• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI DAN DISPARITAS WILAYAH

7.2 Disparitas Pembangunan Wilayah

7.2.1 Indeks Kemiskinan Manusia

Untuk mengukur tingkat kemiskinan di daerah, maka dapat digunakan suatu garis yang disebut sebagai garis kemiskinan. Garis kemiskinan ini terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non-makanan (GKMN). Tabel 51 akan menunjukan bagaimana perkembangan jumlah, persentase penduduk miskin dan juga angka garis kemiskinan Kabupaten Lebak dalam rentang tahun 2005-2008.

Tabel 43 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin serta Garis Kemiskinan Tahun 2005-2008

Tahun Jumlah Persen (%) Garis Kemiskinan (Rp.)

2005 141.000 12,29 119,757

2006 172.440 14,55 125,277

2007 181.070 14,43 129,911

2008 156.940 12,05 160,190

Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak, Tahun 2009

Pada Tabel 51, diperlihatkan bagaimana garis kemiskinan penduduk Kabupaten Lebak pada tahun 2008 sebesar Rp. 160.190 per kapita per bulan. Angka ini menunjukan suatu peningkatan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya Rp. 129.911. Sejak tahun 2005, garis kemiskinan di Kabupaten Lebak cenderung mengalami kenaikan, sama halnya dengan angka jumlah penduduk miskin yang juga menurun di tahun 2008, walaupun ada kenaikan dari tahun 2005 hingga 2007. Secara grafis dapat dilihat pada Gambar 30, 31 dan 32.

Terjadinya peningkatan garis kemiskinan tersebut disebabkan oleh melonjaknya harga komoditi kebutuhan dasar di tingkat produsen yang relatif cukup tinggi. Hal itu terlihat dengan meningkatnya angka inflasi Kabupaten Lebak di tahun 2008 menjadi sebesar 7,58 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 5,70 persen.

Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak, Tahun 2009

Gambar 29 Jumlah Penduduk Miskin Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008

Inflasi tertinggi terjadi pada sektor angkutan dan telekomunikasi sebesar 12,63 pada tahun 2008 dibandingkan tahun 2007 yang hanya sebesar 2,48 persen.

141.000 172.440 181.070 156.940 0 50000 100000 150000 200000 2005 2006 2007 2008

Setelah itu, diikuti oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu 11,50 persen dibandingkan pada tahu sebelumnya (2007) yang hanya 7,27 persen.

Tingginya inflasi ini tidak terlepas oleh pengaruh dari kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), baik yang bersubsidi maupun tidak bersubsidi. Kenaikkan harga BBM tentu saja diikuti oleh sektor yang sebagian besar menggunakan BBM dalam proses produksinya. Sehingga dampak turunan tidak langsung tersebut menjadi pemicu meningkatnya angka inflasi di tahun 2008. Selain itu, penyebab inflasi ini juga bisa saja disebabkan oleh dampak dari krisis ekonomi global terutama berkaitan dengan harga barang-barang impor atau barang yang bahan dasar atau suku cadangnya berasal dari impor.

Sumber : Bappeda Kab. Lebak, Tahun 2009

Gambar 30 Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008

Setelah mengetahui besarnya perkiraan batas garis kemiskinan, maka langkah selanjutnya adalah dapat menghitung jumlah dan persentase penduduk miskin di Kabupaten lebak, hal tersebut dapat ditunjukkan pada tabel 31. Tabel tersebut bagaimana menjelaskan perkembangan jumlah penduduk dan persentase penduduk miskin di Kabupaten Lebak pada rentang tahun 2005-2008.

Pada jangka waktu tahun 2006-2008, penduduk miskin di Kabupaten Lebak menunjukan penurunan, baik dalam jumlah maupun persentasenya. Bahkan di tahun 2008 jumlah penduduk miskin mendekati jumlah pada tahun 2005 yang kemudian kembali mengalami peningkatan pada tahun 2006 karena kenaikan harga bahan bakar minyak yang cukup tinggi.

12,29 14,55 14,43 12,05 0 2 4 6 8 10 12 14 16 2005 2006 2007 2008

Sumber : Bappeda Kab. Lebak, Tahun 2009

Gambar 31 Angka Garis Kemiskinan Manusia Kabupaten Lebak Tahun 2005-2008

Berbagai usaha pembangunan telah dilakukan oleh Kabupaten Lebak dalam empat tahun terakhir baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga angka kemiskinan telah menunjukan angka yang semakin menurun. Hal tersebut terlihat pada tahun 2008 penduduk miskin telah berkurang sebanyak 13,33 persen, dari sebanyak 181.070 menjadi 156.940 penduduk.

Namun demikian, hal yang kini menjadi sorotan utama Kabupaten Lebak adalah kondisi seluruh kecamatan yang masih berada pada kuadran daerah tertinggal jika berdasarkan Tipologi Klassen. Menurunnya angka kemiskinan ini belum tentu menjadi indikator utama meningkatnya kinerja pelayanan publik pemerintah daerah, tetapi bisa menjadi bumerang bagi pemerintah daerah, khususnya pembangunan modal manusia yakni pendidikan dan kesehatan. Karena modal manusia ini adalah suatu pembangunan yang bersifat jangka panjang, investasi yang baru akan terasa dampaknya setelah 10-20 tahun diberlakukannya kebijakan.

