• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di

Sebagaimana yang telah dipaparkan dalam subbab sebelumnya, peserta didik dengan gangguan penglihatan memiliki karakteristik tersendiri sehingga seorang pendidik memerlukan cara-cara tertentu agar peserta didik dapat belajar dengan baik. Seorang pendidik pada mata pelajaran PAI harus memperhatikan strategi yang ia gunakan yakni rencana-rencana dari awal hingga akhir pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai. Strategi tersebut pada dasarnya meliputi pengimplementasian metode-metode dan teknik dalam pembelajaran.

Dalam dunia pengajaran telah dikenal banyak metode. Metode-metode tersebut dapat digunakan dalam berbagai pengajaran terutama pada pengajaran Pendidikan Agama Islam. Berikut macam-macam metode dalam pembelajaran:

a. Metode Ceramah

Merupakan metode yang dilakukan dengan cara menyampaikan materi secara lisan oleh guru.72 Peranan murid dalam metode ceramah adalah mendengarkan dengan cermat serta mencatat hal-hal penting yang diutarakan oleh guru.73 Metode ini termasuk metode yang paling banyak digunakan karena biaya murah dan mudah dilakukan, memungkinkan banyak materi yang dapat disampaikan, adanya kesempatan bagi guru untuk menekankan bagian yang penting, dan pengaturan kelas dapat dilakukan secara sederhana. Selain itu metode ini memiliki target pengajaran lebih banyak pada ranah kognitif.74

b. Metode Resitasi

Merupakan metode yang dilakukan dengan cara memberikan penugasan kepada peserta didik sehingga memunculkan belajar mandiri bagi siswa.

Dalam hal ini guru perlu menyadari bahwa siswa mampu untuk

72 Agoes Dariyo, Dasar-Dasar Pedagogi Modern, (Jakarta: PT Indeks, 2013), hal. 119

73 Jamaludin, dkk., op.cit., hal. 178

74 Abuddin Nata, op.cit., hal. 182

melaksanakan tugas yang diberikan dan siswa harus mempertanggungjawabkan hasil pengerjaan tugas kepada guru.75 Metode penugasan ini memiliki manfaat antara lain dapat merangsang dan menumbuhkan kreativitas siswa, mengembangkan kemandirian, memberikan keyakinan tentang apa yang dipelajari di kelas, membina kebiasaan siswa untuk selalu mencari dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi, membuat siswa lebih bergairah dalam belajar, membina tanggung jawab dan disiplin para peserta didik.76

c. Metode Tanya Jawab

Merupakan metode yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik. Pertanyaan yang dapat berupa lisan atau tertulis dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh penguasaan materi pelajaran yang telah dipelajari oleh siswa pada waktu pembelajaran sebelumnya.77 Metode ini banyak digunakan karena dapat menarik perhatian, merangsang daya pikir, membangun keberanian, melatih kemampuan berbicara dan berfikir secara teratur.78

d. Metode Diskusi

Merupakan metode yang ditandai dengan adanya upaya untuk membangkitkan kemampuan peserta didik dalam menyampaikan pendapat, pengetahuan, pengalaman maupun wawasan suatu materi pelajaran dalam kelompok.79 Selain itu, dalam metode ini siswa mempelajari sesuatu melalui musyawarah di antara sesama mereka di bawah pimpinan atau bimbingan guru. Hal ini penting bagi kehidupan siswa dalam bermasyarakat, bukan hanya saja karena manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai masalah yang tidak dapat dipecahkan seorang diri, melainkan juga karena melalui kerja sama atau musyawarah mungkin akan diperoleh suatu pemecahan masalah yang lebih baik.80

