BAB IV IMPLIKASI KONSEP KEPRIBADIAN PENDIDIK DALAM QS
B. Implementasi Nilai-Nilai Kepribadian Pendidik Dengan
Sering kita mendengar berita tentang orang tua murid melaporkan gurunya karena melakukan pemukulan, kekerasan, dan pelecehan seksual. Juga masih segar dalam ingatan kita bagaimana pelaksanaan ujian nasional dikotori dengan upaya-upaya tidak jujur demi kelulusam siswa baik dilakukan oleh pimpinan sekolah, guru, maupun siswa sendiri. Sementara ada juga guru yang terjerat minuman keras dan narkoba. Sungguh suatu gambaran buram dunia pendidikan yang sangat memprihatinkan yang menunjukkan menurunnya karakter para pendidik generasi penerus bangsa. Dengan kenyataan tersebut diperlukan kepribadian yang harus dimiliki seorang pendidik yang dapat diterapkan di sekolah. Beberapa kepribadian pendidik yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah adalah sebagai berikut:
1. Mulai berdakwah dan berani memberikan peringatan kepada jalan kebenaran
Seorang guru harus mampu bangkit dan berani dalam menyampaikan kebenaran kepada anak didiknya, meskipun dengan berbagai resiko yang akan dihadapinya nanti (Budiman, 2001: 93). Seorang pendidik juga harus memiliki kecakapan dalam menyampaikan kebenaran, serta senantiasa menekuni dan menambah ilmu pengetahuannya. Seorang guru dengan ilmu yang dikuasainya harus berani mengatakan sesuatu kebenaran meskipun perkataannya berbeda dengan orang lain.
Menurut Asmani (2009: 45) Sebagai seorang motivator, seorang guru harus mampu membangkitkan semangat dan mengubur kelemahan anak didik bagaimanapun latar belakangnya dan bagaimanapun berat tantangannya. Tanpa ada kata menyerah, karena Allah menyayangi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dijalan-Nya dan berjanji memberi jalan kesuksesan.
Ketika dalam pembelajaran di sekolah seorang guru telah menerapkan sikap berani menyampaikan kebenaran sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka pendidik tersebut tentunya akan
berhasil membebaskan anak didiknya dari kebodohan,
ketidaktahuan, keterbelakangan, kelemahan, ketakutan dan dari segala hal yang dapat membuatnya tertinggal. Pendidik juga akan mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan sesuai dengan
ajaran agama. Sebagai contoh perilaku pendidik yang berani menyampaikan kebenaran yaitu, mengingatkan murid ataupun rekan kerja sesama guru ketika memakai rok mini di sekolah atau melanggar peraturan sekolah yang lainnya.
2. Mengagungkan Allah
Tanpa mengagungkan atau mengingat Allah dan
memasrahkan segala urusan kepada-Nya dalam menghadapi dunia yang semakin modern tentunya akan membuat seseorang mudah terombang-ambing dan mengalami kegalauan jiwa dan mudah
merasa putus asa. Untuk itu seorang pendidik dituntut dalam setiap
langkahnya dilandasi dengan mengingat dan memasrahkan segala urusannya kepada Allah.
Dengan mengagungkan Allah menuntut seseorang untuk selalu berbuat kebaikan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, serta akan menuntunnya kea rah hidup yang benar. Segala aktivitas kehidupan yang ia geluti akan bermuara pada keinginan untuk berbuat baik dan memperbaiki kehidupan. Kondisi seperti ini akan membuat dirinya terhindar dari sikap dan perbuatan yang merusak karena hal itu tidak sesuai dengan arah hidup yang dimiliki (Munir, 2010: 184).
Saat seorang pendidik mampu menerapkan hal di atas dalam pembelajaran di sekolah, ia akan mampu membimbing peserta didiknya dengan baik dan membawa mereka kepada jalan
yang benar. Misalnya, seorang pendidik tidak akan merasa putus asa ketika usahana membimbing peserta didiknya gagal, namun ia akan menjadikan kegagalannya sebagai cambuk untuk lebih semangat lagi dalam berusaha sebab ia memiliki iman yang kuat di dalam hatinya.
