• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengukuran Tingkat Integrasi

5.6 Tingkat Integrasi

5.6.1 Pengukuran Tingkat Integrasi

Pengukuran Tingkat integrasi di Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya, dan Kabupaten Sidoarjo dinilai berdasarkan beberapa kriteria yakni tidak terintegrasi, integrasi sebagian, integrasi penuh, tidak berlaku, dan tidak ada data.

a. Tidak Terintegrasi jika kebijakan/Program HIV dan AIDS secara struktural diorganisasikan dan berfungsi secara paralel dengan komponen sistem kesehatan lain.

b. Terintegrasi Sebagian jika ada keterkaitan antara struktur dan fungsi program HIV dan AIDS dengan struktur dan fungsi sistem kesehatan – pertukaran informasi, rujukan jika diperlukan, pertemuan-pertemuan yang sifatnya sementara dan ada kegiatan yang disinkronkan dan dikoordinasi antara struktur dan fungsi program HIV dan AIDS dengan sistem kesehatan dalam rangka untuk mencapai tujuan memperkuat penyediaan pelayanan kesehatan tetapi struktur dan fungsi masing-masing tetap terpisah dalam pengorganisasiannya.

c. Integrasi Penuh apabila ada perubahan-perubahan yang dilakukan di kedua struktur program sehingga menciptakan tata kelola, pengelolaan pembiayaan, penyediaan layanan atau sistem informasi yang satu atau menyatunya dua program disemua bidang-bidang fungsional meskipun secara struktur terpisah.

d. Tidak Berlaku jika dimensi yang ditentukan tidak berlaku untuk jenis intervensi/layanan yang dinilai (Pencegahan dan Promosi, Perawatan Dukungan dan Pengobatan, atau Mitigasi Dampak).

e. Tidak Ada Data jika dimensi tidak dapat dinilai karena tidak tersedia data untuk jenis intervensi yang dinilai (Pencegahan dan Promosi, Perawatan Dukungan dan Pengobatan, atau Mitigasi Dampak)

Tingkat integrasi kebijakan dan program penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur adalah terintegrasi sebagian. Subsistem manajemen dan regulasi sebagian besar dimensinya terintegrasi penuh kecuali pada dimensi regulasi masih termasuk terintegrasi sebagian. Hal ini dikarenakan meskipun telah terdapat Perda, Renstra, SRAD 2011 - 2014 upaya penanggulangan HIV dan AIDS, tetapi belum semua kab/kota di Jawa Timur mempunyai KPA. Selain itu penerapan di daerah berbeda karena tergantung anggaran dan prioritas daerah.

Pada subsistem pembiayaan untuk dimensi mekanisme pembayaran terhadap program promosi dan pencegahan tidak ada cukup data yang mendukung sehingga tingkat integrasinya tidak dapat ditentukan.

Subsistem penyediaan layanan mayoritas telah terintegrasi penuh dalam sistem kesehatan, kecuali pada integrasi dimensi jaminan kualitas layanan terhadap promosi dan pencegahan yang masih memiliki integrasi sebagian. Hal ini dikarenakan meskipun telah terdapat bimbingan teknis Dinkesprov ke Dinkes Kab/kota dan layanan kesehatan serta supervisi eksternal dari kegiatan CSR Pembangkit Jawa Bali, namun belum ada monev untuk promosi kesehatan yang dilakukan oleh SKPD. Untuk Kebijakan dan sistem manajemen pada subsistem sumber daya manusia bersifat tidak terintegrasi terhadap ketiga komponen penanggulangan HIV dan AIDS karena belum ada regulasi yang mengatur SDM untuk program HIV dan AIDS serta kewenangan pengaturan SDM ada di kab/kota.

Sebagian besar tingkat integrasi yang dimiliki oleh dimensi subsistem penyediaan obat dan perlengkapan medis bersifat tidak berlaku hal ini dikarenakan tidak adanya data yang mendukung untuk dilakukannya pengukuran tingkat integrasi antara dimensi terhadap komponen pencegahan. Pada subsistem sistem informasi semua dimensi memiliki integrasi sebagian terhadap ketiga komponen program penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur disebabkan sistem informasi yang berjalan yang meliputi SIHA, profil Dinkesprov dan P-Care belum terintegrasi serta evaluasi program hanya dilakukan di 10 kab/kota. Ditambah lagi walaupun telah dilakukan sero survei, pemetaan dan SCP namun hanya pada beberapa kab/kota saja. Pada subsistem pemberdayaan masyarakat sebagian dimensi telah terintegrasi sebagian terhadap program

penanggulangan HIV dan AIDS. Akan tetapi pada dimensi akses dan pemanfaatan layanan terhadap program promosi dan pencegahan tingkat integrasinya bersifat tidak berlaku karena tidak ada data yang mendukung. Secar ricni tingkat integrasi dimensi pada tujuh subsistem di Provinsi Jawa Timur terlihat pada tabel 5.15

Tabel 5.15 Tingkat Integrasi Kebijakan dan Program Penanggulangan HIV dan AIDS di Provinsi Jawa Timur

Subsistem Dimensi Promosi dan

Pencegahan

Pembiayaan Pengelolaan sumber pembiayaan ++ ++ ++

Penganggaran, proporsi, distribusi

Sistem informasi Sinkronisasi sistem informasi ++ ++ ++

Diseminasi dan pemanfaatan ++ ++ ++

Pemberdayaan masyarakat

Partisipasi masyarakat ++ ++ ++

Akses dan pemanfaatan layanan NA ++ ++

Catatan: +++ = terintegrasi penuh, ++ = terintegrasi sebagian,

-- = tidak terintegrasi, NA = Not Applicable/tidak berlaku

5.6.1.1 Kota Surabaya

5.6.1.3.1 Subsistem Manajemen dan Regulasi

5.6.1.3.1.1 Regulasi dan Pencegahan terhadap Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Subsistem regulasi telah terintegrasi penuh di Kota Surabaya, karena sudah ada kebijakan yang mengatur mulai dari Perda Penanggulangan HIV dan AIDS, Perwali dan di tingkat layanan ada SOP. Selain itu, ada juga berbagai kesepakatan bersama ditingkat layanan dan LSM untuk mendukung pelaksanaan program pencegahan, PDP dan Mitigasi damapak di Kota Surabaya.

5.6.1.3.1.2 Formulasi Kebijakan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Formulasi Kebijakan Pencegahan, PDP dan Mitigasi dampak HIV dan AIDS di Kota Surabaya telah terintegrasi penuh. Proses pengembangan kebijakan (perencanaan, penganggaran, alokasi dana dan pertanggungjawaban) program penanggulangan HIV dan AIDS menggunakan mekanisme penyusunan kebijakan yang berlaku di Kota Surabaya. Proses pembuatan kebijakan melibatkan SKPD, LSM dan pihak Swasta dalam bentuk kerjasama lintas sektoral dan lintas program. Dasar perencanaan program HIV dan AIDS juga sudah mengacu pada data epidemi HIV dan AIDS di Surabaya.

5.6.1.3.1.3 Akuntabilitas terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Dalam hal akuntabilitas terhadap pencegahan, PDP serta mitigasi dampak terhadap HIV dan AIDS, masyarakat Kota Surabaya sudah difasilitasi dengan berbagai media informasi berupa internet, media cetak serta berbagai kegiatan sosial dari LSM yang memberikan informasi dan edukasi kepada msyarakat secara umum dan ODHA terkait informasi mengenai HIV DAN AIDS termasuk informasi mengenai akses terhadap layanan HIV dan AIDS, LSM juga berperan sebagai penjangkau lapangan untuk kelompok populasi risiko tinggi HIV dan AIDS. Gambaran di atas menunjukan integrasi secara penuh dalam upaya pencegahan, PDP dan mitigasi dampak HIV dan AIDS.

5.6.1.3.2 Subsistem Pembiayaan

5.6.1.3.2.1 Pengelolaan Sumber Pembiayaan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Sumber pendanaan penanggulangan AIDS di Kota Surabaya berasal dari dana APBN, APBD dan donor. Pendanaan untuk program perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) juga bersumber dari APBN, APBD, dan bantuan luar negeri.

Untuk dimensi pengelolaan sumber pembiayaan terhadap pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan serta mitigasi dampak memiliki integritas sebagian, hal tersebut disebabkan karena perencanaan dan penyusunan anggaran dilakukan oleh SKPD masing-masing, namun dalam pelaksanaannya beberapa SKPD masih belum memprioritaskan anggaran untuk program HIV adn AIDS dan masih belum dilakukan assessment anggaran lintas sektor untuk program penanggulangan HIV DAN AIDS.

5.6.1.3.2.2 Penganggaran, Proporsi, distribusi dan pengeluaran terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Pemerintah Kota Surabaya memiliki alokasi anggaran untuk penanggulangan HIV dan AIDS dalam APBD Kota Surabaya, sesuai yang diamanatkan dalam Perda No. 4 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS. Rincian anggaran (komposisi) dan proporsi anggaran untuk masing-masing program penanggulangan disesuaikan dengan SKPD terkait. Dalam pelaksanaannya, belum adanya assessment khusus yang mendukung untuk pencapaian percepatan target MDGs terutama dalam program HIV dan AIDS.

Berdasarkan hal tersebut maka dimensi penganggaran ini dapat dikatakan terintegrasi sebagian.

5.6.1.3.2.3 Mekanisme Pembayaran Layanan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Dalam hal dimensi pencegahan pada subsistem mekanisme pembayaran, tidak cukup data yang didapatkan sehingga tidak bisa disimpulkan tingkat integrasinya. Sementara dimensi mekanisme pembayaran layanan terhadap upaya

PDP dan mitigasi dampak termasuk dalam integrasi penuh karena tidak ada perbedaan prosedur bagi ODHA untuk mengakses layanan kesehatan termasuk dalam pemberlakuan JKN bagi kelompok terdampak HIV dan AIDS sehingga dapat mempermudah akses terhadap layanan. Dukungan pemberdayaan bagi ODHA juga tidak dipungut biaya.

5.6.1.3.3 Subsistem Penyediaan Layanan Kesehatan

5.6.1.3.3.1 Ketersediaan Layanan dan Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Fasilitas layanan kesehatan di Kota Surabaya dengan layanan VCT terdapat di 7 rumah sakit dan 8 Puskesmas, layanan CST terdapat pada 7 rumah sakit, layanan PMTCT terdapat pada 3 rumah sakit dan 5 Puskesmas, layanan PTRM terdapat di 2 rumah sakit dan 2 Puskesmas, sementara layanan IMS terdapat di 18 Puskesmas serta layanan dengan LJASS terdapat di 6 Puskesmas.

Beberapa fasilitas layanan kesehatan tersebut menyediakan upaya yang mendukung dalam program pencegahan, perawatan, dukungan dan dukungan terhadap HIV DAN AIDS. Sementara dimensi ketersediaan layanan untuk program mitigasi dampak dilakukan dengan tersedianya layanan penjangkauan dan pendampingan serta pemberdayaan bagi ODHA. Dengan demikian dimensi ketersediaan layanan terhadap program pencegahan dan PDP serta mitigasi dampak dapat dikatakan terintegrasi penuh.

5.6.1.3.3.2 Koordinasi dan Rujukan terhadap Pencegahan,Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Dinas Kesehatan menjadi leading sector bidang kesehatan termasuk dalam penyediaan layanan HIV dan AIDS yang ada di Kota Surabaya. Pelaksaanaannya berkoordinasi dengan KPA Kota Surabaya dan pemberi layanan lain seperti RSUD Dr Soetomo, Puskesmas-Puskesmas dan rumah sakit-rumah sakit yang menjadi mitra dalam penyediaan layanan kesehatan mengenai HIV dan AIDS termasuk dengan LSM yang terlibat. Koordinasi ini dilakukan dalam bentuk pertemuan rutin setiap tiga bulan antar stakeholder. Koordinasi ini meliputi program pencegahan, program PDP dan mitigasi dampak sehingga dimensi

koordinasi dan rujukan untuk program pencegahan, PDP dan mitigasi dampak ini sudah terintegrasi penuh.

5.6.1.3.3.3 Jaminan Kualitas Layanan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Guna menjamin kualitas layanan terhadap upaya pencegahan, PDP dan mitigasi dampak, baik pihak rumah sakit, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, KPA dan LSM memiliki mekanisme tersendiri yang menyesuaikan masing-masing kebutuhan dari setiap institusi. Pelaksanaannya dilakukan dengan baik supervisi internal maupun eksternal dengan jadwal tertentu. Dalam hal ini Kota Surabaya masih tergolong dalam integrasi sebagian dikarenakan belum adanya mekanisme yang mengatur sistem monitoring dan evaluasi secara menyeluruh terhadap program-program penanggulangan HIV dan AIDS terhadap upaya baik pencegahan, PDP serta mitigasi dampak HIV dan AIDS.

5.6.1.3.4 Subsistem SDM

5.6.1.3.4.1 Kebijakan dan Sistem Manajemen terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

SDM untuk penanggulangan AIDS melibatkan tenaga pemerintah dan non pemerintah. Kebijakan SDM untuk tenaga pemerintah yang melibatkan dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya diatur oleh Dinas Kesehatan.

Sedangkan SDM untuk tenaga non pemerintah yang berasal dari LSM dikoordinasikan oleh KPA dan Dinas Kesehatan.

Secara khusus Kota Surabaya masih belum memiliki regulasi dan mekanisme yang mengatur manajemen SDM yang terlibat baik dari upaya pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan serta mitigasi dampak.

Kebijakan mengenai sumber daya manusia kesehatan yang terlibat dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Surabaya masih berpedoman pada Permenkes Nomor 21 tahun 2013 dan diberlakukan penyesuaian terhadap kondisi di Surabaya. Keterbatasan jumlah SDM yang menangani program HIV dan AIDS juga dirasa masih menjadi kendala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

kebijakan dan sistem manajemen terhadap program pencegahan, PDP serta mitigasi dampak terhadap HIV dan AIDS masih belum terintegrasi.

5.6.1.3.4.2 Pembiayaan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Pendanaan SDM tenaga pemerintah untuk penanggulangan HIV dan AIDS mengikuti pendanaan tenaga pemerintah sebagai PNS, hal tersebut misalnya dilakukan di Dinas Kesehatan Kota Surabaya, tidak ada pendanaan khusus bagi tenaga yang terlibat dalam program penanggulangan HIV dan AIDS. Sedangkan untuk SDM non pemerintah berasal dari pendanaan (honor atau insentif) dari donor yang membiayai program yang mereka lakukan. Program dari LSM misalnya yang umumnya bersifat promosi dan pencegahan. Gambaran di atas menunjukkan bahwa dimensi pembiayaan SDM terhadap pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan serta mitigasi dampak di Kota Surabaya masih terintegrasi sebagian.

5.6.1.3.4.3 Kompetensi terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Kompetensi SDM dalam penanggulangan HIV dan AIDS diperoleh melalui pelatihan-pelatihan penguatan yang diadakan KPA maupun Dinas Kesehatan. Dalam upaya pencegahan, Surabaya masih belum memiliki kebijakan secara khusus yang mengatur standar kompetensi untuk SDM. Sehingga dapat dikatakan pada dimensi kompetensi terhadap upaya pencegahan, Kota Surabaya masih terintegrasi sebagian.

Kompetensi petugas kesehatan di dinas kesehatan merupakan kompetensi petugas sesuai latar belakang pendidikannya masing-masing, apakah sebagai dokter, perawat, bidan, atau tenaga kesehatan lainnya. Kompetensi petugas tersebut menunjang dalam pelaksanaan upaya PDP serta mitigasi dampak termasuk dengan adanya sertifikasi bagi tenaga kesehatan misalnya konselor dan dokter untuk penanganan HIV dan AIDS. Dalam pelaksanaannya juga dilengkapi dengan adanya SOP yang menjadi acuan dalam pemberian layanan yang

berkualitas. Integrasi dimensi kompetensi SDM terhadap upaya PDP serta mitigasi dampak ini menunjukkan integrasi secara penuh.

5.6.1.3.5 Subsistem Penyediaan Obat dan Perlengkapan Medik

5.6.1.3.5.1 Regulasi Penyediaan, Penyimpanan material diagnostik dan terapi terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Bentuk integrasi dimensi ini terhadap upaya PDP dalam sistem kesehatan menunjukkan integrasi penuh mengingat Kota Surabaya sudah menjalankan sesuai prosedur yang berlaku terkait akses terhadap ketersediaan obat, reagen, perlengkapan pencegahan, alat medis habis pakai, bahan medis habis pakai dan alat diagnostik di Surabaya yaitu Puskesmas dapat mengakses langsung ke Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Rumah sakit sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan yang berperan dalan upaya perawatan, dukungan dan penggobatan dapat mengakses obat dan reagen ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, untuk perlengkapan pencegahan dapat diakses ke KPA Kota Surabaya sedangkan bahan medis habis pakai didapatkan secara mandiri.

Sedangkan untuk dimensi regulasi penyediaan, penyimpanan material diagnostik dan terapi terhadap upaya promosi dan pencegahan pencegahan serta mitigasi dampak tidak cukup data yang didapatkan sehingga tidak bisa disimpulkan tingkat integrasinya.

5.6.1.3.5.2 Sumber Daya terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Untuk dimensi sumber daya terhadap pencegahan, PDP serta mitigasi dampak dapat dilihat dari sumber pembiayaan dalam penyediaan obat dan perlengkapan medik, namun dalam hal ini dimensi sumber daya terhadap pencegahan dan mitigasi dampak tidak dapat diintegrasikan karena data yang didapatkan tidak cukup.

Sumber pembiayaan untuk penyediaan, penyimpanan, dan distribusi obat dan perlengkapan medis terhadap upaya PDP untuk HIV dan AIDS di Surabaya berasal dari pusat, GF dan APBD. Ketiga sumber pembiayaan memegang peranan

penting pada tiap-tiap sektor pembiayaan baik di rumah sakit, dinas kesehatan maupun KPA Kota Surabaya. Proses monitoring terhadap pengadaan logistik pengobatan juga sudah didukung secara online. Kondisi tersebut menunjukkan tingkat integrasi sumber daya terhadap upaya PDP sudah terintegrasi secara penuh.

5.6.1.3.6 Subsistem Sistem Informasi

5.6.1.3.6.1 Sinkronisasi Sistem Informasi terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Data mengenai kasus HIV dan AIDS dikumpulkan melalui suatu sistem baik manual maupun digital pada rumah sakit, Puskesmas dan LSM. Sistem informasi digital di Surabaya berkaitan dengan HIV dan AIDS ada beberapa macam, hal tersebut sangat mendukung untuk mendapatkan informasi secara cepat ketika dibutuhkan, namun antara satu sama lain masih belum terintegrasi dengan baik. Sinkronisasi sistem informasi masih belum mendukung transfer data HIV dan AIDS lintas sektor termasuk data anggaran serta monitoring dan evaluasi. Sinkronisasi sistem informasi ini menjadi penting terhadap upaya pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan serta mitigasi dampak yang dilakukan. Berdasarkan gambaran tersebut di atas, maka tingkat integrasi pada dimensi ini termasuk dalam integrasi sebagian.

5.6.1.3.6.2 Diseminasi dan Pemanfaatan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Dimensi ini terhadap upaya pencegahan, PDP dan mitigasi dampak sudah menunjukkan integrasi penuh. Hasil pengolahan data sistem informasi program HIV dan AIDS yang ada saat ini telah digunakan untuk upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS, pembuatan rencana strategis dan perencanaan program di Kota Surabaya. Sementara kegiatan diseminasi informasi biasanya dilakukan pada saat rapat koordinasi baik oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya maupun KPA Kota Surabaya.

5.6.1.3.7 Subsistem Pemberdayaan Masyarakat

5.6.1.3.7.1 Partisipasi Masyarakat terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Bentuk partisipasi masyarakat dalam program HIV dan AIDS di Kota Surabaya dapat dilihat langsung yaitu dengan terlibatnya masyarakat, LSM dan SKPD lainnya. Baik terhadap upaya pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan serta mitigasi dampak sudah menunjukkan integrasi secara penuh.

Semua yang terlibat didalamnya memiliki peranan masing-masing termasuk tidak menutup kemungkinan kerjasama dengan sektor swasta atau perusahaan.

5.6.1.3.7.2 Akses dan Pemanfaatan Layanan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Akses dan Pemanfaatan layanan terkait dalam upaya PDP dan mitigasi dampak HIV dan AIDS di Kota Surabaya ditunjukkan dengan sudah dilaksanakannya penggunaan terhadap JKN oleh populasi kunci. Namun dalam pelaksanaannya masih terdapat kendala misalnya data identitas diri pada salah satu populasi kunci yang masih dipermasalahkan. Dengan demikian integrasi dimensi ini terhadap upaya PDP dan mitigasi dampak masih sebagian. Sementara dimensi ini terhadap upaya pencegahan tidak dapat ditarik kesimpulan karena keterbatasan data. Gambaran tingkat integrasi dari setiap dimensi pada subsistem terhadap program penanggulangan HIV dan AIDS dapat dilihat pada tabel 5.16

Tabel. 5.16 Tingkat Integrasi Kebijakan dan Program Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Surabaya

Subsistem Dimensi Promosi dan

Pencegahan

PDP Mitigasi Dampak Manajemen dan

Regulasi

Regulasi +++ +++ +++

Formulasi Kebijakan +++ +++ +++

Akuntabilitas dan Daya Tangkap +++ +++ +++

Pembiayaan Pengelolaan sumber pembiayaan ++ ++ ++

Penganggaran, proporsi, distribusi dan pengeluaran

++ ++ ++

Mekanisme pembayaran ++ ++ ++

Penyediaan

Sistem informasi Sinkronisasi sistem informasi ++ ++ ++

Diseminasi dan pemanfaatan +++ +++ +++

Pemberdayaan masyarakat

Partisipasi masyarakat +++ +++ +++

Akses dan pemanfaatan layanan NA ++ ++

Catatan: +++ = terintegrasi penuh, ++ = terintegrasi sebagian,

-- = tidak terintegrasi, NA = Not Applicable/tidak berlaku

Berdasarkan tabel 5.16 tingkat integrasi dengan kinerja program HIV dan AIDS di Kota Surabaya mayoritas sudah terintegrasi secara penuh. Subsistem yang masih terintegrasi sebagian misalnya pada subsistem pembiayaan, subsistem penyediaan layanan pada dimensi jaminan kualitas layanan, subsistem sumber daya manusia pada dimensi pembiayaan dan subsistem informasi pada dimensi sinkronisasi sistem informasi.

Subsistem sumber daya manusia pada dimensi kebijakan dan sistem manajemen masih belum terintegrasi karena Kota Surabaya masih belum memiliki regulasi khusus mengenai SDM untuk program HIV dan AIDS terhadap upaya pencegahan, PDP dan mitigasi dampak.

5.6.1.2 Kabupaten Sidoarjo

5.6.1.3.1 Subsistem Manajemen dan Regulasi

5.6.1.3.1.1 Regulasi dan Pencegahan terhadap Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Regulasi mengenai pencegahan, PDP dan Mitigasi Dampak HIV dan AIDS di Kabupaten Sidoarjo telah terintegrasi penuh dalam sistem kesehatan. Hal

ini dikarenakan sudah kebijakan pencegahan berupa Keputusan Bupati Sidoarjo tentang KPA Kabupaten Sidoarjo, kebijakan terkait Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) di tingkat layanan berupa Keputusan Direktur RSUD Kabupaten sidoarjo tentang pembentukan klinik VCT dan CST. Regulasi mengenai mitigasi dampak adalah Keputusan Bupati Sidoarjo tentang tenaga pelaksana pendampingan penderita HIV dan AIDS dan penjangkauan kelompok resiko tinggi (RISTI) HIV pada dinas kesehatan kabupaten sidoarjo tahun anggaran 2008.

5.6.1.3.1.2 Formulasi Kebijakan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Formulasi Kebijakan mulai dari perencanaan, hingga pelayanan dalam rangka penanggulangan AIDS di Kabupaten Sidoarjo telah dijalankan. Formulasi kebijakan terhadap pencegahan HIV dan AIDS di Kabupaten Sidoarjo telah terintegrasi penuh dalam sistem kesehatan.Pada Program Perawatan, Dukungan dan Pengobatan HIV dan AIDS di Kabupaten Sidorjo hasil assessment telah digunakan sebagai dasar dalam menentukan lokasi untuk penambahan klinik VCT dan LJSS. Formulasi kebijakan terhadap program PDP di Kabupaten Sidoarjo ini telah terintegrasi penuh dalam sistem kesehatan. Hasil survei terkait program HIV dan AIDS di Kabupaten Sidoarjo telah dipakai sebagai dasar untuk bahan advokasi. Oleh karena itu formulasi kebijakan terhadap program mitigasi dampak ini telah terintegrasi penuh dalam sistem kesehatan.

5.6.1.3.1.3 Akuntabilitas terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Akuntabilitas dan Daya Tanggap terhadap pencegahan, PDP dan Mitigasi Dampak HIV dan AIDS di Kabupaten Sidoarjo terintegrasi penuh dengan sistem kesehatan, Terdapat Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat dan Warga Peduli AIDS di Kabupaten Sidoarjo sehingga mempermudah akses masyarakat terhadap informasi terkait pencegahan. Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat selain mempermudah masyarakat untuk mengakses informasi terkait pencegahan juga mempermudah akses masyarakat terhadap informasi terkait PDP. Kelompok

komunitas aktif yang melakukan sosialisasi kepada kelompok risiko tinggi seperti waria, gay, kelompok dukungan sebaya dan paguyuban pemilik kamar. Program kelompok ini bertujuan untuk pemantauan dan penurunan stigma.

5.6.1.3.2 Subsistem Pembiayaan

5.6.1.3.2.1 Pengelolaan Sumber Pembiayaan terhadap Pencegahan, Perawatan, Dukungan dan Pengobatan serta Mitigasi Dampak

Sumber pendanaan penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Sidoarjo berasal dari APBN, APBD dan donor luar negeri. Dimensi pengelolaan sumber pembiayaan terhadap program pencegahan, PDP dan Mitigasi dampak masih bersifat terintegrasi sebagian dalam sistem kesehatan. Hal ini dikarenakan seharusnya dilakukan penganggaran yang berbasis kinerja dan proporsi dana

Sumber pendanaan penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Sidoarjo berasal dari APBN, APBD dan donor luar negeri. Dimensi pengelolaan sumber pembiayaan terhadap program pencegahan, PDP dan Mitigasi dampak masih bersifat terintegrasi sebagian dalam sistem kesehatan. Hal ini dikarenakan seharusnya dilakukan penganggaran yang berbasis kinerja dan proporsi dana