• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi hasil penelitian terhadap pengembangan pengetahuan

Integrasi sistem pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dalam sistem kesehatan nasional diharapkan dapat meningkatkan akses layanan dan status kesehatan. Integrasi sistem surveilans diharapkan upaya pemantauan masalah kesehatan sebagai respon kebutuhan terhadap kesehatan masyarakat pada suatu populasi dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Upaya pengembangan surveilans dilakukan untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui upaya perencanaan yang efektif. Berbagai macam pendekatan dan metode dapat digunakan untuk melakukan pengembangan surveilans (Teutsch, 2000).

Hasil surveilans epidemiologi disebarluaskan secara berkala sebagai informasi untuk mengukur kesehatan masyarakat (M’ikhanata, 2007).

Pelaksanaan surveilans perlu ditunjang oleh SIK yang memadai. Metode pengembangan sistem informasi dapat dilakukan dalam berbagai cara. Salah satu cara yang paling banyak digunakan adalah menggunakan pendekatan System Development Life Cycle atau Siklus Hidup Pengembangan Sistem (SDLC).

Jogiyanto (2003) membagi SDLC dalam empat tahap yaitu analisis sistem, perancangan sistem, implementasi sistem dan perawatan sistem.

Pengembangan sistem surveilans perlu direncanakan dengan baik. Upaya perencanaan dalam pengembangan sistem HIV dan ADS adalah sebagai berikut meliputi definisi kasus, pengumpulan data, tandarisasi, Sistem Surveilans Aktif dan Pasif, Limited Surveillance System, Field Testing, Analisis Data, Interpretasi dan Diseminasi, field testing dan analisis serta monev kegiatan HIV dan AIDS.

Informasi yang dihasilkan oleh SIK tergantung pada data yang dikumpulkan. Metode minitoring dan evaluasi menjadi salah satu upaya untuk menjaga kualitas dan validitas data surveilans.Informasi surveilans akan bermanfaat bila sesuai dengan tujuan surveilans. Pengembangan model sistem informasi termasuk identifikasi data dan informasi yang memenuhi tujuan surveilans perlu dilakukan agar hasil kegiatan surveilans dapat berguna untuk tindakan pencegahan dan penanggulangan. Metode evaluasi dapat menggunakan penilaian terhadap sembilan atribut sistem surveilans (WHO, 2001). Atribut tersebut meliputi Simplicity, Data Quality, Acceptability, Sensitivity, Predictive Value positif, Representativeness, Time lines dan Stability.

6.3 Keterbatasan/kelemahan penelitian

Keterbatasan penelitian meliputi keterbatasan pada masalah kesehatan yang diteliti serta keterbatasan jumlah entitas yang diamati. Ruang lingkup masalah kesehatan pada penelitian terbatas pada program penanggulangan HIV dan AIDS, belum melakukan pengamatan pada program kesehatan lainnya.

Program kesehatan lain seperti IMS dan TB memiliki potensi untuk berinteraksi dengan program HIV dan dapat memberikan dampak terhadap integrasi.

Ruang lingkup institusi yang diamati dalam penelitian ini adalah program penanggulangan HIV dan AIDS yang berjalan di dinas kesehatan dan jajarannya.

Penelitian ini belum mengamati secara rinci program penanggulangan HIV yang berjalan di SKPD lainnya seperti Dinas Pendidikan, Dinas Sosial dan LSM.

Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah kabupaten/kota yang mendapatkan donor luar yaitu GF. Capain program di lokasi penelitian dipengaruhi oleh tersedianya dana yang berasal dari capaian donor tersebut.

Penelitian ini belum menggunakan pembanding sehingga belum bisa memberikan justifikasi terhadap dampak program yang disebabkan karena adanya funding luar.

Simpulan dan Rekomendasi

1. Beberepa regulasi terkait HIV dan AIDS telah diterbitkan di tingkat provinsi Jawa Timur maupun di beberapa kab/kota. Regulasi tersebut berupa Perda, SRAD dan peraturan walikota atau bupati. Formulasi kebijakan didasarkan atas data epidemi HIV dan AIDS yang diperoleh dari survei dan pemetaan.

