• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTEGRASI UPAYA PENANGGULANGAN HIV &AIDS KE DALAM SISTEM KESEHATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "INTEGRASI UPAYA PENANGGULANGAN HIV &AIDS KE DALAM SISTEM KESEHATAN"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

INTEGRASI UPAYA

PENANGGULANGAN HIV &AIDS KE DALAM SISTEM KESEHATAN

Laporan Hasil Penelitian Tim Universitas Sumatera Utara

di Provinsi Sumatera Utara

UNIVERSITAS

SUMATERA UTARA PUSAT KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UGM

(2)

i

LAPORAN HASIL PENELITIAN

INTEGRASI UPAYA PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS KE DALAM SISTEM KESEHATAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA

OLEH

Dr. dr. JULIANDI HARAHAP, MA LITA SRI ANDAYANI, SKM, MKes

Kerjasama

Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan

Universitas Sumatera Utara

Tahun 2014

(3)

ii

Daftar Isi

Daftar Isi... ii

Daftar Singkatan ... v

Personil Penelitian ... vii

I. Pendahuluan ... 1

1.1. Situasi HIV dan AIDS di Indonesia ... 1

1.2. Upaya PenanggulanganHIV dan AIDS di Indonesia ... 1

1.3. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS dan Sistem Kesehatan ... 4

II. Pertanyaan dan Tujuan Penelitian ... 8

2.1. Pertanyaan Penelitian ... 8

2.2. Tujuan ... 9

2.2.1. Tujuan Umum ... 9

2.2.2. Tujuan Khusus ... 9

III. Model Konseptual ... 11

IV. Metode Penelitian ... 14

4.1. Desain dan Prosedur Penelitian ... 14

4.2. Lokasi penelitian ... 15

4.3. Prosedur Pengumpulan Data ... 16

4.4. Informan ... 17

4.5. Instrumen ... 17

4.6. Manajemen Data dan Analisa Data ... 18

4.7. Durasi Penelitian ... 20

V. Hasil Penelitian ... 21

5.1. Konteks ... 21

(4)

iii

5.1.1. Kota Medan ... 21

5.1.2. Kabupaten Deli Serdang ... 22

5.2. Situasi HIV dan AIDS di Sumatera Utara; Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang ... 23

5.3. Respon Daerah terhadap Permasalahan HIV dan AIDS ... 24

5.3.1. Respon Kota Medan ... 24

5.3.2. Respon Kabupaten Deli Serdang ... 25

5.4. Aktor Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan ... 26

5.5. Aktor Penanggulangan HIV DAN AIDS di Kabupaten Deli Serdang ... 31

5.6. Gambaran Sub Sistem Kesehatan Di Kota Medan ... 33

5.6.1. Manajemen, Informasi dan Regulasi Kesehatan Penanggulangan HIV dan AIDS 33 5.6.2. Pembiayaan Kesehatan ... 38

5.6.3. Penyediaan Layanan ... 42

5.6.4. Sumber Daya Manusia (SDM) ... 50

5.6.5. Penyediaan Material Pencegahan dan Diagnostik dan Terapi ... 54

5.6.6. Informasi Strategis ... 58

5.6.7. Pemberdayaan Masyarakat ... 60

5.7. Gambaran Sub Sistem Kesehatan di Kabupaten Deli Serdang ... 62

5.7.1. Manajemen, Informasi dan Regulasi Kesehatan Penanggulangan HIV dan AIDS 62 5.7.2. Pembiayaan Kesehatan ... 65

5.7.3. Penyediaan Layanan ... 66

5.7.4. Sumber Daya Manusia (SDM) ... 70

5.7.5. Penyediaan Material Pencegahan dan Diagnostik dan Terapi ... 71

(5)

iv

5.7.6. Informasi Strategis ... 73

5.7.7. Pemberdayaan Masyarakat ... 74

5.8. Tingkat Integrasi Program HIV dan AIDS dalam Sistem Kesehatan ... 76

5.8.1. Tingkat Integrasi Program HIV dan AIDS dalam Sistem Kesehatan di Kota Medan 77 5.8.2. Tingkat Integrasi Program HIV dan AIDS dalam Sistem Kesehatan di Kabupaten Deli Serdang ... 85

5.8.3. Hubungan Tingkat Integrasi dengan Kinerja Program HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang ... 95

VI. Diskusi ... 100

6.1. Implikasi Hasil Penelitian Terhadap Pengembangan Pengetahuan Khususnya Pada PenguatanSistem Kesehatan ... 100

6.2. Implikasi Hasil Penelitian terhadap Integrasi HIV dan AIDS ke dalam Sistem Kesehatan Nasional ... 104

6.3. Keterbatasan/ Kelemahan Penelitian ... 106

VII. Kesimpulan dan Rekomendasi ... 107

7.1. Kesimpulan ... 107

7.2. Rekomendasi ... 109

VIII. Daftar Pustaka ... 111

Lampiran ... 114

Lampiran 1. Pedoman Wawancara ... 114

Lampiran 2: Informed Consent... 119

Lampiran 3. Sumber Informasi ... 122

(6)

v

Daftar Singkatan

AIDS Acquired Immunodeficiency Syndrome AMHP Alat Medis Habis Pakai

ALT Alanine Transaminare

ARV Antiretroviral drugs

AST Aspartate Transaminase

APBN/D Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional/Daerah Bappeda Badan perencanaan pembangunan daerah

BMHP Bahan Medis Habis Pakai CSR Coorporate Social Responsibility

DBK Daerah Bermasalah Kesehatan

DFAT Department of Foreign and Trade, Australia Government Dinkes Dinas Kesehatan

Dinsos Dinas Sosial

Dikbud Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Disnaker Dinas Tenaga Kerja

Dikcapil/KKB Dinas Catatan Sipil/Kependudukan Dispora Dinas Pemuda dan Olahraga Dispenda Dinas Pendapatan Daerah Dishub Dinas Perhubungan Dinpar Dinas Pariwisata

Depag Departemen Agama

DPTK Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan

FGD Fokus group diskusi

HIV Human Immunodeficiency Virus

IMS Infeksi Menular Seksual

IO Infeksi Oportunitis

JKN Jaminan Kesehatan Nasional

Jamkesmas Jaminan Kesehatan Masyarakat Jamkesda Jaminan Kesehatan Daerah

KIE Komunikasi, Informasi, dan Edukasi

KPAN/P/K Komisi Penanggulangan AIDS Nasional/Propinsi/Kota/Kabupaten KTS Klinik Konseling dan tes HIV

LASS Layanan Alat Suntik Steril

LP Lintas Program

LSL Lelaki Suka Lelaki

LS Lintas Sektor

LSM Lembaga Swadaya Masyarakat

MDG Millenium Development Goals ODHA Orang dengan HIV dan AIDS OMS Organisasi Masyarakat Sipil OBS Organisasi Berbasis Masyarakat

(7)

vi

OBM Organisasi Berbasis Masyarakat Ormas Organisasi Kemasyarakatan Panasun Pengguna Jarum Suntik

PDP Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan

Pemda Pemerintah Daerah

PITC Provider Initiated Testing and Consuling PKMK Pusat Kebijakan dan Managemen Kesehatan PMTS Penularan Melalui Transmisi Seksual

Pokdisus Kelompok diskusi khusus

PPH Pusat Penelitian HIV

PPIA Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak PPP Profilaksis Pasca Pajanan

PSM Peran Serta Masyarakat Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat Renstra Rencana Strategis

RPJM Rencana Pembangunan Jangka Menengah

RPJPD Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RKPD Rencana Kerja Pemerintah Daerah

RSCM Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo SRAN Strategi Rencana Aksi Nasional

STBP Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku

SDM Sumber Daya Manusia

S&D Stigma dan Diskriminasi

SKN Sistem Kesehatan Nasional

SKPD Satuan Kerja Pemerintah Daerah SOP Standard Operasional Procedure SPM Standard Pelayanan Minimum

WPS Wanita Pekerja Seks

WPSL Wanita Pekerja Seks Langsung WHO World Health Organization

UA Universitas Airlangga

UNAIDS Joint United Nations Programme on HIV and AIDS Uncen Universitas Cendrawasih

Unhas Universitas Hasanudin Unika Universitas Katolik Atmajaya USU Universitas Sumatera Utara Unud Universitas Udayana

(8)

vii

Personil Penelitian

Tim Peneliti Universitas Sumatera Utara

1. Dr. Juliandi Harahap, MA 2. Lita Sri Andayani, SKM, MKes

3. Arliza Safitri, SKM, MKes dan Titan Amaliani, SKM.

Sisiliya Bolilanga, SKM, M.Sc PPH Atma Jaya : Iko Safika, P

(9)

1

I. Pendahuluan

1.1. Situasi HIV dan AIDS di Indonesia

Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia termasuk yang paling berkembang di Asia Pasifik (UNAIDS, 2012). Jumlah kasus baru yang dilaporkan di tahun 2012 sebanyak 76,000 kasus dengan total kasus sebanyak 610,000 (UNAIDS, 2012).Jika dilihat berdasarkan penyebaran kasus HIV dan AIDS yang dilaporkan sejak pertama kali ditemukan di tahun 1987 sampai dengan tahun 2012, kasus HIV telah tersebar di 345 (69,4%) dari 497 Kabupaten/Kota di seluruh 33 provinsi di Indonesia.Sedangkan jumlah kasus HIV dan AIDS terbanyak sampai dengan Juni 2013, dilaporkan di 10 propinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, Jawa Barat, Sumatera Utara, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan (Kemenkes, 2013).

