BAB. III
KONSEP PENCIPTAAN
B. Implementasi Visual 1.Konsep Bentuk 1.Konsep Bentuk
Penggarapan karya ini akan tergantung pada perencanaan, proses dan teknik pengerjaan yang diterapkan. Maka dalam perencanaan perlu dipertimbangkan faktor-faktor dasar pemikiran desain, yang terdiri dari konsep bentuk, media keramik dan teknik (proses). Dengan menggunakan teknik-teknik keramik, penulis ingin memvisualkan pewujudan dari Sapi Gumarang, Banyak Angrem,Wulanjar Ngirim,
dan beberapa penanda alam yang mengiringi rasi bintang tersebut seperti ulat, kupu-kupu, lalat dan daun-daun yang berguguran.
Visualisasi karya ini merupakan proses penciptaan bentuk karya makhluk hidup. Dalam hal ini penulis berusaha dengan segala pengetahuan tentang bahan dan teknik, ketrampilan, kreativitas dan kemauan untuk menciptakan sebuah karya keramik. Awal dari perwujudan bentuk berasal dari pengamatan bentuk sapi, angsa (banyak), dan wanita, baik secara langsung obyek itu sendiri maupun tidak langsung atau gambar, inilah yang menjadi sumber penulis untuk mengekspresikan dalam karya keramik.
Konsep bentuk yang akan dituangkan ke dalam karya keramik yaitu berupa garis, garis dalam kaya keramik merupakan garis yang terjadi akibat pertemuan dua bidang yang bersatu sehingga terjadilah garis. Gelap terang yang terjadi merupakan efek darri cahaya yang mengenai karya keramik sehingga muncullah gelap terang. Sebagai finishing atau pewarnaan, digunakan lapisan glasir yang berkarakter meleleh, dengan nuansa warna biru tua, warna biru digunakan mewakili warna langit pada
commit to user
33
malam hari. Warna biru diambil dari campuran cobalt yang menghasilkan marna mengkilat. Namun dikarenakan glasir yang diperkirakan matang pada suhu 805°C ternyata tidak matang. Sehingga warnanya menjadi dof dan tidak mengkilat dan menghasilkan tekstur kasar pada permukaan karya keramik.
2. Bahan
Bahan utama pembuatan keramik adalah tanah liat.Bahan yang akan digunakan sebaiknya di uji terlebih dahulu agar dapat diketahui bagaimana karakternya dan kualitas ketahanan bakarnya. Oleh karena itu dalam pemilihan bahan, harus memiliki dasar pengetahuan mengenai jenis tanah liat yang sesuai, sehingga dapat memilih serta menyusun komposisi antara bahan-bahan yang dipakai.
Tanah liat yang digunakan dalam pembuatan karya ini menggunakan tiga campuran tanah liat yaitu dari Pacitan, Boyolali dan Kaolin. Tanah Pacitan memiliki suhu bakar yang cukup tinggi karena mengandung unsur alumina dan silica oxsida.
Tanah Boyolali merupakan tanah liat yang diambil sebagai campuran yang memiliki krakter lengket dan memiliki susut tinggi. Sedangkan bahan yang ketiga adalah Kaolin merupakan tanah yang berasal dari bukit tinggi, kaolin digunakan untuk meninggikan kualitas pembakaran agar kuat terhadap suhu tinggi.
Dalam pengerjaan karya tugas akhir dilakukan eksperimen tanah liat dan eksperimen glasir dengan suhu 700oC- 805oC.
1. Eksperimen Tanah Liat
Dari ketiga bahan tanah liat diatas, dibuat 36 keping tanah yang dibentunk plat tipis atau disebut tes pieces, yang masing-masing keping memiliki prosentase campuran yang berbeda untuk menemukan campuran yang terbaik. Campuran
commit to user
tersebut kemudian dibakar hingga suhu 700°C untuk mengetahui tingkat kematangan nya. Setelah diuji dengn pembakaran, maka dipilihlah tanah liat no. 13 dengan perbandingan 3:3:4.
