• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat diantaranya:

1. Memberikan sumbangan pengetahuan dan pemikiran bagi dunia pendidikan secara umum dan bagi SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta secara khusus dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk siswa tunanetra jenjang Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB-A).

2. Memperkaya khazanah keilmuan dalam bidang pendidikan bagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terutama Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Menjadi bahan rujukan bagi para pembaca dalam rangka mengembangkan pembelajaran bagi siswa tunanetra.

4. Menambah wawasan dan pengetahuan bidang pendidikan bagi penulis sehingga dapat menjadi modal untuk mempersiapkan diri sebagai calon pendidik.

10 A. Tunanetra

1. Pengertian Tunanetra

Dalam bidang pendidikan luar biasa, anak yang mengalami gangguan penglihatan biasa disebut anak tunanetra. Tunanetra adalah salah satu jenis hambatan fisik yang berupa ketidakmampuan untuk melihat dengan baik yang dialami seseorang. Hambatan atau gangguan tersebut bisa bersifat menyeluruh (total blind) atau sebagian (low vision).1 Tunanetra tidak saja mencakup mereka yang buta tetapi juga bagi mereka yang mampu melihat namun tebatas sekali dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari terutama belajar.2

Mereka yang mengalami gangguan penglihatan tersebut pada dasarnya memerlukan pendidikan khusus walaupun telah diberi pertolongan dengan alat-alat khusus. Dengan kata lain, tunanetra adalah seseorang yang memiliki gangguan penglihatan sehingga tidak dapat menggunakan penglihatannya secara fungsional dan dalam proses pendidikan diperlukan pelayanan khusus.3 Dengan demikian bagi mereka yang memiliki gangguan penglihatan yang tergolong tunanetra memerlukan pendidikan khusus sebagai bentuk pemenuhan haknya atas pendidikan yang layak.

Menurut Cartwright ada berbagai batasan yang berkaitan dengan tunanetra. Menurutnya batasan tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, diantaranya:

a. Menurut batasan personal, dalam hal ini batasan bagi tunanetra lebih dilihat dari bagaimana sikap individu bila berhadapan dengan

1 Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta:

Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009), hal. 7

2 Nandiyah Abdullah, Bagaimana Mengajar Anak Tunanetra (Di Sekolah Inklusi), Magistra, vol. 24, 2012, hal. 9

3 Agustyawati dan Solicha, op.cit., hal. 8

tunanetra. Sebagian dari mereka memandang tunanetra sebagai orang yang tidak berdaya, merasa takut, karena dianggap bisa menularkan ketunanetraannya, atau merasa tidak nyaman ketika bergaul dengan orang yang tidak bisa melihat.

b. Menurut batasan sosiologis, tunanetra dilihat dari ketidakmampuannya dalam peran sosial yang dipelajari. Berbagai sikap dan pola tingkah laku yang merupakan ciri dari penderita tunanetra merupakan hal yang bukan dibawa sejak lahir tetapi karena diperoleh melalui proses belajar.

c. Menurut batasan legal atau administratif, yang dimaksud tunanetra total adalah mereka yang mempunyai ketajaman penglihatan tidak lebih dari 20/200 dan luas pandangan tidak lebih dari 20 derajat meski telah mendapat upaya perbaikan terhadap kemampuan penglihatannya. Artinya mereka hanya dapat melihat pada jarak 20 kaki. Sedangkan untuk ukuran penglihatan normal dapat melihat pada jarak 200 kaki.

d. Menurut batasan pendidikan, dalam batasan ini maka ada dua kelompok. Yang pertama adalah mereka yang tergolong Buta Akademis (educationally blind) yang mencakup mereka yang tidak dapat lagi menggunakan penglihatannya untuk tujuan belajar dengan hurus awas dan harus menggunakan braille sebagai media belajarnya. Pendidikan bagi mereka ini adalah dengan memberikan kesempatan belajar melalui non-visual senses (indra selain penglihatan). Yang kedua adalah mereka yang tergolong kurang awas (the partially sighted/low vision) yang meliputi mereka dengan penglihatan yang masih berfungsi secara cukup, di antara 20/70-20/200 atau mereka yang mempunyai ketajaman penglihatan normal tapi medan pandangan kurang dari 20 derajat. Pendidikan bagi

mereka ini dapat menggunakan sisa penglihatan dengan semaksimal mungkin.4

2. Klasifikasi Anak Tunanetra

Secara garis besar tunanetra diklasifikasikan menjadi dua macam:

a. Totally Blind (Buta Total)

Adalah mereka yang tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar sama sekali.5

b. Low Vision

Adalah mereka yang masih mampu menerima rangsangan cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21 atau berdasarkan tes mereka hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat dibaca pada jarak 21 meter.6

Selain dua klasifikasi besar tersebut, tunanetra juga dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:

a. Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan

1) Tunanetra sebelum atau sejak kelahiran, yakni mereka yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan.

