BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
C. Pembahasan
75
“Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Balikpapan jika dikaitkan apakah komunikasi di rumah sakit telah efektif atau belum maka dapat disimpulkan belum efektif, berdasarkan hasil wawancara dengan pihak di rumah sakit hal tesebut dapat dipaparkan bahwa, komunikasi masih terjadi satu arah antara dokter dan pasien yang semestinya di rumah sakit sangat diperlukan komunikasi dua arah untuk kepentingan pasien dan peningkatan kualitas layanan, masih terjadinya miss komunikasi bukan hanya antar sesama tenaga medis tetapi dengan tenaga lainnya, komunikasi di rumah sakit sangat perlu dibangun secara kolaboratif untuk melindungi pasien dan pemberian layanan maksimal kepada pasien”
Dalam hal aturan dan kebijakan, di RSUD Balikpapan sudah ada standar operasional prosedur terkait komunikasi efektif, hanya saja dalam hal pelaksanaan di RSUD Balikpapan belum berjalan maksimal.
C. PEMBAHASAN
76
“The doctors stated that ‘diagnostic ability’ was the most important quality of a good doctor, whereas the patients said that ‘listening’ was the most important aspect. This latter aspect was rated as being least important by the doctors”
Para dokter menyatakan bahwa “kemampuan diagnostik” adalah kualitas yang paling penting dari seorang dokter yang baik, sedangkan pasien mengatakan bahwa “mendengarkan” adalah aspek yang paling penting. Temuan sejalan oleh Delamothe (1998), yang menemukan bahwa atas tiga kategori pandangan yang paling mempengaruhi pilihan pasien untuk kategori dokter yang baik, sebagai mana kutipan oleh Dianne Berry, (2007;26) berikut ini :
Three categories for what most influences a patient’s choice of good doctor were ‘how well the doctor communicates with patients and shows a caring attitude’, ‘explaining medical or technical procedures in an easy to understand way’ and ‘listening and taking the time to ask questions’. In contrast, the aspects most highly rated by doctors were
‘number of years of
practice’ and ‘whether the doctor had attended a well known medical school’.
Berdasarkan penjelasan kutipan di atas menyebutkan bahwa dokter yang baik adalah dokter berkomunikasi dengan pasien dan menunjukkan sikap peduli, menjelaskan prosedur medis atau teknis dengan cara yang mudah-dipahami dan mendengarkan dan meluangkan waktu untuk mengajukan pertanyaan. Sebaliknya, aspek yang paling dinilai tinggi oleh dokter jumlah tahun praktek dan apakah dokter telah menempuh pendidikan kedokteran di tempat terkenal. Hal ini menuntut kemampuan seorang dokter untuk memiliki kemempuan berkomunikasi
77
dengan baik terhadap pasiennya untuk mencapai sejumlah tujuan yang berbeda.
Sejalan dengan hal ini, menurut Ong, dkk (1995) yang dikutip oleh Dianne Berry, (2007: 28 ) mengemukakan bahwa ada 3 (tiga) tujuan yang berbeda komunikasi antara dokter dan pasien, yaitu : (1) menciptakan hubungan interpersonal yang baik (creating a good interpersonal relationship), (2) pertukaran informasi (exchange of information), dan (3) pengambilan keputusan medis (medical decision making).
Sedangkan pasien mengatakan adalah aspek yang paling penting, dimana dokter menjadi pendengar yang baiklah sangat diharapkan pasien, agar dokter dapat mengerti keluhan yang disampaikan oleh pasien, sehingga dengan mendengarkan pasien, maka dokter akan dapat memberikan pengobatan yang terbaik kepada pasien. Di samping perbedaan persepsi dalam komunikasi dokter dengan pasien, faktor ketidaksiapan dokter dalam menjalin komunikasi yang empatik juga disebabkan karena keterbatasan waktu dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian Asdawati (2014 : 3-5) yang mengatakan bahwa 67% dari 200 responden atau sebanyak 134 responden menghabiskan waktu selama 6 10 menit ketika berkonsultasi atau menjalani pengobatan. Padahal lama waktu yang ideal digunakan dalam layanan konsultasi dan pengobatan oleh dokter terhadap pasien seharusnya berkisar 20 menit. Hal ini terjadi karena jumlah pasien yang
78
relatif banyak sedangkan dokter yang melayani di setiap poliklinik hanya satu orang. Selain itu, dokter yang melayani sering datang terlambat sehingga akan semakin mengurangi ketersediaan waktu melayani pasien.
