8 Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1995) h. 98.

perwujudan dari gagasan besar, berupa prinsip kehidupan nasional di Arabia. Ia mampu menjadikan Islam sebagai agama yang menghasilkan rekonsiliasi.9

Kebijakan politik Nabi Muhammad SAW dituangkanya dalam satu naskah politik yang dikenal sebagai “Piagam Madinah”. Di dalam piagam Madinah terdapat kalimat-kalimat yang mengandung makna dan mengarah kepada kesatuan dan persatuan. Pada pasal 1 dinyatakan “mereka satu umat bebeda dari yang lain.” Pasal 15 menyebutkan “perlindungan Allah adalah satu”. Pada pasal 16 menentukan “orang yahudi yang mengikuti kita, berhak atas pertolongan dan bantuan.” Pasal 24 menyatakan “kaum yahudi memikul biaya bersama kaum mukmin selama dalam perperangan”. Pasal 25 menyebutkan “yahudi Bani ‘Awf satu umat bersama kaum mukminin”.10

Dalam rangka upaya melakukan konvergensi sosial, Nabi Muhammad saw melakukan langkah-langkah seperti: pertama, membangun Masjid sebagai tempat ibadah dan pertemuan dengan kaum muslimin, Masjid yang pertama dibangun adalah Masjid Quba’, Kedua, mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Kedua hal tersebut beliau lakukan bahkan sebelum piagam Madinah ditetapkan. Ketiga, meletakkan dasar-dasar tatanan masyarakat baru yang mengikutsertakan semua penduduk Madinah yang terdiri dari berbagai kelompok, termasuk kaum yahudi.11 Pada bulan-bulan pertama menetap di Madinah ia Sibuk mengatur berbagai urusan yang menyangkut komunitas muslimin, agama, dan urusan secular.12 Banyak sekali

9 T.W. Arnold, The Preaching of Islam, (Lahore Pakistan: Ashraf Peinting Press, 1979) h. 31-33.

10 Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1995) h. 99.

11 Ibn Hisyam, Sirah Al-Nabiyy (t. tp: Dar al-fikr, 1981) Juz 2, h. 114-126.

12 Ahmad Sukardja, Piagam Madinah dan Undang-Undang Dasar 1945, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1995) h. 100.

urusan kehidupan internal kaum muslimin yang ditanganinya. Demikian pula urusan-urusan eksternal seperti hubungan dengan pihak Yahudi, Musyrikin Mekkah dan dengan Kelompok-kelompok nomad.

Dokumen terkait