• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pengembangan Pengetahuan Khususnya

VI. Diskusi

6.1. Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pengembangan Pengetahuan Khususnya

Pengetahuan Khususnya Pada PenguatanSistem Kesehatan

Dari hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa berdasarkan manajemen informasi dan regulasi di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang maupun di tingkat Propinsi Sumatera Utara telah mempunyai berbagai upaya kebijakan dan peraturan yang sangat mendukung untuk program penanggulangan HIV dan AIDS seperti Renstra Penanggulangan HIV dan AIDS, Perda, Pergub. Namun kendala dalam memformulasi kebijakan tersebut terkadang terhambat oleh proses pergantian pimpinan seperti yang terjadi di Kabupaten Deli Serdang dimana KPA Deli Serdang telah merancang usulan Perda Penanggulangan HIV dan AIDS, namun hingga saat ini rancangan tersebut belum ditindak lanjuti oleh Bupati Deli Serdang yang baru terpilih. Bentuk koodinasi, kerjasama dan integrasi KPA dengan SKPD maupun LSM yang terkait dalam menyusun rancangan Renstra, perda maupun kebijakan lainnya dalam program penanggulangan HIV dan AIDS ini sudah baik, sehingga dapat dikembangkan bagi daerah lain yang belum mempunyai regulasi di wilayahnya.

Masalah pembiayaan penanggulangan HIV dan AIDS secara umum masih relatif terbatas, dimana pendanaannya masih sangat bergantung pada APBN dan bantuan luar negeri melalui proyek Global Fund maupun HCPI dan donor lainnya. Berdasarkan peraturan dari Kementerian Kesehatan dalam surat edarannya, memang dinyatakan bahwa ketersediaan dan keberlangsungan pemberian ARV pada ODHA sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah pusat melalui APBN dan dana hibah luar negeri.

Pembiayaan reagensia diagnostik dan bahan laboratorium harus dialokasikan oleh pemerintah daerah masing-masing, dan dengan dukungan pemerintah pusat.

Sedangkan untuk bahan habis pakai sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah daerah.

Program-program penanggulangan HIV danAIDS baik di Kota Medan maupun di Kabupaten Deli Serdang sangat berkaitan dengan ketersediaan pembiayaannya, dimana pendanaannya dalam APBD sering tidak terealisasi sehingga program tidak

101 dapat berjalan dengan optimal, khususnya untuk program mitigasi dampak. Masih terdapat persepsi bahwa kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS semata-mata merupakan tanggung jawab Dinas Kesehatan sehingga anggaran yang ada di SKPD lain yang terkait program penanggulangan HIV dan AIDS tidak disetujui dan tidak bisa dimasukkan dalam APBD karena bukan merupakan tugas pokok dan fungsi dari SKPD tersebut.

Penyediaan layanan program penanggulangan HIV dan AIDS baik di Kota Medan maupun di Kabupaten Deli Serdang masih relatif sedikit dibanding dengan luas wilayah dan jumlah penduduknya. Puskesmas sebagai layanan primer yang merupakan layanan terdepan yang memberikan layanan VCT di Kota Medan hanya ada 8 dari 39 Puskesmas yang ada. Ini menunjukkan layanan oleh puskesma untuk program VCT baru tersedia sekitar 23%. Meskipun demikian sejak tahun 2012, Dinas Kesehatan Kota Medan telah mengembangkan layanan Puskesmas menjadi Layanan Komprehensif HIV–IMS Berkesinambungan (LKB)dimana terdapat lima Puskesmas yang telah dinyatakan sebagai Puskesmas yang melaksanakan program LKB. Namun mengingat begitu komprehensifnya konsep LKB tersebut, ternyata dalam prakteknya tidak semua kegiatan dapat dilaksanakan secara paripurna.

Untuk layanan tingkat sekunder di Kota Medan terdapat 5 rumah sakit yang dapat memberikan layanan CST maupun VCT. Kondisi yang serupa juga terjadi di Kabupaten Deli Serdang, yaitu dari 33 Puskesmas yang ada hanya terdapat 3 Puskesmas yang memberikan layanan VCT atau hanya sekitar 9%. Sedangkan untuk layanan tingkat sekunder hanya ada satu rumah sakit yang dapat memberikan layanan CST maupun VCT. Hal ini tentunya menjadi keterbatasan ketersediaan layanan baik dari segi akses, cakupan, pemerataan maupun kualitas layanannya, di satu sisi proporsi populasi yang beresiko, rentan terhadap infeksi HIV maupun prevalensi kasus HIV dan AIDS dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Oleh karena itu di masa yang akan datang perlu peningkatan jumlah Puskesmas yang dapat memberikan layanan penanggulangan HIV dan AIDS, terlebih dalam bentuk Layanan Komprehensif HIV–IMS Berkesinambungan.

Demikian pula dengan layanan tingkat sekunder sebagai rujukan dari

102 Puskesmas.Sumber daya manusia yang terlibat dalam penanggulangan HIV dan AIDS relatif sedikit dan terbatas.

Ada dua masalah pada SDM yang berasal dari pemerintah, pertama, SDM yang bekerja sebagai penyedia layanan sering mengalami pergantian posisi dan tempat kerja serta cenderung mempunyai multitask dalam memberikan layanan. Kedua, SDM pemerintah yang bekerja di KPA yang berasal dari berbagai SKPD terkait tidak dapat berbuat banyak dalam menyampaikan maupun merealisasikan rencana program penanggulangan HIV dan AIDS di instansinya masing-masing, karena mereka bukanlah sebagai decision maker di SKPD asalnya. Sedangkan SDM yang non-pemerintah umumnya berasal dari LSM-LSM yang bertindak sebagai penjangkau dan pendamping populasi kunci. SDM non-pemerintah ini relatif lebih bertahan lama dalam menjalankan program penanggulangan HIV dan AIDS, karena pada dasarnya lembaga ini bersifat sukarela dan non profit, namun dalam aktivitasnya dalam program penanggulangan HIV dan AIDS ini sering terkendala karena keterbatasan dalam pendanaan. Oleh karena itu, pemerintah perlu memikirkan aturan agar SDM pemerintah yang terlibat dalam program penanggulangan HIV dan AIDS terutama yang telah dilatih dan mempunyai keterampilan khusus agar mempunyai kontrak kerja untuk jangka waktu tertentu bekerja di program HIV dan AIDS.

Regulasi atau kebijakan terkait penyediaan obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai dan alat diagnostik dalam program penanggulangan HIV dan AIDS pada prinsipnya sama seperti regulasi untuk pelayanan kesehatan lainnya, dimana bagian yang berperan dalam penyediaan material, pencegahan dan diagnostik dan terapi ini bagian Farmasi Dinas Kesehatan, sedangkan SDM pelaksana kegiatan program HIV dan AIDS umumnya tinggal menerima material tersebut. Material yang berupa ARV diperoleh dari pendanaan APBN, sedangkan alat maupun bahan medis bahan habis pakai diperoleh dari pendanaan APBD. Selain ada juga bantuan dari donor berupa kondom, alat suntik steril dari HCPI. Jika terjadi kekosongan atau keterlambatan dalam distribusi logistik/material tersebut, maka layanan yang tidak mempunyai stok akan meminjam material tersebut dari layanan lainnya, walaupun tidak ada peraturan untuk itu secara tertulis. Oleh karena itu perlu

103 koordinasi yang lebih baik antara pelaksana program dengan pengadaan logistik, agar tidak terjadi gangguan distribusi, kekosongan logistik maupun ketidaksesuaian kualitas logistik yang disediakan dengan kebutuhan di lapangan.

Pengelolaan informasi terkait pelaksanaan penanggulangan HIV dan AIDS dilakukan melalui sistem informasi HIV dan AIDS (SIHA), dimana masing-masing Dinas Kesehatan membuat laporan setiap bulan secara online ke pusat. Asesmen atau penelitian yang pernah dilakukan baik ditingkat daerah maupun provinsi, pada dasarnya sudah dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam program penanggulangan HIV dan AIDS, misalnya hasil STBP, survey cepat perilaku dan pemetaan hotspot telah digunakan dalam perencanaan layanan untuk populasi kunci. Namun data hasil pencatatan dan pelaporan program HIV dan AIDS antara Dinas Kesehatan, KPA maupun laporan LSM masih menunjukkan angka yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh penggunaan indikator yang tidak sama. Oleh karena itu Dinas Kesehatan, KPA maupun LSM harus mempunyai kesamaaan indikator dalam menilai suatu program atau hasil program.

Upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang dilakukan pemerintah melalui bentuk-bentuk kerjasama atau kemitraan dengan masyarakat (LSM, komunitas populasi kunci, organisasi profesi kesehatan seperti IBI, IDI, maupun Forum Dokter Peduli AIDS) merupakan bentuk dukungan pemerintah terhadap gerakan masyarakat yang peduli pada penanggulangan HIV dan AIDS. Pemerintah telah melibatkan masyarakat dalam perencanaan, implementasi dan evaluasi kegiatan-kegiatan yang bertujuan menanggulangi HIV dan AIDS. Keterlibatan masyarakat terutama LSM dan populasi kunci dalam kepengurusan KPA dan programnya merupakan bukti bentuk keterlibatan masyarakat dalam perencanaan hingga evaluasi.

Selain itu KPA juga melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA) di tingkat kecamatan dan kelurahan/desa. KPA Deli Serdang sudah mengalokasi pendanaannya untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat ini sedangkan Kota Medan belum ada dana khusus yang dialokasikan untuk pemberdayaan masyarakat ini. Keterlibatan pihak perusahaan swasta melalui CSR

104 dalam penanggulangan HIV dan AIDS masih jauh dari yang diharapkan, kalaupun ada peran tersebut, masih bersifat insidental dan sporadis sesuai situasi dan kondisi, misalnya saat peringatan Hari AIDS Sedunia. Berdasarkan hal itu, maka pemerintah daerah hendaknya dapat mengalokasikan pendanaan bagi pemberdayaan masyarakat ini serta membuat suatu aturan bagi perusahaan agar mengalokasikan CSRnya bagi program penanggulangan HIV dan AIDS.Dalam penanggulangan HIV dan AIDSperan universitas/perguruan tinggi, baik dalam penelitian, pengembangan kapasitas maupun pelaksanaan program belum dimanfaatkan oleh KPA maupun Dinas Kesehatan secara formal, kalaupun ada keterlibatan tersebut masih bersifat individual. Di samping memang dalam kepengurusan KPA Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang tidak ada keterwakilan dari universitas/perguruan tinggi.

6.2. Implikasi Hasil Penelitian terhadap Integrasi HIV dan AIDS ke