• Tidak ada hasil yang ditemukan

VIII. KESIMPULAN, IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN SARAN

2.10 Impor Beras

Dalam Inpres No. 9 Tahun 2002, pemerintah memberikan arahan bagaimana mengatur kebijakan impor beras yang melindungi petani dan sekaligus melindungi konsumen dalam negeri. Menurut Mardianto dan Ariani (2004), salah satu cara adalah mengatur penetapan tarif impor. Saat ini tarif impor beras yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp. 430 per kg atau kurang lebih setara dengan 30 persen spesifik tarif saat itu.

Sawit (2005) mengemukakan bahwa tingkat tarif terhadap beras ternyata kurang efektif, karena terjadi penyeludupan beras. Sawit mengutip Tabor et al. (2002) bahwa pada periode 2002-2003, ditaksir tidak kurang dari 50 persen beras masuk Indonesia ke Indonesia melalui pelabuhan, terbanyak melalui selat Malaka adalah ilegal. Masuknya beras ilegal tersebut menyebabkan harga gabah tingkat produsen di musim panen raya beberapa tahun malah lebih tinggi dari musim paceklik atau musim panen gadu, akibatnya perdagangan antar pulau dan antar wilayah tidak bergairah, beras dari sentra produsen terhambat mengalir ke wilayah konsumen, terutama ke perkotaan.

Selain melalui penetapan tarif impor beras, pemerintah juga telah melakukan pengaturan tata laksana impor, yaitu melarang impor beras pada saat panen raya. Melalui SK Menperindag No 9 Tahun 2004 tentang ketentuan impor beras, telah diatur bahwa impor beras dilarang dalam masa satu bulan sebelum panen raya, pada saat panen raya dan dua bulan setelah panen raya. Mengingat masa panen raya dapat bergeser karena anomali iklim, sehingga penentuan masa panen raya ditetapkan oleh Menteri Pertanian.

Kasryno et al. (2001) mengemukakan bahwa mulai tahun 1994 Indonesia kembali menjadi negara importir beras yang besar di pasar internasional. Kondisi ini antar lain di sebabkan peningkatan produksi beras dalam periode 1990 – 2000 rata-rata 1.3 persen sedangkan laju pertumbuhan permintaan adalah 2.3 persen per tahun. Sedangkan Sawit (2007), mengemukakan sejak 1990, impor beras Indonesia terus meningkat. Puncak impor beras Indonesia terjadi pada periode krismon 1998-1999. Kemudian, pemerintah mengeluarkan SK Mendag No. 439 tentang bea masuk, tertanggal 22 September 1998 dimana impor beras

dibebaskan, dengan bea masuk 0 persen. Indonesia mengalami serbuan impor beras pada 1998, 1999, 2002 dan 2003, yang besarannya mencapai masing-masing 84, 78, 42 dan 11 persen.

Serbuan impor ini terjadi lebih parah, karena sebagian besar beras impor itu masuk dalam Musim Panen Raya (MPR) dan Panen Gadu (MPG). Pada periode 1998-99 dan 2000-03, jumlah beras impor yang masuk dalam periode itu mencapai masing-masing 79 persen dan 77 persen. Ini mendorong secara langsung atau tidak langsung terhadap kekacauan pergerakan harga antar musim. Harga gabah pada musim panceklik menjadi lebih rendah dari harga gabah di musim panen raya atau panen gadu. Ini juga mendorong terjadi dan meluasnya kasus kejatuhan harga tingkat petani di bawah harga dasar yang ditetapkan pemerintah. Serbuan impor telah berdampak negatif terhadap perdagangan antar musim, menyulitkan pemerintah untuk melindungi petani dari kejatuhan harga di musim panen padi.

Setelah terjadi kebanjiran impor 1998 dan 1999, kekacauan harga baru terjadi mulai 1999. Harga gabah di MPG jauh lebih rendah dari harga MPR Harga gabah tingkat produsen sebaiknya dianalisa sesuai dengan pola panen padi, karena padi adalah komoditas musiman. Separoh dari luas total areal panen berlangsung pada Musim Panen Raya, sedangkan pada Musim Panen Gadu mengambil peran 35 persen, dan sisanya 15 persen berlangsung pada Musim Paceklik (MP).

Menurut Sawit (2007) apabila tidak ada intervensi pemerintah baik berupa pengamanan HPP maupun pengelolaan impor, maka harga gabah tingkat produsen pasti akan jatuh di MPR, dan harganya melonjak pada MP. Kejatuhan harga beras di bawah HPP meluas, mencapai 43 persen pada 2003. Pergerakan harga antar

musim menjadi kacau, tidak seperti biasanya. Misalnya harga GKP pada MP atau MPG lebih rendah dari harga MPR. Ini artinya, banyak beras impor masuk pada masa MPG dan stok itu, menyebabkan over supply sehingga mendorong harga turun di MP. Dengan pergerakan harga seperti itu, akan mengurangi insentif para pelaku usaha, terutama UKM untuk membeli gabah, menggiling serta menyimpannya. Kejatuhan harga dasar meluas dan besar. Pemerintah kemudian menetapkan tariff untuk beras Rp 430 per kg atau setara dengan 30 persen ad valorem pada waktu ditetapkan, Januari 2000.

Tabel 9. Variabel Penjelas yang Mempengaruhi Impor Beras Pada Persamaan Simultan No Variabel Penjelas P1 P2 P3 P4 P6 P7 P8 P9 1 Harga Impor Beras $/ton US$ /kg US$ /kg Rp/kg US$ /ton US$ /ton Rp/kg 2 Harga Beras Tingkat Pengecer Rp/kg Rp/kg Rp/kg Rp/kg 3 Produksi Beras Domestik 000 ton 000 ton

000 ton 000 ton 000 ton 000 ton Kg

4 Permintaan Beras Domestik

000 ton

000 ton 000 ton

5 Nilai Tukar Rp US$

/kg Rp/ US$ Rp/ US$ 6 Stok Beras Nasional Akhir Tahun 000 ton

000 ton 000 ton 000 ton 000 ton Kg

7 Lag Stok Beras Nasional lag 8 Tingkat Bunga Pinjaman Bulog % 9 Kecenderungan Waktu T T 10 Jumlah Penduduk Indonesia Juta Jiwa 000 orang Juta Jiwa 11 Pendapatan per Kapita Indonesia Rp juta Rp juta 12 PDB Indonesia Rp milyar 13 Penawaran Agregat Rp milyar 14 Lag Impor Jumlah variabel 6 7 7 4 6 5 8 6

Keterangan : P1 = Hutauruk (1996); P2 = Mulyana (1998); P3 = Sitepu (2002); P4 = Hutauruk dan Sembiring (2002); P5 = Ritonga (2004); P6 = Sugiyono (2005); P7 = Sembiring (2007); P8 = Sembiring et al (2008) dan P9 = Kusumaningrum (2008)

Pergerakan harga gabah antar musim terganggu lagi, pada 2002 dan 2003, karena adanya serbuan impor masing-masing sebesar 42 persen dan 11 persen. Impor beras ternyata banyak masuk dalam bulan-bulan di mana masih panen yaitu di MPG, padahal pada periode itu suplai beras dalam negeri masih tinggi. Hal ini menyebabkan bertambahnya suplai dan stok berlebih, sehingga telah mendorong harga tertekan di MP. Kasus kejatuhan harga gabah juga meluas dalam periode itu. Pada waktu itu, kejatuhan harga di MP masing-masing 13 persen dan 42 persen.

Tabel 9 menunjukkan jumlah variabel penjelas yang mempengaruhi impor beras terdapat 14 variabel, tetapi hanya ada satu yang mewakili instrumen kebijakan yaitu stok beras. Inpres No 9 tahun 2001 merupakan Inpres yang secara exsplist menyebutkan kebijakan perberasan. Sejak dikeluarkannya kebijakan tersebut per 31 Desember 2001, diktum keempat menyebutkan kebijakan impor beras dalam rangka memberikan perlindungan kepada petani dan konsumen.

Dokumen terkait