• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.9. Indeks Harga Konsumen (IHK)

Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index ( CPI), sering digunakan untuk menentukan biaya hidup dan dahulu disebut cost-of-living index, mengukur perubahan harga untuk suatu kombinasi belanja barang dan jasa. Jika GDP mengubah jumlah berbagai barang dan jasa menjadi sebuah angka tunggal yang mengukur nilai produksi, maka IHK mengubah harga berbagai barang dan jasa menjadi sebuah indeks tunggal yang mengukur seluruh tingkat harga. IHK juga dapat didefinisikan sebagai harga sekelompok barang dan jasa relatif

(31) terhadap harga sekelompok barang dan jasa yang sama pada tahun dasar (Mankiw, 2000).

Sebagai contoh, anggaplah seorang konsumen membeli lima apel dan dua jeruk setiap bulan. Maka kelompok barang itu terdiri dari lima apel dan dua jeruk, dan IHK-nya adalah

Pada IHK ini, tahun 1992 adalah tahun dasar. Indeks itu menyatakan berapa biaya yang harus dibelanjakan untuk membeli lima apel dan dua jeruk sekarang relatif terhadap harga buah yang sama pada tahun 1992.

2.10. Determinasi Kurs

Determinasi kurs dalam pasar uang internasional tentunya menjadi hal yang sangat penting bagi pelaku pasar. Apresiasi atau depresiasi kurs saat ini menjadi tolak ukur pelaku pasar dalam menganalisis ekspektasi kurs di masa yang akan datang. Dalam teori Keynessian (IS-LM) yang menggerakkan nilai tukar adalah perbedaan suku bunga domestik (r) dan suku bunga internasional (r ). Jika suku bunga domestik (* r) lebih tinggi dari suku bunga internasional (r ) maka akan terjadi aliran modal masuk (capital inflow), selanjutnya akan * menyebabkan apresiasi kurs. Berikut ini akan dipaparkan beberapa pendekatan popular mengenai determinasi kurs :

( ) ( )

( ) ( )

5 X Harga Apel Sekarang 2 X Harga Jeruk Sekarang IHK =

5 X Harga Apel 1992 2 X Harga Jeruk 1992 +

(32) 2.10.1. Pendekatan Neraca Pembayaran

Melalui rezim kurs mengambang bebas, nilai dari mata uang suatu negara ditentukan oleh interaksi antara permintaan dan penawaran mata uang itu sendiri. Maka melalui pendekatan neraca pembayaran secara matematis determinasi nilai tukar dapat ditulis sebagai berikut (Tucker, Madura dan Chiang, 1998):

dimana s adalah perubahan kurs nominal, t p adalah perubahan harga domestik, t

*

t

p adalah perubahan harga luar negeri, y adalah perubahan pendapatan t

domestik, *

t

y adalah perubahan pendapatan luar negeri, r adalah perubahan suku

bunga domestik, *

t

r adalah perubahan suku bunga luar negeri, , dan η φ λadalah koefisien dari variabel.

Maka melalui pendekatan neraca pembayaran, ketika pendapatan domestik meningkat akan menyebabkan impor naik dan selanjutnya akan menyebabkan depresiasi nilai tukar (kurs nominal). Begitu juga ketika tingkat harga dometik meningkat maka akan menyebabkan depresiasi nilai tukar. Sebaliknya ketika tingkat suku bunga domestik meningkat akan menyebabkan

capital inflow dan pada akhirnya akan menyebabkan apresiasi nilai tukar.

2.10.2.Pendekatan Moneter

Pendekatan moneter lebih terfokus kepada kondisi keseimbangan stok uang dalam pasar uang. Selanjutnya pendekatan moneter dapat dibedakan menjadi dua yaitu pendekatan moneter dengan asumsi harga fleksibel (flexible price) dan harga kaku (sticky price). Pertama-tama kita akan mulai dari

* * *

( ) ( ) ( )

t t t t t t t

(33) pendekatan moneter dengan asumsi harga fleksibel. Persamaan pendekatan moneter ini dapat ditulis secara matematis sebagai berikut (Batiz, 1994):

dimana ˆeadalah perubahan kurs nominal, ˆM adalah perubahan jumlah uang

beredar mata uang domestik di dalam negeri, M adalah perubahan jumlah uang ˆ* beredar mata uang asing di luar negeri, Y adalah perubahan pendapatan di luar ˆ* negeri, ˆY adalah perubahan pendapatan di dalam negeri, ˆi adalah perubahan suku bunga di dalam negeri, ˆi* adalah perubahan suku bunga di luar negeri,

dan

α βadalah koefisien variabel.

Maka melalui pendekatan moneter dengan asumsi harga fleksibel, peningkatan jumlah uang beredar mata uang domestik di dalam negeri akan menyebabkan terdepresiasinya nilai tukar nominal. Kemudian, peningkatan pendapatan domestik akan menyebabkan kelebihan permintaan uang (money demand) karena jumlah uang beredar ditentukan oleh bank sentral maka untuk menyeimbangkan kelebihan permintaan uang dilakukan dengan cara menurunkan harga domestik. Melalui teori PPP penurunan harga domestik akan menyebabkan apresiasi kurs. Hal ini paradox dengan pendekatan neraca pembayaran. Selanjutnya, peningkatan suku bunga domestik akan menyebabkan penurunan permintaan uang domestik yang akan mengarah kepada depresiasi mata uang domestik.

Pendekatan moneter yang kedua adalah melalui pendekatan moneter dengan asumsi harga kaku. Persamaan matematisnya dapat ditulis sebagai berikut (Tucker et,al, 1998) :

* * *

ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ ˆ

ˆ ( ) ( ) ( )

(34)

* * * *

( ) ( ) ( 1/ )( ) 1/ ( e e )

t t t t t t t

sm m− −φ yy + δ λ+ − θ r r− + θ π −π

dimana s adalah perubahan kurs nominal, t m adalah perubahan jumlah uang beredar mata uang domestik di dalam negeri, m adalah perubahan jumlah uang * beredar mata uang asing di luar negeri, y adalah perubahan pendapatan di dalam t

negeri, *

t

y adalah perubahan pendapatan di luar negeri, r adalah perubahan suku

bunga domestik, *

t

r adalah perubahan suku bunga luar negeri, e t

π adalah ekspektasi inflasi di dalam negeri, e*

t

π adalah ekspektasi inflasi di luar negeri, , dan 1/

δ λ θ adalah koefisien variabel.

Analisis melalui pendekatan moneter dengan asumsi harga kaku sebetulnya memiliki kemiripan dengan pendekatan moneter dengan asumsi harga fleksibel. Hanya saja ada sedikit modifikasi dalam analisis perubahan suku bunga. Pertama-tama peningkatan suku bunga domestik akan menyebabkan institusi keuangan untuk meningkatkan dananya (suplai dana) di pasar uang. Pada waktu yang bersamaan juga akan menyebabkan permintaan uang di masyarakat menurun dan efeknya akan menyebabkan depresiasi kurs. Efek lanjutan dari peningkatan suku bunga domestik ini akan diimbangi dengan terjadinya capital

inflow yang pada akhirnya akan menyebabkan apresiasi kurs. Selain itu juga jika

ekspektasi inflasi di dalam negeri adalah tinggi akan menyebabkan depresiasi kurs karena pelaku pasar dan publik (masyarakat) lebih cenderung memegang mata uang asing.

2.10.3. Pendekatan Neraca Portofolio

Pendekatan ini menyoroti peran dari kekayaan dan pandangan aset sebagai subtitusi yang tidak sempurna. Pendekatan ini berpendapat bahwa berbagai guncangan, dalam wujud suatu perubahan dalam kekayaan, akan menghasilkan efek kekayaan yang selanjutnya akan meningkatkan permintaan dalam aset keuangan dan akan menimbulkan efek subtitusi yaitu mensubtitusikan hasil yang tinggi (high yield) dalam aset keuangan sebagai alternatif. Implikasinya, nilai tukar dan suku bunga harus melakukan penyesuaian untuk memastikan keseimbangan portofolio. Secara matematis maka persamaan pendekatan neraca portofolio yang dirumuskan oleh dapat ditulis sebagai berikut (Tucker, et al (1998)) :

(35) (36) (37) (38) maka kombinasi empat persamaan diatas akan menjadi :

(39) dimana S adalah kurs nominal, t M adalah jumlah uang beredar mata uang t

domestik di dalam negeri, B adalah obligasi domestik, t F adalah obligasi asing t

di dalam negeri. Tanda asterisk menyatakan variabel yang bersangkutan di luar negeri.

Melalui model di atas maka ekspansi moneter akan menyebabkan peningkatan eksogen dalam uang beredar. Hal ini berarti sebanding dengan peningkatan kekayaan. Peningkatan kekayaan ini akan menyebabkan excess demand untuk

* * * ( , , , , , ) t t t t t t t S =S M B F M B F * t ( , )W t t t M =m r r * t ( , )W t t t B =b r r * t ( , )W t t t t S F = f r r * t W =Mt+ +Bt S Bt t

obligasi dalam dan luar negeri. Peningkatan permintaan obligasi dalam negeri akan menyebabkan harga obligasi dalam negeri meningkat dan menurunkan suku bunga. Kelebihan permintaan obligasi luar negeri akan menyebabkan peningkatan permintaan mata uang luar negeri. Dengan demikian akan menyebabkan depresiasi rupiah.

Kedua, melalui analisis ini mengimplikasikan bahwa peningkatan permintaan obligasi dalam negeri melalui efek kekayaan akan meningkatkan permintaan obligasi luar negeri. Maka hal ini akan menyebabkan depresiasi mata uang domestik. Di sisi lain, peningkatan suku bunga obligasi dalam negeri akibat hutang pemerintah akan menyebabkan obligasi luar negeri kurang menarik. Jika efek subtitusi ini dominant dalam efek kekayaan maka mata uang domestik akan terapresiasi.

Ketiga, peningkatan dalam net holdings obligasi luar negeri akibat surplus neraca perdagangan akan meningkatkan permintaan dalam aset domestik melalui efek kekayaan. Hasilnya, hal ini akan menurunkan suku bunga dalam negeri dan depresiasi mata uang domestik.

Dokumen terkait