• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1. Kesimpulan

Hasil empiris dari penelitian ini menunjukkan bahwa efek perubahan (pass-through effect) kurs terhadap indeks harga konsumen di masing-masing negara ASEAN-5 serta Jepang dan Korea Selatan akan memberikan respon negatif kecuali Singapura. Artinya depresiasi kurs domestik terhadap kurs asing akan menyebabkan inflasi dan begitu juga berlaku sebaliknya jika terjadi apresiasi. Kemudian derajat pass-through di masing-masing negara ASEAN-5 serta Jepang dan Korea Selatan adalah bersifat incomplete pass-through yang secara implisit mengindikasikan terjadinya fenomena pricing to market.

Adapun garis besar yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah bahwa di Indonesia dan Korea Selatan terjadi overshooting kurs. Artinya inflasi yang disebabkan oleh perubahan kurs cenderung lebih kuat dalam jangka pendek ketimbang jangka panjang. Kemudian, fenomena anomali yang terjadi di Singapura ini disebabkan oleh tinggi rasio FDI terhadap PDB Singapura (Sahminan, 2005).

Berdasarkan hasil simulasi analisis impuls respon dapat disimpulkan bahwa diantara negara Asia yang mengalami krisis, Indonesia adalah negara yang paling sensitif terhadap perubahan kurs. Besarnya ERPT terhadap PPI mengindikasikan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor besar. Selain itu pass-through terhadap IHK mengimplikasikan bahwa persentase perubahan IHK di Indonesia hampir 50 persen dipengaruhi oleh perubahan kurs.

Selain itu efek perubahan kurs (pass-through effect) di negara Asia Timur cenderung rendah yaitu Jepang sebesar -0,03 dan Korea Selatan sebesar -0,04. Namun demikian fenomena ERPT terhadap IHK di Korea Selatan setelah horizon ke-40 cenderung mengalami zero pass-through.

Implikasi penting yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa harus ada konsolidasi yang baik antara sektor fiskal dan moneter di Indonesia untuk menjaga kestabilan inflasi mengingat besarnya derajat ERPT terhadap IHK juga disebabkan oleh besarnya derajat ERPT terhadap PPI di Indonesia. Artinya keberadaan produk domestik di Indonesia masih belum mampu bersaing dengan produk luar negeri sehingga menimbulkan ketergantungan yang tinggi atas produk luar negeri terutama bahan baku impor.

Berdasarkan hasil analisis DFEV, peranan kurs relatif kuat di Indonesia dan Thailand. Namun, pada horizon pertama kurs relatif tidak memberikan kontribusi kuat terhadap fluktuasi IHK di kedua negara tesebut. Maka hal ini mengindikasikan adanya lag waktu yang terjadi di Indonesia dan Thailand disebabkan adanya proses penyesuaian (adjustment) dari para pedagang dan produsen karena rezim kurs mengambang bebas membuat kurs Rupiah dan Baht sulit diprediksi oleh pengusaha sehingga mengakibatkan produsen cenderung mematok harga jual relatif tinggi untuk mengantisipasi ketidakpastian nilai kurs Rupiah dan Baht.

Dari hasil DFEV juga dapat ditarik kesimpulan bahwa peranan kurs dominan dalam jangka panjang di Indonesia dimana kurs memberikan kontribusi sebesar 57,44 persen dan Thailand berkisar 33 persen sampai 34 persen dalam

horizon ke-12 sampai horizon ke-36. Peranan kurs di negara Asia lainnnya relatif kecil dan kisarannya berada di bawah 17 persen. Disamping itu dari hasil ini juga dapat diketahui bahwa peranan faktor eksternal yang diidentifikasi melalui harga minyak, kurs dan PPI dalam menjelaskan fluktuasi IHK dalam jangka panjang relatif kuat di Indonesia, Thailand dan Singapura.