Implementasi kebijakan HIV dan AIDS di era desentralisasi daerah sangat tergantung pada situasi dan kondisi di daerah. Faktor tersebut dipengaruhi terutama oleh prioritas program dan anggaran di setiap kab/kota. Selain itu masih terdapat perbedaan persepsi dari SKPD dalam menyikapi kebijakan program HIV dan AIDS

2. Pembiayaan program HIV dan AIDS berasal dari APBN, APBD dan donor.

Program pencegahan sebagian besar bersumber dari APBD dan program pengobatan sebagian besar bersumber dari APBN melalui JKN.

Penjangkauan dan pendampingan sebagian besar menggunakan dana bersumber dari donor. Masih ada ketergantungan pada dana donor mengingat proporsi dana donor dibanding APBD untuk HIV dan AIDS relatif besar 3. Layanan dan program HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur meliputi

program pencegahan, PDP dan mitigasi dampak. Layanan PDP dan mitigasi dampak telah tersedia di layanan kesehatan seperti rumah sakit dan Puskesmas. Koordinasi layanan HIV dan AIDS dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi dan KPA melalui rapat koordinasi. Koordinasi yang dilakukan tergantung pada peran individu yang menjadi anggota Pokja KPA sebagai perwakilan dari SKPD. Monitoring dan evaluasi layanan HIV dan AIDS dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi

4. Belum ada regulasi khusus yang mengatur SDM yang menangani program HIV dan AIDS. Kewenangan untuk pengaturan SDM ada di tingkat kab/kota.

Permasalahan terkait SDM program HIV dan AIDS di Jawa Timur adalah masih adanya petugas yang belum sesuai dengan kompetensinya, rotasi petugas dan tugas rangkap. Petugas honorer untuk program HIV dan AIDS dibiayai oleh dana donor

5. Penyediaan obat dan perlengkapan medik telah diatur oleh regulasi nasional.

Penyediaan ARV berasal dari APBN melalui JKN, sedangkan reagen dan obat IO cost-sharing APBN dan APBD melalui Dinas Kesehatan Provinsi

6. Beberapa sistem informasi kesehatan telah berjalan di Provinsi Jawa Timur, yaitu SIMPUS, E-Health, SIHA untuk HIV dan AIDS serta P-Care. Berbagi sistem tersebut belum terintegrasi secara penuh. Data anggaran serta monitoring dan evaluasi program HIV dan AIDS belum sepenuhnya dapat dikumpulkan.

7. Masyarakat telah turut serta dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS.

Keterlibatan komponen masyarakat melalui LSM, Warga Peduli AIDS, Kelompok Dukungan Sebaya, dan paguyuban serta komunitas siswa hingga mahasiswa. Komponen masyarakat berperan dalam upaya promosi kesehatan pada masyarakat umum dan penjangkauan serta pendampingan populasi kunci. Komponen masyrakat belum secara optimal dilibatkan dalam proses perencanaan dan penganggaran program HIV dan AIDS

DAFTAR PUSTAKA

Atun, Rifat, et all, A systematic review of the evidence on the integration of targeted health interventions into health systems, Helath Policy and Planning, Oxford University Press, 2010

Centers for Disease Control and Prevention , 2001, Guidelines for Evaluating Public Health Surveillance System, Morbidity and Mortality Weekly Report, Atlanta

Jogiyanto, 2003, Sistem Teknologi Informasi, Penerbit Andi, Yogyakarta

M’ikhanata, et al, 2007, Infectious Disease Surveillance, Blackwell Publishing, USA Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional Peraturan

Daerah

Provinsi Jawa Timur No 5 Tahun 2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Timur

Teutsch, S.M., Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan 2000, Consideration in Planning a Surveillance System, dalam: Teutch, S.M., R.E., Churchil (eds): Principle and Practice of Public Health Surveillance, Second Edition, Oxford University Press Inc, New York

