• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasi Manajerial

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 51-58)

6. Mengusahakan akses pasar

4.5. Implikasi Manajerial

Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai karakteristik masyarakat miskin di tiga Desa lokasi studi yang berada di desa Bedahan, Luwinanggung dan Pondok jaya. Profil masyarakat miskin di Bedahan diketahui bahwa jumlah jiwa di dalam keluarga masyarakat miskin rata-rata adalah 4,7 jiwa artinya minimal dalam keluarga miskin ada 4 orang yang harus dibiayayai/dihidupi. Pendapatan

sektor 4 sektor 3 sektor 1` sektor 2 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 D DP

mayoritas masyarakat miskin (73%) dibawah Rp 500.000,- /KK/bulan tentunya hal ini akan menjadi bahan pemikiran untuk meningkatkan masyarakat miskin. Profil masyarakat miskin di Luwinanggung diketahui bahwa jumlah jiwa di dalam keluarga masyarakat miskin rata-rata adalah 3,4 jiwa artinya minimal dalam keluarga miskin ada 3 orang yang harus dibiayayai/dihidupi. Dengan pendapatan mayoritas masyarakat miskin (80%) dibawah Rp 500.000,- /KK/bulan tentunya hal ini akan menjadi bahan pemikiran untuk meningkatkan masyarakat miskin, dan terakhir di desa Pondok Jaya diketahui bahwa jumlah jiwa di dalam keluarga masyarakat miskin rata-rata adalah 4,6 jiwa artinya minimal dalam keluarga miskin ada 4 orang yang harus dibiayayai/dihidupi. Dengan pendapatan mayoritas masyarakat miskin (92%) dibawah Rp 500.000,- /KK/bulan tentunya hal ini akan menjadi bahan pemikiran untuk meningkatkan masyarakat miskin. Hal ini menandakan bahwa masyarakat di tiga desa tersebut tergolong masyarakat miskin dikarenakan masyarakat belum bisa memenuhi kebutuhannya. Dengan hasil demikian mengimplikasikan bahwa pemerintah Kota Depok harus dengan sigap mengambil langkah langkah dalam menanggulangi permasalahan-permasalahan kemiskinan.

Salah satu langkah yang digunakan dalam penanggulangan kemiskinan ialah menentukan kebutuhan program kemitraan. Terdapat lima faktor yang terkait dalam kebutuhan program kemitraan dalam rangka penanggulangan kemiskinan. Faktor pertama yaitu Sektor masyarakat yang terpengaruh. Sektor masyarakat yang terpengaruh merupakan masyarakat yang terkait langsung dengan penanggulangan kemiskinan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengusaha/UKM di sektor industry, sektor jasa, informal, buruh industri, buruh pertanian, buruh jasa, kaum wanita serta pemuda dan pelajar merupakan sektor masyarakat penentu dalam penanggulangann kemiskinan. Hal ini bisa terjadi karena buruh industri, buruh jasa dan buruh pertanian dapat dijadikan contoh bagi para masyarakat miskin, walaupun buruh merupakan pekerjaan kasar, tapi dengan bekerja mereka mendapatkan penghasilan, begitu pula dengan pengusaha / UKM di sektor industri, sektor jasa dan sektor informal mereka dapat dijadikan contoh bagi masyarakat miskin, para pengusaha tidak bekerja dengan orang lain, tapi mereka membuat pekerjaan sendiri dan bahkan membantu orang

lain untuk dapat bekerja pada usaha yang dibuatnya. Kaum wanita dapat memberikan dampak yang positif bagi penanggulangan kemiskinan, hal ini dapat dicontohkan dengan banyaknya kelompok ataupun organisasi seperti darma wanita ataupun organisasi sosial lainnya yang bertujuan untuk memberikan dorongan maupun fasilitas bagi para masyarakat miskin dalam meningkatkan keterampilan hidupnya, dimana diharapkan setelah mendapatkan keterampilan, masyarakat miskin tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemuda dan pelajar memberikan peranan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin dengan cara pemberian motivasi serta pengetahuan bagi masyarakat miskin yang ingin melakukan usaha agar dapat berjalan dengan baik.