2) Tunanetra setelah lahir atau pada usia dini, yakni mereka telah memiliki kesan dan pengalaman penglihatan namun masih mudah terlupakan.

3) Tunanetra pada usia sekolah atau masa remaja, yakni mereka yang telah memiliki kesan dan pengalaman penglihatan yang pengalaman tersebut telah memberikan pengaruh yang mendalam.

4) Tunanetra pada usia dewasa, yakni mereka yang dengan segala kesadarannya mampu melakukan penyesuaian diri dengan baik.

4 Ibid., hal. 8-9

5 Nandiyah Abdullah, loc.cit., hal. 9

6 Agustyawati dan Solicha, op.cit., hal. 10

5) Tunanetra usia lanjut, yakni mereka yang memiliki pengalaman penglihatan yang baik namun sebagian besar dari mereka mengalami kesulitan mengikuti latihan penyesuaian diri.7

b. Berdasarkan kemampuan daya penglihatan

1) Tunanetra ringan (defective vision/low vision), yakni mereka yang memiliki hambatan penglihatan akan tetapi masih dapat mengikuti program pendidikan dan mampu melakukan kegiatan yang menggunakan fungsi penglihatan.

2) Tunanetra setengah berat (partially sighted), yakni mereka yang kehilangan sebagian daya penglihatan akan tetapi dapat mengikuti program pendidikan biasa atau membaca tulisan yang bercetak tebal dengan bantuan kaca pembesar.

3) Tunanetra berat (totally blind), yakni mereka yang tidak dapat melihat sama sekali.8

c. Berdasarkan pemeriksaan klinis

1) Tunanetra yang ketajaman penglihatannya kurang dari 20/200 dan atau bidang penglihatannya kurang dari 20 derajat.

2) Tunanetra yang masih memiliki ketajaman penglihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200 dan dapat melihat lebih baik melalui perbaikan.9

d. Berdasarkan kelainan-kelainan pada mata

1) Myopia, adalah penglihatan jarak dekat, bayangan tidak terfokus dan berada dibelakang retina. Penglihatan akan menjadi jelas jika objek didekatkan. Untuk membantu gangguan mata ini bisa dengan menggunakan kacamata dengan lensa negatif.

2) Hyperopia, adalah penglihatan jarak jauh, bayangan tidak terfokus dan berada di depan retina. Penglihatan akan menjadi

7 Ibid., hal. 10

8 Ibid., hal. 10-11

9 Ibid., hal. 11

jelas jika objek dijauhkan. Untuk membantu gangguan mata ini bisa dengan menggunakan kacamata dengan lensa positif.

3) Astigmatisme, adalah penglihatan kabur yang disebabkan oleh gangguan pada kornea mata sehingga bayangan benda pada jarak jauh maupun dekat tidak berada pada retina. Untuk membantu gangguan mata ini bisa dengan menggunakan kacamata dengan lensa silindris.10

3. Penyebab Ketunanetraan

Ketunanetraan yang terjadi pada seseorang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Faktor pre-natal

Penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat berkaitan erat dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan.

1) Keturunan

Ketunanetraan yang disebabkan oleh keturunan terjadi dari hasil perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau orang tua tunanetra, ketunanetraan akibat keturunan antara lain Retinitis, Pigmentosa, penyakit pada retina yang umumnya merupakan keturunan.

2) Pertumbuhan seorang anak dalam kandungan

Ketunanetraan yang merupakan akibat dari proses pertumbuhan janin dalam kandungan dapat disebabkan oleh:

a) Gangguan saat mengandung.

b) Penyakit yang diderita seperti TBC.

c) Infeksi atau luka yang terjadi pada ibu hamil akibat terkena rubella atau cacar air yang dapat merusak mata, telinga, jantung, dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang.