Thacker, S.B., 2000, History of Public Health surveillance, dalam: Teutch, S.M., R.E., Churchil (eds): Principle and Practice of Public Health Surveillance, Second Edition, Oxford University Press Inc, New York

WHO, Strengthening Health Systems to Improve Health Outcomes, 2007

LAMPIRAN

Lampiran 1. Instrumen Pengumpulan Data Primer Lampiran 2. Daftar Informan Penelitian

Lampiran 3. Peran Stakeholders Penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo

Lampiran 4. Pengukuran Tingkat Integrasi Program HIV dan AIDS ke dalam Sistem Kesehatan di Provinsi Jawa Timur

Lampiran 5. Pengukuran Tingkat Integrasi Program HIV dan AIDS ke dalam Sistem Kesehatan di Kota Surabaya

Lampiran 6. Pengukuran Tingkat Integrasi Program HIV dan AIDS ke dalam Sistem Kesehatan di Kabupaten Sidoarjo

Lampiran 7. Program penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Surabaya berdasarkan Rencana Aksi Penangggulangan HIV DAN AIDS tahun 2012-2015

Lampiran 8. Daftar Kebijakan Penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur

Lampiran 9. Daftar Kebijakan Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Surabaya

Lampiran 10. Daftar Kebijakan Penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Sidoarjo

Lampiran 1

Instrumen Penelitian: Pengumpulan Data Primer

1. Sub sistem Manajemen, informasi dan Regulasi Kesehatan Penanggulangan HIV dan AIDS

Definisi: Pengelolaan yang menghimpun berbagai upaya kebijakan kesehatan, administrasi kesehatan, pengaturan hukum kesehatan, pengelolaan data dan informasi kesehatan untuk menjamin adanya kerangka kebijakan strategis yang dikombinasikan dengan pengawasan, pengembangan kemitraan, akuntabilitas, peraturan, insentif dan kesesuaian dengan disain sistem kesehatan yang ada.

1. Berdasarkan regulasi yang ada (UU, PP, Permen, Perda), apakah peran dan tanggung jawab SKPD dan Organisasi Masyarakat Sipil dalam bidang penanggulangan AIDS didefinisikan secara jelas? Apakah secara umum sumber daya yang disediakan untuk melaksanakan peran dan tanggung jawab tersebut sudah mencukupi?

2. Apakah ada rencana strategis untuk penanggulangan AIDS? Jika Ya, apakah rencana strategis ini merefleksikan rencana strategis sektor kesehatan? Apakah ada review secara berkala atas rencana strategis ini? Apakah rencana strategis ini digunakan untuk menentukan keputusan, alokasi sumber daya manusia dan menentukan situasi epidemi di wilayah ini?

3. Apakah ada pengaruh kebijakan desentralisasi terhadap kebijakan AIDS di daerah ini?

Jika Ya, apa dampaknya bagi upaya penanggulangan AIDS di daerah ini?

4. Apakah ada rencana pemerintah daerah dalam karangka pencapaian MDG untuk penanggulangan AIDS?

5. Apakah pernah ada asesmen tentang situasi epidemi di kabupaten ini?

6. Bagaimana perencanaan kegiatan dan pelayanan dalam rangka penanggulangan AIDS di wilayah ini dikembangkan? Seberapa jauh kebijakan ini didasarkan pada bukti-bukti kecenderungan epidemiologis atau evaluasi atas kegiatan pada masa sebelumnya?

7. Bagaimana masyarakat bisa mengetahui program HIV dan AIDS yang dilakukan di wilayah ini sehingga memudahkan untuk mengaksesnya?

2. Sub sistem Pembiayaan Kesehatan

Definisi: pengelolaan berbagai upaya penggalian, pengalokasian, dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Unsur-unsur pembiayaan kesehatan terdiri dari dana, sumberdaya, dan pengelolaan dana kesehatan.

1. Apakah pernah dilakukan assessment tentang pembiayaan penanggulangan AIDS di wilayah ini? Jika ya, seberapa sering hal itu dilakukan?

