IV. Metode Penelitian
4.2. Lokasi penelitian
Penelitian tentang integrasi penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan nasional yang dilaksanakan di Sumatera Utara dilakukan di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Kedua kota ini dipilih dengan pertimbangan bahwa:
1. Kedua daerah tersebut merupakan dua daerah tertinggi yang memiliki kasusHIV dan AIDS di Sumatera Utara.
2. Membandingkan antara kota dan kabupaten bisa memberikan variasi gambaran tentang pengaruh bentuk administrasi daerah yang mungkin berbeda di dalam merespon permasalahan HIV dan AIDS.
3. Kedua daerah telah menunjukkan komitmen akan penanggulangan HIV dan AIDS yang tampak dengan rancangan atau telah diterbitkannya Perda tentang penanggulangan HIV dan AIDS.
4. Kedua daerah ini diketahui memiliki program HIV dan AIDS yang relatif komprehensif yang mencerminkan intervensi berkelanjutan (continuum of care) bagi penanggulangan HIV dan AIDS sehingga bisa memberikan informasi yang lebih lengkap tentang implementasi kebijakan dan program HIV dan AIDSdi tingkat daerah.
16 4.3. Prosedur Pengumpulan Data
1. Setelah memperolehpersetujuan komisi etik pusat, pengumpulan datadilakukan dengan focus group discussion dan metode wawancara mendalam, serta pengumpulan data sekunder.
Focus Group Discussion(FGD) dilakukan dalam bentuk workshop di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang selama masing-masing 3 hari. Dengan pengelompokan FGD 1 pada SKPD, FGD 2 pada layanan dan FGD 3 pada populasi kunci.Jadwal pelaksanaan FGD dan in-depth interview dapat dilihat pada lampiran.
2. Proses workshop FGD direkam menggunakan tape recorder untuk memudahkan analisa data. Sebelum kegiatan FGD dilakukan dimulai dengan penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian, dan para peserta FGD diminta untuk mengisi formulir informed consent yang memuat kesediaan peserta sebagai informan dalam penelitian ini. Formulir informed consent yang dimaksud dapat dilihat pada lampiran 2.
Masing masing kelompok dibagi panduan FGD agar memudahkan peserta untuk memahami dan menanggapipertanyaan-pertanyaan di dalam sub-sub sistem kesehatan terkait.
3. Jika diperlukan, peneliti melakukan klarifikasi dan pendalaman atas hasil FGD ini kepada peserta di kemudian hari. Alamat lengkap insitusi, serta alamat email, dan nomor ponsel peserta diskusi dicatat oleh peneliti dengan persetujuan yang bersangkutan.
4. Wawancara mendalam yang dilakukan setelah FGD. Data FGD digunakan sebagai dataawal untuk mendalami berbagai topik yang akan digali dalam wawancara belum terjawab ketika FGD.
5. Pengumpulan data sekunder dilakukan secara simultan dimulai sejak persetujuan etik telah diterima oleh peneliti lokal.
17 4.4. Informan
Nama informan FGD dan in-depth interview dapat dilihat di lampiran.
4.5. Instrumen
Panduan pertanyaan untuk FGD dan wawancara baik di tingkat nasional maupun propinsi merujuk pada panduan pertanyaan dari protokol penelitian yang telah dikembangkan oleh tim 10 Universitas. Panduan pertanyaan ini berfokus pada penilaian atas kebijakan dan program HIV DAN AIDS termasuk pelaksanaannya di tingkat daerah. Topik-topik yang ada dalam instrumen adalah:
1. Manajemen dan Regulasi dalam Penanggulangan AIDS 2. Pembiayaan Program AIDS
3. Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan AIDS
4. Penyediaan Obat dan Material Pencegahan untuk Penanggulangan AIDS 5. Penyediaan Layanan Kesehatan dalam Penanggulangan AIDS
6. Pengelolaan Informasi Strategis dalam Penanggulangan AIDS 7. Pemberdayaan Masyarakat
Lampiran 1 menyajikan panduan pertanyaan secara lebih rinci.
Dalam pelaksanaan FGD, panduan pertanyaan dikirimkan kepada para responden sebelum pengambilan data dilakukan.
Jenis dan sumber data sekunder yangdikumpulkan adalah sebagai berikut :
1. Peraturan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota atau Peraturan Gubernur/Bupati /Walikota yang mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, baik secara eksplisit maupun implisit.
2. RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota
3. PERDA APBD tahun 2011, 2012, 2013; Provinsi dan Kabupaten Kota
18 4. RENSTRA SKPD berisi Program atau kegiatan SKPD, LSM atau sektor swasta yang ditujukan untuk pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, baik secara langsung maupun tidak langsung.
5. Beberapa dokumen lain yang relevan, yang ditemukan pada saat lokakarya dilaksanakan di Provinsi atau Kabupaten Kota
Data sekunder tersebut didapatkan dari: Dinas Kesehatan Propinsi Sumatra Utara, Dinas Kesehatan Kota Medan, Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang, KPA Kota Medan, KPA Kabupaten Deli Serdang, KPA Propinsi Sumut, LSM Kunci (Galatea, Medan Plus, GWL, H2O, SP2S), Rumah Sakit: RS. H Adam Malik, RS. Dr. Pirngadi, RS. Haji Medan, RS. Rumkit, BappedaKabupaten Deli Serdang, BappedaKota Medan.
Untuk meningkatkan kredibilitas data, dilakukan peer debriefing dengan peneliti peneliti lainnya yang banyak berkecimpung dalam bidang penelitian terkait HIV dan AIDS dan kebijakan di tingkat lokal.
4.6. Manajemen Data dan Analisa Data
Data yang terkumpul dikelola oleh satu orang manajer data, dengan tahapan:
1. Rekaman FGD danin-depth interview dituliskan transkripnya dalam bentuk verbatim.
2. Hasil transkrip dicek ulang dengan notulensi yang dibuat ketika kegiatan FGD dan in-depth interview berlangsung untuk memastikan semua informasi sudah tercatat.
3. Setiap transkrip dicek keakuratannya secara acak oleh manager data dengan membandingkan rekaman dan transkrip.
4. Selanjutnya data verbatim diolah dengan program EZ-test untuk pengelompokan data/pengodean data.
5. Transkrip FGD diberi kode berdasarkan kata kunci yang telah dikembangkan dalam pedoman analisis data.
6. Mengelompokkan data berdasarkan kata kunci untuk setiap sub-sistem
19 7. Mengelompokkan data sekunder berdasarkan sub sistem agar bisa
diperbandingkan dengan data primer
8. Pengelompokan data ini dilakukan dengan menggunakan tabel data untuk memudahkan untuk melakukan triangulasi
9. Tabel yang telah terisi dengan kata kunci, kutipan yang relevan dan data sekunder yang mendukung untuk setiap sub sistem menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan analisis.
10. Data yang terkumpul dalam bentuk transkrip dan rekamandisimpan oleh tim peneliti dalam bentuk soft copy. Data identitas responden dihancurkan segera setelah pengodean datadan responden dilakukan.
11. Dengan menggunakan software EZ text terhadap data yang ada dilakukan pengelompokkan data berdasarkan kata-kata kunci dari pertanyaan-pertanyaan yang pada setiap sub-sistem, kemudian dilakukan deskripsi dan kutipan terhadap tema-tema yang telah ditetapkan dalam rencana analisis.
12. Dilanjutkan dengan analisis stakeholders. Analisis stakeholders merupakan suatu analisis terhadap konflik kepentingan antar stakeholders dan pengaruh masing-masing stakeholders. Dalam melakukan analisis stakeholders, peneliti memperhatikan dan melakukan identifikasi siapa aktor yang ikut berperan/bermain pada masalah yang diangkat serta menilai secara subjektif peran tersebut. Penilaian disebut tinggi bila aktor mendukung secara penuh program HIV dan AIDS, sedang bila aktor tersebut sebagian mendukung program HIV dan AIDS dan rendah bila aktor tersebut sangat lemah dalam mendukung program HIV dan AIDS.
13. Kredibilitas data dikendalikan dengan triangulasi metode dan triangulasi subjek.
Selain itu, penentuan tingkat integrasi mengacu pada prinsip-prinsip yang digunakan pada penelitian sebelumnya (Conseil et al., 2010; Desai et al., 2010).