Instrumen kebijakan inflation targeting yang diterapkan Indonesia tampaknya tidak begitu cukup signifikan mempengaruhi inflasi karena dari hasil IRF dan DFEV dapat ditarik kesimpulan bahwa kontribusi terbesar bagi inflasi adalah kurs bukan suku bunga maupun ekspektasi inflasi. Hal ini juga berlaku bagi negara Thailand. Artinya stabilitas kurs adalah penting di negara Indonesia dan Thailand. Dari hasil penelitian ini juga terlihat bahwa Indonesia dan Thailand merupakan negara yang paling rentan terhadap pengaruh eksternal seperti harga minyak dunia, kurs dan PPI. Selain itu, walaupun ERPT terhadap IHK di Filipina cenderung lebih kecil dibanding negara berkembang seperti Indonesia dan Thailand namun inflasi IHK di Filipina tetinggi kedua setelah Indonesia. Maka sebaiknya pemerintah Filipina dalam hal ini Bank Sentral Filipina sebaiknya menerapkan instrumen inflation targeting untuk menstabilkan inflasi.

5.2. Saran

Dalam kaitannya dengan penelitian mengenai efek perubahan

(pass-through effect) terhadap IHK maka rekomendasi yang dapat diberikan diantaranya :

1. Terkait dengan hasil penelitian ini maka pemerintah Indonesia dan Thailand dalam hal ini Bank Indonesia dan Bank Sentral Thailand sebaiknya mempertimbangkan untuk mengubah sasaran kebijakan moneter menjadi exchange rate targeting mengingat kurs berperan besar dalam mempengaruhi inflasi di Indonesia.

2. Mengingat terbesarnya ERPT terhadap PPI di Indonesia dibanding negara Asia lainnya. Maka sebaiknya pemerintah Indonesia dapat memacu industri subtitusi impor untuk mengurangi ketergantungan yang dapat memicu inflasi tinggi akibat perubahan kurs.

3. Terkait dengan Asean Free Trade Area (AFTA) dan juga isu pasar tunggal ASEAN+3 maka sebaiknya negara yang akan tergabung dalam AFTA dan pasar tunggal ASEAN+3 mempertimbangkan untuk mencanangkan sebuah mata uang tunggal (single currency) untuk meminimalisir ketidakseimbangan resiko yang ditanggung suatu negara terutama negara berkembang seperti Indonesia, Thailand dan Filipina. Hal ini disarankan guna mencegah terjadinya ketimpangan ekonomi di antara negara-negara anggota tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Achsani, Noer Azam. 2001. Sekilas Ekonomi Indonesia : “Sukses” Masa Lalu, Problema Masa Kini dan Tantangan Masa Depan. http:/ Istecs. f2o/ diskusi/ paper/Noer Achsani.Pdf

Achsani, Noer Azam dan Hermanto Siregar. 2003. Toward East Asian Economic

Integration : Classification of the ASEAN+3 Economies using Fuzzy Clustering Approach. Paper dipresentasikan pada International

Conference “EU-ASEAN Facing Economic Globalization”. Thailand. 21-22 Juli 2005.

Amisano, Gianni dan Carlo Giannini.1997. Topics in Structural VAR

Econometrics. Springer-Verlag Berlin. Heidelberg. Germany

Arsana, I Gede Putra. 2005. Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Aliran Kredit dan Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Nilai Tukar Jalur Kredit.Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia.

Agung, Juda. 2000. Financial Deregulation & The Bank Lending Channel in

Developing Countries Case of Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan,Vol. 3, no.1,

Arsana, I Gede Putra.2005. VAR (Vector AutoRegressive). Lab Komputasi Universitas Indonesia

Batiz, Fransisco Rivera dan Luis R. Batiz. 1994. International Finance and Open

Economy, Macroeconomics. Mcmillan Publishing co. New York. Calvo, Guillermo dan Carmen M. Reinhart. 2000. Fixing For Your Live. NBER

Working Paper Series. Working Paper 8006. National Bureau of Economic Research.

Campa, Jose dan Linda S Goldberg. 2004. Exchange Rate Pass-Through into

Import Prices. NBER Working Paper. JEL codes : F3, F4.

Cuche, Nicholas A. 2001. VAR and SVAR 1: Some equations. Econometic Class. Chowdhury, Anis dan Akhtar Hossain. 1998. Open-Economy Macroeconomics

for Developing Countries. Edward

Elgar.Cheltenham,UK.Northampton, MA, USA

De Jong, Rendie Putreva. 2005. Analisis Kesinambungan Fiskal di Indonesia dan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

Dokumen terkait