• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

BAB III HAL-HAL YANG DAPAT MEMPERMUDAH PERPANJANGAN

A. Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan yang cukup mendesak bagi kalangan pengusaha sebagai pelaku usaha dan pemerintah sebagai pihak regulator di bidang usaha karena undang-undang perseroan terbatas yang sebelumnya berlaku sudah dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan dunia usaha.

Sebagaimana disebutkan dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 dipandang tidak lagi memenuhi perkembangan hukum dan perkembangan masyarakat karena keadaan ekonomi serta kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi sudah berkembang begitu pesat khususnya pada era globalisasi.

Disamping itu, meningkatnya tuntutan masyarakat akan layanan yang cepat, kepastian hukum serta tuntutan akan pengembangan dunia usaha yang sesuai dengan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate governance) menuntut penyempurnaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.

Secara garis besar terdapat beberapa perubahan signifikan dalam substansi undang-undang perseroan terbatas, salah satunya adalah terkait pengaturan tentang

Corporate Social Responsibility(CSR) atau yang dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 (UUPT) disebut dengan istilah “Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan”. Di Indonesia sendiri sebenarnya secara tidak langsung telah mengenal dan menerapkan konsep CSR ini dalam istilah yang berbeda, yakni gotong royong. Gotong royong itu sendiri muncul sebagai wujud interaksi sosial dalam masyarakat Indonesia, yang oleh Soerjono Soekanto102 diartikan sebagai kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa adanya interaksi sosial maka tidak akan mungkin ada kehidupan bersama.

CSR (Corporate Social Responsibility) merupakan salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi Pasal 74 Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) yang terbaru, yakni UU Nomor 40 Tahun 2007. Melalui undang-undang ini, industri atau koprasi-koprasi wajib untuk melaksanakanya, tetapi kewajiban ini bukan suatu beban yang memberatkan. Perlu diingat pembangunan suatu negara bukan hanya tangungjawab pemerintah dan industri saja, tetapi setiap insane manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan pengelolaan kualitas hidup masyarakat.

Selain tertuang dalam UUPT, konsep CSR sendiri telah di introdusir ke dalam berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia, antara lain sebagai berikut:103

1. UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal;

2. UU No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara; 3. UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

Hidup;

4. UU No.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;

5. UU No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen; 6. UU No.39 Tahun 1999 tentang Hak Azasi Manusia; 7. UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

8. UU No.19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (ruang lingkup bantuan program Bina Lingkungan dijabarkan dalam Permeneg BUMN No.Per-05/MBU/2007);

9. UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air; 10. UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Dimasukkannya materi CSR kedalam produk hukum di Indonesia tidak terlepas dari adanya pengaruh globalisasi ekonomi dan perdagangan serta tuntutan bagi negara-negara peratifikasi World Trade Organization Agreement (WTO Agreement) termasuk Indonesia untuk menerapkan prinsip-prinsip “Good Corporate Governance” secara baik dan proporsional, yaitu Keterbukaan (transparency), Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, Kesetaraan dan Kewajaran (fairness), terutama dalam praktek dan kegiatan usaha serta perekonomian dunia.

Isu tanggung jawab sosial (social corporate responsibility) adalah suatu topik yang berkenaan dengan etika bisnis. Disini terdapat tanggung jawab moral perusahaan baik terhadap karyawan perusahaan dan masyarakat disekitar perusahaan.

103

Suryatin Lijaya, CSR (Corporate Social Responsibility) Dalam Peraturan

Perundang-undangan, Makalah pada Diseminasi Tentang Rekomendasi Bagi Pembaharuan Hukum di Indonesia,

Oleh karena itu berkaitan pula dengan moralitas, yaitu sebagai standar bagi individu atau sekelompok mengenai benar dan salah, baik dan buruk. Sebab etika merupakan tata cara yang menguji standar moral seseorang atau standar moral masyarakat.104

Dalam perkembangan etika bisnis yang lebih mutakhir, muncul gagasan yang lebih konfrehensif mengenai lingkup tanggung jawab sosial perusahaan ini. Paling kurang sampai sekarang ada empat bidang yang dianggap dan diterima sebagai termasuk dalam apa yang disebut sebagai tanggung jawab sosial perusahaan.105

1. Keterlibatan perusahaan dalam kegiatan-kegiatan sosial yang berguna bagi kepentingan masyarakat luas. Sebagai salah satu bentuk dan wujud tanggung jawab sosial perusahaan, perusahaan diharapkan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang terutama dimaksudkan untuk membantu memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi, tanggung jawab sosial dan moral perusahaan di sini terutama terwujud dalam bentuk ikut melakukan kegiatan tertentu yang berguna bagi masyarakat.