UNDP (United Nations Development Programme) membentuk Indeks Kemiskinan Manusia (Human Poverty Index) sebagai tanggapan atas ketidakpuasan ukuran kemiskinan dengan pendekatan besarnya pendapatan per hari. Menurut pandangan UNDP, kemiskinan manusia harus diukur dalam satuan hilangnya tiga hal utama, yakni kehidupan (lebih dari 30 persen penduduk negara-negara yang paling miskin cenderung hidup kurang dari 40 tahun), pendidikan dasar (diukur oleh persentase penduduk dewasa yang buta huruf) dan keseluruhan ketetapan ekonomi (diukur oleh persentase penduduk yang tidak memiliki akses

119.757 125.277 129.911 160.190 0 50.000 100.000 150.000 200.000 2005 2006 2007 2008

terhadap pelayanan kesehatan dan air bersih ditambah persentase anak-anak dibawah umur 5 tahun yang kekurangan berat badan).

Angka IKM menunjukan proporsi penduduk yang secara luas dipengaruhi oleh hilangnya tiga hal utama yakni daya hidup, ilmu pengetahuan dan ketetapan ekonomi. Angka IKM yang rendah berarti menunjukan hal yang baik. Rendahnya IKM, berarti hal itu menunjukan sedikitnya persentase penduduk yang mengalami kehilangan tiga hal mendasar dalam kehidupan. Sementara sebaliknya, IKM yang tinggi menunjukan keadaan sebaliknya karena proporsi kehilangan lebih besar. Indeks ini berlandaskan pada konsep derivasi, dimana kemiskinan dipandang sebagai akibat tidak tersedianya kesempatan dan pilihan dalam kehidupan.

Pengukuran kemiskinan dari sudut pandang IKM seringkali lebih relevan dibandingkan dengan kemiskinan dari sudut pandang pendapatan. Sehingga mampu memberikan perhatian yang lebih fokus pada penyebab kemiskinan dan secara langsung terkait dengan strategi pemberdayaan dan upaya-upaya lainnya untuk meningkatkan kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kemiskinan dari sudut pandang pendapatan yang dinyatakan dengan dalam bentuk proporsi penduduk yang hidup di bwah garis kemiskinan (angka kemiskinan) mengukur derivasi relatif pada standar kehidupan yang sudah tercapai. Sedangkan IKM mengukur derivasi-derivasi yang dapat menghambat kesempatan yang dimiliki penduduk untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, penggabungan antara kedua ukuran ini akan menghasilkan gambaran menarik tentang kondisi kemiskinan.

Tabel 52 telah menyajikan komponen IKM Kabupaten Lebak tahun 2002 dan 2008 serta hasil perhitungannya. Berdasarkan hasil perhitungan terlihat bahwa IKM Kabupaten Lebak tahun 2008 mengalami penurunan dari tahun 2002, yaitu 32,43 persen pada tahun 2002 menjadi 27,09 persen pada tahun 2008. Penurunan angka IKM ini mengindikasikan meningkatnya kesejahteraan penduduk Kabupaten Lebak pada beberapa tahun terakhir.

Tabel 44 IKM dan Komponennya Kabupaten lebak Tahun 2002 dan 2008

No. Komponen Ikm Tahun

2002 2008

1 % penduduk < 40 tahun 22.8 20.1

2 Angka Harapan Hidup 61.9 63.1

3 % Buta Huruf Dewasa 9.8 5.9

4 % Penduduk tanpa akses ke air bersih 65.2 54.9 5 % Penduduk tanpa akses ke Fasilitas Kesehatan 52.5 45.6

6 Balita Kurang Gizi 16.5 11

Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) 32.43 27.09 Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak, Tahun 2009

Apabila diperhatikan masing-masing indikator pembentuk indeks komposit IKM, tampak bahwa standar hidup layak masyarakat yang diukur melalui tiga jenis variabel masih relatif rendah. Hal tersebut ditunjukan dengan masih tingginya persentase penduduk yang berusia pendek yang meninggal sebelum usia 40 tahun sebesar 20,1 persen, banyaknya penduduk yang belum memiliki akses ke fasilitas air bersih sebesar lebih dari setengah penduduk Kabupaten Lebak (54,9 persen) dan persentase penduduk yang jarak ke fasilitas kesehatan lebih dari 5 kilometer (km) sebesar 45,6 persen. Namun trend perkembangan tiap komponen pembentuk IKM dari tahun 2002 dan 2008 memperlihatkan perkembangan yang cukup baik dan menggembirakan, dimana menandakan pesatnya perkembangan pembangunan di Kabupaten Lebak berpengaruh terhadap tingkat kesejahteran penduduknya.