Pasien rumah sakit adalah konsumen. Secara umum pasien atau jasa; Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan; Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan dilindungi dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dalam pasal 4 yang menyebutkan bahwa ada hak-hak konsumen antara lain bahwa diantaranya pasien mempunyai : Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/ konsumen; Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
Perlindungan hak pasien juga tercantum dalam Bagian Keempat Hak Pasien pasal 32 Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yaitu diantaranya adalah bahwa setiap pasien berhak untuk memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit; informasi tentang hak dan kewajiban pasien; memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi; memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional; memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan materi; meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam
79
maupun di luar Rumah Sakit; mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya; mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan; memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya; menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana; dan pasien berhak untuk mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sedangkan kalau merujuk Konsil Kedokteran Indonesia (2006 : 20) disampaikan bahwa kewajiban Dokter/ Dokter Gigi dalam memberikan pelayanan kepada pasien diantaranya adalah : memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien, dan melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas mampu melakukannya.
Tetapi selama ini yang terjadi, dalam hubungan dokter dan pasien terdapat hambatan komunikasi yang menyebabkan kegagalan komunikasi dan menimbulkan ketidakpuasan dari salah satu pihak. Menurut Nova
80
(2010 : 14) dikatakan bahwa : ada umumnya pasien yang merasa tidak puas akan mengajukan complain pada pihak rumah sakit. Komplain yang tidak segera ditangani akan mengakibatkan menurunnya kepuasan pasien terhadap kapabilitas pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.
Konsumen umumnya mengharapkan produk berupa barang atau jasa yang dikonsumsi dapat diterima dan dinikmatinya dengan pelayanan yang baik atau memuaskan.
Buruknya pola komunikasi para dokter diakui oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng Muhammad Faqih dalam tulisan Rosmha tentang Kasus dr. Ayu, Cermin Buruknya Pola Komunikasi Dokter (Kompas.com, 27 November 2013), yang mengatakan bahwa : Dokter Indonesia memang kebanyakan pasif dan kurang mengkomunikasikan penyakit serta pengobatan yang harus dijalani pasien. Pasien juga mayoritas tidak aktif bertanya terkait kondisi dan pengobatan yang dijalani. Ketergantungan pasien dengan pengobatan yang diberikan oleh dokter, dan anggapan bahwa dokter dapat menyembuhkan penyakitnya. Pasien cenderung mengikuti apa saja kata dokter dan minum obat yang telah diresepkan dokter tanpa harus banyak bertanya, dan ada sebagian dokter terkadang juga kurang suka apabila pasien terlalu banyak bertanya.
Merujuk pada teori equity dari Hatfield dkk (Berger, 2014:478) didasarkan pada asumsi bahwa: individu termotivasi untuk memaksimalkan timbal balik yang diterima dan meminimalkan biaya tetapi
81
individu juga memahami bahwa terdapat norma dan aturan tertentu yang mengatur hubungan sosial. Akibatnya, orang merasa sangat puas ketika meyakini bahwa hasil yang diterima setiap pasangan dari sebuah hubungan telah sesuai dengan pemberian mereka pada hubungan. Dalam hal ini dokter dan pasien seharusnya dapat memaksimalkan hubungan timbal balik dengan melakukan komunikasi dua arah yang saling menguntungkan satu sama lain, tentunya dengan tetap memegang prinsip etis yang sudah ditentukan.
Kebanyakan hubungan dokter dan pasien terjadi karena komunikasi cenderung satu arah. Ketidakseimbangan komunikasi bisa juga terjadi karena dokter memiliki keterbatasan waktu untuk bertemu atau pertemuan yang tidak efektif karena yang terjadi adalah komunikasi satu arah. Yang sering terjadi adalah dokter merasa pasien sudah memahami apa yang dijelaskannya, padahal mereka belum tentu mengerti apa yang disampaikan dokter dan cenderung pasif untuk menanyakan lebih lanjut.
Inilah yang disebut dengan komunikasi satu arah yang kebanyakan dilakukan dokter.
Masyarakat dalam hal ini awam tentang istilah medis dan pengetahuan mengenai penyakitnya, dan adanya anggapan bahwa dokter akan menolongnya untuk sembuh dan memberikan pengobatan yang terbaik. Berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa, komunikasi satu arah juga terjadi di pelayanan di rumah sakit, dimana pasien hanya menerima saja apa yang dikatakan oleh dokter tanpa menanyakan
82
kembali kondisinya kepada dokter, dan langsung menerima resep dan menebus resep.
2. Pola Komunikasi dua arah atau timbal balik
Yaitu Komunikator dan Komunikan menjadi saling tukar fungsi dalam menjalani fungsi mereka, Komunikator pada tahap pertama menjadi komunikan dan pada tahap berikutnya saling bergantian fungsi. Namun pada hakekatnya yang memulai percakapan adalah komunikator utama, komunikator utama mempunyai tujuan tertentu melalui proses Komunikasi tersebut, Prosesnya dialogis, serta umpan balik terjadi secara langsung.
(Siahaan, 1991). Komunikasi dua arah ini terjadi antara pemberi pelayanan dan penerima pelayanan di rumah sakit, misalnya antara dokter dengan pasien, perawat dengan pasien, antar staf rumah sakit dan lainnya.
Pada dasarnya pola komunikasi dicirikan oleh sejumlah atribut tertentu. Pemahaman atas atribut-atribut itu besar artinya bagi peningkatan pengertian dalam memahami komunikasi dan prosesnya.
Terjadinya komunikasi tidak dapat dihindari, sebab hampir tidak ada orang yang mampu menghindarkan diri dari aktivitas bermasyarakat. Orang selalu berusaha mencari interaksi sosial. Di saat interaksi terjadi, komunikasi tidak dapat dihindari dan akan menimbulkan kontak sosial.
Jika terjadi kontak sosial segala atribut harus dapat memberikan pemahaman atau pengertian terhadap komunikasi yang sedang
83
dilaksanakan. Pertemuan antara dokter dan pasien meniscayakan adanya suatu komunikasi bila masing-masing mampu mengadakan transformasi pesan. Semua perilaku dalam peristiwa komunikasi yang berlangsung memiliki potensi sebagai pesan, sebab komunikasi merupakan transaksional yang efektif untuk menyampaikan tujuan dan maksud.
Sebab pasien yang diperiksa oleh dokter dan paramedis bukan merupakan makhluk pasif, bukan perantara (host) yang tidak bertenaga, bukan mesin, dan bukan pula merupakan benda-benda non-aktif, pasien adalah makhluk aktif, dengan dan untuk siapa dokter dan paramedis bekerja mengatasi penyakit Sebagai konsep yang merujuk pada proses interaksi tak terputus dari sejumlah variabel yang tidak terhitung.
Pola komunikasi yang dibangun antara dokter dengan pasien di RSUD Balikpapan adalah komunikasi tanpa putus yang saling mempengaruhi perilaku, perasaan, pandangan satu sama lain. Karena komunikasi tidak dapat berdiri sendiri. Apabila dikaitkan dengan proses persuasif, kita dapat mengatakan bahwa komunikasi dokter dan pasien terjadi sebab faktor-faktor dan konteks yang determinan di dalam satu pihak yang memerlukan umpan balik (tanggapan).
Proses komunikasi dokter dengan pasien dan keluarga pasien di RSUD Balikpapan di instalasi rawat jalan dimulai ketika pasien masuk ke dalam ruangan periksa, sebelum dokter memeriksa pasien, dokter membaca rekam medis yang sebelumnya dibawa oleh perawat, meski demikian dokter tetap bertanya kepada pasien terkait apa yang dirasakan
84
oleh pasien mengenai penyakitnya, seperti menanyakan apa keluhannya.
Informasi yang di dapatkan tersebut menjadi dasar bagi dokter untuk menegakkan diagnosa yang tepat dan memberikan edukasi terhadap pasien. Akan tetapi pasien di RSUD Balikpapan tidak semuanya menggunakan bahasa formal, ada beberapa pasien menggunakan bahasa daerah yang membuat dokter merasa cukup sulit melakukan edukasi dan informasi kepada pasien karena terkendala pada penggunaan bahasa.