2. Perusahaan telah diuntungkan dengan mendapat hak untuk mengelola sumber daya alam yang ada dalam masyarakat tersebut dengan mendapatkan keuntungan bagi perusahaan tersebut. Demikian pula, sampai tingkat tertentu, masyarakat telah menyediakan tenaga-tenaga profesional bagi perusahaan

104Bismar Nasution,Tanggungjawab Sosial Perusahaan, http://bismar.wordpress.com/2009/ 12/23/tanggungjawab-sosial-perusahaan/dipublikasikan tanggal 23 Desember 2009, diakses tanggal 2 Pebruari 2012.

yang sangat berjasa mengembangkan perusahaan tersebut. Karena itu, keterlibatan sosial merupakan balas jasa terhadap masyarakat.

3. Dengan tanggung jawab sosial melalui berbagai kegiatan sosial, perusahaan memperlihatkan komitmen moralnya untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan bisnis tertentu yang dapat merugikan kepentingan masyarakat luas. Dengan ikut dalam berbagai kegiatan sosial, perusahaan merasa punya kepedulian, punya tanggung jawab terhadap masyarakat dan dengan demikian akan mencegahnya untuk tidak sampai merugikan masyarakat melalui kegiatan bisnis tertentu.

4. Dengan keterlibatan sosial, perusahaan tersebut menjalin hubungan sosial yang lebih baik dengan masyarakat dan dengan demikian perusahaan tersebut akan lebih diterima kehadirannya dalam masyarakat tersebut. Ini pada gilirannya akan membuat masyarakat merasa memiliki perusahaan tersebut, dan dapat menciptakan iklim sosial dan politik yang lebih aman, kondusif, dan menguntungkan bagi kegiatan bisnis perusahaan tersebut. Ini berarti keterlibatan perusahaan dalam berbagai kegiatan sosial juga akhirnya punya dampak yang positif dan menguntungkan bagi kelangsungan bisnis perusahaan tersebut di tengah masyarakat tersebut.

Pada hakekatnya setiap orang, kelompok dan organisasi mempunyai tanggung jawab sosial (social responsibility) pada lingkungannya. Tanggung jawab sosial seseorang atau organisasi adalah etika dan kemampuan berbuat baik pada lingkungan sosial hidup berdasarkan aturan, nilai dan kebutuhan masyarakat. Berbuat baik atau

kebajikan merupakan bagian dari kehidupan sosial. Dan segi kecerdaan, berbuat kebajikan adalah salah satu unsur kecerdasan spiritual. Sementara dalam konteks perusahaan, tanggung jawab sosial itu disebut tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility).

Secara etik, perusahaan tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomis dan legal kepada pesaham atau shareholder, tetapi juga mempunyai kewajiban terhadap pihak-pihak lain secara sosial termasuk masyarakat disekitarnya. Karena itu CSR adalah nilai moral yang semestinya dilaksanakan atas panggilan nurani pemilik atau pimpinan perusahaan bagi peningkatan kesejahteraanstakeholder

perusahaan.Stakeholders adalah seseorang atau kelompok orang yang kena pengaruh langsung atau tidak langsung atau pada kegiatan bisnis perusahaan, atau yang mempengaruhi langsung atau tidak langsung kegiatan bisnis perusahaan.

Stakeholdersperusahaan meliputi pesaham, pemimpin, pekerja, penyedia barang dan jasa (mitra atausupplier), pesaing, konsumen, pemerintahan dan masyarakat.

