• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III Biografi KH. Hasyim Asy’ari

B. Riwayat Pendidikan

Ayah Kyai Hasyim Asy’ari adalah guru pertama yang membimbing berbagai disiplin ilmu keagamaan dari kecil hingga umur 15 tahun. Melalui ayahnya, kyai Hasyim mulai mengenal dan mendalami disiplin ilmu Islam di antaranya Tauhid, Tafsir, Hadist, Bahsa Arab, dan bidang kajian keislaman lainya. Diumrnya yang masih muda beliau sudah dipercaya membantu ayahnya mengajar santri yang lebih senior.9

Keinginan memperluas pengetahuan tentang ilmu agama beliau meminta izin kepada orang tua untuk menjelajahi berbagai pesantren. Beberapa pesantren yang disambangi beliau adalah pesantren Wonokromo Probolinggo, pesantren Tenggilis Surabaya, pesantren Kademangan Bangkalan dan Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo.

6 Solahuddin Wahid, Biografi 7 Rais Am PBNU, Kediri : Nous Pustaka Utama, 2012, h. 47.

7 Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama. Surabaya: Duta Aksara Mulia, 2010. h. 70.

8 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, studi tentang pandangan hidup kyai. Jakarta:

LP3ES, 1982, h. 98.

9 Badiatul Rozikin, 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia. Yogjakarta: e- Nusantara, 2009. h. 246.

Semasa di pesantren Kademangan Bangkalan yang saat itu diasuh oleh Kyai Kholil Beliau belajar selama tiga tahun tentang tata bahasa Arab, Sastra, Fiqih dan Tasawuf.

Sedangkan di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo di bawah bimbingan kyai Ya’qub beliau mendalami ilmu Tauhid, Fiqih, Adab, Tafsir dan Hadits.

Sesudah dari pesantren di Jawa, Kyai Ya’qub merekomendasikankyai Hasyim Asy’ari untuk melanjutkan pendidikan kepada ulama-ulama terkenal di mekkah.

Diantaranya guru-guru beliau adalah Syaikh Ahmad Amin al-Attar, Sayyid Sultan bin Hasyim, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Attasy, Syaikh Sa’id al-Yamani, Sayyid ‘Alawi bin Ahmad as-Saqqaf, Sayyid ‘Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Syaikh Salih Bafadal dan Syaikh Sultan Hasyim Dagastani, Syaikh Syu’aib bin Abdurrahman, Syaikh Ibrahim ‘Arab, Syaikh Rahmatullah Sayyid ‘Alwi as-Saqqaf, Sayyid Abu Bakr Syata’ ad-Dimyati, dan Sayyid Husain al-Habsyi. Selain itu juga bekiau berguru kepada ulama Nusantara yang mukim di Mekkah, yaitu : Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, Syaikh Nawawi al-Bantani, dan Syaikh Mahfuz at-Tirmasi. 10

Kemasyhuran dan kedalaman ilmu beliau membuat banyak ulama nusantara yang ingin berguru kepada beliau, diantaranya adalah: Syaikh Sa’dullah al-Maymani (Mufti di Bombay, India), Syaikh ‘Umar Hamdan (ahli hadits mekkah), As-Shihab Ahmad bin ‘Abdullah (Syiria), KH. Abdul Wahab Chasbullah (Tambak Beras Jombang), KHR. Asnawi (Kudus), KH. Dahlan (Kudus), KH. Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), KH. Saleh (Tayu).

Sebagaimana dijelaskan sebelum Kyai Hasyim pernah mendapatkan bimbingan langsung dari Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi dan mengikuti halaqah-halaqah yang digelar oleh Syaikh Khatib. Beberapa sisi tertentu dari pandangan Kyai Hasyim, khususnya mengenai terekat, diduga kuat juga dipengaruhi oleh pemikiran kritis Yaikh Khatib, meskipun pada sisi yang lain Kyai Hasyim berbeda denganya. Dialektika

10 Muhammad Rifai, KH. Hasyim As’ari: Biografi Singkat 1872-1947. Jakarta, Garasi 2009, h.

21-22.

intelektual guru dan murid terjadi sangat menarik antara Syaikh Khatib dan Kyai Hasyim.11

Salah satu pandangan kontroversial Syaikh Khatib adalah penolakanya terhadap tarekat Naqsabandiyah. Ketidaksetujuanya dengan praktek-praktek terekat, terutama tarekat Naqsabandiyah dituangkan melalui tiga risalah yang ditulis olehnya antara tahun 1324 H sampai 1326 H. ketiga risalah tersebut adalah Izhar ‘Aql al-Kazibin fi Tasyabbuhihim bi al-‘Abidin, al-Ayat al-Bayyinat li al-Munsifin Izalah Khurafat Ba’d Musta’assibin, dan Safi Battar fi Mahq Kalimat Ba’d Ahl al-Ibtirar. Dalam hal ini, Kyai Hasyim tidak sependapat dengan pandangan kritis Syaikh Khatib. Sejak masih di mekkah, Kyai Hasyim sudah memiliki ketertarikan dengan terekat. Bahkan, Kyai Hasyim juga sempat mempelajari dan mendapatkan ijazah terekat Qadariyyah wa Naqsabandiyah melalui salah satu gurunya Syaikh Mahfuz.

Kyai Hasyim dan Syaikh Khatib juga pernah terlibat dalam perdebatan cukup serius terkait dengan Syarikat Islam (SI). Kyai Hasyim begitu kritis terhadap kehadiran SI dan menuangkanya dalam risalah Kuff “Awwam ‘an Kahudi fi Syarikat al-Islam. Melalui risalah tersebut direspon oleh Syiakh Khatib dengan menerbitkan bantahan berupa risalah Tanbih al-‘Anam fi ar-Radd ‘ala Risalah Kaff al-‘Awwam ‘an al-Kaud fi Syarikat al-Islam.12

Perkembangan intelektual Kyai Hasyim juga banyak dipengaruhi oleh Syaikh Mahfuz at-Tirmasi. Peran penting yang diberikan Syaikh Mahfuz adalah wajar mengingat selain sebagai pengajar di masjid al-Haram, ia juga dikenal luas menjadi isnad (periwayat Hadits) dalam mengerjakan kitab Hadits Bukhari melalui metode ijazah (otoritas periwayatan). Kyai Hasyim merupakan murid kesayangan Syiakh Mahfuz yang mendapat ijazah sebagai pengajar kitab Sahih al-Bukhari. Selain itu Kyai Hasyim juga mendapatkan pelajaran terekat dari Syaikh Mahfuz.

11 Lathiful Khuluk, Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari. Yogjakarta, Lkis 2000, h. 34.

12Lathiful Khuluk, Fajar Kebangunan Ulama: Biografi KH. Hasyim Asy’ari. Yogjakarta, Lkis 2000, h. 29-30.

Pemikkran keagamaan Kyai Hasyim juga dipengaruhi oleh Syiakh Nawawi al-Bantani. Syaikh Nawawi adalah seorang pengajar di Masjid al-Haram yang merupakan asli putra Nusantara. Ia dianggap sebagai nenek moyang intelektualitas yang bermazhab Syafi’I di Nusantara. Banyak kyai NU yang juga merupakan teman sejawat Kyai Hasyim berguru kepada Syiakh Nawawi, diantaranya: KHR. Asnawi Kudus, KH.

Tubagus Muhammad Asnawi Purwakarta, Syiakh Muhammad Zainuddin as-Sumbawi, Syaikh Abd as-Satar bin Abd a-Wahhab as-Sidqi al-Makki, Sayyid ‘Ali bin al-HAbsyi al-Madani dan masih banyak lagi.13

C. Karya - Karya KH. Hasyim Asy’ari

Kealiman dan keilmuan yang dimiliki Kiai Hasyim yang didapat selama berkelana menimba ilmu ke berbagai tempat dan ke beberapa guru dituangkan dalam berbagai tulisan. Sebagai seorang penulis yang produktif, beliau banyak menuangkannya ke dalam bahasa Arab, terutama dalam bidang tasawuf, fiqih dan hadits. Sebagian besar kitab-kitab beliau masih dikaji diberbagai pesantren, terutama pesantren-pesantren salaf (tradisional). Karya-karya KH.Hasyim Asy’ari:14

1. Adabul ‘Alim wal Muta’alim. Menjelaskan tentang etika seorang murid yang menuntut ilmu dan etika guru dalam menyampaikan ilmu. Kitab ini diadaptasi dari kitab Tadzkiratu Sami’ wa Mutakallim karya Ibnu Jamaah al-Kinani. Risalah Ahlu al-Sunnah Wa al-Jama’ah (kitab lengkap). Membahas tentang beragam topik seperti kematian dan hari pembalasan, arti sunnah dan bid’ah, dan sebagainya.

2. Tibyan Fi Nahyi ‘An Muqatha’ati’ Arkam wa ‘Aqarib Wa Al-Ikhwan. Berisi tentang pentingnya menjaga silaturrahmi dan larangan

13 Muhammad Rifai, KH. Hasyim As’ari: Biografi Singkat 1872-1947. Jakarta, Garasi 2009, h.

21-24.

