Kepala Negara Islam dipilih dari individu umat Islam dan umatlah pemilik hak dalam memilih khalifahnya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, cara apa yang mungkin dapat diikuti umat untuk memilih penguasanya? Pertanyaan ini mengantarkan pada kenyataan bahwa Islam tidak tergantung pada cara tertentu untuk memilih kepala Negara dan tidak mengharuskan umat mengikuti cara tertentu. Umat memilih kepala Negara apabila ia memenuhi syarat-syarat tertentu dan yang paling
mendasar adalah adil dan dengan musyawarah, tidak dipersoalkan setelah itu mengenai teknik dan cara pemilihannya.27
Bisa kita lihat sewaktu wafatnya Nabi maka berakhirlah situasi yang sangat unik dalam sejarah Islam, yakni kehadiran seorang pemimpin tunggal yang memiliki otoritas spiritual dan temporal (duniawi) yang berdasarkan kenabian dan bersumberkan wahyu Illahi. Dan situasi tersebut tidak akan terulang kembali, karena menurut kepercayaan Islam, Nabi Muhammad adalah Nabi dan utusan tuhan yang terakhir. Sementara itu beliau tidak meninggalkan wasiat atau pesan tentang siapa diantara para sahabat yang harus menggantikan beliau sebagai pemimpin umat. Dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi tidak terdapat petunjuk tentang bagaimana cara menentukan pemimpin umat atau kepala Negara sepeninggal beliau nanti, selain petunjuk yang sifatnya sangat umum agar umat Islam mencari penyelesaian dalam masalah-masalah yang menyangkut kepentingan bersama melalui musyawarah tanpa adanya pola yang baku tentang bagaimana musyawarah itu harus diselenggarakan. Itulah sebab utamanya mengapa pada masa empat Al-Khulafa al-Rasyidin itu di tentukan melalui musyawarah, walaupun pola musyawarah tersebut dilalui dengan beraneka ragam cara.28
Untuk selanjutnya yang akan kita bahas yaitu bagaimana cara pengangkatan Umar bin Khattab sebagai khalifah? Ketika itu Abu Bakar merasa bahwa ajalnya telah dekat dan mau tidak mau Abu Bakar harus memilih pengganti dirinya sebagai khalifah. Setelah musyawarah terlebih dahulu dengan para sahabat atau orang-orang yang memiliki kualifikasi permusyawaratan (ahlul halli wal ‘aqdi) akhirnya Abu Bakar memilih Umar bin Khattab sebagai penggganti dirinya menjadi khalifah.
27
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Sistem Politik Islam. Penerjemah, Musthalah Maufur, (Jakarta: Robbani Press, 1999), h.152.
28
Munawir Syadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI-Press, 1993), h. 21.
Ketika itu sebagian sahabat menemui Abu Bakar dan menentang pencalonan Umar karena mereka khawatir atas sifat keras dan tegasnya. Akhirnya setelah para sahabat itu bermusyawarah dengan Abu Bakar mereka pun menyepakati pencalonan Umar untuk menjadi penerus khalifah.
Dalam masalah ini At-Thabari menulis bahwa Abu Bakar naik ke atas balkon rumahnya dan berbicara dengan orang banyak yang berkerumun di bawah : “Apakah kalian menerima orang yang akan saya calonkan sebagai pengganti saya ?” tanya Abu Bakar. “Saya bersumpah bahwa saya melakukan yang terbaik dalam menentukan hal ini, dan saya telah memilih Umar bin Khattab sebagai pengganti saya. Dengarkanlah saya, dan ikutilah keinginan saya”. Mereka semua menjawab, “Kami telah mendengar khalifah dan kami semua akan mentaati tuan”.
Kemudian Abu Bakar memanggil Utsman dan membacakan naskah yang berisi penunjukkan Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Utsman bin Affan sangat setuju dengan penunjukkan Umar sebagai khalifah, karena ia seorang yang tegas dan bijaksana. Abu Bakar meninggal dunia pada hari Senin tanggal 23 Agustus 624 M. Dalam usia 63 tahun. Shalat jenazah dipimpin oleh Umar bin Khattab, dan dimakamkan di rumah aisyah di samping makam Nabi Muhammad SAW. Masa kekhalifahannya lebih kurang 2 tahun 3 bulan 11 hari.
Dengan meninggalnya Abu Bakar, maka pemerintahan dipegang oleh Umar bin Khattab. Karena ia telah ditunjuk oleh Abu Bakar dan disetujui oleh seluruh masyarakat Islam secara aklamasi, dengan tidak meninggalkan azas demokrasi Islam, yaitu musyawarah untuk menentukan siapa pengganti Abu Bakar sebagai khalifah rasyidah.
Akhirnya Umar diangkat sebagai pengganti Abu Bakar, dimana kebijaksanaan Abu Bakar ini segera diikuti dengan beramai-ramai para sahabat membai’at Umar
sebagai khalifah. Umar bin Khattab menyebut dirinya sebagai khalifah rasulillah (pengganti dari pengganti Rasul Muhammad) untuk memimpin masyarakat Islam sesuai dengan prinsip yang telah ditetapkan pendahulunya. Ia juga mendapat gelar Amir al Mukminin (komandan orang-orang mukmin) karena berkaitan dengan perannya dimana saat itu dihadapkan pada penaklukan-penaklukan yang dilakukan sebagai komando pasukan Islam.29
Umar bin Khattab menggantikan Abu Bakar dengan sejumlah prestasi yang gemilang, yang diantaranya usaha-usaha yang telah dicapai Abu Bakar ternyata dilanjutkan oleh Umar. Ketika itu di zamannya, gelombang pembebasan pertama terjadi. Dan ketika itu kota Damaskus jatuh pada tahun 635 M, dan setahun kemudian setelah tentara Bizantium kalah dipertempuran yarmuk, dan daerah Suriah pun jatuh ke tangan tentara Islam. Dan masih banyak lagi prestasi Umar untuk memperjuangkan Islam. Tidak hanya itu saja prestasi Umar. Tetapi Umar juga berjasa dalam menyusun dewan-dewan dalam pemerintahan, membuat mata uang emas, mendirikan baitul mal, mengangkat hakim-hakim, membentuk pasukan tentara untuk menjaga tapal batas, menciptakan tahun hijrah, mengatur perjalanan pos, dan masih banyak lagi prestasi Umar setelah diangkat menjadi khalifah.
Kehidupan Umar terkesan sangat sederhana. Setelah menjadi khalifah pun kesederhanaan itu selalu tetap terjaga. Dan ia juga seorang khalifah yang selalu memakai pakaian lusuh, memakai sepatu yang dijahit sendiri, dan ia pun rela memikul sendiri makanan untuk diberikan kepada seorang janda. Umar pun hidup tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Rumah, pakaian, makanan, dsb itu sama seperti apa yang orang-orang kebanyakan.
29
Taufiqurrahman, Sejarah Sosial Politik Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam, (Surabaya: Pustaka Islamika Press, 2003), h. 68.
Dalam memimpin khalifah pun terkenal merakyat. Kalaupun Umar sudah menjadi seorang pemimpin, dalam menjalankan tugas Umar tidak pernah menyuruh bawahannya untuk melihat keadaan rakyatnya. Akan tetapi, ia sering melakukan inspeksi langsung ke daerah-daerah perkampungan untuk melihat dari dekat rakyat yang dipimpinnya. Umar juga sangat tegas, adil, dan tidak pernah melihat pandang bulu untuk menegakkan hukum.
Setelah Umar menjabat sebagai khalifah ternyata Umar telah membuat kebijakan sesuai dengan ijtihadnya dalam pengambilan suatu keputusan. Apabila sahabat dapat mencapai suatu kesepakatan dalam sidang majelis terhadap suatu permasalahan, maka khalifah Umar di sini menetapkan keputusan itu berdasarkan suara bulat sebagai ijma’. Akan tetapi persoalan timbul bila perbedaan pendapat terjadi di dalam sidang majelis permusyawaratan. Karena dianggap setiap keputusan Umar itu adalah suatu tindakan yang tepat untuk kemaslahatan umat.
BAB III