30% tanah Pacitan 30% tanah Kaolin 40% tanah Boyolali. 2. Eksperimen Glasir
Glasir digunakan untuk menambah kualitas karya keramik ini. Eksperimen glasir bertujuan untuk mendapatkan warna yang diinginkan.
Di bidang glasir, eksperimen difokuskan pada pencarian komposisi dan titik kematangan glasir. Pemilihan warna harus diperhitungkan dengan cermat, agar glasir yang digunakan tidak mendidih atau tidak matang ketika proses pembakaran glasir.
Pada pengglasiran ini digunakan glasir standar transparanyang dicampur dengan Pb Plumbum yang bertujuan untuk menurunkan titik matang glasir. sedangkan untuk menghasilkan warna, glasir harus dicampur dengan Oksida.
Dalam tes uji coba glasir, bahan-bahan yang digunakan antara lain: Chrome oxide (CuO2)
Tembaga Cobalt(CO2) Ferro oxide (Fe) Mangan (MaO)
commit to user
35
Gambar 1. Uji glasir.
(Foto Dokumentasi Tanti, Oktober 2012)
Setelah melalui pembakaran dan mendapatkan hasilnya, eksperimen glasir yang dipilih adalah formula glasir dengan campuran Cobalt 2% glasir standar 50%
Plumbum 50%, warna yang dihasilkan biru tua. 3. Teknik Pengerjaan.
Dalam pembuatan keramik, ada beberapa tahapan proses yang harus dilakukan untuk membuat benda keramik, yaitu:
a.Pengolahan Bahan
Tahap pengolahan bahan diawali dengan pencampuran bahan-bahan yang akan digunakan. Bahan baku yang digunakan adalah tanah liat Pacitan, serta bahan campuran berupa tanah liat dari Boyolali, juga Kaolin, dicampur dengan perbandingan yang sudah ditentukan, agar diperoleh campuran yang baik dan kuat.
Pencampuran tanah liat dilakukan dengan menggunakan mesin pencampur
ball mill yang digerakkan menggunakan tenaga listrik. Semua jenis tanah tersebut kemudian dimasukkan kedalam ball mill yang kemudian di giling selama satu jam agar menjadi campuran yang homogen dan halus.
commit to user
Gambar 2. Proses penggilingan tanah liat. (Foto Dokumentasi Tanti, Juni 2012)
Setelah itu dilanjutkan proses penyaringan, untuk memisahkan material dengan ukuran yang tidak seragam. Proses selanjutnya adalah pengentalan untuk mengurangi kadar air yang terkandung, dimana hasil campuran bahan yang berwujud lumpur diendapkan selama beberapa hari, sehingga akan mengendap, air yang bening dibuang sedikit demi sedikit, sehingga tinggal cairan yang kental.
Gambar 3. Tanah liat cair setelah disaring dan diendapkan. (Foto Dokumentasi Tanti, Juni 2012)
commit to user
37
Kemudian cairan tersebut dituang diatas meja gips, dan didiamkan hingga kandungan airnya berkurang hingga kira-kira tinggal 60% kemudian. Tahap terakhir adalah pengulian atau penguletan tanah, dimaksudkan untuk menghomogenkan massa badan tanah liat dan membebaskan gelembung-gelembung udara yang mungkin terjebak. Massa badan keramik yang telah diuli, disimpan dalam wadah tertutup.
Gambar 4. Pengulian tanah liat. (Foto Dokumentasi Tanti, Juni 2012) b. Proses Pembentukan Badan Keramik
Pembentukan keramik merupakan proses yang paling menentukan dalam pembuatan karya keramik. jenis tanah dan karakter tanah juga menpengaruhi. Tanah liat yang digunakan hendaklah tanah liat yang homogeni dan sudah di uli agar padat dan terhindar dari gelembung udara. Akibat buruknya adalah pecah dan keretakan karya pada proses pengeringan dan pembakaran.
commit to user
Alat-alat yang digunakan yaitu alat pemutar (perbot), butsir kawat (wire modelling tools), butsir kayu (wood modelling tools), kawat pemotong (wire cutter), spon (sponges) dan semprotan air.
