PRAKTIK SYURA PADA MASA UMAR BIN KHATTAB
B. Implementasi Nilai-nilai Syura pada Masa Pemerintahan Umar bin Khattab Kepemimpinan umat telah diserahkan kepada Umar bin Khattab melalui
bay’at. Khalifah Umar memegang tampuk pemerintahan berarti ia memegang amanat
70
Muhammad Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam, Penerjemah, Abdul Hayyi al-Kattani, (Jakarta: aGema Insani Press, 2001), h. 134
71
Artani Hasbi, Musyawarah dan Demokrasi, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), h. 104 72
kepemimpinan. Umar berupaya menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah, sekalipun ia telah mempunyai kekuasaan, namun Umar tidak ingin mengandalkan segala tindakannya kepada faktor kekuasaan. Bahkan dengan musyawarah tersebut, kekuasaan dan kewibawaan Umar semakin nampak integritasnya terhadap umat, sebagaimana yang diucapkan dalam pidatonya bahwa ia seperti salah seorang diantara mereka, karenanya Umar tidak bisa melepaskan diri dari sahabatnya. Akan tetapi sebagai kepala Negara Umar merasa bertanggung jawab dan siap menerima pendapat melalui berbagai aktivitas musyawarah yang dilaksanakan.73
Seperti yang sudah diketahui, bahwa Umar diangkat menjadi khalifah melalui musyarawah yang sekaligus menunjukkan bahwa masa pemerintahan Abu Bakar telah berakhir. Dan Umar tetap memperhatikan musyawarah dalam kepentingan umat, dan disamping itu juga memperlihatkan komitmennya terhadap syura. Musyawarah telah ada sejak masa pemerintahan Abu Bakar dan terus berlanjut hingga masa pemerintahan Umar bin Khattab, dan dari sinilah Umar bin Khattab menbangun musyawarah yang merupakan pengembangan dari dasar-dasar prinsip musyawarah yang telah ada dan di bangun dari masa kepemimpinan sebelumnya. Dan oleh Umar bin Khattab prinsip-prinsip ini diperkuat menjadi suatu institusi untuk menghargai pendapat umat. Mulai dari sinilah Umar memberikan hak dan kesempatan yang lebih luas untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Hal ini dapat dilihat dengan dibentuknya suatu lembaga musyawarah (Majlis Syura) dalam pemerintahan. Pembentukan lembaga ini menunjukkan suatu perkembangan yang luar biasa pada saat itu. Karena dengan adanya lembaga tersebut suatu hasil keputusan yang diangkat dari lembaga Majlis Syura dan segala keputusan yang diambil bisa lebih terarah dan dapat cepat diselesaikan.
73
Pada masa pemerintahan Umar aktivitas musyawarah semakin meningkat dibanding sebelumnya, karena pada waktu itu banyak permasalahan yang harus dihadapi, disamping perkembangan Islam yang semakin melebar. Persoalan masalah kenegaraan maupun keagamaan itupun timbul dan harus dibicarakan dalam forum musyawarah. Umar bin Khattab sangat menghormati para sahabat dan memanfaatkan kreatifitas pemikiran dan pendapat mereka, karena para sahabat tersebut menurut Umar merupakan peserta musyawarah yang memiliki hak utama untuk mengungkapkan pendapat secara jelas. Mereka itu para sahabat ahl al syura yang berdomisili di kota Madinah dan tidak diperkenankan meninggalkan kota. Berikut disampaikan nilai-nilai syura sebagai berikut:
1. Persamaan dan Kebebasan
Umar bin Khattab adalah salah seorang sahabat yang terbesar sepanjang sejarah Islam sesudah Nabi Muhammad. Kebesarannya terletak pada keberhasilannya, baik sebagai negarawan yang bijaksana maupun sebagai mujtahid yang ahli, dalam membangun sebuah Negara besar yang ditegakkan atas prinsip-prinsip keadilan, persamaan dan persaudaraan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam kedudukannya sebagai mujtahid, Umar termasuk pada ranking pertama dalam tujuh besar sahabat-sahabat Nabi yang banyak memberikan fatwa, dan orang terdepan membawa panji-panji mazhab ra’y yang kepergiannya ke hadirat Allah dengan membawa sembilan persepuluh ilmu, menurut Bin Mas’ud.74
Umar juga berusaha menanamkan rasa persamaan dan kemerdekaan di kalangan rakyatnya. Satu contoh pada saat ia melakukan tindakan tegas kepada
74
Amiur Nuruddin, Ijtihad Umar Bin Al-Khattab: Studi Tentang Perubahan Hukum dalam Islam, Tsaqafah Vol. IV, no 1, (Zulqa’dah 1428), h. 31-32.