Komunikasi yang diberlakukan dokter terhadap pasien menandakan bahwa komunikasi yang diterapkan setidaknya melalui tahap komunikasi, yaitu; pengumpulan fakta (fact finding) oleh paramedis, komunikasi dengan pasien, perencanaan langkah-langkah penyembuhan, kemudian evaluasi. Di dalam pengumpulan fakta, paramedis sebelumnya mencari data dan fakta mengenai keluhan dan potensi (keadaan) penyakit pasien, terjadinya pola komunikasi yang seimbang antara kedua belah pihak, dokter dan pasien, harus didukung oleh sikap dan kepentingan yang sama, sehingga proses komunikasi mendapatkan feedback yang dapat memberikan dampak terhadap proses penyembuhan pasien, sesuai keinginan dokter.
Dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia persis sama, meskipun mereka kembar yang dilahirkan dan diasuh dalam keluarga yang sama, diberi makanan yang sama dan dididik dengan cara yang sama. Namun kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya agama, ras
85
(suku), bahasa, tingkat pendidikan, atau tingkat ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan pada gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka menjadi lebih efektif. Kesamaan bahasa khususnya akan membuat pengertian bersama dibandingkandengan orang-orang yang tidak berbicara atau memahami bahasa yang sama.
Oleh karena itu Strategi Berbicara Sebagai Jalan Menciptakan Pemahaman, Kita bisa mengatasi indeksikalitas dan refleksivitas bahasa dengancara menjalankan tugas kita dengan baik sebagai pembicara dan pendengar. Disinilah letak pentingnya kemampuan mengembangkan komunikasi efektif karena merupakan salah satu keterampilan yang amat diperlukan dalam rangka pegembangan diri kita baik secara personal maupun profesional.
Di tempat pelayanan kesehatan ada beberapa macam jenis manusia, ada klien, keluarga klien, dokter, fisioterapis, petugas laboratorium, ahli gizi maupun petugas kesehatan lainnya, serta seluruh perangkat yang ada dalam mendukung pelayanan kesehatan di tempat itu. Dalam hidup bersama dimisalkan perawat terjadi hubungan antar perawat-klien, perawat-perawat, perawat dokter, perawat-keluarga pasien, perawat-petugas kesehatan lain serta perawat lingkungan lainnya.
Tindak komunikasi dalam pola komunikasi antar pribadi berkaitan dengan pemahaman mengenai peristiwa komunikasi yang terjadi didalamnya, seperti apakah pesan komunikator sudah diterima dengan benar oleh komunikan atau sebaliknya (misalnya, pasien menyampaikan
86
keluhan kepada dokter), memungkinkan tujuan komunikasi yang telah ditetapkan dapat tercapai sesuai dengan hasil yang diharapkan. Ini hanya satu contoh sederhana untuk memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan aspek penting dalam suatu hubungan.
Pada umumnya, pemahaman yang lebih tentang komunikasi terletak pada hakekat fungsional manusia itu sendiri terhadap dirinya sendiri. Diri manusia memiliki peran paling penting dalam proses penyembuhan, sebab pribadi manusia itu sendiri tidak terlepas dari proses komunikasi antar dirinya sendiri. dalam hal ini proses penyembuhan berkaitan dengan persoalan interpretasi pribadi manusia itu sendiri terhadap diri pribadinya. Efek komunikasi antar diri sendiri akan berpengaruh pada proses komunikasi antar pribadi.
Komunikasi tidak hanya persoalan medis, tetapi juga menyangkut aspek kualitas pelayanan yang diberikan. Komunikasi dokter – pasien adalah suatu hal yang sangat penting di rumah sakit. Kualitas komunikasi yang terjadi diantara kedua belah pihak akan menghasilkan kepuasan di dalam diri pasien karena pasien akan merasa puas dan kembali lagi ke dokter yang sama jika komunikasi mereka baik dan efektif.(erly,2013).