3. Bersih
Orang yang beriman akan selalu menjaga kebersihan, baik kebersihan badan, pakaian, dan lingkungannya. Kebersihan juga sangat penting untuk kesehatan. Bagi murid-murid sekarang ini, baik di kota maupun di desa, bahkan sampai ke pelosok nusantara, kerapian pakaian sudah menjadi kebutuhan utama dalam proses belajar mengajar. Murid akan merasa senang apabila melihat
gurunya berpakaian rapi dan sopan. Murid kurang respect terhadap
guru yang berpakaian tidak rapi. Ketika murid senang dengan performance lahir guru, maka hal ini akan sangat berpengaruh terhadap penerimaan murid terhadap materi pelajaran yang disampaikan (Asmani, 2009: 104).
Untuk itu seorang pendidik dalam pembelajaran di sekolah dituntut untuk selalu berpenampilan rapi dan bersih agar tercipta proses pembelajaran sukses dan menyenangkan.
4. Meninggalkan Perbuatan Dosa
Seorang pendidik harus bisa dijadikan teladan dan rujukan bagi peserta didik maupun masyarakat sekitarnya. Hal ini
menjadikan guru untuk selalu menjaga segala perkataan dan perbuatannya baik dalam lingkungan sekolah atau tidak. Ia harus meninggalkan segala perbuatan dosa karena tugas sebagai pendidik adalah tugas sebagai pengganti Rasulullah, untuk itu ia harus
mampu meneladani sifat dan sikap Rasulullah serta
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh dalam pembelajaran di sekolah yaitu, seorang pendidik tidak mengatakan perkataan yang kasar dan menyakiti peserta didiknya sehingga mengakibatkan kebencian diantaranya. Apabila pendidik mampu meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat maka ia akan memiliki wibawa yang tinggi di mata peserta didiknya dan begitu sangat disegani.
5. Ikhlas
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendidik, ia dituntut untuk ikhlas dan hanya mengharapkan ridha Allah. Dalam
pembelajaran di sekolah misalnya, seorang guru harus
mengikhlskan ilmunya untuk disalurkan kepada peserta didik sehingga proser transfer ilmu dapat dengan mudah diterima dan tanpa ada pihak yang merasa terpaksa.
Apabila seorang guru memiliki keikhlasan, ia akan rela mengabdi di manapun, meski di desa terpencil sekalipun. Dengan segala kekurangan yang ada tidak akan dijadikan masalah, ia akan tetap berusaha membimbing dan membina anak didiknya agar
berguna bagi nusa dan bangsa. Gaji yang kecil tidak akan membuatnya menyerah, tidak akan membuatnya meninggalkan tanggung jawabnya sebagai guru (Djamarah, 2005: 32).
6. Sabar
Menjadi seorang guru tidak selalu menghadapi murid-murid yang baik, penurut, anteng, atau tidak pernah iseng. Ada saja dari murid-murid yang justru sikapnya memancing kemarahan gurunya. Maka, guru yang tidak bisa mengintrol emosinya dengan baik, terpancing untuk memarahi anak didiknya (Azzet, 2011: 33).
Berbeda dengan guru yang bisa mengontrol emosinya dengan baik. Ia akan mencoba memahami dan membicarakannya baik-baik, sebab sikap yang lembut jauh lebih bermanfaat dari pada kemarahan. Di sinilah sesungguhnya menjadi penting bagi seorang pendidik untuk dapat mengontrol emosi dengan baik agar para siswanya merasa senang sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.
Ketika dalam menjalankan tugasnya, seorang pendidik mampu
menerapkan nilai-nilai kepribadian sebagaimana disebutkan di atas. Maka akan tercapailah tujuan pembelajaran yang sesuai dengan ajaran Agama, terbentuknya generasi-generasi penerus bangsa yang berakhlakul karimah dan akan tercipta kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan pada pembahasan bab sebelumnya dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Konsep kepribadian pendidik yang terdapat dalam qs.
al-Muddatstsir ayat 1-7 adalah:
a. Mulai berdakwah dan berani memberi peringatan kepada
jalan kebenaran,
b. Mengagungkan Allah,
c. Bersih,
d. Meninggalkan perbuatan dosa,
e. Ikhlas,
f. Dan sabar.