pemilik tanah, tapi di sisi lain juga ia ramah kepada rakyat biasa. Para jenderal dan gubernur pun selalu mengigil ketakutan disaat berhadapan dengan Umar. Tapi sebaliknya, orang-orang kecil dan rakyat akan merasa bebas untuk mengomentari pembicaraannya saat dia berada didepan publik. Dari situ kondisinya memang sangat terlihat menggambarkan sebuah persamaan dan kemerdekaan.
Selain itu, persamaan di depan hukum dalam islam dipertegas lagi dengan persamaan di depan peradilan. Semua warga Negara sama di depan peradilan, baik dari segi kepatuhan mereka terhadap keputusan, prosedur yang dipenuhi dalam melakukan dakwaan, dasar-dasar pengaduan, prinsip-prinsip memutuskan, pelaksanaan keputusan, pelaksanaan hukum maupun kewajiban berlaku adil di antara orang yang berselisih. Tidak ada perbedaan satu individu dengan yang lain, bahkan musuh pun merasakan keadilan dan persamaan di depan peradilan.75
Dan khalifah Umar bin Khattab mengusahakan dan memperjuangkan prinsip persamaan di depan undang-undang, yang merupakan suatu ijtihad luar biasa dari Umar yang didasarkan pada sumber hukum Islam, dimana sampai saat ini masih banyak negara yang hendak mewujudkan prinsip-prinsip ini. Hal ini dapat dilihat juga dari beberapa peristiwa revolusi yang terjadi di Eropa pada abad ke-18 dan ke-19 yang tidak lain bertujuan untuk mewujudkan adanya persamaan di depan undang-undang dan pengadilan. Umar telah mengusahakan prinsip persamaan di depan undang-undang dan pengadilan ini atas dasar hukum Islam sejak Umar menjabat sebagai khalifah karena Umar memang sudah menghadapi perkembangan orang-orang Arab dari keadaan kesukuan di pedalaman yang memang tidak mengenal administrasi pemerintahan dan pengadilan masyarakat kepada keadaan sebagai
75
Suyuti Pulungan, Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau dari Pandangan Al-Qur’an (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), h. 9
masyarakat madani serta sistem Islam yang berdiri di atas dasar persamaan di depan undang- undang dan di depan pihak yang melaksanakan undang-undang itu.
Di bidang ekonomi, Umar menerapkan sistem intervensi pemerintahan (kebebasan positif) dalam hal tertentu dengan membuat kebijakan baru, seperti tanah-tanah pertanian yang baru dibebaskan oleh tentara Islam di negeri Syiria. Irak, Persia dan Mesir. Dinasionalisasikan, penggarapannya tetap pemilik asli yang lama dengan syarat mereka dikenakan pajak penghasilan. Hasil pajak itu dibagikan kepada seluruh lapisan masyarakat.76
Dengan diterapkannya sistem tersebut semua pihak dapat merasakan keadilan dan semuanya merasa diuntungkan dan tidak ada yang merasa dirugikan sehingga semuanya dapat menikmati hasil dari pertanian yang digarapnya. Rakyat yang kurang mampu atau yang tidak terlibat dalam urusan penggarapan pertanian juga dapat menikmati hasilnya melalui perbaikan sarana dari hasil pajak yang diambil dari keuntungan penghasilan pertanian tersebut.