2. Apakah ada perencanaan untuk meningkatkan besaran APBD di wilayah ini untuk penanggulangan AIDS? Bagaimana perencanaan tersebut disusun?

3. Dari mana sumber pendanaan penanggulangan AIDS di kabupaten ini? Apakah ada sumber dari pihak lain yang digunakan untuk membantu upaya penanggulangan AIDS?

Jika Ya, apakah ada kesulitan di dalam mengelola sumber pembiayaan yang beragam ini?

4. Apakah tersedia jaminan kesehatan pemerintah (JKN atau Jamkesda) bagi kelompok yang terdampak oleh HIV dan AIDS?

5. Apakah kelompok yang terdampak oleh HIV dan AIDS selama ini perlu membayar baik secara formal atau informal atas pelayanan kesehatan terkait dengan AIDS yang mereka terima? Jika Ya, seberapa besar mereka harus membayar? Apakah ini telah menyebabkan hambatan bagi pasien untuk mengakses layanan tersebut?

3. Sub sistem Sumber Daya Manusia Kesehatan

Subsistem ini digunakan untuk memastikan bahwa sumber daya manusia yang terlibat dalam penanggulangan HIV dan AIDS responsif, efisien, kompeten, adil, dan terdistribusi merata sesuai dengan sumber daya yang tersedia dan situasi yang ada serta mencukupi jumlahnya.

1. Bagaimana kebijakan SDM untuk penanggulangan AIDS ini disusun? Bagaimana dengan pengembangan kapasitas dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan lannya dan petugas lapangan yang bekerja untuk populasi kunci atau kader? Apakah ada penguatan kapasitas secara berkelanjutan bagi mereka?

2. Apakah SDM yang dimiliki oleh penyedia layanan (pemerintah dan non pemerintah) mencukupi untuk melaksanakan beban tugas rutin termasuk memenuhi kebutuhan populasi kunci?

3. Apakah ada kebijakan yang mengatur tenaga non-pemerintah (dari swasta atau OMS) dikontrak atau digaji untuk melaksanakan penanggulangan AIDS? Jika Ya, sebutkan!

4. Jika kebutuhan SDM di kabupaten ini kurang mencukupi, apa langkah yang selama ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut?

5. Apa mekanisme dukungan untuk mempertahankan SDM yang bekerja di penanggulangan AIDS (pengembangan karier, supervisi, keamanan, mobilitas, kesejahteraan)? Apakah rotasi dan mutasi SDM dalam penanggulangan AIDS menjadi isu penting di bagi pelaksanaan program?

6. Apakah ada kebijakan yang mengatur tentang standardiasi kompetensi tenaga penanggulangan AIDS? Jika Ya, sebutkan!

7. Apakah perguruan tinggi mampu menyediakan SDM yang dibutuhkan untuk penanggulangan AIDS? Seberapa jauh perguruan tinggi terlibat dalam pengembangan kapasitas bagi SDM penanggulangan AIDS? Seberapa jauh perguruan tinggi dilibatkan dalam menjamin kualitas SDM penanggulangan AIDS?

4. Sub sistem Informasi Strategis

Definisi: Sistem yang digunakan untuk melakukan produksi, analisis, diseminasi dan penggunaan informasi yang reliabel dan tepat waktu tentang determinan kesehatan, kinerja sistem kesehatan dan status kesehatan, dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

1. Apakah di wilayah Anda pernah dilakukan penelitian atau asesmen tentang

populasi kunci, surveilans terpadu perilaku dan biologi (STBP))?

2. Apakah ada sistem informasi terkait dengan upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang digunakan untuk membantu pengambilan keputusan ?

3. Bagaimana hasil dari sistem informasi ini didiseminasikan dan dimanfaatkan?

4. Apakah ada data populasi kunci dan sasaran program penanggulangan HIV dan AIDS?

Apa saja?

5. Seberapa jauh hasil-hasil penelitian yang disediakan oleh universitas dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan di tingkat daerah.