Berdasarkan estimasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) tahun 2012 jumlah orang yang terinfeksi HIV dan AIDS sebanyak 591,000. Jumlah populasi kunci atau populasi yang beresiko tinggi tertular HIV adalah berkisar 8,700,000 orang yang terdiri dari pengguna jarum suntik (Penasun) 74,000 orang; wanita pekerja seks baik yang langsung maupun tidak langsung (WPSL dan WPSTL) berkisar 230,000orang;

waria berkisar 38,000 orang;dan Lelaki Suka Lelaki (LSL) sebesar 1,100,000 orang.

Sementara itu jumlah klien dari pekerja seks diperkirakan lebih dari 7,350,000 orang (Kemenkes, 2012a). Besarnya angka-angka inimengindikasikan besarnya potensi penularan HIV dan AIDS sekaligus permasalahan perawatan jangka panjang bagi orang dengan HIV dan AIDS di masa mendatang.

1.2. Upaya PenanggulanganHIV dan AIDS di Indonesia

Kebijakan dan program HIV dan AIDS dalam 30 tahun terakhir ini diarahkan untuk mewujudkan akses universal, dimana pelayanan kesehatan baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif terkait dengan HIV dan AIDS minimal bisa dimanfaatkan oleh 80% dari populasi kunci. Upaya promosi pencegahan AIDS diarahkan pada upaya perubahan perilaku dari kelompok populasi kunci yaitu dengan meningkatkan

(10)

2 penggunaan jarum suntik steril, penggunaan kondom, pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS), serta konseling dan tes HIV pada komunitas tersebut melalui serangkaian kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi (KPAN, 2011). Sementara itu, upaya perawatan, dukungan dan pengobatan diarahkan untuk menghilangkan berbagai hambatan untuk memperoleh akses layanan kesehatan bagi orang dengan HIV dan AIDS, termasuk mengeliminasi stigma dan diskriminasi. Hasil akhir yang diharapkan dari berbagai kebijakan ini adalah penurunan prevalensi HIV hingga 0,5%

pada tahun 2015 (KPAN, 2011).Untuk itu KPAN telah menetapkan 137 kabupaten/kota di 33 provinsi sebagai wilayah prioritas program dimana diharapkan 80% populasi kunci berada di berbagai wilayah-wilayah tersebut dapat dijangkau dan mengakses layanan HIV dan AIDS yang tersedia. Selain itu, KPAN juga telah mengembangkan berbagai kebijakan untuk memperkuat penanggulangan AIDS seperti penguatan koordinasi dalam perencanaan, implementasi dan monitoring dan evaluasi, pelibatan masyarakat sipil, memastikan komitmen dan dukungan pendanaan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan lembaga mitra internasional, serta penguatan kelembagaan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di daerah.

Kementerian Kesehatan sebagai leading sector di dalam penanggulangan AIDS telah mengembangkan berbagai program dan layananan untuk mengatasi pandemi penyakit ini. Hingga saat ini telah tersedia Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) di 83 RS, PKM, Rutan/Lapas; Layanan Jarum dan Alat Suntik Steril(LAJSS) di 194 PKM dan LSM;

Layanan IMSdi 421 RS dan PKM; Layanan Konseling dan Tes HIV di 593 tempat baik RS, PKM, LSM, maupun Rutan/Lapas; Layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan(PDP) di378 RS Pengampu dan RS Satelit; dan Layanan Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak(PPIA) di 113 RS dan PKM (Kemenkes, 2013). Selain itu, Kementerian Kesehatan juga mengembangkan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kondisi kerja petugas perawatan kesehatan, efektivitas sistem rujukan dan sistem penyediaan perlengkapan pencegahandan pengobatan, sistem informasi strategis, mengembangkan rencana keuangan dan mekanisme hubungan yang dibutuhkan untuk memperkuat akses layanan HIV dan AIDS.

(11)

3 Hasil kajian eksternal WHO pada tahun 2012 menunjukkan bahwa pengembangan kebijakan dan program selama ini telah dinilai memberikan kemajuan dan perluasan intervensi yang signifikan tetapi perkembangan ini belum merata terjadi di berbagai di wilayah dan jenis intervensi yang dilakukan (WHO, 2012). Upaya pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan tetap menjadi tantangan yang besar untuk menurunkan insiden penularan HIV dan meningkatkan kualitas hidup ODHA. Hal ini misalnya dapat dilihat dari masih tingginya perilaku beresiko dan prevalensi HIV dikalangan populasi kunci.Berdasarkan hasil Surveilans Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) tahun 2011, prevalensi HIV pada kelompok populasi kunci dilaporkan masing- masing sebagai berikut: penasun 42%, WPSL 10%, WPSTL 3%, waria 22%, dan LSL 8%.

Prevalensi ini tidak jauh berbeda dengan hasil STBP tahun 2007, bahkan ada kecenderungan meningkat dua hingga tiga kali lipat pada populasi LSL (Kemenkes, 2012b). Tingginya prevalensi HIV terutama pada kelompok waria dan LSL mengkhawatirkan karena sebagian besar (81%) dari waria dan hampir setengah (49%) LSL adalah pekerja seks (Kemenkes, 2012b). Hingga September 2013, sebanyak 36,482 orang ODHA mengikuti terapi ARV dari 132,755 ODHA yang dilaporkan (Kemenkes, 2013). Permasalah stigma dan diskriminasi juga masih dialami oleh orang dengan HIV DAN AIDS baik di masyarakat maupun di layanan kesehatan (Butt et al., 2010; Jothi &

BPS, 2010; Spritia, 2005).

Perluasan program HIV dan AIDS dalam beberapa dekade terakhir ini di Indonesia telah menyebabkan munculnya beberapa konsekuensi lebih lanjut dalam upaya penanggulangan AIDS. Selain menuntut upaya yang lebih efektif untuk mencegah penularan HIV baik pada populasi kunci ke populasi yang memiliki resiko resikolebih rendah, upaya penanggulangan AIDS ke depan juga menghadapi tantangan untuk menyediakan perawatan HIV dan AIDSjangka panjang karena semakin efektifnya pengobatan ARV dalam menekan angka kematian ODHA. Dua tantangan yang berkelanjutan ini membutuhkan integrasi pada tingkat hulu dan hilir dalam upaya penanggulangan AIDS.Integrasi pada tingkat hulu terletak pada integrasi kebijakan dan program HIV ke dalam sistem kesehatan. Sementara itu, integrasi hilir diarahkan pada pengembangan model penyediaan layanan kesehatan dan sistem operasional yang

(12)

4 melibatkan sektor dan program lain untuk memastikan layanan berkualitas tinggi sejalan dengan rentang perawatan (continuum of care) penanggulangan HIV dan AIDS.

1.3. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS dan Sistem Kesehatan

Upaya penanggulangan AIDS di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari inisiatif kesehatan global yang dilakukan melalui berbagai skema program dan pendanaan (e.g. Global Fund, bantuan pemerintah Amerika dan Australia melalui USAID dan DFAT, dan lain- lain). Keberadaan inisitiaf kesehatan global di Indonesia sejak dari awal permasalahan AIDS terbukti telah mampu meningkatkan pendanaan program dan sebagai konsekuensinya mampu meningkatkan cakupan layanan terkait dengan HIV dan AIDS.