Salah satu indicator penting mutu pelayanan rumah sakit adalah kemampuan komunikasi baik verbal atau non verbal petugas dalam memberikan pelayanan keperawatan yang langsung ditujukan kepada pasien. (Tipo et al, 2012). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lioweyln (1972) dan Abraham (1992) menunjukan bahwa tidak jarang terjadi konflik
87
antara petugas kesehatan dengan pasien sebagai akibat komunikasi yang jelek atau tidak komunikatif antara petugas kesehatan dengan pasien, yang akhirnya dapat menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan serta kepercayaan yang rendah dari pasien.
Berdasarkan penelitian oleh Rosenstein (2002), Rosenstein dan O’Daniel (2005) menemukan bahwa terjadi persepsi negatif terhadap ketidakpuasan dan hasil perawatan disebabkan oleh komunikasi yang tidak baik yang dilakukan oleh para dokter dan perawatan kesehatan serta staf devisi penunjang. Hibdon (2000) menyatakan bahwa dengan komunikasi yang terbuka, jujur dan menerima klien apa adanya, perawat akan meningkatkan kemampuan klien dalam membina hubungan saling percaya.
Hal senada diungkapkan oleh Roger (1974) dalam Abraham dan Shanley (1997) yang mengemukakan bahwa hubungan mendalam yang digunakan antara perawat dan klien merupakan area untuk mengekspresikan kebutuhan, memecahkan masalah dan meningkatkan koping. Moison, Walter dan White dalam Haryanti,2000, yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien adalah faktor komunikasi yaitu tata cara komunikasi yang diberikan pihak penyedia jasa dan bagaimana keluhan – keluhan pasien dengan cepat diterima dan ditangani oleh penyedia jasa terutama perawat dalam memberikan bantuan terhadap keluhan pasien, memberikan penjelasan yang tepat dan akurat sesuai kebutuhan klien/pasien. Ini juga sesuai
88
dengan pendapat Griffith ( 1987 ) yang menyatakan salah satu aspek yang mempengaruhi perasaan puas seseorang adalah sikap dan pendekatan staf kepada pasien yaitu sikap dan kemampuan staf dalam memberikan informasi kepada pasien ketika pertama kali datang ke rumah sakit.
Dalam profesi kedokteran, komunikasi dokter-pasien merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai dokter dan di terapkan dalam pelayanannya di rumah sakit. Kompetensi komunikasi menentukan keberhasilan dalam membantu penyelesaian masalah kesehatan pasien.
Selamaini kompetensi komunikasi dapat dikatakan terabaikan, baik dalam pendidikanmaupun dalam praktik dokter.
Komunikasi yang baik dan berlangsung dalam kedudukan setara (tidak superiorinferior) sangat diperlukan agar pasien mau/dapat menceritakan sakit/keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas.
Komunikasi efektif mampu mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana tindakan selanjutnya, sedangkan komunikasi tidak efektif akan mengundang masalah (Aliah, 2010; Basuki, 2009). Begitu pentingnya perilaku mendengarkan, menjelaskan dan kompetensi dokter sehingga bagi seorang dokter yang melakukan interaksi komunikasi dokter-pasien saat konsultasi, dengan memperhatikan dan menerapkan pola interaksi mendengarkan, menjelaskan serta kompetensi akan dapat memuaskan pasien.
89
Dan hasil dari kepercayaan dan kepuasan pasien adalah adanya loyalitas pasien yang salah satu perwujudannya adalah meningkatnya kunjungan berulang/minat pasien dalam penggunaan kembali pelayanan kesehatan tersebut. Keberhasilan komunikasi antara dokter dan pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak dengan dokter memiliki kemampuan mendengarkan dan menjelaskan yang dapat di pelajari dan di latih. Sesuai dengan penelitian Matheny et al., 2004 yang menyatakan bahwa kepuasan pasien tergantung dari pemberian informasi yan dimiliki oleh dokter, sikap dokter dalam kesopanan, memberikan perhatian, mendengarkan dengan cermat serta berempati. Untuk dapat memberikan informasi yang tepat dan terstruktur, seorang dokter perlu untuk menguasai cara menjelaskan yang tepat dalam menjalin komunikasi.