6. Apakah sistem informasi HIV dan AIDS sama dengan yang digunakan sistem kesehatan yang lain?

5. Sub sistem Penyediaan farmasi, alat kesehatan,dan makanan

Definisi: digunakan untuk melihat produk medis, teknologi yang dijamin kualitas, keamanan, efikasi, cost-effectiveness dan penggunaannya.

1. Bagaimana regulasi obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai (AMHP), bahan medis habis pakai (BMHP), alat diagnostik, dan makanan tambahan tersebut?

2. Dari mana sumber pendanaan untuk obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik, dan makanan tambahan?

3. Bagaimana jaminan kualitas terhadap obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik dan makanan tambahan?

4. Apakah ada masalah khusus yang terkait dengan penyediaan, distribusi dan kualitas obat, reagen, atau perlengkapan pencegahan?

5. Bagaimana prosedur akses terhadap terketersediaan obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai, alat diagnostik, dan makanan tambahan?

6. Apakah ada kendala untuk proses akses tersebut? Apabila ada, apa saja kendala tersebut dan bagaimana penyelesaiannya?

7. Apakah ada sistem informasi manajemen logistik yang berjalan? Bagaimana ini dilakukan dan siapa yang bertanggung-jawab?

8. Apakah ada aturan tentang obat yang spesifik(e.g. ARV pediatrik, TB-HIV, Hepatitis, ibu hamil)?

9. Apakah ada Standard Operasional Procedure (SOP) untuk mengeluarkan, mendistribusikan, dan memberikan kepada unit pelayanan kesehatan di tingkat propinsi atau kabupaten/kota?

10. Apakah ada SOP untuk meminjamkan obat kepada unit layanan lain di tingkat propinsi/

kab/kota?

6. Sub sistem Upaya Kesehatan

Definisi: intervensi kesehatan personal maupun masyarakat yang efektif, aman dan berkualitas yang disediakan bagi mereka yang membutuhkan di tempat dan waktu tertentu.

1. Bagaimana sistem penyediaan layanan kesehatan untuk penanggulangan HIV danAIDS di wilayah ini diorganisasikan?

2. Jelaskan secara singkat apa tanggung-jawab dari unit kesehatan dan apakah kapasitasnya sudah sesuai dengan tanggung-jawab saat ini?

3. Apakah jenis layanan kesehatan yang disediakan mencakup layanan pencegahan, pengobatan, paliatif dan rehabilitative, promosi kesehatan, dan dampak mitigasi? (check list jenis layanan)

4. Adakah layanan untuk dukungan kepatuhan berobat?

5. Adakah dukungan layanan pada kesejahteraan sosial dan bantuan hukum bagi ODHA yang miskin dan terkucilkan?

6. Apakah layanan pencegahan, diagnostik maupun pengobatan tersedia bagi semua orang (e.g. jarak, stigma dan diskriminasi, informasi layanan, biaya)?

7. Apakah di seluruh layanan HIV dan AIDS telah menyediakan dukungan gizi? kendala apa saja yang dihadapi?

8. Apakah di seluruh layanan telah mengupayakan menurunkan stigma dan diskriminasi (S&D) bagi ODHA? Apa saja upaya yang sudah dilakukan untuk menurunkan S&D?

9. Apakah sudah tersedia fasilitas dan peralatan medis untuk menerapkan kewaspadaan standar?

10. Bagaimana sistem jaminan kualitas unit pelayanan di sektor swasta, pemerintah dan LSM? Apakah supervisi disediakan untuk semua program atau program-program yang ada memiliki sistem supervisi yang berbeda? (apakah ada supervisi eksternal?)

11. Apakah penilaian kepuasan penerima manfaat dilakukan secara berkala? Bagaimana hasil tersebut digunakan?

12. Bagaimana sektor swasta dan LSM bisa secara bersama-sama terlibat dalam membangun jejaring layanan kesehatan di wilayah ini?

13. Bagaimana perencanaan untuk penyediaan layanan bagi wilayah terpencil (e.g. DTPK, DBK)? Bagaimana model penjangkauan untuk masyarakat di wilayah tersebut? (jika ada)

7. Sub sistem Pemberdayaan Masyarakat

Definisi: upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang dilakukan pemerintah melalui bentuk-bentuk kerjasama. Masyarakat dapat berupa LSM, perguruan tinggi, organisasi profesi bidang kesehatan, komunitas populasi kunci, dan dunia usaha. Definisi pemberdayaan masyarakat berdasarkan Perpres no:72 tahun 2012 tentang SKN adalah sebagai berikut “Subsistem pemberdayaan masyarakat adalah pengelolaan penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan,

berkesinambungan guna tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya”

1. Bagaimana bentuk kemitraan yang dilakukan pemerintah daerah dengan masyarakat (e.g.

LSM, komunitas populasi kunci, organisasi profesi kesehatan, perguruan tinggi, dll)?

2. Bentuk keterlibatannya seperti apa saja dalam penanggulangan AIDS?

3. Apakah ada regulasi yang dikeluarkan pemerintah daerah yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan AIDS?

4. Apakah pemerintah daerah mengalokasikan dana untuk program-program yang melibatkan peran aktif masyarakat? Contohnya: pelatihan kader kesehatan yang berasal dari masyarakat

5. Apakah di dalam kemitraan ini ada upaya pemerintah daerah ini untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penanggulangan AIDS?

6. Apakah kendala-kendala yang paling anda rasakan selama bermitra dengan pemerintah?

7. Apakah peran perusahaan swasta dalam penanggulangan HIV dan AIDS (e.g. Corporate Social Responsibility)

8. Apakah ada perawatan berbasis masyarakat di wilayah ini?

9. Apakah populasi kunci dan masyakarat dilibatkan dalam proses perencanaan, implementasi dan evaluasi dalam penanggulangan HIV dan AIDS?

10. Apakah ada komunikasi antara pembuat kebijakan dengan pelaksana di lapangan?

Apakah ada pertemuan konsultasi berkala?

11. Khusus untuk mitigasi, bagaimana pemanfaatan bantuan tunai bersyarat dari dinas sosial?

12. Apakah masyarakat turut serta mengurangi dampak stigma dan diskriminasi terhadap orang yang terinfeksi HIV dan keluarganya, serta terhadap komunitas populasi kunci?

13. Seberapa jauh peguruan tinggi sebagai bagian dari organisasi masyarakat sipil dilibatkan dalam perencanaan dan implementasi kebijakan dan program di daerah? Apa bentuk keterlibatannya?

Lampiran 2

Daftar Informan Penelitian

Wilayah Informan

Jawa Timur 1. Sekretaris tetap KPA Provinsi,

2. Pemegang Program HIV DAN AIDS di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur,

3. UPIPI Dr. Soetomo

4. Bidang Kesra Bappeda Provinsi Jawa Timur.

Surabaya 1. KPA Kota

2. Bidang PMK Dinkes Kota

3. Seksi Yankes Dasar Dinkes Kota 4. Satpol PP Kota

5. Kementerian Agama Kota 6. BAPPEKO

7. Bidang Kesra Kota 8. Dinas Pariwisata 9. Dinas Sosial Kota 10. Dinas Kominfo Kota 11. Dinas Sosial Kota 12. Dinas Perhubungan Kota 13. Dinas Pendidikan Kota 14. Polres

15. RSJ Menur

16. RSUD Dr Sutomo (UPIPI) 17. RSUD Dr Soewandhi 18. RSUD Bakti Darma Husada 19. Puskesmas Dupak

20. FKM Universitas Airlangga 21. KPAC Benowo

22. LSM Perwakos 23. LSM Gaya Nusantara 24. LSM Orbit

Wilayah Informan 25. LSM Hotline

Sidoarjo 1. KPA Kab. Sidoarjo

2. Dinas Kesehatan Kab. Sidoarjo (Dinkes) 3. Satpol PP Kab. Sidoarjo

4. Kementerian Agama Kab. Sidoarjo (Kemenag)

5. Dinas Sosial Tenaga Kerja Kab. Sidoarjo (Dinsosnaker) 6. Dinas Perhubungan Kab. Sidoarjo (Dishub)

7. Dinas Pendidikan Kab. Sidoarjo (Dispendik)

8. Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana Kab. Sidoarjo (BPMPKB)