Meski pembiayaan dari inisiatif global ini cenderung menurun dari tahun ke tahun, tetapi saat ini, pembiayaan untuk penanggulangan AIDS masih bergantung dari hibah bilateral maupun multilateral karena dana pemerintah masih berkisar 40% dari total pembiayaan (Nadjib, 2013). Peran inisiatif kesehatan global yang sedemikian besar dalam penanggulangan AIDS di negara-negara berkembang ini telah memunculkan berbagai konsekunsi baik positif maupun negatif terhadap sistem kesehatan (Atun et al., 2010a; b;Conseil et al., 2013; Desai et al., 2010; Dongbao et al., 2008; Kawonga et al., 2012; Shakarishviliet al. 2010). Berbagai studi tersebut telah mendokumentasikan konsekuensi negatif terhadap sistem kesehatan seperti berkembangnya sistem ganda yaitu sistem penanggulangan HIV dan AIDS dan sistem kesehatan pada umumnya, lemahnya insentif dari sistem kesehatan untuk mendukung upaya penanggulangan AIDS dan terbatasnya integrasi layanan HIV dan AIDS dengan layanan kesehatan yang lain. Demikian pula, koordinasi berbagai upaya kesehatan dengan mengembangkan sistem perencanaan, koordinasi dan monitoring yang terpisah dari upaya kesehatan lain. Demikian juga ada kekhawatiran bahwa situasi ini akan memperburuk sistem kesehatan karena akan menggerus sumber daya yang tersedia untuk penanggulangan AIDS. Situasi ini telah memunculkan berbagai rekomendasi dan upaya untuk memperkuat sistem kesehatan melalui upaya untuk memaksimalkan integrasi penanggulangan AIDS dan sistem kesehatan (Atun et al., 2010; Coker et al., 2010;

Kawonga, 2012).

(13)

5 Integrasi secara umum dikaitkan dengan upaya untuk mengadopsi dan melakukan asimilasi upaya penanggulangan AIDS ke dalam fungsi-fungsi pokok sistem kesehatan.

Pada tingkat penyediaan layanan, integrasi ini misalnya bisa dilakukan dengan menggabungkan layanan khusus AIDS ke dalam layanan kesehatan umum, pelibatan antar program dan sektor lain di dalam penanggulangan AIDS, menyatukan sistem pembiayaan penanggulangan AIDs dalam pembiayaan kesehata umum dan lain-lain.

Sebuah kajian tentang integrasi program AIDS dan TB di Indonesia, menunjukkan bahwa kedua program tersebut cenderung belum teritegrasi dengan fungsi sistem kesehatan secara umum (tata kelola, sistem M&E, perencanaan, pembiayaan, penyediaan layanan, menumbuhkan kebutuhan layanan) (Desai et al., 2010; Coker et al., 2010). Kajian dokumen tentang kebijakan dan program AIDS di Indonesia dari tahun 1987 hingga 2013 yang dilakukan oleh Tim Pusat Kesehatan dan Managemen Kesehatan (PKMK), Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa kebijakan dan program penanggulangan AIDS selama kurun waktu tersebut memperkuat temuan dari studi-studi sebelumnya. Pertama, upaya penanggulangan AIDS merupakan kebijakan yang bersifat vertikal yang diinisiasi dan dikembangkan oleh pemerintah pusat dengan dukungan penuh dari lembaga kesehatan global tetapi lemah dalam integrasinya baik dengan sistem kesehatan yang ada karena dibangun berdasarkan sistem yang berbeda dengan sistem kesehatan nasional. Kedua, dalam era desentralisasi seperti saat ini, pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan AIDS belum memiliki peran yang signifikan dalam pengembangan kebijakan dan program baik pencegahan, perawatan dan pengobatan (PDP), dan dampak mitigasi. Dominasi pemerintah pusat dan lembaga mitra pembangunan internasional cenderung menempatkan pemerintah daerah sebagai pelaksana program sehingga komitmen dan dukungan dana terhadap upaya penanggulangan AIDS cenderung minimal.

Permasalahan integrasi program penanggulangan AIDS ke dalam sistem kesehatan bukan merupakan hal yang mudah dilakukan karena melibatkan banyak pemain (dan kepentingan), infrastruktur, kebijakan dan sumber daya. Integrasi penanggulangan AIDS ke dalam sistem kesehatan menuntut upaya untuk meningkatkan efektivitas dan aksesibilitas layanan HIV dan AIDS dengan memaksimalkan sumber daya dan

(14)

6 infrastruktur yang tersedia (Dudley and Garner, 2011). Upaya untuk mengintegrasikan dua pendekatan ini sebenarnya beresiko karena hasil-hasil yang telah dicapai melalui pendekatan vertikal bisa tidak tampak atau bahkan hilang. Selain itu, kenyataan bahwa belum terbangunnya sistem kesehatan di tingkat daerah cenderung akan mendorong pengambil kebijakan untuk meneruskan pendekatan vertikal (Godwin and Dickinson, 2012).

Meskipun demikian, sejauh ini belum ada kesimpulan yang jelas tentang pengaruh integrasi intervensi khusus ini ke dalam sistem kesehatan terhadap status kesehatan masyarakat umum karena masih terbatasnya studi tentang integrasi dan belum tersedianya metodologi yang dinilai memadai (lihat Kawonga et al., 2012 dan Coker at al., 2010). Oleh karena itu isu yang lebih mendasar bukan pada memilih satu pendekatan dari pada pendekatan yang lain atau integrasi kedua pendekatan tersebut karena variabilitas dari konteks kebijakan yang beragam, tetapi lebih melihat bahwa kedua pendekatan tersebut adalah pendekatan yang saling melengkapi dan perlu diintegrasikan dalam porsi yang sesuai dengan kompleksitas penyediaan layanan kesehatan yang terintegrasi dan berkelanjutan berdasarkan perencanaan, koordinasi dan manajemen yang efektif (Dudley and Garner, 2011; Atun et al., 2010). Melakukan integrasi dengan komposisi yang tepat dan praktis merupakan tantangan terbesar dan memerlukan pertimbangan yang sangat hati-hati.

Dengan demikian, permasalahan kebijakan yang perlu memperoleh perhatian dalam melihat keterkaitan antara upaya penanggulangan AIDS dan sistem kesehatan di Indonesia adalah: (1) bagaimana mengembangkan respon kesehatan masyarakat agar bisa mengakomodasi meningkatnya kompleksitas penanggulangan AIDS dalam jangka panjang; dan (2) bagaimana mengintegrasikan upaya penanggulangan AIDS ke dalam sistem kesehatan yang sudah ada untuk memastikan respon jangka panjang, meskipun sistem kesehatan yang berlaku saat ini belum optimal karena adanya berbagai hambatan baik politik, ekonomi dan sosial budaya. Untuk bisa menjawab dua isu kebijakan di atas, maka Universitas Sumateran Utara bekerjasama dengan PKMK Fakultas Kedokteran dengan bantuan pemerintah Australia melalui Departement of Foreign Affairs and Trade (DFAT) melakukan penelitian tentang bagaimana integrasi

(15)

7 Upaya Penanggulangan HIV dan AIDS dalam Kerangka Sistem Kesehatan Nasionaldi Indonesia. Penelitian ini dimaksudkan untuk memetakan berbagai kekuatan dan kelemahan sistem kesehatan di Indonesia dalam mendukung atau merespon permasalahan HIV dan AIDS sehingga diharapkan bisa mengidentifikasi berbagai potensi dan peluang untuk mengintegrasikan upaya penanggulangan HIV dan AIDS ini ke dalam sistem kesehatan yang ada.

Penelitian ini dilakukan di Sumatera Utara dengan pertimbangan Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang tinggi kasus HIV dan AIDSnya. Untuk kasus HIV Sumatera Utara menempati urutan ke-6, sedangkan untuk kasus AIDS urutan ke-8 dari 33 provinsi di Indonesia (Ditjen PP&PL, 2013). Sedangkan di Propinsi Sumatera Utara, Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang merupakan dua wilayah yang tertinggi jumlah kasus HIV dan AIDS. Alasan lainnya di wilayah ini terdapat beberapa donor asing yang membantu program penanggulangan HIV dan AIDS. Oleh karena itu diperlukan suatu kajian yang dapat memetakan kondisi integrasi lintas sektor dan lintas program dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS.

(16)

8

II. Pertanyaan dan Tujuan Penelitian

2.1. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan uraian permasalah di atas, maka permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: “Seberapa jauh integrasi upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang ke dalam sistem kesehatan yang ada berlaku di daerah tersebut”

Pertanyaan Penelitian Khusus:

1. Bagaimana konteks, proses dan substansi kebijakan dan program penanggulangan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang dalam kerangka sistem kesehatan yang berlaku?