75 Agoes Dariyo, loc.cit., hal. 119

76 Abuddin Nata, op.cit., hal. 186-187

77 Agoes Dariyo, loc.cit., hal. 119

78 Abuddin Nata, op.cit., hal. 183

79 Agoes Dariyo, op.cit., hal. 120

80 Jamaludin, dkk., op.cit., hal. 200

e. Metode Demonstrasi

Merupakan metode yang dilakukan dengan cara menyampaikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan atau memperlihatkan secara langsung proses dari suatu objek. Berbagai proses dari sesuatu dapat dilihat atau dihayati siswa bila guru sebagai seorang yang diminta atau salah seorang di antara siswa itu sendiri mempertunjukkannya.81 Metode demonstrasi ini banyak digunakan dalam rangka mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses pengaturan dan pembuatan sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan juga untuk mengetahui dan melihat kebenaran sesuatu.82

f. Metode Eksperimen

Merupakan metode yang dilakukan dengan cara menugaskan siswa untuk melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri tentang sesuatu yang dipelajari. Melalui metode eksperimen ini siswa diberikan kesempatan untuk mengalami atau melakukan sendiri, mengamati proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek, keadaan, atau proses sesuatu. Selain itu, siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran atau mencoba mencari data baru yang diperlukannya, mengolah sendiri, membuktikan suatu hukum atau dalil dan menarik kesimpulan.83

g. Metode Proyek

Merupakan metode yang dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan unit-unit kehidupan sehari-hari sebagai bahan pelajarannya, agar mereka tertarik untuk belajar. Pada metode ini dihubungkan sebanyak mungkin pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Prinsip metode ini adalah usaha yang

81 Ibid., hal. 184

82 Abuddin Nata, op.cit., hal. 183-184

83 Ibid., hal. 195

membahas suatu unit pelajaran ditinjau dari berbagai mata pelajaran.

Metode ini dapat memantapkan pengetahuan yang diperoleh siswa, menyalurkan minat, serta melatih siswa untuk menelaah suatu materi pelajaran dengan wawasan yang lebih luas.84

h. Metode Bercerita

Merupakan metode yang dilakukan sebagaimana metode ceramah karena informasi yang disampaikan melalui penuturan atau penjelasan lisan.

Dalam metode ini, guru maupun siswa dapat berperan sebagai penutur.

Salah satu bentuk metode ini adalah membaca cerita.85 Novita Siswayanti dalam karyanya yang berjuful Dimensi Edukatif pada Kisah-Kisah Al-Quran menuturkan tentang metode ini.

“Metode kisah hadir untuk mendobrak dominasi metode indoktrinasi yang cenderung membosankan dan menekan peserta didik dalam menerima pesan-pesan pendidikan. Metode kisah menyuguhkan pesan-pesan pendidikan dalam format yang digemari, sehingga mudah dicerna, bahkan dapat menembus relung pikiran dan hati mereka. Perasaan asyik dalam mengikuti alur kisah, tanpa rasa jemu, memudahkan mereka memetik manfaat dan pesan yang disampaikan.”86

Selanjutnya, Novita Siswayanti juga menuturkan:

“Selain “memanjakan” pendengar atau pembaca melalui kesusastraan yang unik, menarik, dan memikat hati, dari segi pendidikan Islam, kisah mempunyai dampak edukatif yang sulit digantikan oleh bentuk bahasa lainnya. Di samping memperluas wawasan, metode pendidikan kisah dapat merangsang daya pikir, imajinasi, dan daya ingat; memberi pengalaman emosional; serta menanamkan pendidikan moral dalam format “enjoyment” dan hikmah. Termasuk dalam hal ini adalah kisah-kisah dalam al-Quran.”87

i. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran

Merupakan metode yang mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum, keterampilan

84 Jamaludin, dkk., op.cit., hal. 211-212

85 Ibid., hal. 206

86 Novita Siswayanti, Dimensi Edukatif pada Kisah-Kisah Al-Qur’an, Suhuf, vol. 3, 2010, hal. 75

87 Ibid., hal. 69

memainkan peran dan mampu menghayati tokoh yang diperankan.

Melalui metode ini siswa diharapkan dapat menghayati nilai-nilai, sikap, norma, tindakan, dan perilaku tokoh yang diperankan. 88

j. Metode Studi Wisata

Merupakan metode yang dilakukan dengan cara menyajikan pelajaran dengan membawa siswa ke luar untuk mempelajari berbagai sumber belajar yang terdapat di luar kelas. Metode ini sering dinilai sebagai bentuk pengajaran modern, yaitu pengajaran bukan hanya berlangsung di ruang kelas, melainkan juga di luar kelas. Pelaksanaan metode ini didasarkan pada pandangan, bahwa pendidikan yang terdapat di sekolah tidak dapat dilepaskan dari berbagai kemajuan yang terdapat di masyarakat.89 Dalam wisata, peserta didik dapat ditugaskan untuk melakukan observasi, maupun wawancara terhadap orang-orang professional yang ditemui.90

k. Metode Over Learning dan Drill

Merupakan metode yang ditandai dengan adanya kegiatan pemberian materi secara berulang-ulang oleh guru dengan tujuan agar peserta didik dapat menguasai kompetensi akademik.91 Ciri khas dari metode ini adalah kegiatan pengulangan yang dilakukan berkali-kali dari suatu hal yang sama. Pengulangan ini sengaja dilakukan berkali-kali agar asosiasi antara stimulus dan respon menjadi sangat kuat dan tidak mudah dilupakan.92

l. Metode Studi Kasus

Merupakan metode yang ditandai dengan pemberian kasus-kasus kepada siswa untuk dicarikan solusinya dengan berpedoman kepada materi pelajaran yang telah didapatkan dari guru. Siswa dapat memanfaatkan berbagai materi pengetahuan yang diperoleh selama mempelajari materi

88 Agoes Dariyo, op.cit., hal. 121

89 Abuddin Nata, op.cit., hal. 184-185

90 Agoes Dariyo, loc.cit., hal. 121

91 Ibid., hal. 121

92 Jamaludin, dkk., op.cit., hal. 180

pelajaran di kelas yang disampaikan oleh guru untuk dijadikan pijakan dalam menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Metode ini dapat melatih daya kreasi dan berfikir kritis siswa dalam menelaah kasus-kasus tersebut.93

m. Metode Kerja Lapangan

Merupakan metode yang mengharuskan siswanya untuk melakukan suatu pekerjaan lapangan dalam periode tertentu sebagai bagian dari penerapan konsep pengetahuan yang telah dipelajari dalam materi pelajaran. Tujuan dari metode ini adalah agar siswa dapat menerapkan konsep pengetahuan yang telah diperoleh dengan baik dalam melakukan suatu pekerjaan.94

n. Metode Brainstorming

Merupakan metode pemecahan masalah dengan cara mengumpulkan berbagai kemungkinan pemikiran yang disampaikan peserta didik.

Berbagai pandangan dan pemikiran yang merupakan usulan peserta didik ditampung dan dievaluasi untuk memperoleh jawaban terbaik, kreatif, dan inovatif. Dalam penerapan metode ini peran aktif siswa sangat penting karena proses ini diikuti oleh semua siswa dalam kelas.95

o. Metode Inquiry

Merupakan metode yang dilakukan dengan membuat pertanyaan-pertanyaan berdasarkan materi pelajaran dengan tujuan agar peserta didik mempelajari dan mengerjakan pertanyaan berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki.96

p. Metode pemberian contoh atau teladan

Merupakan metode yang dilakukan dengan menunjukkan contoh-contoh keteladanan terutama dari kehidupan Nabi Muhammad SAW.97

93 Agoes Dariyo, op.cit., hal. 122

94 Ibid., hal. 122

95 Ibid., hal. 122

96 Ibid., hal. 123

97 Dimas Ahmad Sarbani, Metode Pengajaran Dalam Pendidikan Agama Islam, Jurnal Al Fatih, 2015, hal. 46

Dokumen terkait