9. Bappeda Kab. Sidoarjo

10. Puskesmas Porong, Kab. Sidoarjo 11. RSUD Sidoarjo

12. Humas Pemkab Sidoarjo

13. Warga Krian Peduli AIDS (Wakripa) 14. Gedangan Peduli AIDS (Gepas) 15. Yayasan Delta Crisis Center (DCC) 16. LSM Orbit

17. LSM Bina Hati

18. Paguyuban Remaja Peduli AIDS (PARPAS)

19. Komunitas Mahasiswa Peduli AIDS Sidoarjo (KOMMPAS)

Lampiran 3

Analisis Pemangku Kepentingan Penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur

Stakeholder Peran Normatif Peran di lapangan

Kepentingan

Stakeholder Peran Normatif Peran di lapangan

Kepentingan (Tinggi Sedang,

Rendah)

Sumber Daya (Tinggi, Sedang,

Rendah)

Kekuatan (Tinggi, Sedang,

Rendah) pelatihan dan ada

masalah KASI yang dirotasi sehingga belajar sendiri dan menyebabkan

interpretasi yang beda - Budget provinsi: tinggi

ke bidang penyakit menular.

- Logistik provinsi:

sedang

- Test HIV dan obat:

sedang

- Test IMS: rendah.

- Jumlah layanan testing HIV: tinggi

- Rujukan ARV 45 RS di 30 kab/kota

- Layanan VCT: tinggi

Surabaya: Tinggi Ketersediaan layanan pengobatan dan rujukan HIV dan AIDS

Sidoarjo: Sedang

HIV dan AIDS ada di Dinas Kesehatan

Stakeholder Peran Normatif Peran di lapangan

Dinas Sosial - Bidang rehabilitasi sosial dg

Stakeholder Peran Normatif Peran di lapangan

Stakeholder Peran Normatif Peran di lapangan

Kepentingan (Tinggi Sedang,

Rendah)

Sumber Daya (Tinggi, Sedang,

Rendah)

Kekuatan (Tinggi, Sedang,

Rendah) perilaku aman serta

pencegahan HIV dan AIDS

KPA pagu anggaran.

Lampiran 4

Pengukuran Tingkat Integrasi Program HIV dan AIDS ke dalam Sistem Kesehatan di Provinsi Jawa Timur

Subsistem Dimensi Pencegahan PDP Mitigasi Dampak

1. Manajemen dan Regulasi

1. Regulasi Integrasi sebagian

- Terdapat Perda, Renstra, SRAD 2011 - 2014 upaya penanggulangan HIV dan AIDS

- Penerapan di daerah berbeda karena tergantung anggaran

- Penerapan di daerah berbeda karena tergantung anggaran

- Penerapan di daerah berbeda karena tergantung anggaran 3. Akuntabilitas Integrasi penuh

Informasi HIV dan AIDS di

Subsistem Dimensi Pencegahan PDP Mitigasi Dampak Sumber Pembiayaan - Sumber dana untuk upaya

penanggulangan HIV dan

- Ada anggaran sosialisasi di Dispendik HIV dan AIDS terdiri dari dua cara yakni untuk pasien yang HIV dan AIDS terdiri dari dua cara yakni untuk pasien yang

Subsistem Dimensi Pencegahan PDP Mitigasi Dampak

- Pokja di KPA beranggotakan perwakilan dari SKPD terkait

Integrasi penuh

- Integrasi dilakukan melalui rapat koordinasi yang dilakukan oleh KPA

- Pokja di KPA beranggotakan perwakilan dari SKPD terkait

Integrasi penuh

- Integrasi dilakukan melalui rapat koordinasi yang dilakukan oleh KPA

- Integrasi dilakukan melalui rapat koordinasi yang dilakukan oleh KPA