2. Seberapa jauh konsistensi antara regulasi HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang?

3. Seberapa jauh sinergi fungsi dan peran KPA, Dinkes, lintas sektoral, dan LSM dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang?

4. Seberapa besar proporsi, kesesuaian, distribusi dan keberlanjutan pendanaan yang ada (e.g. Donor asing, APBN/D dan dana masyarakat) terhadap penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang?

5. Seberapa jauh hubungan kerja, ketenagaandan pengembangan kapasitas antara Sumber Daya Manusia (SDM) khusus AIDS non pemerintah dengan SDM kesehatan di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang ?

6. Seberapa jauh integrasi sistem pelaporan HIV dan AIDS dalam sistem informasi strategis di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang dan pemanfatan ‘evidence’

untuk pengembangan dan pelaksanaan kebijakan dan program?

7. Bagaimana pengadaan, rantai distribusi, dan portabilitas material pencegahan, diagnostik dan terapi di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang dalam kontek kebijakan jaminan kesehatan nasional?

(17)

9 8. Seberapa jauh partisipasi aktif masyarakat yang terdampak dalam

penanggulangan HIV dan AIDS?

9. Bagaimana keterkaitan antara universitas dengan kebutuhan penanggulangan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang dalam penyediaan sumber pengetahuan dan sumber daya manusia?

2.2. Tujuan

2.2.1. Tujuan Umum

Menganalisis integrasi kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS dalam Sistem Kesehatan di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang sehingga dapat dikembangkan rekomendasi perbaikan kinerja penanggulangan HIV dan AIDS dalam jangka menengah.

2.2.2. Tujuan Khusus

1. Menganalisis konteks, proses dan substansi kebijakan dan program penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang dalam kerangka sistem kesehatan yang berlaku;

2. Mengukur konsistensi antara regulasi HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang;

3. Mengidentifikasi dan mengukur sinergi fungsi dan peran KPA,Dinkes, lintas sektoral, dan LSM dalam penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang;

4. Mengukur proporsi, kesesuaian, distribusi dan keberlanjutan pendanaan yang ada (e.g. Donor asing, APBN/D dan dana masyarakat) terhadap penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang;

5. Mengidentifikasi hubungan kerja, ketenagaandan pengembangan kapasitas antara Sumber Daya Manusia (SDM) khusus AIDS non pemerintah dengan SDM kesehatan di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang;

(18)

10 6. Mengukur integrasi sistem pelaporan HIV dan AIDS dalam sistem informasi strategis di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang dan pemanfatan ‘evidence’

untuk pengembangan dan pelaksanaan kebijakan dan program;

7. Mengukur pengadaan, rantai distribusi, dan portabilitas material pencegahan, diagnostik dan terapi di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang dalam konteks kebijakan jaminan kesehatan nasional;

8. Mengukur partisipasi aktif masyarakat yang terdampak dalam penanggulangan HIV dan AIDS; dan

9. Mengukur keterkaitan antara universitas dengan kebutuhan penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang dalam penyediaan sumber pengetahuan dan sumber daya manusia.

(19)

11

III. Model Konseptual

Pada dasarnya penelitian ini berupaya untuk mengukur seberapa jauh integrasi upaya penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan dengan memberikan fokus pada eksplorasi kenerja dari fungsi-fungsi sistem kesehatan dalam upaya penanggulangan AIDS secara kontekstual. Untuk itu penelitian ini menggunakan model konseptual dan kerangka analitik yang dikembangkan oleh Atun et al (2010a) dan Coker (2010) untuk mengukur integrasi sebuah intervensi yang dikembangkan untuk merespons permasalahan kesehatan tertentu ke dalam sistem kesehatan.

Sejalan dengan Atun et al (2010), integrasi dalam model konseptual ini didefinisikan sebagai tingkat adopsi dan asimilasi intervensi kesehatan khusus ke dalam berbagai fungsi pokok dari sistem kesehatan. Konsep adopsi atau asimilisasi digunakan sebagai indikator tingkat integrasi didasarkan pada asumsi bahwa sebuah intervensi kesehatan spesifik (termasuk penanggulangan HIV dan AIDS) merupakan sebuah inovasi dalam upaya kesehatan yang berupa perspektif, praktek atau pengaturan kelembagaan yang dinilai berbeda dengan upaya kesehatan yang lain. Jika dilihat dari sisi sistem kesehatan, maka integrasi menunjukkan seberapa jauh berbagai fungsi pokok dari sistem kesehatan didayagunakan secara bersama-sama mendukung inovasi dalam penyelesaian permasalahan kesehatan tertentu dengan cara membangun komitmen antar aktor dalam sektor kesehatan dan memanfaatkan teknologi dan sumber daya yang tersedia (WHO, 2007). Dalam konteks di Indonesia, berbagai fungsipokok sistem kesehatan tersebut mencakup manajemendan regulasi kesehatan; pembiayaan; SDM;

informasi strategis; penyediaa layanan, dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana ditentukan dalam sistem kesehatan nasional di Indonesia (Perpres 72 tahun 2012).

Seberapa jauh integrasi upaya penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan akan dipengaruhi oleh (1) karakteristik permasalahan AIDS dan kebijakan dan program AIDS dalam upaya pencegahan, perawatan dan dukungan dan dampakmitigasi, (2) interaksi berbagai aktor-aktor yang berkepentingan di dalam sistem kesehatan dan upaya penanggulangan HIV dan AIDS, (3) karakteristik sistem

(20)

12 kesehatan dan interakasi antar fungsi-fungsi pokok dalam sistem kesehatan, dan (4) konteks politik, sosial, dan budaya dimana penanggulangan HIV dan AIDS ini dilaksanakan termasuk desentralisasi. Beranjak dari pemahaman ini, maka model konseptual untuk penelitian ini dikembangkan dengan mengasumsikan bahwa keempat komponen saling berinteraksi secara bersama-sama berpengaruh terhadap tingkat integrasi dan menentukan kinerja sistem kesehatan yang meliputi cakupan, aksesiblitas, pemerataan, kualitas dan keberlanjutan dalam upaya penanggulangan AIDS. Model konseptual bisa dilihat pada diagram 1 di bawah ini.

Diagram 1.Model Konseptual

Permasalahan AIDS di Indonesia pada dasarnya merupakan bagian dari epidemi global yang mendorong munculnya berbagai inisiatif kesehatan global yang dikembangkan oleh berbagai lembaga internasional. Bagaimana masalah ini ditangani melalui berbagai kebijakan dan program AIDS merupakan proses yang dinamis diantara para aktor yang berkepentingan di dalam sistem kesehatan dan penanggulangan HIV dan AIDS itu sendiri. Interaksi antar aktor ini akan mempengaruhi bagaimana permasalahan HIV dan AIDS ini dipersepsikan dan bagaimana permasalahan tersebut direspon pada tingkat nasional dan daerah baik secara positif atau negatif. Interaksi ini

(21)

13 terjadi tidak hanya dalam kerangka sistem kesehatan semata tetapi berada dalam konteks sosial, budaya, dan politik termasuk politik desentralisasi dalam pemerintahan. Peran aktor kunci di sini menjadi dominan untuk menentukan tingkat integrasi upaya penanggulangan HIV dan AIDS. HIV dan AIDS. Meskipun demikian, perlu disadari bahwa interaksi dinamis berbagai komponen ini tidak bersifat linier dan bisa menghasilkan berbagai respon dari sistemik yang tidak diharapkan, termasuk berbagai konsekuensi negatif yang muncul.

(22)

14

IV. Metode Penelitian

4.1. Desain dan Prosedur Penelitian

Penelitian “Integrasi upaya penanggulangan HIV dan AIDS dalam kerangka sistem kesehatan nasional” dilakukan dengan menggunakan disain potong lintang (cross sectional), metode kualitatif, dan pendekatan induksi. Prosedur penelitian dilakukan dalam lima tahap, yaitu sebagai berikut:

Tahap pertama, pengumpulan data utama (primer) dan data tambahan (sekunder).Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan metode diskusi kelompok terarah dalam bentuk workshop dan wawancara mendalam (in-depth).

Informan yang terlibat dalam workshop FGD dibagi dalam 3 kelompok yaitu:

1. Kelompok FGD Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), organisasi masyarakat, pemangku kepentingan,

2. Kelompok FGD Layanan yaitu: petugas kesehatan yang bertugas di pelayanan kesehatanRumah Sakit, Puskesmas, Klinik.

3. Kelompok FGD populasi kunci yaitu: LSM, kelompok waria, kelompok LSL, kelompok PSK dan lainnya yang berada di masing-masing kabupaten/kota lokasi penelitian.

Tahap kedua, peneliti mengelompokan (coding) data hasil penelitian di masing-masing lokasi dalam bentuk ringkasan. Ringkasan akan berbentuk matrik dengan mengelompokan isu-isu atau kesuksesan yang muncul pada ke-tujuh sub sistem terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDS (e.g. Pencegahan, PDP dan dampak mitigasi)

Tahap ketiga, peneliti melakukan triangulasi dengan melakukan verifikasi atas hasil data primer dan sekunder. Pada tahapan ini gambaran keadaan dan interaksi masing- masing sub sistem disetiap lokasi penelitian akan didapat.

(23)

15 Tahap keempat, peneliti menyimpulkan tingkat integrasi untuk masing-masing dimensi sub sistem terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDS (e.g. Pencegahan, PDP dan dampak mitigasi).

Tahap kelima, peneliti membuat kesimpulan berdasarkan hasil-hasil yang ada sehingga didapatkan gambaran seperti apa dan bagaimana integrasi upaya penanggulangan HIV DAN AIDS ke dalam sistem kesehatan nasional di masing-masing tingkatan (Kabupaten/Kota, Provinsi)

4.2. Lokasi penelitian

Penelitian tentang integrasi penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan nasional yang dilaksanakan di Sumatera Utara dilakukan di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Kedua kota ini dipilih dengan pertimbangan bahwa:

1. Kedua daerah tersebut merupakan dua daerah tertinggi yang memiliki kasusHIV dan AIDS di Sumatera Utara.

2. Membandingkan antara kota dan kabupaten bisa memberikan variasi gambaran tentang pengaruh bentuk administrasi daerah yang mungkin berbeda di dalam merespon permasalahan HIV dan AIDS.

3. Kedua daerah telah menunjukkan komitmen akan penanggulangan HIV dan AIDS yang tampak dengan rancangan atau telah diterbitkannya Perda tentang penanggulangan HIV dan AIDS.

4. Kedua daerah ini diketahui memiliki program HIV dan AIDS yang relatif komprehensif yang mencerminkan intervensi berkelanjutan (continuum of care) bagi penanggulangan HIV dan AIDS sehingga bisa memberikan informasi yang lebih lengkap tentang implementasi kebijakan dan program HIV dan AIDSdi tingkat daerah.

(24)

16 4.3. Prosedur Pengumpulan Data

1. Setelah memperolehpersetujuan komisi etik pusat, pengumpulan datadilakukan dengan focus group discussion dan metode wawancara mendalam, serta pengumpulan data sekunder.

Focus Group Discussion(FGD) dilakukan dalam bentuk workshop di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang selama masing-masing 3 hari. Dengan pengelompokan FGD 1 pada SKPD, FGD 2 pada layanan dan FGD 3 pada populasi kunci.Jadwal pelaksanaan FGD dan in-depth interview dapat dilihat pada lampiran.

2. Proses workshop FGD direkam menggunakan tape recorder untuk memudahkan analisa data. Sebelum kegiatan FGD dilakukan dimulai dengan penjelasan tentang maksud dan tujuan penelitian, dan para peserta FGD diminta untuk mengisi formulir informed consent yang memuat kesediaan peserta sebagai informan dalam penelitian ini. Formulir informed consent yang dimaksud dapat dilihat pada lampiran 2.

Masing masing kelompok dibagi panduan FGD agar memudahkan peserta untuk memahami dan menanggapipertanyaan-pertanyaan di dalam sub-sub sistem kesehatan terkait.

3. Jika diperlukan, peneliti melakukan klarifikasi dan pendalaman atas hasil FGD ini kepada peserta di kemudian hari. Alamat lengkap insitusi, serta alamat email, dan nomor ponsel peserta diskusi dicatat oleh peneliti dengan persetujuan yang bersangkutan.

4. Wawancara mendalam yang dilakukan setelah FGD. Data FGD digunakan sebagai dataawal untuk mendalami berbagai topik yang akan digali dalam wawancara belum terjawab ketika FGD.

5. Pengumpulan data sekunder dilakukan secara simultan dimulai sejak persetujuan etik telah diterima oleh peneliti lokal.

(25)

17 4.4. Informan

Nama informan FGD dan in-depth interview dapat dilihat di lampiran.

4.5. Instrumen

Panduan pertanyaan untuk FGD dan wawancara baik di tingkat nasional maupun propinsi merujuk pada panduan pertanyaan dari protokol penelitian yang telah dikembangkan oleh tim 10 Universitas. Panduan pertanyaan ini berfokus pada penilaian atas kebijakan dan program HIV DAN AIDS termasuk pelaksanaannya di tingkat daerah. Topik-topik yang ada dalam instrumen adalah:

1. Manajemen dan Regulasi dalam Penanggulangan AIDS 2. Pembiayaan Program AIDS

3. Sumber Daya Manusia dalam Penanggulangan AIDS

4. Penyediaan Obat dan Material Pencegahan untuk Penanggulangan AIDS 5. Penyediaan Layanan Kesehatan dalam Penanggulangan AIDS

6. Pengelolaan Informasi Strategis dalam Penanggulangan AIDS 7. Pemberdayaan Masyarakat

Lampiran 1 menyajikan panduan pertanyaan secara lebih rinci.

Dalam pelaksanaan FGD, panduan pertanyaan dikirimkan kepada para responden sebelum pengambilan data dilakukan.

Jenis dan sumber data sekunder yangdikumpulkan adalah sebagai berikut :

1. Peraturan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota atau Peraturan Gubernur/Bupati /Walikota yang mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, baik secara eksplisit maupun implisit.

2. RPJMD Provinsi/Kabupaten/Kota

3. PERDA APBD tahun 2011, 2012, 2013; Provinsi dan Kabupaten Kota

(26)

18 4. RENSTRA SKPD berisi Program atau kegiatan SKPD, LSM atau sektor swasta yang ditujukan untuk pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, baik secara langsung maupun tidak langsung.

5. Beberapa dokumen lain yang relevan, yang ditemukan pada saat lokakarya dilaksanakan di Provinsi atau Kabupaten Kota

Data sekunder tersebut didapatkan dari: Dinas Kesehatan Propinsi Sumatra Utara, Dinas Kesehatan Kota Medan, Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang, KPA Kota Medan, KPA Kabupaten Deli Serdang, KPA Propinsi Sumut, LSM Kunci (Galatea, Medan Plus, GWL, H2O, SP2S), Rumah Sakit: RS. H Adam Malik, RS. Dr. Pirngadi, RS. Haji Medan, RS. Rumkit, BappedaKabupaten Deli Serdang, BappedaKota Medan.

Untuk meningkatkan kredibilitas data, dilakukan peer debriefing dengan peneliti peneliti lainnya yang banyak berkecimpung dalam bidang penelitian terkait HIV dan AIDS dan kebijakan di tingkat lokal.

4.6. Manajemen Data dan Analisa Data

Data yang terkumpul dikelola oleh satu orang manajer data, dengan tahapan:

1. Rekaman FGD danin-depth interview dituliskan transkripnya dalam bentuk verbatim.

2. Hasil transkrip dicek ulang dengan notulensi yang dibuat ketika kegiatan FGD dan in-depth interview berlangsung untuk memastikan semua informasi sudah tercatat.

3. Setiap transkrip dicek keakuratannya secara acak oleh manager data dengan membandingkan rekaman dan transkrip.

4. Selanjutnya data verbatim diolah dengan program EZ-test untuk pengelompokan data/pengodean data.

5. Transkrip FGD diberi kode berdasarkan kata kunci yang telah dikembangkan dalam pedoman analisis data.

6. Mengelompokkan data berdasarkan kata kunci untuk setiap sub-sistem

(27)

19 7. Mengelompokkan data sekunder berdasarkan sub sistem agar bisa

diperbandingkan dengan data primer

8. Pengelompokan data ini dilakukan dengan menggunakan tabel data untuk memudahkan untuk melakukan triangulasi

9. Tabel yang telah terisi dengan kata kunci, kutipan yang relevan dan data sekunder yang mendukung untuk setiap sub sistem menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan analisis.