Faktor yang kedua yaitu kebutuhan program. Kebutuhan program yang dimungkinkan dalam rangka penanggulangan kemiskinan adalah membangun sarana dan prasarana industry terkait, membangun sarana dan prasarana perdagangan terkait, membangun sarana dan prasarana jasa terkait, aplikasi tepat guna untuk industry UKM, meningkatkan linkage produk yang ada dengan pasar, menghubungkan UKM dengan lembaga keuangan, mengembangkan kebijakan yang mendukung iklim usaha, membina SDM UKM, serta meningkatkan peran wanita. Membangun sarana dan prasarana industry terkait, perdagangan terkait serta jasa terkait hal ini dimungkinkan karena misi dari Kota Depok adalah melayani dan mensejahterakan yang berarti meningkatkan kualitas aparatur dan penyedia sarana dan prasarana bagi Kota Depok sehingga sarana dan prasarana dapat menunjang dan mempermudah bagi masyarakat Kota Depok khususnya dalam meningkatan pendapatan mereka. Kebutuhan program bagi penanggulangan kemiskinan di Kota Depok lainnya ialah aplikasi tepat guna untuk industri UKM, yang berarti bahwa pemberian bantuan disesuaikan dengan kebutuhan dari para UKM, sebagai contoh, jika pengusaha UKM ikan lele membutuhkan program pembentukan bibit unggul, maka hal yang dilakukan ialah pemberian teknik bagaimana memperoleh bibit unggul ikan lele dengan baik. Meningkatkan linkage produk yang ada dengan pasar, memiliki implikasi bahwa para UKM atau masyarakat miskin dapat bermitra dengan pengusaha besar untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan dari pasar. Menghubungkan UKM dan lembaga keuangan memiliki maksud bahwa para UKM yang ingin memajukan

usahanya ataupun para masyarakat miskin yang baru akan membuka usaha akan tetapi memiliki keterbatasan modal, maka dengan program seperti ini, para UKM diberikan jalan dan kemudahan dalam memperoleh pinjaman modal untuk memulai atau memperbesar skala usahanya. Mengembangkan kebijakan yang mendukung iklim usaha mengartikan bahwa peran lembaga mewujudkan iklim yang kondusif bagi pengembangan kemitraan untuk terwujudnya usaha yang dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang bermitra. Membina SDM UKM dengan memberikan bimbingan dalam meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan, pelatihan, pemagangan dalam bidang kewirausahaan dan keterampilan teknis produksi, meningkatkan peran wanita dilakukan melalui peningkatan organisasi kewanitaan yang ada di Depok.

Faktor yang ketiga adalah kendala utama. Penanggulangan kemiskinan terdapat kendala-kendala yang dapat terjadi, kendala utama tersebut adalah, keterampilan SDM yang terbatas, maraknya industry dan supermarket besar, pola hidup modern, pola budaya kekerabatan yang sudah bergeser, sulitnya akses modal usaha, modal sosial yang lemah, pertumbuhan perumahan dan anggapan yang salah mengenai kredit/bantuan. Keterampilan SDM yang terbatas mengakibatkan penyerapan informasi dan pengetahuan semakin minim dan semakin berubahnya budaya maka menyebabkan UKM mulai mengalami pemerosotan yang diimbangi dengan semakin menjamurnya industri dan supermarket besar di Kota Depok. Seperti diketahui bahwa Kota Depok saat ini berkembang pesat dengan ditandai oleh industry yang semakin luas serta supermarket besar yang mendominasi. Hal ini berakibat sektor UKM akan semakin tidak dilirik karena pola hidup moderen. Selain itu juga dengan sulitnya akses modal usaha dan anggapan yang salah mengenai kredit/bantuan menyebabkan semakin merosotnya UKM di Kota Depok. Pertumbuhan perumahan yang kian pesat karena Kota Depok berada di antara Jakarta dan Bogor mengakibatkan areal lahan di Kota Depok yang memiliki luas 200,29 km2 semakin sedikit untuk lahan pertanian.Jadi kendala-kendala tersebut mempunyai kekuatan yang sangat besar serta mempunyai tingkat ketergantungan yang besar pula, maka kendala tersebut harus diperhatikan dengan baik dan dibutuhkan solusi yang tepat.

Faktor yang keempat adalah perubahan yang dimungkinkan di Kota Depok untuk penanggulangan kemiskinan, antara lain pengendalian kemiskinan, membuka lowongan kerja, mengembangkan keterampilan, mengayomi penduduk miskin, mengusahakan ZIS dan mengusahakan akses pasar, sebagai faktor penentu atau harapan untuk penanggulangan kemiskinan di Kota Depok. Keenam faktor perubahan yang dimungkinkan tersebut mempunyai ciri khas tersendiri yang diharapkan oleh Kota Depok. Mengayomi penduduk miskin, hal ini mengartikan bahwa penduduk miskin di dorong sehingga mereka maju dan dapat menjadi jauh lebih sejahtera dengan meningkatkan keterampilan yang sudah ada, dikarenakan pendidikan masyarakat miskin di lokasi studi maksimal lulusan sekolah dasar. Pada sektor masyarakat yang terpengaruh kaum wanita bisa mengayomi masyarakat miskin tersebut untuk mengembangkan keterampilan sehingga bisa membuka lowongan pekerjaan bagi mereka atau keterampilan yang dihasilkan bisa masuk ke UKM-UKM yang sudah ada sehingga terbuka lah akses pasar bagi mereka dan para buruh pun bisa memberikan keahlian dan keterampilannya kepada masyarakat miskin yang belum bekerja sehingga pengendalian kemiskinan dapat tercapai.

Faktor yang kelima adalah Lembaga yang terlibat. Faktor lembaga yang terlibat antara lain adalah Bappeda berikut SOPD nya sebagai koordinasi kegiatan serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan kemitraan usaha serta terwujudnya kemitraan usaha yang dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang bermitra. Perguruan Tinggi mengadakan penelitian, pengembangan dan penyuluhan teknologi baru yang dibutuhkan oleh dunia usaha khususnya usaha yang dikembangkan dengan kemitraan usaha. Penyuluh Lapangan sebagai pendamping usaha serta pembinaan dan pengawasan pelaksanaan kemitraan usaha di lapangan agar berjalan sebagaimana yang diharapkan. Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) sebagai lembaga yang berperan untuk mengembangkan ketermpilan UKM/masyarakat untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan, pelatihan, magang serta studi banding. Perbankan dan lembaga penjaminan keuangan membantu penyediaan fasilitas permodalan dengan skim-skim kredit lunak dengan prosedur yang sederhana sehingga mampu diserap dan dimanfaatkan oleh pengusaha kecil. Lembaga Swadaya Masyarakat

melakukan koordinasi dalam pembinaan pengembangan usaha, pelayanaan, penyedia informasi bisnis, promosi peluang pasar dan peluang usaha yang akurat dan aktual pada setiap wilayah. Maka dari itu Semua stakeholder dan lembaga pemerintah dapat memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Lebih jelasnya implikasi manajerial dapat dilihat pada Tabel 29.

Tabel 29. Implikasi Manajerial Indikator Kebutuhan Program

untuk Penanggulangan Kemiskinan di Kota Depok

Implikasi Manajerial

Sektor Masyarakat yang Terpengaruh

Sektor masyarakat yang terpengaruh merupakan masyarakat yang terkait langsung dengan penanggulangan kemiskinan. 1. Pengusaha/UKM di sektor industry, sektor jasa dan sektor

informal mereka dapat dijadikan contoh bagi masyarakat miskin, para pengusaha tidak bekerja dengan orang lain, tapi mereka membuat pekerjaan sendiri dan bahkan membantu orang lain untuk dapat bekerja pada usaha yang dibuatnya.

2. Buruh industri, Buruh pertanian dan Buruh jasa karena buruh industri, buruh jasa dan buruh pertanian dapat dijadikan contoh bagi para masyarakat miskin, walaupun buruh merupakan pekerjaan kasar, tapi dengan bekerja mereka mendapatkan penghasilan.

3. Kaum wanita dapat memberikan dampak yang positif bagi penanggulangan kemiskinan, hal ini dapat dicontohkan dengan banyaknya kelompok ataupun organisasi seperti darma wanita ataupun organisasi sosial lainnya yang bertujuan untuk memberikan dorongan maupun fasilitas bagi para masyarakat miskin dalam meningkatkan keterampilan hidupnya, dimana diharapkan setelah mendapatkan keterampilan, masyarakat miskin tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

4. Pemuda dan pelajar memberikan peranan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin dengan cara pemberian motivasi serta pengetahuan bagi masyarakat miskin yang ingin melakukan usaha agar dapat berjalan dengan baik.

Kebutuhan Program

Kebutuhan program yang dimungkinkan dalam rangka penanggulangan kemiskinan.

1. Membangun sarana dan prasarana industry terkait, perdagangan terkait serta jasa terkait hal ini dimungkinkan karena misi dari Kota Depok adalah melayani dan mensejahterakan yang berarti meningkatkan kualitas aparatur dan penyedia sarana dan prasarana bagi Kota Depok sehingga sarana dan prasarana dapat menunjang dan mempermudah bagi masyarakat Kota Depok khususnya dalam meningkatan pendapatan mereka.

2. Aplikasi tepat guna untuk industri UKM, yang berarti bahwa pemberian bantuan disesuaikan dengan kebutuhan dari para UKM, sebagai contoh, jika pengusaha UKM ikan lele membutuhkan program pembentukan bibit unggul, maka hal yang dilakukan ialah pemberian teknik bagaimana memperoleh bibit unggul ikan lele dengan baik.

Lanjutan Tabel 29.

3. Meningkatkan linkage produk yang ada dengan pasar, memiliki implikasi bahwa para UKM atau masyarakat miskin dapat bermitra dengan pengusaha besar untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan dari pasar.

4. Menghubungkan UKM dan lembaga keuangan memiliki maksud bahwa para UKM yang ingin memajukan usahanya ataupun para masyarakat miskin yang baru akan membuka usaha akan tetapi memiliki keterbatasan modal, maka dengan program seperti ini, para UKM diberikan jalan dan kemudahan dalam memperoleh pinjaman modal untuk memulai atau memperbesar skala usahanya. 5. Mengembangkan kebijakan yang mendukung iklim usaha

mengartikan bahwa peran lembaga mewujudkan iklim yang kondusif bagi pengembangan kemitraan untuk terwujudnya usaha yang dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang bermitra.

6. Membina SDM UKM dengan memberikan bimbingan dalam meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan, pelatihan, pemagangan dalam bidang kewirausahaan dan keterampilan teknis produksi, meningkatkan peran wanita dilakukan melalui peningkatan organisasi kewanitaan yang ada di Depok.

Kendala Utama

Kendala utama dalam pelaksanaan penanggulangan kemiskinan di Kota Depok yaitu:

1. Keterampilan SDM yang terbatas mengakibatkan penyerapan informasi dan pengetahuan semakin minim dan semakin berubahnya budaya maka menyebabkan UKM mulai mengalami pemerosotan yang diimbangi dengan semakin menjamurnya industri dan supermarket besar di Kota Depok.

2. Kota Depok saat ini berkembang pesat dengan ditandai oleh industry yang semakin luas serta supermarket besar yang mendominasi. Hal ini berakibat sektor UKM akan semakin tidak dilirik karena pola hidup moderen. Selain itu juga dengan sulitnya akses modal usaha dan anggapan yang salah mengenai kredit/bantuan menyebabkan semakin merosotnya UKM di Kota Depok.

3. Pertumbuhan perumahan yang kian pesat karena Kota Depok berada di antara Jakarta dan Bogor mengakibatkan areal lahan di Kota Depok yang memiliki luas 200,29 km2 semakin sedikit untuk lahan pertanian.

Perubahan yang Dimungkinkan

Perubahan yang dimungkinkan di Kota Depok untuk penanggulangan kemiskinan, antara lain:

1. Mengayomi penduduk miskin, hal ini mengartikan bahwa penduduk miskin di dorong sehingga mereka maju dan dapat menjadi jauh lebih sejahtera dengan meningkatkan keterampilan yang sudah ada, dikarenakan pendidikan masyarakat miskin di lokasi studi maksimal lulusan sekolah dasar.

2. Pada sektor masyarakat yang terpengaruh kaum wanita bisa mengayomi masyarakat miskin tersebut untuk mengembangkan keterampilan sehingga bisa membuka lowongan pekerjaan bagi mereka atau keterampilan yang dihasilkan bisa masuk ke UKM-UKM yang sudah ada sehingga terbuka lah akses pasar bagi masyarakat miskin.

Lanjutan Tabel 29

3. Buruh Industri, Jasa dan informal bisa memberikan contoh untuk masyarakat miskin yang masih belum mempunyai pekerjaan, mereka bisa memberikkan pengetahuan keahlian dan keterampilannya kepada masyarakat miskin yang belum bekerja agar masyarakat miskin termotivasi dan terdorong untuk bekerja sehingga pengendalian kemiskinan dapat tercapai..

Lembaga yang terlibat

Lembaga yang terlibat antara lain adalah:

1. Bappeda berikut SOPD nya sebagai koordinasi kegiatan serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan kemitraan usaha serta terwujudnya kemitraan usaha yang dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang bermitra.

2. Perguruan Tinggi mengadakan penelitian, pengembangan dan penyuluhan teknologi baru yang dibutuhkan oleh dunia usaha khususnya usaha yang dikembangkan dengan kemitraan usaha.

3. Penyuluh Lapangan sebagai pendamping usaha serta pembinaan dan pengawasan pelaksanaan kemitraan usaha di lapangan agar berjalan sebagaimana yang diharapkan. 4. Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) sebagai

lembaga yang berperan untuk mengembangkan ketermpilan UKM/masyarakat untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan, pelatihan, magang serta studi banding.

5. Perbankan dan lembaga penjaminan keuangan membantu penyediaan fasilitas permodalan dengan skim-skim kredit lunak dengan prosedur yang sederhana sehingga mampu diserap dan dimanfaatkan oleh pengusaha kecil.

6. Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan koordinasi dalam pembinaan pengembangan usaha, pelayanaan, penyedia informasi bisnis, promosi peluang pasar dan peluang usaha yang akurat dan aktual pada setiap wilayah.

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 51-58)

Dokumen terkait