10 Ibid., hal. 11-12

d) Infeksi karena terjangkit penyakit kotor, toxoplasmosis, thracoma dan tumor.

e) Kurangnya vitamin tertentu sehingga terjadi hilangnya fungsi penglihatan.11

b. Faktor post-natal

Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat terjadi saat atau setelah bayi lahir, diantaranya:

1) Kerusakan pada mata atau saraf mata yang terjadi pada waktu persalinan yang dapat berupa benturan dari benda keras.

2) Di saat persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi yang selanjutnya bayi yang terlahir akan mengalami gangguan penglihatan.

3) Mengalami penyakit mata yang berakibat pada terjadinya ketunanetraan. Penyakit tersebut misalnya:

a) Xeropthalmia, penyakit mata sebab kekurangan vitamin A.

b) Trachoma, penyakit mata karena virus chilimidezoon trachomanis.

c) Catarac, penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa mata menjadi keruh.

d) Glaucoma, penyakit mata sebab bertambahnya cairan dalam bola mata.

e) Diabetik Retinopathy, penyakit mata sebab gangguan pada retina sebagai akibat dari diabetis.

f) Macular Degeneration, penyakit yang terjadi karena daerah tengah dari retina secara berangsur memburuk.

Seseorang yang terkena penyakit ini akan kehilangan kemampuan untuk melihat secara jelas objek-objek di bagian tengah bidang penglihatan.

g) Retinopathy of prematurity, penyakit yang biasa terjadi pada mereka yang terlahir prematur. Pada saat lahir

11 Ibid., hal. 12

mereka masih memiliki potensi penglihatan yang normal.

Bayi yang dilahirkan premature biasanya ditempatkan pada inkubator yang berisi oksigen dengan kadar tinggi sehingga pada saat dikeluarkan dari inkubator terjadi perubahan kadar oksigen yang dapat mengakibatkan pertumbuhan pembuluh darah menjadi tidak normal dan meninggalkan semacam bekas luka pada jaringan mata.

Peristiwa ini sering menimbukan kerusakan pada retina mata dan menyebabkan tunanetra total.12

4. Karakteristik Anak Tunanetra

Secara fisiologis, anak tunanetra memiliki karakteristik sebagaimana berikut:

a. Karakteristik totally blind (buta total), yaitu:

1) Tidak mampu melihat.

2) Tidak mampu untuk mengenali orang pada jarak 6 meter.

3) Kerusakan nyata pada kedua bola mata.

4) Sering meraba-raba atau tersandung saat berjalan.

5) Mengalami kesulitan saat mengambil benda kecil di sekitarnya.

6) Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh.

7) Peradangan hebat pada kedua bola mata.

8) Mata tampak bergoyang.

b. Karakteristik low vision, yaitu:

1) Menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat.

2) Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar.

3) Mata tampak lain: terlihat putih di tengah mata atau terlihat berkabut pada kornea.

4) Terlihat tidak menatap lurus ke depan.

12 Ibid., hal. 13-14

5) Tampak memincingkan mata atau mengerutkan kening terutama pada cahaya terang atau pada saat mencoba melihat sesuatu.

6) Mengalami kesulitan yang lebih pada malam hari dari pada siang hari.

7) Pernah menjalani operasi mata dan atau mengenakan kacamata.13

Anak-anak yang mengalami hambatan penglihatan atau tunanetra memiliki perkembangan yang berbeda dengan anak-anak berkebutuhan khusus lainnya, bukan hanya dari segi penglihatan tetapi juga dari hal yang lain. Bagi peserta didik yang memiliki gangguan penglihatan sedikit ataupun tidak melihat sama sekali, ia harus mempelajari lingkungan sekitarnya dengan menyentuh dan merasakannya. Perilaku untuk mengetahui objek dengan cara mendengarkan suara dari objek yang ingin dicapai merupakan perilakunya dalam perkembangan motorik. Selain itu, untuk merasakan perbedaan dari setiap objek yang dipegangnya, anak tunanetra selalu menggunakan jari-jari sebagai indra peraba. Kegiatan ini merupakan perilakunya untuk menguasai dunia persepsi dengan menggunakan indra sensorik. Anak tunanetra sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menguasai dunia persepsi.14 Dengan dominannya penggunaan indra pendengaran dan peraba maka menjadi sebuah kewajaran jika mereka mengalami kesulitan untuk memahami apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Akibat ketunanetraan yang mereka alami, maka pengenalan atau pengertian terhadap dunia luar tidak dapat diperoleh secara lengkap dan utuh. Hal tersebut berdampak pada terhambatnya perkembangan kognitif anak tunanetra. Perkembangan kognitif yang terhambat tersebut bukan saja erat kaitannya dengan kecerdasan atau kemampuan inteligensinya, tetapi berkaitan erat dengan kemampuan indra penglihatan. Kemampuan