10. Data yang terkumpul dalam bentuk transkrip dan rekamandisimpan oleh tim peneliti dalam bentuk soft copy. Data identitas responden dihancurkan segera setelah pengodean datadan responden dilakukan.

11. Dengan menggunakan software EZ text terhadap data yang ada dilakukan pengelompokkan data berdasarkan kata-kata kunci dari pertanyaan-pertanyaan yang pada setiap sub-sistem, kemudian dilakukan deskripsi dan kutipan terhadap tema-tema yang telah ditetapkan dalam rencana analisis.

12. Dilanjutkan dengan analisis stakeholders. Analisis stakeholders merupakan suatu analisis terhadap konflik kepentingan antar stakeholders dan pengaruh masing- masing stakeholders. Dalam melakukan analisis stakeholders, peneliti memperhatikan dan melakukan identifikasi siapa aktor yang ikut berperan/bermain pada masalah yang diangkat serta menilai secara subjektif peran tersebut. Penilaian disebut tinggi bila aktor mendukung secara penuh program HIV dan AIDS, sedang bila aktor tersebut sebagian mendukung program HIV dan AIDS dan rendah bila aktor tersebut sangat lemah dalam mendukung program HIV dan AIDS.

13. Kredibilitas data dikendalikan dengan triangulasi metode dan triangulasi subjek.

Selain itu, penentuan tingkat integrasi mengacu pada prinsip-prinsip yang digunakan pada penelitian sebelumnya (Conseil et al., 2010; Desai et al., 2010).

Untuk tingkat integrasi ini disebut Tidak Terintegrasi bila program HIV dan AIDS secara struktural diorganisasikan dan berfungsi secara paralel dengan komponen sistem kesehatan lain. Terintegrasi Sebagian bila ada keterkaitan antara struktur dan fungsi program HIV dan AIDS dengan struktur dan fungsi sistem kesehatan

(28)

20 atau ada kegiatan yang disinkronkan dan dikoordinasi antara struktur dan fungsi program HIV dan AIDS dengan system kesehatan dalam rangka untuk mencapai tujuan memperkuat penyediaan pelayanan kesehatan tetapi struktur dan fungsi masing-masing tetap terpisah dalam pengorganisasiannya. Terintegrasi Penuh bila ada perubahan-perubahan yang dilakukan di kedua struktur program sehingga menciptakan tata kelola, pengelolaan pembiayaan, penyediaan layanan atau sistem informasi yang satu atau menyatunya dua program disemua bidang- bidang fungsional meskipun secara struktur terpisah.

4.7. Durasi Penelitian

Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan (Mei- Juli) yang dilakukan secara bertahap mulai dari kegiatan pengumpulan data primer melalui FGD, in-depth interview dan pengumpulan data sekunder.

(29)

21

V. Hasil Penelitian

5.1. Konteks 5.1.1. Kota Medan

Kota Medan memiliki karakteristik wilayah dengan luas 265,10 km2atau 3,6 persen dari total luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Kota Medan secara administratif pemerintahan saat ini terdiri dari 21 Kecamatan dengan 151 Kelurahan, yang terbagi atas 2,001 lingkungan. Berdasarkan batas wilayah administratif, Kota Medan relatif kecil dibandingkan dengan kota lainnya. Kota Medan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Sumatera Utara memiliki posisi strategis yang semakin menguat baik secara regional maupun nasional. Posisi Kota Medan secara regional dalam bidang ekonomi sangat penting karena kota ini berada dalam wilayah hinterland dengan basis ekonomi, sumberdaya, budaya, jasa dan pariwisata yang relatif kuat dan besar.

Jumlah penduduk Kota Medan diperkirakan mencapai 2,1 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk rata-rata 1,1% per tahun. Besarnya jumlah penduduk menjadikan Kota Medan sebagai kota yang tinggi tingkat kepadatan penduduknya (8.001 jiwa/km2).

Adapun karakteristik penduduk Kota Medan bersifat pluralistik, baik dari segi agama, suku, etnis, budaya dan adat istiadat. Keberagaman karakteristik penduduk Kota Medan ini menjadikan mereka bersifat terbuka dan dinamis. Perkembangan kependudukan di Kota Medan pada saat ini juga ditandai oleh proses transisi demografi, yaitu proses penurunan tingkat kesuburan sehingga jumlah penduduk menjadi stabil. Penurunan tingkat kelahiran antara lain disebabkan oleh perubahan pola pikir dan perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Selain itu, perbaikan gizi dan status kesehatan juga mempengaruhi penurunan tingkat kematian. Pada akhir proses transisi demografi, tingkat kelahiran dan kematian tidak banyak berubah sehingga jumlah penduduk cenderung tidak berubah, kecuali karena proses migrasi.

(30)

22 5.1.2. Kabupaten Deli Serdang

Kabupaten Deli Serdang memiliki luas wilayah 2.497,72 km2atau 3,48% luas Propinsi Sumatera Utara dengan jumlah penduduk pada tahun 2013 sebanyak 1.807.173 jiwa.

Secara administratif Kabupaten Deli Serdang terdiri dari 22 kecamatan, 394 kelurahan/desa. Dilihat dari distribusi dan kepadatan penduduk, maka rata-rata kepadatan penduduk telah mencapai ± 696 jiwa/km2. Kepadatan tertinggi terdapat di Kecamatan Deli Tua yaitu 6.244 jiwa/km2, sedangkan kepadatan terendah terdapat di Kecamatan Gunung Meriah yaitu 32 jiwa/km2.

Kabupaten Deli Sedang berbatasan sebelah utaradengan Kabupaten Langkat dan Selat Malaka, sebelah selatan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun,sebelah timurdengan Kabupaten Serdang Bedagai dan sebelah baratberbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat. Kabupaten Deli Serdang memiliki posisi yang sangat strategis, karena berbatasan langsung dengan Selat Malaka, sebagai salah satu daerah lintas pelayaran paling sibuk didunia. Kabupaten ini mengelilingi dua kota utama di Sumatera Utara. Dengan posisi strategis, sumber daya alam dan manusia yang dimiliki oleh Kabupaten Deli Serdang akan menjadi potensi yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan yang kompetitif dalam menghadapi persaingan dalam menarik investor untuk mengembangkan usahanya di daerah ini dan sasaran lainnya dalam memasarkan produk/jasa yang dihasilkan.

Data jumlah kasus HIV dan AIDS untuk Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2001 hingga 2013 berdasarkan data Dinas Kesehatan adalah 581 kasus HIV dan 473 kasus AIDS. Jumlah kasus HIV dan AIDS ini dari tahun ke tahun juga menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2013 jumlah penderita HIV sebanyak 89 kasus dan jumlah AIDS sebanyak 100 kasus. Pada tahun 2014 hingga bulan Juni ini, juga telah ditemukan 37 kasus HIV baru. Data pada tahun 2013 menunjukkan faktor resiko terbesar terdapat pada kelompok heteroseksual, sedangkan berdasarkan pekerjaan proporsi terbesar terdapat pada kelompok wiraswasta dan ibu rumah tangga.

(31)

23 5.2. Situasi HIV dan AIDS di Sumatera Utara; Kota Medan dan

Kabupaten Deli Serdang

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI sejak tahun 2005 hingga 2013, jumlah kasus HIV yang dilaporkan di Propinsi Sumatera Utara sebanyak 7.967 dan kasus AIDS sebanyak 1.301, sedangkan data nasional menunjukkan kasus HIV sebanyak 127.416 dan kasus AIDS sebanyak 52.348.

Prevalensi HIV dan AIDSini cenderung meningkat tajam dari tahun ke tahun, dan bahkan belum menunjukkan penurunan meskipun upaya penanggulangan HIV dan AIDS telah dilaksanakan semakin gencar oleh masyarakat, LSM dan swasta serta pemerintah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Medan prevalensi HIV di populasi umum dengan jumlah penduduk 2.122.804 jiwa adalah 0,18% dimana jumlah total penderita HIV dan AIDShingga Agustus 2013 mencapai 3.726 orang. Tingkatan epidemi HIV dan AIDS di Kota Medan tergolong terkonsentrasi (concentrated) situasi diantara rendah (low) dan meluas (generalized).