2. Implikasinya dalam konteks dunia pendidikan kontemporer.
Kepribadian pendidik yang terdapat pada qs. al-Muddatstsir ayat 1-7 di atas sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan kontemporer. Salah satunya yaitu, nilai-nilai yang terdapat di dalamnya sangat relevan dengan dunia modern sehingga dengan berbekal nilai-nilai tersebut, mampu dijadikan tameng oleh pendidik dalam menghadapi arus globalisasi yang semakin kuat dan nilai-nilai kepribadian pendidik tersebut sangat
sesuai serta menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran apabila diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam peneitian ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena keterbatasan pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul penelitian ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya penelitian ini dan peneliti-peneliti lain di kesempatan berikutnya. Semoga penelitian ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
Penulis begitu bersyukur kepada Allah SWT. Karena dengan ridha dari-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan lancar. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan sumbangsih pada terselesaikannya penelitian ini baik berupa tenaga maupun doa, Semoga Allah membalasnya dengan berlipat-lipat.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis dapat menyarankan bagi:
1. Pendidik
Nilai-nilai kepribadian pendidik yang terkandung dalam qs. al-Muddatstsir ayat 1-7 diharapkan mampu memberikan kontribusi pada pendidik agar selalu berpegang teguh dengan ajaran agama
Islam dan memelihara serta mengembangkan kepribadian sesuai
dengan syari‟at agama.
2. Peserta didik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pijakan bagi para peserta didik dalam menentukan perilaku atau kepribadian seorang pendidik yang pantas untuk ditiru dan dijadikan sebagai pedoman.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. 1983. Ilmu Pendidikan 2. Salatiga: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.
Al- Abrasyi, M Athiyah. 1993. Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: PT
Bulan Bintang.
Al-Ghazali. Tt. Ayyuhal Walad. Surabaya: Al-Hidayah.
Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1993. Terjemah Tafsir al-Maraghi. Semarang:
CV. Toha Putra.
Al-Qarni, „Aidh. 2008. Tafsir Muyassar. Jakarta: Qisthi Press.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi
Revisi IV. Jakarta: Rineka Cipta.
Asmani, Jamal Ma‟ruf. 2009. Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif.
Yogyakarta: Diva Press.
Az-Zarnuji. Tt. Ta’lim Muta’allim. Semarang: Toha Putra.
Azzet, Akhmad Muhaimin. 2011. Menjadi Guru Favorit. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media.
Budihardjo. 2012. Pembahasan Ilmu-Ilmu al-Qur‟an. Yogyakarta: Lokus.
Budiman, A. Nasir. 2001. Menjadi Guru Merdeka (Petikan Pengalaman).
Yogyakarta: Lkis.
Daulay, Haidar Putra. 2007. Pendidikan Islam (Dalam Sistem Pendidikan
Departemen Agama Republik Indonesia. 1986. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Salatiga: Departemen Agama.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
El-Qurtuby, Usman. 2012. Al-Qur’an Cordoba (Special for Muslimah). Bandung:
PT. Cordoba Internasional Indonesia.
Hadi, Sutrisno. 1981. Metodologi Research Jilid 1. Yogyakarta: UGM Press.
Hamka. 1983. Tafsir al-Azhar (juzu‟ XXIX). Jakarta: PT. Pustaka Panjimas.
Hasbi Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad. 2000. Tafsir Al-Qur’anul Majid An
-Nuur (Jilid 5). Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.
http://roqitstory.blogspot.co.id/2011/05/tafsir-surat-al-mudatsir-1-7.html.
Kosim, Muhammad. 2012. Pemikiran Pendidikan Islam Ibn Khaldun (Kritis,
Humanis dan Religius). Jakarta: Rineka Cipta.
Munir, Abdullah. 2010. Super Teacher (Sosok Guru Yang Dihormati, Disegani
dan Dicintai). Yogyakarta: Pedagogia.
Nata, Abuddin. 2012. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir al-Ayat al-Tarbawiy). Jakarta: Rajawali Pers.
Nawawi, Imam. Tt. Hadis Arba’in An-Nawawiyah dan Terjemahnya. Solo:
Hidayatul Insan.
Nurdin, Muhammad. 2010. Kiat Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media.
Rahmaniyah, Istighfarotur. 2010. Pendidikan Etika (Konsep Jiwa dan Etika Perspektif Ibnu Miskawaih dalam Kontribusinya di Bidang Pendidikan). Malang: UIN-Maliki Press.
Raqib, Moh dan Nurfuadi. 2009. Kepribadian Guru. Yogyakarta: Grafindo Litera
Media.
Shihab, M. Quraish. 2009. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayah Publishing.
Suwarno, Wiji. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz.
Tasir, Ahmad. 2008. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.