13 Ibid., hal. 14

14 Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus, (Bandung: PT Refika Aditama, 2006), hal. 114-115

indra penglihatan mereka yang mengalami gangguan tersebut memaksa mereka menggunakan indra pendengaran sebagai saluran utama penerima informasi dari luar yang berakibat pada pembentukan pengertian atau konsep suatu materi hanya berdasarkan pada suara atau bahasa lisan. Sehingga beberapa konsep seperti warna, jarak dan waktu sulit diperkenalkan kepada mereka.15 Kesulitan itu terutama bagi mereka yang memiliki sedikit pengalaman dengan menggunakan indra penglihatan sebab mengalami gangguan sejak usia dini atau sejak kelahiran.

Meski demikian, secara psikolgis mereka memiliki indra yang superior yaitu dalam hal perabaan, pendengaran dan daya ingat.

Kemampuan superior tersebut pada dasarnya tetap memerlukan indra penglihatan sebagai penyempurna bagi perkembangan kognitifnya.

Menurut Lowenfeld terdapat tiga hal yang berpengaruh buruk terhadap perkembangan kognitifnya, antara lain:

a. Jarak dan beragamnya pengalaman penglihatan yang dimiliki oleh peserta didik dengan keterbatasan penglihatannya. Kemampuan ini terbatas karena mereka mempunyai perasaan yang tidak sama dengan anak yang mampu melihat.16 Mereka yang memiliki gangguan penglihatan sejak kelahiran tentu akan berbeda dengan mereka yang memiliki gangguan pada usia tertentu dimana ia telah melihat dunia sekitarnya. Mereka yang telah memiliki pengalaman penglihatan dalam hidupnya tentu akan mampu membayangkan dengan lebih baik hal-hal yang mereka dengar dan raba dari pada mereka yang tidak memiliki atau lebih sedikit pengalaman penglihatannya. Sehingga kemampuan kognitif mereka dalam memahami sesuatu disekitarnya akan berbeda.

15 Agustyawati dan Solicha, op.cit., hal. 15

16 Bandi Delphie, op.cit., hal. 115

b. Kemampuan yang telah didapatkan akan berkurang dan berpengaruh terhadap pengalamannya dengan lingkungan.17

c. Peserta didik dengan keterbatasan penglihatan tidak mempunyai kendali yang sama terhadap lingkungan dan diri sendiri seperti hal yang dilakukan oleh anak awas.18

Intelegensi anak dengan keterbatasan penglihatan pada umumnya tidak mengalami hambatan yang berarti. Samuel P. Hayes menyatakan bahwa kemampuan intelegensi anak dengan keterbatasan penglihatan tidak serta-merta menjadikan mereka berintelegensi rendah.19 Dengan demikian meskipun mereka memiliki hambatan dalam perkembangan kognitifnya sebab gangguan penglihatan, bukan berarti mereka memiliki intelegensi yang rendah. Potensi yang mereka miliki bisa saja luar biasa.

Hanya saja potensi tersebut terhambat karena gangguan penglihatan yang berdampak pada berkurangnya kemampuan kognitif yang mereka miliki.

Dalam perkembangan komunikasi, peserta didik dengan keterbatasan penglihatan pada umumnya sangat berbeda dengan anak awas. Ada beberapa hal yang meski diperhatikan oleh guru yang berkaitan dengan perkembangan komunikasi mereka, antara lain:

a. Bahasa akan sangat berguna bagi mereka untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitar, dengan menanyakan apa yang terjadi dan selanjutnya orang lain akan dapat berbicara dengan mereka.

b. Mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengucapkan kata pertama dibandingkan dengan anak awas.

c. Mereka mulai mengombinasikan kata-kata ketika perbendaharaannya mencakup 50 kata, dan menggunakan kata-kata tersebut untuk berbicara tentang kegiatan dirinya pada orang lain.

17 Ibid., hal. 115

18 Ibid., hal. 115

19 Ibid., hal. 116

d. Pada umumnya mereka memiliki kesulitan dalam menggunakan dan memahami kata ganti orang.20

Dalam perkembangan sosialnya, anak tunanetra melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan cara melakukan sentuhan dan mendengarkan objeknya. Hal tersebut dilakukan karena tidak adanya kontak mata, penampilan ekspresi wajah yang kurang, dan kurangnya pemahaman tentang lingkungannya sehingga interaksi tersebut kurang menarik bagi lawannya.21

Perkembangan sosial anak tunanetra sangat bergantung pada bagaimana perlakuan dan penerimaan lingkungan terhadap anak tunanetra itu sendiri terutama lingkungan keluarga. Penerimaan secara realistik terhadap anak dengan segala keterbatasannya merupakan hal yang paling utama dalam menumbuhkan rasa percaya dirinya. Sikap yang ditunjukkan dengan pemberian kasih sayang yang wajar serta pemberian perlakuan yang sama dengan anak lainnya akan menjadikan mereka terbuka terhadap permasalahan yang dihadapai dan menjadi motivator tersendiri untuk menggapai masa depan.22

Diantara cara yang dapat dilakukan sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka adalah melalui sentuhan atau usapan. Dalam Islam perbuatan sentuhan atau usapan ini merupakan bentuk kasih sayang dan merupakan sebagian dari sunnah yang diajarkan Rasulullah, yakni dalam berlaku kepada anak yatim. Dalam Tanbihul Ghafilin dijelaskan bahwa Rasulullah SAW. bersabda yang artinya “Barangsiapa mengusap kepala anak yatim karena kasih sayang, maka Allah mencatat baginya dengan setiap rambut yang tersentuh tangannya satu kebaikan, serta dengan setiap rambut itu Allah menghapus satu dosa darinya dan menaikkan satu derajat.”23

20 Ibid., hal. 115-116

21 Ibid., hal. 116

22 Agustyawati dan Solicha, op.cit., hal. 16-17

23 Al-Faqih Abul Laits As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin Nasihat Bagi yang Lalai, Terj.

Dari Tanbihul Ghafilin oleh Abu Juhaidah, (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), Cet. I, jilid 2, hal. 45

Dalam perkembangan kepribadian, anak tunanetra mengalami hambatan-hambatan dengan timbulnya beberapa masalah antara lain:

a. Curiga terhadap orang lain. Hal ini sebagai akibat dari keterbatasan rangsangan visual. Anak tunanetra kurang mampu berorientasi dengan lingkuangan sehingga kemampuan mobilitasnya terganggu.

Sikap berhati-hati yang berlebihan dapat berkembang menjadi sifat curiga kepada orang lain.

b. Perasaan mudah tersinggung. Pengalaman sehari-hari yang selalu menumbuhkan kekecewaan menjadikan anak tunanetra yang emosional.

c. Ketergantungan yang berlebihan. Anak tunanetra cenderung mengharapkan pertolongan orang lain dalam mengatasi permasalahan.24

Dalam perkembangan emosi, anak tunanetra menunjukkan gejala-gejala emosi yang tidak seimbang. Kesemuanya terjadi karena keterbatasannya dalam penglihatan serta pengalaman-pengalaman yang dirasakan atau dihadapi. Emosi tersebut berupa perasaan takut, malu, khawatir, cemas, mudah marah, iri hati, serta kesedihan yang berlebihan.25

5. Mengatasi Keterbatasan Anak Tunanetra

Dari karakteristik yang telah diketahui menunjukkan bahwa anak-anak tunanetra memerlukan perhatian khusus dari berbagai kalangan, diantaranya guru. Para guru yang menangani anak tunanetra memerlukan kemampuan yang tepat dalam menentukan strategi pembelajaran bagi anak tunanetra. Oleh karenanya diperlukan pemahaman yang jelas mengenai isu yang komplek dalam penyusunan suatu program pembelajarannya.26

24 Agustyawati dan Solicha, op.cit., hal. 17-18

25 Ibid., hal. 18

26 Bandi Delphie, op.cit., hal. 117

Pendekatan baru untuk mengajar anak tunanetra dapat dilakukan dengan pemberian latihan-latihan yang lebih banyak terhadap kemampuannya. Misalnya latihan dengan menggunakan tongkat putih (white cane) agar dapat berpergian dengan aman, mandiri, dan efektif.

Kegiatan latihan ini dikenal dengan orientasi mobilitas atau mobility training. Orientasi sendiri diartikan sebagai kemampuan mengetahui posisi diri berkaitan dengan objek-objek lain yang berada dalam ruang tertentu. Sedangkan mobilitas adalah kemampuan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain, objek atau lingkungan tertentu secara aman, mandiri, dan efektif.27 Dengan demikian, latihan-latihan tersebut akan dapat membantu anak tunanetra untuk lebih aktif dalam kehidupan.

Lebih jauh lagi, tujuan diberikannya program pembelajaran yang menitikberatkan pada orientasi mobilitas adalah sebagai berikut:

a. Dapat meningkatkan kemampuan reflek bersyarat sehingga proses kemampuan gerak dapat terintegrasi melalui proses pembelajaran.

b. Agar perkembangan gerak dan pertumbuhan anak tunanetra sejalan dengan kemampuan dominan yang telah dimilliki.

c. Agar lebih mendorong kemampuan perspektif sensomotorik.

d. Dapat membantu kelancaran proses pembelajaran dan mampu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

e. Agar mampu melampaui masa transisi dari kehidupan lingkungan sekolah ke arah lingkungan masyarakat.28

Selain latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan anak tunanetra dalam bahasan sebelumnya, maka dibutuhkan pula komunikasi yang bersifat efektif secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi ini akan mampu menjembatani antara pencapaian tujuan pembelajaran dengan keterbatasan-keterbatasan yang dialami oleh yang bersangkutan.

Kriteria komunikasi tersebut antara lain sebagai berikut:

27 Ibid., hal. 117

28 Ibid., hal. 118

a. Menggunakan bahasa yang tepat dan sesuai dengan situasi yang sebenarnya. Hindari penggunaan kata-kata “di sini” atau “di sana”.

Gunakanlah kata-kata “di sebelah kirimu” atau “dua langkah di depanmu”.

b. Menggunakan analogi-analogi atau perbandingan dalam menyampaikan sesuatu agar dapat memberikan kejelasan. Misalnya

“cobalah berjalan sepuluh langkah ke depan tanpa suara berisik seperti semilirnya angin di pagi hari”.

c. Menggunakan tanda-tanda khusus yang dapat ditangkap dengan baik oleh pendengaran. Misalnya, penggunaan bola plastik yang dimodifikasi dengan media bunyi gemerincing untuk memberikan arah yang dituju.

d. Menggunakan rabaan dalam mengenali suatu model. Misalnya, di saat memberikan pengetahuan gelombang dalam pembelajaran hendaknya menggunakan media yang memiliki cekungan longitudinal pada sisi atas dan bawah serta dapat bergetar menirukan suara gelombang lautan saat disentuh dan digerakkan.

e. Menggunakan media prototipe untuk mengenali ukuran suatu objek sebagai model dan mengenali bagian-bagiannya. Misalnya prototipe pesawat terbang.

f. Menggunakan manipulasi gerak dalam upaya memahami suatu gerak melalui penjelasan guru. Misalnya di saat memberikan pola gerakan “pivot” atau gerakan memutar dengan salah satu kaki yang menjadi tumpuannya yang sering dilakukan dalam permainan bola basket. Guru harus memberikan arahan gerak pada anak melalui kegiatan meraba gerak kaki guru yang sedang melakukan gerak pivot.29

Selanajutnya, untuk mengatasi keterbatasan anak tunanetra juga dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu. Alat pendidikan bagi

29 Ibid., hal. 120-121

tunanetra dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu alat pendidikan khusus, alat bantu dan alat peraga.

a. Alat pendidikan khsusus yang meliputi reglet dan stylus, mesin tik braille, komputer dengan program braille, printer braille, kalkulator bicara, abacus, kertas braille, penggaris braille, dan kompas bicara.

b. Alat bantu khsusus yang meliputi alat bantu perabaan sebagai sumber belajar menggunakan buku-buku dengan huruf braille, alat bantu pendengaran sebagai sumber belajar diantaranya talking books (buku bicara), kaset (suara binatang), CD, dan kamus bicara.

c. Alat peraga taktual atau audio, dapat diamati melalui perabaan atau pendengaran, yang meliputi benda asli (seperti makanan, minuman, binatang peliharaan, tubuh anak itu sendiri, tumbuhan, elektronik, dan kaset), benda asli yang diawetkan (seperti binatang liar), benda

c. Alat peraga taktual atau audio, dapat diamati melalui perabaan atau pendengaran, yang meliputi benda asli (seperti makanan, minuman, binatang peliharaan, tubuh anak itu sendiri, tumbuhan, elektronik, dan kaset), benda asli yang diawetkan (seperti binatang liar), benda

Dokumen terkait