Sebagaimana kita ketahui, pada awalnya penderita HIV banyak ditemukan pada pemakai narkoba jarum suntik, namun pada tahun berikutnya hingga sekarang penderita HIV beralih kepada kelompok heteroseksual, ibu rumah tangga dan bayi.Data menunjukkan adanya peningkatan kasus HIV dan AIDS dari tahun ke tahun berdasarkan faktor resiko heteroseksual dan penurunan kasus berdasarkan faktor resiko pengguna narkoba suntik. Distribusi kasus terdiri dari kelompok dengan faktor resiko terbesar yaitu dari kelompok heteroseksual sebanyak 2,453 kasus, sedangkan kelompok IDUs (pengguna narkoba suntik) 985 kasus dan kelompok homoseksual 124 kasus, namun ibu rumah tangga juga sudah banyak yang terinfeksi sebanyak 521 orang sejak tahun 2006 – 2013.

Dari segi usia ternyata usia produktif yakni antara usia 25 sampai 34 tahun, kasusnya lebih banyak yaitu 1934, diikuti usia 35 sampai 44 tahun sebanyak 623, 16 sampai 24 tahun ada 537 tahun, usia diatas 45 tahun ada 241 kasus.

(32)

24 5.3. Respon Daerah terhadap Permasalahan HIV dan AIDS

5.3.1. Respon Kota Medan

Kota Medan telah merintis dan peduli terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDSdimulai pada tahun 1997 dengan kerjasama melalui UNDP dengan Komisi Penanggulangan HIV dan AIDSmulai mengembangkan respon penanggulangan HIV dan AIDS pada kelompok-kelompok perilaku resiko tinggi di Kota Medan. Fokus program diarahkan pada penjangkauan dan dukungan perubahan perilaku kelompok resiko tinggi terinfeksi HIV dan AIDS yaitu mahasiswa, anak jalanan, masyarakat nelayan, pemandu wisata, dan WBP. Kegiatan ini menjadi awal program penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan.

Pada tahun-tahun berikutnya kompleksitas permasalahan HIV DAN AIDS semakin meningkat terutama pada pengguna narkoba suntik (penasun). Selanjutnya dengan semakin meningkatnya kasus AIDS di Medan maka respon penanggulangan AIDS mulai dikembangkan dalam wadah organisasi masyarakat sipil. Kegiatan-kegiatan ini didukung oleh bantuan luar negeri antara lain UNDP, FHI/ASA-USAID, HIVos, Japanese Red Cross, dan Global Fund.

Hingga akhir tahun 2010 program penanggulangan AIDS di Kota Medan telah menyentuh semua kelompok perilaku resiko tinggi terinfeksi HIV yaitu komunitas penasun dan pasangannya, WPS dan pelanggannya, LSL, waria dan pelanggannya dan WBP. Pendanaan program ini masih bersumber dari bantuan luar negeri. Alokasi anggaran APBD masih minim dan terkonsentrasi pada Dinas Kesehatan Kota Medan serta Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Medan.

Tahun 2010 Pemerintah Kota Medan menerbitkan SK Kepengurusan KPA Kota Medan yaitu SK Tim Pelaksana KPA Kota Medan No. 94/KPA-KM/XII/2010 mengacu pada Perpres No 75 tahun 2006 karena berakhirnya masa kepengurusan yang lama. Sejak tahun 2006 KPA Kota Medan mengalami pasang surut program karena pemutasian yang kerap terjadi pada Bagian Kesejahteraan Rakyat di pemerintahan yang dalam

(33)

25 Perpres No.75 tahun 2006 disebutkan bahwa kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat yang juga merangkap sebagai sekretaris KPA.

Perkembangan Cakupan dan Program di Kota Medan.

1. Program Pencegahan Penularan Melalui Alat Suntik 2. Program Terapi Rumatan Metadon

3. Program di Lembaga Pemasyarakatan

4. Program Pencegahan Penularan HIV Melalui Transmisi Seksual 5. Program Pencegahan Penularan HIV Melalui Ibu ke Bayi (PMTCT).

6. Konseling dan Testing Sukarela (VCT)

7. Program Perawatan Dukungan dan Pengobatan 8. Program Penanggulangan HIV dan AIDS:

a. Sosialisasi dan Penyuluhan HIV dan AIDS

b. Program Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR).

c. Penjangkauan Populasi Kunci

d. Sosial Marketing dan Distribusi Kondom e. Pelayanan Infeksi Menular Seksual (IMS) f. Program Dukungan Psiko-Sosial

g. Mitigasi Dampak h. Kolaborasi TB-HIV

Dari Perkembangan Cakupan dan Program yang telah dilakukan di Kota Medan yang secara rinci tertuang di dalam Renstra Penanggulangan HIV dan AIDS Kota Medan 2011– 2014 telah memuat program Promosi dan Pencegahan, Perawatan Dukungan Pengobatan, dan Mitigasi Dampak.

5.3.2. Respon Kabupaten Deli Serdang

KPA Propinsi Sumatera Utara melakukan pengembangan ke Kabupaten/Kota yang potensial untuk dibentuk KPA Kabupaten. Kabupaten Deli Serdang dianggap potensial, karena dari jumlah data penderita HIV juga menunjukkan kecenderungannaik. Hal ini juga didukung lokasi Kabupaten Deli Serdang yang secara geografis melingkari dan

(34)

26 bersisian langsung dengan Kota Medan, artinya sangat tinggi mobilitas penduduk antar Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Pembentukan KPA Deli Serdang juga didukung oleh Bupati beserta Dinas Kesehatan yang merespon positif ketika inisiasi pembentukan KPA ini ditawarkan. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara juga sangat membantu pembentukan KPA Deli Serdang, dan selanjutnya memfasilitasi jejaring layanan dan farmasi dengan unit layanan dan farmasi di Propinsi Sumatera Utara dan Kota Medan.

Untuk program kegiatan hampir sama dengan program yang ada di KPA Kota Medan.

Demikian juga Perda HIV dan AIDS lebih kurang sama dengan KPA Kota Medan.

5.4. Aktor Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan

Dalam program penanggulangan HIV dan AIDS tentunya bukan hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan saja atau oleh KPA saja, tapi dibutuhkan banyak sektor dan program lainnya yang terlibat. Keterlibatan lintas sektor dan lintas program sangat dibutuhkan dalam program penanggulangan HIV dan AIDS. Untuk itu perlu dianalisa mana saja stakeholder yang terlibat sehingga dapat diketahui peran dan fungsi stakeholder tersebut, dan pada akhirnya dapat dilakukan penilaian berdasarkan kepentingan, sumber daya dan kekuatan secara tinggi, sedang dan rendah. Penilaian kepentingan berdasarkan tugas dan fungsi pokok dari aktor-aktor yang terlibat. Penilaian sumber daya berdasarkan SDM dan SDA yang dimiliki aktor tersebut, sedangkan penilaian kekuatan berdasarkan kemauan dan keterlibatan aktor dalam program atau kegiatan.

Penilaian ini didapatkan setelah melakukan FGD dan in-depth interview. Peneliti melakukan kesimpulan secara umum untuk penilaian tersebut.

Secara umum dapat digambarkan bahwa secara kepentingan, sumber daya dan kekuatan tinggi adalah KPA dan Dinas Kesehatan, Bappeda, Puskesmas. Interaksi antar aktor dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan sudah berjalan baik atas koordinasi KPA Kota Medan. Hal ini dapat dilihat dari kehadiran para wakil dari SKPD yang diundang pada pertemuan yang diadakan KPA Kota Medan. Dan interaksi tersebut juga dapat dilihat dari kerjasama antar SKPD, misalnya Dinas Kesehatan

(35)

27 dengan Dinas Sosial dalam menindaklanjuti bila ada pasien Mr. X di layanan, artinya bila ada pasien Mr. X maka akan menjadi tanggung jawab Dinas Sosial dalam hal pembiayaannya.

Namun dirasa kurang untuk koordinasi dalam hal rencana anggaran. Misalnya Dinas Perhubungan merencanakan anggaran untuk kegiatan sosialisasi pencegahan HIV dan AIDS kepada supir angkutan kota dan direncanakan sebagai narasumber dari Dinas Kesehatan dan KPA Kota Medan. Rencana anggaran dan kegiatan tersebut selanjutnya diajukan kepada Bappeda Kota Medan, dan ternyata tidak disetujui dengan alasan kegiatan sosialisasi pencegahan HIV dan AIDS bukanlah merupakan tugas pokok dari Dinas Perhubungan, tapi merupakan tugas dari Dinas Kesehatan.