2. Penegakkan Keadilan/Hukum
Dalam melaksanakan pemerintahan, Umar membuat beberapa peraturan baru. Peraturan tersebut dihasilkan atas dasar musyawarah. Misalnya, pembinaan pemerintahan dengan mendirikan kantor-kantor, meletakan dasar-dasar peradilan dan administrasi, membentuk bait al-mal, mengatur jaringan pos, dan menempatkan pasukan-pasukan di daerah perbatasan. Dengan banyaknya tugas yang diemban oleh Umar, Umar senantiasa meminta pendapat dari para sahabat besar dalam
76
menyelesaikan beberapa permasalahan melalui lembaga permusyawaratan yang telah dibentuknya.77
Lembaga permusyawaratan ini terbagi menjadi tiga. Yaitu, sidang umum, sidang khusus, dan sidang terbatas. Pertama sidang umum. Yaitu merupakan pertemuan bagi khalayak umum di kota Madinah. Dari situ, mereka diundang untuk hadir di masjid Nabawi dan setelah melaksanakan shalat mereka berkumpul dan khalifah Umar pun menyampaikan permasalahan yang perlu dibicarakan. Dalam sidang umum seperti ini peserta musyawarah terdiri dari sejumlah besar warga masyarakat dan para sahabat yang sekiranya mempunyai keahlian di bidangnya masing-masing.
Lembaga permusyawaratan yang kedua yaitu sidang khusus, sidang ini biasanya dilaksanakan dengan anggota tetap majelis, yang diadakan pada waktu-waktu tertentu setelah sidang umum selesai. Di sini, khalifah memerlukan pendapat orang-orang yang dipandang sebagai ahl al-hall wa al-aqd. Bila ia belum dapat memutuskan suatu masalah meskipun masalah itu sebelumnya telah dipersoalkan dalam sidang umum, atau ada di antara para sahabat yang belum merasa puas dengan hasil kesepakatan sidang umum. Sehingga keputusan tersebut belum dapat dikatakan sebagai hasil final, tetapi baru merupakan suatu usulan yang mendapat dukungan mayoritas peserta musyawarah. Kemudian sahabat besar bermusyawarah kembali dengan khalifah. Inilah yang dikatakan sebagai kategori sidang khusus.78
Lembaga permusyawaratan yang ketiga yaitu sidang terbatas. Sidang ini hanya dilakukan bila ada suatu permasalahan yang dihadapkan kepada khalifah. Sebetulnya, permasalahan tersebut bisa saja hanya khalifah sendiri yang
77
Hasbi, Musyawarah dan Demokrasi, h. 107. 78
memutuskannya. Akan tetapi, ia masih tetap melaksanakan musyawarah dengan para sahabat meski dalam jumlah terbatas. Dan pada masa pemerintahan Umar juga ada beberapa bentuk sidang. Yaitu sidang resmi dan sidang darurat. Sidang resmi biasanya diadakan di ibu kota Negara, sedangkan sidang darurat tidak mesti diadakan di ibu kota, disamping tidak terikat dengan peraturan-peraturan.
Ketika Umar menjabat sebagai khalifah ada seorang laki-laki yang mencuri suatu barang di bait al-mal tetapi Umar tidak melaksanakan hukuman potong tangan kepada pencuri itu. Dan juga ada beberapa budak mencuri seekor unta, itupun tidak diberi hukuman potong tangan karena terbukti kelaparan.
Jadi, bagi Umar tidak selamanya hukuman potong tangan itu harus dilaksanakan. Penangguhan potong tangan juga dilaksanakan dalam peperangan. Larangan Rasulullah untuk memotong tangan-tangan pencuri dalam peperangan diartikan oleh Umar agar pencuri ketika itu tidak lari dan bergabung dengan musuh. Pertimbangan-pertimbangan seperti itu jelas mempengaruhi pemikiran Umar dalam menerapkan ketentuan ayat yang menerangkan tentang hukuman potong tangan, sehingga penafsirannya tidak kering dan terpaut dengan teks-teks perundang-undangan dalam Islam. Selain itu pertimbangan Umar tidak melakukan pemotongan tangan juga bertolak dari pengecualian yang ditentukan dalam Al-Qur’an terhadap orang yang berada dalam keterpaksaan.79
Pada waktu Umar menjabat sebagai khalifah juga pernah tidak membagikan zakat kepada salah satu muallaf. Karena Umar berpendapat pada waktu itu Nabi masih hidup orang-orang muallaf diberikan zakat dengan tujuan untuk memperkuat Islam, tetapi pada masa Umar keadaan itu sudah berubah dan Islam pun sudah kuat. Dengan demikian bagian itu sudah tidak berlaku lagi.
79
Dalam memelihara keutuhan Negara, Umar pun memerlukan adanya kekuatan militer yang tangguh. Umar pun mulai membentuk tentara reguler dengan sistem imbalan oleh Negara dari baitul mal. Baitul mal dalam hal ini memiliki fungsi sebagai kas Negara dan pusat pembekalan Negara. Dalam hal ini terkenal Diwan Umar, yaitu suatu daftar orang-orang dalam lasykar yang diatur menurut suku masing-masing. Diwan itu juga memberikan ketetapan jumlah gaji yang harus diterima. Malah lebih jauh diwan tersebut menjelaskan pengelompokan jumlah gaji tersebut berdasarkan masa waktu mereka memeluk Islam.80
Pada masa Umar juga penjara mulai didirikan. Awal mulanya Umar membeli rumah Shafwan bin Umayyah seharga empat ribu dirham untuk dialihfungsikan menjadi penjara. Dan akhirnya penjarapun didirikan. Awalnya penjara tersebut ditempatkan bagi para pelanggar kejahatan saja. Tetapi, orang yang berutang dan tidak mampu bayarpun dikirim ke penjara.
Lembaga konsultasi hukum yang juga merupakan pendamping lembaga pengadilan dan penegakkan hukum itu juga ada dalam pemerintahan Umar. Lembaga ini berfungsi untuk masyarakat awwam yang ingin memperkarakan suatu hal di pengadilan, mengetahui hak dan kewajiban mereka dimata hukum. Maksud Umar membentuk lembaga tersebut untuk rakyatnya mengenai peraturan hukum. Jika ada orang ingin mengetahui hukum sesuatu, ia dapat menanyakan pada ahli hukum yang diangkat Umar di setiap kota atau pemukiman yang besar.
Dibidang hukum juga Umar melakukan pembenahan peradilan Islam. Dan Umar juga orang yang pertama meletakkan prinsip-prinsip peradilan dengan menyusun sebuah risalah yang di,kirim kepada Abu Musa Al-Asyary. Risalah
80
Didin Saefuddin, Sejarah Peradaban Islam (Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Jakarta dengan UIN Jakarta Press, 2007), h. 38
tersebut kemudian disebut Dustur Umar (konstitusi Umar), atau risalah Al-Qadha (surat peradilan). Untuk meningkatkan mekanisme pemerintahan di daerah, Umar melengkapi gubernurnya dengan beberapa staf, seperti sekretaris kepala, sekretaris militer, pejabat perpajakan, pejabat kepolisian, pejabat keuangan, dan hakim serta pejabat jawatan keagamaan.81
Dalam masa pemerintahan Umar sangat menjunjung tinggi keadilan dan persamaan hak di depan hukum, contohnya pada masa itu Mesir yang merupakan salah satu provinsi dalam daerah kekuasaan Umar terdapat rumah seorang yang beragama Yahudi yang letaknya bersebelahan dengan istana gubernur, dan rumah tersebut akan dirobohkan oleh gubernur untuk dijadikan taman kota, akan tetapi orang yahudi tersebut menolak rumahnya untuk dirobohkan, dia mengadu kepada gubernur, namun tidak dihiraukan oleh sang gubernur, akhirnya orang Yahudi tersebut melapor kepada khalifah Umar, dan Umar mengirimkan pesan berupa tulang Unta yang telah diberi garis lurus oleh pedang khalifah Umar. Kemudian pesan tersebut diterima oleh gubernur Mesir tersebut, setelah menerima pesan dari khalifah Umar, gubernur langsung meminta maaf kepada orang yahudi dan mendirikan kembali rumah orang Yahudi itu. Dalam pesan itu tersirat betapa adilnya Umar terhadap rakyat dan betapa tegasnya Umar terhadap para anak buahnya yang menjalankan pemerintahan.
Khalifah Umar sangat adil dan bijaksana dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan, baik persoalan yang menimpa rakyatnya ataupun masalah tentang hukum dalam agama, Umar tidak selalu sendirian dalam menyelesaikannya setiap permasalahan itu, lebih banyak Umar menyelesaikan permasalah tersebut dengan para ahli syura yang memang memiliki kompetensi di bidangnya
81
Hery Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam Dari Abu Bakar Hingga Nasr dan Qardhawi
masing, sehingga setiap keputusan yang diambil bisa dipertanggung jawabkan kepada rakyatnya.
3. Prioritas Musyawarah dalam Hal-hal yang Menyangkut Orang Banyak
Dalam syari’ah Islam ditegaskan bahwa kebijaksanaan pemimpin yang menyangkut rakyat harus mengikuti prinsip kemaslahatan dan ini merupakan kaidah yang sudah disepakati oleh para imam. Seorang pemimpin menempatkan dirinya dihadapan Allah seperti kedudukan wali kepada anak yatim. Hal ini seperti yang dicontohkan dalam hal pengelolaan baitul mal. Jika seseorang membutuhkan maka bisa mengambil dari harta itu, dan jika kebutuhannya sudah cukup maka harus mengembalikannya, dan bagi yang berkecukupan maka harus menahan diri untuk tidak mengambil hak di baitul mal itu.
Jika seorang pemimpin membagikan zakat hendaklah membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan tidak boleh berlebihan dalam pembagian. Hal ini berarti membagi rata jika kebutuhannya juga sama. Seorang pemimpin tidak boleh mengesahkan wasiat kepada orang yang tidak memiliki ahli waris lebih dari sepertiga hartanya. Juga, seorang pemimpin tidak boleh mengeluarkan harta dari baitul mal lalu memberikannya kepada orang yang tidak membutuhkan dan mengabaikan orang yang membutuhkan.
Umar bin Khattab pernah mengangkat Amar bin Yasir sebagai imam shalat dan sekaligus komandan perang. Kemudian mengangkat Abdullah bin Mas’ud menjadi hakim dan mengurus baitul mal, mengangkat Utsman bin Hunaif menangani pembagian tanah. Umar memberi gaji atau tunjangan harian bagi tiga orang ini, berupa seekor kambing yang diambil dari baitul mal, dan harus dibagi diantara mereka bertiga. Bagian lambung dan perutnya menjadi bagian Amar. Seperempat
bagian yang lain menjadi bagian Abdullah bin Mas’ud, dan seperempat bagian lagi menjadi bagian Utsman bin Hunaif. Dalam hal ini, Umar berkata, “Aku menempatkan diriku di tengah kalian dalam menangani harta ini seperti kedudukan wali yatim. Dalam surah An-Nisa ayat 5 disebutkan,” Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut cara yang patut.” Atas dasar inilah pemimpin tidak boleh melebihkan pembagian dan harus membagi-bagikannya di antara orang-orang muslim menurut haknya.
Khalifah Umar dalam menjalankan pemerintahanya selalu memperhatikan kebutuhan atau kepentingan orang banyak atau kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadinya, bagi Umar seorang pemimpin yang bertanggung jawab adalah pemimpin yang tahu apa yang dibutuhkan oleh orang yang dipimpinnya atau rakyatnya, Umar pun tidak segan-segan berkorban untuk kepentingan rakyatnya, contohnya Umar terjun langsung untuk melihat keadaan rakyatnya, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dari keputusan yang sudah ditetapkannya dan Umar terhindar dari perbuatan zalim yang dilarang oleh agama.
4. Pembentukan Tim Suksesi Pemilihan Utsman bin Affan
Ketika Umar menghadapi sakaratul maut setelah ditikam oleh orang Majusi, Abu Lu’lu’ah, Umar menunjuk enam orang sahabat besar.82 Keenam sahabat besar yang merupakan khalifah tersebut bermusyawarah dan memilih salah seorang di antara mereka, setelah bertanya kepada khalayak ramai. Setelah Umar meninggal dunia, mereka menyerahkan urusan penyelidikan dan permusyawarahan dengan rakyat kepada salah seorang di antara mereka, yaitu Abdurrahman bin Auf. Setelah
82
Mereka adalah Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, az-Zubair binul Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.
terus menerus bermusyawarah dengan masyarakat selama tiga hari, Abdurrahman bin Auf mendapatkan bahwa sebagian besar rakyat lebih memilih Utsman bin Affan. Maka, ia mengadakan pertemuan umum di masjid Madinah, dan setelah saling mengeluarkan pendapat, pertemuan tersebut berakhir dengan diangkatnya Utsman bin Affan sebagai khalifah yang diikuti dengan pembaiatan oleh seluruh manusia secara aklamasi.83
Musyawarah atas terpilihnya Utsman berawal dari gagasan Umar sebelum ia wafat. Setelah Umar wafat berkumpulah para ahl al syura di rumah al-Miswar bin Makhramat selama beberapa hari untuk membahas mengganti khalifah. Pada pertemuan pertama belum membuahkan hasil yang maksimal. Bahkan yang terlihat hanya persaingan antara Bani Umiyah dan Bani Hasyim yang masing-masing pihak mencalonkan Utsman dan Ali. Ketika itu Abdurahman bin Auf mengusulkan kepada anggota sidang majelis dengan tawaran siapa yang akan mengundurkan diri sebagai calon, dialah yang diberi hak penuh untuk menetapkan siapa yang akan menjadi khalifah.
Hal tersebut tidak didukung oleh seorangpun peserta musyawarah. Hal ini dimanfaatkan oleh Abdurahman bin Auf untuk mencabut dirinya sebagai calon khalifah dan meminta kepada peserta musyawarah agar ditunjuk sebagai ketua pemilihan dan akhiranya hal tersebut disetujui oleh anggota majelis, kecuali Ali bin Abu Thalib yang hanya bersikap diam. Pada akhirnya, Ali berkata setelah didesak oleh Abdurahman bin Auf untuk berjanji bahwa Abdurahman bin Auf tidak akan mengikuti hawa nafsu serta tidak memilih keluarga ia sendiri dan tidak akan membuat umat dalam keadaan susah. Dari perkataan Ali tersebut, terlihat kekhawatiran Ali
83
Muhammad Dhiauddin Rais, Teori politik Islam. Penerjemah, Abdul Hayyie, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. 135
terhadap ketua pemilihan karena adanya hubungan keluarga bagi calon-calon yang akan dipilih.
Abdurahman bin Auf sendiri tidak terlalu berambisi untuk menggunakan wewenang peserta musyawarah yang diamanatkan kepadanya. Hal ini dibuktikan Abdurahman bin Auf dalam menggunakan cara bermusyawarah. Abdurahman bin Auf tidak hanya mengandalkan sidang-sidang resmi saja, tetapi juga menggunakan cara dengan berkeliling menemui para tokoh atau semacam melakukan dengar pendapat dengan orang-orang di luar sidang majelis yang terkemuka, yaitu sahabat-sahabat besar, bahkan panglima dan para cendikiawan di Madinah. Dari hasil musyawarah dengan para tokoh yang ada dalam dengar pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa mayoritas umat lebih cenderung kepada Ustman bin Affan. Tindakan Abdurahman bin Auf ini merupakan referendum untuk mengetahui sejauh mana pendapat umat, dan hal ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Ketika sidang musyawarah akan dimulai lagi, perdebatan sengit terjadi antara pendukung Utsman dan Ali. Hal ini menunjukan bahwa dalam bermusyawarah dibolehkan adanya kebebasan dan kemerdekaan dalam berpendapat. Sebagai contoh, ketika Ali ditanya terlihat bahwa ia enggan untuk berjanji apabila ia menjabat sebagai pemimpin untuk bertindak sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul serta kedua khalifah sebelumnya. Ali menjawab dengan kalimat spontanitas dan kurang tegas, ia pun berkata, “Saya berharap demikian, saya akan berbuat sesuai dengan ilmu dan kemampuan saya. Saya akan memberikan yang terbaik.”. Hal ini dapat dimaklumi karena Ali dikenal sebagai sahabat yang luas ilmu, dan seorang yang sholeh, sehingga ia melihat segala sesuatu sesuai dengan pandangan dan pengetahuannya. Meski sikap ini dinilai kurang menguntungkan secara politis, karena seorang pemimpin dituntut
untuk bersikap tegas dalam menghadapi segala permasalahan dan persoalan hidup yang terjadi di tengah masyarakat. Dalam kaitannya dengan ini, Utsman bin Affan menjawab dengan tegas, ia berkata, “iya, saya laksanakan”. Dan secara politis Utsman memperoleh kemenangan karena ia telah menyakinkan ketua pemilihan Abdurrahman bin Auf dihadapan para anggota sidang majelis dan para pemuka dengan sikapnya yang tegas dan pantas dan menjadi pemimpin. Abdurrahman bin Auf langsung mengucapkan kalimat syahadat bahwa ia telah menyelesaikan tugasnya dan kemudian membai’at Utsman sebagai khalifah diikuti oleh para hadirin peserta sidang musyawarah.
Pelaksanaan musyawarah untuk menentukan khalifah ketiga ini lebih baik dari sebelumnya walaupun masih ada beberapa pihak yang merasa kurang puas. Dari segi