• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai-Nilai Kepribadian Pendidik Dalam Qs. Al-Muddatstsir

BAB IV IMPLIKASI KONSEP KEPRIBADIAN PENDIDIK DALAM QS

A. Nilai-Nilai Kepribadian Pendidik Dalam Qs. Al-Muddatstsir

Globalisasi telah merubah cara hidup manusia sebagai individu, sebagai warga masyarakat dan sebagai warga bangsa. Tidak seorang pun yang dapat menghindar dari arus globalisasi. Tugas dan peran pendidik semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai pendidik tentu akan semakin berat dalam menghadapi

perkembangan globalisasi yang semakin pesat. Karena dalam

perkembangan itu berdampak pada pergeseran nilai-nilai, sehingga sebagai pendidik, harus mampu mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai Islam di tengah arus globalisasi yang pesat.

Untuk itu dalam hal ini, penulis akan menguraikan mengenai nilai-nilai kepribadian pendidik dalam Qs. al-Muddatstsir: 1-7 yang relevan dengan dunia modern, agar dapat dijadikan wacana dan bekal bagi para pendidik. Nilai-nilai tersebut antara lain:

1. Mulai Berdakwah dan Berani Memberi Peringatan Kepada Jalan

Kebenaran

Menurut penjelasan Asmani (2009: 35), seorang pendidik haruslah berani dalam menyampaikan kebenaran. Selalu menjaga

syair-syair Islam dan zahir-zahir hukum, seperti shalat berjamaah,

menyebarkan salam, amar ma’ruf nahi mungkar, serta senantiasa

sabar terhadap musibah yang menimpanya. Selalu berpegang pada kebenaran walaupun kepada para penguasa serta memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Tidak pernah merasa gentar, ataupun takut terhadap cacian orang.

Kepribadian pendidik yang pertama ini sangat relevan dengan dunia modern, sebab dalam menghadapi krisis moral maupun sosial akibat globalisasi tentu sangat dibutuhkan seorang sosok yang tetap teguh dan berani dalam mempertahankan serta mengembangkan nilai-nilai Islam. Di sinilah peran seorang pendidik, ia harus tetap berani dan teguh dalam menyampaikan kebenaran apapun rintangannya, sebab ia memiliki tugas untuk

membebaskan generasi penerus bangsa dari kebodohan,

ketidaktahuan, keterbelakangan, kelemahan, ketakutan dan segala hal yang menbuat tertinggal demi mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

2. Mengagungkan Allah

Pendidik dalam menjalankan tugasnya harus senantiasa diiringi dengan mengagungkan Allah. Mengagungkan Allah ini sangat relevan dengan dunia modern, tanpa mengagungkan atau mengingat Allah dan memasrahkan segala urusan kepada-Nya dalam menghadapi dunia yang semakin modern tentunya akan

membuat seseorang mudah terombang-ambing dan mengalami kegalauan jiwa. Untuk itu seorang pendidik dituntut dalam setiap langkahnya dilandasi dengan mengingat dan memasrahkan segala urusannya kepada Allah. Ketika pendidik selalu mengingat dan memasrahkan segala urusan kepada Allah, maka ia tidak akan mudah putus asa dalam mendidik siswanya, ia akan memiliki prinsip hidup yang kuat, selalu istiqamah dalam bersikap, dan teguh dalam pendirian, sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai arus kehidupan.

Oleh karena itu, guru yang istiqamah akan bekerja dengan hati-hati, baik dalam menghadapi anak didiknya maupun lingkungan masyarakat disekitarnya, guru yang seperti ini akan menjadi guru yang berkualitas dan tahan dalam segala situasi dan kondisi (Nurdin, 2010: 81).

3. Bersih

Asmani (2009: 104), Menganjurkan pendidik untuk selalu berpenampilan rapi dan bersih. Kebersihan dan kerapian pendidik pada era modern saat ini sangat relevan, sebab bagi murid-murid sekarang ini, baik di kota maupun di desa, bahkan sampai ke pelosok nusantara, kerapian pakaian sudah menjadi kebutuhan utama dalam proses belajar mengajar. Murid akan merasa senang apabila melihat gurunya berpakaian rapi dan sopan. Murid kurang respect terhadap guru yang berpakaian tidak rapi. Ketika murid

senang dengan performance lahir guru, maka hal ini akan sangat berpengaruh terhadap penerimaan murid terhadap materi pelajaran yang disampaikan.

Selain itu dengan penampilan rapi dan bersih dapat membangun wibawa seorang pendidik, karena tugas guru mengharuskan guru berinteraksi dengan peserta didik maupun dengan sesama rekan guru lainnya secara langsung.

4. Menjauhi Perbuatan Dosa

Pendidik dituntut untuk meninggalkan perbuatan dosa, sebab seorang pendidik dijadikan teladan oleh peserta didik serta masyarakat disekitarnya. Oleh karena itu, seorang guru harus dapat menempatkan diri dan berusaha untuk selalu berada pada jalan yang benar dan sesuai dengan ajaran agama Islam.

Kepribadian pendidik yang berikut ini juga sangat relevan dengan dunia modern, sebab jika seorang guru diketahui melakukan perbuatan dosa dan maksiat atau melanggar peraturan sekolah tentunya hal ini akan menurunkan wibawa seorang pendidik tersebut di hadapan peserta didiknya bahkan segala perkataannya tidak akan didengar dan dihiraukan lagi.

5. Ikhlas

Pendidik harus senantiasa ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Relevansinya dengan dunia modern yaitu, ketika tugas seorang pendidik mendampingi anak didiknya dilakukan dengan

senang hati atau ikhlas akan terciptalah kenyamanan diantara keduanya serta seorang pendidik akan disenangi dan dicintai anak didiknya. Sebab mendampingi dengan senang hati akan berbeda dengan sekedar mendampingi, anak didik tentunya akan dapat merasakan hal tersebut.

Meski bukan orang tua kandung, seorang guru dapat membangun kepedulian yang kuat dalam hatinya untuk bisa senantiasa mendampingi anak didiknya dengan senang hati. Sungguh, kesadaran untuk senantiasa senang dalam mendampingi anak didik ini tidak bisa datang dengan sendirinya atau secara tiba-tiba. Perlu dibangun dan dibina dengan sebuah simpati sekaligus empati terhadap anak didik. Sudah tentu, mendampingi anak didik ini terutama dalam masa-masa belajar di sekolah (Azzet, 2011: 40).

6. Sabar

Pendidik harus sabar dalam menjalankan tugasnya sebagai guru serta dalam menghadapi peserta didiknya. Seorang pendidik dalam dunia modern ini harus mampu menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan baik dengan peserta didik maupun orang tuanya. Dalam menjalin hubungan baik tentu banyak kritik dan saran yang akan diterima seorang pendidik, maka

ia harus sabar dalam menerima dan berusaha untuk

guru harus melandasi dengan kesabaran dan penuh rasa kasih sayang.

Seorang guru yang mempunyai sifat sabar dalam mendampingi anak didiknya tentu akan bersikap tenang atau tidak tergesa-gesa. Hal ini penting sekali agar anak didik dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Sebab, daya tangkap setiap anak didik ketika mendengar penjelasan guru berbeda-beda. Pada saat seperti ini guru membutuhkan kesabaran.

B. Implementasi Nilai-Nilai Kepribadian Pendidik Dengan Pembelajaran

Dokumen terkait