Dapat juga disimpulkan bahwa integrasi antar SKPD ini sangat tergantung pada koordinasi yang dilakukan oleh KPA Kota Medan, artinya masih ada kesenjangan antar SKPD dalam melakukan koordinasi. Misalnya program Aku Bangga Aku Tahu (ABAT) yang seharusnya dilakukan oleh Dinas Pendidikan bekerjasamadengan Dinas Kesehatan Kota. Namun dalam pelaksanaannya, Dinas Pendidikan tidak aktif melakukan kegiatan, maka Dinas Kesehatan tidak dapat berbuat banyak, karena kedua SKPD ini merasa selevel. Untuk itu masalah ini disampaikan pada KPA Kota Medan, dan masalah ini diatasi oleh KPA Kota Medan dengan melakukan pertemuan koordinasi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.

Demikianlah gambaran tentang tingkat integrasi antara aktor yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

(36)

28

Tabel 1. Analisa Stakeholder Kota Medan

No Aktor Peran secara normatif

Peran sesuai hasil di lapangan

Kepentingan (Tinggi, sedang, rendah)

Sumber daya (Tinggi, sedang, rendah)

Kekuatan (Tinggi, sedang, rendah)

1 KPA Memimpin,

mengelola, mengkoordinasi dan

mengevaluasi seluruh kegiatan

penanggulangan HIV dan AIDS.

Merencanakan program

penanggulangan HIV dan AIDS dan membuat anggaran dalam APBD serta mendapatkan sumber-sumber pendanaan lainnya.

Tinggi Tinggi Tinggi

2 Dinas Kesehatan

Melakukan kegiatan promosi,

preventif dan kuratif HIV dan AIDS

Mengkoordinasi semua hal tentang HIV dan AIDS,program kegiatan dan pendanaan, layanan kesehatan.

*Penyuluhan ke anak sekolah (Aku Bangga Aku tahu)

bekerjasama dengan dinas pendidikan.

*Pembagian kondom melalui layanan

kesehatan.

Tinggi Tinggi Tinggi

3 Dinas Sosial dan tenaga kerja

Membina dan memberikan pelatihan keterampilan pada populasi kunci (psk, waria, penasun, anjal)

*Memberikan dukungan sosial ekonomi / program

dampak mitigasi pada ODHA

Sedang Sedang Sedang

(37)

29 4 Dinas

Pariwisata

Mendamping KPA dalam melakukan sosialisasi di tempat hiburan

*Merazia, mendata dan memberikan sanksi jika ada PSK di hotel- hotel atau diskotik

Sedang Sedang Sedang

5 Badan PP dan KB

Melakukan pembinaan pada remaja usia 14-25 melalui PIKRM (Pusat Informasi Konseling Remaja Mahasiswa)

*Sosialisasi HIV dan AIDS pada remaja

*Program pembagian kondom pada PUS

Tinggi Tinggi Sedang

6 Dinas Pendidikan

Melakukan pembinaan dan sosialisasi pada siswa-siswa

*Penyuluhan narkoba dan HIV dan AIDS

*Melaksanakan program ABAT

Tinggi Tinggi Sedang

7 Dinas

Pemuda dan olahraga

Melakukan pembinaan kepemudaan

*Melakukan penyuluhan narkoba, HIV dan AIDS

Tinggi Tinggi Sedang

8 Dinas

Perhubungan

Bekerjasama dengan KPA untuk kegiatan sosialisasi di terminal-

terminal

*Mengadakan sosialisasi HIV dan AIDS pada supir-supir angkutan

Sedang Rendah Rendah

9 PKK Menjalankan

program pokok PKK dengan bekerja sama dengan SKPD terkait

*Melakukan penyuluhan HIV

dan AIDS

dengan sasaran keluarga

Sedang Sedang Sedang

10 Kementerian Agama

Dengan pendidikan keagamaan melalui program pembinaan mental dapat dibuat program terkait narkoba, HIV DAN AIDS -koordinasi

Melakukan penyuluhan kepada sekolah agama SMA aliyah/pesantren -penyuluhan di mesjid dan gereja terkait hari AIDS

Sedang Sedang Sedang

(38)

30 horizontal

dengan KPA

sedunia 11 Bappeda Mengalokasi

anggaran HIV DAN AIDS dgn lebih fokus ke Bagian Adm Kesra

Menghindari kegiatan yang overlapping antar SKPD

Tinggi Tinggi Tinggi

12 Puskesmas Penyediaan layanan

kesehatan yg dapat

mencegah penularan HIV

Pelayanan VCT, CST, LASS

Tinggi Tinggi Tinggi

13 Rumah Sakit Penyediaan layanan

kesehatan yg dapat

mencegah penularan HIV dan pengobatan HIV AIDS

Pelayanan VCT, CST, dan PMTCT serta PTRM

Tinggi Sedang Sedang

14 Klinik IMS Penyediaan layanan

kesehatan yg dapat

mencegah penularan IMS dan HIV

Pelayanan IMS dan VCT

Tinggi Sedang Sedang

15 Lapas Melakukan program

penanggulangan HIV dan AIDS bagi WBP dan staf Lapas

Pelayanan VCT, PTRM

Sedang Sedang Sedang

16 LSM Penjangkauan pada kelompok populasi kunci dan

pendampingan ODHA

-Memberikan penyuluhan HIV dan AIDS pada individu,

kelompok dan manyarakat -Dukungan sosial dan psikologis

Tinggi Sedang Sedang

(39)

31 5.5. Aktor Penanggulangan HIV DAN AIDS di Kabupaten Deli

Serdang

Kondisi yang hampir sama juga terjadi pada aktor yang terlibat di Kabupaten Deli Serdang. Ketelibatan aktor sangat ditentukan oleh peran KPA Kabupaten Deli Serdang.

Hal ini karena KPA Deli Serdang diketuai oleh Wakil Bupati. Karena diketuai oleh Wakil Bupati, maka segala kebijakan dan koordinasi antar SKPD lebih mudah dilakukan.

Gambaran tentang tingkat integrasi antara aktor yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV DAN AIDS di Kabupaten Deli Serdang, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Analisa Stakeholder Kabupaten Deli Serdang

No Aktor Peran secara normative

Peran sesuai

hasil di

lapangan

Kepentingan (Tinggi, sedang, rendah)

Sumber daya (Tinggi, sedang, rendah)

Kekuatan (Tinggi, sedang, rendah)

1 KPA Memimpin,

mengelola, mengkoordinasi dan

mengevaluasi seluruh kegiatan

penanggulangan HIV DAN AIDS.

Merencanakan program

penanggulangan HIV AIDS dan membuat anggaran dalam APBD serta mendapatkan sumber-sumber pendanaan lainnya.

Tinggi Tinggi Tinggi

2 Dinas Kesehatan

Melakukan kegiatan promosi,

preventif dan kuratif HIV DAN AIDS

Mengkoordinasi semua hal tentang HIV DAN

AIDS,program kegiatan dan pendanaan, layanan kesehatan.

*Penyuluhan ke anak sekolah (ABAT)

Tinggi Tinggi Tinggi

Gambar

Diagram 1.Model Konseptual
Tabel 1. Analisa Stakeholder Kota Medan
Tabel 2. Analisa Stakeholder Kabupaten Deli Serdang
Table 3. Layanan Program Penanggulangan HIV dan AIDS oleh Pemerintah di Kota Medan  Penyedia Layanan Puskesmas  Promosi dan
+5

Referensi

Dokumen terkait

Dengan berakhirnya siklus I, kemudian mengadakan refleksi, terbukti bahwa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media grafis dapat meningkatkan hasil

AT Oceanic Offshore adalah perusahaan asing yang bergerak di bidang alat angkat, perusahaan asing ini di setiap proses produksinya dari awal proses sampai proses

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara bimbingan belajar terhadap motivasi belajar

DAVYSUKAMTA & PARTNERS Structural Engineers Secara struktur , gedung tinggi adalah suatu gedung dimana rancangannya ditentukan oleh stiffness. DAVYSUKAMTA &

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di sekitar pantai Pulau Pari maka dapat disimpulkan bahwa pada lokasi tersebut ditemukan dua jenis bintang laut yang

Jenis tanaman berperawakan rendah di pekarangan Kecamatan Teluknaga, Citeureup dan Pacet ( K = konstansi keterdapatan ) No. Cabe besar Pandan wangi Belitung Panglai Opiopogon

Selain itu adanya kontaminasi total bakteri yang tinggi juga dapat disebabkan oleh penanganan yang kurang hegienis dimana kontaminasi berasal dari tangan pekerja, alat

Pada saat Peraturan Daerah ini berlaku, Pajak yang masih terhutang berdasarkan peraturan Daerah Nomor 37 Tahun 2001 tentang Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) sebagaimana