Untuk tingkat integrasi ini disebut Tidak Terintegrasi bila program HIV dan AIDS secara struktural diorganisasikan dan berfungsi secara paralel dengan komponen sistem kesehatan lain. Terintegrasi Sebagian bila ada keterkaitan antara struktur dan fungsi program HIV dan AIDS dengan struktur dan fungsi sistem kesehatan
20 atau ada kegiatan yang disinkronkan dan dikoordinasi antara struktur dan fungsi program HIV dan AIDS dengan system kesehatan dalam rangka untuk mencapai tujuan memperkuat penyediaan pelayanan kesehatan tetapi struktur dan fungsi masing-masing tetap terpisah dalam pengorganisasiannya. Terintegrasi Penuh bila ada perubahan-perubahan yang dilakukan di kedua struktur program sehingga menciptakan tata kelola, pengelolaan pembiayaan, penyediaan layanan atau sistem informasi yang satu atau menyatunya dua program disemua bidang-bidang fungsional meskipun secara struktur terpisah.
4.7. Durasi Penelitian
Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan (Mei-Juli) yang dilakukan secara bertahap mulai dari kegiatan pengumpulan data primer melalui FGD, in-depth interview dan pengumpulan data sekunder.
21
V. Hasil Penelitian
5.1. Konteks 5.1.1. Kota Medan
Kota Medan memiliki karakteristik wilayah dengan luas 265,10 km2atau 3,6 persen dari total luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Kota Medan secara administratif pemerintahan saat ini terdiri dari 21 Kecamatan dengan 151 Kelurahan, yang terbagi atas 2,001 lingkungan. Berdasarkan batas wilayah administratif, Kota Medan relatif kecil dibandingkan dengan kota lainnya. Kota Medan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Sumatera Utara memiliki posisi strategis yang semakin menguat baik secara regional maupun nasional. Posisi Kota Medan secara regional dalam bidang ekonomi sangat penting karena kota ini berada dalam wilayah hinterland dengan basis ekonomi, sumberdaya, budaya, jasa dan pariwisata yang relatif kuat dan besar.
Jumlah penduduk Kota Medan diperkirakan mencapai 2,1 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,1% per tahun. Besarnya jumlah penduduk menjadikan Kota Medan sebagai kota yang tinggi tingkat kepadatan penduduknya (8.001 jiwa/km2).
Adapun karakteristik penduduk Kota Medan bersifat pluralistik, baik dari segi agama, suku, etnis, budaya dan adat istiadat. Keberagaman karakteristik penduduk Kota Medan ini menjadikan mereka bersifat terbuka dan dinamis. Perkembangan kependudukan di Kota Medan pada saat ini juga ditandai oleh proses transisi demografi, yaitu proses penurunan tingkat kesuburan sehingga jumlah penduduk menjadi stabil. Penurunan tingkat kelahiran antara lain disebabkan oleh perubahan pola pikir dan perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Selain itu, perbaikan gizi dan status kesehatan juga mempengaruhi penurunan tingkat kematian. Pada akhir proses transisi demografi, tingkat kelahiran dan kematian tidak banyak berubah sehingga jumlah penduduk cenderung tidak berubah, kecuali karena proses migrasi.
22 5.1.2. Kabupaten Deli Serdang
Kabupaten Deli Serdang memiliki luas wilayah 2.497,72 km2atau 3,48% luas Propinsi Sumatera Utara dengan jumlah penduduk pada tahun 2013 sebanyak 1.807.173 jiwa.
Secara administratif Kabupaten Deli Serdang terdiri dari 22 kecamatan, 394 kelurahan/desa. Dilihat dari distribusi dan kepadatan penduduk, maka rata-rata kepadatan penduduk telah mencapai ± 696 jiwa/km2. Kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Deli Tua yaitu 6.244 jiwa/km2, sedangkan kepadatan terendah terdapat di Kecamatan Gunung Meriah yaitu 32 jiwa/km2.
Kabupaten Deli Sedang berbatasan sebelah utaradengan Kabupaten Langkat dan Selat Malaka, sebelah selatan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun,sebelah timurdengan Kabupaten Serdang Bedagai dan sebelah baratberbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat. Kabupaten Deli Serdang memiliki posisi yang sangat strategis, karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka, sebagai salah satu daerah lintas pelayaran paling sibuk didunia. Kabupaten ini mengelilingi dua kota utama di Sumatera Utara. Dengan posisi strategis, sumber daya alam dan manusia yang dimiliki oleh Kabupaten Deli Serdang akan menjadi potensi yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan yang kompetitif dalam menghadapi persaingan dalam menarik investor untuk mengembangkan usahanya di daerah ini dan sasaran lainnya dalam memasarkan produk/jasa yang dihasilkan.
Data jumlah kasus HIV dan AIDS untuk Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2001 hingga 2013 berdasarkan data Dinas Kesehatan adalah 581 kasus HIV dan 473 kasus AIDS. Jumlah kasus HIV dan AIDS ini dari tahun ke tahun juga menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2013 jumlah penderita HIV sebanyak 89 kasus dan jumlah AIDS sebanyak 100 kasus. Pada tahun 2014 hingga bulan Juni ini, juga telah ditemukan 37 kasus HIV baru. Data pada tahun 2013 menunjukkan faktor resiko terbesar terdapat pada kelompok heteroseksual, sedangkan berdasarkan pekerjaan proporsi terbesar terdapat pada kelompok wiraswasta dan ibu rumah tangga.
23 5.2. Situasi HIV dan AIDS di Sumatera Utara; Kota Medan dan
Kabupaten Deli Serdang
Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI sejak tahun 2005 hingga 2013, jumlah kasus HIV yang dilaporkan di Propinsi Sumatera Utara sebanyak 7.967 dan kasus AIDS sebanyak 1.301, sedangkan data nasional menunjukkan kasus HIV sebanyak 127.416 dan kasus AIDS sebanyak 52.348.
Prevalensi HIV dan AIDSini cenderung meningkat tajam dari tahun ke tahun, dan bahkan belum menunjukkan penurunan meskipun upaya penanggulangan HIV dan AIDS telah dilaksanakan semakin gencar oleh masyarakat, LSM dan swasta serta pemerintah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Medan prevalensi HIV di populasi umum dengan jumlah penduduk 2.122.804 jiwa adalah 0,18% dimana jumlah total penderita HIV dan AIDShingga Agustus 2013 mencapai 3.726 orang. Tingkatan epidemi HIV dan AIDS di Kota Medan tergolong terkonsentrasi (concentrated) situasi diantara rendah (low) dan meluas (generalized).
Sebagaimana kita ketahui, pada awalnya penderita HIV banyak ditemukan pada pemakai narkoba jarum suntik, namun pada tahun berikutnya hingga sekarang penderita HIV beralih kepada kelompok heteroseksual, ibu rumah tangga dan bayi.Data menunjukkan adanya peningkatan kasus HIV dan AIDS dari tahun ke tahun berdasarkan faktor resiko heteroseksual dan penurunan kasus berdasarkan faktor resiko pengguna narkoba suntik. Distribusi kasus terdiri dari kelompok dengan faktor resiko terbesar yaitu dari kelompok heteroseksual sebanyak 2,453 kasus, sedangkan kelompok IDUs (pengguna narkoba suntik) 985 kasus dan kelompok homoseksual 124 kasus, namun ibu rumah tangga juga sudah banyak yang terinfeksi sebanyak 521 orang sejak tahun 2006 – 2013.
Dari segi usia ternyata usia produktif yakni antara usia 25 sampai 34 tahun, kasusnya lebih banyak yaitu 1934, diikuti usia 35 sampai 44 tahun sebanyak 623, 16 sampai 24 tahun ada 537 tahun, usia diatas 45 tahun ada 241 kasus.
24 5.3. Respon Daerah terhadap Permasalahan HIV dan AIDS
5.3.1. Respon Kota Medan
Kota Medan telah merintis dan peduli terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDSdimulai pada tahun 1997 dengan kerjasama melalui UNDP dengan Komisi Penanggulangan HIV dan AIDSmulai mengembangkan respon penanggulangan HIV dan AIDS pada kelompok-kelompok perilaku resiko tinggi di Kota Medan. Fokus program diarahkan pada penjangkauan dan dukungan perubahan perilaku kelompok resiko tinggi terinfeksi HIV dan AIDS yaitu mahasiswa, anak jalanan, masyarakat nelayan, pemandu wisata, dan WBP. Kegiatan ini menjadi awal program penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan.
Pada tahun-tahun berikutnya kompleksitas permasalahan HIV DAN AIDS semakin meningkat terutama pada pengguna narkoba suntik (penasun). Selanjutnya dengan semakin meningkatnya kasus AIDS di Medan maka respon penanggulangan AIDS mulai dikembangkan dalam wadah organisasi masyarakat sipil. Kegiatan-kegiatan ini didukung oleh bantuan luar negeri antara lain UNDP, FHI/ASA-USAID, HIVos, Japanese Red Cross, dan Global Fund.
Hingga akhir tahun 2010 program penanggulangan AIDS di Kota Medan telah menyentuh semua kelompok perilaku resiko tinggi terinfeksi HIV yaitu komunitas penasun dan pasangannya, WPS dan pelanggannya, LSL, waria dan pelanggannya dan WBP. Pendanaan program ini masih bersumber dari bantuan luar negeri. Alokasi anggaran APBD masih minim dan terkonsentrasi pada Dinas Kesehatan Kota Medan serta Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Medan.
Tahun 2010 Pemerintah Kota Medan menerbitkan SK Kepengurusan KPA Kota Medan yaitu SK Tim Pelaksana KPA Kota Medan No. 94/KPA-KM/XII/2010 mengacu pada Perpres No 75 tahun 2006 karena berakhirnya masa kepengurusan yang lama. Sejak tahun 2006 KPA Kota Medan mengalami pasang surut program karena pemutasian yang kerap terjadi pada Bagian Kesejahteraan Rakyat di pemerintahan yang dalam
25 Perpres No.75 tahun 2006 disebutkan bahwa kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat yang juga merangkap sebagai sekretaris KPA.
Perkembangan Cakupan dan Program di Kota Medan.
1. Program Pencegahan Penularan Melalui Alat Suntik 2. Program Terapi Rumatan Metadon
3. Program di Lembaga Pemasyarakatan
4. Program Pencegahan Penularan HIV Melalui Transmisi Seksual 5. Program Pencegahan Penularan HIV Melalui Ibu ke Bayi (PMTCT).
6. Konseling dan Testing Sukarela (VCT)
7. Program Perawatan Dukungan dan Pengobatan 8. Program Penanggulangan HIV dan AIDS:
a. Sosialisasi dan Penyuluhan HIV dan AIDS
b. Program Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR).
c. Penjangkauan Populasi Kunci
d. Sosial Marketing dan Distribusi Kondom e. Pelayanan Infeksi Menular Seksual (IMS) f. Program Dukungan Psiko-Sosial
g. Mitigasi Dampak h. Kolaborasi TB-HIV
Dari Perkembangan Cakupan dan Program yang telah dilakukan di Kota Medan yang secara rinci tertuang di dalam Renstra Penanggulangan HIV dan AIDS Kota Medan 2011– 2014 telah memuat program Promosi dan Pencegahan, Perawatan Dukungan Pengobatan, dan Mitigasi Dampak.
5.3.2. Respon Kabupaten Deli Serdang
KPA Propinsi Sumatera Utara melakukan pengembangan ke Kabupaten/Kota yang potensial untuk dibentuk KPA Kabupaten. Kabupaten Deli Serdang dianggap potensial, karena dari jumlah data penderita HIV juga menunjukkan kecenderungannaik. Hal ini juga didukung lokasi Kabupaten Deli Serdang yang secara geografis melingkari dan
26 bersisian langsung dengan Kota Medan, artinya sangat tinggi mobilitas penduduk antar Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Pembentukan KPA Deli Serdang juga didukung oleh Bupati beserta Dinas Kesehatan yang merespon positif ketika inisiasi pembentukan KPA ini ditawarkan. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara juga sangat membantu pembentukan KPA Deli Serdang, dan selanjutnya memfasilitasi jejaring layanan dan farmasi dengan unit layanan dan farmasi di Propinsi Sumatera Utara dan Kota Medan.
Untuk program kegiatan hampir sama dengan program yang ada di KPA Kota Medan.
Demikian juga Perda HIV dan AIDS lebih kurang sama dengan KPA Kota Medan.
5.4. Aktor Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan
Dalam program penanggulangan HIV dan AIDS tentunya bukan hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan saja atau oleh KPA saja, tapi dibutuhkan banyak sektor dan program lainnya yang terlibat. Keterlibatan lintas sektor dan lintas program sangat dibutuhkan dalam program penanggulangan HIV dan AIDS. Untuk itu perlu dianalisa mana saja stakeholder yang terlibat sehingga dapat diketahui peran dan fungsi stakeholder tersebut, dan pada akhirnya dapat dilakukan penilaian berdasarkan kepentingan, sumber daya dan kekuatan secara tinggi, sedang dan rendah. Penilaian kepentingan berdasarkan tugas dan fungsi pokok dari aktor-aktor yang terlibat. Penilaian sumber daya berdasarkan SDM dan SDA yang dimiliki aktor tersebut, sedangkan penilaian kekuatan berdasarkan kemauan dan keterlibatan aktor dalam program atau kegiatan.
Penilaian ini didapatkan setelah melakukan FGD dan in-depth interview. Peneliti melakukan kesimpulan secara umum untuk penilaian tersebut.
Secara umum dapat digambarkan bahwa secara kepentingan, sumber daya dan kekuatan tinggi adalah KPA dan Dinas Kesehatan, Bappeda, Puskesmas. Interaksi antar aktor dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan sudah berjalan baik atas koordinasi KPA Kota Medan. Hal ini dapat dilihat dari kehadiran para wakil dari SKPD yang diundang pada pertemuan yang diadakan KPA Kota Medan. Dan interaksi tersebut juga dapat dilihat dari kerjasama antar SKPD, misalnya Dinas Kesehatan
27 dengan Dinas Sosial dalam menindaklanjuti bila ada pasien Mr. X di layanan, artinya bila ada pasien Mr. X maka akan menjadi tanggung jawab Dinas Sosial dalam hal pembiayaannya.
Namun dirasa kurang untuk koordinasi dalam hal rencana anggaran. Misalnya Dinas Perhubungan merencanakan anggaran untuk kegiatan sosialisasi pencegahan HIV dan AIDS kepada supir angkutan kota dan direncanakan sebagai narasumber dari Dinas Kesehatan dan KPA Kota Medan. Rencana anggaran dan kegiatan tersebut selanjutnya diajukan kepada Bappeda Kota Medan, dan ternyata tidak disetujui dengan alasan kegiatan sosialisasi pencegahan HIV dan AIDS bukanlah merupakan tugas pokok dari Dinas Perhubungan, tapi merupakan tugas dari Dinas Kesehatan.
Dapat juga disimpulkan bahwa integrasi antar SKPD ini sangat tergantung pada koordinasi yang dilakukan oleh KPA Kota Medan, artinya masih ada kesenjangan antar SKPD dalam melakukan koordinasi. Misalnya program Aku Bangga Aku Tahu (ABAT) yang seharusnya dilakukan oleh Dinas Pendidikan bekerjasamadengan Dinas Kesehatan Kota. Namun dalam pelaksanaannya, Dinas Pendidikan tidak aktif melakukan kegiatan, maka Dinas Kesehatan tidak dapat berbuat banyak, karena kedua SKPD ini merasa selevel. Untuk itu masalah ini disampaikan pada KPA Kota Medan, dan masalah ini diatasi oleh KPA Kota Medan dengan melakukan pertemuan koordinasi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.
Demikianlah gambaran tentang tingkat integrasi antara aktor yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
28
Tabel 1. Analisa Stakeholder Kota Medan
No Aktor Peran secara
29
30
13 Rumah Sakit Penyediaan layanan
14 Klinik IMS Penyediaan layanan
31 5.5. Aktor Penanggulangan HIV DAN AIDS di Kabupaten Deli
Serdang
Kondisi yang hampir sama juga terjadi pada aktor yang terlibat di Kabupaten Deli Serdang. Ketelibatan aktor sangat ditentukan oleh peran KPA Kabupaten Deli Serdang.
Hal ini karena KPA Deli Serdang diketuai oleh Wakil Bupati. Karena diketuai oleh Wakil Bupati, maka segala kebijakan dan koordinasi antar SKPD lebih mudah dilakukan.
Gambaran tentang tingkat integrasi antara aktor yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV DAN AIDS di Kabupaten Deli Serdang, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Analisa Stakeholder Kabupaten Deli Serdang
No Aktor Peran secara
32
33 5.6. Gambaran Sub Sistem Kesehatan Di Kota Medan
5.6.1. Manajemen, Informasi dan Regulasi Kesehatan Penanggulangan HIV dan AIDS
5.5.1.1. Regulasi di Kota Medan
Dalam hal regulasi untuk penanggulangan HIV dan AIDS, Kota Medan sudah mempunyaikekuatan hukum yang cukup kuat baik dari tahap perencanaan hingga produksi kebijakan. Hal ini dibuktikan secara konkrit saat pemerintah setempat sudah memasukan beberapa usulan program dalam Rencana Strategis (Renstra) sejak tahun 2011-2014. Tahapan perencanaan kemudian dikuatkan dengan adanya Peraturan 9 Bappeda Mengalokasi
11 Rumah Sakit Penyediaan layanan
34 Daerah (Perda) Kota Medan Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS dan Perda Kota Medan Nomor 4 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Kota Medan, dan dukungan lainnya yang sedang dalam pengajuan adalah Peraturan Walikota (Perwal).
Renstra memiliki peran menyusun rencana strategis dalam upaya pencegahan dan
Renstra memiliki peran menyusun rencana strategis dalam upaya pencegahan dan