1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Di dalam UUSPN No. 2/1989 pasal 39 ayat (2) ditegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan wajib memuat, antara lain Pendidikan Agama. Dalam penjelasannya dinyatakan bahwa Pendidikan Agama merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.58
Sedangkan di dalam GBPP PAI di sekolah umum, dijelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antarumat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.59
Berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang kini dipakai dalam penyebutan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah, maka pengertiannya tidak jauh dari pengertian Pendidikan Agama Islam itu sendiri. Hanya saja Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti merupakan penyebutan dalam kurikulum 2013.
57 Nandiyah Abdullah., op.cit., hal. 14
58 Muhaimin, dkk., Paradigma Pendidikan Agama Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hal. 75
59 Ibid., hal. 75-76
2. Tujuan dan Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam Secara umum, Pendidikan Agama Islam memiliki tujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang Agama Islam, sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Selain itu, Pendidikan Agama Islam juga untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.60 Berkenaan dengan tujuan tersebut maka tujuan Pendidikan Agama Islam haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai ajaran Islam dan tidak boleh bertentangan dengan etika sosial.61
Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, yaitu (1) dimensi keimanan peseta didik terhadap ajaran Agama Islam; (2) dimensi pemahaman atau penalaran (intelektual) serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran Agama Islam; (3) dimensi penghayatan atau pengalaman batin yang dialami peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam; dan (4) dimensi pengamalannya, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah ada pada diri peserta didik itu mampu menumbuhkan motivasi dalam dirinya sehingga ia secara sadar tergerak untuk mengamalkan dan menaati ajaran agama Islam dan nilai-nilainya dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.62
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam bukan hanya untuk membentuk seseorang yang memahami dengan penuh penghayatan atas konsep ajaran Agama Islam namun juga untuk membentuk seseorang yang dengan sadar melakukan pengamalan atas ajaran Agama Islam. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam Q.S. Ash-Shaff ayat 3 yang berbunyi:
60 Ibid., hal. 78
61 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004), (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 136
62 Muhaimin, dkk., op.cit., hal. 78
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”63 Untuk mencapai tujuan tersebut maka ruang lingkup materi PAI pada dasarnya mencakup tujuh unsur pokok, yaitu al-Quran dan Hadits, keimanan, syariah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tarikh (sejarah Islam) yang menekankan pada perkembangan politik.64
3. Fungsi Pengajaran Pendidikan Agama Islam
Fungsi Pendidikan Agama Islam di sekolah atau madrasah menurut Abdul Majid dan Dian Andayani adalah:
a. Pengembangan, yaitu untuk mengembangkan atau meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah Swt. yang telah tertanam dalam lingkungan keluarga.
b. Penanaman nilai, yaitu sebagai pedoman hidup bagi peserta didik untuk mencari kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
c. Penyesuaian mental, yaitu untuk membekali peserta didik agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik mupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
d. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman, dan pengalaman ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan sekitar atau dari budaya lain yang dapat membahayakan peserta
63 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Syaamil Al-Qur’an, 2009), hal. 551
64 Muhaimin, dkk., op.cit., hal. 79
didik, dan menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.
f. Pengajaran, yaitu untuk memberikan ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan gaib), sistem, dan fungsionalnya.
g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan bakat khusus anak-anak di bidang agama Islam sehingga bakat tersebut dapat berkembag secara optimal dan dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.65
4. Pendidikan Agama Islam di Sekolah Luar Biasa
Pendidikan Agama Islam di sekolah luar biasa merupakan usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar dapat memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikannya sebagai way of life.66
Pembelajaran di Sekolah Luar Biasa mengacu pada kurikulum yang berlaku di sekolah umum. Hanya saja kurikulum pada pendidikan khusus menganut fleksibelitas kurikulum, yakni: fleksibel dalam waktu, materi, dan penilaian. Hal tersebut dikarenakan peserta didik di sekolah khusus memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga kurikulum disesuaikan dengan kemampuan tersebut. Kurikulum pembelajaran agama di sekolah luar biasa secara garis besarnya dapat dibagi menjadi dua program yaitu program umum dan program keterampilan. Program umum berlaku untuk semua jenis pelajaran sebagaimana di sekolah umum, sedangkan program keterampilan jumlahnya bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan pada tiap jenis ketunaan yang ada.67
Mata pelajaran yang ada di sekolah luar biasa memiliki dua aspek kegiatan yaitu teori dan atau kegiatan praktek. Pokok bahasan dari tiap mata pelajaran, ada yang hanya bersifat teori dan ada yang bersifat teori
65Abdul Majid dan Dian Andayani, op.cit., hal.134-135
66 Fathurrahman, Pembelajaran Agama pada Sekolah Luar Biasa, El-Hikam: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman, vol. 7, 2014, hal. 77
67 Ibid., hal. 77-78
beserta praktek. Untuk pokok bahasan yang hanya bersifat praktek, bagaimanapun juga selalu diawali dengan penjelasan teori penjelasnya.
Meskipun mereka memiliki keterbatasan, namun dalam proses kegiatan belajar mengajar siswa tetap dituntut untuk memiliki sikap atau etos kerja yang ada dalam masyarakat dan dunia kerja.68
Berkaitan dengan materi pelajaran PAI di sekolah luar biasa, secara garis besar dikelompokkan ke dalam 4 bagian berikut:
a. Hubungan manusia dengan Allah Swt.
b. Hubungan manusia dengan diri sendiri.
c. Hubungan manusia dengan sesama manusia.
d. Hubungan manusia dengan makhluk lainnya.69
Empat komponen di atas kemudian dijabarkan pada tiap jenjang pendidikan dalam wujud kompetensi yang ingin dicapai.70 Pada jenjang sekolah menengah atas luar biasa (SMALB), kompetensi dasar Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:
a. Memahami ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan fungsi manusia sebagai khalifah, demokrasi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b. Meningkatkan keimanan kepada Allah sampai Qadha dan Qadar melalui pemahaman terhadap sifat dan Asmaul Husna.
c. Berperilaku terpuji seperti husnudzan, taubat, dan raja’ dan meninggalkan perilaku tercela seperti isyrof, tabzir dan fitnah.
d. Memahami sumber hukum Islam dan hukum taklifi serta menjelasakan hukum muamalah dan hukum keluarga dalam Islam.
e. Memahami sejarah Nabi Muhammad pada periode Mekkah dan periode Madinah serta perkembangan Islam di Indonesia dan di dunia.71
68 Ibid., hal. 78
69 Ibid., hal. 79
70 Ibid., hal. 79
71 Ibid., hal. 80
D. Implementasi Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama