• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V Penutup

B. Saran

1. Untuk Pola komunikasi sebaiknya dokter tidak bertindak secara pasif saat berinteraksi dengan pasien, sebagaimana adanya konsep patient-center hal ini diharapkan dokter lebih komunikatif dengan pasien. Komunikasi dilakukan secara lisan dua arah oleh petugas secara interpersonal, bisa juga menggunakan media audio visual, tulisan atau simbol/gambar yang menarik. Komunikasi efektif bila pesan bisa diterima dengan baik dan dipahami kemudian menghasilkan respon yang positif. Untuk Pola komunikasi sebaiknya DPJP,Perawat, Bidan, Petugas Penunjang Medik Faramasi(Apotek) Laboratorium ,Radiologi,Gizi,dan non Medik terutama, IGD, Reception, Kasir, Security, Cleaning service, Jaga parkir, administrasi Manajemen saat berinteraksi dengan pasien dan keluaraga mengikuti SPO Komunikasi Efektif dan panduan Komunikasi Efektif sesuai Akreditasi Kars 2012

2. Dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik semua kelengkapan yang meliputi ketersediaan SDM, anggaran biaya, sarana dan prasarana serta metode pemberian pelayanan perlu dikemas dengan komunikasi yang baik antara penyedia dan

127

pengguna layanan. Komunikasi di Rumah Sakit terutama di Instalasi Rawat Inap sangat diperlukan Interprofesi Collaboration Practice sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayan. Oleh karena itu, komunikasi yang efektif dan kolaborasi perlu diberi penekanan yang kuat di semua program perawatan kesehatan profesional untuk menjamin kepuasan dan keamanan pasien.

Dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik ,Pelayanan Rumah Sakit harus mengutamakan Patient Safety, Kejelasanan administrasi pelayanan,tanggap,cepat, ramah dan empati sesuai dengan motto RSUD PEDULI (Promotive,Edukasi,Love,Inovatif}

serta Patient Focus.

3. Untuk penelitian selanjutnya, penelitian ini hanya menganalisis beberapa variabel terkait efektivitas pola komunikasi sementara masih banyak dimensi variabel lain yang bisa berkaitan dengan efektivitas pola komunikasi sehingga penelitian selanjutnya dapat mengkaji lebih luas lagi tentang komunikasi.

128

DAFTAR PUSTAKA

Abraham et al. (1992). Understandings And Misunderstandings of Eight Grades of Five Chemistry Concepts Found in Textbooks. J.

Research In Science Teaching 29(2); 105-120.

Ahmad, Syarwani & Harapan, Edi. (2014). Komunikasi antarpribadi.

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Al-Abri and Al-Balushi. (2014). Patient Satisfaction Survey as a Tool Towards Quality Improvement. Oman Medical Journal, Vol. 29, No.

1, hal 3-7

Anas S. (2009). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers Arianto, Henry. (2012). Modul Kuliah Metode Penelitian Hukum. Jakarta:

Universitas Esa Unggul.

Artati (2016). Pengaruh komunikasi verbal dan nonverbal dokter-pasien terhadap kepuasan pasien di instalasi rawat jalan mother and child centre rs dr. Wahidin sudirohusodo makassar. Makassar : Universitas Hasanuddin

Bungin, B. (2006). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Kencana : Jakarta.

Dabholkar, P.C., Shepherd, D., dan Thorpe, D.I. (2000). A Comprehensive Framework for Service Quality: An Investigation of Critical Conceptual and Measurement Issues Through a Longitudinal Study.

Journal of Retailing 76 (2)

Dalton, Russell J., Reccia, Steve., Rohrschneider, Irvine. J. (2003). The Environmental Movement and The Modes of Political Action.

Comparative Political Studies, Vol. XX No. X, Sage Publications.

Dody Purwanto, Titik Anggraeni, Sri Sayekti Heni S.(2014). Hubungan komunikasi verbal dan non verbal perawat dengan tingkat kepuasan pasien di instalasi rawat inap rsud kabupaten sragen. Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia 7:2.

Dugan, D.O.(1989). Laughter and Tears:Best Medicine for Stress.Nursing Forum, 24 : (1)

129

Ekman, P. & Friesen, W. V. (1969). Nonverbal Leakage and Clues to Deception. Psychiatry, 32(1), 88-106.

Fitriani,Ayu. (2014). Hubungan komunikasi nonverbal dokter dengan kepuasan pasien di instalasi rawat inap rs unhas makassar 2014.

Makassar : universitas Hasanuddin

Hafizurrachman. (2004). Pengukuran Kepuasan Suatu Institusi Kesehatan. Majalah Kedokteran Indonesia. Volume 54. nomor 7. 283 – 288.

Handayaningsih,Isti.(2007).Dokumentasi Keperawatan “DAR” panduan, konsep dan aplikasi.Jogjakarta: MITRA CENDIA Press

Istiyanto dan syafei. (2008). Studi Komparatif Strategi Komunikasi Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas Dan Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto Terhadap Penyembuhan Pasien

Konsil Kedokteran Indonesia. (2006). Komunikasi Efektif Dokter-Pasien.

Jakarta: KKI.

Koontz., Weihrich (1988), Management, 9th ed, Mc Graw Hill Inc, Singapore, pp.461 -465

Liliweri, Alo. M.S.(1997). Komunikasi Antarpribadi. PT. Citra Aditya Bakti.Bandung.

Lloyd, M. and Bor, R. (1996). Communication Skills for Medicine.

Edinburgh: Churchill Livingstone..

Meryn. (1998).Improving doctor-patient communication, not an option but a necessity.British medical journal, vol 316, no 7149.

Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi Suatu pengantar. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung

Neff, K.D., McGehee, P. (2010). Self compassion and Psychological Resilience Among Adolescents and Young Adults. Psychological press, self identity, 225-240

Nina Siti Salmaniah Siregar.(2016). Komunikasi terapeutik dokter dan paramedic Terhadap kepuasan pasien dalam pelayanan Kesehatan

130

pada rumah sakit bernuansa islami Di kota medan.medan : universitas islam negeri sumatera utara

Nursalam, (2008), Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktek Keperawatan Profesional Edisi Pertama Salemba Medika Jakarta Nursalam, (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan

Praktek, Salemba Medika, Jakarta.

Ong, L.M., de Haes, J.C., Hoos, A.M. and Lammes, F.B. (1995). Doctor–

Patient Communication: A Review Of The Literature, Social Science and Medicine.

Philip Kotler , (1997). Dasar-Dasar Pemasaran – Principles of marketing, edisi VII, Jakarta.

Potter, P.A & Perry, A.G. (1993). Fundamental of Nursing Concepts, Process and Practice. Thrd edition. St.Louis: Mosby Year Book.

Prisgunanto, Ilham. (2006). Komunikasi Pemasaran: Strategi dan Taktik.

Bogor: Ghalia Indonesia.

Priyatno, Dwi. (2008). Mandiri Belajar SPSS untuk Analisis Data dan Uji Statistik Edisi Pertama, Mediakom, Jakarta.

Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

Ronald B. Adler, George Rodman.(2006). Understanding Human Communication.Oxford; Oxford university press

Schermerhorn, Hunt & Osborn. (1994). Managing Organoizational Behavior. New York: John Willey & son

Sekaran U. (2003). Research Methods For Business. Jakarta: Salemba Empat

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung:Alfabeta.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: CV.Alfabeta

131

Sullivan, J.L & Deane, D.M. (1988). Humor and Health. Journal of qerontology nursing 14 (1)

Suryani, (2005). Komunikasi Terapeutik Teori Dan Praktek. EGC. Jakarta.

Syahrir et al, (2015). Perilaku Komunikasi Nonverbal Dokter Dan Hubungannya Dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Se-Kota Makassar Tahun 2015.Universitas Hasanuddin : Makassar Taylor dan Cronin (1997) Taylor SA, Cronin JJ. Modelling pastient

satisfaction and service quality. Journal of Healthcare Marketing 1994;Vol.14(1):34-44

Tjiptono, Fandy, (2000), Prinsip – Prinsip Total Quality Servise (TQS) Ed.

2.Cet 1. Andi offset Yogyakarta (Purba, 2003). KOmunikasi dalam keperawatan.USU Digital Library

Wahyuni T, Yanis A, Erly.(2013). Hubungan Komunikasi Dokter–Pasien Terhadap Kepuasan Pasien Berobat Di Poliklinik RSUP DR. M.

Djamil Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, (online), Vol 2(3)

Wiyono, FX Isbagyo. (1999). Menyamakan persepsi tentang komitmen.

Jakarta : Binaman Pressindo

132

LAMPIRAN I

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM (IN-DEPTH INTERVIEW)

Nama Informan : Jabatan Informan :

A. PETUNJUK

1. Menyampaikan ucapan terima kasih kepada informan atas kesediaannya meluangkan waktu yang untuk diwawancarai.

2. Menjelaskan tentang maksud dan tujuan wawancara.

B. PELAKSANAAN WAWANCARA 1. Perkenalan dari pewawancara

2. Menjelaskan maksud wawancara kepada informan 3. Meminta kesediaan informan untuk diwawancarai.

133

LAMPIRAN II

PENJELASAN WAWANCARA DAN DAFTAR PERTANYAAN

A. PENJELASAN WAWANCARA

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pandangan infroman mengenai efektivitas pola komunikasi dalam pelayanan di RSUD Balikpapan mengidentifikasi masalah ataupun kendala yang dihadapi berkaitan dengan pola komunikasi yang sudah ada.

Sebagaimana dengan tujuan umum dari penelitian ini yaitu menganalisis efektivitas pola komunikasi di RSUD Balikpapan.

B. DAFTAR PERTANYAAN

1. Untuk Pasien / Keluarga Pasien

a. Apakah dokter/perawat mau berkomunikasi dengan anda ? b. Sudah berapa kali anda berkonsultasi dengan dokter tentang

penyakit yang diderita pasien ?

c. Apakah dokter/perawat mau mendengarkan keluhan anda berdasarkan yang dialami pasien ?

d. Apakah dokter/perawat menerangkan dengan jelas dan terbuka tentang penyakit yang di derita pasien?

e. Bagaimana Sikap Dokter/perawat saat menangani anda (pasien)/ anggota keluarga anda ?

2. Untuk Dokter, Perawat, staf penunjang

a. Bagaimana pola komunikasi yang terbangun dengan rekan sejawat?

b. Bagaimana pola komunikasi yang terbangun dengan staf lainnya?

c. Bagaimana gambaran komunikasi anda dengan pasien

134

d. Apa hambatan ketika berkomunikasi dengan pasien ? dan dengan staf lainnya ?

3. Untuk Manajemen (Ka.seksi pelayanan dan Ka.seksi penunjang) a. Bagaimana gambaran pola komunikasi yang terbangun di rumah

sakit ini?

b. Apa hambatan ketika berkomunikasi dengan staf di rumah sakit?

135

LAMPIRAN 3 HASIL WAWANCARA

Variabel Informasi

Tanggal Wawancara

&

Observasi

Responden

/ Umur Jawaban Informan

Komunikasi Satu arah

Gambaran

Komunikasi Yang Terjadi Saat

Pemberian Pelayanan

14 Juli 2017 RP (RNI 30 thn)

“di rawat jalan dengan jumlah pasien yang cukup banyak, keluhan dari pasien dokternya cepat-cepat padahal pasien masih mau

mengungkapkan penyakitnya, terutama di penyakit dalam, pelayanan gigi dan neurologi serta rehabilitasi medik, begitu juga pelayanan apotik, pasien mengeluhkan lama dan bosan menunggu”

Komunikasi dua Arah

Gambaran

Komunikasi Yang Terjadi Saat

Pemberian Pelayanan ke pasien, komunikasi dengan sejawat dan staf lainnya

12 Juli 2017

13 Juli 2017

13 Juli 2017

RD1

(KSD 45 thn)

RD2

(NVI 40 thn)

RP1

(LNA, 25 thn)

“Penjelasan tentang penyakit kepada pasien dan keluarga rata-rata sudah baik dan cukup waktunya hanya kendala untuk pasien-pasien rawat inap yang tidak ada keluarga dan bahasa suku yang tidak dimengerti oleh dokter dan perawat”.

“Komunikasi di Rawat inap cukup bagus hanya karena ada kekurangan tenaga perawat kadang-kadang pengiriman pasien rawat inap agak terlambat pasien Poli rawat jalan cukup banyak sehingga tidak ada assessment pasien rawat jalan yang prioritas sehingga sering pasien masuk rawat inap dalam keadaan yang sangat jelek”

“Keluarga saya masuk RSUD melalui UGD dengan kasus sesak nafas ...tanpa rujukan karena, pasien sebenarnya sedang berkunjung ke keluarga di Balikpapan, tiba-tiba sesak nafas terus dilarikan ke RSUD Balikpapan ,di UGD diberikan pertanyaan yang berulang ulang baru dilakukan pemeriksaan dokter dan tindakan ...disarankan masuk rawat inap menunggu cukup lama ....di UGD ...infonya .menunggu ruang rawat inap tersedia ...terasa membosankan menunggu 5 jam lebih ..setelah masuk rawat inap ....msh tunggu dokternya datang dulu....ternyata setelah

136

Variabel Informasi

Tanggal Wawancara

&

Observasi

Responden

/ Umur Jawaban Informan

14 Juli 2017

12 Juli 2017

13 Juli 2017

RD3

(RNO, 37 thn)

RN1

(WRD 50 thn)

RP2

(JNA 40 thn)

2 hari dirawat ..pasien harus dirujuk ke RSUD yang lebih lengkap yg ada CT Scan nya dan dokter Spesialis Onkologinya”

“Pola komunikasi lewat media komunikasi untuk IBS dengan dapat komunikasi lewat WA ,telpon,HP. Komunikasi dengan pasien rawat inap belum optimal Karena belum ada Poli Anestesi terutama untuk konsultasi Pra Operasi ,komunikasi dengan Instalasi Penunjang sudah cukup baik dan penggunaan IT mendukung. Kendala komunikasi rawat inap tidak terlalu banyak kecuali untuk Cito dan Gawat Darurat yang perlu tindakan cepat dan tepat Hubungan dengan Manajemen efektif dengan WA Group tapi perlu lebih di intensifkan dan kontinu”

“Perawat selalu berbicara langsung dengan pasien dan keluarga baik secara verbal maupun isyarat dan anggukan atau menyentuh dengan tangan dan senyum kepada pasien ,untuk melakukan tindakan medis atas instruksi dpjp misalnya mengompres ,menyeka pasien dan kalau pasien memanggil apabila ada masalah klinis pasien yang harus segera ditangani seperti selang infus berdarah dan atau pasien kesakitan”

“perawat dan dokternya ramah dan baik tetapi Bel untuk memanggil pasien mati sdh 1 bulan ....jadi keluarga lari-lari untuk panggil perawat apalagi kalau malam hari agak susah dipanggil ke ruangan ...pelayanan obat dan makanan cukup baik ...Dokter Spesialis datang setiap hari tapi tidak tentu jamnya ....kadang-kadang pagi-pagi sekali atau malam hari pasien sudah tidur,Tanya jawab dengan dokter masih terbatas waktu ...karena dokter sibuk dan cepat-cepat pergi, msh perlu papan-papan

137

Variabel Informasi

Tanggal Wawancara

&

Observasi

Responden

/ Umur Jawaban Informan

13 Juli 2017 RN2

(NLA, 24 thn)

penunjuk jalan kemana mana”

“Perawat melakukan komunikasi verbal dengan mengunakan kata-kata yang sopan ,jelas,dan mudah dimengerti oleh pasien dan digunakan saat akan melakukan setiap tindakan, menjelaskan aturan setiap tindakan yang dilakukan. Komunikasi non verbal dilakukan dengan senyum saat berkomunikasi ,intonasi, nada bicara halus, jangan menggunakan intonasi yang kasar. Perawat melakukan tindakan medis kepada pasien sesuai dengan instruksi DPJP ,tidak mendahului DPJP dan dokter jaga menghubungi perawat dengan instalasi penunjang baik normal saja, kendala komunikasi pada pasien-pasien Lansia ,Stroke yang sama sekali tidak bisa ngomong”

Komunikasi Multi Arah

Gambaran

Komunikasi Yang Terjadi di Rumah Sakit antar pemberi

pelayanan

8 Agustus 2017

RK1

(DNA, 53 thn)

“pasien dengan diabetes kronis yang harus dilakukan amputasi salah satu atau dua-duanya dari kakinya oleh dr. Sp.Bedah, dr. Sp.

Anastesi, dr Sp. Jantung, dr Sp S, dr.Sp.PK dan juga dr Sp.KJ untuk proses kejiwaannya akibat hilangnya kedua kakinya, jadi dibektuk tim dokter oleh ketua komite medik dan dilakukan briefing antar dokter spesialis termasuk kepala ruang perawatan dan Ka. ICU… setelah ada komitmen bersama baru dari Sp.PD dan dr Sp. B serta Sp. An menyampaikan ke pasien dan keluarganya untuk dilakukan tindakan bedah yang sudah direncanakan tanggal dan harinya, kemudian bukan hanya komunikasi dari dokternya saja dilakukan juga komunikasi ke penunjang, untuk penunjang melalui dr. Sp.PK dan ditambah Sp.

Radiologi juga terlibat untuk perawat khusus di bangsal bedah dan perawat ICU serta perawat OK, juga untuk pasien-pasien stroke syndrome dan kasus kanker serta narkoba itu memerlukan tim dr spesialis agar proses perawatannya optimal, tapi yang menjadi kendala adalah klaim

138

Variabel Informasi

Tanggal Wawancara

&

Observasi

Responden

/ Umur Jawaban Informan

14 Juli 2017 RP3

(WRN, 60 thn)

BPJS tidak semua dokter dibayar, jaspelnya hanya dr Sp.PD dan dr Sp.B saja, ini yang sering menjadi polimek administrasi keuangan di RSUD Balikpapan, sehinggga mempengaruhi pola komunikasi rawat bersama dr spesialis.

“Penjelasan perawat ruangan menjelaskan hak dan kewajiban pasien dan keluarganya mulai segala fasilitas yang didapat pasien ,jam kunjujngan ,DPJP nya dan perawat yang bertugas . Form hak dan kewajiban pasien dibubuhi tanda tangan pasien dan keluarganya atau yang bertanggungjawab sama pasiennya. Pada komunikasi pasien ada masalah status pasien tergantung Pendidikan dan status social ..pernah dan sering dimarahin pasien Karena ketidakpahaman pasien dan keluarga masalah administrasi ..seharusnya ada penjelasan di Counter atau UGD…dan petugas Admin yang keliling menjelaskan. Komunikasi antar Perawat sering tejadi Miskomunikasi pada serah terima DMK dan berita acara kalau ada kejadian fatal …akan dirapatkan di morning report. Juga komunikasi antar Perawat ruang UGD ,ICU…Lab ,Radiologi .masih ada masalah …karena kurangnya pemahaman dan dokter jaga pada saat malam hari atau hari libur komunikasi malas2 mejawab Karena ngantuk Komunikasi dengan DPJP melalui dokter jaga lancar sdh berjalan baik Masih ada masalah ketegasan Managemen untuk pasien pulang dari DPJP sdh bisa pulang …Keputusan Management berbeda”

Komunikasi Vertikal

Gambaran arah Komunikasi Yang Terjadi dalam

Pemberian Pelayanan

13 Juli 2017 RP 2 (JNA 40 thn)

“Komunikasi Manajemen dengan dokter Spesialis (DPJP) tidak lancar sehingga Instruksi DPJP yang diberikan pada perawat terkadang terjadi MisKomunikasi dan belum dimengerti apalagi Obat-obatan sering kosong alternative obat pun tidak ada alasan Obat yang dulu E katalog belum dan

139

Variabel Informasi

Tanggal Wawancara

&

Observasi

Responden

/ Umur Jawaban Informan

ke pasien, komunikasi dengan sejawat dan staf lainnya

13 Juli 2017

17 Juli 2017

RP1

(LNA, 25 thn)

RP3 (WRN, 60 thn)

atau tidak masuk lagi sehingga kehabisan stock obat Hubungan antar Dokter SP PD cukup baik komunikasi melalui WA group dan juga dengan dokter jaga (dokter Umum dan internsip ) lancar Jasa Pelayanan ..khususnya insentif Dokter Spesialis (PNS) lebih kecil daripada Dokter Spesialis Non PNS DPJP kesulitan mengedukasi pasien-pasien Kronis hubunganya dengan petugas Gizi Banyak juga rujukan yang salah dari pendaftaran misal pasien harusnya kedokter syaraf ke penyakit dalam kadang pasien dengan benjolan kedokter penyakit dalam juga Pola komunikasi mengulang perintah dan mengulang-ulang .

Proses hubungan dengan DPJP adalah menanyakan dan cross cek hasil pemeriksaan Laboratorium untuk alur dan Estika komunikasi belum ada hanya system cross cek diantara dokter pada saat malam hari dan hari libur sering terjadi miskomunikasi Karena dokter penanggungjawab tidak stand by untungnya ada WA group Dokter Spesialis sehingga bisa membantu akan tetapi kalau kondisi Emergency kadang ada masalah masih perlu perbaikan hubungan kerja di internal RSUD”

“kepala ruangan sebagai pimpinan kami disini, selalu memberikan kami arahan dan instruksi setiap harinya demi peningkatan kualitas pelayanan kepada pasien,.. dan hmm beri teguran kalau ada yang tidak sesuai “

“Hubungan perawat dengan DPJP dan Dokter jaga atau Manajemen baik ,saja Ada edukasi dari DPJP untuk perawat cukup baik,serta memotivasi perawat sangat baik Khususnya dokter-dokter Spesialis peduli dengan perawat”

Komunikasi Horizontal

Gambaran arah Komunikasi Yang

17 Juli 2017

RS 1 (FTH, 35 thn)

“Hubungan dengan bebrapa instalasi penunnjang seperti loket

pendaftaran,Laboratorium klinik dan Radiologi,Farmasi dan Gizi pada

140

Variabel Informasi

Tanggal Wawancara

&

Observasi

Responden

/ Umur Jawaban Informan

Terjadi dalam

Pemberian Pelayanan ke pasien, komunikasi dengan sejawat dan

staf lainnya 8 Agustus

2017

13 Juli 2017

RP3 (WRN, 60 thn)

RD1 (KSD 45 thn)

umumnya msh lancar komunikasi tapi waktu-waktu tertentu hari Libur dan Tengah malam tidak ada dokter Radiologi yang membaca hasil dan Laboratorium terkendala pengejaan.

Hubungan dokter dengan perawat di rawat inap sdh cukup baik tetapi masih kurang perawat yang terlatih apalagi kalau pada malam hari dan hari libur.Kendala komunikasi dalam proses rawat inap adalah Karena status social /biaya/edukasikurang /pemahaman yang rendah Karena pengetahuan masyarakat yang kurang sehingga tdk mengerti tentang pemahaman dan aturan yang ada di RS

Hubungan antar Dokter SP PD cukup baik komunikasi melalui WA group dan juga dengan dokter jaga (dokter Umum dan internsip )

Komunikasi diagonal

Gambaran arah Komunikasi Yang Terjadi dalam

Pemberian Pelayanan ke pasien, komunikasi dengan sejawat dan staf lainnya

8 Agustus 2017

KS2

(WRS, 47 thn)

“Ada rutin setiap minggu ada apel dan rapat mingguan..Direktur dan kabid serta kabag…dan setiap senin sampai dengan kamis ada morning report..

.. Ada kalanya begitu kalau emergency misalnya alat lagi hang karena digital harus menghubungi prinsipalnya untuk maintenance karena passwordnya ada sama direktur dan begitu juga ada reagen yang tidak tersedia harus pinjam ke rumah sakit lain, terkadang staf menghubungi langsung ke kasi atau kabag jika demikian.

Keterangan :

RP : Respondennya merupakan Pasien RD : Respondennya merupakan Dokter RS : Respondennya merupakan Staf

RN : Respondennya merupakan Nurse/Perawat KS : Respondennya merupakan Kepala Seksi

141

LAMPIRAN 4 HASIL OBSERVASI

Komunikator Komunikan Hasil Observasi Cara Observasi Metode Komunikasi

Durasi Frekuensi Dokter Pasien dokter tidak memiliki cukup waktu untuk

berbincang dengan pasien dan pasien pun terkadang hanya bersifat pasif dan menerima saja apa yang disampaikan kepada dokter tanpa mencari tahu lebih dalam lagi, dokter pun tidak

memancing pasien untuk

berkomunikasi lebih lanjut terkait penyakitnya

Observasi Langsung

Satu Arah 7 menit 20

Dokter, Perawat

Pasien “ ... Dokter dan pasien serta perawat melakukan tanya jawab sambil dokter menggerakkan anggota tubuhnya seperti Tangan yang menyentuh pasien, memegang bagian yang dirasakan sakit, berbicara tentang keadaan yang terjadi terhadap pasien terlihat juga pasien merasa cukup senang dengan dokter dan perawat tersebut yang dianggap memperhatikan kondisi pasien dengan berbincang-bincang dengan pasien seperti menanyakan “Bagaimana kondisinya bu ? Pasien kemudian menjawab

“sudah agak baikan,, tapi masih ada bagian sini yang sakit”

Observasi Langsung

Dua Arah dan Multi Arah

7-10 menit 10

Perawat “Perawat saat melakukan visite Observasi Dua Arah 10-15 menit 10

Dokumen terkait