Proses komunikasi yang melibatkan dua orang adalah komunikasi dua pribadi yang berbeda dan harus sama-sama dikenali, yaitu diri dokter dan diri pasien. Meskipun bukan hal mudah untuk dilakukan. Dalam proses diagnosa, dokter berusaha mempengaruhi keadaan, perasaan, dan perilaku pasien terhadap yang dialaminya. Pola komunikasi ini adalah usaha dokter mengurangi ketidakpastian yang dirasakan pasien. Upaya ini pada dasarnya merupakan proses pemaknaan, yaitu menghilangkan makna-makna yang tidak sesuai dengan pengertian pasien.
Terkait dengan komunikasi antar dua pribadi yang berbeda yang saling mempengaruhi satu sama lain, ada satu proses perbandingan
90
sosial sebagai perbandingan antara diri dokter, pasien satu dengan pasien lain.
Dalam hal ini, terdapat satu proses analisa yang dilakukan oleh pasien RSUD Balikpapan, pada tingkatan psikologis yang diasosiasikan dengan interpretasi dan pemberian makna terhadap orang atau objek tertentu, yang dikenal dengan persepsi. Adanya objek eksternal yang dapat ditangkap oleh indera, menjadikan informasi dapat diinterpretasi, meskipun pada dasarnya, persepsi tidak lebih dari sekedar pengetahuan mengenai apa yang tampak sebagai realitas pasien. Realitas yang dipersepsikan adalah yang paling jelas, pribadi, penting dan terpercaya bagi pasien.
Dalam konteks inilah dokter dan tenaga kesehatan lainnya perlu memahami sifat pasien. Dokter mempersepsikan hanya yang diinginkan atas dasar sikap, nilai dan keyakinan yang ada dalam diri dokter, dan mengabaikan karakteristik yang berlawanan dengan keyakinan atau nilai yang dokter miliki, yang menjadi kebutuhan pasien. Komunikasi yang saling mempengaruhi, mengembangkan makna yang dirasa ke dalam aktivitas.
Satu hal pokok dalam makna ini adalah sistem kode bahasa atau komunikasi (simbol). Dengan kemampuan bahasa, dokter dan pasien dapat menangkap stimulasi yang diberikan. Maka, pengaruh dari pola komunikasi yang dibangun bisa dikatakan berhasil. Dalam sehari-harinya, dokter menerima begitu banyak masukan pesan, misalnya keluhan
91
pasien, selain pengetahuan yang dipelajari, dokter juga menerima pesan lain seperti reaksi dan respon pasien (verbal dan non-verbal), dari kondisi kursi yang diduduki, intonasi suara pasien, ataupun bahasa pasien yang terbata-bata.
Semua stimulus ini secara bersamaan akan ikut mempengaruhi proses kegiatan yang diciptakan dari komunikasi antar pribadi.Namun demikian, dalam praktiknya tidak mungkin dokter mengolah semua masukan pesan yang diterima. Dengan kata lain, dokter melakukan penyeleksian terhadap semua stimulus yang diterima dengan proses penyeleksian secara cepat (biasanya dalam beberapa detik saja).
Ada tiga jenis komunikasi yaitu komunikasi verbal, tertulis, dan nonverbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.
1. KOMUNIKASI VERBAL
Pola komunikasi yang paling lazim digunakan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Didalam lapangan, peneliti mengamati bahwa dalam pelayanan medis di Rumah sakit Balikpapan menggunakan Pola Komunikasi secara verbal antara perawat dan pasien sifatnya biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Penggunaan Kata-kata secara oral adalah alat atau simbol yang dipakai sifatnya untuk mengekspresikan ide atau perasaan perawat yang membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan.
92
Pola Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu, tidak hanya komunikasi verbal, komunikasi non verbal juga efektif. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan.
Pola Komunikasi Verbal yang efektif diantaranya harus jelas dan ringkas. Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung.
Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil kemungkinan terjadinya kerancuan.Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas.
Saat memberikan tindakan kepada pasien dari proses pemeriksaan hingga pemberian obat dan penjelasan akan aturan-aturannya bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami, banyak sentuhan dan kata-kata verbal yang terjadi. Seperti ulangbagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana.
Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana. Waktu dan relevansi, waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Misalnya bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. Kendati pun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula