2.4. Kerangka Pemikiran Operasional 31
3.3.5. Impulse Response Function (IRF) 38
Analisis IRF digunakan untuk melihat respon variabel tertentu terhadap guncangan variabel tertentu. Pengaruh guncangan dapat dilihat mulai dari awal guncangan terjadi sampai pengaruh guncangan itu relatif stabil di masa mendatang atau sampai mencapai keseimbangan jangka panjangnya.
3.3.6. Forecast Error Variance Decomposition (FEVD)
Analisis FEVD untuk melihat berapa besar kontribusi guncangan suatu variabel yang ditunjukkan oleh perubahan variance error terhadap perubahan variabel tertentu. Dengan metode ini dapat dilihat kekuatan dan kelemahan dari masingmasing variabel dalam mempengaruhi variabel lainnya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
IV. PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN DAN NILAI TUKAR RUPIAH
4.1. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia
Neraca pembayaran yang merupakan suatu catatan sistematis mengenai transaksi ekonomi yang dilakukan antara penduduk suatu negara dengan penduduk dari negara lain, telah banyak dijadikan suatu alat analisis dalam perumusan kebijakan ekonomi makro. Salah satu hal penting yang bisa diamati dalam neraca pembayaran adalah adanya aliran dana yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing (Sugiyono, 2002).
Aliran dana yang tercatat dalam neraca pembayaran dapat mencirikan keadaan ekonomi suatu negara. Aliran dana tersebut dapat disebabkan oleh adanya kegiatan eksporimpor yang dilakukan antar negara. Dengan adanya suatu sistem pencatatan ini akan terlihat apakah suatu negara termasuk negara pengekspor bersih atau pengimpor bersih. Selain dilihat dari sisi eksporimpor atau sisi perdagangan internasional, neraca pembayaran juga dapat mencirikan adanya suatu aliran modal dari suatu negara ke negara lainnya. Dengan adanya suatu pencatatan dari sisi modal dapat terlihat apakah negara tersebut mengalami lebih banyakcapital inflowatau capital outflow.
Karakteristik neraca pembayaran Indonesia mengalami banyak perubahan pada masa sebelum dan sesudah krisis. Perubahan itu dapat dilihat dari sisi nilai dan arah pergerakan baik pada sisi neraca berjalan maupun neraca modal. Perubahan nilai dan arah pergerakan dari neraca berjalan dan neraca modal dapat mempengaruhi kondisi neraca pembayaran secara keseluruhan. Untuk lebih jelas
ditampilkan Gambar 4.1 yang mencirikan perkembangan neraca pembayaran Indonesia berdasarkan periode triwulanan. 8000 6000 4000 2000 0 2000 4000 6000
I II IIIIV I II III IV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II III IV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II III IV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Periode (triwulan) Ju ta US $ Sumber: Bank Indonesia (19902005). Gambar 4.1. Perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia Pada masa sebelum krisis ekonomi terjadi, neraca pembayaran Indonesia pada umumnya mencatat surplus. Pencatatan surplus terbesar terjadi pada tahun 1995 triwulan keempat, dimana dalam periode tersebut surplus neraca pembayaran sebesar US$ 2871 juta. Surplusnya neraca pembayaran tersebut merupakan andil dari pencatatan neraca modal yang cukup besar, dimana dalam periode sebelum krisis banyak dana investasi asing yang masuk. Besarnya dana investasi yang masuk lebih disebabkan ketertarikan investor asing dan domestik atas prospek ekonomi Indonesia yang menunjukkan perkembangan dan kemajuan. Namun pada triwulan kedua tahun 1996 nilai dan arah pergerakan neraca pembayaran mengalami pembalikan arah, pada periode tersebut neraca pembayaran mengalami defisit yang cukup signifikan yaitu sebesar US$ 595 juta. Defisitnya neraca pembayaran ini dikarenakan neraca berjalan pada periode tersebut mengalami defisit yang cukup besar yaitu US$ 2588 juta, sementara untuk neraca modal hanya mampu menyumbangkan surplus sebesar US$ 1993 juta, sehingga hal tersebut memperburuk kinerja neraca pembayaran.
Nilai dan arah pergerakan neraca pembayaran Indonesia banyak mengalami perubahan setelah krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997. Pada awal terjadinya krisis, neraca pembayaran Indonesia sempat mencatat defisit yang cukup besar. Defisit terbesar terjadi pada triwulan keempat tahun 1997, pada periode tersebut neraca pembayaran mencatat defisit sebesar US$ 5644 juta. Terjadinya defisit yang besar pada neraca pembayaran lebih disebabkan banyaknya capital flight yang terjadi akibat dari ketidakpercayaan investor akan kemampuan Indonesia dalam bertahan akibat terjadinya krisis keuangan yang berlanjut ke krisis ekonomi. Capital flight tersebut menyebabkan neraca modal mengalami defisit sebesar US$ 5442 juta.
Dampak krisis ekonomi yang melanda Indonesia sedikit mereda setelah triwulan kedua tahun 1998, pada periode tersebut neraca pembayaran Indonesia kembali menunjukkan perbaikan dengan pencatatan surplus sebesar 1866 juta US$. Surplusnya neraca pembayaran pada periode ini terbantu dari sisi neraca berjalan yang menunjukkan pencatatan yang cukup besar karena semakin kompetitifnya komoditi ekspor yang lebih disebabkan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. Sementara itu, dari sisi neraca modal juga sudah menunjukkan pencatatan yang surplus akibat kepercayaan para investor akan pulihnya perekonomian Indonesia. Setelah dampak krisis keuangan mulai mereda, neraca pembayaran Indonesia menunjukkan fluktuasi yang cukup rendah dengan menunjukkan pergerakan yang lebih banyak mencatat surplus neraca pembayaran. Pada triwulan keempat tahun 2005 neraca pembayaran Indonesia menunjukkan surplus yang besar yaitu sebesar 3398 juta US$.
4.2. Perkembangan Neraca Berjalan
Nilai dan arah pergerakan neraca berjalan mengalami banyak perubahan pada masa sebelum dan sesudah krisis ekonomi terjadi. Pergerakan neraca berjalan dapat dilihat pada (Gambar 4.2). 3000 2000 1000 0 1000 2000 3000 4000
I II III IV I II III IV I II IIIIV I II IIIIV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II IIIIV I II IIIIV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II IIIIV 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005
P e r i o de ( t r i wul a n)
Sumber: Bank Indonesia (19902005).
Gambar 4.2. Perkembangan Neraca Berjalan
Pada masa sebelum krisis ekonomi terjadi pergerakan neraca berjalan cenderung mencatat adanya defisit. Defisitnya neraca berjalan terkait tingginya permintaan impor pada saat itu. Meningkatnya permintaan impor terjadi karena pada masa sebelum krisis ekonomi terjadi, angka produk domestik bruto dan pertumbuhan ekonomi mencatat angka yang cukup tinggi sehingga hal tersebut mendorong terjadinya permintaan akan barang impor. Sementara itu, dari sisi ekspor menunjukkan angka yang relatif rendah karena terkait tingginya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing pada saat itu, sehingga mendorong kurang kompetitifnya komoditi domestik dibandingkan dengan komoditi dari negara lain. Pencatatan defisit neraca berjalan terbesar terjadi pada triwulan kedua tahun 1996 sebesar US$ 2566 juta.
Pergerakan neraca berjalan setelah kriris ekonomi terjadi cenderung menunjukkan adanya surplus. Surplusnya neraca berjalan terkait dengan
diterapkannya sistem nilai tukar mengambang ketika itu. Setelah diterapkannya sistem nilai tukar ini, fluktuasi nilai tukar Rupiah cenderung berada dalam tingkat yang terdepresiasi. Nilai tukar yang terdepresiasi mengakibatkan komoditi domestik menjadi lebih kompetitif dibandingkan komoditi dari negara lain, sehingga faktor tersebut mendorong terjadinya peningkatan ekspor. Pencatatan surplus terbesar terjadi pada triwulan ketiga tahun 2004 yaitu US$ 2770 juta.
4.3. Perkembangan Neraca Modal
Sama halnya dengan neraca berjalan, neraca modal juga menunjukkan pergerakan yang berbeda pada masa sebelum dan sesudah krisis ekonomi. Pergerakan tersebut dapat dilihat pada Gambar (4.3). 8000 6000 4000 2000 0 2000 4000 6000
I IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIVI IIIIIIV 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Periode (triwulan) Ju ta U S$ Sumber: Bank Indonesia (19902005). Gambar 4.3 Perkembangan Neraca Modal
Sebelum terjadinya krisis ekonomi, neraca modal pada umumnya cenderung mencatat surplus. Surplus neraca modal tertinggi terjadi pada triwulan keempat tahun 1995 sebesar US$ 4075 juta. Surplusnya neraca modal dan keuangan pada masa sebelum krisis ekonomi terjadi karena tingginya arus modal masuk baik yang berupa investasi jangka pendek maupun investasi yang berupa penanaman modal asing secara langsung. Tingginya arus modal yang masuk ke
Indonesia terkait dengan prospek perekonomian Indonesia menuju arah yang semakin baik dan rendahnya resiko untuk terjadi kegagalan bisnis. Namun pada triwulan kedua neraca modal mengalami penurunan defisit dan pada periode tersebut surplus yang tercatat dalam neraca pembayaran menjadi sekitar US$ 1993 juta.
Setelah krisis ekonomi terjadi, pergerakan neraca modal ikut mengalami imbas akibat terjadinya krisis tersebut. Neraca modal mengalami pembalikan arah dan cenderung mencatat adanya defisit. Defisit terbesar terjadi pada triwulan pertama tahun 1998 yaitu sebesar US$ 6203 juta. Defisit tersebut terjadi karena tingginya capital flight menyusul adanya sentimen negatif dari pelaku ekonomi akan bertahannya perekonomian Indonesia akibat krisis keuangan yang terjadi. Setelah triwulan kedua tahun 1998 pergerakan neraca modal menunjukkan pembalikan arah dengan terjadi surplus sebesar US$ 1195 juta. Hal ini terjadi setelah pemerintah melakukan berbagai kebijakan untuk memperbaiki perekonomian, sehingga menumbuhkan kembali kepercayaan para investor akan perkembangan perekonomian Indonesia.
Neraca modal kembali mengalami keterpurukan pada selang waktu dari triwulan kedua tahun 1999 sampai dengan triwulan pertama tahun 2002, pada selang tersebut neraca modal mengalami tingkat defisit yang cukup besar. Pencatatan defisit terbesar pada selang tersebut terjadi pada triwulan pertama tahun 2001 yaitu sekitar US$ 3245 juta. Defisit besar yang terjadi pada neraca modal terkait dengan keengganan para investor untuk menanamkan modalnya karena memanasnya situasi politik pada saat itu.
4.4. Perkembangan Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Pergerakan nilai tukar Rupiah memiliki keterkaitan dengan perkembangan neraca modal. Keterkaitan antara neraca modal dengan pergerakan nilai tukar Rupiah dapat terlihat jelas ketika krisis ekonomi mulai terjadi dan setelah diterapkannya sistem nilai tukar mengambang penuh. Perkembangan pergerakan nilai tukar Rupiah dapat dilihat pada (Gambar 4.4).
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000
I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV I II IIIIV 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Periode (triwulan) Rp /US $ Sumber: Bank Indonesia (19902005). Gambar 4.4. Perkembangan Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Pergerakan nilai tukar Rupiah pada waktu sebelum terjadinya krisis ekonomi menunjukkan pergerakan yang stabil. Namun, setelah krisis ekonomi yang melanda Indonesia baik itu pergerakan pada nilai tukar Rupiah maupun neraca modal (Gambar 4.4.) menunjukkan volatilitas yang tinggi. Pada awal terjadinya krisis ekonomi, neraca modal mencatat defisit yang tinggi, hal tersebut terjadi karena menurunnya kepercayaan investor asing atas bertahannya perekonomian Indonesia dari guncangan krisis, sehingga hal tersebut menimbulkancapital flight.
Tingginya capital flight yang terjadi pada awal terjadinya krisis menyebabkan permintaan terhadap valuta asing turut mengalami peningkatan. Peningkatan terhadap valuta asing ini menyebabkan nilai tukar Rupiah mengalami
depresiasi yang cukup tajam sehingga posisi nilai tukar pada pertengahan tahun 1998 sempat menyentuh angka Rp 14900/US$ yang merupakan tingkat depresiasi terbesar sepanjang sejarah setelah diterapkannya sistem nilai tukar mengambang penuh. Setelah menyentuh tingkat tersebut, pergerakan nilai tukar mengalami penguatan, dimana pada triwulan kedua tahun 1999 nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika berada pada Rp 6726/US$. Terapresiasinya Rupiah ini sejalan dengan adanya peningkatan surplus pada neraca modal selama selang waktu triwulan ketiga tahun 1998 sampai dengan triwulan pertama tahun 1999, dengan tingkat surplus terbesar terjadi pada triwulan keempat tahun 1998 yaitu sebesar US$ 1532 juta.
Nilai tukar Rupiah kembali mengalami kecenderungan yang terdepresiasi pada selang waktu dari triwulan keempat tahun 1999 sampai dengan triwulan kedua tahun 2001, depresiasi terlemah Rupiah pada selang tersebut berada pada level Rp 11440/US$. Depresiasinya Rupiah ini terjadi karena adanya kecenderungan defisit pada neraca modal yang mencirikan tingginnya arus modal yang keluar. Neraca modal cenderung mengalami defisit pada selang waktu triwulan kedua tahun 1999 sampai dengan triwulan ketiga tahun 2001. Defisit terbesar pada neraca modal pada selang tersebut terjadi pada triwulan pertama tahun 2001 yaitu sebesar US$ 3245 juta.
Melemahnya nilai tukar Rupiah bukan hanya disebabkan oleh tingginya arus modal keluar tetapi juga banyak disebabkan oleh meningkatnya kegiatan spekulasi terhadap Rupiah. Banyak hal yang dilakukan untuk meredam depresiasi nilai tukar Rupiah ketika itu, diantaranya untuk mengurangi permintaan terhadap
valuta asing pada tahun 1998 maka transaksi forward jual Rupiah antara bank dengan nonresident dibatasi maksimal US$ lima juta pernasabah. Selanjutnya, pada 12 Januari 2001 kembali dilakukan pembatasan terhadap transaksi derivatif antara bank dengan nonresident menjadi maksimal US$ tiga juta perhari apabila transaksi tersebut underlying, apabila bank dapat menunjukkan adanya underlying transactionmaka transaksi tersebut dilakukan pembatasan (Suseno, 2004).
Perdagangan nilai tukar di pasar valuta asing antar bank juga tidak dapat terlepas dari beberapa norma, faktor teknis, mekanisme aturan perdagangan, yang tidak mungkin dapat dijelaskan dari sudut pandang fundamental ekonomi, misalnya buy high, sell low merupakan aturan umum yang berlaku di pasar. Ketika kecenderungan nilai tukar Rupiah dilihatnya bergerak turun (apresiasi), pelaku pasar ramairamai akan menjual Dollar. Sudah menjadi aturan tidak tertulis di pasar bahwa pelaku pasar jangan cobacoba melawan tren pasar yang dibentuk oleh mayoritas, bila tidak ingin merugi. Demikian pula beberapa aturan seperti stop loss buying/selling pada dasarnya akan membuat nilai tukar bergerak sangat cepat dan satu arah.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Pengujian AkarAkar Unit
Untuk melihat kestasioneran data yang akan dianalisis maka dilakukan uji akar unit. Uji ini dilakukan agar hasil regresi yang dilakukan tidak menghasilkan spurious regression. Uji akar unit dalam hal ini yaitu dengan membandingkan nilai statistik ADF suatu variabel dengan nilai kritisnya. Jika nilai mutlak dari ADF suatu variabel lebih besar dari nilai mutlak kritisnya maka variabel tersebut dikatakan stasioner. Hasil pengujian akar unit dapat dilihat pada Tabel 5.1 di bawah ini. Tabel 5.1. Hasil Pengujian Akar unit Nilai tes statistic DF atau ADF berdasarkan SBC terbesar Nilai tes statistic DF atau ADF berdasarkan SBC terbesar Variabel Level 1 st Different LER 1,2015(2,2385) 5,6484(5,6055) LM2 2,1045(0,45051) 5,9886(6,2430) R 3,0567(3,0353) 6,3875(6,3300) LKA 7,1287(7,0923) 8,7619(8,6930) LPDB 0,26089(1,3487) 7,7043(7,6343) LCA 7,8232(7,7558) 7,5265(7,4587) Sumber : Lampiran 4 Keterangan:
Pengujian stasioneritas di set memiliki maksimum lag empat baik di level maupun dalam
first different. Nilai kritis 95 persen untuk tes statistik Dickey Fuller tanpa trend dan
dengan trend pada level yaitu 2,9109 dan 3,4862, sedangkan untuk tes statistik Dickey
Fuller tanpa trend dan dengantrend pada first different yaitu 2,9118 dan 3,4875. nilai di
luar tanda kurung adalah tes statistik tanpa trend, sedangkan nilai dalam tanda kurung adalah niai tes statistik dengan trend. SBC = Schwarz Bayesian Criteria.
Hasil uji akarakar unit menunjukkan bahwa variabel LER, LM2 dan LPDB tidak stasioner pada level, maka uji akar unit dilanjutkan pada first different. Berdasarkan hasil uji akar unit pada tingkat first different menunjukkan bahwa semua variabel telah stasioner pada tingkat tersebut.