Menurut A.B. Susanto dari sisi perusahaan terdapat berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari aktivitas CSR, antara lain sebagai berikut:106

1. Mengurangi risiko dan tuduhan terhadap perlakuan tidak pantas yang diterima perusahaan.

Perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya secara konsisten akan mendapatkan dukungan luas dari komunitas yang telah merasakan manfaat dari berbagai aktivitas yang dijalankanya. CSR akan mendongkrak citra perusahaan, yang dalam rentang waktu panjang akan meningkatkan reputasi perusahaan. Manakala terdapat pihak-pihak tertentu yang menuduh perusahaan melakukan perilaku serta praktik-praktik yang tidak pantas,

106 A.B. Susanto,Corporate Social Responcibility, (Jakarta : The Jakarta Consulting Group, 2007), hlm. 14-15.

masyarakat akan menunjukkan pembelaannya. Karyawan pun akan berdiri di belakang perusahaan, membela tempat institusi-institusi mereka bekerja. 2. CSR dapat berfungsi sebagai pelindung dan membantu perusahaan

meminimalkan dampak buruk yang diakibatkan suatu krisis.

Demikian pula ketika suatu perusahaan diterpa kabar miring bahkan ketika perusahaan melakukan kesalahan, masyarakat lebih mudah memahami dan memaafkannya. Sebagai contoh adalah sebuah perusahaan produsen

consumen goods yang lalu dilanda isu adanya kandungan berbahaya dalam produknya. Namun karena perusahaan tersebut dianggap konsisten dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya, maka masyarakat dapat memaklumi dan memaafkannya sehingga relatif tidak mempengaruhi aktivitas dan kinerjanya.

3. Keterlibatan dan kebanggaan karyawan.

Karyawan akan merasa bangga bekerja pada perusahaan yang memilki reputasi yang baik, yang secara konsisiten melakukan upaya-upaya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Kebanggaan ini pada akhirnya akan menghasilkan loyalitas, sehingga mereka merasa lebih termotivasi untuk bekerja lebih keras demi kemajuan perusahaan. Hal ini akan berujung pada penigkatan kinerja dan produktivitas.

4. CSR yang dilaksanakan secara konsisten akan mampu memperbaiki dan mempererat hubungan antara perusahaan dengan parastakeholdersnya.

Pelaksanaan CSR secara konsisten menunjukkan bahwa perusahaan memilki kepedulian terhadap pihak-pihak yang selama ini berkontribusi terhadap lancarnya berbagai aktivitas serta kemajuan yang mereka raih. Hal ini mengakibatkan para stakeholders senang dan merasa nyaman dalam menjalankan hubungan dengan perusahaan.

5. Meningkatnya penjualan seperti yang terungkap dalam riset Roper Search Worldwide.

Konsumen akan lebih menyukai produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang konsisten menjalankan tanggung jawab sosialnya sehingga memilki reputasi yang baik.

6. Insentif-insentif lainnya seperti insentif pajak dan berbagai perlakuan khusus lainnya. Hal ini perlu dipikirkan guna mendorong perusahaan agar lebih giat lagi menjalankan tanggung jawab sosialnya.

Menurut Pasal 1 angka 3 UUPT yang menyebutkan bahwa “Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat,

maupun masyarakat pada umumnya”. Sementara itu, dengan diaturnya CSR atau tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan dalam pasal 74 UUPT menimbulkan ketidakkonsistenan dengan ketentuan sebelumnya yakni pasal 1 angka 3 UUPT. Hal ini terlihat dari adanya perbedaan konsep dasar terhadap tanggung jawab sosial dari yang semula bersifat social responsibility (moral obligation), sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka 3 UUPT, menjadi “kewajiban hukum” (legal obligation) seperti tertuang dalam pasal 74 UUPT dimana secara eksplisit menegaskan adanya kewajiban bagi perusahaan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan serta pengenaan sanksi bagi perseroan yang tidak melaksanakannya.

Jadi dengan adanya tanggung jawab sosial perusahaan terhadap kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi masyarakat setempat, setidaknya telah memberikan kualitas hidup masyarakat yang layak dan ini tentunya akan mempermudah bagi perusahaan pemegang hak guna usaha tersebut didalam proses permohonan perpanjangan hak guna usahanya karena adanya kerjasama yang baik antara perusahaan dan masyarakat setempat.

Dokumen terkait