• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPRESIONISME—ESTETIKA REALISME

Akhir cerita Dead End sangat mengecewakan. Dengan memberikan Penawaran Baru tentang pembersihan daerah kumuh dan program pemukiman kembali, penonton yakin bahwa si arsitek muda dalam naskah ini mampu melakukan tindakan yang sangat berani, dengan mengembalikan sang gangster ke polisi dan mendapat uang untuk menyelamatkan seorang anak lelaki, dan bersedia menghabiskan waktunya untuk membangun perumahan baru agar dapat digunakan untuk menggantikan lorong-lorong sempit yang padat dan becek. Untuk sesaat, naskah terjebak dalam tindakan melodramatik: orang-orang desa terbunuh dan sang pahlawan memilih jalan yang benar. Namun, dari semua itu tokoh-tokoh lainnya tidak memiliki sikap yang menunjukkan sikap tegas. Sang ibu, dendam di hatinya, mengutuk kematian anak lelakinya melalui suara yang penuh ketegangan, kejam dan keras. Dengan jelas ia menyaksikan bahwa hidup anak lelakinya seperti neraka, bahwa hidupnya hancur, dan bahwa anak-anaknya yang masih kecil kelak akan menjadi pelacur dan kriminal. Ia ditipu, sendirian, seseorang yang terjebak dalam jaringan rumit masyarakat dengan lorong-lorong sempit dan kemiskinan. Sebagian besar tokoh dalam naskah ini menyimpang, bahkan tidak menunjukkan nilai-nilai moral. Sesuatu yang jelas hanyalah penderitaan, pergulatan nasib, dan mimpi tentang pelarian yang sia-sia. Kecuali satu tindakan yang berbahaya, hanya ada plot yang sederhana, tetapi ada bit-bit penokohan yang cerdas. Perkembangan penting naskah ini bukanlah cerita tentang si arsitek yang muncul dari latar belakang beberapa peristiwa, bukan juga cerita tentang hidup dan matinya sang gangster, tetapi keberhasilan suasana, layaknya sepenggal musik impresionistik, bercampur bersama dengan beberapa konflik-konflik kecil beserta

22

perselisihan paham. Pola struktur semacam ini dapat ditemukan di beberapa naskah lainnya. Sebagian besar naskah realistik dan naturalistik, sebenarnya, dikelola, disutradarai, dan dimainkan dengan teknik-teknik yang mengarah sangat dekat dengan teknik impresionisme dalam seni lukis dan musik. Sementara kita tidak terbiasa menggunakan istilah impresionisme untuk realisme, kita dapat memahami realisme jauh lebih baik jika kita memperhatikan bahwa lukisan, musik, dan drama menanggapi dengan cara yang sama dengan perkembangan sejarah yang sama di akhir abad sembilan belas dan bahwa ketiganya membuat pola yang sama dan mencipta suasana yang sama. Dengan demikian kita dapat berbicara tentang beberapa naskah realisme dan naturalisme di mana konflik yang paling kuat muncul sebagai naskah impresionis. Bahkan kekejaman yang hadir di dalamnya, dalam beberapa hal menggunakan teknik-teknik impresionis.

Impresionisme berkembang di paruh kedua abad sembilan belas sebagai reaksi atas hangar bingar intensitas romantisme. Di kalangan masyarakat Eropa dan Amerika, telah tumbuh kelesuan penampilan gestur-gestur besar, hentakan menggelegar Brahms dan Wagner, kaum bangsawan yang digambarkan melalui penyeberangan Washington ke Delawar atau Custer’s Last Stand, spektakel skene dan gaya seni peran ham yang berlebihan dalam naskah melodrama, drama-drama kepahlawan tentang kepala suku Indian, pemberontak Romawi kuno, pahlawan perang abad tengah, atau pemimpin-pemimpin bandit-bandit. Para pelukis tertarik pada suasana kejutan-kejutan di hampir semua lanskap lokal, berbagai atmosfer keseharian, dan ciri khas kaleng-kaleng bekas, meja makan, dan jemuran kain. Dalam lukisannya, Claude Monet ingin menangkap impresi sebuah katedral yang tertutup kabut di pagi hari atau sebuah jembatan

23 tertutup kabut sore hari kota London. Cuaca, suasana keseharian dan warna lokal sangat penting bagi kaum impresionis. Komposer Perancis Claude Debussy terkesan oleh laut, awan, kabut, dan hujan, oleh suara genta katedral yang berada jauh di kedalaman laut, oleh warna lokal kota-kota di Spanyol ketika musim festival tiba. Tahun 1890 an ia menghasilkan musik dengan harmoni baru, memainkan tema-tema kecil tetapi dengan kekayaan tekstur suasana dan sangat menghindari harmoni konvensional dan mementingkan progresi. Dengan kedua ukuran melodis dan efek orkestra yang diambilnya dari musik Timur, setelah ia menyaksikan musik gamelan dari Indonesia d Paris Exposition 1889. Ia menghilangkan bunyi trompet dan violin, membedakan bunyi dawai menjadi beberapa suara, menggunakan sedikit bunyi cymbal dan drum, dan menambahkan di tengah kerumitan jaringan bunyi tersebut dengan bunyi-bunyi harpa, celesta, dan triangle, dengan menkontraskannya dengan hentakan bunyi sekarung biji-bijian dan papan-papan musik Timur. Tidak kuat, clear-cut melody, tetap dipertahankan, tetapi beberapa bunyi beberapa alat musik mengalunkan sebuah tekstur tebal dari beberapa slight discords.

Penulis naskah dan aktor realistik tahun 1860an dan 70an mulai menampilkan tokoh-tokoh kontemporer di rumah masyarakat biasa, sibuk dengan tugas keseharian, dikelilingi hal-hal riil, dan membuat detil-detil penampakan yang menunjukkan adanya karakter dan perasaan. Di Moskow, tahun 1890 an, Constantin Stanislavsky menghasilkan sejenis seni peran baru yang menggambarkan reaksi murni dan nyata manusia dan menghindari gestur konvensional dan efek-efek besar oratorik, menggambarkan jalinan rumit yang dimiliki karakter-karakter yang terindikasikan dengan halus melalui perubahan-perubahan emosi di bawah

24

penampilan. Baik bentuk maupun filsafat realisme dalam sebagian besar teater terkait dengan impresionisme yang ada di bidang seni lainnya.

Saat ini, lebih dari separuh abad sesudah impresionisme mencapai perkembangan yang pertama, sikap dasar manusia memandang hidup yang kemudian menghadirkan impresionisme menjadi lebih jelas. Teknik impresionisme—dalam seni lukis, titik-titik warna lembut, sentuhan sapuan kuas tenang dan tegas, garis-garis kabur yang menyatukan kebun, jembatan, pohon, dan manusia menjadi imaji-imaji yang memfokus lembut; dalam seni musik, sekuens saling bertindih, nada-nada yang berserakan memadu, harmoni eksotik semacam itu menggabungkan fragmen-fragmen beragam melodi menjadi pendaran-pendaran-pendaran nada yang terkontrol; dalam seni teater, detil-detil set dan properti, bit–bit dalam dialog dan suara-suara latar saling bertindih, gestur dan gerakan yang belum terancang baik menyatukan karakter-karakter dan lokalitas menjadi suasana yang kaya—mengungkapkan kepercayaan, keyakinan dalam naskah dan tampak nyata dalam lukisan dan musik, bahwa manusia tidak memiliki kemerdekaan berhadapan dengan alam lingkungan di mana mereka adalah produknya dan menjadi korban tak berdaya, sebuah dasar keyakinan, seperti yang telah kita saksikan, dalam realisme dan terutama dalam naturalisme. Latar depan berubah menjadi latar belakang, melodi menjadi pengiring, dan keputusan individual berubah menjadi ketidak sadaran alamiah dan kekuatan sosial. Manusia berjuang untuk keluar dari lingkungannya, ia mengalami konflik dengan lingkungannya dalam beberapa kasus, tetapi dirinya adalah juga salah satu dari benang yang merajut kompleksitas tersebut.

Di dalam naskah-naskah impresionis, seperti halnya musik impresionis, tak pernah ada awal dan akhir yang pasti, tak pernah terjadi

25 klimaks singkat atau klimaks kembali, karena manusia tidak diharapkan membuat keputusan. Musik Debussy The Chromatic and whole tone scales, berbeda dengan skala major dan minor pada umumnya, tidak memiliki tempat atau ruang berhenti namun dapat membuat melodi mengalun terus menerus tanpa kembali. Dalam beberapa lukisan Renoir tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan, wajah, baju, rambut, kucing, tumbuhan, dan latar belakang semua bercampur bersama dalam hentakan sapuan yang lembut, manusia tidak menghilangkan karakternya sendiri dihadapan latar yang mengitarinya. Dalam naskah naturalistik, kekerasan membara di bawah permukaan dan bahkan terkikis habis secara tersembunyi, namun karakter utama merupakan korban bingung dari perasaan-perasaan yang tidak mereka pahami sendiri.

Bagi karakter yang tidak memiliki kemerdekaan kehendak tak ada puja-puji atau umpatan. Eugene O’Neill membuat tokoh Anna dalam Anna Christie (1921) yang gagal mengukur derajat kesalahan seseorang ketika orang itu tak mau bertanggung jawab atas tindakannya. Anna berkata, “Bukan salahmu, dan bukan salahku, dan juga bukan salahnya”. Kita semuanya bodoh, dan ketika sesuatu terjadi, kita hanya mecampuradukkannya dengan cara yang keliru.” Karakter-karakter didudukkan dan dimotivasikan tidak oleh prinsip-prinsip moral atau pilihan etika yang jelas, tetapi oleh irama, warna, rasa, selera, dan bau lingkungan mereka, oleh timbunan dampak ragam ketidakberaturan yang remeh temeh yang menyelubungi hidup mereka. Untuk menampilkan jenis masyarakat yang pasif semacam itu, penulis drama tidak melakukan suatu keputusan yang kuat atau perubahan yang tepat. Namun tekstur yang rumit dari latar belakang yang kaya, dengan menampilkan suasana, bayang-bayang debaran birahi dan impuls, serta fragmen-fragmen dari berbagai

26

tindakan yang kasar, tampak lebih ekspresif daripada kekuatan alur khas drama-drama abad sembilan belas.

Drama-drama Checkov menunjukkan bagaimana pola-pola impresionistik bekeja di teater. Pola-pola itu merupakan kajian suasana dari kelompok masyarakat yang terperangkap dalam situasi di mana mereka tidak dapat melakukan apapun juga. Paman Vanya, naskah tahun 1899 yang berjudul sama dengan namanya, marah karena kecewa gagal menembak mati saudaranya. Ia merasa sangat bodoh bahwa ia telah mencoba mengubah apa yang ia ketahui tidak akan bisa diubah. Dalam naskah The Three Sisters (1901), ketiga saudara perempuan tersebut marah terhadap sikap yang ditunjukkan warga masyarakat terhadap diri mereka, dan mereka selalu merencanakan melarikan diri ke Moscow tetapi selalu gagal. Mereka terikat oleh keluarga dan kebiasaan yang tidak dapat mereka ubah. Seribu satu konflik muncul dan mengharubiru perasaan warga masyarakat, kadang muncul sesaat dan kadang menarik perhatian tokoh-tokoh lain, kadang bergerak mengalir lembut tak terduga. Terkadang semua tokoh di atas panggung terikat dalam suasana gembira dan sedih yang sama, tetapi sering beberapa tokoh membuat adegan mereka sendiri yang berbeda-beda.

27

GAMBAR 1.6. Impresionisme. Suasana khas warna lokal dan hidup keseharian dihasilkan melalui kekuatan sugestif yang muncul dari detil-detil. Lingkungan dikontrol oleh tokoh cerita. Karya Andrade Time of the Harvest. Produksi Western Reserve University, disutradarai oleh Nadine Miles dan dirancang oleh Henry Kurth.

Sementara itu, Moscow Art Theatre melakukan langkah mengesankan dengan mementaskan naskah Checkov yang penuh dengan suasana melankolis. Checkov sering menganggap naskah-naskahnya berbentuk komedi, dan para aktor berhasil memainkannya dengan sangat mengesankan yang membuat tokoh tampak lucu tetapi justru tidak menghilangkan sedikitpun simpati mendalam Checkov terhadap penderitaan. Kombinasi komik dan tragik biasanya merupakan keutamaan naskah-naskah impresionis. Pernah muncul kesepakatan tentang gagasan bahwa hidup harus terus berjalan meskipun harus menghancurkan banyak perasaan, selalu tetap ada simpati bagi kegagalan dan penderitaan, bahkan tawa penderitaan dalam konteks absurd. Mungkin karya Checkov yang paling diminati penonton adalah The Cherry Orchard (1904), studi yang

28

sangat menyentuh hati, menyedihkan, namun lucu tentang sekelompok orang yang mencoba mempertahankan suasana dan arti tanah milik keluarga aristokrat kuno. Nyonya Ranevsky, si pemilik tanah, kembali ke daerahnya sesudah menghabiskan seluruh uangnya bersama dengan seorang laki-laki miskin di Paris. Padahal jika ia mau membagi tanah itu dan menyewakan sebagiannya untuk membangun vila musim panas, ia pasti memiliki banyak keuntungan. Penasehat bisnisnya, anak dari salah satu pelayan ayahnya, bersedia membantunya. Namun, ia dan saudara laki-lakinya tidak mau mengubah pikirannya. Plot cerita sebenarnya sangat sederhana. Babak I, saat kedatangannya di pagi subuh, seperti biasanya ia tidak melakukan apapun. Babak II, di saat matahari tenggelam, sambil mendengar musik sayup-sayup, ia tetap tidak melakukan apapun. Babak III, di sebuah pesta besar, ia menunggu berita apakah tanahnya telah terjual. Babak IV, ia berangkat ke Paris lagi. Di sekitarnya ada saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, dan saudara tiri perempuannya, orang-orang pemerintahan, teman lama keluarganya, teman-teman bisnisnya yang membeli tanahnya, pelatih anaknya yang mati tenggelam, pencuci pakaiannya yang tidak dikenalnya yang senang jika ia kembali ke Paris, semuanya tertawa, menggodanya, saling bermimpi tentang masa lalunya sambil meneror apa yang akan terjadi di masa depan, tanpa mengerjakan apapun tidak peduli pada dunia yang telah berubah. Mereka adalah orang-orang tersingkir, orang-orang yang patut dikasihaini, namun si pengarang memandang mereka dengan penuh cinta kasih dan kehangatan.

Sesudah Revolusi Bolshevik 1917, orang-orang Rusia memberi penghargaan bagi penampilan Checkov karena ia benar-benar menunjukkan perasaan yang tidak bahagia dan tidak berharga dari

orang-29 orang aristokrat lama, dan karena banyak dari tokoh-tokohnya melihat jauh ke masa depan pada saat seorang laki-laki dapat bekerja dan menghidupi dirinya. Namun puncak popularitas Checkov berada di Barat, di mana kompleksitas kehidupan modern sering membingungkan dan mempercepat timbulnya frustasi.

GAMBAR 1.7. Impresionisme. Tragedi dua tokoh yang dihancurkan oleh lingkungan mereka disampaikan melalui gambaran yang cantik dan suasana hipnotik perubahan waktu di hidup keseharian.Karya Davis Ethan Frome, dari novel karya Edith Wharton. Produksi Western Reserve University, disutradarai oleh Nadine Miles dan dirancang oleh Henry Kurth

Salah satu naskah terbaru di Amerika yang menggunakan teknik impresionisme adalah karya satu babak Susan Glaspell berjudul Trifles (1916). Segala sesuatunya berjalan secara tidak langsung dan dipenuhi nasehat-nasehat. Dua tokoh utama tidak pernah hadir di atas panggung; tokoh laki-laki mati dan istrinya di penjara, diduga karena pembunuhan. Di atas panggung kita menyaksikan kepala polisi mencari motif yang sensional, sementara istri dan tetangganya melacak hal-hal kecil di lingkungan rumah tangga tersebut—hal yang “remeh temeh”. Selangkah

30

demi selangkah, mereka merekonstruksi jalan hidup si perempuan yang kesepian, dan perasaan putus asa yang membakar selama bertahun-tahun, yang kemudian mendorongnya membunuh suaminya. Namun hati yang frustasi bukanlah dramatik di tahun 1920-an, karena para semangat zaman saat itu tidak memberi tampat pada frustasi dan masyarakat Amerika yang tidak bahagia dapat melarikan diri ke Greenwich Village atau pergi ke Left Bank di Paris. Namun demikian, depresi tahun 1930-an dan awan kelabu dari perang yang semakin mendekat, banyak warga Amerika, di negara yang selalu kaya dengan optimisme ini, dapat memahami dan menerima suasana-suasana hati semacam itu. Satu naskah yang dengan indahnya menangkap perasaan yang mengalami kelelahan dari dekade depresi adalah karya Tennesse Williams The Glass Menagerie (1944). Seperti halnya karya Checkov, karya ini penuh dengan kajian suasana hati sekelompok korban yang tidak berdaya, saling mencintai dan saling menyakiti satu sama lain tetapi tidak mampu mengubah atau meninggalkannya. Dikeluarkan dari wilayah Mississipi Delta dan diisolasi oleh ayahnya, keluarga Wingfielsd—ibu, anak laki-laki dan anak perempuan yang pincang—ribut dan bertengkar di apartemen mereka yang membosankan di St Louis. Sang ibu bermimpi tentang hidup mewah dan mengharap ada seorang laki-laki sopan dan kaya yang datang melamar anak perempuannya. Namun anak perempuannya terlalu lemah untuk mengikuti dunia modern dan melarikan diri ke boneka-boneka binatang dari kaca yang menjadi koleksinya. Anak laki-lakinya, terjebak dalam pekerjaan rutin dan tersiksa oleh masalah-masalah keluarganya, bermimpi ingin seperti ayahnya dan minggat. Situasi kegelapan yang melanda secara internasional mendorong menghilangkan frustasinya, dan ia sudah menandatangani kontrak menjadi seorang pelaut. Namun hal itu bukan

31 penyelesaian terakhir bagi masalah yang dihadapi keluarganya. Tidak seperti sebagian besar gambaran keluarga dalam naskah-naskah naturalis, maka, Williams tidak menunjukkan hingga detil terakhir penderitaan dan kekalahan tokoh-tokohnya tetapi memperlembut efek naskah dengan cara menghadirkan tokoh-tokoh sebagai sosok nostalgia di masa lalu. Anak laki-lakinya berkata pada penonton bahwa ia sangat kecewa dengan masa-masa perang, tetapi ia tidak dapat menghilangkan ingatannya itu. Penonton hanya melihat seberapa banyak ia mampu mengingatnya.

Dengan demikian, impresionisme menyampaikan gagasan tentang kehidupan manusia yang merasa tak berdaya dalam dunia yang menyenangkan tetapi ternyata membutuhkan pengertian dan empati. Jika impresionisme tidak dapat melacak tujuan hidup manusia yang jelas dengan arti hidup yang luas di tengah pergulatan kehidupan yang absurd, setidaknya impresionisme dapat menemukan tekstur yang kaya dan menggetarkan dalam hubungan manusia dengan lingkungannya.