Teknik yang digunakan dalam pembentukan keramik ini adalah teknik pijit (pinching), dengan pertimbangan lebih mudah membentuk clay sesuai dengan keinginan dan agar bisa mengontrol tebal tipisnya benda yang dibentuk, selain itu teknik ini lebih tepat untuk bentuk-bentuk yang bebas atau tidak beraturan.
Teknik ini dimulai dengan membuat dasar bagian bawahnya selebar yang dinginkan. Kemudian mulailah dengan menambahkan tanah liat sedikit demi sedikit lalu di pijit-pijit sehingga menjadi pipih. Pijitan sekaligus mengarahkan kedalam bentuk yang diinginkan. Untuk merapikan bagian luar, dapat digunakan butsir kayu dan kawat. Apabila bentuk yang diinginkan melenceng atau terjadi kesalahan, maka dapat dipotong dengan menggunakan kawat pemotong dan diulang kembali. Pada saat pembentukan karya seringkali tanah atau body karya terbuka, sebaiknya body
karya disemprot dengan air dan ditutup dengan plastik, cukup bagian ujung yang terbua, bagian yang hendah dikerjakan saja. Untuk seterusnya sebaiknya kondisi karya tetap basah atau selalu disemprot dengan air sampai karya selesai dan dikeringkan. Dalam pembuatan karya keramik, sebaiknya pembuatan karya berada di atas meja putar atau perbot, sehingga pembuat dapat dengan mudah melihat sekeliling karya dengan memutar karya dengan meja putar tanpa harus berdiri berpindah tempat.
Untuk kaya penanda alam, dibuat dengan teknik cetak tekan. Yaitu teknik yang menggunakan cetakan yang dibuat dari gibs. Cara pencetakannya dengan
commit to user
39
menekan tanah liat kedalam cetakan sampai penuh dan terisi semua ruang cetakan, kemudian di tekan-tekan agar padat dan tidak berongga, setelah padat, rapikan agar menjadi datar dapat dilakukan dengan butsir atau penggaris kemudian ambil hasil cetakan dengan menempelkan sedikit tanah liat dan ditarik. Langkah terakir rapikan bagian pinggir dengan menggunakan butsir.
c.Pengeringan
Teknik pengeringan yang digunakan adalah alami, yaitu diangin-anginkan, karya keramik ditempatkan di rak dalam ruangan di udara terbuka (studio keramik). Dalam proses pengeringan, pengeringan yang terlalu cepat atau drastis dapat membuat karya menjadi retak. Hal tersebut dapat di antisipasi dengan masih membungkus karya dengan plastik namun dengan tidak rapat hal tersebut dapat memperlambat proses keluarnya air.
d. Pembakaran
Pembakaran merupakan proses terakhir yang menentukan berhasil atau tidaknya pembuatan benda keramik. Dalam pembakaran karya Tugas Akhir, digunakan tungku pembakaran dengan bahan bakar gas.
Di dalam tungku ini terdapat plat-palat tahan api yang berfungsi untuk meletakkan karya dan glass wool sebagai peredam panas dan supaya panas tidak bocor keluar. Dalam suhu diatas 1000°C glass wool tersebut akan berubah menjadi bara.
Tungku ini menggunakan dua lubang api. Sehingga normalnya tungku ini menggunakan dua tabung gas 50 Kg. Namun dikarenakan adanya kebocoran gas pada
commit to user
salah satu tabung gas pada saat pembakaran, sehingga hanya digunakan satu tabung saja.