14 Mastuki HS, Intelektual Pesantren; Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di era Perkembangan Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka, cet. ke- 1, h. 321.

memutuskannya. Dalam wilayah sosial politik, kitab ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Kiai Hasyim dalam masalah UkhuwahIslamiyah.

3. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li jam’iyyat Nahdhatul Ulama’. Karangan ini berisi pemikiran dasar NU, terdiri dari ayat-ayat Al- Qur’an, hadis, dan pesan- pesan penting yang melandasi berdirinya organisasi NU.

4. Risalah Fi Ta’kid al-Akhdzi bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah. Karangan ini berisi tentang pentingnya berpedoman kepada empat mazhab, yaitu Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali.

5. Mawai’idz. Karangan berisi tentang nasihat bagaimana menyelesaikan masalah yang muncul ditengah umat akibat hilangnya kebersamaan dalam membangun pemberdayaan

6. Al-Durar al-Muntashirah fi Masa’il Tis’a Asharah. Kitab ini berisi 19 masalah tentang kajian wali dan thariqah. Ada 19 masalah yang dibahas dalam buku ini.

7. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’i Jamiyyah NahdlatulUlama’.

Karya ini berisi 40 Hadis tentang pesan ketakwaan dan kebersamaan dalam hidup, yang harus menjadi fondasi kuat bagi umat dalam mengarungi kehidupan.

8. An-Nur Al-Mubin Fi Mahabbati Sayyid Al-Mursalin. Menjelaskan tentang arti cinta kepada Rasul dengan mengikuti dan menghidupkan sunnahnya.

Kitab ini diterjemahkan oleh Khoiron Nahdhiyin dengan judul Cinta Rasul Utama.

9. Ziyadah Ta’liqat ‘Ala Mundhumah Syaikh Abdullah Yasin al-Fansuruani.

Berisi perdebatan antara Kyai Hasyim dan Syaikh Abdullah bin Yasin.

10. Al-Tanbihat Al-Wajibah Liman Yashna’ Al-Maulid bi Al-Munkarat. Berisi tentang nasehat-nasehat penting bagi orang-orang yang merayakan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang dilarang agama.

11. Dhau’ul Misbah fi Bayani Ahkam al-Nikah. Kitab ini berisi tentang hal-hal

yang berkaitan dengan pernikahan, mulai dari aspek hukum, syarat rukun, hingga hak-hak dalam pernikahan.

12. Risalah Tusamma bi al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus. Menerangkan tentang permasalahan hukum memukul kentongan pada waktu masuk waktu sholat.

13. Risalah Jami’atul Maqashid. Menjelaskan tentang dasar-dasar aqidah Islamiyyah dan Ushul ahkam bagi orang mukallaf untuk mencapai jalan tasawuf dan derajat wusul ila Allah.

14. Al-Risalah fi al-Aqaid. Kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa , berisi tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan Tauhid.

15. Miftah al-Falah fi Ahadith al-Nikah. Berisi tentang hadith-hadith yang berhubungan dengan pernikahan. Yang dikumpulkan dari hadith-hadith Nabawiyah.

16. Abyan al-Nizom fi Bayani Ma Yu’maru bihi au Yanha ‘Anhu min Anwa’I al- siyam. Tentang macam-macam puasa yang diperbolehkan dan dilarang.

17. Audoh al-Bayan fi Ma Yata’allaqu bi Wazoifi Ramadhan. Berisi tentang hadith-hadith yang berhubungan dengan Ramadhan. Tentang ibadah-ibadah di bulan Ramadhan dan keutamaan-keutamaannya.

18. Ahsanu al-Kalam fi Ma Yata’allaqu bi Sya’ni al-‘Id min al-Fadoili wa la- Ahkam. Berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan shalat id, baik mengenai keutamaanya ataupun hukumnya.

19. Irshadu al-Mu’minin Ila Sirati Sayyid al-Mursalin. Berisi tentang ringkasan kisah perjalanan kehidupan Nabi dan para sahabat.

20. Al-Manasik al-Sughra li Qasidi Ummi al-Qura. Risalah tentang ibadah haji dan umroh dan hal-hal yang diwajibkan didalamnya.

21. Jami’ah Maqasid fi Bayani Mabadi Tauhid wa Fiqh wa al-Tasawuf li al-Murid. Berisi tentang kaidah-kaidah agama islam,

pokok-pokok tasawuf dan cara ber-wusul kepada Allah.15

Dokumen terkait