Gambar 5. Proses pembakaran. (Foto Dokumentasi Tanti, Oktober 2012)
Seperti yang dikatakan diawal bahwa proses pembakaran merupakan proses yang paling menentukan, maka kenaikan suhu panas perlu dijaga tingkat kestabilannya. Sehingga perlu digunakan thermo couple untuk mengukur suhu ruang pembakaran. Kesalahan dalam proses pembakaran menyebabkan pecahnya karya dalam tungku bakar.
Untuk menghindari terjadinya ketidak stabilan suhu di dalam tungku, setiap kenaikan suhu perlu dipantau dengan cara menulis suhu pada tabel yang dihitung tiap 10 menit. Selain itu dalam proses pembakaran, juga perlu diperhatikan tekanan gas dan kejadian-kejadian di dalam tungku, seperti suara-suara yang terdengar saat pembakaran.
Pembakaran keramik ada dua tahapan yaitu: 1) Pembakaran Biskuit
commit to user
41
Sebelum proses pembakaran biskuit, tungku dipanaskan selama dua jam hingga mencapai suhu kurang lebih 100oC- 200oC. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan uap air dan kelembaban yang masih ada pada badan keramik. Kemudian temperatur dinaikkan secara bertahap hingga suhu 800oC, yaitu temperatur standar pembakaran bisquit. Karakter biskuit telah relatif kuat, tetapi masih memiliki porositas tinggi yang masih menyerap air.
2) Pembakaran Glasir
Karya keramik yang telah dibakar biskuit kemudian dilapisi dengan bahan glasir, dalam karya ini digunakan teknik semprot. Karya keramik terlebih dahulu dibersihkan dengan menggunakan kwas atau spon. Selama proses pengglasiran harus selalu diaduk agar larutan glasir tidak mengendap di dasar wadah.
Gambar 6. Proses penglasiran (Foto Dokumentasi Tanti, Oktober 2012)
commit to user
Karya keramik kemudian dibakar pada suhu 822° C pada awalnya bahan glasir yang digunakan matang pada suhu 805°C tetapi pada kenyataannya glasir tidak matang pada suhu sekian. Dikarenakan pada saat percobaan glasir menggunakan tungku dengan volume lebih kecil.
Dalam pembakaran glasir, kenaikan suhu cenderung lebih cepat karena dengan pertimbangan karya keramik sudah kuat setelah dibakar biskuit. Kemudian temperatur dinaikkan terus menerus hingga suhu 822oC, yaitu suhu untuk mematangkan glasir.
Waktu pendinginan tungku adalah minimal sama dengan waktu yang dibutuhkan untuk pembakaran. Pendinginan mendadak akan menyebabkan thermo shock yaitu terjadinya pecah atau retak pada karya keramik.
Bila suhu di dalam ruang pembakaran sudah dibawah 100oC, maka semua lubang ventilasi dibuka dan pintu tungku dibuka sedikit, beberapa saat kemudian karya keramik dapat dibongkar dan dikeluarkan.
4. Penyajian Karya
Penyajian karya yaitu berkenaan dengan teknik dan penataan dalam memperlihatkan, mempertontonkan atau menyuguhkan suatu karya baik karya dua dimensi maupun tiga dimensi kepada para penonton.
Penyajian bertujuan untuk menampilkan dan memperindah karya dalam penataan pameran. Dalam penataan karya tugas akhir yang berjudul ”Rasi Bintang dan Pranata Mangsa sebagai Sumber Ide dalam Penciptaan Karya Keramik”, karya akan di tata dengan menggunakan base silinder yang dilapisi kain kain kuning keemasan. Base silinder yang dipergunakan memiliki ukuran yang berbeda tinggi
commit to user
43
rendahnya, hal tersebut bertujuan untuk menyeinbangkan karya yang besar dan yang kecil. Karena warna karya yang gelap, maka disinari beberapa lampu 15 watt.
C. Diskripsi Karya